Lompat ke isi

Konsep:Madrasah Kalam al-Hillah

Dari wikishia

Templat:Kotak info madrasah Madrasah Kalam al-Hillah adalah salah satu madrasah kalam Syiah yang terbentuk sejak akhir abad ke-6 dan awal abad ke-7 Hijriah di wilayah Hillah dan populer selama tiga abad. Sadiduddin al-Himmsi al-Razi dianggap sebagai peletak dasar madrasah atau sekolah kalam Hillah. Ia pergi ke Hillah pada tahun 550 H dan mulai mengajar serta meneliti dalam disiplin ilmu kalam.

Madrasah Kalam al-Hillah mencapai masa puncaknya pada periode-periode berikutnya dengan masuknya Khwajah Nasiruddin al-Tusi ke lingkungan akademik Hillah. Khwajah Nasir masuk ke Hillah pada tahun 656 H dan mendirikan kursi pengajaran ilmu kalam. Beberapa teolog terkemuka madrasah Hillah seperti Allamah al-Hilli dan Ibnu Maitsam al-Bahrani adalah murid-muridnya dalam ilmu kalam.

Terlindunginya kota Hillah dari serangan Mongol, migrasi beberapa ulama dan mutakallim ke wilayah ini, kebebasan beragama, kehadiran ulama dari berbagai sekte agama di wilayah ini, debat ilmiah mutakallim Syiah dengan mereka, serta faktor-faktor seperti posisi geografis Hillah, keseimbangan iklim, dan kondisi ekonominya dianggap sebagai faktor terpenting dalam pembentukan, pertumbuhan, dan keberlanjutan madrasah Hillah.

Arus kalam rasional dan filosofis, kalam tradisionis (berorientasi hadis), dan arus mistis (irfani) dianggap sebagai tiga arus pemikiran yang aktif di Madrasah Kalam al-Hillah. Hal-hal seperti pembentukan dan populeritas kalam filosofis, penguatan dan pengokohan pembahasan imamah, perluasan kalam komparatif, serta pengaturan dan struktur baru dalam penyajian topik-topik kalam, dianggap sebagai karakteristik Madrasah Kalam al-Hillah.

Kedudukan dan Urgensi

Madrasah Kalam al-Hillah adalah salah satu madrasah kalam Syiah yang menyajikan pemikiran kalam Syiah dengan metode baru dengan memperhatikan kondisi waktu, politik, dan sosial khusus di Hillah, serta menciptakan banyak karya kalam dan inovasi dalam kalam Syiah yang hingga kini pemikiran kalam Syiah masih terpengaruh olehnya.[1] Rasionalisme, tekstualisme, dan pemikiran ijtihad dengan kecenderungan ushuli dan kalam merupakan pendekatan-pendekatan yang terlihat dalam Madrasah Kalam al-Hillah.[2]

Sejarah dan Latar Belakang Pembentukan

Madrasah atau sekolah kalam Hillah populer dari akhir abad ke-6 dan awal abad ke-7 Hijriah di wilayah Hillah (salah satu titik pusat di Irak, terletak di antara Kufah dan Baghdad) dan menjadi pusat perhatian para pemikir dalam topik-topik kalam selama sekitar tiga abad.[3]

Sejarah

Beberapa peneliti menganggap Sadiduddin al-Himmsi sebagai pendiri Madrasah Kalam al-Hillah.[4] Dikatakan bahwa Sadiduddin al-Himmsi masuk ke Hillah pada tahun 550 H.[5] Ia dalam mukadimah kitab kalamnya yang berjudul al-Munqidz min al-Taqlid menegaskan bahwa dalam perjalanan pulang dari ibadah Haji, atas desakan beberapa ulama Hillah, ia menetap sementara di kota ini dan mulai mengajar ilmu kalam serta melakukan diskusi ilmiah.[6] Sadiduddin al-Himmsi menyusun buku tersebut di sana atas permintaan ulama Hillah.[7] Ia juga mengajar satu periode kalam argumentatif bagi para ilmuwan madrasah ini.[8] Dengan pengajarannya, pendekatan kalam yang berbeda mulai mendominasi atmosfer madrasah Hillah.[9] Dari majelis pengajaran al-Himmsi, lahir para teolog seperti Muhammad bin Muhammad Hamadani, Ali bin Said al-Rawandi (putra Quthbuddin al-Rawandi), dan Warram bin Abi Firas al-Hilli.[10] Dasar-dasar kalamnya juga memengaruhi para mutakallim periode berikutnya di Madrasah Kalam al-Hillah.[11]

