Lompat ke isi

Konsep:Abū Syākir al-Daiṣānī

Dari wikishia
Nama LengkapAbu Syakir al-Daisani
GelarZindiq Terkenal di Era Imam Jafar Shadiq as
Murid-muridHaddad • Abu Isa • Ibnu Rawandi • Hushari • Hisyam bin Hakam
AktivitasMenyebarkan ajaran ateis • Menentang Al-Qur'an • Menulis buku menentang Rasulullah saw • Berdebat dengan Imam Shadiq as • Mengolok-olok jamaah haji


Abu Syakir al-Daisani (bahasa Arab:ابوشاکر الدَّیَصَانِی‏) adalah salah satu tokoh besar Daishaniyyah yang menganut Tsanawiyyah, yang berarti keyakinan akan adanya dua Tuhan (dua pencipta dan pengatur) di alam semesta. Ia hidup sezaman dengan Imam Shadiq as dan terlibat dalam berbagai perdebatan dengan Imam Shadiq as, baik secara langsung maupun melalui perantara Hisyam bin Hakam dan Mukmin al-Thaq.

Abu Syakir meragukan kenabian Rasulullah saw dan menulis buku yang mencela Nabi Islam. Ia bersama Abdul Malik Bashri dan Ibnu Muqaffa', atas saran Ibnu Abi al-'Auja', memutuskan untuk masing-masing menentang sebagian dari Al-Qur'an, namun mereka tidak berhasil melakukannya.

Meskipun melakukan berbagai aktivitas melawan kesucian Islam dan berdebat dengan Imam Shadiq as, Abu Syakir memuji beliau dan menganggap Imam as sebagai salah satu bintang ilmu pengetahuan yang bersinar terang.

Pengenalan dan Kedudukan

Abu Syakir al-Daishani adalah salah satu Zindiq[1] (mereka yang meyakini dua tuhan, yaitu tuhan cahaya dan kegelapan, atau seseorang yang tidak beriman kepada Akhirat[2]) dan tokoh besar Daishaniyyah[3] yang menganut Tsanawiyyah, yaitu keyakinan akan adanya dua tuhan (dua pencipta dan pengatur) di alam semesta.[4][catatan 1]

Mengenai mazhabnya, berdasarkan riwayat Syaikh Kulaini, Imam Shadiq as menyebutnya sebagai Zindiq yang jahat,[5] namun menurut riwayat Thabarsi, setelah Imam Shadiq as membuktikan keberadaan Tuhan, Abu Syakir bertaubat dari keyakinannya dan memeluk Islam.[6] Ia bersaksi atas Imamah Imam Shadiq as[7] dan menganggap dirinya bagian dari sekte Imamiyah.[8] Tentu saja, Sayid Muhsin al-Amin dari ulama Syiah meyakini bahwa Abu Syakir masuk Islam secara lahiriah, namun batinnya tetap Zindiq.[9]

Meskipun Abu Syakir seorang Zindiq, menurut laporan Syaikh Mufid, Abu Syakir memuji Imam Shadiq as dan menganggap beliau sebagai salah satu bintang ilmu pengetahuan yang bersinar terang, yang setiap kali nama para ilmuwan disebut, jari kelingking (yang digunakan untuk memulai hitungan) ditekuk untuk beliau (sebagai tanda penghormatan).[10]

Muhammad Shalih Mazandarani (wafat: 1081 H) menyebut nama Abu Syakir adalah Abdullah;[11] Muhaddits Urmawi juga berpendapat bahwa dari riwayat Syaikh Shaduq tersirat bahwa namanya adalah Abdullah.[12] Menurut kutipan Urmawi, penulis kitab "Fadhaih al-Rawafidh" menganggap nama Abu Syakir adalah Muhammad.[13] Tentu saja, beberapa orang[14] menganggap Abu Syakir al-Daishani berbeda dengan Abdullah al-Daishani.

