Lompat ke isi

Konsep:Akhbar Man Balagh

Dari wikishia
Akhbar Man Balagh
TemaTasamuh dalam dalil sunan
Diriwayatkan dariNabi Muhammad saw, Imam Baqir as, Imam Shadiq as
Periwayat lainHisyam bin Salim, Shafwan bin Mihran
Validitas hadisMustafidh dan Sahih
Sumber SyiahAl-Mahasin, Al-Kafi, Tsawab al-A'mal
Sumber AhlusunahJuz' Ibn 'Arafah, Musnad Abi Ya'la

Akhbar man balagh (Bahasa Arab: أخبار من بلغ) adalah sekumpulan hadis yang dijadikan sandaran oleh banyak fukaha untuk menganggap mustahab (sunah) berbagai amal perbuatan. Hadis-hadis ini merupakan dalil utama bagi kaidah tasamuh (toleransi dalam dalil-dalil sunah). Berdasarkan riwayat-riwayat ini, Allah akan memberikan pahala kepada orang-orang yang melakukan suatu amalan dengan bersandar pada riwayat lemah, meskipun kabar tersebut tidak benar.

Para fukaha menganggap hadis-hadis man balagh sebagai hadis mutawatir atau mustafidh dan menilainya valid (muktabar). Sebagian peneliti, meskipun tidak menerima kemutawatiran riwayat-riwayat ini, menganggap sebagian hadis man balagh sahih dari segi sanad. Sebaliknya, sebagian penulis memperkenalkan hadis-hadis man balagh sebagai hadis palsu (maudhu').

Kebanyakan fukaha mengambil kaidah usuli dari akhbar man balagh, yang berlandaskan padanya, ketsiqahan atau ketidaktsiqahan perawi dalam riwayat-riwayat yang berkaitan dengan hal-hal mustahab tidak diperhatikan. Meskipun demikian, sebagian ulama juga menerapkan riwayat-riwayat ini pada masalah fikih atau teologi (kalam). Para ulama, dikarenakan perbedaan dasar-dasar (mabna) mereka, memiliki perbedaan pendapat mengenai apakah hadis-hadis ini juga mencakup masalah-masalah seperti makruh dan penukilan hadis-hadis lemah mengenai keutamaan serta musibah Ahlulbait as atau tidak.

Konsep dan Kedudukan

Templat:Kotak kutipan Akhbar man balagh adalah sebutan untuk sekumpulan hadis yang menjelaskan sikap Allah terhadap orang-orang yang mengamalkan isi suatu riwayat lemah dengan bersandar padanya.[1] Berdasarkan hadis-hadis ini, jika riwayat mengenai pahala suatu amal sampai kepada seseorang dan ia melakukannya dengan harapan meraih pahala tersebut, Allah akan memberikan pahala yang dijanjikan kepadanya, meskipun riwayat aslinya tidak benar.[2] Karena umumnya riwayat-riwayat ini dimulai dengan ungkapan "man balaghahu" (barang siapa yang sampai kepadanya suatu kabar), hadis-hadis ini dikenal dengan sebutan "akhbar man balagh".[3] Dalam hadis-hadis ini hanya dikabarkan mengenai pendekatan Allah dan tidak ada perintah apa pun di dalamnya.[4]

Muhammad Jawad Fadhil Lankarani, salah satu guru Hauzah Ilmiah Qom, menganggap riwayat-riwayat man balagh sebagai dalil utama untuk kaidah tasamuh; sebuah kaidah yang banyak digunakan dan berlaku di seluruh bab-bab fikih.[5]

Banyak fukaha berdasarkan riwayat-riwayat ini, berfatwa akan kemustahaban berbagai amal;[6] sebagai contoh, Syahid Tsani penulis Syarah Lum'ah, berdasarkan hadis "man balagh" dan dengan bersandar pada riwayat-riwayat lemah yang membolehkan puasa mustahab dalam perjalanan, memberikan fatwa bahwa puasa mustahab dalam perjalanan adalah boleh.[7]