Menurut beberapa peneliti, Ibnu Idris al-Hilli termasuk di antara ulama yang pandangannya tentang otoritas Khabar Wahid dan Dalil Aqli berpengaruh pada pembentukan Madrasah Kalam al-Hillah.[12] Ibnu Idris tidak menganggap khabar wahid sebagai hujah dan hanya menganggap khabar mutawatir serta khabar wahid yang disertai indikasi qath'i sebagai hujah, serta menyebut dalil akal sebagai salah satu sumber pemahaman syariat.[13] Pandangan yang ketat terhadap riwayat dan pendekatannya terhadap dalil akal ini menyiapkan landasan bagi pertumbuhan pembahasan akal dan kalam di lingkungan Hillah.[14]

Faktor Pembentukan dan Pertumbuhan

Berdasarkan laporan para sejarawan, dengan serangan bangsa Mongol ke negeri-negeri Islam pada pertengahan pertama abad ke-7 Hijriah, banyak kota termasuk Baghdad diserang dan Kekhalifahan Abbasiyah (pada tahun 656 H) jatuh.[15] Dengan kebijaksanaan dan upaya ulama dari kota Hillah seperti Sadiduddin Yusuf bin Ali bin Muthahhar al-Hilli (ayah Allamah al-Hilli), Sayyid Majduddin bin Thawus, dan Syamsuddin Muhammad bin al-Izz, serta dialog dan negosiasi dengan penguasa Mongol[16] dan kemudian melalui pengaruh Khwajah Nasiruddin al-Tusi di istana Hulagu Khan,[17] kota Hillah selamat dari serangan dan penjarahan Mongol, sehingga tercipta landasan yang tepat dan aman bagi pertumbuhan dan promosi ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kalam.[18] Karena itulah banyak ulama dan pencari ilmu dari berbagai kota, khususnya Baghdad dan Ray, datang ke Hillah dan menambah kemeriahan ilmiah madrasah Hillah.[19]

Kebebasan beragama dan keberadaan ulama dari berbagai sekte agama di Hillah disebut sebagai faktor lain yang berpengaruh dalam pertumbuhan ilmiah lingkungan Hillah, khususnya madrasah kalamnya.[20] Dikatakan bahwa setelah jatuhnya kekhalifahan Abbasiyah (yang dianggap sebagai simbol Islam Sunni) oleh bangsa Mongol, dengan diterimanya Islam oleh penguasa Mongol dan interaksi ulama berbagai mazhab, khususnya ulama Syiah dengan istana, intensitas perselisihan mazhab antara Syiah dan Ahlusunah pun berkurang.[21] Debat dan interaksi ilmiah antara ulama Syiah dengan ulama mazhab lainnya, khususnya dalam masalah kalam, dengan memperhatikan moderasi, menjadi populer dan hal ini berpengaruh pada kekayaan lingkungan Syiah Hillah serta khususnya pemikiran kalam.[22] Hal-hal seperti posisi geografis, keseimbangan iklim, dan kondisi ekonomi Hillah pada masa itu juga disebut sebagai faktor lain yang berpengaruh dalam kejayaan madrasahnya.[23]

Tahapan dan Periode

Beberapa peneliti menetapkan tiga periode untuk Madrasah Kalam al-Hillah:

  • Tahap Awal: Yang dimulai dengan Sadiduddin al-Himmsi dan Ibnu Idris al-Hilli, dan selanjutnya diperkuat dengan pengajaran Sadiduddin al-Himmsi.[24] Dikatakan bahwa Madrasah Kalam al-Hillah pada periode ini terpengaruh oleh Madrasah Ray dan rasionalisme Madrasah Baghdad, khususnya Sayyid Murtadha dan Syekh Thusi.[25]
  • Masa Puncak dan Kesempurnaan: Periode ini dimulai dengan masuknya Khwajah Nasiruddin al-Tusi ke lingkungan Hillah.[26] Dikatakan bahwa Khwajah Nasir pergi ke Hillah pada tahun 656 H dan mendirikan kursi pengajaran ilmu kalam di sana.[27] Allamah al-Hilli dan Ibnu Maitsam al-Bahrani, dua mutakallim Syiah yang memiliki peran besar dalam evolusi kalam Syiah, khususnya Madrasah Kalam al-Hillah, adalah murid-murid Khwajah Nasir dalam ilmu kalam.[28]
  • Masa Kemunduran: Menurut penukilan para sejarawan, kota Hillah menjadi tidak aman dengan masuknya pasukan Timur Lenk pada tahun 795 H,[29] dan hingga awal abad ke-9 Hijriah menjadi tempat perselisihan keluarga Timur dan JalayiriyahTemplat:Y dan setelah itu pada abad ke-9 menjadi tempat invasi Qara Qoyunlu dan Aq Qoyunlu.[30] Perubahan politik dan ketidakamanan yang dihasilkannya menyebabkan banyak ulama yang tinggal di Hillah bermigrasi ke kota-kota lain, sehingga gerakan ilmiah di lingkungan Hillah, khususnya madrasah kalamnya, mulai mengalami kemunduran.[31]

Arus-arus Pemikiran

Buku Jostari-hayi dar Madrasah-ye Kalam-e Hillah
Buku Jostari-hayi dar Madrasah-ye Kalam-e Hillah

Beberapa peneliti berpendapat bahwa di madrasah kalam Hillah terdapat tiga arus pemikiran yang berpengaruh: arus kalam rasional dan filosofis, arus kalam tradisionis (berorientasi hadis), dan arus mistis (irfani).[32]


Arus Kalam Rasional dan Filosofis

Arus kalam ini terbagi menjadi dua periode: arus kalam sebelum kehadiran Khwajah Nasir dan setelah kehadirannya:[33]

Sebelum Khwajah Nasiruddin al-Tusi

Dikatakan bahwa arus kalam pada periode ini terpengaruh oleh Madrasah Kalam Ray dan cenderung pada Muktazilah muta'akhir.[34] Muktazilah muta'akhir, di bawah kepemimpinan Abul Husain al-Bashri (dikenal sebagai Syaikh al-Mu'tazilah, wafat 436 H), merupakan sekelompok mutakallim Muktazilah yang cenderung pada Filsafat Peripatetik dan dalam beberapa posisi menolak pandangan kalam Muktazilah serta menerima pandangan para filsuf. Mereka memasukkan beberapa pembahasan filsafat seperti eksistensi dan esensi, Mumkin al-Wujud dan Wajib al-Wujud ke dalam pembahasan kalam, serta memanfaatkannya dalam diskusi kalam mereka.[35] Dikatakan bahwa Sadiduddin al-Himmsi (pendiri Madrasah Kalam al-Hillah) terpengaruh oleh Muktazilah muta'akhir.[36] Ia dalam beberapa posisi membela pandangan-pandangan Abul Husain al-Bashri.[37] Pengaruh ini berlanjut pada generasi mutakallim Hillah berikutnya, sebagai contoh Muhaqqiq al-Hilli dalam mukadimah kitab kalamnya yang berjudul al-Maslak fi Ushul al-Din secara tegas menyebut metode Muktazilah muta'akhir sebagai metode yang paling jelas dan sempurna, serta menyusun bukunya berdasarkan hal tersebut.[38]

Setelah Khwajah Nasiruddin al-Tusi

Pada periode ini, dengan masuknya Khwajah Nasiruddin al-Tusi ke lingkungan Hillah, kalam Syiah sebagian besar menjadi filosofis.[39] Kalam Syiah sebelum periode ini, dikarenakan tidak memiliki partisipasi dalam subjek, metode, maupun manfaat dengan filsafat, selalu dianggap berlawanan dengan filsafat.[40] Melalui upaya Khwajah Nasir (yang ia sendiri merupakan filsuf peripatetik), subjek ilmu kalam meluas dari keyakinan ke objek dan benda-benda, dalam metodenya cenderung dari hikmah dialektis (jadali) ke hikmah demonstratif (burhani), dan dalam manfaatnya aspek generatif pengetahuan ditambahkan pada aspek defensifnya.[41] Khwajah Nasir menyusun kitab kalam masyhurnya Tajrid al-I'tiqad dalam enam tujuan (maqshad), dan mengkhususkan dua maqshad pertamanya untuk pembahasan filosofis seperti eksistensi, esensi, dan konsekuensinya, Sebab dan Akibat, serta pembagian sebab, jauhar, aradh, dan pembahasan terkait dengannya.[42] Struktur dan literatur baru yang digunakan Khwajah Nasir dalam ilmu kalam Imamiyah ini diperkuat dan dikokohkan oleh murid-muridnya seperti Allamah al-Hilli dan Ibnu Maitsam al-Bahrani.[43] Terlepas dari interaksi para mutakallim ini dengan filsafat dan pengaruh darinya, dalam pembahasan seperti diskusi tentang kebaruan dan keazalian alam, hubungan Tuhan dengan alam, penafian perantara dalam penciptaan, ke-mujarrad-an ruh, Ma'ad Jasmani, dan banyak posisi lainnya, mereka tetap menolak pandangan para filsuf.[44]

