Lompat ke isi

Konsep:Pendudukan Palestina

Dari wikishia

Templat:Artikel terkait Templat:Garis waktu pendudukan Palestina Pendudukan Palestina adalah perebutan secara zalim wilayah-wilayah Palestina oleh Israel dan pengusiran rakyat Palestina yang secara resmi dimulai pada 24 Urdibehesht 1327 HS/14 Mei 1948 M. Latar belakang pendudukan ini kembali pada akhir abad kesembilan belas Masehi dan pembentukan gerakan Zionisme, mandat Inggris atas Palestina, dan rencana pembagian Palestina pada tahun 1947 M oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Masalah pendudukan Palestina, dianggap sebagai masalah Dunia Islam dan para ulama Syiah, senantiasa mendukung Palestina dan menekankan pembebasannya; beberapa memberikan fatwa jihad melawan Israel dan sekelompok ulama memfatwakan keharaman berhubungan dengan Israel dan kewajiban membebaskan Palestina serta Baitulmaqdis.

Pada hari pengumuman resmi pendudukan Palestina, orang-orang Yahudi menetap di wilayah-wilayah yang dialokasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam rencana pembagian untuk mereka (sekitar 55% dari Palestina) dan setelah itu menyusul berbagai perang mereka menambah wilayah pendudukan. Cakupan wilayah pendudukan pada perang 1948 M, mencapai 78%, dan pada perang enam hari 1967 M/1346 HS, bagian timur Baitulmaqdis, Jalur Gaza, Gurun Sinai, Tepi Barat, kota Qunaitirah dan Dataran Tinggi Golan di Suriah juga diduduki Israel. Berdasarkan laporan hingga tahun 1402 HS, kurang dari 15 persen dari wilayah Palestina yang mencakup Jalur Gaza dan bagian-bagian yang tersebar di wilayah Tepi Barat, tersisa di tangan rakyat Palestina. Selama periode ini, lebih dari enam juta warga Palestina juga mengungsi dan diusir dari tanah mereka.

Tujuan Zionis dari pendudukan Palestina, disebutkan untuk mendirikan sebuah negara Yahudi yang besar (Israel Raya) dan sebuah negara adidaya di Timur Tengah. Keyakinan sebagai bangsa unggul dan bangsa pilihan Yahudi oleh Allah dan pengkhususan tanah Palestina bagi orang-orang Yahudi (Tanah Pengharapan) disebutkan di antara motif-motif orang-orang Yahudi dalam menduduki Palestina dan mendirikan Israel. Sifat sukarela migrasi rakyat Palestina dari tanah mereka, slogan "Tanah tanpa rakyat untuk rakyat tanpa tanah" dan Holocaust juga termasuk pembenaran-pembenaran yang dipegang teguh oleh Zionis Yahudi untuk legitimasi pendudukan Palestina.

Pendudukan Palestina membawa berbagai dampak seperti pembunuhan dan pengungsian banyak rakyat Palestina, perlawanan rakyat Palestina, pembentukan Poros Perlawanan dan gerakan-gerakan seperti Hamas dan Jihad Islam serta pengkhususan Hari Al-Quds untuk mendukung Palestina dan protes-protes global.

Telah dikemukakan solusi-solusi untuk menyelesaikan masalah pendudukan Palestina seperti Perjanjian Camp David, Kesepakatan Oslo dan solusi dua negara yang semuanya dianggap gagal oleh Republik Islam Iran. Menurut pandangan Ayatullah Khamenei, Pemimpin Iran, solusi yang logis adalah referendum dari para pemilik hak di Palestina baik penduduk maupun pengungsi mengenai tanah dan pemerintahannya.

Kedudukan Palestina di Dunia Islam

Palestina dianggap sebagai belahan jiwa Islam,[1] jantung dunia Islam[2] dan masalah terpenting Dunia Islam[3] dan masalah pendudukannya dianggap sebagai masalah Dunia Islam.[4] Beberapa alasan prioritas masalah Palestina bagi umat Islam dinyatakan sebagai berikut:

  • Palestina sebagai sebuah negara Muslim, telah diduduki;
  • Pendudukan Palestina, merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah dan disertai dengan pembantaian dan kejahatan.
  • Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam dan banyak pusat-pusat keagamaan suci di negara ini, diancam dengan penghancuran dan penistaan;
  • Negara ini terletak di titik paling sensitif di Dunia Islam dan pendudukannya oleh Israel, dianggap sebagai ancaman bagi Dunia Islam.[5]

Sikap Ulama Syiah Terhadap Pendudukan Palestina

Marja taklid dan ulama Syiah dianggap berada di garis depan dalam mendukung Palestina dan pembebasannya terhadap pendudukan Israel.[6] Disebutkan bahwa para pemimpin spiritual Syiah selama pendudukan Palestina, secara aklamasi telah membela hak-hak rakyat Palestina, dan menekankan pembebasan Al-Quds serta Palestina.[7] Banyak marja dan ulama Syiah seperti Sayyid Abu al-Hasan al-Isfahani, Sayyid Muhsin al-Hakim, Sayyid Abu al-Qasim al-Khoei, Ayatullah Borujerdi, Sayyid Abdul Husain Syarafuddin dan Sayyid Abu al-Qasim Kasyani mendukung Palestina dan pembebasannya.[8]

Setelah rencana pembagian Palestina, ulama Syiah Irak bersama dengan ulama Ahlusunah dalam sebuah surat protes kepada Liga Bangsa-Bangsa, menganggap rencana ini sebagai pukulan bagi jantung Islam dan Arab.[9] Pada bulan Khordad 1317 HS/1938 M, ulama Syiah di bawah pimpinan Muhammad Husain Kasyif al-Ghitha' (wafat: 1333 HS) di Najaf mengeluarkan fatwa jihad dan menganggap jihad di Palestina wajib bagi setiap muslim.[10] Selain itu setelah pembentukan negara Israel dan perang Arab-Israel pada 1948 M/1327 HS, ulama Syiah seperti Abdul Karim Zanjani (wafat: 1347 HS) mengeluarkan fatwa jihad melawan Israel.[11]

Sejumlah marja taklid seperti Sayyid Muhammad Hadi Milani (wafat: 1354 HS),[12] Imam Khomeini (wafat: 1368 HS)[13] dan Muhammad Fadhil Lankarani (wafat: 1386 HS)[14] menganggap setiap jenis transaksi dan hubungan dengan Israel sebagai haram dan sebagian lagi menganggap pembebasan Palestina dan Al-Quds sebagai wajib.[15] Menurut Imam Khomeini, adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk mengerahkan seluruh kemampuannya guna membebaskan wilayah Palestina yang diduduki.[16] Murthadha Muthahhari (wafat: 1358 HS) dalam sebuah pidatonya pada hari Asyura tahun 1348 HS mengatakan bahwa masalah dan slogan hari ini haruslah Palestina dan bantuan keuangan untuk membebaskan Palestina dari pendudukan adalah wajib.[17] Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Republik Islam Iran juga menganggap pelestarian identitas Palestina dan semua simbol-simbolnya dalam menghadapi pendudukan rezim Zionis sebagai suatu kewajiban dan jihad suci, dan meyakini bahwa negara-negara Islam dan Arab serta aliran-aliran Islam dan nasional memiliki tugas untuk berbakti kepada cita-cita Palestina (pembebasan dari pendudukan Israel).[18]

Israel karena menduduki Al-Quds dan Palestina, dikenal sebagai rezim pendudukan Al-Quds atau rezim perebut Israel.[19]

Nama-nama ulama Syiah yang memberikan fatwa jihad di Palestina.

