Lompat ke isi

Konsep:Diyat Wanita

Dari wikishia

Diyat Wanita adalah harta yang dibayarkan sebagai imbalan atas cidera fisik pada wanita, kepada dirinya atau ahli warisnya. Mayoritas fukaha Muslim dan juga Undang-Undang Hukum Pidana Islam, menganggap diyat wanita sama dengan diyat laki-laki hingga sepertiga dari jumlah diyat penuh, dan setelah itu menjadi setengah dari diyat laki-laki; namun sejumlah fukaha Syiah menganggap diyat wanita dan laki-laki adalah sama.

Para pakar fikih meyakini bahwa alasan ketidaksetaraan ini bukanlah perbedaan nilai materi antara wanita dan laki-laki, melainkan berkaitan dengan perbedaan ekonomi dan bukan kemanusiaan. Sebagian juga meyakini bahwa diyat wanita yang berjumlah setengah dari laki-laki, telah dikompensasi dalam hukum-hukum lain seperti kewajiban nafkah (takaful) wanita yang ditanggung oleh laki-laki.

Terminologi

Templat:Utama Diyat wanita adalah harta yang dibayarkan sebagai imbalan atas cidera pada wanita, kepada dirinya atau ahli warisnya.Templat:Mudarrak Diyat wanita, seperti halnya diyat nyawa, adalah harta yang dianggap sebagai pengganti nyawa manusia dan dibayarkan oleh pelaku kejahatan (jani) kepada korban (majni 'alaih).[1]

Dalam fikih, diyat wanita dikaji dan diberikan fatwa dalam dua bentuk:[2]

  • Diyat Nafs (Jiwa/Nyawa): Yang merupakan jumlah diyat penuh untuk wanita dan laki-laki.[3] Para pakar fikih Syiah menganggap diyat kejahatan terhadap wanita Muslim adalah setengah dari diyat laki-laki.[4] Menurut perkataan Syeikh Mufid, jika seorang wanita dibunuh oleh seorang laki-laki, dalam kondisi yang meniscayakan diyat, maka pembunuh harus membayar setengah diyat.[5] Dikatakan bahwa sebelum Islam pun di antara kabilah Arab, diyat wanita adalah setengah dari diyat laki-laki.[6] Begitu pula fukaha abad kelima belas[7] seperti Imam Khomeini[8] dan Sayid Abu al-Qasim al-Khu'i[9] juga memiliki pendapat yang sama. Fukaha mazhab Islam lainnya pun berfatwa mengenai setengahnya diyat wanita sebagaimana fukaha Syiah[10] dan menurut perkataan Syaikh Thusi seluruh fukaha kecuali Ibnu 'Aliyyah dan al-Asyamm[11] bersepakat atas pendapat ini.[12] Tentu saja Yusuf Sane'i[13] dan Mohammad Ebrahim Jannati[14] menganggap diyat wanita dan laki-laki adalah sama. Selain itu, Muqaddas Ardebili juga dinasbatkan memiliki pandangan akan kesamaan diyat wanita dan laki-laki.[15]
  • Diyat Anggota Tubuh:[16] Dalam kondisi di mana jumlah diyat wanita belum mencapai sepertiga dari diyat penuh, menurut pandangan fukaha Syiah, diyat wanita dan laki-laki adalah sama.[17] Tentu saja fukaha Maliki dan Hambali tidak menerima kesamaan diyat wanita dan laki-laki hingga sepertiga diyat laki-laki.[18]

Pandangan Diat Setengah bagi Wanita dibandingkan Laki-laki

Pihak yang berpendapat akan setengahnya diyat wanita dibandingkan laki-laki dan pihak yang berpendapat akan kesamaan diyat wanita dan laki-laki mengemukakan dalil atas fatwa mereka.

