Lompat ke isi

Konsep:Kaffarah Qasam

Dari wikishia

Kaffarah Qasam adalah hukuman yang ditetapkan bagi pelanggaran Sumpah yang terdiri dari memerdekakan seorang budak, atau memberi makan sepuluh orang Fakir, atau memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin, dan jika tidak mampu, maka wajib melakukan Puasa selama tiga hari berturut-turut.

Kaffarah qasam menjadi Wajib dengan syarat bahwa sumpah tersebut diucapkan atas nama Tuhan, dilakukan dalam keadaan memiliki Akal dan Baligh, serta pelaksanaan sumpah tersebut merupakan hal yang memungkinkan. Kaffarah membatalkan sumpah dalam keadaan Ihram adalah dengan mengurbankan seekor domba, dan untuk kedua kalinya adalah mengurbankan seekor sapi atau unta.

Kaffarah untuk beberapa tindakan lainnya, seperti mencakar wajah hingga berdarah saat kematian kerabat, juga sama dengan kaffarah qasam.

Konsep

Kaffarah qasam adalah balasan yang ditentukan karena melanggar isi Sumpah atau qasam. Jika seseorang bersumpah dengan syarat-syarat tertentu kemudian tidak melaksanakannya, ia harus melakukan salah satu dari tindakan memerdekakan seorang budak, memberi makan sepuluh orang Fakir, atau memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin. Jika seseorang tidak mampu melakukan satu pun dari ketiga tindakan tersebut, ia harus melakukan Puasa selama tiga hari berturut-turut.[1]

Kaffarah membatalkan sumpah telah dijelaskan dalam Al-Qur'an;[2]Templat:Y Sebagaimana para mufasir pada ayat-ayat awal Surah At-Tahrim mengisyaratkan tentang kisah sumpah Nabi saw dan tantangan beliau dengan para istri-istri beliau mengenai masalah ini, yang pada akhirnya berujung pada pembatalan sumpah oleh Rasulullah saw.[3]

Syarat-syarat

Templat:Utama Pembayaran Kaffarah karena melanggar sumpah menjadi Wajib ketika syarat-syarat berikut terpenuhi:

  1. Sumpah diucapkan dengan syarat-syarat umumnya. Artinya, sumpah harus dilakukan dengan nama-nama Allah Swt, dan orang yang bersumpah haruslah Baligh serta berakal, bersumpah atas dasar kehendak dan pilihan sendiri, serta isi sumpah tersebut memiliki kemampuan dan kemungkinan untuk dilaksanakan.[4]
  2. Sumpah tersebut merupakan jenis komitmen untuk melakukan atau meninggalkan suatu pekerjaan di masa depan; oleh karena itu, melanggar sumpah yang bertujuan untuk penekanan atas terjadinya suatu perkara di masa lalu atau masa depan, serta sumpah yang disertai dengan permintaan kepada orang lain, tidak akan dikenakan Kaffarah.[5]
  3. Pelanggaran sumpah tidak didasari oleh lupa atau keterpaksaan; oleh karena itu, jika seseorang terpaksa melanggar sumpah karena alasan-alasan tersebut, maka kaffarah tidak menjadi tanggungannya.[6]

Hukum-hukum

Untuk setiap kewajiban yang telah ditentukan dalam kaffarah qasam, terdapat hukum-hukumnya dalam kasus-kasus lain serta tugas bagi mukalaf jika tidak mampu melaksanakan tiga balasan awal:

Memberi Makan Sepuluh Orang Miskin

Dalam Al-Qur'an al-Karim, hanya dicukupkan pada menjamu para orang miskin dengan jenis makanan yang sama dengan yang diberikan seseorang kepada keluarganya.[7] Dalam fatwa beberapa Marja Taklid, disyaratkan pemberian makanan pokok masyarakat seperti gandum, jelai, jagung, dan semisalnya kepada Fakir.[8] Karena alasan itulah, dikatakan bahwa dalam membayar kaffarah harus mempertimbangkan makanan pokok (qut ghalib).[9] Sejumlah fukaha juga dengan bersandar pada ihtiyat wajib, membatasi pemberian makan pada roti, gandum, atau tepung.[10]