Latar Belakang Pendudukan

Puncak anti-Semitisme pada abad kesembilan belas Masehi di Eropa menyebabkan pembentukan gerakan Zionisme dan dengan mandat Inggris atas PalestinaTemplat:Note dan Deklarasi Balfour, gelombang migrasi orang-orang Yahudi ke Palestina dimulai dan dengan meluasnya gelombang migrasi, rezim Zionis Israel pada 14 Mei 1948 M/24 Urdibehesht 1327 HS menduduki Palestina dan mendeklarasikan keberadaannya.[20]

Gerakan Zionisme dan Keluarga Rothschild

Gerakan Zionisme dan keluarga kapitalis Rothschild yang merupakan di antara orang-orang Yahudi terpenting yang menerima Zionisme, dianggap memiliki peran yang signifikan dalam pendudukan Palestina dan pendirian Israel.[21] Tujuan penting Zionisme, disebutkan mengumpulkan orang-orang Yahudi sedunia di suatu wilayah (Palestina) untuk membentuk pemerintahan Yahudi dan mendirikan negara Yahudi yang besar.[22] Theodor Herzl[23] pendiri Zionisme,[24] bertemu beberapa kali dengan khalifah Kesultanan Utsmaniyah saat itu, untuk mendapatkan persetujuannya guna mengalokasikan Palestina bagi orang-orang Yahudi; namun Kesultanan Utsmaniyah tidak setuju.[25] Herzl untuk menyediakan biaya yang dibutuhkan, meminta bantuan dari keluarga kaya Rothschild. Keluarga Rothschild pun ketika menyadari bahwa pendirian negara Zionis menguntungkan mereka, mereka mendukungnya.[26] Menurut keyakinan Abdul Wahhab Al-Massiri dalam "Ensiklopedia Yahudi, Yudaisme dan Zionisme", jika bukan karena bantuan keuangan dari keluarga Rothschild dan orang-orang kaya Yahudi lainnya, tidak ada satupun gerakan dan aksi yang akan terbentuk di Palestina.[27]

Templat:Kotak kutipan

Peran Inggris dalam Pendudukan Palestina

Pada bulan Mei 1916 M, Inggris, Rusia dan Prancis mencapai kesepakatan (Perjanjian Sykes-Picot)[28] bahwa setelah keruntuhan Kesultanan Utsmaniyah, Palestina akan dikelola di bawah kendali Inggris.[29] Perjanjian ini dianggap sebagai dasar pembentukan rezim Zionis pada 1948 M.[30] Pada 2 November 1917 M/11 Aban 1296 HS dalam Deklarasi Balfour, persetujuan Inggris terhadap pendirian tanah air nasional Yahudi di Palestina diumumkan[31] dan Inggris berjanji akan mengerahkan segala upayanya untuk mewujudkan tanah air Yahudi.[32]

Setelah jatuhnya Kesultanan Utsmaniyah di akhir Perang Dunia Pertama (1918 M), Inggris pada bulan September 1918 M, menduduki Palestina[33] dan menugaskan orang-orang Yahudi Zionis untuk mengelola Palestina.[34] Menurut Tariq Suwaidan, sejarawan dan penulis asal Kuwait, Inggris selama masa kolonialisme Palestina (1918-1948 M), memuluskan migrasi orang-orang Yahudi ke Palestina dan mendukung pembelian tanah oleh orang-orang Yahudi. Berkat dukungan inilah, orang-orang Yahudi mampu mendirikan berbagai lembaga ekonomi, politik, pendidikan, dan militer.[35] Dua organisasi militer Zionis, Haganah dan Irgun dibentuk pada periode ini yang tujuannya adalah bentrokan bersenjata dengan orang-orang Arab.[36] Penciptaan tanah air Yahudi di Palestina dianggap sebagai faktor untuk menjaga kepentingan Inggris di kawasan tersebut.[37]

Rencana Pembagian Palestina

Peta pembagian Palestina yang disetujui PBB: Warna kuning: Negara Arab dan warna oranye: Negara Yahudi. Warna putih: Baitulmaqdis.

Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 29 November 1947 M/8 Azar 1326 HS, menyetujui Resolusi 181 mengenai rencana pembagian Palestina dengan upaya dan tekanan dari pihak Zionis serta Amerika Serikat.[38] Berdasarkan rencana ini, Palestina akan dibagi menjadi dua negara Yahudi dan Arab dan pengelolaan Baitulmaqdis diserahkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa.[39] Menurut rencana ini, negara Yahudi dibentuk dengan sekitar 54%[40] atau 55%[41] atau 56,4%[42] dari tanah Palestina dan negara Arab dengan 42,8%[43] atau 45%[44] dari tanah Palestina. Dikatakan pada tahun 1946 M, orang-orang Yahudi memiliki 5,6% dan orang-orang Arab memiliki 77,4% dari tanah Palestina; namun menurut rencana ini, orang-orang Yahudi diberikan sepuluh kali lipat tanah dari yang mereka miliki.[45] Rencana ini dianggap sebagai awal sesungguhnya dari negara Israel[46] dan pemicu perang 1948 M.[47] Rakyat Palestina dan negara-negara Arab menganggap rencana ini tidak sah dan melanggar Piagam PBB tentang hak suara rakyat mengenai nasib tanah air mereka sendiri.[48]

Upaya-upaya Zionis untuk Menduduki Palestina Sebelum 1948 M

Pada tahun 1881[49] atau 1882 M[50] migrasi pertama orang-orang Yahudi (yang berasal dari Rusia) ke Palestina terjadi. Pada saat ini Palestina berada di bawah pemerintahan Kesultanan Utsmaniyah.[51] Mengalirnya orang-orang Yahudi ke Palestina dari 1905 hingga 1907 M disebut sebagai gelombang migrasi kedua.[52] Setelah Deklarasi Balfour, sebagian tanah Palestina juga diduduki oleh pasukan militer Yahudi[53] dan dalam rentang tahun 1919 hingga 1922 M, terlepas dari perlawanan luas kaum Muslim Arab terhadap migrasi Yahudi, 35 ribu orang Yahudi bermigrasi ke Palestina.[54]

Herbert Samuel seorang Yahudi pada tahun 1920 M, diangkat oleh Inggris sebagai kepala pemerintahan mandat Palestina dan mengatur kondisi dan situasi politik, administratif, serta ekonomi sedemikian rupa untuk membuka jalan bagi penciptaan tanah air nasional Yahudi. Di antaranya: orang-orang Yahudi ekstremis diangkat pada posisi-posisi penting, bahasa Ibrani diresmikan di samping bahasa Arab dan Inggris, sebagian besar tanah negara diserahkan kepada orang-orang Yahudi dan tanah petani Arab disita dengan dalih memiliki utang.[55] Rencana Zionis dan pemerintah mandat Palestina untuk menduduki Palestina dan me-Yahudi-kannya dianggap memiliki tiga pilar:

  1. Pembelian Tanah: Pembelian tanah bagi orang-orang Yahudi dipermudah dan banyak lahan dibeli dari pemilik aslinya. Pemerintah mandat, untuk melemahkan para petani Arab, mencegah ekspor produk-produk mereka seperti zaitun agar mereka tidak mampu membayar biaya dan pajak sehingga terpaksa menjual tanah mereka.
  2. Migrasi: Migrasi orang-orang Yahudi ke Palestina difasilitasi dan mereka didorong untuk bermigrasi. Dari tahun 1918 hingga 1928 M, lebih dari seratus ribu orang Yahudi dari seluruh dunia bermigrasi ke Palestina.
  3. Bantuan Ekonomi: Melalui berbagai cara, kemampuan ekonomi orang Arab dilemahkan dan ekonomi Yahudi diperkuat. Termasuk penerapan bea cukai dan pajak yang berat untuk produk orang-orang Arab serta pembebasan orang-orang Yahudi darinya, dan penyerahan konsesi ekstraksi mineral dari Laut Mati (Bahr al-Mayyit).[56]

Selama tahun-tahun 1932 hingga 1935 M, 145 ribu orang Yahudi bermigrasi ke Palestina secara resmi dan di bawah perlindungan Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, serta puluhan ribu orang secara ilegal.[57] Dinyatakan bahwa pada tahun 1938 M, 30 persen dari populasi Palestina terdiri dari orang-orang Yahudi.[58]

Sebelum tahun 1948 M, rakyat Palestina telah berkali-kali bentrok dan berontak melawan tindakan Zionis dan ide pendudukan Palestina, seperti pemberontakan tahun 1920 M, pemberontakan Jaffa pada 1921 M, pemberontakan Buraq pada 1929 M dan pemberontakan Syaikh Izzuddin al-Qassam.[59]

Pengumuman Resmi Pendudukan Palestina pada 1948 M dan Dampaknya

! Artikel terkait untuk kategori ini adalah Israel.

