Lompat ke isi

Konsep:Taqti' al-Hadits

Dari wikishia

Taqti' al-Hadits (pemenggalan hadis) adalah pemotongan sebuah Hadis dan penukilan sebagian darinya, yang juga diingat dengan judul "Ikhtishar al-Hadits" atau "Talkhish al-Hadits". Taqti' dibagi menjadi berbagai kategori berdasarkan kriteria seperti pelaksanaannya oleh perawi atau mufasir, pemenggalan dalam ucapan perawi atau Maksum as, dan lokasi pemenggalannya.

Penyusunan bab riwayat-riwayat panjang dengan beragam tema, peringkasan hadis, pencukupan penukilan pada bagian yang diperlukan dari sebuah riwayat, serta tujuan-tujuan keyakinan (akidah) termasuk di antara motivasi dalam pemenggalan hadis. Tujuan keyakinan terjadi ketika ahli hadis menghapus sebagian dari sebuah hadis berdasarkan penyebaran pandangan pribadinya dan penolakan terhadap keyakinan orang lain. Sebagaimana mungkin ia melihat sebagian hadis tidak selaras dengan keyakinannya, atau meyakini adanya penambahan bagian tersebut oleh para perawi, atau melakukan penghapusan dan pemenggalan karena sebab seperti Taqiyah.

Sebagian berpendapat akan kebolehan taqti' dan sebagian berpendapat tidak boleh, serta sejumlah orang menerimanya secara bersyarat dan mempertimbangkan syarat-syarat bagi pemenggal seperti Takwa dan ilmu yang cukup terhadap riwayat-riwayat serta kaidah-kaidah berbicara, juga keadaan hadis yang mengandung multitopik. Sebagaimana pelaksanaan taqti' dari sisi perawi dianggap tidak boleh. Untuk taqti' disebutkan dampak-dampak seperti perbedaan dan pertentangan dalam berita, kesamaran dalam makna dan sanad riwayat, serta hadis menjadi mudhmar, yaitu tidak jelasnya nama Maksum as di dalamnya.

Taqti' telah digunakan secara luas oleh para ahli hadis Syiah dan Ahlusunah saat penulisan kumpulan-kumpulan hadis dan penyusunan bab-bab hadis. Dikatakan bahwa Al-Kutub al-Arba'ah Syiah dan Al-Kutub al-Sittah Ahlusunah juga melakukan taqti'. Kitab Wasail al-Syiah karya Syekh Hurr al-Amili dikenal sebagai kitab yang paling menonjol dalam bidang taqti'.

Definisi dan Jenis-jenis Taqti'

Taqti' al-hadits dikatakan sebagai pemotongan sebuah riwayat dan pencantuman setiap bagian pada bab yang sesuai dengannya.[1] Sebagaimana terkadang ia dimaknai sebagai penukilan sebagian riwayat tanpa bagian lainnya.[2] Definisi terakhir juga digunakan dalam kasus ikhtishar (peringkasan) hadis.[3] Taqti' al-hadits juga diingat dengan judul-judul seperti "Ikhtishar al-Hadits"[4] atau "Talkhish al-Hadits".[5] Meskipun sebagian peneliti membedakan antara taqti' al-hadits dan ikhtishar al-hadits.[6] Di antara hal lain yang berkaitan dengan taqti' al-hadits adalah "Athraf-newisi" (penulisan poin-poin penting), di mana mufasir menukil bagian paling menonjol dari sebuah hadis kemudian mengumpulkan seluruh sanad dan jalan periwayatan hadis ini secara terpusat, yang dianggap semacam daftar panduan atau kamus pelacak hadis.[7]

Jenis-jenis Taqti'

Pemenggalan riwayat-riwayat ditinjau dari berbagai aspek dibagi menjadi beberapa kategori:[8]

