Lompat ke isi

Konsep:Ibra

Dari wikishia

Ibra' (pembebasan) adalah pelepasan hak oleh kreditur atas hak yang menjadi tanggungan debitur. Ibra' merupakan salah satu penyebab gugurnya kewajiban yang hasilnya adalah pembebasan tanggungan (zimmah) debitur dari utang dan kewajiban kepada pemilik hak. Para fukaha menggunakan ibra' dalam dua konsep: isqath (pelepasan hak) dan tamlik (menjadikan seseorang sebagai pemilik sesuatu) serta tidak menganggap rida atau penerimaan dari debitur sebagai suatu keharusan.

Ibra' memiliki hakikat sepihak dan ika' (pernyataan sepihak) yang, karena syarat-syarat dan karakteristik khususnya, berbeda dari istilah-istilah serupa lainnya seperti afw (memaafkan), i'radh (berpaling), dan hibah. Ruang lingkup ibra' dalam fikih terdapat pada bab-bab seperti dhaman (jaminan), kafalah (tanggungan), dan nikah. Melakukan ibra' atas hak yang belum terwujud adalah batil, dan pengambilan pembebasan (surat pernyataan bebas tuntutan) oleh dokter dari pasien sebelum pengobatan tidak termasuk dalam contoh ibra' ma lam yajib (pelepasan apa yang belum diwajibkan).

Definisi dan Kedudukan

Ibra' adalah pelepasan pemilik hak dari hak yang berada dalam tanggungan debitur dan hasilnya adalah gugurnya kewajiban dari tanggungan debitur.[1] Ibra' dalam perkataan fukaha Imamiyah disebutkan berpusat pada beberapa karakteristiknya seperti isqath al-haqq (pelepasan hak)[2], isqath mal (pelepasan harta)[3], dan isqath ma fi adz-dzimmah (pelepasan apa yang ada dalam tanggungan)[4]; namun semuanya sepakat bahwa ibra' adalah di antara sebab-sebab gugurnya kewajiban yang hasilnya adalah pembebasan tanggungan debitur oleh pemilik hak.[5] Dalam kitab-kitab fikih, hukum-hukum ibra' tidak disebutkan secara independen dan terpisah dalam satu bab; melainkan dikemukakan dalam konteks penjelasan mengenai perbedaan ibra' dengan transaksi-transaksi lain pada bab-bab Hibah,[6] Kafalah,[7] Hawalah,[8] Dhaman,[9] dan nikah.[10] Para fukaha menganggap ibra' sebagai akad lazim (tidak dapat dibatalkan dan tidak diperbolehkannya rujuk di dalamnya)[11] dan tidak memperbolehkan penetapan khiyar (hak opsi) di dalamnya (bahkan khiyar syarat).[12]

Sistem hukum Iran juga, dengan mengikuti fikih Imamiyah, telah menganggap ibra' sebagai ika'.[13]

Hakikat Ibra'

Terkait hakikat ibra', dua masalah dikaji oleh para fukaha. Pertama, apakah hakikat ibra' itu isqath (pengguguran) atau tamlik (pemindahan hak milik)? Kedua, apakah ibra' itu sebuah akad atau ika'?

Mayoritas fukaha Imamiyah memandang hakikat ibra' sebagai isqath.[14] Namun asy-Syahid al-Awwal dalam kitab al-Qawa'id wa al-Fawa'id menganggap ibra' berada di antara isqath dan tamlik.[15]

Para fukaha menganggap ibra' sebagai ika' (sejenis sighat syar'i sepihak yang hanya terwujud dengan kehendak pemilik hak dan tidak memerlukan lafal-lafal penerimaan),[16] yang mana dalam hal ini hasilnya adalah isqath hak (yaitu menghilangkan hak, baik yang bersifat finansial maupun non-finansial[17]) dan keridaan serta penerimaan debitur tidak berperan dalam perwujudannya.[18]