Berakhirnya mandat Inggris atas Palestina pada 14 Mei[60] atau 15 Mei[61] 1948 M, penguasa Inggris, menggantikan posisinya dengan rezim Zionis dan para imigran Yahudi menetap di tanah-tanah yang dialokasikan PBB untuk mereka.[62] David Ben-Gurion[63] pada 14 Mei 1948 M/ 24 Urdibehesht 1327 HS[64] di aula pertemuan kota Tel Aviv,[65] mengumumkan kemerdekaan dan pendirian negara Yahudi Israel. Sejak saat itu pendudukan resmi atas Palestina dimulai.[66]

Sehari setelah pengumuman resmi pendudukan, tentara dari lima negara Arab (Mesir, Lebanon, Suriah, Yordania dan Irak)[67] memasuki wilayah Palestina untuk membela Palestina, dan terlibat perang dengan Israel yang berlanjut hingga Januari 1949 M.[68] Menyusul perang ini, 78% wilayah Palestina jatuh ke dalam pendudukan Israel.[69] Beberapa orang menyatakan tanah yang diduduki seluas 6 ribu kilometer.[70] Setelah itu, hanya Jalur Gaza, Tepi Barat Sungai Yordan dan Baitulmaqdis Timur yang tetap berada di tangan orang-orang Arab Palestina.[71] Tentara Israel dari 1947 hingga 1949 M, menghancurkan 530 kota dan desa di Palestina, membantai sejumlah besar warga Palestina dan banyak yang menjadi pengungsi.[72]

Pada perang 1948 M, Baitulmaqdis dibagi menjadi dua bagian barat dan timur dan bagian barat diduduki Israel. Setahun kemudian, Israel mendeklarasikannya sebagai ibu kotanya.[73] Menurut beberapa pihak, kota Al-Quds setelah gencatan senjata 1949 M, dibagi menjadi tiga zona: Zona Arab (11,4 persen), zona pendudukan di bawah pemerintahan Israel (84,3 persen), dan zona di bawah yurisdiksi PBB (4,3 persen).[74]

Berdasarkan statistik Agensi Yahudi, hingga tahun 1947 M, orang-orang Yahudi hanya menguasai 6,8 persen dari wilayah Palestina.[75] Populasi orang-orang Yahudi juga meningkat dari 8% pada tahun 1918 M menjadi 33% pada tahun 1948 M.[76] Hari pengumuman keberadaan Israel dikenal di kalangan warga Palestina sebagai Hari Nakba atau Bencana dan mereka mengutuk hari ini dan mengadakan demonstrasi setiap tahun.[77]

Kelanjutan Pendudukan Pasca 1948 M

Templat:Lihat Juga Israel setelah Hari Nakba dan perang 1948 M terus menduduki Palestina lebih lanjut. Menurut Noam Chomsky, teoretikus dan kritikus sosial Amerika, Israel setelah gencatan senjata 1949 M, berkali-kali menyerang warga sipil Arab Palestina dan mengusir mereka dari tanah mereka.[78] Israel dengan tujuan mengusir orang-orang Arab Palestina dari desa-desa dan menduduki lebih banyak wilayah, melakukan berbagai pembunuhan dan pembantaian termasuk pembantaian penduduk desa Deir Yassin, Qibya dan Nasiruddin.[79]

Proses pendudukan Palestina oleh Israel dari 1917 M hingga 2020 M

Dalam perang 1956 M/1335 HS Israel dengan Mesir, Jalur Gaza, Gurun Sinai dan Terusan Suez diduduki; meskipun Jalur Gaza dan Gurun Sinai dikembalikan ke Mesir pada Maret 1957 M.[80] Pada 1967 M/1346 HS, menyusul Perang Enam Hari Israel dengan empat negara Arab yaitu Mesir, Suriah, Yordania dan Irak yang berujung pada kekalahan pihak Arab, berbagai wilayah seperti bagian timur Baitulmaqdis, Jalur Gaza, Gurun Sinai, Tepi Barat Sungai Yordan, kota Qunaitirah dan Dataran Tinggi Golan di Suriah jatuh ke dalam pendudukan rezim Zionis.[81] Dilaporkan Israel setelah tahun 1967 M, merebut 55% tanah Tepi Barat dan 44% Jalur Gaza[82] dan wilayah pendudukan Israel meningkat tiga kali lipat.[83]

Israel pada bulan Agustus 2005 M, menarik diri dari Jalur Gaza dan mengembalikannya kepada warga Palestina.[84]

Peta Palestina dan wilayah pendudukan setelah Perang Enam Hari 1967 M. Warna hijau: wilayah yang diduduki setelah perang.

Hasil Kesepakatan Oslo pada tahun 1993 M/1372 HS juga dianggap sebagai Yahudisasi Baitulmaqdis, penyitaan lebih banyak tanah Palestina dan perluasan permukiman Israel.[85]

Berdasarkan laporan, hingga tahun 2023 M/1402 HS, kurang dari 15 persen wilayah Palestina tetap berada di tangan warga Palestina dan wilayah lainnya telah diduduki oleh rezim Zionis.[86] Wilayah yang berada di tangan warga Palestina mencakup Jalur Gaza dan bagian-bagian yang tersebar dari wilayah Tepi Barat.[87] Oleh karena itu, yang dimaksud dengan apa yang saat ini dikenal di forum-forum internasional dengan nama Palestina, dianggap sebagai Tepi Barat dan Jalur Gaza.[88]

Pembangunan Permukiman

Pembangunan permukiman oleh orang-orang Israel di wilayah pendudukan Palestina dianggap sebagai salah satu pilar[89] dan kebijakan utama[90] rezim ini. Tujuan dari kebijakan pembangunan permukiman ini disebutkan untuk memperluas wilayah yang diduduki, mencegah pembentukan negara Palestina di masa depan, menghancurkan kesatuan wilayah warga Palestina, dan menyita sumber daya air warga Palestina[91] dan secara ringkas untuk me-Yahudi-kan Palestina.[92] Pendirian permukiman pertama kali berawal pada tahun 1870 M;[93] namun pembangunan permukiman utama (dimulai) setelah deklarasi keberadaan Israel dan tahap utamanya dimulai dengan pendudukan Al-Quds Timur pada bulan Juni 1967 M.[94] Berdasarkan laporan Kantor Berita Anadolu Turki, pada 1967 M di Tepi Barat dan Al-Quds Timur, tidak ada satupun orang Yahudi yang menetap di sana; namun dengan kebijakan pembangunan permukiman, pada tahun 1402 HS di Al-Quds Timur terdapat 230 ribu dan di Tepi Barat terdapat 690 ribu orang Yahudi yang menetap.[95]

Pembangunan permukiman Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat pada tahun 1402 HS.