  1. Berdasarkan lokasi pemenggalan, yang berada dalam ucapan perawi atau dalam ucapan Maksum as. Dalam artian terkadang ucapan perawi dihapus karena beberapa alasan, dan terkadang sebagian ucapan Imam Maksum as tidak dilaporkan oleh ahli hadis.[9] Juga terkadang pemenggalan berada dalam teks Hadis dan terkadang dalam sanadnya.[10]
  2. Berdasarkan pelaku pemenggalan, yang terkadang adalah perawi dan terkadang penulis kumpulan hadis.[11] Dalam artian beberapa kali perawi menukil sebagian riwayat dan meninggalkan bagian lainnya yang disebut pemenggalan dalam ucapan perawi, dan terkadang pemenggalan yang terjadi dalam mushannaf atau karya tulis. Yaitu mufasir memenggal riwayat yang mencakup berbagai topik dan meletakkan setiap bagian pada bab khusus.[12]
  3. Berdasarkan posisi bagian yang dihapus, yang bisa berada di awal hadis, di akhir, atau keduanya.[13]

Motivasi dan Tujuan dalam Pemenggalan

Pelaksanaan taqti' oleh para mufasir dilakukan dengan berbagai motivasi:

  1. Penyusunan Bab Hadis dalam Berbagai Topik: Para ahli hadis terkadang dengan tujuan mengklasifikasikan hadis-hadis dalam berbagai topik dan memudahkan rujukan pembaca, melakukan pemenggalan hadis dan hanya menyebutkan bagian yang berkaitan dengan judul bab serta menghapus sisanya.[14] Sebagaimana pemenggalan dalam riwayat-riwayat panjang dan memiliki beragam konsep dianggap perlu.[15]
  2. Peringkasan Hadis: Penulis kumpulan hadis terkadang untuk mencegah pengulangan materi atau keyakinan bahwa tidak ada hubungan antar kalimat dalam sebuah hadis, hanya mencukupkan pada penukilan satu bagian.[16]
  3. Pengaturan Ucapan: Dikatakan bahwa bagian besar dari pemenggalan hadis dilakukan untuk penggunaan bagian yang diperlukan dalam sebuah hadis atau penyandaran pada sebagian darinya demi pembuktian keyakinan individu dan kelompok.[17] Sebagaimana pelaksanaan hal ini oleh para penulis dan mubalig agama dianggap sebagai perkara yang lumrah.[18]
  4. Tujuan Keyakinan (Akidah): Terkadang pemenggalan dikarenakan ahli hadis melihat sebagian hadis tidak selaras dengan keyakinannya, maka ia menganggap bagian ini sebagai tambahan perawi dan melakukan penghapusan.[19] Mufasir Nuri pemilik Mustadrak al-Wasail menisbatkan pemenggalan semacam ini kepada Syekh Shaduq dan menghitung contoh-contoh semacam ini dalam karya-karya Shaduq.[20] Juga terkadang perawi atau ahli hadis menganggap penukilan beberapa bagian hadis tidak bermaslahat bagi umum dan menghapusnya.[21] Sebagian pensyarah Nahjul Balaghah meyakini sebagian dari Khotbah kedua Nahjul Balaghah dihapus oleh Syarif Radhi karena sebab Taqiyah.[22] Menurut keyakinan sebagian peneliti, dalam kumpulan hadis Ahlusunah juga terkadang beberapa materi yang menjelaskan keutamaan Imam Ali as atau kritik terhadap tiga khalifah telah dipenggal.[23] Selain itu terkadang pemenggalan dilakukan untuk pembuktian atau penyebaran keyakinan akidah atau untuk memicu perselisihan.[24]

Pendapat-pendapat Mengenai Taqti'

Secara umum mengenai pemenggalan Hadis terdapat tiga pendapat yang dikemukakan: tidak boleh, boleh secara mutlak, dan boleh secara bersyarat.[25] Sejumlah orang menambahkan kategori keempat yaitu boleh jika telah dinukil sebelumnya.[26] Yakni pemenggalan diperbolehkan saat riwayat tersebut sebelumnya telah dinukil secara sempurna.[27]

Menurut pernyataan para peneliti, mereka yang tidak mengizinkan pemenggalan berhujjah dengan alasan-alasan seperti penghapusan petunjuk (karinah) dan bukti yang berpengaruh dalam pemahaman hadis, perubahan dan kesalahan dalam makna riwayat, serta pada akhirnya ketidakpahaman sempurna hadis jika dilakukan pemenggalan.[28]