Abu Syakir hidup pada masa Imam Shadiq as[15] di Kufah.[16] Tidak ada informasi mengenai tanggal lahir dan wafat Abu Syakir; namun Muhammad Hadi Ma'rifat (1930-2006 M), seorang ulama Syiah, menulis bahwa ia hidup hingga sekitar tahun 150 H.[17]

"Qadhi Abdul Jabbar" menganggap Haddad, Abu Isa, Ibnu Rawandi, dan Hushari sebagai murid-murid Abu Syakir.[18] Berdasarkan beberapa laporan, Hisyam bin Hakam termasuk murid Abu Syakir al-Daishani.[19] Dalam hal ini, bahkan ada riwayat dari Imam Ridha as yang menyebut Hisyam sebagai murid khusus Abu Syakir.[20] Tentu saja, pengaruh Abu Syakir al-Daishani terhadap Hisyam dan pemikirannya tidak jelas, dan bahkan dalam beberapa sumber dilaporkan bukti-bukti yang menentangnya.[21]

Perdebatan

Berdasarkan riwayat dan laporan sejarah, Abu Syakir melakukan perdebatan - baik secara langsung maupun tidak langsung melalui Hisyam bin Hakam dan Mukmin al-Thaq - dengan Imam Shadiq as:

  • Laporan Syaikh Shaduq, salah satu ulama Syiah (305-381 H), menunjukkan bahwa Abu Syakir meminta Imam Shadiq as untuk membuktikan keberadaan Tuhan baginya. Imam membuktikan prinsip keberadaan Tuhan baginya dengan menggunakan prinsip keberadaan manusia dan kemustahilan penciptaan dari ketiadaan.[22]
  • Syaikh Shaduq menulis bahwa Abu Syakir melalui perantara Hisyam bertanya kepada Imam Shadiq as apakah Tuhan mampu memasukkan dunia ke dalam telur tanpa dunia menjadi kecil atau telur menjadi besar? Imam menjawab pertanyaannya dengan perumpamaan dunia dan mata manusia.[23]
  • Syaikh Kulaini (wafat 329 H) menulis bahwa Abu Syakir menggunakan Ayat 84 Surah Az-Zukhruf untuk berargumen mendukung keyakinannya pada Tsanawiyyah (dua pencipta); namun Imam menjawabnya dengan argumen banyaknya nama satu orang di berbagai daerah.[24]
  • Syaikh Shaduq menulis, Abu Syakir meminta Imam Shadiq as untuk membuktikan kebaruan alam semesta. Imam membuktikan keberadaan Tuhan dengan menjelaskan telur dan struktur internalnya.[25][catatan 2]
  • Menurut laporan Ali bin Ibrahim al-Qummi, perawi dan mufasir Imamiyah pada paruh kedua abad ketiga dan awal abad keempat, Abu Syakir melalui perantara Mukmin al-Thaq bertanya kepada Imam Shadiq as tentang alasan pengulangan ayat "wa la antum 'abiduna ma a'bud" pada ayat 3 dan 5 Surah Al-Kafirun, dan Imam menjelaskan bahwa desakan Quraisy agar Rasulullah saw menerima tuhan-tuhan mereka adalah alasan pengulangan ayat ini.[26]

Tentu saja, berdasarkan laporan Syaikh Mufid, Abu Syakir tidak menerima sebagian argumen Imam Shadiq as.[27]

Aktivitas Melawan Kesucian Islam

Berdasarkan riwayat dan laporan sejarah, Abu Syakir melakukan berbagai aktivitas melawan kesucian Islam:

  • Thabarsi menulis bahwa Abu Syakir al-Daishani, Abdul Malik Bashri, dan Ibnu Muqaffa', atas saran Ibnu Abi al-'Auja', memutuskan untuk masing-masing menentang sebagian dari Al-Qur'an, dengan tujuan membatalkan Kenabian Nabi Muhammad saw dan Islam, namun mereka tidak berhasil melakukannya. Abu Syakir berkata: Saya tenggelam dalam ayat 22 Surah Al-Anbiya dan tidak mampu mendatangkan ayat yang serupa dengannya.[29]
  • Menurut laporan Thabarsi, Abu Syakir bersama Abdul Malik Bashri dan Ibnu Muqaffa' Ibnu Abi al-'Auja' duduk di Masjidil Haram dan mengolok-olok para jamaah haji.[30]