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa jika memungkinkan, tidak hanya mencukupkan pada roti saja, melainkan ditambahkan lauk pauk, di mana kondisi terbaiknya adalah daging, kemudian pada tahap selanjutnya adalah cuka, dan minimal adalah garam.[11] Beberapa peneliti kontemporer berpendapat bahwa jenis pemberian makan ini berkaitan dengan masa di mana tambahan-tambahan tersebut seperti garam dan cuka dikonsumsi sebagai lauk pauk, dan tidak dapat menganggap riwayat-riwayat ini mencakup masa sekarang.[12]

Kadar Wajib Memberi Makan

Kadar Wajib dalam memberi makan adalah satu mud (750 gram) makanan;[13] sebagaimana dalam sebuah riwayat dari Imam Baqir as hal ini telah diisyaratkan.[14] Syekh Mufid meyakini bahwa pemberian makan harus sedemikian rupa sehingga cukup untuk mengenyangkan orang miskin selama satu hari penuh.[15] Syekh Thusi juga menganggap memberi makan adalah dengan memberikan dua mud makanan, yang jika tidak mampu maka cukup satu mud.[16] Dari Imam Shadiq as juga dalam menjelaskan pemberian makan kepada orang-orang yang membutuhkan, terkadang disebutkan pemberian satu mud makanan[17] dan terkadang disebutkan pemberian makanan yang setara dengan konsumsi harian keluarga orang itu sendiri.[18]

Memberi Pakaian Sepuluh Orang Fakir

Makna memberi pakaian dalam kaffarah qasam adalah memberikan dua potong pakaian seperti baju dan celana kepada setiap orang fakir, dan jika tidak mampu, satu jenis pakaian saja sudah cukup; sebagaimana tidak diwajibkan pula pakaian tersebut dalam keadaan sudah dijahit.[19] Namun secara urf haruslah terhitung sebagai pakaian.[20] Dalam riwayat juga terkadang diisyaratkan pemberian pakaian kepada orang-orang fakir dengan dua pakaian[21] dan terkadang penyerahan satu pakaian dianggap sebagai perwujudan dari memberi pakaian.[22]

Ketidakmampuan Membayar Kaffarah

Jika tidak mampu melaksanakan salah satu dari tiga kaffarah awal, mukalaf harus melakukan Puasa selama tiga hari berturut-turut;[23] sebagaimana dalam riwayat Imam Shadiq as juga hal ini telah diisyaratkan.[24] Oleh karena itu, jika di tengah-tengah hari puasa tersebut terjadi jeda, maka ia harus memulai kembali puasanya dari awal.[25] Pada dasarnya, melakukan puasa secara berturut-turut disyaratkan dalam seluruh kaffarat.[26]

Mulla Ahmad Naraqi meyakini jika mukalaf tidak mampu melaksanakan satu pun dari ketentuan kaffarah dan bahkan tidak mampu untuk berpuasa, maka ia harus melakukan Istighfar.[27]

Kaffarah Sumpah dalam Kasus Lain

Kaffarah sumpah yang diucapkan dalam keadaan Ihram adalah berbeda; jika seseorang dalam keadaan ihram bersumpah palsu, ia harus menyembelih seekor domba sebagai kaffarah kurban dan jika ia mengulangi sumpah palsu tersebut sedemikian rupa sehingga diucapkan tanpa jeda dengan sumpah pertama, maka menyembelih seekor sapi atau unta menjadi wajib baginya.[28]

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa barangsiapa bersumpah demi sebagian surah-surah Al-Qur'an, jika ia melanggarnya maka ia harus membayar kaffarah sebanyak jumlah ayat surah tersebut.[29]