Ayat-ayat Al-Qur'an: Dikatakan bahwa "wanita dengan wanita" dalam Surah Al-Baqarah Ayat 178 menunjukkan perbedaan diyat wanita dan laki-laki dan diklaim bahwa ayat ini me-nasakh Surah Al-Ma'idah Ayat 45 ("nyawa dengan nyawa"). Ayat 45 Surah Al-Ma'idah bermaksud menjelaskan hukum Taurat, sedangkan ayat 178 Surah Al-Baqarah adalah hukum Al-Qur'an.[19]

Riwayat-riwayat: Bersandar pada berbagai riwayat seperti hadis Abdullah bin Muskan dari Imam Shadiq (as) dan Shahihah Halabi[20] yang secara eksplisit menganggap diyat wanita adalah setengah dari diyat laki-laki.[21] Sebagian menganggap riwayat-riwayat ini bersifat shahih, mutawatir, atau mustafidhah.[22] Juga riwayat-riwayat kisas dijadikan sandaran.[23]

Ijmak Fukaha: Ijmak adalah dalil lain yang dijadikan dasar oleh para fukaha atas setengahnya diyat wanita dibandingkan laki-laki.[24] Dikritik bahwa ijmak hanya dapat dijadikan sandaran di kalangan Ahlusunah dan tidak memiliki kedudukan di kalangan ushuliyun Syiah.[25] Sane'i meyakini ijmak ini bersifat mudraki dan ditolak karena kurangnya kredibilitas.[26]

Pandangan Persamaan Diyat Wanita dan Laki-laki

Ayat-ayat Al-Qur'an: Beberapa fukaha dengan bersandar pada Ayat 92 Surah An-NisaTemplat:Yad meyakini bahwa kata "Man" (barang siapa) dalam ayat tersebut mencakup laki-laki dan wanita[27] oleh karena itu ayat ini menjadi dalil atas kesamaan diyat seluruh manusia.[28]

Riwayat-riwayat: Sebagian[29] bersandar pada riwayat-riwayat di mana Nabi (saw) menetapkan diyat manusia tanpa menyebutkan gender, yaitu seratus ekor unta.[30] Begitu juga Yusuf Sane'i, salah seorang marja taklid Syiah, dalam mengkaji riwayat-riwayat yang menyebutkan setengahnya diyat wanita dibandingkan laki-laki, menganggap riwayat-riwayat tersebut tidak dapat dijadikan sandaran baik dari sisi sanad maupun konten.[31] Sebaliknya, beberapa peneliti meyakini bahwa menolak riwayat shahihah[32] dikarenakan ketidakselarasan dengan keumuman Al-Qur'an, bukanlah metode yang benar.[33] Dalam menjawab kritikan sanad terhadap perawi sebagian riwayat (seperti: Muhammad bin Isa bin 'Ubaid), dikatakan bahwa terdapat banyak riwayat dengan perawi lain dan para tokoh besar hadis tidak menerima kritikan sanad tersebut, serta Muhaqqiq Ardebili menyebut riwayat ini sebagai shahihah.[34]

Hikmah Setengahnya Diyat Wanita

Abdullah Javadi Amuli dari fakta bahwa dalam Al-Qur'anul Karim manusia seperti orang yang alim dan jahil tidak dianggap sama[35] namun diyat mereka adalah sama, ia menyimpulkan bahwa diyat tidak bergantung pada nilai kemanusiaan individu[36] dan kesamaan diyat orang alim dengan jahil tidaklah menambah kedudukan orang yang jahil maupun mengurangi kedudukan orang yang alim, demikian pula halnya pada wanita dan laki-laki.[37]

Nasir Makarem Syirazi, Musavi Bojnourdi, dan Muhaqqiq Damad menganggap salah satu alasan setengahnya diyat wanita dibandingkan laki-laki adalah status laki-laki sebagai pencari nafkah (masalah ekonomi, bukan kemanusiaan).[38] Sayid Muhammad Husaini Syirazi juga meyakini bahwa perbedaan diyat wanita dan laki-laki bukanlah perbedaan hak mereka; melainkan wanita memperoleh sebagian hak secara langsung dan sebagian melalui laki-laki yang bertanggung jawab atas nafkahnya.[39] Sebagian juga tidak menganggap hukum ini berdasarkan fitrah manusia dan tindakan yang bertentangan dengan fitrah (seperti wanita yang bekerja) sebagai faktor pengubah hukum.[38]

Yusuf Sane'i menganggap filosofi yang dikemukakan para fukaha mengenai setengahnya diyat wanita dibandingkan laki-laki sebagai istihsan[40] dan tidak menganggapnya sesuai dengan realitas masyarakat hari ini.[41]