Sebaliknya mereka yang membolehkan pemenggalan bersandar pada riwayat-riwayat bagian ini,[29] prinsip kebolehan (ashalah al-ibahah), serta sirah uqala dan kaum Muslim dalam kebolehan memenggal ucapan mendetail yang memiliki beragam topik.[30] Khathib Baghdadi dalam bidang ini bahkan merujuk pada mimpi Nu'aim bin Hammad salah seorang ahli hadis bahwa Nabi Islam saw dalam mimpi telah memberinya izin untuk memenggal hadis-hadis.[31] Meskipun beberapa peneliti menduga bahwa masalah ini adalah hiperbola dari sisi para pendukung pemenggalan hadis.[32]

Dalam pandangan mereka yang membolehkan pemenggalan secara bersyarat, dipertimbangkan beberapa syarat untuk pemenggalan: [33]

  • Pemenggalan diperbolehkan pada kondisi di mana riwayat mengandung beberapa hukum yang tidak berkaitan satu sama lain.[34]
  • Orang yang memenggal memiliki Takwa sedemikian hingga kemungkinan kelalaiannya dalam pemenggalan sirna.[35]
  • Orang yang melakukan pemenggalan harus mengetahui uslub bicara[36] dan mengetahui bahwa materi yang dihapus dalam bentuk pengecualian (istisna'), syarat, dan batas akhir (ghayah) tidak berkaitan dengan materi yang ada, dan pemenggalan tidak akan menyebabkan gangguan dalam pemahaman hadis.[37] Oleh karena itu pemenggalan dianggap boleh saat petunjuk yang berpengaruh dalam pemahaman materi tidak dihapus dalam teks yang dipenggal.[38]
  • Selain itu, pemenggalan yang dilakukan oleh perawi tidak diterima. Karena secara praktis akan menyebabkan penghapusan sebagian materi secara total.[39] Oleh karena itu masalah utama dalam pemenggalan dianggap berkaitan dengan saat di mana disangka bahwa seluruh hadis adalah materi yang ada ini saja.[40]

Dampak-dampak Pemenggalan dalam Riwayat

Pemenggalan dalam hadis-hadis terkadang menyebabkan munculnya kerusakan sebagai berikut:

Kerusakan Tekstual

Pemenggalan dalam riwayat dianggap sebagai penyebab perbedaan dalam hadis dan konsepnya.[41] Sebagaimana penghapusan petunjuk yang ada dalam teks yang muncul akibat pemenggalan dianggap sebagai penyebab kontradiksi dalam berita.[42] Isyarat pada kerusakan kontradiksi dalam pemenggalan dinisbatkan kepada Muhammad bin Idris al-Syafi'i, Syekh Shaduq, Syekh Anshari, dan lainnya.[43] Agha Reza Hamadani dalam kitab Mishbah al-Faqih, menganggap pemenggalan berita sebagai penyebab gangguan dalam hadis.[44] Syekh Thusi dalam bidang ini merujuk pada hadis-hadis yang mana ketiadaan penukilan sempurnanya menyebabkan perubahan dalam makna hadis.[45] Khususnya penghapusan petunjuk seperti pertanyaan perawi, sebab-sebab, dan ruang lingkup keluarnya hadis dianggap sebagai penyebab kerusakan pada teks hadis.[46] Beberapa peneliti meyakini bahwa pemenggalan yang tidak benar menyebabkan tidak bisa bersandar pada zahir (zuhur) hadis.[47] Ayatullah Khoei dalam kitab Mishbah al-Ushul menganggap pemenggalan -jika pemenggal tidak memiliki takwa yang diperlukan dan keakraban dengan kaidah bicara- sebagai penghalang terbentuknya zuhur hadis.[48]

