Lompat ke isi

Konsep:Ayat 148 Surah Al-Baqarah

Dari wikishia
Ayat 148 Surah Al-Baqarah
Informasi Ayat
SurahSurah Al-Baqarah
Ayat148
Juz2
Informasi Konten
Sebab
Turun
Larangan berdebat tentang perubahan kiblat dengan orang Yahudi dan kaum munafik
Tempat
Turun
Madinah
TentangPerubahan Kiblat, Dikumpulkan pada Hari Kiamat


Ayat 148 Surah Al-Baqarah (bahasa Arab:آیة ۱۴۸ سورة البقرة) berbicara tentang penentuan Kiblat setiap umat dan agama oleh Allah berdasarkan kemaslahatan dan tuntutan kondisi mereka, serta bahwa kaum muslimin tidak boleh terlibat dalam perdebatan sia-sia mengenai Perubahan Kiblat yang dimulai oleh orang-orang Yahudi dan munafik. Para mufasir, berdasarkan kandungan Ayat ini, meyakini bahwa kiblat adalah perkara konvensional (kontraktual) dan mengikuti kondisi waktu dan tempat, bukan kebenaran takwini atau prinsip agama yang tetap yang tidak dapat diubah. Dalam menafsirkan kata "wijhah" (وِجْهَةٌ) dalam ayat ini, selain bermakna kiblat, juga dimaknai sebagai metode dan cara, yang dalam hal ini berarti Qadha dan Qadar.

Di dalam ayat ini, kaum muslimin disarankan untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan daripada terlibat dalam perselisihan verbal mengenai hal-hal lahiriah. Mufasir mengartikan "khairat" (kebaikan-kebaikan) sebagai ketaatan kepada Allah atau amal saleh; sementara dalam beberapa riwayat, "khairat" ditafsirkan sebagai Islam atau Wilayah Ahlulbait as. Di akhir ayat juga disinggung mengenai Kekuasaan Allah dalam mengembalikan seluruh manusia pada Hari Kiamat. Mengenai bagian ayat ini, terdapat dua makna: lahiriah dan batiniah. Makna lahiriahnya berkaitan dengan pengumpulan umum di Kiamat; sedangkan banyak riwayat Syiah dalam makna batiniahnya menafsirkan ayat ini dengan berkumpulnya para sahabat Imam Mahdi as di era kemunculannya.

Setiap Kaum Memiliki Kiblat

Ayat 148 Surah Al-Baqarah dianggap sedang menjelaskan keragaman cara (metode) bangsa-bangsa, seruan kepada manusia untuk berlomba dalam kebaikan, dan kekuasaan Allah dalam mengumpulkan manusia.[1] Dikatakan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban kepada orang-orang Yahudi yang memicu banyak perdebatan di kalangan kaum muslimin mengenai Perubahan Kiblat.[2] Para mufasir menganggap turunnya ayat ini setelah ayat-ayat yang berkaitan dengan perubahan kiblat bertujuan untuk mencegah kaum muslimin terlibat dalam perdebatan sia-sia tentang perubahan kiblat. Poin lain yang diambil oleh para mufasir dari ayat ini adalah bahwa penentuan kiblat untuk setiap kaum dan bangsa dilakukan oleh Allah berdasarkan maslahat serta kondisi waktu dan tempat mereka; oleh karena itu, kiblat adalah perkara konvensional yang dapat berubah, bukan perkara takwini atau bagian dari prinsip agama yang tidak dapat mengalami perubahan.[3] Muhammad Jawad Mughniyah memandang desakan Yahudi dan Nasrani pada kiblat dan metode mereka sendiri padahal mereka memiliki kesadaran yang jelas akan kebatilannya.[4]

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Dan bagi setiap umat ada kiblat (arah) yang ditujunya. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Di mana pun kamu berada, Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 148)

Sayid Muhammad Taqi Modarresi, penulis kitab tafsir Min Huda al-Qur'an, menganggap menghadap ke kiblat mana pun, termasuk Kakbah atau Baitulmaqdis, sebagai manifestasi lahiriah Ibadah yang semata-mata tidak menjamin kebahagiaan manusia; melainkan ibadah hakiki yang berupa penyerahan diri kepada Allah dan amal saleh adalah faktor yang mengantarkan manusia pada keberuntungan dan keselamatan.[5]