Kebijakan pembangunan permukiman Israel di Al-Quds menyebabkan kepemilikan 100 persen warga Palestina atas Al-Quds pada tahun 1967 M menurun menjadi 21 persen pada tahun 1995 M.[96] Jumlah pemukim di Tepi Barat dari 1995 M hingga 2015 M telah meningkat tiga kali lipat.[97] Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Sekretaris Jenderalnya menyatakan bahwa pembangunan permukiman Israel di wilayah pendudukan Palestina adalah ilegal dan merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional serta menuntut penghentiannya.[98]

Pada tahun 2002 M, Israel mulai membangun tembok pemisah untuk memisahkan wilayah yang didiami warga Palestina dari permukiman Yahudi[99] dan hingga 2021 M/1400 HS telah membangun enam lapis tembok di sekelilingnya yang meliputi: tembok perbatasan dengan Tepi Barat, Mesir, Yordania, Suriah, Lebanon dan Gaza.[100] Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa[101] dan Mahkamah Internasional Den Haag[102] menganggap pembangunan tembok tersebut ilegal.

Tujuan dan Motif Pendudukan Palestina

Pendirian negara besar (Israel Raya) dengan identitas Yahudi dan negara adidaya regional yang dominan di Timur Tengah disebutkan sebagai tujuan pertama dan terpenting rezim Israel.[103] Menurut Tariq Suwaidan, pembentukan negara Yahudi di Palestina, di satu sisi mengosongkan populasi Yahudi dari Eropa dan di sisi lain, menyediakan pembentukan pangkalan militer di kawasan serta jalan bagi kekuatan Barat seperti Inggris dan Amerika Serikat untuk menembus ke wilayah-wilayah Arab.[104] Templat:Kotak kutipan Pendudukan Palestina dan pendirian Israel dibentuk dengan motif keagamaan dan politik, yang mana beberapa di antaranya adalah:

  • Bangsa Terpilih: Zionis menganggap menjadi bangsa terpilih sebagai sebuah prinsip fundamental dan doktrin resmi.[105] Roger Garaudy, penulis dan politikus Prancis, mengutip dari Rabbi Cohen bahwa penduduk dunia harus dibagi menjadi dua kategori: Israel dan bangsa-bangsa lain. Israel adalah bangsa terpilih. Oleh karena itu, non-Yahudi harus diusir dari Tanah Pengharapan (Tanah yang Dijanjikan) milik bangsa terpilih.[106] Israel Shahak, Ketua Liga Hak Asasi Manusia dan Warga Negara Israel, juga menulis bahwa dari sudut pandang orang Israel, segala sesuatunya diklasifikasikan menjadi Yahudi dan non-Yahudi dan di negara Yahudi hanya orang-orang Yahudi yang dianggap sebagai manusia, sementara non-Yahudi dianggap sebagai hewan. Berdasarkan prinsip ini, ia menganggap non-Yahudi sebagai alat untuk memproduksi sumber daya bagi orang Yahudi.[107]
  • Tanah Pengharapan: Karena orang-orang Yahudi mengenal Palestina dengan nama Tanah Pengharapan, Palestina dipilih untuk memprovokasi dan mendorong mereka agar bermigrasi.[108] Dari pandangan Zionis, wilayah yang dijanjikan kepada kelompok tertentu, mengusir pihak lain dari sana bukan hanya merupakan hak, tetapi juga tugas.[109] Menurut pandangan Tariq Suwaidan, bagi Herzl yang tidak beragama (pendiri Zionisme), Palestina tidak memiliki kepentingan; namun, ketika dia melihat bahwa orang-orang Yahudi tidak bersedia bermigrasi ke tempat lain selain Tanah Pengharapan, dia beralih ke alat agama dan melalui mitos kepulangan (kembali), ia mendorong mereka untuk bermigrasi ke Palestina. Berdasarkan mitos pengasingan dan kepulangan orang-orang Yahudi, Palestina adalah tanah suci yang telah Tuhan berikan selamanya kepada bangsa pilihan-Nya (orang-orang Yahudi). Mereka memerintah seluruh dunia dari tanah tersebut pada masa Daud (as) dan Sulaiman (as); namun kemudian mereka diusir dari tanah tersebut. Segera Masiyah (Mesias yang Dijanjikan) akan kembali dan mengembalikan orang-orang Yahudi ke tanah mereka, dan pemerintahan global mereka akan terbentuk kembali. Herzl menyatakan bahwa orang-orang Yahudi harus berusaha kembali ke tanah suci agar Mesias dapat kembali. Karena itu, ia menjadikan upaya untuk kembali ke tanah suci sebagai slogan Zionisme.[110]

Pembenaran Zionis dalam Menduduki Palestina

Terdapat beberapa pembenaran yang disebutkan Zionis untuk menduduki Palestina dan mendirikan negara Israel, yang mana beberapa di antaranya adalah:

  • Holocaust dianggap sebagai pembenaran dan alasan utama di balik pendirian negara Israel.[111] Holocaust mengacu pada klaim kaum Yahudi bahwa enam juta orang Yahudi dibunuh pada Perang Dunia Kedua oleh Hitler.[112] Kejadian ini menyebabkan Zionis dengan menyuarakan ketertindasan, menuntut ganti rugi dari komunitas internasional. Orang-orang Eropa pun dengan dalih mengganti kerugian ini, memikirkan untuk mendirikan negara yang merdeka bagi mereka.[113] Dikatakan bahwa tidak ada bukti dan dokumen yang dapat membuktikan terjadinya Holocaust; menurut statistik Pemerintah Jerman pada tahun 1939 M, 600 ribu orang Yahudi berdomisili di Jerman, di mana 400 ribu orang dari mereka bermigrasi.[114]
  • Salah satu pembenarannya adalah bahwa orang-orang Palestina bermigrasi secara sukarela dan dengan kemauan mereka sendiri;[115] tetapi Roger Garaudy mengutip dari sejarawan bahwa tentara Israel memiliki perintah untuk mengusir penduduk asli desa-desa dengan todongan senjata dan dengan metode seperti pembantaian penduduk desa Deir Yassin. Oleh karena itu, Ben-Gurion mendapat julukan sebagai "Pengusir Agung" pada masa jabatannya sebagai perdana menteri.[116]
  • Pembenaran lainnya adalah slogan "Tanah tanpa rakyat (bangsa) untuk rakyat (bangsa) tanpa tanah", di mana berdasarkan hal ini mereka menganggap Palestina tidak memiliki bangsa dan tidak berpenghuni.[117] Berdasarkan laporan Roger Garaudy, demi membuktikan slogan ini, ratusan desa dihancurkan dan dibajak dan secara keseluruhan dihapus dari peta serta ratusan ribu warga Palestina juga diusir.[118] Slogan ini, merupakan kebohongan nyata dan mitos tak berdasar[119] serta dianggap menunjukkan pendekatan Zionis yang bersifat rasis dan tidak manusiawi.[120]

Dampak Pendudukan Palestina

Pendudukan Palestina membawa berbagai dampak di Palestina dan Dunia Islam seperti terbentuknya Poros Perlawanan dan intifada serta demonstrasi dan protes global.

Pembunuhan dan Pengungsian Rakyat Palestina

Menyusul pendudukan Palestina pada 1948 M dan upaya Zionis untuk mencapai tujuan mereka, sejumlah besar rakyat Palestina tewas dan banyak dari mereka menjadi pengungsi serta mencari suaka di negara-negara tetangga.

Korban Tewas

! Artikel terkait untuk kategori ini adalah Daftar Pembantaian oleh Israel.