Arus Kalam Tradisionis (Berorientasi Hadis)

Termasuk arus aktif Madrasah Kalam al-Hillah yang berkontradiksi dengan arus rasional dan filosofis.[45] Arus ini merupakan sejenis tradisionisme yang berbeda dari tradisionisme kaum Akhbarian (yang muncul kemudian dalam tradisi pemikiran Syiah).[46] Mereka menerima akal fitrah yang dikonfirmasi oleh riwayat sebagai alat untuk membuktikan ajaran agama dan membela mereka.[47] Sayyid Ibnu Thawus termasuk di antara pemikir menonjol dari arus pemikiran ini.[48] Ia sangat mengkritik kalam rasional dan filosofis yang populer pada masanya.[49] Sayyid Ibnu Thawus menganggap perdebatan kalam dalam hal-hal yang dipahami manusia sesuai fitrah awalnya sebagai pekerjaan sia-sia dan membuang-buang umur, serta berkeyakinan bahwa pembahasan kalam dengan pendekatan rasional dan filosofis yang disajikan oleh kaum Muktazilah dan beberapa mutakallim Syiah seperti Khwajah Nasiruddin al-Tusi beserta para pengikutnya merupakan jalan yang jauh dan berisiko untuk mencapai pengetahuan tentang Tuhan.[50] Hasan bin Sulaiman al-Hilli termasuk pemikir lain dari arus pemikiran ini.[51] Ia menentang tindakan mengesampingkan dan melakukan takwil terhadap beberapa riwayat yang bertentangan dengan akal (metode yang diambil oleh sebagian mutakallim), serta menganggap pemahaman riwayat sulit bagi manusia biasa.[52]

Arus Mistis (Irfani)

Dikatakan bahwa arus mistis yang sistematis di madrasah Hillah dimulai oleh Khwajah Nasiruddin al-Tusi dan Ibnu Maitsam al-Bahrani, serta mencapai puncaknya melalui Ahmad bin Fahd al-Hilli dan Sayyid Haidar Amuli.[53] Pandangan mistis dalam Madrasah Kalam al-Hillah terlihat nyata dalam beberapa pembahasan terkait teologi (ma'rifatullah) maupun dalam pembahasan seperti Imamah.[54] Sebagai contoh Khwajah Nasir al-Tusi selain memiliki pandangan kalam dan filosofis tentang Ilmu Imam, ia juga melakukan pengkajian dan penjelasan mengenainya dengan pendekatan mistis, serta menetapkan adanya ilmu-ilmu di luar ilmu manusia biasa yang diberikan oleh Tuhan kepada para Imam Maksum (as).[55]

Belakangan Sayyid Haidar Amuli dengan terpengaruh oleh irfan Ibnu Arabi dan bersandar pada teori Insan Kamil, memperkenalkan Nabi (saw) dan para Imam Maksum (as) sebagai perwujudan Insan Kamil, serta menyelaraskan karakteristik Insan Kamil pada mereka.[56] Insan Kamil dalam irfan Ibnu Arabi adalah maujud yang di dalamnya termanifestasi seluruh Asmaul Husna dan Sifat-sifat Ilahi.[57] Dari sisi ini dikatakan bahwa ranah ilmu Imam sebagai Insan Kamil merupakan manifestasi ilmu Tuhan dan tidak terbatas sebagaimana ilmu ilahi.[58]

Karakteristik

Beberapa karakteristik Madrasah Kalam al-Hillah adalah sebagai berikut:

  • Populeritas Kalam Filosofis: Meskipun ilmu kalam Muktazilah sejak abad ke-4 dan disiplin kalam Asy'ariyah sejak abad ke-5 telah mengambil dimensi filosofis, namun dalam ranah Syiah, kecenderungan rasional kalam dimulai sejak abad ke-4 dan pada abad ke-5 serta ke-6 secara bertahap bercampur dengan logika Aristoteles kemudian dengan filsafat, hingga pada abad ke-7 mencapai puncaknya dalam Madrasah Kalam al-Hillah bersama Khwajah Nasir al-Tusi.[59]
  • Pengokohan dan Penguatan Pembahasan Imamah: Pembahasan terkait Imamah dan pengenalan Imam yang telah dimulai oleh para mutakallim Syiah pada abad ke-4 dan ke-5 di madrasah Qom, Baghdad, dan Ray, berlanjut di Madrasah Kalam Hillah. Para pemikir madrasah ini berupaya mengokohkan, memperkuat, dan membuktikan imamah umum (ammah) dan khusus (khashshah) dengan metode naqli, aqli, dan filosofis, serta dengan pendekatan mistis.[60]
  • Perluasan Kalam Komparatif: Debat dengan para ilmuwan dari sekte Islam lainnya serta kritik dan tinjauan terhadap pandangan kalam mereka dianggap sebagai salah satu indikator Madrasah Kalam al-Hillah.[61] Buku-buku seperti Qawa'id al-'Aqa'id karya Khwajah Nasir al-Tusi dalam komparasi dan kritik kalam Ismailiyah, serta Nahj al-Haq wa Kasyf al-Sidq karya Allamah al-Hilli dalam menjelaskan kalam Syiah dan perbandingannya dengan kalam Asy'ariyah merupakan contoh karya kalam madrasah Hillah dalam kalam komparatif.[62]
  • Pengaturan Baru dan Struktur Segar dalam Pembahasan Kalam: Dalam Madrasah Kalam al-Hillah, khususnya dengan kehadiran Khwajah Nasir dan melalui penulisan Tajrid al-I'tiqad, kalam Syiah mengambil tatanan dan struktur yang baru serta logis dalam penyajian pembahasannya, sedemikian rupa sehingga mayoritas ilmuwan Islam baik Syiah maupun Sunni mengikuti gaya ini.[63]

Mutakallim Terkemuka

Beberapa mutakallim terkemuka Madrasah Kalam al-Hillah antara lain:

No. Nama Tanggal Lahir Wafat Karya Kalam Pendekatan
1 Sadiduddin al-Himmsi 485 H 585 H al-Munqidz min al-Taqlid Rasional
2 Muhaqqiq al-Hilli 602 H 676 H al-Maslak fi Ushul al-Din Rasional
3 Khwajah Nasiruddin al-Tusi 597 H 672 H Tajrid al-I'tiqadTalkhish al-MuhashshalQawa'id al-'Aqa'id Rasional dan Filosofis
4 Ali bin Isa al-Arbili 620 H 692 H Kasyf al-Ghummah Tekstual
5 Ibnu Maitsam al-Bahrani 636 H 699 H Qawa'id al-Maramal-Najah fi al-Qiyamah Rasional dan Filosofis
6 Allamah al-Hilli 648 H 726 H Kasyf al-MuradNahj al-HaqManahij al-Yaqin Rasional dan Filosofis
7 Hasan bin Sulaiman al-Hilli Hidup pada 802 H al-Muhtadhar Tekstual
8 Miqdad bin Abdullah al-Hilli 826 H al-Lawami' al-Ilahiyyah Rasional
9 Ahmad bin Fahd al-Hilli 757 H 841 H Mistis (Irfani)

