tanpa infobox

Masjid Shakhrah

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Masjid Shakhrah

Masjid Shakhrah (bahasa Arab: مسجد الصخرة) atau Shakhrah Muqaddasah الصخرة المقدىسة adalah masjid yang berada di sekitar Masjid al-Aqsha di gunung Moria di kota Baitul Maqdis. Masjid ini dan kubahnya yang terkenal dengan nama Kubah al-Shakhrah dibuat diatas batu besar yang di dalam agama Yahudi, Islam dan Kristen, masjid dan kubah itu dihormati. Menurut keyakinan kaum muslimin, Nabi Muhammad saw pada malam mi'raj naik ke langit dari atas batu (shakhrah) ini. Orang-orang Yahudi juga berkeyakinan bahwa dari batu ini bumi terhampar luas, tubuh Adam as tercipta dari tanah ini dan Ibrahim as mendapat perintah menyembelih putranya di tempat ini pula.

Kubah emas tersohor yang oleh sebagian masyarakat diduga sebagai kubah Masjid al-Aqsha, dibuat di atas batu tersebut dan kubah Masjid Shakhrah.

Masjid Shakhrah dibangun pada abad pertama Hijriah dan pada masa Abdul Malik bin Marwan, dan setelah itu pada berbagai periode mengalami perenovasian.

Urgensitas

Kubah al-Shakhrah bersama Masjid Umawi di Damaskus, Masjid 'Amr 'Ash di Kairo dan Masjid Kairouan di Tunisia termasuk diantara bangunan-bangunan terpenting yang dibangun pada abad pertama Hijriah[1] dan di kalangan umat Yahudi, Kristen dan Muslimin dihormati.[2]

Gunung yang di atasnya dibangun Kubah al-Shakhrah, hingga tahun kedua Hijriah masih menjadi kiblat kaum Muslimin.[3] Menurut keyakinan kaum Muslimin, Nabi Muhammad saw pada malam mi'raj berangkat ke langit dari atas batu ini.[4] Orang-orang Yahudi meyakini bahwa dari batu ini bumi terhampar luas dan tubuh Adam as tercipta dari tanah ini , dan setelah Ibrahim as mendapat perintah Allah untuk menyebelih putranya, ia pergi ke tempat ini untuk mengurbankannya.[5]

Letak Geografis dan Ciri-Ciri Khas Bangunan

Masjid al-Shakhrah atau Kubah al-Shakhrah terletak di sekitar Masjid al-Aqsha di atas gunung Moria di Baitul Maqdis.[6]Kubah al-Shakhrah memiliki kubah berwarna kuning emas dan terletak di atas bangunan persegi delapan yang memiliki empat pintu mengarah ke empat arah.[7]

Di atas satu potongan tiang marmer di barat daya Masjid Shakhrah terdapat satu maqam bernama "Qadam Muhammad", yang dikatakan bekas kaki Nabi Muhammad saw pada malam mi'raj.[8] Demikian juga terdapat satu tempat di dekat Kubah al-Shakhrah yang dikenal dengan nama "Kubah al-Nabi", yang menurut keyakinan penduduk Al Quds, Nabi Khidir melakukan salat di sana.[9] Dari sisi dekorasi dan penghiasan, Kubah al-Shakhrah diyakini sebagai bangunan Islam terkaya.[10]

Sejarah

Pembuatan Masjid al-Shakhrah di atas batu di gunung Moria di Baitul Maqdis dimulai pada tahun 66 H pada periode Abdul Malik bin Marwan, khalifah Umawi, dan selasai pada tahun 72 H.[11] Pada situasi dimana Abdullah bin Zubair menjadi khalifah di Mekah dan memaksa para jamaah haji untuk berbaiat dengan dirinya, Abdul Malik bin Marwan mencegah masyarakat untuk pergi haji dan berusaha menggantikan perjalanan haji dengan ziarah dan tawaf di Kubah al-Shakhrah.[12]

Pada periode Makmun, khalifah Abbasiyah pada tahun 216 H, Kubah al-Shakhrah direnovasi. Seusai renovasi, nama Makmun menggantikan nama Abdul Malik bin Marwan di atas kaligrafi batu masjid, namun tahun pembuatan bangunan, yakni 72 H, tetap tanpa perubahan.[13]

