Lompat ke isi

Konsep:Hadis Nabawi

Dari wikishia

Hadis Nabawi (bahasa Arab: أحاديث نبوی) adalah ucapan yang menjelaskan perkataan, perbuatan, atau takrir Nabi saw. Hadis dikenal sebagai sumber pengenalan agama setelah Al-Qur'an dan memiliki validitas yang bersandar pada Al-Qur'an. Semasa hidupnya, Nabi saw menekankan untuk menghafal dan mencatat hadis yang berujung pada penyusunan karya-karya tulis oleh para Sahabat. Dalam mazhab Syiah, sebagian besar Hadis Nabawi diriwayatkan melalui jalur Imam Ali as, Imam Baqir as, dan Imam Shadiq as. Hadis Tsaqalain, Hadis Manzilah, dan Hadis Safinah adalah di antara hadis-hadis Nabi saw yang masyhur.

Meskipun laporan-laporan Ahlusunah menunjukkan adanya larangan penulisan hadis oleh Nabi saw pada masa awal, para peneliti Syiah menganggap riwayat-riwayat tersebut sebagai hadis palsu. Setelah wafat Nabi saw, penukilan dan penulisan hadis dilarang atas perintah para khalifah hingga awal abad ke-2 Hijriah dengan alasan mencegah percampuran dengan Al-Qur'an dan menghindari perpecahan di kalangan umat Islam. Pada abad-abad berikutnya, para ulama Syiah dan Sunni berupaya mengumpulkan hadis-hadis Nabi saw dalam karya-karya seperti Tuhaf al-Uqul dan Sahih Sittah, serta menulis syarah (penjelasan) untuk menerangkan hadis-hadis tersebut.

Pengenalan dan Kedudukan

Hadis adalah perkataan yang menukil ucapan, perbuatan, atau takrir (persetujuan diam-diam) Nabi saw[1] dan dikenal sebagai sumber kedua untuk istinbat (penggalian) hukum dan ajaran agama Islam setelah Al-Qur'an.[2] Menurut penuturan, Nabi saw menekankan penjagaan dan pencatatan hadis[3] serta menunjukkan pentingnya penyebaran hadis dengan menekankan pengumpulan empat puluh hadis dan penulisan Arbain.[4]

Hadis-hadis Nabi saw diklasifikasikan dalam kitab-kitab hadis dalam berbagai topik seperti fikih, akhlak, keutamaan Al-Qur'an, sirah, dan manakib. Menurut Muhammad Kazhim Thabathaba'i, peneliti Syiah, volume hadis yang diriwayatkan dari Nabi saw dalam mazhab Syiah—yang sebagian besar dinukil melalui Imam Ali as, Imam Baqir as, dan Imam Shadiq as—lebih banyak daripada hadis yang ada di kalangan Ahlusunah.[5] Hadis Tsaqalain,[6] Hadis Manzilah,[7] Hadis Yaum al-Dar[8] dan Hadis Safinah,[9] terhitung sebagai hadis-hadis Nabi saw yang masyhur.

Validitas Hadis Nabawi

Al-Qur'an mengonfirmasi validitas hadis Nabawi dengan menekankan peran Nabi saw dalam menjelaskan agama dan kewajiban menaatinya,[10] sedemikian rupa sehingga pengingkaran terhadap validitas hadis oleh ulama agama dianggap sebagai pengingkaran terhadap salah satu dharuriyat agama (hal yang niscaya dalam agama).[11] Selain itu, Hadis Nabawi dikenal sebagai kunci Pemahaman Al-Qur'an[12] dan berperan dalam menjelaskan perincian hukum syariat.[13]

Menurut Ali Nashiri, peneliti hadis, pada masa Nabi saw terdapat sekelompok orang yang berusaha memalsukan hadis dan kelompok lain dengan motif jahat berusaha menampilkan sunah Nabawi sebagai sesuatu yang bukan wahyu untuk mempertanyakan validitas hadis. Namun, Nabi saw melawan fenomena pemalsuan hadis dengan menegaskan sifat wahyu pada sunah Nabawi, menganjurkan penghafalan dan penulisan hadis, serta mendidik murid-murid khusus seperti Imam Ali as.[14]

Para ulama agama bersandar pada Al-Qur'an,[15] Ijma (konsensus),[16] dan dalil akal[17] untuk membuktikan validitas sunah Nabi saw.