Bertentangan dengan pendapat mayoritas, sebagian fukaha seperti Syaikh ath-Thusi,[19] Ibnu Zuhrah,[20] Ibnu Idris,[21] al-Baihaqi an-Naisaburi al-Kaidari seorang fakih, sastrawan, dan penyair abad keenam Hijriah,[22] memandang ibra' sebagai sebuah akad (kontrak dua pihak yang memerlukan ijab dan kabul dari kedua belah pihak), yang mana dalam hal ini hasilnya adalah tamlik utang (pemilik hak mengeluarkan haknya dari kepemilikannya dan memindahkannya menjadi milik orang yang menanggung utang dan debitur) dan penerimaan debitur dalam perwujudannya adalah sebuah keharusan.[23]

Pendapat ketiga juga telah dikemukakan oleh ar-Rawandi, seorang mufasir dan salah satu murid Syaikh ath-Thabarsi pada abad keenam Hijriah dalam kitab Fiqh al-Qur'an, yaitu keraguan antara apakah ibra' itu adalah akad atau ika'.[24]

Perbedaan Ibra' dengan Konsep-konsep Serupa

Dalam teks-teks fikih, selain ibra', kata-kata seperti afw (memaafkan) dan hibah juga digunakan untuk isqath hak, yang mana memiliki kaitan dan kemiripan dengan ibra', sehingga pengkajian atas lafal-lafal tersebut bersama ibra' tampaknya menjadi suatu keharusan.

  • Afw: Konsep afw bersifat umum dan mencakup hak yang ditetapkan di dalam zimmah (tanggungan) maupun di luar zimmah, seperti kisas atau kazaf, berbeda dengan ibra' yang dikhususkan pada hak-hak yang ditetapkan di dalam zimmah.[25]
  • I'radh: I'radh berkaitan dengan hak-hak kebendaan (bergerak dan tidak bergerak) seperti hak kepemilikan dan hak pakai (intifa'), sedangkan ibra' hanya dikhususkan pada hak-hak utang (daini) dan personal (urusan keuangan dan kewajiban-kewajiban).[26]
  • Hibah: Hibah adalah akad[27] dan dikhususkan pada benda fisik eksternal,[28] sedangkan ibra' adalah ika'[29] dan dikhususkan pada hak-hak utang dan personal.[30] Selain itu, hibah disyaratkan untuk tidak memiliki niat kurbah (mendekatkan diri kepada Allah), dan jika disertai dengan niat kurbah, maka ia dianggap sebagai sedekah,[31] sementara ibra' tidak disyaratkan untuk tidak memiliki niat kurbah.[32]

Sebagian fukaha meyakini bahwa ibra' bersyarat imbalan (mu'awwadh) adalah sahih, dan pihak yang melakukan ibra' dapat menerima hibah dari debitur atau menerima ganti (imbalan) sebagai imbalan dari ibra' tersebut.[33] Sekelompok fukaha juga meyakini bahwa syarat adanya ganti (imbalan) akan mengeluarkan ibra' dari bentuk ibra' dan mengubahnya menjadi bentuk sulh (perdamaian). Dalam hal ini, apa yang terjadi, meskipun tidak batil, namun bukanlah ibra', melainkan sulh.

  • Sedekah: Sedekah dalam istilah fukaha merujuk pada dua makna: makna umum (setiap pembayaran finansial yang dilakukan demi keridaan Allah, baik yang wajib seperti zakat, fitrah, kafarah, nazar, maupun yang mustahab)[34] dan makna khusus (yaitu pemberian harta secara sukarela dan pemindahmilikannya kepada orang lain dengan niat kurbah).[35] Menurut makna pertama, ibra' mencakup sedekah, namun dengan mempertimbangkan makna khususnya, ia tidak mencakup ibra'.[36]

Contoh-contoh Fikih

Para fukaha menyebutkan kasus-kasus seperti ibra' mahar dan ibra' sisa masa dalam nikah mut'ah (sementara) sebagai contoh-contoh ibra':

Ibra' Mahar

! Artikel terkait untuk kategori ini adalah Mahar.

