Konsep:Penulisan Manaqib
Penulisan Manaqib (bahasa Persia: مَناقِبْنگاری) adalah salah satu metode pengumpulan Hadis yang berfokus pada pencatatan fadhilah (keutamaan) dan manāqib (kemuliaan) tokoh-tokoh agama.
Di kalangan Syiah, penulisan manaqib menitikberatkan pada keutamaan Ahlulbait Nabi saw, sedangkan dalam tradisi Ahlusunah, kitab-kitab manaqib juga mencakup keutamaan para sahabat lainnya.
Popularitas genre penulisan ini berakar pada upaya para pengikut mazhab dalam membuktikan keutamaan dan kedudukan spiritual tokoh mereka, sebagai landasan argumentatif tentang siapa yang paling layak menyandang Imamah atau Khilafah.
Fenomena ini mulai berkembang pesat sejak abad ke-2 H, ketika para cendekiawan dan muhaddits dari berbagai mazhab mulai mengumpulkan riwayat-riwayat keutamaan tokoh masing-masing. Bahkan sebagian kitab tafsir Syiah awal, seperti Tafsir al-Qummi dan Tafsir al-Hibri, disusun dengan sentralitas pada fadha'il Ahlulbait.
Dalam kitab-kitab Jami' al-Hadis Ahlusunah, seperti Enam Kitab (Kutubus Sittah), umumnya terdapat bab-bab khusus yang memuat hadis-hadis fadhilah (keutamaan). Selain itu, banyak pula kitab independen yang disusun khusus untuk menghimpun riwayat-riwayat keutamaan atau manaqib, baik oleh ulama Syiah maupun Ahlusunah—terutama madrasah Syafi'iyah.
Pada periode Safawiyah di Iran, tradisi penulisan manaqib semakin berkembang. Banyak karya yang menonjolkan keutamaan Ahlulbait ditulis dalam bahasa Arab maupun diterjemahkan ke bahasa Persia, sekaligus menandai fase integrasi sastra Persia dengan teologi mazhab.
Beberapa karya paling menonjol dan berpengaruh antara lain: Dari mazhab Syiah:
- Manaqib Ibnu Syahrasyub karya Ibnu Syahrasyub
- Al-Tsaqib fi al-Manaqib karya Ibnu Hamzah Thusi
- Al-Umdah karya Ibnu Bithriq
- Fadhail al-Khamsah karya Sayid Murtadha Firuzabadi, yang mengumpulkan keutamaan Ahlulbait dari sumber-sumber Ahlusunah.
Dari mazhab Ahlusunah:
- Syawahid al-Tanzil karya Al-Hakim al-Haskani
- Mathalib al-Sa’ul karya Muhammad bin Talhah Asy-Syafi'i
- Dzahair al-'Uqba karya Muhibbuddin Ath-Thabari
Melalui karya-karya ini, tradisi manaqib tidak hanya berfungsi sebagai bentuk penghormatan religius, tetapi juga sebagai manifestasi intelektual dan identitas mazhab, yang meneguhkan posisi teologis masing-masing kelompok dalam sejarah Islam.
Pentingnya Penulisan Manaqib
Penulisan manaqib atau penulisan fadhilah[1] adalah salah satu metode pengumpulan hadis[2] yang telah populer sejak awal masa kodifikasi hadis dalam sejarah kaum muslimin. Dalam metode ini, tema hadis-hadis yang dikumpulkan dalam satu koleksi adalah keutamaan dan kemuliaan Nabi Islam saw, Imam Ali as, dan Ahlulbait lainnya.[3] Dalam kitab-kitab Ahlusunah, selain keutamaan Ahlulbait, hadis-hadis tentang beberapa sahabat juga dinukil.[4] Diklaim bahwa penulisan manaqib hampir merupakan metode khusus Syiah dan setelah beberapa waktu, ulama Ahlusunah juga menggunakan metode penulisan fadhilah.[5] Pembacaan manaqib adalah akar dari penulisan manaqib dan telah populer sebagai ritual keagamaan di kalangan muslim, terutama di wilayah Syiah seperti Qom, Kashan, Aveh, Rey, dan sejenisnya.[6] Sejak abad ke-5 Hijriah dan seterusnya, para pembaca manaqib juga menjadikan pembacaan dari kitab-kitab manaqib sebagai poros pekerjaan mereka, tetapi pada abad-abad awal, pembacaan manaqib memiliki metode lisan.[7]