Penyebaran Hadis

Perhatian Nabi saw dalam menyampaikan dan menyebarkan ajaran agama memunculkan metode-metode dalam penyebaran hadis.[18] Pengajaran privat, pengiriman mubalig, penyampaian khotbah umum pada situasi tertentu, dan pemanfaatan pertemuan besar seperti Khotbah Ghadir Khum dan Fathu Mekah dianggap sebagai bagian dari metode-metode ini.[19]

Pelarangan Hadis Nabawi


Setelah wafat Nabi saw, Tiga Khalifah mencegah penukilan dan penulisan hadis.[20] Abu Bakar membakar sebagian hadis yang telah dikumpulkan,[21] dan Umar bin Khattab melanjutkan kebijakan ini dengan mengumpulkan dan membakar catatan-catatan para sahabat.[22] Alasan yang dikemukakan dalam sumber-sumber Ahlusunah untuk tindakan ini adalah pencegahan perselisihan di antara umat Islam[23] dan ketakutan akan bercampurnya hadis dengan Al-Qur'an.[24] Larangan penulisan ini berlanjut hingga sekitar tahun 100 Hijriah pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz.[25]

Terdapat pandangan berbeda dalam menanggapi riwayat-riwayat pelarangan ini. Sebagian ahli hadis Ahlusunah berpegang pada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi saw sendiri terkadang melarang sahabat menulis hadis.[26] Sebaliknya, peneliti seperti Subhi Shalih memberikan justifikasi sejarah bahwa larangan ini berkaitan dengan masa awal turunnya wahyu, dan meyakini bahwa setelah itu Nabi saw memberikan izin umum untuk penulisan.[27] Di sisi lain, para peneliti Syiah menganggap dasar riwayat pelarangan penulisan sebagai hadis palsu dan menolaknya dengan bersandar pada bukti-bukti yang menunjukkan izin penulisan hadis oleh Nabi saw.[28]

Karya Tulis Hadis Nabawi

Menurut penuturan sebagian peneliti, sekitar lima puluh orang Sahabat mencatat hadis-hadis Nabi saw.[29] Menurut Subhi Shalih, peneliti hadis, sebagian besar tulisan ini berasal dari tahun-tahun akhir usia Nabi saw dan tidak ada jejak nyata dari naskah-naskah mereka yang tersedia saat ini, namun karya-karya seperti kitab Sa'ad bin Ubadah al-Anshari, kitab Abdullah bin Aufa, kitab Samurah bin Jundab, dan kitab Jabir bin Abdullah termasuk di antara karya-karya awal tersebut.[30]

Di kalangan Syiah, tokoh-tokoh seperti Abu Dzar, Ibnu Abbas, dan Jabir bin Abdullah al-Anshari berupaya mengumpulkan dan menyusun riwayat Nabawi atas perintah para Imam Maksum as.[31] Selama berabad-abad, hadis-hadis Nabawi telah dikumpulkan dalam berbagai bentuk kitab seperti Sunan, Jawami', Masanid, Ma'ajim, dan Mustadrakat.[32]

Syarah dan Tafsir Hadis Nabawi

Para ulama agama telah menulis berbagai syarah (penjelasan) atas hadis-hadis Nabawi untuk memperjelas kosa kata, menyusun ujaran, dan menyimpulkan hukum darinya. Beberapa di antaranya adalah: Al-Risalah al-'Aliyyah fi Ahadits al-Nabawiyyah,[33] Syarh Chehel Hadits Nabawi (Syarah Empat Puluh Hadis Nabawi), Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Aun al-Ma'bud Syarh Sunan Abi Dawud, dan Syarh al-Arba'in al-Nawawiyyah.[34] Pada tahun 1385 HS yang dinamakan sebagai tahun Nabi Agung saw (di Iran), 53 judul buku dengan tema Nabi Muhammad saw telah disiapkan untuk dicetak.[35]

Karya Syiah Mengenai Hadis Nabawi

Berikut adalah beberapa kitab hadis Syiah yang mengumpulkan hadis-hadis Nabi saw secara selektif dan tematis:

