Konsep:Wilayah Badar
| Ciri khas | Wilayah yang berjarak 130 km di sebelah barat daya Madinah |
|---|---|
| Luas wilayah | Dataran dengan panjang 9 dan lebar 7 km (atau panjang 8 dan lebar 4 km) |
| Peristiwa penting | Perang Badar |
Wilayah Badar (bahasa Arab:منطقة البدر), adalah sebuah wilayah di Hijaz tempat terjadinya pertempuran penting pertama antara umat Islam dan kaum musyrik Makkah pada bulan Ramadhan tahun kedua Hijriah yang dikenal dengan perang Badar. Badar terletak di jalur penghubung antara jalan Madinah ke jalur kafilah Makkah–Syam. Karena keberadaan sumber air, tempat ini menjadi persinggahan kafilah dan lokasi pasar tahunan sebelum Islam. Pada awal masa Islam, kabilah bani Dhamrah dan Bani Ghifar tinggal di wilayah ini, dan Abu Dzar al-Ghifari berasal dari kabilah tersebut.
Terdapat perbedaan pendapat mengenai asal-usul nama Badar; sebagian menganggapnya sebagai nama seseorang yang memiliki sumur-sumur di sana, sementara yang lain menganggap Badar sebagai nama tempat sumur-sumur yang menyediakan air bagi Bani Ghifar. Kepentingan sejarah Badar terletak pada peristiwa perang Badar Kubra dan pemakaman para syuhadanya, yang menjadikan tanah ini sebagai tempat ziarah, meskipun dikatakan bahwa sebelumnya Nabi saw juga pernah mendatangi wilayah ini dalam perang Badar pertama.
Wilayah Badar secara bertahap berubah menjadi desa dan kemudian kota kecil. Saat ini, Badar merupakan sebuah kota kecil dengan populasi lebih dari 15.000 jiwa di barat daya Madinah. Setelah pembangunan Jalan Raya Hijrah, kota ini tidak lagi berada di jalur utama lintas kendaraan.
Posisi Geografis
Wilayah Badar merupakan pemukiman di jalur antara Madinah dan Makkah. Sumur-sumur airnya sangat masyhur dan karena memiliki sumber air serta tanaman yang hijau, tempat ini dianggap sebagai tempat peristirahatan bagi orang Arab. Badar juga merupakan semacam pasar musiman di mana orang Arab pergi ke sana untuk melakukan transaksi perdagangan.[1]
Wilayah ini terletak 130 km di sebelah barat daya Madinah, di sebuah dataran dengan panjang 9 kilometer dan lebar 7 kilometer (atau panjang 8 dan lebar 4 kilometer) di bagian bawah Wadi Shafra (sumber-sumber baru menganggapnya sebagai bagian dari Wadi Far'ah), dengan ketinggian 187 meter di atas permukaan laut. Kecuali bagian barat daya Badar yang tanahnya lunak dan telah berubah menjadi kebun kurma yang hijau, bagian lainnya merupakan padang pasir yang dikelilingi oleh bukit-bukit terjal dan gundukan pasir. Dua pintu masuk dataran ini (barat laut dan tenggara), berdasarkan kedekatan dan kejauhannya dari Madinah, dalam Al-Qur'an disebut sebagai "Al-Udwah al-Dunya" dan "Al-Udwah al-Qushwa".[2] Di antara kedua pintu tersebut, di bagian barat daya dataran, terdapat gunung tinggi bernama "Jabal Asfal" yang darinya laut dapat terlihat dengan jelas.
Badar terletak di titik pertemuan antara jalan Madinah ke jalan kafilah Makkah menuju Syam. Karena adanya sumber air, tempat ini menjadi tempat istirahat kafilah. Sebelum Islam, setiap tahun dari tanggal 1 hingga 8 Dzulkaidah, sebuah pasar didirikan di sana yang juga menyelenggarakan acara hiburan dan upacara pemujaan berhala.[3]
Pada awal masa Islam, kabilah bani Dhamrah tinggal di titik ini, dan bani Ghifar adalah salah satu klan dari kabilah tersebut.[4] Abu Dzar al-Ghifari yang bertugas membimbing bani Ghifar pada tahun-tahun awal Bi'tsah Nabi saw berasal dari klan ini.
