Lompat ke isi

Konsep:Ayat Hadi

Dari wikishia

Templat:Kotak info Ayat Ayat Hadi adalah ayat ketujuh dari Surah Ar-Ra'd yang menjawab keberatan-keberatan kaum musyrik mengenai Kenabian.[1] Para mufasir menyatakan bahwa meskipun ayat-ayat sebelumnya dalam surah ini membahas tema Tauhid dan Ma'ad, namun ayat ini menjawab permintaan kaum musyrik untuk mendatangkan Mukjizat.[2]

Menurut para mufasir, walaupun mukjizat adalah tanda kebenaran para nabi dan permintaannya adalah hal yang wajar bagi para pencari kebenaran,[3] namun permintaan kaum musyrik ini didasari oleh sikap keras kepala.[4] Permintaan semacam ini disebut sebagai "mukjizat iqtirahi" (mukjizat yang diusulkan berdasarkan keinginan sendiri).[5] Menurut Baidhawi, mereka menginginkan mukjizat-mukjizat seperti yang dimiliki Nabi Musa as dan Nabi Isa as.[6] Makarem Syirazi juga mengatakan bahwa kaum musyrik mengira Nabi berkewajiban melakukan setiap hal yang luar biasa, padahal mukjizat hanyalah untuk membuktikan kenabian dan tunduk pada maslahat Ilahi.[7]

Templat:Quran baruTemplat:SakhTemplat:Quran baru

Al-Qur'an menjawab dengan berfirman: "Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi setiap kaum ada pemberi petunjuk," dengan demikian memperkenalkan tugas utama Nabi sebagai pemberi peringatan dan penyeru, bukan sekadar pembuat mukjizat.[8] Menurut penegasan Baidhawi, seorang mufasir dan mutakalim Asy'ari, mukjizat dalam jumlah yang cukup untuk membuktikan kenabian sudah memadai,[9] dan Syaikh Thusi juga menganggap pelaksanaan mukjizat berada di tangan Allah dan berdasarkan maslahat.[10]

Para mufasir memaknai "munzir" sebagai pemberi peringatan dari kemaksiatan dan "hadi" sebagai penunjuk jalan menuju kebenaran,[11] serta menjelaskan perbedaan keduanya berada pada tahap awal dakwah dan keberlanjutan hidayah;[12] sebagaimana Tafsir Nemuneh menganggap perbedaan ini serupa dengan hubungan antara Rasul dan Imam.[13] Mengenai manifestasi (mishdaq) dari "hadi", terdapat lima pandangan yang dinukil, di antaranya adalah Imam Maksum di setiap zaman yang didukung oleh riwayat-riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir as dan Imam ash-Shadiq as.[14]

Para mufasir Syiah dengan bersandar pada banyak riwayat, menganggap "hadi" sebagai para Imam,[15] dan hadis-hadis dari Nabi Muhammad saw,[16] Imam Ali as[17] serta para Imam as lainnya[18] telah dinukil dalam hal ini; bahkan Ibnu Hajar al-Asqalani dari ulama Ahlusunah juga membawakan sebuah riwayat dengan kandungan tersebut.[19] Berdasarkan ayat ini dikatakan bahwa bumi tidak akan pernah kosong dari hujah Ilahi; sebuah pandangan yang dikemukakan oleh Ali bin Ibrahim Qumi[20] dan diterima oleh Faidh Kasyani[21] serta didukung oleh banyak riwayat;[22] karena perbaikan urusan manusia dan bumi bergantung pada keberadaan hujah tersebut.[23]

Catatan Kaki

  1. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 128.
  2. Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 3, hlm. 182.
  3. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 128.
  4. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 128.
  5. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 129.
  6. Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 3, hlm. 182.
  7. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 128-129.
  8. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 129-130.
  9. Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 3, hlm. 182.
  10. Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats, jld. 6, hlm. 222.
  11. Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats, jld. 6, hlm. 222.
  12. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 130.
  13. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 130-131.
  14. Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats, jld. 6, hlm. 223.
  15. Lihat: Bahrani, Al-Burhan, 1416 H, jld. 3, hlm. 226.
  16. Khazzaz Qumi, Kifayah al-Atsar, 1401 H, hlm. 87-88.
  17. Syaikh Shaduq, Al-Amali, 1417 H, hlm. 350.
  18. Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, Al-Maktabah al-Ilmiyyah, jld. 2, hlm. 203; Bahrani, Al-Burhan, 1416 H, jld. 3, hlm. 228-229.
  19. Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, 1379 H, jld. 8, hlm. 376.
  20. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 1, hlm. 359.
  21. Faidh Kasyani, Al-Ashfa, 1418 H, jld. 1, hlm. 596.
  22. Lihat: Barqi, Al-Mahasin, 1371 H, jld. 1, hlm. 234.
  23. Barqi, Al-Mahasin, 1371 H, jld. 1, hlm. 235.

Daftar Pustaka

  • Bahrani, Sayyid Hasyim. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Bonyad-e Be'tsat, 1416 H.
  • Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1418 H.
  • Barqi, Ahmad bin Muhammad bin Khalid. Al-Mahasin. Qom, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1371 H.
  • Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Al-Ashfa fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar-e Intisyarat-e Eslami, 1418 H.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Riset: Muhammad Fuad Abdul Baqi dkk. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1379 H.
  • Khazzaz Qumi, Ali bin Muhammad. Kifayah al-Atsar fi al-Nash 'ala al-Aimmah al-Itsnai 'Asyar. Riset: Sayyid Abdullathif Huseini. Qom, Penerbit Bidar, Cetakan Pertama, 1401 H.
  • Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Qom, Dar al-Kitab, 1404 H.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Amali. Qom, Muassasah al-Be'tsat, Cetakan Pertama, 1417 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Tanpa Tahun.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-Ayyasyi. Riset: Sayyid Hasyim Rasuli Mahallati. Teheran, Al-Maktabah al-Ilmiyyah al-Islamiyah, Tanpa Tahun.


```