Catatan

  1. Daishan adalah nama sungai di kota Ruha (Edessa/Urfa), yang menjadi asal penisbatan Daishani. Ruha adalah kota di Jazirah antara Mosul dan Syam yang sekarang dikenal sebagai Edessa. *Lughat-nameh Dehkhoda*, entri Daishan dan Ruha.
  2. Imam Shadiq as sambil memegang sebutir telur berkata kepada Al-Daishani: Wahai Daishani, ini adalah benteng yang kokoh dan tertutup, memiliki kulit yang tebal, dan di bawah kulit tebal ini ada kulit tipis, dan di bawah kulit tipis itu ada kuning telur seperti emas cair, dan putih telur seperti perak cair. Kuning telur yang seperti emas cair tidak bercampur dengan putih telur yang seperti perak cair, dan putih telur yang seperti perak cair tidak bercampur dengan kuning telur yang seperti emas cair. Telur ini tetap dalam keadaannya, tidak ada yang keluar darinya untuk memberitahukan kebaikannya, dan tidak ada perusak yang masuk ke dalamnya untuk memberitahukan kerusakannya. Tidak diketahui apakah jantan atau betina, dan tiba-tiba pecah dan keluarlah warna-warni seperti warna burung merak. Apakah engkau melihat ada pengatur bagi telur ini yang mengatur dan merencanakannya?

Catatan Kaki

  1. Thabarsi, *Al-Ihtijaj*, 1403 H, jld. 2, hlm. 333.
  2. Wasithi Zubaidi, *Taj al-'Arus*, 1414 H, jld. 13, hlm. 201.
  3. Amin Amili, *A'yan al-Syi'ah*, 1403 H, jld. 1, hlm. 46.
  4. Syabastari, *Al-Fa'iq*, 1418 H, jld. 2, hlm. 274.
  5. Kulaini, *Al-Kafi*, 1407 H, jld. 1, hlm. 129.
  6. Tharihi, *Majma' al-Bahrain*, 1375 HS, jld. 4, hlm. 171.
  7. Thabarsi, *Al-Ihtijaj*, 1403 H, jld. 2, hlm. 333.
  8. Syabastari, *Al-Fa'iq*, 1418 H, jld. 2, hlm. 274.
  9. Amin Amili, *A'yan al-Syi'ah*, 1403 H, jld. 1, hlm. 46.
  10. Syaikh Mufid, *Al-Irsyad*, 1413 H, jld. 2, hlm. 201-202.
  11. Mazandarani, *Syarh al-Kafi*, 1382 H, jld. 4, hlm. 115.
  12. Muhaddits Urmawi, *Ta'liqat Naqdh*, 1358 HS, jld. 1, hlm. 81.
  13. Muhaddits Urmawi, *Ta'liqat Naqdh*, 1358 HS, jld. 1, hlm. 81.
  14. Bu Saninah, *Mawsu'ah A'lam al-'Ulama'*, 1425 H, jld. 7, hlm. 92; Ni'mah, *Falasifeh-ye Shi'eh*, 1367 HS, hlm. 519.
  15. Thabarsi, *Al-Ihtijaj*, 1403 H, jld. 2, hlm. 333.
  16. Ma'rifat, *Al-Tamhid*, 1410 H, jld. 4, hlm. 243.
  17. Ma'rifat, *Al-Tamhid*, 1410 H, jld. 4, hlm. 243.
  18. Abdul Jabbar, *Tatsbit Dala'il al-Nubuwwah*, jld. 2, hlm. 371.
  19. Barqi, *Al-Thabaqat (Rijal al-Barqi)*, 1383 H, hlm. 35.
  20. Kasyi, *Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal*, 1409 H, hlm. 278.
  21. *Tauhid Mufadhdhal*, terjemahan Allamah Majlisi, hlm. 18.
  22. Syaikh Shaduq, *Al-Tauhid*, 1398 H, hlm. 290.
  23. Syaikh Shaduq, *Al-Tauhid*, 1398 H, hlm. 122-123.
  24. Kulaini, *Al-Kafi*, 1407 H, jld. 1, hlm. 128-129.
  25. Syaikh Shaduq, *Al-Tauhid*, 1398 H, hlm. 292-293.
  26. Qummi, *Tafsir al-Qummi*, 1404 H, jld. 2, hlm. 445.
  27. Syaikh Mufid, *Al-Irsyad*, 1413 H, jld. 2, hlm. 202.
  28. Abdul Jabbar, *Tatsbit Dala'il al-Nubuwwah*, jld. 2, hlm. 371.
  29. Thabarsi, *Al-Ihtijaj*, 1403 H, jld. 2, hlm. 377.
  30. Thabarsi, *Al-Ihtijaj*, 1403 H, jld. 2, hlm. 377.