Israel selama pendudukannya di Palestina berkali-kali menyerang warga Palestina dan melancarkan berbagai pembantaian termasuk pembantaian warga Deir Yassin, Khan Yunis, Kafr Qasim dan pembantaian warga Gaza.[121] Berdasarkan statistik, selama Perang 1948 M (Perang Nakba), 15 ribu warga Palestina[122] terbunuh. Demikian pula serangan Israel ke Jalur Gaza yang dimulai menyusul peristiwa Badai Al-Aqsha pada 15 Mehr 1402 HS/ 7 Oktober 2023 M, telah menelan korban lebih dari 18 ribu jiwa yang tewas.[123]

Berdasarkan laporan Pusat Informasi Palestina, dari tahun 1948 M hingga 2023 M/1402 HS, lebih dari 100 ribu warga Palestina tewas dibunuh.[124]

Pengungsi

Statistik pengungsi Palestina pasca perang 1948 M, adalah 500 ribu,[125] 750 ribu[126] dan 900 ribu orang[127] dan pada perang 1967 M, lebih dari 400 ribu orang[128] telah diumumkan. Beberapa menyebutkan bahwa pengungsi pada perang 1967 M mencapai satu juta orang.[129] Selain itu, dalam serangan Israel ke Lebanon pada 1978 M, 65 ribu warga Palestina yang mencari suaka di wilayah selatan Lebanon menjadi pengungsi.[130] Pada serangan Israel ke Lebanon pada tahun 1982 M (Operasi Peace for Galilee) yang berujung pada berakhirnya kehadiran angkatan bersenjata Organisasi Pembebasan Palestina di Lebanon, 15 ribu orang menjadi pengungsi.[131]

Berdasarkan laporan Kantor Berita Anadolu Turki yang bersumber dari Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA), menyusul agresi Israel ke Jalur Gaza pada tahun 2023 M/1402 HS sekitar 1,9 juta warga Palestina (85% populasi Jalur Gaza) menjadi pengungsi.[132]

Pusat Informasi Palestina yang mengutip lembaga UNRWA, mengumumkan jumlah pengungsi Palestina hingga tahun 2020 M mencapai 6,4 juta jiwa yang menetap di berbagai kamp pengungsian di Yordania, Suriah, Lebanon, Tepi Barat, dan Jalur Gaza; akan tetapi, Pusat Informasi Palestina meyakini statistik sesungguhnya para pengungsi lebih dari jumlah ini; sebab banyak nama para pengungsi tidak tercatat di daftar UNRWA.[133]

Perlawanan dan Intifadah Rakyat Palestina

Sejak masa pendudukan Palestina khususnya pendudukan Al-Quds pada 1967 M, warga Palestina berkali-kali melakukan perlawanan dan perjuangan terhadap Israel seperti Kebangkitan Al-Quds dan Perlawanan Hari Tanah (Day of the Land) pada 1976 M serta Kebangkitan Terowongan (Tunnel Uprising) pada 1996 M.[134] Seiring dengan keberlanjutan protes dan perjuangan warga Palestina, tiga Intifadah di Palestina pun muncul. Intifadah Pertama (Intifadah Batu) dimulai pada tahun 1987 M dan berakhir seiring Perjanjian Oslo pada 1993 M. Intifadah Kedua (Intifadah Al-Aqsha) bermula sejak September 2000 M dan berakhir pada 2005 M sejalan dengan keluarnya Israel dari permukiman di Jalur Gaza. Sedangkan Intifadah Ketiga (Intifadah Al-Quds) dimulai pada tanggal 1 Oktober 2015 M yang mana ini masih berlanjut.[135]

Terbentuknya Poros Perlawanan

! Artikel terkait untuk kategori ini adalah Gerakan Jihad Islam Palestina.

Setelah didudukinya wilayah-wilayah Palestina, berbagai gerakan dan organisasi seperti Gerakan Fatah (Gerakan Pembebasan Nasional Palestina) pada tahun 1959 M,[136] Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pada tahun 1964 M,[137] Gerakan Jihad Islam pada 1979 M/1358 HS,[138] dan Gerakan Hamas (Gerakan Perlawanan Islam) pada tahun 1987 M/1366 HS,[139] dibentuk oleh kelompok-kelompok Palestina yang berbeda dengan tujuan membebaskan tanah Palestina dari pendudukan Israel.

Demonstrasi rakyat Yaman pada Hari Al-Quds

Hari Al-Quds dan Protes di Seluruh Dunia

! Artikel terkait untuk kategori ini adalah Hari Al-Quds Sedunia.

Imam Khomeini pada 16 Mordad 1358 HS sebagai bentuk dukungan kepada warga Palestina atas penjajahan Israel, menamai Jumat terakhir di bulan Ramadan sebagai Hari Al-Quds dan meminta seluruh umat Islam di dunia beserta negara-negara muslim untuk bersatu demi memutus tangan Israel dan para pendukungnya.[140] Di banyak negara dunia, baik dari kaum muslim maupun non-muslim pada setiap tahunnya menggelar demonstrasi di hari ini guna mendukung Palestina dan memprotes penjajahannya oleh Israel.[141]

Pascadidudukinya Palestina, banyak konferensi di seluruh dunia diselenggarakan untuk mendukung Palestina dan mengutuk penjajahan tersebut; di antaranya Konferensi Internasional Dukungan bagi Intifadah Palestina yang telah diadakan selama enam periode di Iran,[142] Konferensi Nida Al-Aqsha di Karbala[143] serta Konferensi Dukungan Atas Masalah Palestina di Islamabad Pakistan.[144]

Penerbitan Resolusi Internasional dalam Mengutuk Israel

Dikatakan bahwa Dewan Keamanan PBB dari tahun 1948 M hingga 2016 M, telah meloloskan lebih dari 102 resolusi, dan Dewan Hak Asasi Manusia PBB dari tahun 2006 hingga 2023 M, mengesahkan 104 resolusi yang mengutuk Israel.[145] Beberapa dari resolusi tersebut antara lain:

  • Resolusi Dewan Keamanan PBB 242: Dalam resolusi yang dikeluarkan pada tanggal 22 November 1967 M ini, Dewan Keamanan menuntut penarikan pasukan rezim Zionis dari wilayah Palestina yang diduduki pada tahun 1967 M.[146]
  • Resolusi 3236 pada 22 November 1974 M: Resolusi ini mengesahkan hak menentukan nasib sendiri dan kedaulatan di Palestina bagi rakyat Palestina serta hak kembalinya para pengungsi ke tanah mereka; namun Israel melanggarnya.[147]
  • Resolusi Dewan Keamanan PBB 2334 pada 23 Desember 2016 M: Resolusi ini dikeluarkan untuk mengutuk pembangunan permukiman Israel di wilayah pendudukan dan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.[148]

Mahkamah Internasional di Den Haag, badan peradilan tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada 29 Tir 1403 HS/19 Juli 2024 M, menyatakan pendudukan tanah Palestina oleh Israel bertentangan dengan hukum internasional dan meminta Israel menghentikan pembangunan permukimannya serta mengakhiri pendudukan ilegalnya di Palestina.[149]

Templat:Kotak kutipan

Solusi Masalah Pendudukan Palestina

Pasca pendudukan Palestina, telah dilakukan berbagai upaya oleh Israel serta sejumlah institusi Palestina dan beberapa organisasi dan negara untuk perdamaian antara Israel dan Palestina. Sebagian perundingan serta perjanjian yang terjadi di antara Israel dan kelompok-kelompok Palestina di antaranya: Perjanjian Camp David pada 1978 M antara Israel dan Mesir, perundingan 1991 M di Konferensi Perdamaian Madrid, Perjanjian Oslo 1 pada 1993 M dan Oslo 2 pada 1995 M antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Perjanjian Maryland (Wye River) pada 1998 M antara Israel dan Otoritas Nasional Palestina,[150] Perjanjian Camp David 2 pada 2000 M antara Otoritas Nasional Palestina dan Israel, Inisiatif Perdamaian Arab Saudi dan Rencana Peta Jalan pada 2002 M (Rencana Solusi Dua Negara) dan Annapolis pada 2007 M[151] dan Kesepakatan Abad Ini (Rencana Trump, Presiden Amerika) pada bulan Januari 2020 M.[152]

