Lompat ke isi

Konsep:Banat al-Hasan

Dari wikishia
Gambar makam Banat al-Hasan as; di jalan dengan nama yang sama di Najaf

Banat al-Hasan (bahasa Arab:بَناتُ الحَسَن(ع)) berarti putri-putri Imam Hasan as, sebuah istilah yang merujuk pada sekumpulan makam dan tempat ziarah. Makam-makam ini sebagian besar terletak di kota-kota Irak, khususnya Najaf, dan juga di beberapa negara lain, yang dinisbatkan kepada putri-putri atau perempuan-perempuan Alawiyah yang nasabnya sampai kepada Imam Hasan al-Mujtaba as.

Sejumlah sumber menganggap keberadaan tempat-tempat ziarah semacam ini sebagai hal yang umum dan diterima dalam tradisi Islam dan Arab; namun sebaliknya, beberapa peneliti sejarah dengan menekankan perlunya bersandar pada sumber-sumber yang valid, menilai penisbatan sejarah makam-makam ini tidak memiliki validitas yang cukup.

Kedudukan dan Pentingnya Makam Banat al-Hasan

Tempat-tempat ziarah "Banat al-Hasan" yang dinisbatkan kepada putri-putri Imam Hasan al-Mujtaba as, memiliki kedudukan khusus dalam budaya ziarah Syiah dan dikenal sebagai tempat-tempat suci oleh masyarakat Irak.[1] Makam-makam ini terletak di kota-kota penting seperti Najaf, Karbala, Babilonia, Mahawil, dan wilayah "Al-Dora" di selatan Baghdad, dan selalu menjadi perhatian para peziarah.[2] Cakupan tempat-tempat ziarah ini tidak hanya terbatas di Irak; beberapa sumber juga melaporkan keberadaan makam-makam dengan nama yang sama di negara-negara lain seperti Iran, Suriah, Mesir, dan Lebanon.[3]

Sejumlah ulama dari sudut pandang sejarah meyakini bahwa banyaknya makam ini mungkin merupakan hasil dari upaya masyarakat untuk menjaga kuburan dari perusakan oleh pemerintah. Dalam beberapa periode sejarah, beberapa penguasa menyerang kuburan para ulama agama, namun biasanya mereka menghormati kuburan anak-anak dan khususnya putri-putri para Imam. Oleh karena itu, terkadang kuburan diperkenalkan atas nama putri-putri Imam agar terlindung dari bahaya pemusnahan dan tetap bertahan sebagai simbol budaya dan agama.[4]

Makam-makam "Banat al-Hasan" yang Terkenal di Irak

Nama beberapa kuburan dan makam terkenal di negara Irak adalah sebagai berikut:

  • Makam Aminah binti al-Hasan as yang terletak di kota Balad.
  • Makam Aminah binti al-Hasan as di lingkungan Al-Huwaisy, sebuah gang yang terhubung ke jalan yang menghadap Bahr Najaf.
  • Makam Ruqayyah binti al-Hasan as di pusat kota Najaf, di kawasan tua di mana terdapat jalan bernama Banat al-Hasan.
  • Makam Zahra binti al-Hasan as di jalan Banat al-Hasan yang berjarak beberapa meter dari makam Ruqayyah.
  • Makam Zakiyah binti al-Hasan as di daerah gurun Al-Rahimah.
  • Makam Banat al-Hasan (Syarifah dan Khadijah) di desa Albu Mustafa, jalur Hillah – Baghdad.
  • Makam Syarifah binti al-Hasan as di daerah Al-Dablah, 100 meter dari jalan raya Hillah – Diwaniyah.
  • Makam Khadijah dan Fatimah binti Ali bin Muhammad al-Bathhani di daerah Al-'Alkayah, distrik Al-Musayyib.
  • Makam Fatimah dan Ruqayyah binti al-Hasan al-Mutsanna di daerah Al-Muhannawiyah.[5]

Kedudukan Konseptual "Banat al-Hasan"

Istilah "Banat al-Hasan" atau "Putri-putri Hasan", tidak selalu merujuk pada putri kandung dan langsung dari Imam Hasan al-Mujtaba as; melainkan dalam tradisi Arab dan Islam, gelar ini terkadang diberikan kepada wanita-wanita Alawiyah yang nasabnya dari generasi jauh sampai kepada Imam tersebut dan karena kedudukan spiritual mereka, mereka dihormati dan diziarahi.[6]

Meskipun demikian, sebagian orang meyakini bahwa makam-makam yang dikenal sebagai "Banat al-Hasan" adalah milik dua putri Imam Hasan as. Namun, sumber-sumber sejarah berbeda pendapat mengenai jumlah putri Imam tersebut dan lokasi pemakaman mereka. Ketiadaan bukti yang pasti dan terdokumentasi dalam hal ini menyebabkan beberapa peneliti menganggap tempat-tempat ziarah ini sebagai simbolis, bukan serta merta historis dan nyata.[7]