Akar penulisan manaqib di kalangan muslim dianggap berasal dari upaya para sahabat untuk menjelaskan keutamaan dan membuktikan keunggulan diri mereka dengan tujuan mencapai kedudukan sosial dan bahkan kekhalifahan[8] yang pertama kali muncul dalam Peristiwa Saqifah dan dalam proses naiknya Abu Bakar ke tampuk kekuasaan.[9] Dalam kitab-kitab Ahlusunah, tidak hanya terbatas pada hadis-hadis Nabi saw tentang individu, tetapi terkadang juga melaporkan perilaku dan tindakan sahabat, dan biasanya juga menyebutkan biografi dan manaqib tiga Imam pertama Syiah sebagai sahabat.[10] Tema-tema seperti kekerabatan dengan Nabi Islam, mendahului dalam Islam dan iman, Hijrah, Jihad, dan pengorbanan di jalan syariat disertai dengan wawasan, ilmu, dan pemahaman agama dianggap sebagai manaqib terpenting.[11]
Sejarah
Menurut para peneliti, pada abad pertama H, tidak ada buku yang ditulis dengan tema keutamaan Ahlulbait as, dan hadis-hadis tentang topik ini seperti hadis-hadis lainnya dinukil dari dada ke dada (lisan).[12] Jabir bin Yazid al-Ju'fi dari sahabat Imam Baqir as dianggap sebagai orang pertama yang memiliki tulisan tentang keutamaan, dan Sulaiman al-A'masy adalah orang pertama yang menggunakan istilah manaqib.[13] Kitab Fadhail Amir al-Mu'minin karya Ahmad bin Hanbal (W. 241 H) dianggap sebagai karya manaqib pertama tentang Ahlulbait yang masih ada hingga sekarang.[14]
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, pada lima abad pertama, lebih dari 230 judul buku dengan tema manaqib Ahlulbait telah ditulis.[15] Para penulis jami' hadis Syiah telah mengkhususkan bab-bab untuk menjelaskan keutamaan Ahlulbait. Demikian pula dalam jami' hadis Ahlusunah seperti Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim juga terdapat bab-bab seperti itu, meskipun judulnya adalah Fadhail al-Sahabah.[16]
Metode Penulisan Manaqib
Penulisan manaqib Ahlulbait dibagi menjadi tiga kategori umum: penjelasan keutamaan Rasulullah saw, sahabat secara umum, penjelasan keutamaan Ahlulbait dalam jami' riwayat, dan penulisan kitab independen tentang keutamaan Ahlulbait.[17] Judul dan topik kitab-kitab manaqib dikelompokkan dalam delapan kategori;[18] yang terkadang ditulis murni secara naqli (transmisi) dan terkadang secara analitis.[19] Dikatakan bahwa sebagian besar kitab manaqib dikhususkan untuk menjelaskan keutamaan Imam Ali as[20] seperti kitab-kitab yang mengumpulkan keutamaan beliau dalam Al-Qur'an atau sumber-sumber yang mengumpulkan keutamaan khusus dan sejenisnya.[21]
- Kitab-kitab dengan judul umum manaqib, fadhail, khashaish, dan sejenisnya.[22]
- Monograf tentang satu keutamaan tertentu seperti kitab Hadits al-Rayah karya Ibnu Uqdah dan kitab Radd al-Syams karya Nashr bin Amir Sanjari.[23]
- Penulisan Arba'in (Empat Puluh Hadis) seperti Arba'in fi Fadhail Amir al-Mu'minin karya Khathib Baghdadi dan Al-Arba'in fi Fadhail al-Zahra karya Muadzdzin Naisyaburi.[24]
- Penjelasan tafsir atau takwil ayat-ayat dalam bidang keutamaan Ahlulbait as seperti "Ma Nazala fi al-Khamsah" dan "Ma Nazala fi al-Qur'an fi Ali" dan "Al-Tanzil fi Amir al-Mu'minin".[25]
- Perhatian pada sanad riwayat manaqib serta penjelasan dan dokumentasinya seperti "Thuruq Hadits al-Ghadir", "Thuruq Hadits al-Rayah", dan "Kitab Man Rawa 'an Ali Annahu Qasim al-Nar".[26]
- Pengkhususan bab atau bab-bab dalam kitab hadis untuk manaqib seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan Sunan Ibnu Majah yang sebagian isinya terdiri dari riwayat keutamaan Ahlulbait.[27]
- Monograf khusus seperti "Al-Amali fi Manaqib Ahl al-Bait" karya Laits bin Sa'ad Asadi dan "Thib al-Fithrah" karya Al-Hakim al-Haskani.[28]
- Isyarat pada manaqib leluhur, keluarga, dan kerabat Nabi saw[29] seperti Fadhail Ja'far al-Thayyar karya Syekh Shaduq.[30]