Validitas

Syaikh Hurr Amili, penulis Wasa'il al-Syi'ah, memperkenalkan akhbar man balagh sebagai hadis mutawatir.[8] Syaikh Murtadha Anshari, salah satu fukaha abad ke-13, selain menganggap hadis-hadis man balagh sebagai mustafidh, juga memberikan kemungkinan bahwa hadis-hadis ini memiliki tawatur maknawi.[9] Selain itu, menurut Ibnu Fahd Hilli, penulis Uddatud Da'i, konten riwayat man balagh adalah hal yang disepakati (ijma') di kalangan Syiah dan Ahlusunah.[10] Hadis-hadis ini selain terdapat dalam sumber-sumber agama Syiah, juga disebutkan dalam beberapa sumber Ahlusunah (seperti kitab Juz' Ibn 'Arafah dan Musnad Abi Ya'la).[11] Riwayat-riwayat Syiah dinukil dari Imam Baqir as dan Imam Shadiq as,[12] sedangkan riwayat Ahlusunah berasal dari Nabi Muhammad saw.[13]

Dalam kitab Wasa'il al-Syi'ah, disebutkan sembilan riwayat untuk akhbar man balagh.[14] Sebagian peneliti meyakini bahwa hadis-hadis man balagh dalam sumber-sumber utama Syiah, secara keseluruhan kembali kepada tiga riwayat[15]: 1. Riwayat kitab Al-Mahasin;[16] 2. Riwayat kitab Al-Kafi;[17] 3. Riwayat kitab Tsawab al-A'mal.[18] Oleh karena itu, sebagian peneliti tidak menerima kemutawatiran hadis-hadis ini dan di antara hadis-hadis yang dinukil, mereka hanya menganggap sanad dua hadis sebagai sahih dan sanad hadis-hadis lainnya sebagai lemah.[19]

Dinukil dari Muflih bin Hasan Shaimari, fakih abad ke-9, bahwa ia melihat hadis-hadis man balagh bertentangan dengan ayat Naba (ta'arudh) dan mengkritiknya,[20] namun para peneliti seperti Agha Husain Khwansari dan Syaikh Murtadha Anshari telah menjawab kerancuan pertentangan antara ayat dan akhbar man balagh.[21] Meskipun demikian, beberapa penulis dari Syiah[22] dan Ibnu Jauzi dari fukaha Ahlusunah menganggap hadis-hadis ini sebagai palsu.[23]

Interpretasi

Dikatakan bahwa fukaha masyhur menganggap konten riwayat man balagh sebagai kaidah usuli; artinya menurut hadis-hadis ini, syarat-syarat khusus yang ada untuk kehujahan riwayat (seperti ketsiqahan perawi) diabaikan dalam hal-hal mustahab.[24] Namun demikian, penunjukan riwayat-riwayat ini pada kaidah usuli juga tidak disepakati oleh semua fukaha dan terdapat pandangan lain dalam masalah ini;[25] sebagaimana Akhund Khurasani dan Na'ini menganggapnya sebagai masalah fikih dan menurut pendapat mereka, amal yang dilakukan oleh mukalaf dengan harapan pahala adalah mustahab.[26] Sebagian lain seperti Agha Dhiya Iraqi dan Sayid Abul Qasim Khoei, menganggapnya sebagai masalah teologis (kalam), dan meyakini bahwa Allah karena karunia-Nya, memberikan pahala kepada orang-orang yang menunjukkan ketaatan mereka dengan mengamalkan hadis-hadis lemah.[27]

Ali Shafi Gulpaygani menukil empat kemungkinan mengenai penunjukan (dilalah) akhbar man balagh dan pada akhirnya menerima kemungkinan keempat, yang berdasarkan itu, riwayat-riwayat ini tidak menunjukkan pada kemustahaban amal atau prinsip pahala (tanpa kekhususannya) ataupun status ibadahnya, melainkan menunjukkan bahwa jika seseorang melalui suatu riwayat mengetahui adanya pahala tertentu untuk melakukan suatu pekerjaan dan ia melakukan amal tersebut dengan harapan memperoleh pahala itu, maka ia akan mencapai pahala yang dijanjikan dalam kabar tersebut. Perbuatan ini merupakan contoh dari kehati-hatian (ihtiyath) dan juga dikonfirmasi serta dipuji oleh akal.[28]