Sayid Muhammad Husain Fadhlullah, salah satu mufasir Al-Qur'an, juga berpendapat bahwa ayat ini merujuk pada suatu perkara sosial yang menurutnya setiap kelompok dan bangsa membangun hubungan dengan orang lain berdasarkan fondasi pemikiran dan keimanan mereka sendiri, dan kaidah ini juga mencakup para Nabi; oleh karena itu, kaum muslimin tidak boleh terpengaruh oleh propaganda Yahudi dan munafik mengenai masalah kiblat, sehingga menjadi ragu terhadap metode positif spiritual dan moral yang sampai kepada mereka melalui Nabi Muhammad saw.[6] Ia juga meyakini bahwa ayat ini mengisyaratkan nikmat Allah kepada kaum muslimin, yaitu penyempurnaan syariat secara bertahap berdasarkan stabilitas, keamanan, dan kemenangan akhir mereka.[7]

Kiblat atau Cara dan Metode

Para mufasir mengenai kata "wijhah" (وِجْهَةٌ) dalam penggalan «وَ لِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهٰا» (Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya/arahnya), selain mengartikannya sebagai kiblat, juga menyampaikan beberapa kemungkinan makna lain. Misalnya, Thabarsi menukil dari beberapa mufasir, mengartikan kata ini dengan makna-makna seperti kiblat Yahudi dan Nasrani, cara dan metode setiap nabi, dan adanya berbagai arah bagi setiap kelompok muslim menuju Kakbah.[8] Selain itu, kata ini juga diartikan lebih luas dari sekadar makna kiblat, yaitu cara dan metode. Menurut makna ini, dikatakan bahwa bagi setiap kelompok manusia terdapat jalan dan metode yang mereka tuju, yang menurut para mufasir, mempertimbangkan makna ini untuk kata "wijhah" pada dasarnya adalah makna Qadha dan Qadar itu sendiri.[9]

Wilayah dan Kecintaan Ahlulbait as sebagai Contoh Kebaikan

Pada penggalan kedua ayat 148 Surah Al-Baqarah, Allah menyarankan kaum muslimin untuk saling mendahului dalam melakukan kebaikan. Para mufasir menganggap saran Allah ini dikarenakan agar kaum muslimin, alih-alih terlibat dalam perdebatan sia-sia dengan orang Yahudi mengenai perubahan kiblat yang merupakan perkara lahiriah, lebih baik fokus pada hakikat agama, yaitu berlomba-lomba dalam melakukan perbuatan baik yang menyebabkan peningkatan nilai eksistensi manusia.[10] Mengenai apa yang dimaksud dengan kata "khairat" (kebaikan-kebaikan) dalam ayat ini, meskipun para mufasir memberikan pendapat yang beragam; di antaranya mengartikannya sebagai ketaatan kepada Allah[11] atau melakukan adab dan hukum yang membantu manusia mencapai takdir yang disyariatkan baginya;[12] namun dalam sejumlah riwayat, yang dimaksud dengan khairat adalah Islam, Wilayah, dan kecintaan kepada Ahlulbait as.[13]

Mengumpulkan Sahabat Imam Zaman afs

Penggalan akhir ayat 148 Surah Al-Baqarah dianggap sebagai isyarat kepada Ma'ad dan kekuasaan Allah dalam mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat;[14] sebagaimana disebutkan dalam Tafsir al-Kasyif bahwa penggalan «أَيْنَ مٰا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اَللّٰهُ‌» (Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian) dalam ayat ini mengisyaratkan pada janji pahala bagi orang yang taat dan ancaman hukuman bagi pelaku maksiat, dan bahwa penekanan Allah atas kemampuan-Nya melakukan segala sesuatu setelah janji dan ancaman ini, adalah bukti atas kemampuan-Nya menghidupkan kembali manusia setelah mati dan mendatangkan mereka untuk perhitungan dan pemeriksaan.[15] Meskipun demikian, dalam banyak riwayat Syiah disebutkan bahwa penggalan ayat ini mengisyaratkan pada pengumpulan para sahabat Imam Mahdi as dari seluruh dunia pada saat zuhur (kemunculan).[16] Dalam Tafsir al-Burhan, disebutkan beberapa riwayat mengenai hal ini.[17] Tentu saja, Nashir Makarim Syirazi berpendapat mengenai riwayat-riwayat ini bahwa ayat-ayat Al-Qur'an terkadang memiliki makna lahiriah dan terkadang memiliki makna batiniah; di mana makna lahiriah ayat ini adalah kemampuan Allah untuk mengumpulkan manusia di Kiamat, dan makna batiniahnya adalah mengumpulkan para sahabat Mahdi as untuk mendirikan pemerintahan global.[18]