Catatan Kaki

  1. Dehkhoda dkk, Lughatnameh, di bawah kata "Diyat".
  2. Mazijani, "Barresi-ye Qisas-e Zan wa Mard az Didgah-e Feqhi wa Mojazat-e Qanun-e Asasi", hlm. 143.
  3. Mazijani, "Barresi-ye Qisas-e Zan wa Mard az Didgah-e Feqhi wa Mojazat-e Qanun-e Asasi", hlm. 143.
  4. Syeikh Mufid, al-Muqni'ah, 1410 H, hlm. 763; Syaikh Thusi, al-Mabsuth, 1387 H, jld. 7, hlm. 148.
  5. Syeikh Mufid, al-Muqni'ah, 1410 H, hlm. 739.
  6. Jawad, al-Mufashshal fi Tarikh al-'Arab Qabl al-Islam, 1976 M, jld. 5, hlm. 593.
  7. Mazijani dan Arefian, "Barresi-ye Qisas-e Zan wa Mard az Didgah-e Feqhi wa Mojazat-e Qanun-e Asasi", hlm. 126; Syirazi, al-Fiqh Kitab al-Diyat, hlm. 45; Javadi Amuli, Zan dar Ayineh-ye Jalal wa Jamal, hlm. 150;
  8. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1434 H, jld. 2, hlm. 597.
  9. Khu'i, Mabani Takmilah al-Minhaj, 1428 H, jld. 2, hlm. 254.
  10. Sarkhasi, al-Mabsuth, 1406 H, jld. 26, hlm. 79; Syarbini, Mughni, Penerbit Dar al-Fikr, jld. 4, hlm. 56; Soltani, Mabani-ye Tansif-e Diyeh-ye Zan, 1395 HS, hlm. 30.
  11. Ibrahimnezhad, "Barresi wa Naqd-e Adelleh-ye Nazhariyah-ye Ayatullah Sane'i dar Barabari-ye Diyeh-ye Zan wa Mard-e Mosalman", hlm. 3-4.
  12. Syaikh Thusi, al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyyah, 1387 H, jld. 7, hlm. 148.
  13. Ibrahimnezhad, "Barresi wa Naqd-e Adelleh-ye Nazhariyah-ye Ayatullah Sane'i dar Barabari-ye Diyeh-ye Zan wa Mard-e Mosalman", hlm. 4.
  14. Mazijani dan Arefian, "Barresi-ye Qisas-e Zan wa Mard az Didgah-e Feqhi wa Mojazat-e Qanun-e Asasi", hlm. 126.
  15. Sane'i, Fiqh wa Zendegi (Fikih dan Kehidupan), 1385 HS, jld. 3, hlm. 66; Mehriwar, "Barresi-ye Tafavot-e Diyeh-ye Zan wa Mard dar Qanun-e Mojazat-e Eslami wa Mabani-ye Feqhi-ye An", hlm. 42-43; Bageri dan Mokhtari, "Baz-pazhuheshi-ye Motun-e Qur'ani wa Ravayi dar Bab-e Diyeh-ye Zan wa Mard", hlm. 53.
  16. Mazijani, "Barresi-ye Qisas-e Zan wa Mard az Didgah-e Feqhi wa Mojazat-e Qanun-e Asasi", hlm. 144.
  17. Syeikh Mufid, al-Muqni'ah, 1410 H, hlm. 764; Najafi Jauhari, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 43, hlm. 32.