  • Tuhaf al-Uqul, (Ibnu Syu'bah Harrani, abad ke-4 H).
  • Jami' al-Ahadits al-Nabawiyyah, Ja'far bin Ahmad Qumi Razi (abad ke-4 H).
  • Natsr al-Durr fi al-Muhadharat (Manshur bin Husain Abi, abad ke-4 H).
  • Nuzhah al-Nazhir wa Tanbih al-Khathir, Husain bin Muhammad Halwani (abad ke-5 H).
  • Al-Durrah al-Bahirah min al-Ashdaf al-Thahirah (Syahid Awwal).
  • Nahjul Fashahah, Abul Qasim Payandeh (mencantumkan lebih dari 3200 riwayat Nabi saw).
  • Makatib al-Rasul saw, Ahmadi Miyanji (kumpulan surat-surat Nabi saw yang telah dikumpulkan).
  • Musnad al-Rasul al-A'zham, Yahya Falsafi Darayi (dengan lebih dari enam ribu hadis dalam berbagai topik).
  • Mausu'ah al-Nabi al-A'zham, Muhammad Hadi Amini.
  • Sunan al-Nabi saw, Muhammad Husain Thabathaba'i (riwayat-riwayat fiksi yang dinukil dari Nabi saw dan sahabat). Catatan: Teks asli menyebut Kazhim Mudir Syaneh-chi, namun Sunan al-Nabi yang masyhur adalah karya Thabathaba'i, perlu verifikasi sumber Persianya jika merujuk buku spesifik lain.
  • Hikmat Nameh Payambar A'zam saw, Muhammad Muhammadi Reysyahri.[36]

Karya Ahlusunah Mengenai Hadis Nabawi

Menurut Rasul Ja'fariyan, kitab-kitab hadis Ahlusunah semuanya disusun pada akhir abad ke-2 dan abad ke-3 Hijriah.[37] Dikatakan pula bahwa dalam karya-karya tulis (mushannafat) awal, para penulis juga mencatat perkataan sahabat dan fatwa para Tabi'in di samping hadis.[38] Meskipun volume kumpulan ini besar, jumlah hadis yang tidak berulang dalam kitab-kitab ini diperkirakan kurang dari 15 ribu hadis, karena banyak hadis yang dicantumkan berulang kali dengan sanad yang berbeda.[39] Beberapa kitab hadis Ahlusunah antara lain:

  • Al-Muwaththa, Malik bin Anas.
  • Sahih Sittah.
  • Masanid, seperti Musnad Ahmad bin Hanbal dan Musnad Abu Ya'la.
  • Mushannafat, seperti Mushannaf Abdurrazzaq dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.
  • Al-Jami' al-Shaghir dan Al-Jami' al-Kabir, Suyuthi (W. 911 H).
  • Kanz al-'Ummal (wW 975 H), kitab Ahlusunah paling komprehensif dengan lebih dari 45 ribu hadis.[40]