Kerusakan Sanad

Dalam pemenggalan, terkadang beberapa perawi dihapus dari sanad sebuah riwayat yang menyebabkannya menjadi berbentuk hadis mursal atau semi-mursal dan dengan adanya kesamaran dalam sanad maka gugur dari keabsahan.[49] Juga pemenggalan dianggap sebagai salah satu sebab hadis menjadi mudhmar.[50] Hadis Mudhmar adalah riwayat yang mana nama Maksum as dihapus darinya dan sebagai gantinya digunakan kata ganti orang ketiga. Penjelasannya adalah para perawi awal saat penulisan hadis, di awal kitabnya menegaskan bahwa materi yang dikumpulkan didengar dari Imam anu, dan pada kesempatan berikutnya dalam merujuk kepada Imam mereka menggunakan kata ganti dan memakai ungkapan seperti "sa'altuhū (aku bertanya kepadanya)" atau "sami'tu minhu (aku mendengar darinya)". Penulis kumpulan hadis, saat memenggal riwayat-riwayat ini dalam berbagai bab, menukil materi tersebut dengan ungkapan yang sama dari perawi awal yang menyebabkan nama Imam menjadi samar.[51]

Praktik Pemenggalan Oleh Para Ahli Hadis

Beberapa peneliti meyakini bahwa banyak penyusun hadis melakukan pemenggalan riwayat-riwayat.[52] Sedemikian hingga sebagian berkeyakinan bahwa hadis-hadis mengalami banyak pemenggalan dan dalam ushul awal riwayat tidaklah berbentuk seperti sekarang ini.[53] Bagaimanapun, pemenggalan riwayat dengan tujuan pengklasifikasiannya dalam berbagai bab dianggap memiliki sejarah kuno yang dimulai secara resmi sejak akhir abad ke-2/ke-8 oleh para ahli hadis Syiah dan Ahlusunah.[54] Meskipun masalah ini menjadi umum saat penulisan kitab-kitab hadis induk, namun sebelum itu pun sudah ada sampai batas tertentu.[55] Syekh Thusi merujuk pada kasus-kasus di mana pemenggalan terjadi secara lisan.[56]

Syahid Tsani menganggap pelaksanaan pemenggalan adalah hal yang umum antara Syiah dan Ahlusunah.[57] Sebagaimana dikatakan bahwa kebanyakan kumpulan hadis kedua belah pihak termasuk Al-Kutub al-Arba'ah Syiah dan Al-Kutub al-Sittah Ahlusunah demi penyusunan bab dan peringkasan, telah melakukan pemenggalan riwayat.[58] Dalam bidang yang sama beberapa peneliti dengan meneliti riwayat-riwayat kitab Man La Yahdhuruhu al-Faqih menganggap sepuluh setengah persen dari seluruh riwayat kitab ini telah dipenggal,[59] yang mana sekitar enam belas persen dari pemenggalan ini disertai dengan kerusakan.[60] Juga beberapa penulis merujuk pada pelaksanaan pemenggalan-pemenggalan oleh Syekh Thusi dalam Tahdzib al-Ahkam yang menyebabkan penghapusan petunjuk yang berguna dalam pemahaman hadis.[61] Sebagaimana menurut keyakinan Wahid Behbahani, beberapa pemenggalan Syekh Thusi dalam riwayat-riwayat yang ia nukil dari kitab al-Kafi, menyebabkan munculnya perubahan dalam hukum subjek hadis.[62] Dalam kumpulan hadis Ahlusunah juga termasuk Shahih Bukhari dirujuk adanya pemenggalan-pemenggalan.[63] Suyuthi dalam kitab al-Jami' al-Shaghir-nya juga melakukan pemenggalan[64] dan menurut dugaan peneliti ia melakukan banyak kesalahan dalam pemenggalan-pemenggalan ini.[65] Sedemikian hingga beberapa pensyarah kitab ini merujuk pada beberapa pemenggalan yang tidak benar oleh Suyuthi.[66]

Kitab Wasail al-Syiah dikenal sebagai contoh paling nyata dari kumpulan hadis Syiah dalam hal pemenggalan.[67] Menurut keyakinan beberapa peneliti, Jami' Ahadiits al-Syiah dikumpulkan oleh Ayatullah Burujirdi agar kekurangan akibat pemenggalan hadis dalam Wasail al-Syiah dapat tertutupi.[68] Sebaliknya beberapa orang berkeyakinan bahwa volume kesalahan akibat pemenggalan dalam Wasail al-Syiah telah dibesar-besarkan dan kasus-kasus kesalahan akibat pemenggalan dalam kitab ini dibandingkan dengan volume pemenggalan, sangatlah langka dan sedikit.[69]