Mengingat bahwa mahar menjadi milik istri melalui akad, jika mahar tersebut berupa benda fisik, maka pelepasannya (afw) adalah melalui jalur hibah; namun jika berupa utang, pelepasannya terwujud melalui jalur ibra' dan tidak memerlukan penerimaan (kabul).[37] Istri dapat menyedekahkan (memberikan) maharnya, jadi jika mahar berada dalam bentuk utang di dalam zimmah (tanggungan) suami, maka hasil dari pelepasannya itu adalah ibra' dan ia akan memiliki hukum-hukum ibra'.[38]

Ibra' Masa dalam Nikah Mut'ah

! Artikel terkait untuk kategori ini adalah Nikah Mut'ah.

Kapan pun suami menghendaki, ia dapat melepaskan sisa masa nikah mut'ah kepada istrinya tanpa menetapkan syarat apa pun, tindakan ini disebut sebagai badzl (pemberian) atau ibra' masa (pembebasan masa).[39] Namun sebagian fukaha seperti Sayyid Muhsin al-Hakim (wafat: 1390 H) memandang ibra' bersyarat sebagai sahih dan memandang syaratnya sebagai batil.[40] Akan tetapi, al-Khoei (wafat: 1371 HS) memandang baik ibra' bersyarat maupun syaratnya sebagai sahih.[41]

Ibra' Nafkah Istri

! Artikel terkait untuk kategori ini adalah Nafkah.

Para fukaha bersepakat mengenai kesahihan ibra' nafkah istri yang tidak nusyuz (patuh) terkait dengan jangka waktu yang telah berlalu;[42] namun mengenai ibra' nafkah istri untuk masa depan, terdapat perbedaan pendapat di antara para fukaha, dikarenakan tidak pastinya kelangsungan tamkin (kepatuhan) atau asal hubungan suami istri tersebut.[43]

Ibra' pada Penyakit yang Berujung pada Kematian

Para fukaha berbeda pendapat mengenai tindakan tabarru' (pemberian harta atau manfaat kepada orang lain dengan niat kebaikan dan tanpa mengharapkan sesuatu sebagai imbalannya) dari orang sakit yang mendekati kematian, seperti hibah, wakaf, sedekah, ibra', dan sulh (perdamaian) tanpa imbalan. Sebagian fukaha seperti Allamah al-Hilli hanya mengizinkan (tabarru') hingga sepertiga dari harta pasien yang penyakitnya berujung pada kematian;[44] namun sebagian lain seperti Imam Khomeini menganggap transaksi-transaksi tabarru' dari pasien yang penyakitnya berujung pada kematian adalah sama dengan transaksi-transaksi pada saat sehat dan bugar.[45]

Contoh-contoh Lain

Ibra' juga telah dikaji oleh para fukaha dalam pemindahan harta dari tanggungan debitur ke tanggungan pihak penjamin (dhamin)[46] dan pihak yang menanggung (kafil) di hadapan pemilik hak;[47] serta kesunahan ibra' atas zimmah mayit dari utang;[48] dan pengambilan surat pembebasan tuntutan (surat persetujuan tindakan medis) oleh dokter sebelum memulai pengobatan dari pasien atau walinya.[49]

Kaidah Isqath Ma Lam Yajib

Ibra' menjadi sahih ketika ada utang, dan para fukaha menyebut pelepasan atas utang yang belum terwujud dengan sebutan isqath ma lam yajib (pelepasan apa yang belum diwajibkan).[50] Dalam fikih Imamiyah, terdapat dua pandangan mengenai masalah ini: Mayoritas fukaha memandang bahwa ibra' ma lam yajib (meniadakan sesuatu yang belum terwujud) adalah batil[51] dan meyakini bahwa terwujudnya (aktualisasi) dari tanggungan (isytighal dzimmah) (memikul beban kewajiban finansial atau non-finansial) adalah syarat sahnya ibra',[52] dan Fakhrul Muhaqqiqin telah mengklaim adanya ijmak dalam permasalahan ini.[53] Sebaliknya, Muqaddas Ardabili,[54] Syaikh al-Anshari,[55] dan al-Khoei,[56] tidak menganggap aktualisasi tanggungan sebagai sebuah syarat, dan ragu mengenai hal tersebut.