Catatan Kaki

  1. Subhani Tabrizi, Ushul al-Hadits wa Ahkamuhu fi 'Ilm al-Dirayah, 1433 H, hlm. 19.
  2. Gharawi Naini, Tarikh Hadits Syiah ta Qarn Panjum Hijri (Sejarah Hadis Syiah hingga Abad Kelima Hijriah), 1386 HS, hlm. 25; Nashiri, Daramadi bar 'Ulum Hadits (Pengantar Ilmu Hadis), 1398 HS, hlm. 26; Bahrani, Al-Mu'jam al-Ushuli, 1426 H, jld. 2, hlm. 178.
  3. Al-Darimi, Sunan al-Darimi, 1434 H, jld. 1, hlm. 147.
  4. Nashiri, Asynayi ba Tarikh wa Manabi' Haditsi (Mengenal Sejarah dan Sumber Hadis), 1385 HS, hlm. 74-75.
  5. Thabathaba'i, Tarikh Hadits Syiah (1) ('Ashr Hudhur) (Sejarah Hadis Syiah (1) (Masa Kehadiran)), 1388 HS, hlm. 26.
  6. Nafisi, «Tsaqalain, Hadis», hlm. 103.
  7. Syarafuddin, Al-Muraja'at, 1426 H, hlm. 273.
  8. Amini, Al-Ghadir, 1416 H, jld. 2, hlm. 279-280.
  9. Reza'i, «Pazhuhesyi dar Hadits Safinah» (Sebuah Penelitian tentang Hadis Safinah), hlm. 97-130.
  10. Nashiri, Daramadi bar 'Ulum Hadits (Pengantar Ilmu Hadis), 1398 HS, hlm. 5.
  11. Hakim, Al-Ushul al-'Ammah li al-Fiqh al-Muqarin, 1979 M, hlm. 126.
  12. Zarqa, Al-Madkhal al-Fiqhi al-'Am, 1418 H, jld. 1, hlm. 75-76.
  13. Zarqa, Al-Madkhal al-Fiqhi al-'Am, 1418 H, jld. 1, hlm. 76; Bahrani, Al-Mu'jam al-Ushuli, 1426 H, jld. 2, hlm. 178.
  14. Nashiri, Daramadi bar 'Ulum Hadits (Pengantar Ilmu Hadis), 1398 HS, hlm. 31-35.
  15. Hakim, Al-Ushul al-'Ammah li al-Fiqh al-Muqarin, 1979 M, hlm. 149-159; Namlah, Al-Muhadzdzab fi 'Ilm Ushul al-Fiqh al-Muqarin, 1420 H, jld. 2, hlm. 638.
  16. Namlah, Al-Muhadzdzab fi 'Ilm Ushul al-Fiqh al-Muqarin, 1420 H, jld. 2, hlm. 639.
  17. Hakim, Al-Ushul al-'Ammah li al-Fiqh al-Muqarin, 1979 M, hlm. 128; Namlah, Al-Muhadzdzab fi 'Ilm Ushul al-Fiqh al-Muqarin, 1420 H, jld. 2, hlm. 639.
  18. Thabathaba'i, Tarikh Hadits Syiah (1) ('Ashr Hudhur) (Sejarah Hadis Syiah (1) (Masa Kehadiran)), 1388 HS, hlm. 23.
  19. Thabathaba'i, Tarikh Hadits Syiah (1) ('Ashr Hudhur) (Sejarah Hadis Syiah (1) (Masa Kehadiran)), 1388 HS, hlm. 23-26.
  20. Ma'arif, «Tadwin Hadits» (Kodifikasi Hadis), hlm. 751.
  21. Suyuthi, Jami' al-Ahadits, Mesir, jld. 25, hlm. 120.
  22. Thabathaba'i, Tarikh Hadits Syiah (1) ('Ashr Hudhur) (Sejarah Hadis Syiah (1) (Masa Kehadiran)), 1388 HS, hlm. 22.
  23. Dzahabi, Tadzkirah al-Huffazh, 1419 H, jld. 1, hlm. 9.
  24. Muttaqi Hindi, Kanz al-'Ummal, 1401 H, jld. 10, hlm. 285 dan 292.
  25. Asqalani, Fath al-Bari, 1379 H, jld. 1, hlm. 208.
  26. Asqalani, Fath al-Bari, 1379 H, jld. 1, hlm. 208.
  27. Shalih, Ulum Hadits wa Ishthilahat An (Ilmu Hadis dan Istilah-istilahnya), 1376 HS, hlm. 21.
  28. Ja'fariyan, «Tarikh Tadwin Hadits» (Sejarah Kodifikasi Hadis), hlm. 103 dan 104; Thabathaba'i, Tarikh Hadits Syiah (1) ('Ashr Hudhur) (Sejarah Hadis Syiah (1) (Masa Kehadiran)), 1388 HS, hlm. 22; Ma'arif, «Tadwin Hadits» (Kodifikasi Hadis), hlm. 750.
  29. Ma'arif, «Tadwin Hadits» (Kodifikasi Hadis), 1388 HS, hlm. 750.
  30. Shalih, Ulum Hadits wa Ishthilahat An (Ilmu Hadis dan Istilah-istilahnya), 1376 HS, hlm. 22-24.
  31. Thabathaba'i, Tarikh Hadits Syiah (1) ('Ashr Hudhur) (Sejarah Hadis Syiah (1) (Masa Kehadiran)), 1388 HS, hlm. 29.
  32. Shabbagh, Al-Hadits al-Nabawi, 1401 H, hlm. 349-359.
  33. Situs Rasekhoon, «Al-Risalah al-'Aliyyah fi al-Ahadits al-Nabawiyyah (Syarh 40 Hadits)».
  34. Islamweb, Muallafat fi Syarh al-Ahadits al-Nabawiyyah.
  35. Surat Kabar Jomhouri, «53 'Unwan Kitab ba Mauzu' Payambar saw dar Sazman Tablighat Islami dar Dast Tahiyeh Ast» (53 Judul Buku Bertema Nabi saw Sedang Disiapkan di Organisasi Dakwah Islam).
  36. Thabathaba'i, Tarikh Hadits Syiah (1) ('Ashr Hudhur) (Sejarah Hadis Syiah (1) (Masa Kehadiran)), 1388 HS, hlm. 31 dan 32.
  37. Ja'fariyan, Rasul, «Tarikh Tadwin Hadits» (Sejarah Kodifikasi Hadis), hlm. 99.
  38. Thabathaba'i, Musnad Newisi dar Tarikh Hadits (Penulisan Musnad dalam Sejarah Hadis), 1377 HS, hlm. 73; Ma'arif, «Tadwin Hadits» (Kodifikasi Hadis), hlm. 752.
  39. Thabathaba'i, Tarikh Hadits Syiah (1) ('Ashr Hudhur) (Sejarah Hadis Syiah (1) (Masa Kehadiran)), 1388 HS, hlm. 30.
  40. Thabathaba'i, Tarikh Hadits Syiah (1) ('Ashr Hudhur) (Sejarah Hadis Syiah (1) (Masa Kehadiran)), 1388 HS, hlm. 30.