Tambahan

Dalam beberapa kasus, melakukan tindakan tertentu dianggap layak untuk membayar kaffarah qasam; sebagai contoh, seorang wanita yang dalam musibah kematian orang-orang terkasihnya mencabuti rambutnya atau mencakar wajahnya sedemikian rupa hingga berdarah, atau seorang pria yang dalam musibah kematian anak atau istrinya merobek pakaiannya.[30] Juga berdasarkan fatwa beberapa marja, jika seseorang bersumpah untuk berlepas diri dari Allah Swt dan para Maksumin as, ia harus memberikan kaffarah Zhihar dan jika tidak mampu, maka berdasarkan ihtiyat, ia harus membayar kaffarah qasam.[31]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Mohammadi Khorasani, Syarh Tabshirah al-Muta'allimin, 1376 HS, jld. 2, hlm. 281; Naraqi, Rasail va Masail, 1422 H, jld. 1, hlm. 247.
  2. Surah Al-Ma'idah, ayat 89.
  3. Qomi, Tafsir al-Qomi, 1404 H, jld. 2, hlm. 376; Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 10, hlm. 471-472.
  4. Mohammadi Khorasani, Syarh Tabshirah al-Muta'allimin, 1376 HS, jld. 2, hlm. 277–282; Imam Khomeini, Taudhih al-Masail Muhasya, 1424 H, jld. 2, hlm. 623-627.
  5. Mohammadi Khorasani, Syarh Tabshirah al-Muta'allimin, 1376 HS, jld. 2, hlm. 276; Imam Khomeini, Taudhih al-Masail Muhasya, 1424 H, jld. 2, hlm. 623.
  6. Imam Khomeini, Taudhih al-Masail Imam Khomeini, 1426 H, hlm. 568.
  7. Surah Al-Ma'idah, ayat 89.
  8. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1409 H, jld. 2, hlm. 130.
  9. Mohammadi Khorasani, Syarh Tabshirah al-Muta'allimin, 1376 HS, jld. 2, hlm. 292.
  10. Kabuli, Taudhih al-Masail-e Fayyadh, 1426 H, hlm. 598.
  11. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 7, hlm. 453; Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 8, hlm. 296.
  12. Abedini, Derangi dar Ciegune-ye Pardakht-e Kaffarat (Tinjauan tentang Cara Membayar Kaffarah), 1382 HS, hlm. 142.
  13. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1409 H, jld. 2, hlm. 129.
  14. Kumpulan Penulis, Ushul Sitte Asyar, 1363 HS, hlm. 24; Asy'ari Qomi, Al-Nawadir, 1408 H, hlm. 58.
  15. Mufid, Al-Muqni'ah, 1413 H, hlm. 556.
  16. Thusi, Al-Mabsut fi Fiqh al-Imamiyyah, 1387 H, jld. 5, hlm. 177.
  17. Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 1, hlm. 337.
  18. Al-Amili, Wasa'il asy-Syiah, 1409 H, jld. 22, hlm. 378.
  19. Mohammadi Khorasani, Syarh Tabshirah al-Muta'allimin, 1376 HS, jld. 2, hlm. 238-239.
  20. Jaziri, Abdurrahman dan lainnya, Al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah wa Madzhab Ahlulbait as, 1419 H, jld. 2, hlm. 120.
  21. Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 1, hlm. 337.
  22. Kumpulan Penulis, Ushul Sitte Asyar, 1363 HS, hlm. 24; Asy'ari Qomi, Al-Nawadir, 1408 H, hlm. 58.
  23. Imam Khomeini, Taudhih al-Masail Muhasya, 1424 H, jld. 2, hlm. 623.
  24. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 4, hlm. 140.
  25. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1409 H, jld. 2, hlm. 128.
  26. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1409 H, jld. 2, hlm. 128.
  27. Naraqi, Tadzkerah al-Ahbab, 1425 H, hlm. 140.
  28. Bahjat, Manasik-e Haj va Umrah, 1424 H, hlm. 105.
  29. Shaduq, Man La Yahdhur, 1413 H, jld. 4, hlm. 9; Shaduq, Al-Amali, 1376 HS, hlm. 425.
  30. Imam Khomeini, Taudhih al-Masail Muhasya, 1424 H, jld. 1, hlm. 347–348; Hashemi Shahroudi, Farhang-e Fiqh Mutabiq Madzhab Ahlulbait as, 1426 H, jld. 2, hlm. 240-241; Majlisi, Lawami' Shahib-qurani (Syarh-e Faqih), 1414 H, jld. 2, hlm. 437.
  31. Sya'rani, Tabshirah al-Muta'allimin (Terjemahan dan Syarah), 1419 H, jld. 2, hlm. 620.