Dalam ungkapan-ungkapan fikih, berbagai contoh telah disebutkan sebagai ibra' ma lam yajib;[57] namun, pengambilan persetujuan pembebasan tuntutan dari pasien dan syarat ketiadaan jaminan (dhaman) jika terjadi suatu kecelakaan, sebelum pengobatan dilakukan,[58] berdasarkan sebuah riwayat[59] dan ijmak,[60] tidak dianggap sebagai contoh-contoh ibra' ma lam yajib.

Catatan Kaki

  1. Asy-Syahid ats-Tsani. Ar-Raudhah al-Bahiyyah. 1410 H. jld. 3. hlm. 193.
  2. Morvarid. Al-Yanabi' al-Fiqhiyyah. 1410 H. jld. 18. hlm. 54; Asy-Syahid ats-Tsani. Ar-Raudhah al-Bahiyyah. 1410 H. jld. 3. hlm. 193.
  3. Allamah al-Hilli. Tadzkirah al-Fuqaha. 1425 H. jld. 14. hlm. 305.
  4. Muhaqqiq al-Hilli. Syara'i' al-Islam. 1408 H. jld. 4. hlm. 1015; Imam Khomeini. Tahrir al-Wasilah. Dar al-'Ilm. 1421 H. hlm. 552.
  5. Sajjadi. Farhang-e Ma'arif-e Eslami (Kamus Pengetahuan Islam). 1366 HS. jld. 1. hlm. 34.
  6. Muhaqqiq al-Hilli. Syara'i' al-Islam. 1408 H. jld. 2. hlm. 179.
  7. Allamah al-Hilli. Tabshirah al-Muta'allimin. 1411 H. hlm. 132.
  8. Al-Bahrani. Al-Hada'iq an-Nadhirah. Dar ath-Thiba'ah. jld. 2. hlm. 50.
  9. An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 26. hlm. 127 dan 128.
  10. Al-Hakim. Minhaj ash-Shalihin. 1410 H. jld. 2. hlm. 307; Al-Khoei. Minhaj ash-Shalihin. Mu'assasah al-Khoei. jld. 2. hlm. 290.
  11. Syaikh ath-Thusi. Al-Mabsuth. 1387 H. jld. 2. hlm. 80; Ibnu Barraj. Al-Muhadzdzab. 1406 H. jld. 1. hlm. 354.
  12. Syaikh al-Anshari. Al-Makasib. 1415 H. jld. 5. hlm. 148; An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 23. hlm. 64.
  13. Syahidi. Suquth-e Ta'ahhudat (Gugurnya Kewajiban-kewajiban). 1390 HS. jld. 5. hlm. 132.
  14. Sayyid Murtadha. Al-Intishar. 1415 H. hlm. 271; Syaikh ath-Thusi. Al-Mabsuth. 1387 H. jld. 2. hlm. 402; Allamah al-Hilli. Syara'i' al-Islam. 1408 H. jld. 2. hlm. 276; Al-Khoei. Mishbah al-Faqahah. 1417 H. jld. 6. hlm. 270.
  15. Asy-Syahid al-Awwal. Al-Qawa'id wa al-Fawa'id. 1400 H. jld. 1. hlm. 292.
  16. Al-Husaini al-'Amili. Miftah al-Karamah fi Syarh Qawa'id al-'Allamah. Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi. jld. 22. hlm. 110 dan 11; Asy-Syahid ats-Tsani. Masalik al-Afham. 1413 H. jld. 6. hlm. 15; Muhaqqiq Sabzawari. Kifayah al-Ahkam. 1423 H. jld. 2. hlm. 27; An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 28. hlm. 165.
  17. Anshari. Danesynameh Huquq Khususi (Ensiklopedia Hukum Privat). 1384 HS. jld. 1. hlm. 272.
  18. Asy-Syahid ats-Tsani. Ar-Raudhah al-Bahiyyah. 1410 H. jld. 3. hlm. 193.
  19. Syaikh ath-Thusi. Al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyyah. 1387 H. jld. 3. hlm. 314.
  20. Ibnu Zuhrah. Ghaniyyah an-Nuzu. Mu'assasah al-Imam ash-Shadiq (as). hlm. 301.