  18. Malik bin Anas, al-Muwaththa', 1406 H, jld. 2, hlm. 853; Ihsani, Tafavot-e Diyeh-ye Zan wa Mard az Didgah-e Madzahib-e Eslami, 1390 HS, hlm. 107.
  19. Babiwardi, "Tafavot-e Zan wa Mard dar Diyeh", hlm. 16-17.
  20. Hur Amili, Wasail al-Syiah, 1387 HS, jld. 19, hlm. 59-60.
  21. Hur Amili, Wasail al-Syiah, 1387 HS, jld. 19, hlm. 59.
  22. Soltani, Mabani-ye Tansif-e Diyeh-ye Zan, 1395 HS, hlm. 33.
  23. Haji Dehabadi, "Qisas wa Diyeh-ye Zan", hlm. 157.
  24. Syaikh Thusi, al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyyah, 1387 H, jld. 7, hlm. 148.
  25. Bageri dan Mokhtari Afrakati, "Baz-pazhuheshi-ye Motun-e Qur'ani wa Ravayi dar Bab-e Diyeh-ye Zan wa Mard", hlm. 65.
  26. Sane'i, Fiqh wa Zendegi, 1385 HS, jld. 3, hlm. 65-67.
  27. Bageri dan Mokhtari Afrakati, "Baz-pazhuheshi-ye Motun-e Qur'ani wa Ravayi dar Bab-e Diyeh-ye Zan wa Mard", hlm. 54; Rasyid Ridha, al-Manar, 1990 M, jld. 5, hlm. 270-271.
  28. Sane'i, Muntakhab al-Ahkam, hlm. 330; Babiwardi, "Tafavot-e Zan wa Mard dar Diyeh", hlm. 15-16.
  29. Bageri dan Mokhtari Afrakati, "Baz-pazhuheshi-ye Motun-e Qur'ani wa Ravayi dar Bab-e Diyeh-ye Zan wa Mard", hlm. 51.
  30. Babiwardi, "Tafavot-e Zan wa Mard dar Diyeh", hlm. 16; Bageri dan Mokhtari Afrakati, "Baz-pazhuheshi-ye Motun-e Qur'ani wa Ravayi dar Bab-e Diyeh-ye Zan wa Mard", hlm. 51-52.
  31. Sane'i, Fiqh wa Zendegi, 1385 HS, jld. 3, hlm. 65-67.
  32. Ibrahimnezhad, "Barresi wa Naqd-e Adelleh-ye Nazhariyah-ye Ayatullah Sane'i dar Barabari-ye Diyeh-ye Zan wa Mard-e Mosalman", hlm. 5.
  33. Ibrahimnezhad, "Barresi wa Naqd-e Adelleh-ye Nazhariyah-ye Ayatullah Sane'i dar Barabari-ye Diyeh-ye Zan wa Mard-e Mosalman", hlm. 9.
  34. Husaini Isykawari, "Diyeh-ye Zan", hlm. 39.
  35. Surah Az-Zumar, ayat 9.
  36. Javadi Amuli, Zan dar Ayineh-ye Jalal wa Jamal, hlm. 150.
  37. Javadi Amuli, Zan dar Ayineh-ye Jalal wa Jamal, hlm. 151.
  38. 38,0 38,1 Mazijani dan Arefian, "Barresi-ye Qisas-e Zan wa Mard az Didgah-e Feqhi wa Mojazat-e Qanun-e Asasi", hlm. 126.
  39. Syirazi, al-Fiqh Kitab al-Diyat, hlm. 45.
  40. Sane'i, Fiqh wa Zendegi, 1385 HS, jld. 3, hlm. 67.
  41. Sane'i, Fiqh wa Zendegi, 1385 HS, jld. 3, hlm. 68.

