Konsep:Ayat Hadi
Templat:Kotak info Ayat Ayat Hadi adalah ayat ketujuh dari Surah Ar-Ra'd yang menjawab keberatan-keberatan kaum musyrik mengenai Kenabian.[1] Para mufasir menyatakan bahwa meskipun ayat-ayat sebelumnya dalam surah ini membahas tema Tauhid dan Ma'ad, namun ayat ini menjawab permintaan kaum musyrik untuk mendatangkan Mukjizat.[2]
Menurut para mufasir, walaupun mukjizat adalah tanda kebenaran para nabi dan permintaannya adalah hal yang wajar bagi para pencari kebenaran,[3] namun permintaan kaum musyrik ini didasari oleh sikap keras kepala.[4] Permintaan semacam ini disebut sebagai "mukjizat iqtirahi" (mukjizat yang diusulkan berdasarkan keinginan sendiri).[5] Menurut Baidhawi, mereka menginginkan mukjizat-mukjizat seperti yang dimiliki Nabi Musa as dan Nabi Isa as.[6] Makarem Syirazi juga mengatakan bahwa kaum musyrik mengira Nabi berkewajiban melakukan setiap hal yang luar biasa, padahal mukjizat hanyalah untuk membuktikan kenabian dan tunduk pada maslahat Ilahi.[7]
Templat:Quran baruTemplat:SakhTemplat:Quran baru
Al-Qur'an menjawab dengan berfirman: "Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi setiap kaum ada pemberi petunjuk," dengan demikian memperkenalkan tugas utama Nabi sebagai pemberi peringatan dan penyeru, bukan sekadar pembuat mukjizat.[8] Menurut penegasan Baidhawi, seorang mufasir dan mutakalim Asy'ari, mukjizat dalam jumlah yang cukup untuk membuktikan kenabian sudah memadai,[9] dan Syaikh Thusi juga menganggap pelaksanaan mukjizat berada di tangan Allah dan berdasarkan maslahat.[10]
Para mufasir memaknai "munzir" sebagai pemberi peringatan dari kemaksiatan dan "hadi" sebagai penunjuk jalan menuju kebenaran,[11] serta menjelaskan perbedaan keduanya berada pada tahap awal dakwah dan keberlanjutan hidayah;[12] sebagaimana Tafsir Nemuneh menganggap perbedaan ini serupa dengan hubungan antara Rasul dan Imam.[13] Mengenai manifestasi (mishdaq) dari "hadi", terdapat lima pandangan yang dinukil, di antaranya adalah Imam Maksum di setiap zaman yang didukung oleh riwayat-riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir as dan Imam ash-Shadiq as.[14]
Para mufasir Syiah dengan bersandar pada banyak riwayat, menganggap "hadi" sebagai para Imam,[15] dan hadis-hadis dari Nabi Muhammad saw,[16] Imam Ali as[17] serta para Imam as lainnya[18] telah dinukil dalam hal ini; bahkan Ibnu Hajar al-Asqalani dari ulama Ahlusunah juga membawakan sebuah riwayat dengan kandungan tersebut.[19] Berdasarkan ayat ini dikatakan bahwa bumi tidak akan pernah kosong dari hujah Ilahi; sebuah pandangan yang dikemukakan oleh Ali bin Ibrahim Qumi[20] dan diterima oleh Faidh Kasyani[21] serta didukung oleh banyak riwayat;[22] karena perbaikan urusan manusia dan bumi bergantung pada keberadaan hujah tersebut.[23]
Catatan Kaki
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 128.
- ↑ Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 3, hlm. 182.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 128.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 128.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 129.
- ↑ Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 3, hlm. 182.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 128-129.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 129-130.
- ↑ Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 3, hlm. 182.
- ↑ Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats, jld. 6, hlm. 222.
- ↑ Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats, jld. 6, hlm. 222.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 130.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 130-131.
- ↑ Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats, jld. 6, hlm. 223.
- ↑ Lihat: Bahrani, Al-Burhan, 1416 H, jld. 3, hlm. 226.
- ↑ Khazzaz Qumi, Kifayah al-Atsar, 1401 H, hlm. 87-88.
- ↑ Syaikh Shaduq, Al-Amali, 1417 H, hlm. 350.
- ↑ Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, Al-Maktabah al-Ilmiyyah, jld. 2, hlm. 203; Bahrani, Al-Burhan, 1416 H, jld. 3, hlm. 228-229.
- ↑ Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, 1379 H, jld. 8, hlm. 376.
- ↑ Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 1, hlm. 359.
- ↑ Faidh Kasyani, Al-Ashfa, 1418 H, jld. 1, hlm. 596.
- ↑ Lihat: Barqi, Al-Mahasin, 1371 H, jld. 1, hlm. 234.
- ↑ Barqi, Al-Mahasin, 1371 H, jld. 1, hlm. 235.
Daftar Pustaka
- Bahrani, Sayyid Hasyim. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Bonyad-e Be'tsat, 1416 H.
- Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1418 H.
- Barqi, Ahmad bin Muhammad bin Khalid. Al-Mahasin. Qom, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1371 H.
- Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Al-Ashfa fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar-e Intisyarat-e Eslami, 1418 H.
- Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Riset: Muhammad Fuad Abdul Baqi dkk. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1379 H.
- Khazzaz Qumi, Ali bin Muhammad. Kifayah al-Atsar fi al-Nash 'ala al-Aimmah al-Itsnai 'Asyar. Riset: Sayyid Abdullathif Huseini. Qom, Penerbit Bidar, Cetakan Pertama, 1401 H.
- Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
- Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Qom, Dar al-Kitab, 1404 H.
- Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Amali. Qom, Muassasah al-Be'tsat, Cetakan Pertama, 1417 H.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Tanpa Tahun.
- Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-Ayyasyi. Riset: Sayyid Hasyim Rasuli Mahallati. Teheran, Al-Maktabah al-Ilmiyyah al-Islamiyah, Tanpa Tahun.
```