  21. Ibnu Idris. As-Sara'ir. 1410 H. jld. 3. hlm. 176.
  22. al-Baihaqi an-Naisaburi al-Kaidari. Ishbah asy-Syi'ah. 1416 H. hlm. 350.
  23. Ibnu Idris. As-Sara'ir. 1410 H. jld. 3. hlm. 176.
  24. Ar-Rawandi. Fiqh al-Qur'an. 1405 H. jld. 2. hlm. 295.
  25. Lihat: Asy-Syahid ats-Tsani. Masalik al-Afham. 1413 H. jld. 15. hlm. 310 dan 311.
  26. Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami. Mausu'ah al-Fiqh al-Islami. 1423 H. jld. 2. hlm. 313.
  27. Al-Husaini al-'Amili. Miftah al-Karamah. Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi. jld. 9. hlm. 155.
  28. Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami. Mausu'ah al-Fiqh al-Islami. 1423 H. jld. 2. hlm. 314.
  29. An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 28. hlm. 165.
  30. Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami. Mausu'ah al-Fiqh al-Islami. 1423 H. jld. 2. hlm. 314.
  31. Rohani. Fiqh ash-Shadiq (as). 1412 H. jld. 20. hlm. 298.
  32. Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami. Mausu'ah al-Fiqh al-Islami. 1423 H. jld. 2. hlm. 314.
  33. Ibnu Miftah. Syarh al-Azhar. 1357 H. jld. 4. hlm. 299.
  34. Ibnu Sa'id. Nuzhah an-Nazhir. 1394 H. hlm. 48-52.
  35. Muhaqqiq al-Hilli. At-Tanqih ar-Ra'i'. 1404 H. jld. 2. hlm. 337.
  36. Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami. Mausu'ah al-Fiqh al-Islami. 1423 H. jld. 2. hlm. 314.
  37. Asy-Syahid ats-Tsani. Ar-Raudhah al-Bahiyyah. 1410 H. jld. 5. hlm. 355.
  38. Allamah al-Hilli. Tahrir al-Ahkam. 1420 H. jld. 3. hlm. 579; Asy-Syahid ats-Tsani. Masalik al-Afham. 1413 H. jld. 8. hlm. 270-273; Sistani. Minhaj ash-Shalihin. 1417 H. jld. 3. hlm. 98.
  39. Muhaqqiq Damad. Qawa'id Fiqh Bakhsy-e Madani 2 (Kaidah-kaidah Fikih Bagian Perdata 2). 1380 HS. hlm. 260.
  40. Al-Hakim. Minhaj ash-Shalihin. 1410 H. jld. 2. hlm. 289.
  41. Al-Khoei. Minhaj ash-Shalihin. Mu'assasah al-Khoei. jld. 2. hlm. 272.
  42. Al-Hakim. Minhaj ash-Shalihin. 1410 H. jld. 2. hlm. 307; Al-Khoei. Minhaj ash-Shalihin. Mu'assasah al-Khoei. jld. 2. hlm. 290; Vahid Khorasani. Minhaj ash-Shalihin. 1428 H. jld. 3. hlm. 329; Tabrizi. Al-Masa'il al-Muntakhabah. 1427 H. hlm. 303.
  43. Thabathaba'i Qomi. Mabani Minhaj ash-Shalihin. 1426 H. hlm. 322.
  44. Allamah al-Hilli. Tabshirah al-Muta'allimin. 1411 H. hlm. 120; Rohani. Fiqh ash-Shadiq (as). 1412 H. jld. 20. hlm. 113 dan 114.
  45. Imam Khomeini. Tahrir al-Wasilah. Dar al-'Ilm. jld. 2. hlm. 22 dan 23; Al-Hakim. Minhaj ash-Shalihin. 1410 H. jld. 2. hlm. 235; Al-Khoei. Minhaj ash-Shalihin. Mu'assasah al-Khoei. jld. 2. hlm. 229.
  46. Fakhrul Muhaqqiqin. Idhah al-Fawa'id. 1387 H. jld. 2. hlm. 80; An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 26. hlm. 127.
  47. Imam Khomeini. Tahrir al-Wasilah. Dar al-'Ilm. jld. 2. hlm. 37.