Daftar Pustaka

  • Bageri, Ahmad dan Nader Mokhtari Afrakati. "Baz-pazhuheshi-ye Motun-e Qur'ani wa Ravayi dar Bab-e Diyeh-ye Zan wa Mard". dalam Majalah Danesy-kadeh-ye Hoquq wa Olum-e Siyasi Universitas Tehran, nomor 74, Musim Dingin 1385 HS.
  • Babiwardi, Soheila. "Tafavot-e Zan wa Mard dar Diyeh". dalam Faslnameh Jostarhaye Falsafi, nomor 7, Musim Semi dan Musim Panas 1385 HS.
  • Haji Dehabadi, Ahmad. "Qisas wa Diyeh-ye Zan". dalam Faslnameh Hoquq-e Eslami, nomor 22, Musim Gugur 1388 HS.
  • Hur Amili, Muhammad bin Hasan. Wasail al-Syiah ila Tahshil Masail al-Syari'ah. Tehran, Penerbit Islamiyyah, 1387 HS.
  • Husaini Isykawari, Sayid Ali. "Diyeh-ye Zan". dalam Faslnameh Pazhuhesy-haye Feqh wa Hoquq-e Eslami, nomor 3, Musim Semi 1385 HS.
  • Ibrahimnezhad, Muhammad. "Barresi wa Naqd-e Adelleh-ye Nazhariyah-ye Ayatullah Sane'i dar Barabari-ye Diyeh-ye Zan wa Mard-e Mosalman". dalam Feqh wa Hoquq-e Eslami, nomor 12, Musim Semi dan Musim Panas 1395 HS.
  • Ihsani, Muhammad Yasin. Tafavot-e Diyeh-ye Zan wa Mard az Didgah-e Madzahib-e Eslami (Perbedaan Diyat Wanita dan Laki-laki dari Sudut Pandang Mazhab-mazhab Islam). Qom, Penerbit al-Mustafa, 1390 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Tehran, Lembaga Pengaturan dan Penerbitan Karya Imam Khomeini, cetakan ketiga, 1434 H.
  • "Dengan Konfirmasi Dewan Garda: Diyat Wanita dan Laki-laki dalam Asuransi Kecelakaan Lalu Lintas Menjadi Sama". Situs Berita Euronews. Diterbitkan: 23 Dey 1391 HS.
  • "Diyat Wanita dan Laki-laki Menjadi Sama + Hukum". Kantor Berita Fars. Diterbitkan: 11 Tir 1398 HS.
  • "Diyat Laki-laki dan Wanita Belum Sama; Selisihnya Dibayarkan". Situs Berita Tabnak. Diterbitkan: 19 Esfand 1391 HS.
  • Javadi Amuli, Abdullah. Zan dar Ayineh-ye Jalal wa Jamal (Wanita dalam Cermin Keagungan dan Keindahan). Qom, Penerbit Isra, 1386 HS.
  • Jawad, Jawad Ali. al-Mufashshal fi Tarikh al-'Arab Qabl al-Islam. Beirut, Dar al-Ilm lil Malayin, cetakan kedua, 1976 M.
  • Khu'i, Sayid Abu al-Qasim. Mabani Takmilah al-Minhaj. Qom, Lembaga Ihya Atsar Imam Khu'i, cetakan ketiga, 1428 H.
  • Dehkhoda, Ali Akbar dkk. Lughatnameh. Tehran, Penerbit Universitas Tehran, cetakan kedua, 1377 HS.
  • Malik bin Anas. al-Muwaththa'. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1406 H.
  • Mazijani, Hossein dan Gholamreza Arefian. "Barresi-ye Qisas-e Zan wa Mard az Didgah-e Feqhi wa Mojazat-e Qanun-e Asasi". dalam Faslnameh Muthala'at-e Olum-e Siyasi Hoquq wa Feqh, nomor 12, Musim Semi 1396 HS.
  • Mazijani, Hossein dan Gholamreza Arefian. "Diyeh-ye Zan wa Mard az Nazhar-e Feqh-e Eslami wa Qanun-e Mojazat". dalam Faslnameh Muthala'at-e Olum-e Siyasi Hoquq wa Feqh, nomor 12, Musim Semi 1396 HS.
  • Mehriwar, Hossein. "Barresi-ye Tafavot-e Diyeh-ye Zan wa Mard dar Qanun-e Mojazat-e Eslami wa Mabani-ye Feqhi-ye An". dalam Faslnameh Matin, nomor 2, Musim Semi 1378 HS.
  • Najafi Jauhari, Muhammad Hasan (Shahib al-Jawahir). Jawahir al-Kalam. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1362 HS.
  • Rasyid Ridha, Muhammad bin Ali Ridha al-Qalamuni al-Husaini. al-Manar. Kairo, Haiat al-Misri al-Ammah lil Kitab, 1990 M.
  • Sane'i, Yusuf. Fiqh wa Zendegi (Fikih dan Kehidupan). Qom, Lembaga Fiqh al-Tsaqalain, cetakan ketiga, 1385 HS.
  • Sane'i, Yusuf. Muntakhab al-Ahkam. Qom, Penerbit Meisyam Tammar, 1382 HS.
  • Sarkhasi, Syams al-Aimmah Muhammad bin Ahmad. al-Mabsuth. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1406 H.
  • Syarbini, Khatib Muhammad bin Ahmad. Mughni al-Muhtaj ila Ma'rifah Ma'ani al-Alfazh al-Minhaj. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • Soltani, Qodratullah. Mabani-ye Tansif-e Diyeh-ye Zan Mowafegan wa Mokhalefan (Dasar-dasar Setengahnya Diyat Wanita: Pendukung dan Penentang). Tehran, Penerbit Farhang-e Sabz, 1395 HS.
  • Syeikh Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man. al-Muqni'ah. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan kedua, 1410 H.
  • Syaikh Thusi, Abu Ja'far Muhammad bin Hasan. al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyyah. Tehran, Maktabah al-Murtadhawiyyah, cetakan ketiga, 1387 H.