Catatan Kaki

  1. Syahid Tsani, Al-Ri'ayah fi 'Ilm al-Dirayah, 1408 H, hlm. 319; Jadidi Nejad, Mu'jam Mushthalahat al-Rijal wa al-Dirayah, 1380 HS, hlm. 41.
  2. Mamagani, Miqbas al-Hidayah, 1411 H, jld. 3, hlm. 254.
  3. Suyuthi, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi, Dar Thiba, jld. 1, hlm. 539; Ibnu al-Shalah, Muqaddimah Ibnu al-Shalah, 1986 M, hlm. 215; Jadidi Nejad, Mu'jam Mushthalahat al-Rijal wa al-Dirayah, 1380 HS, hlm. 17.
  4. Mamagani, Miqbas al-Hidayah, 1411 H, jld. 3, hlm. 254; Jadidi Nejad, Mu'jam Mushthalahat al-Rijal wa al-Dirayah, 1380 HS, hlm. 41.
  5. Nuri, "Taqti'-e Rawayat wa Tasir-e on dar Estinbath-e Fiqhi", hlm. 332.
  6. Jadidi Nejad, Mu'jam Mushthalahat al-Rijal wa al-Dirayah, 1380 HS, hlm. 17.
  7. Ma'aref, Syinakht-e Hadits (Mabani-ye Fahm-e Matn - Ushul-e Naqd-e Sanad), 1387 HS, hlm. 83.
  8. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat", hlm. 137-144.
  9. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat", hlm. 137-138.
  10. Nuri, "Taqti'-e Rawayat wa Tasir-e on dar Estinbath-e Fiqhi", hlm. 344.
  11. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat", hlm. 143.
  12. Nuri, "Taqti'-e Rawayat wa Tasir-e on dar Estinbath-e Fiqhi", hlm. 332.
  13. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat", hlm. 144.
  14. Khoei, Mishbah al-Ushul, 1417 H, jld. 2, hlm. 121.
  15. Thabathaba'i, Manthiq-e Fahm-e Hadits, 1398 HS, hlm. 385-386.
  16. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat", hlm. 139.
  17. Ma'aref, Syinakht-e Hadits (Mabani-ye Fahm-e Matn - Ushul-e Naqd-e Sanad), 1387 HS, hlm. 84.
  18. Ma'aref, Syinakht-e Hadits (Mabani-ye Fahm-e Matn - Ushul-e Naqd-e Sanad), 1387 HS, hlm. 84.
  19. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat", hlm. 138.
  20. Mufasir Nuri, Mustadrak al-Wasail, 1408 H, jld. 11, hlm. 169-171.
  21. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat", hlm. 141.
  22. Qazvini Ha'iri, Syarh Nahjul Balaghah, 1371 H, jld. 1, hlm. 115-116.
  23. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat", hlm. 142-143; Nuri, "Taqti'-e Rawayat wa Tasir-e on dar Estinbath-e Fiqhi", hlm. 333-336.
  24. Ma'aref, Syinakht-e Hadits (Mabani-ye Fahm-e Matn - Ushul-e Naqd-e Sanad), 1387 HS, hlm. 87-89.
  25. Nuri, "Taqti'-e Rawayat wa Tasir-e on dar Estinbath-e Fiqhi", hlm. 332.
  26. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat", hlm. 134.
  27. Syahid Tsani, Al-Ri'ayah fi 'Ilm al-Dirayah, 1408 H, hlm. 317; Suyuthi, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi, Dar Thiba, jld. 1, hlm. 539.
  28. Nuri, "Taqti'-e Rawayat wa Tasir-e on dar Estinbath-e Fiqhi", hlm. 333.
  29. Untuk contoh: Kulaini, Al-Kafi (buku), 1407 H, jld. 1, hlm. 51-52; Khathib Baghdadi, Al-Kifayah fi 'Ilm al-Riwayah, Al-Maktabah al-Ilmiyyah, hlm. 189-190.
  30. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat", hlm. 134.
  31. Khathib Baghdadi, Al-Kifayah fi 'Ilm al-Riwayah, Al-Maktabah al-Ilmiyyah, hlm. 194.
  32. Ma'aref, Syinakht-e Hadits (Mabani-ye Fahm-e Matn - Ushul-e Naqd-e Sanad), 1387 HS, hlm. 80.