  48. Allamah al-Hilli. Tadzkirah al-Fuqaha. 1425 H. jld. 13. hlm. 10.
  49. An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 43. hlm. 46 dan 47.
  50. Syahidi. Huquq-e Madani (Hukum Perdata). 1383 HS. hlm. 350.
  51. Fakhrul Muhaqqiqin. Idhah al-Fawa'id. 1387 H. jld. 4. hlm. 640; Imam Khomeini. Kitab al-Bai'. 1421 H. jld. 4. hlm. 154-168.
  52. Syaikh ath-Thusi. Al-Mabsuth. 1387 H. jld. 7. hlm. 109; An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 25. hlm. 110; Allamah al-Hilli. Mukhtalaf asy-Syi'ah. 1413 H. jld. 9. hlm. 454-457.
  53. Fakhrul Muhaqqiqin. Idhah al-Fawa'id. 1387 H. jld. 4. hlm. 641.
  54. Muqaddas Ardabili. Majma' al-Fa'idah wa al-Burhan. 1403 H. jld. 10. hlm. 77 dan 78.
  55. Syaikh al-Anshari. Al-Makasib. 1415 H. jld. 5. hlm. 181.
  56. Al-Khoei. Mishbah al-Faqahah. 1417 H. jld. 6. hlm. 123.
  57. Allamah al-Hilli. Tadzkirah al-Fuqaha. 1425 H. jld. 10. hlm. 113; Asy-Syahid al-Awwal. Ad-Durus asy-Syar'iyyah. 1417 H. jld. 3. hlm. 212; Allamah al-Hilli. Qawa'id al-Ahkam. 1413 H. jld. 2. hlm. 116; Muhaqqiq al-Karaki. Jami' al-Maqashid. 1414 H. jld. 5. hlm. 99; Al-Hakim. Mustamsak al-'Urwah al-Wutsqa. 1416 H. jld. 13. hlm. 294; Thabathaba'i Yazdi. Al-'Urwah al-Wutsqa. 1409 H. jld. 2. hlm. 767.
  58. Khwansari. Jami' al-Madarik. 1405 H. jld. 6. hlm. 189.
  59. Al-Hurr al-'Amili. Wasa'il asy-Syi'ah wa Mustadrakatuha. 1403 H. jld. 11. hlm. 24.
  60. An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 42. hlm. 94.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Miftah, Abdullah bin Abu al-Qasim. Syarh al-Azhar. Kairo, Mathba'ah Hijazi, 1357 H.
  • Ibnu Idris, Muhammad bin Ahmad. As-Sara'ir: Al-Hawi li Tahrir al-Fatawa. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, 1410 H.
  • Ibnu Barraj, Abdul Aziz bin Nihrir. Al-Muhadzdzab. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, 1406 H.
  • Ibnu Zuhrah, Hamzah bin Ali. Ghaniyyah an-Nuzu' Ila 'Ilmai al-Ushul wa al-Furu'. Qom, Mu'assasah al-Imam ash-Shadiq (as), tanpa tahun.
  • Ibnu Sa'id, Yahya bin Ahmad. Nuzhah an-Nazhir fi al-Jam' Baina al-Asybah wa an-Nazha'ir. Qom, Mansyurat Radhi, 1394 H.
  • Ibnu Miftah, Abdullah bin Abu al-Qasim. Syarh al-Azhar. Pemberi Catatan Tepi: Muhammad Syaukani. Kairo, Mathba'ah Hijazi, 1357 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Qom, Mu'assasah Mathbu'at Dar al-'Ilm, tanpa tahun.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Kitab al-Bai'. Qom, Mu'assasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini, 1421 H.
  • Anshari, Mas'ud. Danesynameh Huquq Khususi (Ensiklopedia Hukum Privat). Teheran, Intisyarat Mihrab Fikr, 1384 HS.
  • Al-Bahrani, Yusuf bin Ahmad. Al-Hada'iq an-Nadhirah fi Ahkam al-'Itrah ath-Thahirah. Najaf, Dar ath-Thiba'ah, tanpa tahun.