Catatan Kaki

  1. Rezaei Isfahani, Tafsir-e Qur'an-e Mehr (Tafsir Al-Qur'an Mehr), 1387 HS, jld. 2, hlm. 35-37.
  2. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh), 1374 HS, jld. 1, hlm. 501; Rezaei Isfahani, Tafsir-e Qur'an-e Mehr (Tafsir Al-Qur'an Mehr), 1387 HS, jld. 2, hlm. 35.
  3. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 1, hlm. 327; Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh), 1374 HS, jld. 1, hlm. 501; Qurasyi, Tafsir-e Ahsan al-Hadits (Tafsir Sebaik-baik Hadis), 1377 HS, jld. 1, hlm. 275; Rezaei Isfahani, Tafsir-e Qur'an-e Mehr (Tafsir Al-Qur'an Mehr), 1387 HS, jld. 2, hlm. 35.
  4. Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 1, hlm. 235.
  5. Modarresi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 1, hlm. 278.
  6. Fadhlullah, Tafsir min Wahyi al-Qur'an, 1439 H, jld. 1, hlm. 496-497.
  7. Fadhlullah, Tafsir min Wahyi al-Qur'an, 1439 H, jld. 1, hlm. 497.
  8. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hlm. 425.
  9. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 1, hlm. 327; Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh), 1374 HS, jld. 1, hlm. 504; Rezaei Isfahani, Tafsir-e Qur'an-e Mehr (Tafsir Al-Qur'an Mehr), 1387 HS, jld. 2, hlm. 36; Qara'ati, Tafsir-e Nur (Tafsir Cahaya), 1383 HS, jld. 1, hlm. 227.
  10. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 1, hlm. 327; Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh), 1374 HS, jld. 1, hlm. 501.
  11. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hlm. 426.
  12. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 1, hlm. 327.
  13. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 8, hlm. 313; Bahrani, Al-Burhan, 1415 H, jld. 1, hlm. 349; Syarafuddin Astarabadi, Ta'wil al-Ayat al-Zhahirah, 1409 H, hlm. 87.
  14. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh), 1374 HS, jld. 1, hlm. 502-503; Qurasyi, Tafsir-e Ahsan al-Hadits (Tafsir Sebaik-baik Hadis), 1377 HS, jld. 1, hlm. 275; Rezaei Isfahani, Tafsir-e Qur'an-e Mehr (Tafsir Al-Qur'an Mehr), 1387 HS, jld. 2, hlm. 36-37.
  15. Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 1, hlm. 236.
  16. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 8, hlm. 313; Nu'mani, Al-Ghaibah, 1397 H, jld. 1, hlm. 279-282; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 52, hlm. 291.
  17. Bahrani, Al-Burhan, 1415 H, jld. 1, hlm. 347-354.
  18. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh), 1374 HS, jld. 1, hlm. 503-504.

Daftar Pustaka

  • Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Bonyad-e Be'tsat, 1415 H.
  • Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir min Wahyi al-Qur'an. Beirut, Dar al-Malak, 1439 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Peneliti: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athhar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan Kedua, 1403 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
  • Modarresi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran, Dar Muhibbi al-Husain as, 1419 H.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Kasyif fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
  • Nu'mani, Muhammad bin Ibrahim. Al-Ghaibah. Korektor: Ali Akbar Ghaffari. Teheran, Nasyr-e Shaduq, 1397 H.
  • Qara'ati, Muhsin. Tafsir-e Nur (Tafsir Cahaya). Teheran, Markaz-e Farhangi-ye Dars-hai az Qur'an, 1388 HS.
  • Qurasyi, Ali Akbar. Tafsir-e Ahsan al-Hadits (Tafsir Sebaik-baik Hadis). Teheran, Bonyad-e Be'tsat, 1377 HS.
  • Rezaei Isfahani, Muhammad Ali. Tafsir-e Qur'an-e Mehr (Tafsir Al-Qur'an Mehr). Qom, Pazhuhesy-haye Tafsir va Olum-e Qur'an, 1387 HS.
  • Syarafuddin Astarabadi, Sayid Ali. Ta'wil al-Ayat al-Zhahirah fi Fadhail al-'Itrah al-Thahirah. Peneliti: Hossein Ostad Vali. Qom, Mu'assasah al-Nasyr al-Islami, 1409 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Mu'assasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1393 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.