  33. Nuri, "Taqti'-e Rawayat wa Tasir-e on dar Estinbath-e Fiqhi", hlm. 334.
  34. Khathib Baghdadi, Al-Kifayah fi 'Ilm al-Riwayah, Al-Maktabah al-Ilmiyyah, hlm. 193.
  35. Khoei, Mishbah al-Ushul, 1417 H, jld. 2, hlm. 121.
  36. Khoei, Mishbah al-Ushul, 1417 H, jld. 2, hlm. 121.
  37. Hamadani, Taqti' Hadits, "Arzyabi-ye Taqti' dar al-Jami' al-Shaghir", hlm. 137.
  38. Thabathaba'i, Manthiq-e Fahm-e Hadits, 1398 HS, hlm. 385-386.
  39. Nuri, "Taqti'-e Rawayat wa Tasir-e on dar Estinbath-e Fiqhi", hlm. 332-333.
  40. Nuri, "Taqti'-e Rawayat wa Tasir-e on dar Estinbath-e Fiqhi", hlm. 347.
  41. Sistani, Al-Rafid fi 'Ilm al-Ushul, 1414 H, hlm. 28-29; Gorji, Tarikh-e Fiqh wa Fuqaha, 1379 HS, hlm. 248.
  42. Hashemi Shahroudi, Buhuts fi 'Ilm al-Ushul, 1417 H, jld. 7, hlm. 30.
  43. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat", hlm. 145.
  44. Hamadani, Mishbah al-Faqih, 1416 H, jld. 4, hlm. 352.
  45. Syekh Thusi, Al-'Uddah fi Ushul al-Fiqh, 1417 H, jld. 1, hlm. 94-95.
  46. Hamadani, "Taqti' Hadits (Arzyabi-ye Taqti' dar al-Jami' al-Shaghir)", hlm. 137.
  47. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat", hlm. 147.
  48. Khoei, Mishbah al-Ushul, 1417 H, jld. 2, hlm. 121.
  49. Nuri, "Taqti'-e Rawayat wa Tasir-e on dar Estinbath-e Fiqhi", hlm. 344.
  50. Hamadani, Mishbah al-Faqih, 1416 H, jld. 1, hlm. 307; Amuli, Mishbah al-Huda, 1380 H, jld. 12, hlm. 249.
  51. Yazdi, Namudaj fi al-Fiqh al-Ja'fari, 1410 H, hlm. 227.
  52. Thabathaba'i, Manthiq-e Fahm-e Hadits, 1398 HS, hlm. 385-386.
  53. Wahid Behbahani, Al-Fawa'id al-Ha'iriyah, 1415 H, hlm. 119.
  54. Ma'aref, Syinakht-e Hadits (Mabani-ye Fahm-e Matn - Ushul-e Naqd-e Sanad), 1387 HS, hlm. 79.
  55. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti' dar Rawayat", hlm. 132-133.
  56. Syekh Thusi, Al-'Uddah fi Ushul al-Fiqh, 1417 H, jld. 1, hlm. 94-95.
  57. Syahid Tsani, Al-Ri'ayah fi 'Ilm al-Dirayah, 1408 H, hlm. 321.
  58. Ma'aref dkk, "Taqti'-e Rawayat dar Wasail al-Syi'eh", hlm. 4.
  59. Ali-Akbarian dkk, "Taqti'-e Rawayat dar Ketab-e Man La Yahdhuruhu al-Faqih; Misdaq-ha, Angizeh-ha wa Asib-ha", hlm. 73.
  60. Ali-Akbarian dkk, "Taqti'-e Rawayat dar Ketab-e Man La Yahdhuruhu al-Faqih; Misdaq-ha, Angizeh-ha wa Asib-ha", hlm. 86.
  61. Syusytari, Al-Naj'ah fi Syarh al-Lum'ah, 1406 H, jld. 1, hlm. 398-399; jld. 4, hlm. 114.
  62. Wahid Behbahani, Al-Fawa'id al-Ha'iriyah, 1415 H, hlm. 119.
  63. Nuri, "Taqti'-e Rawayat wa Tasir-e on dar Estinbath-e Fiqhi", hlm. 332-333.
  64. Hamadani, "Taqti' Hadits (Arzyabi-ye Taqti' dar al-Jami' al-Shaghir)", hlm. 134.
  65. Hamadani, "Taqti' Hadits (Arzyabi-ye Taqti' dar al-Jami' al-Shaghir)", hlm. 135.
  66. Munawi, Faidh al-Qadir Syarh al-Jami' al-Shaghir, 1422 H, jld. 3, hlm. 537 dan jld. 4, hlm. 548 dan jld. 5, hlm. 402, 464; Shan'ani, Al-Tanwir Syarh al-Jami' al-Shaghir, 1432 H, jld. 5, hlm. 303 dan jld. 8, hlm. 366.
  67. Ma'aref dkk, "Taqti'-e Rawayat dar Wasail al-Syi'eh", hlm. 4.
  68. Mahdavi Rad dan Daliri, "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat", hlm. 152.
  69. Ma'aref dkk, "Taqti'-e Rawayat dar Wasail al-Syi'eh", hlm. 24.