Dikatakan bahwa pada Konferensi Madrid 1991 M, Amerika Serikat dan Israel berjanji untuk mengembalikan 100% dari Tepi Barat dan Jalur Gaza kepada Yasser Arafat dan para pemimpin PLO. Pada Konferensi Oslo, turun menjadi 90%, di Perjanjian Wye River, menjadi 40%, di KTT Sharm el-Sheikh menjadi 18% dan di KTT Camp David pada 2000 M berkurang menjadi 13,5%.[153]

Menurut pandangan Ayatullah Khamenei, Pemimpin Republik Islam Iran, solusi yang logis dalam masalah Palestina, yaitu referendum dan meminta pendapat dari seluruh pemilik hak di tanah Palestina baik Muslim, Kristen dan Yahudi maupun para pengungsi Palestina tentang struktur sistem negara, rezim yang berkuasa dan para imigran Yahudi.[154] Beliau menyebut seluruh jalan yang diusulkan oleh pihak Barat dalam memecahkan isu Palestina tidak mendulang kesuksesan[155] serta menyebutkan alasannya karena Israel sang perampas tidak mematuhi nilai-nilai kemanusiaan, undang-undang, serta resolusi internasional.[156] Menurut beliau, semua rencana yang dapat menyebabkan pembagian wilayah Palestina, maka itu tidak dibenarkan dan ditolak termasuk Rencana Solusi Dua Negara.[157]