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Karimi, Naqsh-e Hadits dar Estenbat-e Kalam-e Hillah, 1398 HS, hlm. 36.
  2. Karimi, Naqsh-e Hadits dar Estenbat-e Kalam-e Hillah, 1398 HS, hlm. 36; Jebraili, "Madrasah-ye Hillah", hlm. 24.
  3. Nadem, "Ruykard-haye Kalam-e va Tahavvol-afarin-e an dar Madrasah-ye Hillah", hlm. 54.
  4. Nadem, "Ruykard-haye Kalam-e va Tahavvol-afarin-e an dar Madrasah-ye Hillah", hlm. 58.
  5. Nadem, "Ruykard-haye Kalam-e va Tahavvol-afarin-e an dar Madrasah-ye Hillah", hlm. 58.
  6. al-Himmsi al-Razi, al-Munqidz min al-Taqlid, 1412 H, jld. 1, hlm. 18.
  7. Qasemi, "Sadiduddin al-Himmsi", hlm. 207.
  8. Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah (az Ashr-e Ghaibat ta Khwajah Nasir al-Tusi), 1389 HS, hlm. 83.
  9. Nadem, "Ruykard-haye Kalam-e va Tahavvol-afarin-e an dar Madrasah-ye Hillah", hlm. 58.
  10. Pakatchi, "Sadiduddin al-Himmsi", hlm. 392.
  11. Pakatchi, "Sadiduddin al-Himmsi", hlm. 393.
  12. Radhawi, "Naqsh-e Mutakalliman-e Imamiyah dar Tahkim va Touse'e 'Ilm-e Kalam dar Doure-ye Ilkhanan ba Mehuriyat-e Allamah al-Hilli", hlm. 222.
  13. Ibnu Idris, al-Sarair, 1410 H, jld. 1, hlm. 46.
  14. Radhawi, "Naqsh-e Mutakalliman-e Imamiyah dar Tahkim va Touse'e 'Ilm-e Kalam dar Doure-ye Ilkhanan ba Mehuriyat-e Allamah al-Hilli", hlm. 222.
  15. al-Hilli, Tarikh al-Hillah, 1430 H, jld. 1, hlm. 83; Jafarian, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, 1387 HS, hlm. 640 dan 653.
  16. Allamah al-Hilli, Kasyf al-Yaqin, 1411 H, hlm. 80-81; Schmidtke, Andisye-haye Kalam-e Allamah al-Hilli, 1389 HS, hlm. 24-25.
  17. Jafarian, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, 1387 HS, hlm. 640 dan 653.
  18. Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah (az Ashr-e Ghaibat ta Khwajah Nasir al-Tusi), 1389 HS, hlm. 81; Sobhani dan Rezai, "Jeryan-haye Fekri-ye Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 9.
  19. Jebraili, "Madrasah-ye Hillah", hlm. 21; Sobhani dan Rezai, "Jeryan-haye Fekri-ye Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 9.
  20. Jebraili, "Madrasah-ye Hillah", hlm. 22.
  21. Jafarian, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, 1387 HS, hlm. 640 dan 691.
  22. Sebagai contoh lihat: Schmidtke, Andisye-haye Kalam-e Allamah al-Hilli, 1389 HS, hlm. 36-38; Jafarian, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, 1387 HS, hlm. 690.
  23. Nadem, "Tatavvor va Qalamro-ye 'Ilm-e Imam dar Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 249.
  24. Jebraili, "Madrasah-ye Hillah", hlm. 24.
  25. Kashefi, Kalam-e Syiah; Mahiyat, Mokhtassat va Manabe', 1386 HS, hlm. 157; Pakatchi, "Sadiduddin al-Himmsi", jld. 21, hlm. 393.
  26. Jebraili, "Madrasah-ye Hillah", hlm. 24.
  27. Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah (az Ashr-e Ghaibat ta Khwajah Nasir al-Tusi), 1389 HS, hlm. 81-82; Audi, "Hillah", jld. 21, hlm. 311.
  28. Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 HS, jld. 6, hlm. 302; Syustari, Majalis al-Mu'minin, 1383 HS, jld. 1, hlm. 571.
  29. al-Hilli, Tarikh al-Hillah, 1430 H, jld. 1, hlm. 119.
  30. Sebagai contoh lihat: al-Hilli, Tarikh al-Hillah, 1430 H, jld. 1, hlm. 123-137.