Daftar Pustaka

  • Abdul Jabbar, Qadhi. *Tatsbit Dala'il al-Nubuwwah*. Kairo: Dar al-Musthafa, Syubra, n.d.
  • Allamah Majlisi, Muhammad Baqir. *Terjemahan Tauhid Mufadhdhal*. Investigasi dan Koreksi: Baqeri Bidehendi, Naser; Thabathaba'i, Muhammad Husain. Teheran: Entesyarat-e Wezarat-e Farhang wa Ersyad-e Eslami, Cetakan Pertama, 1379 HS.
  • Amin Amili, Sayid Muhsin. *A'yan al-Syi'ah*. Beirut: Dar al-Ta'arif lil-Mathbu'at, Cetakan Pertama, 1403 H.
  • Barqi, Ahmad bin Muhammad bin Khalid. *Al-Thabaqat (Rijal al-Barqi)*. Investigasi dan Koreksi: Thusi, Muhammad bin Hasan; Musthafavi, Hasan. Entesyarat-e Danesygah-e Tehran, Cetakan Pertama, 1342 H.
  • Bu Saninah, Munjiy. *Mawsu'ah A'lam al-'Ulama' wa al-Udaba' al-Arab wa al-Muslimin*. Tunis: Jami'ah al-Duwal al-Arabiyyah, Al-Munazhzhamah al-Arabiyyah lil-Tarbiyah wa al-Tsaqafah wa al-Ulum, Cetakan Pertama, 1425 H.
  • Kasyi, Muhammad bin Umar. *Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal*. Investigasi dan Koreksi: Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan; Musthafavi, Hasan. Masyhad: Mu'assasah Nasyr-e Danesygah-e Masyhad, Cetakan Pertama, 1409 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. *Al-Kafi*. Peneliti: Ghaffari, Ali Akbar; Akhundi, Muhammad. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Keempat, 1407 H.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi. *Al-Tamhid fi 'Ulum al-Qur'an*. Qom: Markaz-e Mudiriyat-e Hauzah Ilmiyah, Cetakan Ketiga, 1410 H.
  • Mazandarani, Muhammad Shalih. *Syarh al-Kafi (Al-Ushul wa al-Raudhah)*. Teheran: Al-Maktabah al-Islamiyyah, 1382 H.
  • Muhaddits Urmawi, Jalaluddin. *Ta'liqat Naqdh*. Teheran: Entesyarat-e Anjoman-e Asar-e Melli, 1358 HS.
  • Ni'mah, Abdullah. *Falasifeh-ye Shi'eh*. Penerjemah: Ghazban, Ja'far. Teheran: Sazman-e Entesyarat va Amuzesh-e Enqelab-e Eslami, Cetakan Pertama, 1367 HS.
  • Qummi, Ali bin Ibrahim. *Tafsir al-Qummi*. Qom: Dar al-Kitab, 1404 H.
  • Syabastari, Abdul Husain. *Al-Fa'iq fi Ruwah wa Ashhab al-Imam al-Shadiq as*. Qom: Jame'eh Modarresin, Cetakan Pertama, 1418 H.
  • Syaikh Mufid, Muhammad bin Muhammad. *Al-Irsyad fi Ma'rifah Hujaj Allah 'ala al-'Ibad*. Qom: Kongres Syaikh Mufid, Cetakan Pertama, 1413 H.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. *Al-Tauhid*. Investigasi dan Koreksi: Husaini, Hasyim. Qom: Daftar-e Entesyarat-e Eslami, Cetakan Pertama, 1398 H.
  • Thabarsi, Ahmad bin Ali. *Al-Ihtijaj 'ala Ahl al-Lajaj*. Investigasi dan Koreksi: Kharsan, Muhammad Baqir. Masyhad: Nasyr-e Mortadha, Cetakan Pertama, 1403 H.
  • Tharihi, Fakhruddin. *Majma' al-Bahrain*. Peneliti: Husaini, Sayid Ahmad. Teheran: Ketabfurushi-ye Mortazavi, Cetakan Ketiga, 1375 HS.
  • Wasithi Zubaidi, Muhibbuddin. *Taj al-'Arus min Jawahir al-Qamus*. Beirut: Dar al-Fikr, 1414 H.

Pranala Luar