Galeri

Catatan Kaki

  1. Lihat: Khamenei, Filistin, 1397 HS, hlm. 47.
  2. Khamenei, Filistin, 1397 HS, hlm. 41; Tawana, "Palestina Jantung Umat Islam yang Terluka", Kantor Berita Saday-e Afghan.
  3. Khamenei, Filistin, 1397 HS, hlm. 37 dan 43; "Mengapa Palestina Adalah Masalah Utama Dunia Islam?", Kantor Berita Mizan; "Palestina dan Pembebasan Al-Quds Adalah Prioritas Utama Dunia Islam", Kantor Berita Tasnim.
  4. "Palestina dari Pandangan Imam Khomeini", Portal Imam Khomeini; Khamenei, Filistin, 1397 HS, hlm. 37-43.
  5. Khamenei, Filistin, 1397 HS, hlm. 40-42 dan 51-53.
  6. Baghcheqi, "Marja Taklid Syiah di Garis Depan Pembelaan Palestina", Portal Resmi Pusat Penelitian Baqir al-Ulum (as).
  7. Paknia Tabrizi, "Ulama-ye Syiah wa Difa' az Quds-e Syarif", hlm. 163.
  8. Lihat: Paknia Tabrizi, "Ulama-ye Syiah wa Difa' az Quds-e Syarif", hlm. 165-175; Baghcheqi, "Marja Taklid Syiah di Garis Depan Pembelaan Palestina", Portal Resmi Pusat Penelitian Baqir al-Ulum (as).; Razavi, "Ulama Syiah dan Dukungan Fikih Serta Politik Terhadap Palestina", Pangkalan Informasi Hawzah.
  9. Muniri, "Konfrontasi Pertama Ulama Syiah dengan Zionisme", Situs Web Seratus Tahun Pembangunan Kembali Hauzah Ilmiah Qom.
  10. Muniri, "Konfrontasi Pertama Ulama Syiah dengan Zionisme", Situs Web Seratus Tahun Pembangunan Kembali Hauzah Ilmiah Qom; Paknia Tabrizi, "Ulama-ye Syiah wa Difa' az Quds-e Syarif", hlm. 166.
  11. Sarhadi, "Ulama yang Bereaksi Terhadap Masalah Palestina", Pusat Penelitian Sejarah Kontemporer.
  12. Paknia Tabrizi, "Ulama-ye Syiah wa Difa' az Quds-e Syarif", hlm. 173.
  13. Khomeini, Shahifeh Imam, 1389 HS, jld. 2, hlm. 139.
  14. Mohtasyamipur, "Muroori bar Syekl-giri Rezhim Esyghalgar Quds", hlm. 122.
  15. Mohtasyamipur, "Muroori bar Syekl-giri Rezhim Esyghalgar Quds", hlm. 124.
  16. Khomeini, Shahifeh Imam, 1389 HS, jld. 2, hlm. 201.
  17. Muthahhari, Majmu'eh Atsar, 1376 HS, jld. 17, hlm. 291 dan 292.
  18. "Pernyataan dalam Konferensi Internasional Keenam Mendukung Intifadah Palestina", Pangkalan Informasi Kantor Pemeliharaan dan Publikasi Karya-Karya Ayatullah Khamenei.
  19. Sebagai contoh lihat: Khomeini, Shahifeh Imam, 1389 HS, jld. 15, hlm. 151, 154, 160 dan 162, jld. 16, hlm. 399; Mohtasyamipur, "Muroori bar Syekl-giri Rezhim Esyghalgar Quds", hlm. 100, 116 dan 122.
  20. "Apakah Tembok Pemisah Telah Menjamin Keamanan Zionis?", Kantor Berita Republik Islam (IRNA).
  21. Lihat: Nashiri Hamed, "Rothschild, Khandan", hlm. 410-412.
  22. Sajjadi, Paidayesh wa Tadawom-e Zionism, 1386 HS, hlm. 24.
  23. Theodor Herzl.
  24. Suwaidan, Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Yahudiyat wa Zionism, 1391 HS, hlm. 45 dan 46.
  25. Nashiri Hamed, "Rothschild, Khandan", hlm. 410.
  26. Nashiri Hamed, "Rothschild, Khandan", hlm. 410.
  27. Al-Massiri, Da'irah al-Ma'arif Yahud, Yahudiyat wa Zionism, 1383 HS, jld. 6, hlm. 201.
  28. Khalidi, "Palestine", Encyclopaedia Britannica.
  29. Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 83 dan 84.
  30. "Hari Nakba dan Kejahatan Zionis dari Tahun 1948 Hingga Sekarang", Kantor Berita Fars.
  31. Suwaidan, Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Yahudiyat wa Zionism, 1391 HS, hlm. 258; Nashiri Hamed, "Rothschild, Khandan", hlm. 411.
  32. Sajjadi, Paidayesh wa Tadawom-e Zionism, 1386 HS, hlm. 47; Suwaidan, Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Yahudiyat wa Zionism, 1391 HS, hlm. 258.
  33. Natsyah dkk., Tarikh Filistin al-Hadits wa al-Mu'ashir, 1412 H, hlm. 13; Khalidi, "Palestine", Encyclopaedia Britannica.
  34. Sajjadi, Paidayesh wa Tadawom-e Zionism, 1386 HS, hlm. 50.
  35. Suwaidan, Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Yahudiyat wa Zionism, 1391 HS, hlm. 259.
  36. Lihat: Khalidi, "Palestine", Encyclopaedia Britannica.
  37. Natsyah dkk., Tarikh Filistin al-Hadits wa al-Mu'ashir, 1412 H, hlm. 13 dan 14.
  38. Zaidabadi, Din wa Daulat dar Israel, 1381 HS, hlm. 127 dan 128.
  39. Suwaidan, Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Yahudiyat wa Zionism, 1391 HS, hlm. 260; Dehqani, "Qath'nameh Taqsim-e Filistin Mabnaye Rah-e Hall Do Daulat wa Melaki Baraye Rah-e Hall Hameh Porsi", hlm. 1015-1018.
  40. Suwaidan, Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Yahudiyat wa Zionism, 1391 HS, hlm. 260.
  41. Natsyah dkk., Tarikh Filistin al-Hadits wa al-Mu'ashir, 1412 H, hlm. 9.
  42. Dehqani, "Qath'nameh Taqsim-e Filistin Mabnaye Rah-e Hall Do Daulat wa Melaki Baraye Rah-e Hall Hameh Porsi", hlm. 1017.
  43. Dehqani, "Qath'nameh Taqsim-e Filistin Mabnaye Rah-e Hall Do Daulat wa Melaki Baraye Rah-e Hall Hameh Porsi", hlm. 1017.
  44. Suwaidan, Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Yahudiyat wa Zionism, 1391 HS, hlm. 260.
  45. Dehqani, "Qath'nameh Taqsim-e Filistin Mabnaye Rah-e Hall Do Daulat wa Melaki Baraye Rah-e Hall Hameh Porsi", hlm. 1023-1025.
  46. Al-Massiri, Da'irah al-Ma'arif Yahud, Yahudiyat wa Zionism, 1383 HS, jld. 6, hlm. 59.
  47. Suwaidan, Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Yahudiyat wa Zionism, 1391 HS, hlm. 260.
  48. Dehqani, "Qath'nameh Taqsim-e Filistin Mabnaye Rah-e Hall Do Daulat wa Melaki Baraye Rah-e Hall Hameh Porsi", hlm. 1018-1023.
  49. Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 176.
  50. Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 99.
  51. Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 99.
  52. Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 103.
  53. Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 106.
  54. Judaki dan Fallahi Saifuddin, "Tasyrih Mehwar-haye Monaze'eh Bein Filistin wa Israel", hlm. 42.
  55. Zu'aitar, Sargozasyt-e Filistin, 1362 HS, hlm. 141-145.
  56. Lihat: Zu'aitar, Sargozasyt-e Filistin, 1362 HS, hlm. 159-162.
  57. Judaki dan Fallahi Saifuddin, "Tasyrih Mehwar-haye Monaze'eh Bein Filistin wa Israel", hlm. 42.
  58. Judaki dan Fallahi Saifuddin, "Tasyrih Mehwar-haye Monaze'eh Bein Filistin wa Israel", hlm. 42.
  59. Lihat: Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 108-128.
  60. Kaffash dkk., Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Filistin, 1392 HS, hlm. 186; Dehqani Poudeh, "Qath'nameh Taqsim-e Filistin Mabnaye Rah-e Hall Do Daulat wa Melaki Baraye Rah-e Hall Hameh Porsi", hlm. 1027; "Nakba Day: What happened in Palestine in 1948?", Al Jazeera Media Network.
  61. Zaidabadi, Din wa Daulat dar Israel, 1381 HS, hlm. 128.
  62. Firouzabadi, Kasyf al-Asrar Zionism, 1393 HS, hlm. 29.
  63. David Ben-Gurion.
  64. Zaidabadi, Din wa Daulat dar Israel, 1381 HS, hlm. 128; Kaffash dkk., Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Filistin, 1392 HS, hlm. 186; Sicherman and others "Israel", Encyclopaedia Britannica.
  65. Suwaidan, Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Yahudiyat wa Zionism, 1391 HS, hlm. 261.
  66. "Hari Nakba dan Kejahatan Zionis dari Tahun 1948 Hingga Sekarang", Kantor Berita Fars.
  67. Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 199; Kaffash dkk., Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Filistin, 1392 HS, hlm. 187.
  68. "Nakba Day: What happened in Palestine in 1948?", Al Jazeera Media Network.
  69. Kaffash dkk., Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Filistin, 1392 HS, hlm. 201; Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 202; "Nakba Day: What happened in Palestine in 1948?", Al Jazeera Media Network.
  70. Zaidabadi, Din wa Daulat dar Israel, 1381 HS, hlm. 128.
  71. Zaidabadi, Din wa Daulat dar Israel, 1381 HS, hlm. 128.
  72. "Nakba Day: What happened in Palestine in 1948?", Al Jazeera Media Network; "Demonstrasi Rakyat Palestina Peringati Hari Nakba", Kantor Berita Anadolu.
  73. Gordon and Others, "Jerusalem", Encyclopædia Britannica.
  74. Dehqani, "Edameh Esyghal Ba Syahrak Sazi: Mahiyyat Rezhim Zionisti Israel", hlm. 6.
  75. Natsyah dkk., Tarikh Filistin al-Hadits wa al-Mu'ashir, 1412 H, hlm. 9.
  76. Natsyah dkk., Tarikh Filistin al-Hadits wa al-Mu'ashir, 1412 H, hlm. 9.
  77. Ashly and Hefawi, "Nakba: ‘It remains bitter and continues to burn’", Al Jazeera Media Network; "Demonstrasi Rakyat Palestina Peringati Hari Nakba", Kantor Berita Anadolu.