  31. al-Hilli, Tarikh al-Hillah, 1430 H, jld. 1, hlm. 135-136.
  32. Sobhani, Rezai, "Jeryan-haye Fekri-ye Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 11.
  33. Sobhani, Rezai, "Jeryan-haye Fekri-ye Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 11.
  34. Sobhani, Rezai, "Jeryan-haye Fekri-ye Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 11.
  35. Sobhani, Rezai, "Jeryan-haye Fekri-ye Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 12-13.
  36. Sobhani, Rezai, "Jeryan-haye Fekri-ye Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 14.
  37. Sebagai contoh lihat: al-Himmsi al-Razi, al-Munqidz min al-Taqlid, 1412 H, jld. 1, hlm. 63, 136, dan 162.
  38. Muhaqqiq al-Hilli, al-Maslak fi Ushul al-Din, 1414 H, hlm. 33.
  39. Kashefi, Kalam-e Syiah; Mahiyat, Mokhtassat va Manabe', 1386 HS, hlm. 157.
  40. Kashefi, Kalam-e Syiah; Mahiyat, Mokhtassat va Manabe', 1386 HS, hlm. 158.
  41. Kashefi, Kalam-e Syiah; Mahiyat, Mokhtassat va Manabe', 1386 HS, hlm. 159.
  42. Sebagai contoh lihat: Muhaqqiq al-Tusi, Tajrid al-I'tiqad, 1407 H, hlm. 7-12.
  43. Sobhani, Rezai, "Jeryan-haye Fekri-ye Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 17.
  44. Sebagai contoh lihat: Allamah al-Hilli, Kasyf al-Murad, 1430 H, hlm. 393-394 dan 549; al-Bahrani, Qawa'id al-Maram fi 'Ilm al-Kalam, 1406 H, hlm. 51-63; Fadhel al-Miqdad, al-Lawami' al-Ilahiyyah, 1422 H, hlm. 418.
  45. Sobhani, Rezai, "Jeryan-haye Fekri-ye Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 18.
  46. Nadem, "Ruykard-haye Kalam-e va Tahavvol-afarin-e an dar Madrasah-ye Hillah", hlm. 61.
  47. Sayyid Ibnu Thawus, Kasyf al-Mahajjah li-Tsamarat al-Muhajjah, 1370 H, hlm. 23.
  48. Sobhani, Rezai, "Jeryan-haye Fekri-ye Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 18.
  49. Kashefi, Kalam-e Syiah; Mahiyat, Mokhtassat va Manabe', 1386 HS, hlm. 161.
  50. Sayyid Ibnu Thawus, Kasyf al-Mahajjah li-Tsamarat al-Muhajjah, 1370 H, hlm. 13 dan 20.
  51. Sobhani, Rezai, "Jeryan-haye Fekri-ye Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 21.
  52. al-Hilli, al-Muhtadhar, 1370 H, hlm. 7.
  53. Sobhani, Rezai, "Jeryan-haye Fekri-ye Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 23.
  54. Nadem, "Tatavvor-e Qalamro-ye 'Ilm-e Imam dar Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 255.
  55. Sebagai contoh lihat: al-Tusi, Syarh al-Isyarat wa al-Tanbihat, Penerbit al-Balaghah, jld. 3, hlm. 389; Nadem, "Tatavvor-e Qalamro-ye 'Ilm-e Imam dar Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 255.
  56. Sebagai contoh lihat: Amuli, Jami' al-Asrar wa Manba' al-Anwar, 1426 H, hlm. 380-381.
  57. Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, 1356 H, jld. 2, hlm. 57.
  58. Nadem, "Tatavvor-e Qalamro-ye 'Ilm-e Imam dar Madrasah-ye Kalam-e Hillah", hlm. 260.
  59. Kashefi, Kalam-e Syiah; Mahiyat, Mokhtassat va Manabe', 1386 HS, hlm. 157.
  60. Jebraili, "Madrasah-ye Hillah", hlm. 27-28.
  61. Jebraili, "Madrasah-ye Hillah", hlm. 26.
  62. Jebraili, "Madrasah-ye Hillah", hlm. 26.
  63. Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah (az Ashr-e Ghaibat ta Khwajah Nasir al-Tusi), 1389 HS, hlm. 348.