Daftar Pustaka

  • Ahmadi Miyanji, Ali. Makatib al-Rasul saw. Qom: Dar al-Hadits, cetakan pertama, 1419 H.
  • Al-Darimi, Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman. Musnad al-Darimi al-Ma'ruf bi Sunan al-Darimi. Peneliti: Nabil Hasyim al-Ghamari. Beirut: Dar al-Basyair, cetakan pertama, 1434 H.
  • Amini, Abdul Husain. Al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab. Qom: Markaz al-Ghadir li al-Dirasat al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1416 H.
  • Asqalani, Ibnu Hajar. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H.
  • Bahrani, Muhammad Sanad. Al-Mu'jam al-Ushuli. Qom: Muhibbin, 1426 H.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tadzkirah al-Huffazh. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1419 H.
  • Gharawi Naini, Nahla. Tarikh Hadits Syiah ta Qarn Panjum Hijri (Sejarah Hadis Syiah hingga Abad Kelima Hijriah). Qom: Syiah Syinasi, cetakan pertama, 1386 HS.
  • Hakim, Muhammad Taqi. Al-Ushul al-'Ammah li al-Fiqh al-Muqarin. Beirut: Dar al-Andalus, 1979 M.
  • Ibnu Abi Syaibah, Abu Bakar. Mushannaf Ibnu Abi Syaibah. Peneliti: Kamal Yusuf al-Hut. Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 1409 H.
  • Ibnu Hanbal, Ahmad. Musnad Ahmad Mukhrajan. Peneliti: Syuaib Al-Arnauth - Adil Mursyid. [Tanpa Tempat], Muassasah Al-Risalah, 1421 H.
  • Ja'fariyan, Rasul. Tarikh Tadwin Hadits (Sejarah Kodifikasi Hadis). Majalah Nur-e Ilm. Nomor 23, Aban 1366 HS.
  • Khalil, Mahmud Muhammad. Al-Musnad al-Jami'. Beirut: Dar al-Jil, cetakan pertama, 1413 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Korektor: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Ma'arif, Majid. Tadwin Hadits (Kodifikasi Hadis) dalam Danesynameh Jahan-e Islam (Ensiklopedia Dunia Islam), Jld. 6. Teheran: Bunyad-e Da'irat al-Ma'arif-e Islami, 1388 HS.
  • Ma'arif, Majid. Pazhuhesyi dar Tarikh Hadits Syiah (Sebuah Penelitian dalam Sejarah Hadis Syiah). Teheran: Muasseseh Farhangi wa Hunari Zarih, 1374 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Peneliti: Sekelompok peneliti. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
  • Muttaqi Hindi, Ali bin Husamuddin. Kanz al-'Ummal. Peneliti: Bakri Hayyani dan Shafwah al-Saqqa. [Tanpa Tempat], Muassasah al-Risalah, cetakan kelima, 1401 H.
  • Nafisi, Syadi. «Tsaqalain, Hadits», dalam Danesynameh Jahan-e Islam (Ensiklopedia Dunia Islam), Jld. 9. Teheran: Bunyad-e Da'irat al-Ma'arif-e Islami, cetakan pertama, 1384 HS.
  • Najasyi, Ahmad bin Ali. Rijal al-Najasyi. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami al-Tabi'ah li Jama'ah al-Mudarrisin, cetakan keenam, 1365 HS.