Pandangan Penentang Penisbatan

Husain Abu Sa'idah dalam bukunya Banat al-Ma'shumin menyimpulkan bahwa Imam Hasan al-Mujtaba as memiliki enam putri yang semuanya tinggal di Madinah dan dimakamkan di sana. Di antara mereka, "Fatimah binti al-Hasan" adalah sosok yang paling dikenal; ia menikah dengan Imam Sajjad as dan menjadi ibu dari Imam Muhammad al-Baqir as. Menurut Abu Sa'idah, hanya keturunan Fatimah binti al-Hasan yang berlanjut.[8] Selanjutnya, ia menganggap makam-makam yang dinisbatkan kepada putri-putri Imam Hasan as di berbagai provinsi Irak tidak memiliki validitas sejarah dan menyebutnya palsu. Menurut keyakinannya, tidak ada dokumen sejarah yang valid untuk membuktikan penisbatan makam-makam ini kepada putri-putri Imam dan beberapa penisbatan ini terbentuk semata-mata berdasarkan kepercayaan lokal atau motif mencari keuntungan.[9]

Gambar dari dharih Imamzadeh Sayidah Syarifah, anak yang dinisbatkan kepada Imam Hasan al-Mujtaba as di Hillah

Beberapa peneliti Irak menekankan pentingnya pemisahan antara penghormatan keagamaan dan penelitian ilmiah. Menurut mereka, menghormati tokoh-tokoh agama adalah hal yang berharga, namun tidak boleh menghalangi kajian sejarah yang terdokumentasi; karena penerimaan riwayat dan makam tanpa dukungan yang valid secara membabi buta, membawa risiko penyimpangan sejarah.[10]

Pandangan Pendukung Penisbatan

Penulis buku Marqad al-Sayyidah al-Syarifah binti al-Hasan as mengkaji validitas makam "Banat al-Hasan" dari sudut pandang 'urf (kebiasaan) dan syuhrah (kemasyhuran) yang diterima dalam budaya Islam dan Arab, dan menganggap pembangunan makam bagi wanita yang memiliki kedudukan agama atau sosial sebagai hal yang umum.[11]

Sambil menerima pandangan genealogis Husain Abu Sa'idah mengenai nama putri-putri Imam Hasan as, ia menjelaskan bahwa banyak wanita Alawiyah sepanjang sejarah merupakan keturunan Imam tersebut dan secara 'urf dikenal dengan gelar "Putri-putri Hasan". Contoh dari kasus ini adalah sebuah makam di Saddah al-Hindiyah yang dinisbatkan kepada putri-putri Hasan al-Mutsanna, dan pola ini juga terlihat di tempat-tempat ziarah lainnya.[12]

Catatan Kaki

  1. Faqih Bahrul Ulum, Ziyaratgah-haye Iraq: Mo'arrefi Ziyaratgah-haye Mashur dar Keshvar-e Iraq (Tempat-tempat Ziarah Irak: Memperkenalkan Tempat-tempat Ziarah Terkenal di Negara Irak), 1395 HS, jld. 1, hlm. 76 dan 77; hlm. 541.
  2. Sami Jawad Kazim, «Hikayah Ta'addud Maraqid Banat al-Hasan (as)», Kantor Berita Buratha.
  3. Abu Sa'idah, Banat al-Ma'shumin, 1436 H, hlm. 79.
  4. «Ma Hiya Haqiqah al-Qubur wa al-Mazarat al-Mansubah ila Banat al-Imam al-Hasan (alaihi salam)?», Markaz al-Abhath al-Aqadiah.
  5. Al-Kariti, Marqad al-Sayyidah al-Syarifah binti al-Hasan alaihis salam, 1440 H, hlm. 21-29.
  6. Al-Kariti, Marqad al-Sayyidah al-Syarifah binti al-Hasan alaihis salam, 1440 H, hlm. 26.
  7. «Barrasi Banat al-Hasan Najaf» (Kajian Banat al-Hasan Najaf), Situs Karbala Tour.
  8. Abu Sa'idah, Banat al-Ma'shumin, 1436 H, hlm. 70.
  9. Abu Sa'idah, Banat al-Ma'shumin, 1436 H, hlm. 79.
  10. Sami Jawad Kazim, «Hikayah Ta'addud Maraqid Banat al-Hasan (as)», Kantor Berita Buratha; Ghassan, «Qubur Banat al-Imam al-Hasan as», Situs Al-Mujib.
  11. Al-Kariti, Marqad al-Sayyidah al-Syarifah binti al-Hasan alaihis salam, 1440 H, hlm. 26 dan 27.
  12. Al-Kariti, Marqad al-Sayyidah al-Syarifah binti al-Hasan alaihis salam, 1440 H, hlm. 28 dan 29.

Daftar Pustaka