Catatan

Templat:Y

Daftar Pustaka

  • Al-Amuli, Sayyid Haidar. Jami' al-Asrar wa Manba' al-Anwar. Beirut, Muassasah al-Tarikh al-Arabi, 1426 H.
  • Al-Bahrani, Ibnu Maitsam. Qawa'id al-Maram fi 'Ilm al-Kalam. Qom, Maktabah Ayatullah al-Mar'ashi al-Najafi, 1406 H.
  • Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Kasyf al-Murad. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1430 H.
  • Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Kasyf al-Yaqin fi Fadha'il Amir al-Mu'minin. Teheran, Penerbit Kementerian Bimbingan, cetakan pertama, 1411 H.
  • Audi. "Hillah". Dalam Dairatul Ma'arif Bozorg-e Islami, jld. 21. Teheran, 1392 HS.
  • Fadhel al-Miqdad, Miqdad bin Abdullah. al-Lawami' al-Ilahiyyah fi al-Mabahits al-Kalamiyyah. Qom, Penerbit Kantor Tablighat Islam Hauzah Ilmiah Qom, 1422 H.
  • Al-Hilli, Ibnu Idris. al-Sarair al-Hawi li-Tahrir al-Fatawa. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan kedua, 1410 H.
  • Al-Hilli, Hasan bin Sulaiman. al-Muhtadhar. Najaf, al-Mathba'ah al-Haidariyyah, 1370 H.
  • Al-Hilli, Yusuf Karkush. Tarikh al-Hillah. Qom, al-Maktabah al-Haidariyyah, 1430 H.
  • Al-Himmsi al-Razi, Sadiduddin. al-Munqidz min al-Taqlid. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan pertama, 1412 H.
  • Hurr al-Amili, Muhammad bin al-Hasan. Bidayah al-Hidayah. Atas usaha Mohammad Ali Ansari. Qom, Nur Mutaf, 1389 HS.
  • Ibnu Arabi, Muhyiddin. Fushush al-Hikam. Kairo, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, cetakan pertama, 1356 H.
  • Jafarian, Rasul. Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran. Teheran, Penerbit Elm, 1387 HS.
  • Jebraili, Mohammad Safar. "Madrasah-ye Hillah". Faslnamah Farhang-e Ziarat, nomor 12, Mehr 1391 HS.
  • Jebraili, Mohammad Safar. Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah (az Ashr-e Ghaibat ta Khwajah Nasir al-Tusi). Qom, Penerbit Institut Riset Kebudayaan dan Pemikiran Islam, 1389 HS.
  • Karimi, Mahdi. Naqsh-e Hadits dar Estenbat-e Kalam-e Hillah. Qom, Pusat Internasional Penerjemahan dan Publikasi al-Mustafa, cetakan ketiga, 1398 HS.
  • Kashefi, Mohammad Reza. Kalam-e Syiah; Mahiyat, Mokhtassat va Manabe'. Qom, Penerbit Institut Riset Kebudayaan dan Pemikiran Islam, cetakan pertama, 1386 HS.
  • Khwansari, Mohammad Baqir. Raudhat al-Jannat. Qom, Penerbit Isma'iliyan, cetakan pertama, 1390 HS.
  • Muhaqqiq al-Hilli, Jafar bin Hasan. al-Maslak fi Ushul al-Din. Masyhad, Astana Quds Razavi, 1414 H.
  • Muhaqqiq al-Tusi, Khwajah Nasiruddin. Tajrid al-I'tiqad. Teheran, Maktab al-A'lam al-Islami, 1407 H.
  • Muhaqqiq al-Tusi, Khwajah Nasiruddin. Syarh al-Isyarat wa al-Tanbihat. Penerbit al-Balaghah, Qom, cetakan pertama, 1375 HS.
  • Nadem, Mohammad Hasan. "Ruykard-haye Kalam-e va Tahavvol-afarin-e an dar Madrasah-ye Hillah". Dua-bulanan Syiah-pajushi, nomor 8, Azar 1395 HS.
  • Pakatchi, Ahmad. "Sadiduddin al-Himmsi". Dalam Dairatul Ma'arif Bozorg-e Islami, jilid 21. Teheran, 1392 HS.
  • Radhawi, Rasul. "Naqsh-e Mutakalliman-e Imamiyah dar Tahkim va Touse'e 'Ilm-e Kalam dar Doure-ye Ilkhanan ba Mehuriyat-e Allamah al-Hilli". Faslnamah Kalam-e Islami, nomor 104, Dey 1396 HS.
  • Sayyid Ibnu Thawus. Kasyf al-Mahajjah li-Tsamarat al-Muhajjah. Najaf, al-Mathba'ah al-Haidariyyah, 1370 H.
  • Schmidtke, Sabine. Andisye-haye Kalam-e Allamah al-Hilli. Terjemahan: Ahmad Namayi. Masyhad, Penerbit Astana Quds Razavi, 1389 HS.
  • Syustari, Sayyid Nurullah. Majalis al-Mu'minin. Teheran, Penerbit Islamiyyah, 1383 HS.
  • Sobhani, Mohammad Taqi dan Rezai, Mohammad Jafar. "Jeryan-haye Fekri-ye Madrasah-ye Kalam-e Hillah". Faslnamah Tahqiqat-e Kalam-e, nomor 28, Khordad 1399 HS.