Cakupan

Menurut Sayid Mahmud Hasyimi Syahrudi, fukaha masyhur mengkhususkan akhbar man balagh pada hal-hal mustahab dan tidak menganggapnya mencakup hal-hal makruh;[29] namun Syaikh Anshari meyakini bahwa meskipun pada awalnya tampak riwayat-riwayat man balagh khusus untuk mustahabat, tetapi lafal-lafalnya memiliki keumuman dan mencakup makruhat juga.[30] Syaikh Anshari juga meyakini bahwa dengan bersandar pada hadis-hadis man balagh, dalam menukil peristiwa, menyebutkan keutamaan dan musibah Ahlulbait as, dapat menggunakan kabar-kabar lemah.[31] Sebaliknya, Na'ini menganggap penukilan hadis-hadis lemah dalam menjelaskan peristiwa serta keutamaan dan musibah Ahlulbait as tidak benar.[32]

Masalah-masalah lain mengenai perluasan cakupan hadis man balagh telah dikemukakan yang mana dengan memperhatikan perbedaan dasar-dasar ulama, terdapat berbagai pandangan dalam penetapan atau penafiannya; beberapa dari masalah ini adalah: 1. Cakupan akhbar man balagh pada fatwa-fatwa mujtahid;[33] 2. Berlakunya hadis-hadis man balagh mengenai hadis-hadis yang sanadnya kuat namun penunjukannya (dilalah) lemah;[34] 3. Pencakupan kabar-kabar tersebut pada riwayat-riwayat lemah yang menunjukkan pada kewajiban.[35]