Sebab Penamaan
Mengenai asal usul penamaan tempat ini terdapat perbedaan dalam berbagai sumber; menurut satu pendapat, Badar adalah nama orang yang dihubungkan dengan sumur-sumur di tempat tersebut. Silsilah dan kabilah orang ini dilaporkan dalam beberapa versi.[5] Pendapat lain menyatakan bahwa Badar bukan nama orang, melainkan sumur-sumur Badar adalah penyedia air bagi bani Ghifar tanpa menjadi milik individu tertentu.[6]
Pentingnya dan Kedudukan Sejarah Badar
Terjadinya perang Badar Kubra dan pemakaman para syuhada perang tersebut di dataran ini memberikan status khusus bagi Badar dan menjadikannya sebagai tempat ziarah.[7] Sebelum perang ini, Nabi saw dalam perang Badar pertama mengejar para pencuri dari Madinah hingga ke wilayah ini.[8] Dawati dalam kunjungannya ke tempat ini melihat sebuah ruang bawah tanah yang merupakan makam para syuhada perang pertama Nabi Muhammad saw. Seiring berjalannya waktu, Badar menjadi desa dan kemudian kota kecil yang populasinya pada tahun 1970 M dilaporkan antara 2.000 hingga 10.000 jiwa.[9]

Salah satu dari dua Masjid yang ada di desa ini bernama Ghamamah atau 'Arisy dan menjadi tempat pelaksanaan Salat Jumat. Masjid ini dibangun di tempat naungan ('Arisy) Nabi Muhammad saw selama perang Badar. Pada tahun 1939 M, ditemukan tiga prasasti di masjid ini; satu di samping mihrab, satu di atas mihrab dengan khat Tsuluts, dan yang ketiga di atas mimbar bertarikh 21 Rabiul Awal tahun 906 H.[10] Syarif Abdul Muthalib, gubernur Hijaz pada masa Kesultanan Utsmaniyah, membangun sebuah benteng di tempat ini yang sekarang telah runtuh.
Wilayah Badar dalam Beberapa Tahun Terakhir
Badar adalah sebuah kota kecil yang berjarak 153 km di barat daya Madinah dan 343 km di utara Makkah. Kota ini dihuni oleh berbagai kabilah dari Hijaz dan populasinya mencapai lebih dari 15.000 jiwa.[11] Sebelum Jalan Raya Hijrah dibangun, kota ini merupakan jalur utama dari Makkah ke Madinah dan sebaliknya; namun setelah jalan raya tersebut dibangun, kota ini tidak lagi menjadi jalur perlintasan utama bagi para musafir.[12]
Catatan Kaki
- ↑ Waqidi, al-Maghazi, 1966 M, jld. 1, hlm. 44.
- ↑ Bakri, Mu'jam, 1403 H, jld. 1, hlm. 231-232.
- ↑ Jawad Ali, al-Mufashshal, 1978 M, jld. 7, hlm. 371, 376-377.
- ↑ Bakri, Mu'jam, 1403 H, jld. 1, hlm. 231.
- ↑ Jawad Ali, al-Mufashshal, 1978 M, jld. 7, hlm. 323, 355, 376; Ibnu Hazm, Jamharah Ansab al-Arab, 1418 H, hlm. 11-12.
- ↑ Yaqut al-Hamawi, Mu'jam al-Buldan, 1965 M, jld. 1, hlm. 524; Bakri, Mu'jam, 1403 H, jld. 1, hlm. 231.
- ↑ Ibnu Batutah, Safarnameh-ye Ibnu Batutah, 1361 HS, jld. 1, hlm. 132.
- ↑ Ibnu Khayyath, Tarikh Khalifah, 1415 H, hlm. 20.
- ↑ Farhangg-e Joghrafiya-ye Arabestan, entri "Badar".
- ↑ Observasi Muhammad Hamidullah. Lihat Urdu Encyclopaedia of Islam, entri "Badar".
- ↑ Yamani, Badar al-Kubra, hlm. 25, 33-35, 39-45.
- ↑ Ja'fariyan, Atsar-e Eslami-ye Makkah wa Madinah, 1386 HS, hlm. 393.
Daftar Pustaka
- Bakri, Abdullah bin Abdul Aziz. Mu'jam ma Ista'jam min Asma' al-Bilad wa al-Mawadhi', riset: Mushthafa Saqqa. Beirut: Alam al-Kutub, 1403 H.
- Ibnu Batutah, Muhammad bin Abdullah. Safarnameh-ye Ibnu Batutah, terjemahan: Muhammad Ali Muwahid. Teheran: 1361 HS.
- Ibnu Hazm, Ali bin Ahmad. Jamharah Ansab al-Arab. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1408 H.
- Ibnu Khayyath, Khalifah. Tarikh Khalifah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
- Ja'fariyan, Rasul. Atsar-e Eslami-ye Makkah wa Madinah. Teheran: Masy'ar, 1386 HS.
- Jawad Ali. Al-Mufashal fi Tarikh al-Arab qabl al-Islam. Beirut: Dar al-Ilmi li al-Malayin, 1978 M.
- Urdu Dairah Ma'aref-e Eslamiye. Jld. 4. Lahore: 1389 H/1969 M. Entri "Badar" (oleh Muhammad Hamidullah).
- Waqidi, Muhammad bin Umar. Kitab al-Maghazi, riset: Marsden Jones. London, 1966 M.
- Yaqut al-Hamawi, Yaqut bin Abdullah. Mu'jam al-Buldan, riset: Ferdinand Wüstenfeld. Leipzig 1866-1873, cetakan Offset Teheran: 1965 M.