Daftar Pustaka

  • Amuli, Mirza Muhammad Taqi. Mishbah al-Huda fi Syarh al-Urwah al-Wutsqa. Teheran, 1380 H.
  • Ibnu al-Shalah, Utsman bin Abdurrahman Syahrazuri. Muqaddimah Ibnu al-Shalah fi 'Ulum al-Hadits. Riset: Nuruddin 'Itr. Beirut, Dar al-Fikr al-Mu'ashir, 1986 M.
  • Jadidi Nejad, Muhammad Reza. Mu'jam Mushthalahat al-Rijal wa al-Dirayah. Di bawah pengawasan: Muhammad Kazim Rahman-setayesy. Qom, Dar al-Hadits, 1380 HS.
  • Khathib Baghdadi, Ahmad bin Ali. Al-Kifayah fi 'Ilm al-Riwayah. Riset: Abu Abdullah al-Suraqi dan Ibrahim Hamdi al-Madani. Madinah, Al-Maktabah al-Ilmiyyah, tanpa tahun.
  • Khoei, Sayid Abu al-Qasim. Mishbah al-Ushul. Taqrir: Muhammad Surur Wa'iz al-Husaini dan Riset: Javad Qayyumi Esfahani. Qom, Maktabah al-Dawari, 1417 H.
  • Sistani, Sayid Ali. Al-Rafid fi 'Ilm al-Ushul. Taqrir: Munir Adnan Qathifi. Qom, Maktabah Ayatullah al-Uzhma al-Sayyid al-Sistani, 1414 H.
  • Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar. Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi. Riset: Abu Qutaibah Nazhar Muhammad al-Faryabi. Riyadh, Dar Thiba, tanpa tahun.
  • Syusytari, Muhammad Taqi. Al-Naj'ah fi Syarh al-Lum'ah. Teheran, Kitabforousyi Saduq, 1406 H.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Nuruddin. Al-Ri'ayah fi 'Ilm al-Dirayah. Riset: Abdul Husain Muhammad Ali Baqqal. Qom, Maktabah Ayatullah al-Mar'asyi, 1408 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-'Uddah fi Ushul al-Fiqh. Riset: Muhammad Reza Anshari Qummi. Qom, Tizhu-hush, 1417 H.
  • Shan'ani, Muhammad bin Ismail. Al-Tanwir Syarh al-Jami' al-Shaghir. Riset: Muhammad Ishaq Muhammad Ibrahim. Riyadh, Maktabah Darussalam, 1432 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Kazim. Manthiq-e Fahm-e Hadits. Qom, Institut Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, cetakan keempat, 1398 HS.
  • Ali-Akbarian, Mojtaba dan Hamidreza Fahim-tabar dan Mohsen Qasem-pour. "Taqti'-e Rawayat dar Ketab-e Man La Yahdhuruhu al-Faqih; Misdaq-ha, Angizeh-ha wa Asib-ha". Dalam Jurnal Hadits-pazhuhi, nomor 22, musim gugur dan dingin 1398 HS.
  • Qazvini Ha'iri, Muhammad Kazim. Syarh Nahjul Balaghah. Najaf, Maktabah al-Nu'man, 1371 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Riset: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Gorji, Abul Qasim. Tarikh-e Fiqh wa Fuqaha. Teheran, Organisasi Studi dan Penyusunan Buku Ilmu Humaniora Universitas (SAMT), cetakan ketiga, 1379 HS.