Catatan Kaki

  1. Pusat Informasi dan Dokumen Islam, Farhang-nameh Ushul Fiqh, 1389 HS, hlm. 128.
  2. Barqi, Al-Mahasin, 1371 H, jld. 1, hlm. 25; Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 87; Syaikh Shaduq, Tsawab al-A'mal wa 'Iqab al-A'mal, 1406 H, hlm. 132.
  3. Sa'idi, Tasamuh dar Adilleh Sunan, hlm. 288.
  4. Hasyimi Syahrudi, Bahsi Piramun-e Akhbar Man Balagh, hlm. 8.
  5. Fadhil Lankarani, Qa'ideh Tasamuh dar Adilleh Sunan, hlm. 7.
  6. Kalantari, Tasamuh dar Adilleh Sunan, Qa'ideh-i Na-kar-amad, hlm. 2.
  7. Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 2, hlm. 48.
  8. Syaikh Hurr Amili, Al-Fushul al-Muhimmah fi Ushul al-Aimmah, 1418 H, jld. 1, hlm. 617.
  9. Anshari, Rasa'il Fiqhiyyah, 1414 H, hlm. 142.
  10. Ibnu Fahd Hilli, Uddatud Da'i, 1407 H, hlm. 13.
  11. Lihat: Ibnu 'Arafah, Juz', 1406 H, hlm. 78; Abu Ya'la Al-Mushili, Musnad Abi Ya'la, 1404 H, jld. 6, hlm. 163; Khatib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1422 H, jld. 9, hlm. 230.
  12. Syaikh Hurr Amili, Wasa'il al-Syi'ah, 1409 H, jld. 1, hlm. 80-82.
  13. Ibnu 'Arafah, Juz', 1406 H, hlm. 78; Abu Ya'la Al-Mushili, Musnad Abi Ya'la, 1404 H, jld. 6, hlm. 163; Khatib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1422 H, jld. 9, hlm. 230.
  14. Syaikh Hurr Amili, Wasa'il al-Syi'ah, 1409 H, jld. 1, hlm. 80-82.
  15. Karimian, E'tebar-sanji wa Mafhum-syenasi-ye Ahadits Man Balagh, hlm. 11.
  16. Barqi, Al-Mahasin, 1371 H, jld. 1, hlm. 25.
  17. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 87.
  18. Syaikh Shaduq, Tsawab al-A'mal wa 'Iqab al-A'mal, 1406 H, hlm. 132.
  19. A'rafi, Qa'idah at-Tasamuh fi Adillah as-Sunan, hlm. 212.
  20. Sayid Mujahid, Mafatih al-Ushul, Muassasah Alu al-Bait (as), hlm. 349.
  21. Khwansari, Masyariq asy-Syumus, Muassasah Alu al-Bait (as), jld. 1, hlm. 34; Anshari, Rasa'il Fiqhiyyah, 1414 H, hlm. 151-152.
  22. Al-Hasani, Al-Maudhu'at fi al-Atsar wa al-Akhbar, 1973 M, hlm. 171; Behbudi, Shahih al-Kafi, 1401 H, jld. 1, hlm. "Th".
  23. Ibnu Jauzi, Al-Maudhu'at, 1388 H, jld. 3, hlm. 153.
  24. Na'ini, Fawa'id al-Ushul, 1376 HS, jld. 3, hlm. 415.
  25. Akhund Khurasani, Kifayah al-Ushul, Tahqiq Abbas Ali Zari'i Sabzawari, 1431 H, jld. 3, hlm. 72.
  26. Akhund Khurasani, Kifayah al-Ushul, 1409 H, hlm. 352; Na'ini, Ajwad at-Taqrirat, Taqrrat Ayatullah Khoei, 1368 HS, jld. 2, hlm. 208-209.
  27. Iraqi, Nihayah al-Afkar, 1417 H, jld. 3, hlm. 279-280; Khoei, Mishbah al-Ushul, 1417 H, jld. 2, hlm. 319.
  28. Shafi Gulpaygani, Al-Mahajjah fi Taqrirat al-Hujjah, 1419 H, jld. 2, hlm. 240.
  29. Hasyimi Syahrudi, Bahsi Piramun-e Akhbar Man Balagh, hlm. 24.
  30. Anshari, Rasa'il Fiqhiyyah, 1414 H, hlm. 160.
  31. Anshari, Rasa'il Fiqhiyyah, 1414 H, hlm. 158.
  32. Na'ini, Ajwad at-Taqrirat, Taqrirat Ayatullah Khoei, 1368 HS, jld. 2, hlm. 212.
  33. Ishfahani, Nihayah ad-Dirayah, 1414 H, jld. 4, hlm. 188-189.
  34. A'rafi, Qa'idah at-Tasamuh fi Adillah as-Sunan, hlm. 231-232.
  35. Ishfahani, Nihayah ad-Dirayah, 1414 H, jld. 4, hlm. 188-189.