Catatan

Templat:Y

Daftar Pustaka

  • Abedini, Ahmad. Derangi dar Ciegune-ye Pardakht-e Kaffarat (Tinjauan tentang Cara Membayar Kaffarah). Jurnal Fiqh, No. 37-38, 1382 HS.
  • Al-Amili, Muhammad bin al-Hasan. Tafshil Wasa'il asy-Syiah ila Tahshil Masail asy-Syari'ah. Qom, Muassasah Alulbait as, 1409 H.
  • Asy'ari Qomi, Ahmad bin Muhammad. Al-Nawadir. Riset: Madrasah Imam Mahdi (af). Qom, Madrasah al-Imam al-Mahdi (af), 1408 H.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-Ayyasyi. Riset: Hashem Rasuli Mahallati. Teheran, al-Mathba'ah al-Ilmiyyah, 1380 H.
  • Bahjat, Mohammad Taqi. Manasik-e Haj va Umrah. Qom, Penerbit Syafaq, 1424 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah Musawi. Tahrir al-Wasilah. Qom, Dar al-Ilm, 1409 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah Musawi. Taudhih al-Masail (Muhasya). Riset: Sayyid Mohammad Hossein Bani-Hashemi. Qom, Daftar-e Entesyarat-e Islami, 1424 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah Musawi. Taudhih al-Masail. Riset: Muslim Qolipour Gilani. Tanpa kota, 1426 H.
  • Jaziri, Abdul Rahman; Gharavi, Sayyid Muhammad; Mazih, Yasir. Al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah wa Madzhab Ahlulbait as Mutabiq Madzhab Ahlulbait as. Beirut, Dar al-Tsaqalain, 1419 H.
  • Kumpulan Penulis. Ushul Sitte Asyar. Qom, Dar al-Syabastari li al-Mathbu'at, 1363 HS.
  • Kabuli, Mohammad Ishaq Fayyadh. Taudhih al-Masail-e Fayyadh. Qom, Penerbit Majlisi, 1426 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Riset: Ali Akbar Ghaffari. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Majlisi, Mohammad Taqi. Lawami' Shahib-qurani (Syarh-e Faqih). Qom, Muassasah Isma'iliyan, cetakan kedua, 1414 H.
  • Mohammadi Khorasani, Ali. Syarh Tabshirah al-Muta'allimin. Qom, Dar al-Fikr, cetakan kedua, 1376 HS.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Muqni'ah. Qom, Al-Mu'tamar al-Alami li Alfiyyah al-Syekh al-Mufid, 1413 H.
  • Naraqi, Ahmad. Rasail va Masail. Qom, Kongres Naraqiyain Mulla Mahdi dan Mulla Ahmad, 1422 H.
  • Naraqi, Ahmad. Tadzkerah al-Ahbab. Riset: Pajuhisygah-e Ulum va Farhang-e Islami. Qom, Penerbit Daftar-e Tablighat-e Islami, 1425 H.
  • Qomi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qomi. Riset: Tayyib Musawi Jazairi. Qom, Dar al-Kitab, cetakan ketiga, 1404 H.
  • Syahroudi, Sayyid Mahmoud Hashemi. Farhang-e Fiqh Mutabiq Madzhab Ahlulbait as (Kamus Fikih Sesuai Madzhab Ahlulbait as). Qom, Muassasah Dairatul Ma'arif Fiqh Islami, 1426 H.
  • Sya'rani, Abul Hasan. Terjemahan dan Syarah Tabshirah al-Muta'allimin fi Ahkam al-Din. Teheran, Mansyurat Islamiyyah, cetakan kelima, 1419 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Amali. Teheran, Ketabchi, cetakan sixth, 1376 HS.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Qom, Daftar-e Entesyarat-e Islami, 1413 H.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Naser Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thusi, Muhammad bin al-Hasan. Tahdzib al-Ahkam. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Thusi, Muhammad bin al-Hasan. Al-Mabsut fi Fiqh al-Imamiyyah. Riset: Sayyid Mohammad Taqi Kasyfi. Teheran, al-Maktabah al-Murtadhawiyyah, cetakan ketiga, 1387 H.