  • al-Baihaqi an-Naisaburi al-Kaidari, Muhammad bin Husain. Ishbah asy-Syi'ah bi Mishbah asy-Syari'ah. Qom, Mu'assasah al-Imam ash-Shadiq (as), 1416 H.
  • Tabrizi, Jawad. Al-Masa'il al-Muntakhabah: Al-'Ibadat wa al-Mu'amalat. Qom, Dar ash-Shiddiqah asy-Syahidah (Salamullah 'Alaiha), 1427 H.
  • Al-Hurr al-'Amili, Muhammad bin Hasan. Wasa'il asy-Syi'ah wa Mustadrakatuha. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, 1403 H.
  • Al-Husaini al-'Amili, Muhammad Jawad bin Muhammad. Miftah al-Karamah fi Syarh Qawa'id al-'Allamah. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, tanpa tahun.
  • Al-Hakim, Sayyid Muhsin. Minhaj ash-Shalihin. Beirut, Dar at-Ta'aruf li al-Mathbu'at, 1410 H.
  • Khwansari, Sayyid Ahmad. Jami' al-Madarik fi Syarh al-Mukhtashar an-Nafi'. Qom, Mu'assasah Isma'iliyan, 1405 H.
  • Al-Khoei, Sayyid Abu al-Qasim. Mishbah al-Faqahah. Qom, Ansariyan, 1417 H.
  • Al-Khoei, Sayyid Abu al-Qasim. Minhaj ash-Shalihin. Tanpa tempat, Mu'assasah al-Khoei al-Islamiyyah, tanpa tahun.
  • Rohani, Sayyid Shadiq. Fiqh ash-Shadiq (as). Qom, Dar al-Kutub, 1412 H.
  • Sajjadi, Sayyid Ja'far. Farhang-e Ma'arif-e Eslami (Kamus Pengetahuan Islam). Teheran, Syirkat Mu'allifan wa Mutarajjeman Iran, 1366 HS.
  • Sayyid Murtadha, Ali bin Husain. Al-Intishar. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, 1415 H.
  • Sistani, Sayyid Ali. Minhaj ash-Shalihin. Qom, Daftar Ayatullah Sistani, 1417 H.
  • Asy-Syahid al-Awwal, Muhammad bin Makki. Ad-Durus asy-Syar'iyyah fi Fiqh al-Imamiyyah. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, 1417 H.
  • Asy-Syahid al-Awwal, Muhammad bin Makki. Al-Qawa'id wa al-Fawa'id. Qom, Kitab-furushi Mufid, 1400 H.
  • Asy-Syahid ats-Tsani, Zainuddin bin Ali. Ar-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah ad-Dimasyqiyyah. Qom, Maktab al-I'lam al-Islami, 1410 H.
  • Asy-Syahid ats-Tsani, Zainuddin bin Ali. Masalik al-Afham Ila Tanqih Syara'i' al-Islam. Qom, Mu'assasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1413 H.
  • Syahidi, Mahdi. Huquq-e Madani (Hukum Perdata). Teheran, Intisyarat Majd, 1383 HS.
  • Syahidi, Mahdi. Suquth-e Ta'ahhudat (Gugurnya Kewajiban-kewajiban). Teheran, Intisyarat Majd, 1390 HS.
  • Syaikh al-Anshari, Murtadha. Al-Makasib. Qom, Kongreh Jahani Bozorgdasyt-e Syaikh A'zham Anshari, 1415 H.
  • Syaikh ath-Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Mabsuth fi al-Fiqh al-Imamiyyah. Pentahkik: Muhammad Baqir Behbudi. Teheran, Maktabah Murtadhawiyyah, 1387 H.
  • Thabathaba'i Qomi, Sayyid Taqi. Mabani Minhaj ash-Shalihin. Qom, Mansyurat Qalam asy-Syarq, 1426 H.
  • Thabathaba'i Yazdi, Sayyid Muhammad Kazhim. Al-'Urwah al-Wutsqa. Beirut, Mu'assasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1409 H.
  • Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Tabshirah al-Muta'allimin fi Ahkam ad-Din. Teheran, Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, 1411 H.
  • Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Tadzkirah al-Fuqaha. Qom, Mu'assasah Al al-Bait (as) li Ihya' at-Turats, 1425 H.
  • Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Qawa'id al-Ahkam. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, 1413 H.
  • Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Mukhtalaf asy-Syi'ah fi Ahkam asy-Syari'ah. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, 1413 H.
  • Fakhrul Muhaqqiqin, Muhammad bin Hasan. Idhah al-Fawa'id fi Syarh Isykalat al-Qawa'id. Qom, Nasyr Isma'iliyan, 1387 H.
  • Quthb ar-Rawandi, Sa'id bin Hibatullah. Fiqh al-Qur'an. Qom, Perpustakaan Umum Ayatullah Mar'asyi Najafi (ra), 1405 H.
  • Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami. Mausu'ah al-Fiqh al-Islami al-Muqaran. Qom, Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami, 1423 H.
  • Muhaqqiq al-Hilli, Ja'far bin Hasan. At-Tanqih ar-Ra'i' li Mukhtashar asy-Syara'i'. Qom, Intisyarat Kitabkhaneh Mar'asyi Najafi, 1404 H.
  • Muhaqqiq al-Hilli, Ja'far bin Hasan. Syara'i' al-Islam fi Masa'il al-Halal wa al-Haram. Qom, Mu'assasah Isma'iliyan, 1408 H.
  • Muhaqqiq Damad, Sayyid Mushthafa. Qawa'id Fiqh: Bakhsy-e Madani 2 (Kaidah-kaidah Fikih: Bagian Perdata 2). Teheran, Sazman Mutala'eh wa Tadwin Kutub Ulum Ensani Danesyga-ha (SAMT), 1380 HS.
  • Muhaqqiq Sabzawari, Muhammad Baqir. Kifayah al-Fiqh: Al-Musytahar bi Kifayah al-Ahkam. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, 1423 H.
  • Muhaqqiq al-Karaki, Ali bin Husain. Jami' al-Maqashid fi Syarh al-Qawa'id. Qom, Mu'assasah Al al-Bait (as) li Ihya' at-Turats, 1414 H.
  • Muhaqqiq al-Karaki, Ali bin Husain. Rasa'il al-Muhaqqiq al-Karaki. Qom, Intisyarat Kitabkhaneh Mar'asyi Najafi, 1409 H.
  • Morvarid, Ali Ashghar. Silsilah al-Yanabi' al-Fiqhiyyah. Beirut, Ad-Dar al-Islamiyyah, 1410 H.
  • Muqaddas Ardabili, Ahmad bin Muhammad. Zubdah al-Bayan fi Ahkam al-Qur'an. Teheran, Al-Maktabah al-Ja'fariyyah, tanpa tahun.
  • Muqaddas Ardabili, Ahmad bin Muhammad. Majma' al-Fa'idah wa al-Burhan fi Syarh Irsyad al-Adzhan. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, 1403 H.
  • Manshur, Jahangir. Qanun-e Madani (Hukum Perdata). Teheran, Intisyarat Douran, 1402 HS.
  • An-Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i' al-Islam. Koreksi: Abbas Qouchani dan Ali Akhundi. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, cetakan ketujuh, 1404 H.
  • Vahid Khorasani, Husain. Minhaj ash-Shalihin. Qom, Madrasah Imam Baqir (as), 1428 H.