Daftar Pustaka

  • Abu Ya'la Al-Mushili. Musnad Abi Ya'la. Damaskus, Dar al-Ma'mun, 1404 H.
  • A'rafi. Qa'idah at-Tasamuh fi Adillah as-Sunan. Dalam Jurnal Fiqh Ahl al-Bayt (as), No. 49, 1429 H.
  • Akhund Khurasani, Muhammad Kazim. Kifayah al-Ushul. Qom, Muassasah Alu al-Bait (as), 1409 H.
  • Akhund Khurasani, Muhammad Kazim. Kifayah al-Ushul. Tahqiq Abbas Ali Zari'i Sabzawari. Qom, Muassasah Nasyr Islami, 1431 H.
  • Al-Hasani, Hasyim Ma'ruf. Al-Maudhu'at fi al-Atsar wa al-Akhbar. Beirut, Dar al-Kitab al-Lubnani, 1973 M.
  • Anshari, Murtadha. Rasa'il Fiqhiyyah. Qom, Kongres Internasional Peringatan Syaikh Agung Anshari, 1414 H.
  • Barqi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mahasin. Qom, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 H.
  • Behbudi, Muhammad Baqir. Shahih al-Kafi. Beirut, Ad-Dar al-Islamiyyah, 1401 H.
  • Fadhil Lankarani, Muhammad Jawad. Qa'ideh Tasamuh dar Adilleh Sunan. Dalam Jurnal Fiqh wa Ijtihad, No. 6, Mehr 1395 HS.
  • Hasyimi Syahrudi, Sayid Mahmud. Bahsi Piramun-e Akhbar Man Balagh. Dalam Jurnal Pazhuhesy-ha-ye Ushuli, No. 4 & 5, Musim Panas 1382 HS.
  • Ibnu 'Arafah, Hasan. Juz'. Kuwait, Dar al-Aqsha, 1406 H.
  • Ibnu Fahd Hilli, Ahmad bin Muhammad. Uddatud Da'i wa Najahus Sa'i. Qom, Dar al-Kutub al-Islami, 1407 H.
  • Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Al-Maudhu'at. Madinah, Al-Maktabah as-Salafiyyah, 1388 H.
  • Iraqi, Dhiya'uddin. Nihayah al-Afkar. Taqrirat Muhammad Taqi Burujerdi. Qom, Muassasah Nasyr Islami, 1417 H.
  • Ishfahani, Muhammad Husain. Nihayah ad-Dirayah fi Syarh al-Kifayah. Qom, Muassasah Sayyidus Syuhada (as), 1414 H.
  • Kalantari. Tasamuh dar Adilleh Sunan, Qa'ideh-i Na-kar-amad. Dalam Jurnal Pazhuhesy-ha-ye E'teqadi Kalami, No. 17, 1389 HS.
  • Karimian, Mahmud. E'tebar-sanji wa Mafhum-syenasi-ye Ahadits Man Balagh. Dalam Jurnal Hadits-e Hauzah, No. 16, 1397 HS.
  • Khatib Baghdadi. Tarikh Baghdad. Beirut, Dar al-Gharb al-Islami, 1422 H.
  • Khoei, Sayid Abul Qasim. Mishbah al-Ushul. Qom, Maktabah ad-Dawari, 1417 H.
  • Khwansari, Muhammad bin Husain. Masyariq asy-Syumus. Qom, Muassasah Alu al-Bait (as), t.t.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Na'ini, Muhammad Husain. Ajwad at-Taqrirat. Taqrirat Ayatullah Khoei. Qom, Toko Buku Musthafawi, 1368 HS.
  • Na'ini, Muhammad Husain. Fawa'id al-Ushul. Taqrirat Muhammad Ali Kazhimi Khurasani. Qom, Muassasah Nasyr Islami, 1376 HS.
  • Sa'idi, Farideh. Tasamuh dar Adilleh Sunan. Dalam Ensiklopedia Dunia Islam (Daneshnameh Jahan-e Eslam). Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1382 HS.
  • Sayid Mujahid Thaba'thaba'i, Sayid Muhammad bin Ali. Mafatih al-Ushul. Qom, Muassasah Alu al-Bait (as), t.t.
  • Shafi Gulpaygani, Ali. Al-Mahajjah fi Taqrirat al-Hujjah. Qom, Muassasah Sayidah Ma'shumah (sa), Cetakan Pertama, 1419 H.
  • Syaikh Hurr Amili, Muhammad bin Hasan. Al-Fushul al-Muhimmah fi Ushul al-Aimmah. Qom, Muassasah Ma'arif Islami Imam Ridha (as), 1418 H.
  • Syaikh Hurr Amili, Muhammad bin Hasan. Tafshil Wasa'il al-Syi'ah ila Tahshil Masa'il asy-Syari'ah. Qom, Muassasah Alu al-Bait (as), 1409 H.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Tsawab al-A'mal wa 'Iqab al-A'mal. Qom, Dar asy-Syarif ar-Radhi, 1406 H.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Masalik al-Afham ila Tanqih Syara'i' al-Islam. Qom, Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1413 H.
  • Tim Peneliti Pusat Informasi dan Dokumen Islam. Farhang-nameh Ushul Fiqh. Qom, Pusat Penelitian Ilmu dan Budaya Islam, 1389 HS.

|}