  • Namlah, Abdul Karim bin Ali bin Muhammad. Al-Muhadzdzab fi 'Ilm Ushul al-Fiqh al-Muqarin. Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 1420 H.
  • Nashiri, Ali. Asynayi ba Tarikh wa Manabi' Haditsi (Mengenal Sejarah dan Sumber Hadis). Qom: Markaz Jahani Ulum Islami, cetakan pertama, 1385 HS.
  • Nashiri, Ali. Daramadi bar 'Ulum Hadits (Pengantar Ilmu Hadis). Qom: Markaz Mudiriyat, cetakan pertama, 1398 HS.
  • Pakatcï, Ahmad. Pazhuhesyi Piramun Jawami' Haditsi Ahl-e Sunnat (Penelitian Seputar Kitab-kitab Hadis Ahlusunah). Universitas Imam Shadiq as, Teheran: 1392 HS.
  • Ridha'i, Ghulamreza. Pazhuhesyi dar Hadits Safinah (Sebuah Penelitian tentang Hadis Safinah). Fashlnameh Kalam-e Islami. No. 84, Musim Dingin 1391 HS.
  • Sajistani, Abu Dawud Sulaiman bin Asy'ats. Sunan Abi Dawud. Peneliti: Abdul Hamid Muhammad Muhyiddin. Beirut: Al-Maktabah al-'Ashriyyah, [Tanpa Tahun].
  • Shabbagh, Muhammad. Al-Hadits al-Nabawi. Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1401 H.
  • Shadr, Sayid Hasan. Ta'sis al-Syi'ah li 'Ulum al-Islam. [Tanpa Tempat], [Tanpa Penerbit], 1375 HS.
  • Shaduf, Muhammad bin Ali. Al-Amali. Teheran: Kitabchi, cetakan keenam, 1376 HS.
  • Shaffar, Muhammad bin Hasan. Bashair al-Darajat fi Fadhail Ali Muhammad saw. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1404 H.
  • Shalih, Subhi. Ulum Hadits wa Ishthilahat An (Ilmu Hadis dan Istilah-istilahnya). Penerjemah: Adil Nadir Ali. Teheran: Osweh, 1376 HS.
  • Subhani Tabrizi, Ja'far. Ushul al-Hadits wa Ahkamuhu fi 'Ilm al-Dirayah. Beirut: Dar Jawad al-Aimmah (as), 1433 H.
  • Surat Kabar Jumhuri. «53 'Unwan Kitab ba Mauzhu' Payambar saw dar Sazman Tablighat Islami dar Dast Tahiyeh Ast» (53 Judul Buku Bertema Nabi saw Sedang Disiapkan di Organisasi Dakwah Islam). Tanggal posting: 16 Aban 1385 HS. Tanggal akses: 9 Mehr 1403 HS.
  • Suyuthi, Jalaluddin. Jami' al-Ahadits. [Tanpa Tempat], Mesir, [Tanpa Tahun].
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Khishal. Korektor: Ali Akbar Ghaffari. Qom: Jami'ah Mudarrisin, cetakan pertama, 1362 HS.
  • Syarafuddin, Sayid Abdul Husain. Al-Muraja'at. Peneliti: Husain Radhi. Qom: Al-Majma' al-'Alami Li Ahlilbait, cetakan kedua, 1426 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Kazhim. Musnad Newisi dar Tarikh Hadits (Penulisan Musnad dalam Sejarah Hadis). Qom: Intisyarat Daftar Tablighat Islami Hauzeh Ilmiyeh Qom: 1377 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Kazhim. Tarikh Hadits Syiah (1) ('Ashr Hudhur) (Sejarah Hadis Syiah (1) (Masa Kehadiran)). Teheran: Daneshkadeh Ulum Hadits, 1388 HS.
  • Zarqa, Ahmad bin Muhammad. Al-Madkhal al-Fiqhi al-'Am. Damaskus: Dar al-Qalam, 1418 H.