Pada tahun 407 H terjadi gempa besar di Al Quds dan Kubah al-Shakhrah menjadi hancur. Pada tahun 413 H dan pada masa kekhalifahan al-Zhahir, khalifah Fatimi, Masjid al-Shakhrah direkonstruksi. Pada tahun 460 H terjadi gempa lagi yang menghancurkan masjid, dan pada tahun 467 H masjid tersebut direkonstruksi kembali oleh al-Qaim bi Amrillah, khalifah Abbasiyah.[14]

Penamaan

Penamaan masjid ini dengan Masjid al-Shakhrah dikarenakan dibangun di atas sebuah batu (shakhrah) yang terletak di gunung Moria di Baitul Maqdis. Karena itu, ia juga dinamakan dengan Kubah al-Shakhrah.[15]

Terkadang Kubah al-Shakhrah dikelirukan dengan Masjid al-Aqsha. Kubah al-Shakhrah berwarna keemasan sedangkan kubah Masjid al-Aqsha berwarna gelap.[16]

Baca Lebih Lanjut

Catatan Kaki

  1. Sa'adati, Naqshe Amāken va Ātsāre Mazhabi dar Tamaddune Eslami, hlm. 150
  2. Binesh, Negahi Nuw be Jang-haye Shalibi, hlm. 25
  3. Mir Abu al-Qasimi, Bastanshenasi, 1392 HS, hlm. 114
  4. Musa Ghusyah, Tarikh Majmu'ah Masjid al-Aqsha, 1390 HS, hlm. 23
  5. Hamidi, Tarikh Urshalim, 1381 HS, hlm. 17 dan 18
  6. Musa Ghusyah, Tarikh Majmu'ah Masjid al-Aqsha, 1390 HS, hlm. 23
  7. Musa Ghusyah, Tarikh Majmu'ah Masjid al-Aqsha, 1390 SH, hlm. 23
  8. Hamidi, Tarikh Urshalim, 1381 HS, hlm 17 dan 18
  9. Najati, Hazrate Khidr as va Makan-haye Mansub be Ishan, 1395 HS, hlm. 244
  10. Hamidi, Tarikh Urshalim, 1381 HS, hlm. 17 dan 18
  11. Musa Ghusyah, Tarikh Majmu'ah Masjid al-Aqsha, 1390 HS, hlm. 23
  12. Al-Dumairi, Hayat al-Hayawan al-Kubra, 1424 H, jld. 1, hlm. 100; Husaini Tehrani, Emamshenasi, 1418 H, jld. 18, hlm. 323 dan 325
  13. Musa Ghusyah, Tarikh Majmu'ah Masjid al-Aqsha, 1390 HS, hlm. 26
  14. Musa Ghusyah, Tarikh Majmu'ah Masjid al-Aqsha, 1390 HS, hlm. 26
  15. Hamidi, Tarikh Urshalim, 1381 HS, hlm. 18 dan 19
  16. Jangan keliru antara Kubah al-Shakhrah dengan Masjid al-Aqsha, situs berita Shida va Sima

Daftar Pustaka

  • Binesh, Abdul Husain. Negahi Nuw be Jang-haye Shalibi. Qom: Zamzame Hidayat, 1386 HS.
  • Hamidi, Jakfar. Tarikh Urshalim. Teheran: Amir Kabir, cet.II, 1381 HS.
  • Husaini Tehrani, Sayid Muhammad Husain. Emamshanasi. Masyhad: Penerbit Allamah Thabathabai, 1418 H.
  • Al-Dumairi, Kamaluddin Muhammad. Hayat al-Hayawan al-Kubra, dengan catatan dan mukaddimah Ahmad Hasan Basj. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2002/1424 H.
  • Sa'adati, Qadir. Naqshe Amāken va Ātsare Mazhabi dar Tamaddune Eslami. Kumpulan artikel kongres internsonal aliran ekstrim dan takfiri menurut pandangan ulama Islam, jilid 1, Qom: Dar al-I'lam li Madrasat Ahlilbait, 1393 HS.
  • Musawipanoh, Ibrahim. Haram dar Waziha. Masyhad: Astane Qudse Rezavi, 1391 HS.
  • Mir Abu al-Qasimi, Muhammad Taqi. Bastanshenasi Quran. Rasht: Ketab Mubin, 1392 HS.
  • Najati, Muhammad Sa'id dan Muhammad Faqih Bahrul Ulum. Hazrate Khedr va Makanhaye Mansub be Ishan (dilengkapi dengan ketabshenasi). Teheran: Masy'ar, 1395 HS.