  78. Chomsky, Motsallas-e Sarnevesytsaz, 1369 HS, hlm. 130.
  79. Lihat: Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 149-151.
  80. Kaffash dkk., Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Filistin, 1392 HS, hlm. 208; Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 205.
  81. Sicherman and others "Israel", Encyclopaedia Britannica; Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 209.
  82. Dehqani, "Edameh Esyghal Ba Syahrak Sazi: Mahiyyat Rezhim Zionisti Israel", hlm. 5.
  83. Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 209.
  84. Sicherman and others "Israel", Encyclopaedia Britannica.
  85. "Kesepakatan Oslo dan Pencapaian Pahitnya bagi Palestina", Jaringan Al-Alam.
  86. "Peta Palestina dan Luas Gaza", Jaringan Al-Alam; "Telah Berlalu 75 Tahun Sejak Tragedi Nakba (Pendudukan Palestina)", Pusat Informasi Palestina.
  87. Judaki dan Fallahi Saifuddin, "Tasyrih Mehwar-haye Monaze'eh Bein Filistin wa Israel", hlm. 44.
  88. "Peta Palestina dan Luas Gaza", Jaringan Al-Alam.
  89. Dehqani, "Edameh Esyghal Ba Syahrak Sazi: Mahiyyat Rezhim Zionisti Israel", hlm. 2.
  90. Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 180-183.
  91. Taqizadeh, "Pembangunan Permukiman di Wilayah Palestina dan Kelanjutan Pendudukan", Kantor Berita IRIB.
  92. Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 181.
  93. Dehqani, "Edameh Esyghal Ba Syahrak Sazi: Mahiyyat Rezhim Zionisti Israel", hlm. 3.
  94. Dehqani, "Edameh Esyghal Ba Syahrak Sazi: Mahiyyat Rezhim Zionisti Israel", hlm. 5-7.
  95. "Permukiman Yahudi; Nama 56 Tahun Perampasan dan Kekerasan di Wilayah Palestina", Kantor Berita Anadolu.
  96. Dehqani, "Edameh Esyghal Ba Syahrak Sazi: Mahiyyat Rezhim Zionisti Israel", hlm. 8.
  97. Sicherman and others "Israel", Encyclopaedia Britannica.
  98. "Utusan Khusus PBB: Menyebut Fasilitasi Pembangunan Permukiman di Tepi Barat Sebagai Pelanggaran Regulasi Internasional", Euronews; "Sekjen PBB Tuntut Penghentian Pembangunan Permukiman Ilegal Israel di Wilayah Pendudukan Palestina", Euronews.
  99. "Israel Berusaha Selesaikan Tembok Pemisah, Terlepas Dari Penentangan Internasional", Euronews; "Apakah Tembok Pemisah Telah Menjamin Keamanan Zionis?", Kantor Berita Republik Islam (IRNA).
  100. "Apakah Tembok Pemisah Telah Menjamin Keamanan Zionis?", Kantor Berita Republik Islam (IRNA).
  101. Sicherman and others "Israel", Encyclopaedia Britannica.
  102. "Israel Berusaha Selesaikan Tembok Pemisah, Terlepas Dari Penentangan Internasional", Euronews.
  103. "Bagaimana Mimpi Zionis dalam Mendirikan Israel Raya Hancur?", Kantor Berita Fars: Khomeini, Shahifeh Imam, 1389 HS, jld. 21, hlm. 398, catatan kaki kedua.
  104. Suwaidan, Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Yahudiyat wa Zionism, 1391 HS, hlm. 256.
  105. Garaudy, Mohakemeh Zionism Israel, 1384 HS, hlm. 42.
  106. Garaudy, Mohakemeh Zionism Israel, 1384 HS, hlm. 41.
  107. Shahak, Daulat Nejad-Parast Israel, 1380 HS, hlm. 34-37.
  108. Firouzabadi, Kasyf al-Asrar Zionism, 1393 HS, hlm. 25; Sajjadi, Paidayesh wa Tadawom-e Zionism, 1386 HS, hlm. 45.
  109. Garaudy, Mohakemeh Zionism Israel, 1384 HS, hlm. 41.
  110. Suwaidan, Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Yahudiyat wa Zionism, 1391 HS, hlm. 46 dan 47.
  111. Garaudy, Mohakemeh Zionism Israel, 1384 HS, hlm. 76.
  112. Suwaidan, Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Yahudiyat wa Zionism, 1391 HS, hlm. 297.
  113. Firouzabadi, Kasyf al-Asrar Zionism, 1393 HS, hlm. 28.
  114. Suwaidan, Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Yahudiyat wa Zionism, 1391 HS, hlm. 297 dan 298.
  115. Garaudy, Mohakemeh Zionism Israel, 1384 HS, hlm. 37 dan 87.
  116. Garaudy, Mohakemeh Zionism Israel, 1384 HS, hlm. 37 dan 87.
  117. Garaudy, Mohakemeh Zionism Israel, 1384 HS, hlm. 37.
  118. Garaudy, Mohakemeh Zionism Israel, 1384 HS, hlm. 37 dan 38.
  119. Garaudy, Mohakemeh Zionism Israel, 1384 HS, hlm. 86.
  120. Al-Massiri, Da'irah al-Ma'arif Yahud, Yahudiyat wa Zionism, 1383 HS, jld. 6, hlm. 13.
  121. Sebagai contoh lihat: "Catatan Berat Kejahatan Tentara Israel", Kantor Berita Mehr; "Pemerkosaan Wanita di Hadapan Suami di Depan Umum/Pembantaian Warga Sebuah Desa dan Mutilasi Mayat/Pembunuhan Anak-anak dengan Tongkat", Kantor Berita Masyregh.
  122. "Demonstrasi Rakyat Palestina Peringati Hari Nakba", Kantor Berita Anadolu.
  123. "Israel Telah Menghancurkan Lebih Dari 305 Ribu Rumah di Gaza", Kantor Berita Al Jazeera.
  124. "Telah Berlalu 75 Tahun Sejak Tragedi Nakba (Pendudukan Palestina)", Pusat Informasi Palestina.
  125. Kaffash dkk., Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Filistin, 1392 HS, hlm. 201.
  126. Nakba Day: What happened in Palestine in 1948?", Al Jazeera Media Network.
  127. Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 202.
  128. Chomsky, Motsallas-e Sarnevesytsaz, 1369 HS, hlm. 125; Kaffash dkk., Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Filistin, 1392 HS, hlm. 222.
  129. Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 209.
  130. "Dari Operasi Peace for Galilee dan Pembentukan Hizbullah Hingga Grapes of Wrath", Kantor Berita Tasnim.
  131. "Dari Operasi Peace for Galilee dan Pembentukan Hizbullah Hingga Grapes of Wrath", Kantor Berita Tasnim.
  132. "UNRWA: 2023 Adalah Tahun Paling Berdarah Bagi Warga Palestina di Tepi Barat", Kantor Berita Anadolu.
  133. "Telah Berlalu 75 Tahun Sejak Tragedi Nakba (Pendudukan Palestina)", Pusat Informasi Palestina.
  134. "Tinjauan Sejarah Perjuangan Rakyat Palestina dari 1967 Hingga 2022", Situs Web Pusat Dokumen Revolusi Islam.
  135. "Tinjauan Sejarah Perjuangan Rakyat Palestina dari 1967 Hingga 2022", Situs Web Pusat Dokumen Revolusi Islam.
  136. Kaffash dkk., Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Filistin, 1392 HS, hlm. 210; "Gerakan Fatah: Organisasi Politik dan Militer Terpenting Palestina dengan Tujuan Membebaskan Negara Ini", Kantor Berita Defa Moghaddas.
  137. Kaffash dkk., Da'irah al-Ma'arif Mushawwar Tarikh Filistin, 1392 HS, hlm. 212.
  138. Maleki dan Rashidi, "Jihad Islami, Jonbesy", hlm. 437.
  139. Maleki, "Hamas, Jonbesy", hlm. 79 dan 80.
  140. Khomeini, Shahifeh Imam, 1389 HS, jld. 9, hlm. 267.
  141. Sebagai contoh lihat: "Dunia dan Hari Al-Quds Sedunia", Kantor Berita Tasnim.
  142. "Sekilas Pandang Lima Edisi Konferensi Dukungan Atas Intifadah Palestina", Kantor Berita IRIB.
  143. "Penyelenggaraan Konferensi Dukungan Atas Palestina di Karbala Suci", Jaringan Al-Alam.
  144. "Laporan Al-Alam Dari Konferensi Dukungan Atas Masalah Palestina di Islamabad", Jaringan Al-Alam.
  145. Lihat: "Melihat Kembali Kejahatan Rezim Zionis Dalam 86 Tahun Terakhir", Kantor Berita Fars.
  146. Dehqani, "Qath'nameh Taqsim-e Filistin Mabnaye Rah-e Hall Do Daulat wa Melaki Baraye Rah-e Hall Hameh Porsi", hlm. 1029.
  147. "Israel dan Pelanggaran Terhadap Resolusi-resolusi Internasional Tentang Kepulangan Pengungsi Palestina", Kantor Berita Mehr.
  148. "Resolusi 2231 dan Resolusi Lainnya Dewan Keamanan yang Dilanggar Pemerintah Trump", Situs Web Komunitas Berita Analitis Alef.
  149. "Mahkamah Internasional Sebut Pendudukan Wilayah Palestina Oleh Israel Adalah Ilegal", Kantor Berita BBC Persia.
  150. Lihat: Safataj, Majaray-e Filistin wa Israel, 1381 HS, hlm. 317-331.
  151. "Proses Negosiasi Perdamaian Timur Tengah Sejak 1967 M Hingga Sekarang", Kantor Berita BBC Persia.
  152. "Trump: Kesepakatan Abad Ini Rencana Win-Win; Rakyat Palestina Akan Membentuk Negara Merdeka", Kantor Berita BBC.
  153. Dehqani, "Qath'nameh Taqsim-e Filistin Mabnaye Rah-e Hall Do Daulat wa Melaki Baraye Rah-e Hall Hameh Porsi", hlm. 1029.
  154. Khamenei, Filistin, 1397 HS, hlm. 508-517.
  155. Khamenei, Filistin, 1397 HS, hlm. 517.
  156. "Bagaimana Israel Dilenyapkan?", Pangkalan Informasi Kantor Pemeliharaan dan Publikasi Karya-Karya Ayatullah Khamenei.
  157. "Pernyataan dalam Konferensi Mendukung Intifadah Palestina", Pangkalan Informasi Kantor Pemeliharaan dan Publikasi Karya-Karya Ayatullah Khamenei.

Catatan

Templat:Catatan

Daftar Pustaka