  • Muassasah Dairat al-Ma'arif Fiqh Islami. Farhang-e Fiqh Mathabiq ba Madzhab-e Ahlul Bait (as). Di bawah pengawasan: Sayid Mahmoud Hashemi Shahroudi. Qom, Muassasah Dairat al-Ma'arif Fiqh Islami, 1426 H.
  • Mamagani, Abdullah. Miqbas al-Hidayah fi 'Ilm al-Dirayah. Riset: Muhammad Reza Mamagani. Qom, Muassasah Alu al-Bait (as) li Ihya al-Turats, 1411 H.
  • Mufasir Nuri, Husain bin Muhammad Taqi. Mustadrak al-Wasail wa Mustanbath al-Masail. Qom, Muassasah Alu al-Bait (as) li Ihya al-Turats, 1408 H.
  • Ma'aref, Majid dan Mohammad Hossein Bahrami dan Mohammad Qandahari. "Taqti'-e Rawayat dar Wasail al-Syi'eh". Dalam Jurnal Ulum-e Hadits, tahun ke-21, nomor 80, musim panas 1395 HS.
  • Ma'aref, Majid. Syinakht-e Hadits (Mabani-ye Fahm-e Matn - Ushul-e Naqd-e Sanad). Teheran, Naba' (Fakultas Teologi dan Pengetahuan Islam Universitas Teheran), 1387 HS.
  • Munawi, Abdurrouf. Faidh al-Qadir Syarh al-Jami' al-Shaghir min Ahadiits al-Basyir al-Nadzir. Riset: Ahmad Abdussalam. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1422 H.
  • Mahdavi Rad, Mohammad Ali dan Sayid Ali Daliri. "Barresi-ye Asib-e Taqti'-e Nadorost dar Rawayat". Dalam Jurnal Ulum-e Hadits, nomor 55, musim semi 1389 HS.
  • Nuri, Abdul Husain. "Taqti'-e Rawayat wa Tasir-e on dar Estinbath-e Fiqhi". Dalam kitab Keraneh-ha-ye Ijtihad Goftar-hayi dar Mowdhu'at wa Masail-e Fiqhi wa Ushuli, kumpulan penulis atas usaha Pusat Pendidikan Akhund Khorasani terafiliasi dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Kantor Tabligh Islam Khorasan Razavi. Qom, Bustan-e Ketab, 1396 HS.
  • Wahid Behbahani, Muhammad Baqir. Al-Fawa'id al-Ha'iriyah. Qom, Majma' al-Fikr al-Islami, 1415 H.
  • Hashemi Shahroudi, Sayid Mahmoud. Buhuts fi 'Ilm al-Ushul. Qom, Pusat Al-Ghadir li al-Dirasat al-Islamiyah, cetakan kedua, 1417 H.
  • Hamadani, Agha Reza. Mishbah al-Faqih. Riset: Muhammad Baqiri dkk. Qom, Muassasah al-Ja'fariyah li Ihya al-Turats dan Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1416 H.
  • Hamadani, Mostafa. "Taqti' Hadits (Arzyabi-ye Taqti' dar al-Jami' al-Shaghir)". Dalam Jurnal Pazhuhesy-ha-ye Qur'an wa Hadits, tahun ke-48, musim semi dan panas 1394 HS.
  • Yazdi, Sayid Abbas Modarresi. Namudaj fi al-Fiqh al-Ja'fari. Qom, Kitabforousyi Dawari, 1410 H.