Penulisan manaqib sufi juga membentuk sebagian dari karya penulisan manaqib[31] di mana penulis sufi selain menyebutkan manaqib para kutub dan syekh tarekat mereka, juga menyebutkan manaqib para Imam.[32] Demikian pula, cakupan penulisan manaqib perlahan-lahan meluas ke penulisan keutamaan ulama dan imam fikih serta hadis, dan kitab-kitab tentang manaqib Ahmad bin Hanbal dan Syafi'i dan sejenisnya ditulis.[33]
Penulisan Manaqib Syiah
Penulisan manaqib di kalangan Syiah mendapat perhatian khusus[34] penulisan tentang para Imam di kalangan Syiah menjadi populer sejak Abad ke-2 H[35] dan Syiah pada abad ke-2 telah menulis tujuh risalah dengan tema manaqib Ahlulbait, di mana nama 5 karya dari 7 karya ini adalah Kitab al-Fadhail.[36]
Motivasi terpenting Syiah dalam bidang ini dianggap untuk membuktikan Imam Dua Belas dan hak mereka atas posisi kekhalifahan.[37] Puncak masa penulisan manaqib Syiah dianggap pada abad ke-6 H dan ke-7 H, di mana sekitar 60 karya manaqib ditulis pada masa ini.[38] Penyebab meluasnya penulisan manaqib ini dianggap sebagai jawaban atas syubhat para penentang Syiah,[39] upaya mempertahankan Syiah di bawah tekanan pemerintah saat itu,[40] serta dukungan beberapa penguasa lokal dan pejabat Syiah seperti Ibnu Alqami, Khajah Nashiruddin al-Thusi, Atha Malik Juwaini, dan sejenisnya.[41]
Pada masa Safawiyah ketika Iran memiliki pemerintahan Syiah, dukungan para penguasa menjadi dasar bagi penulisan lebih banyak karya tentang manaqib Ahlulbait as dan pada periode ini selain 19 kitab sirah, 14 kitab manaqib Dua Belas Imam juga ditulis.[42] Kitab-kitab manaqib pada periode ini dari segi konten tidak berbeda dengan sebelumnya dan dikumpulkan dengan metode riwayat dan hadis yang sama,[43] tetapi jumlah buku dalam bahasa Persia pada periode ini meningkat secara signifikan[44] dan ini di luar terjemahan karya-karya manaqib masa lalu dari bahasa Arab ke Persia[45] yang paling terkenal adalah terjemahan Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah dan diterjemahkan tiga kali pada periode ini.[46]
Beberapa Kitab Manaqib Syiah

Bagian dari kitab-kitab manaqib Syiah dibentuk oleh kitab-kitab tafsir;[47] Kazhim Qadhizadeh, peneliti ilmu agama, telah mendata sejumlah kitab ini dengan bersandar pada kitab Adz-Dzari'ah.[48] Sebagaimana Tafsir al-Qummi,[49] Tafsir al-Hibri,[50] dan Tafsir Furat al-Kufi[51] berusaha melaporkan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Ahlulbait di bawah ayat-ayat Al-Qur'an. Beberapa penulis Syiah dalam karya mereka berusaha mengekstrak dan menerbitkan riwayat manaqib Ahlulbait dalam Kitab Enam dan beberapa kitab Ahlusunah lainnya; di antaranya Ibnu Bithriq (W. 600 H) dalam kitab Al-Umdah, Haidar Ali bin Muhammad Syirwani ulama abad ke-12 Hijriah dalam kitab "Ma Rawathu al-'Ammah min Manaqib Ahl al-Bait", dan Sayid Murtadha Firuzabadi (W. 1410 H) dalam sebuah kitab berjudul Fadhail al-Khamsah min al-Shihah al-Sittah.[52]
Beberapa karya Syiah lainnya yang dikenal dalam bidang penulisan manaqib adalah:
- Fadhail Ibnu Syadzan yang dikenal sebagai Miah Manqabah ditulis pada abad ke-4 oleh Ibnu Syadzan Qummi.
- Manaqib Aal Abi Thalib yang dikenal sebagai Manaqib Ibnu Syahrasyub ditulis oleh Ibnu Syahr Asyub pada abad ke-6 H yang dianggap sebagai tulisan manaqib paling komprehensif.[53]
- Al-Tsaqib fi al-Manaqib karya Ibnu Hamzah Thusi pada abad ke-6 H, yang dianggap sebagai salah satu karya manaqib paling terkenal.[54]
Penulisan Manaqib Ahlulbait di Ahlusunah
Penukilan dan penulisan keutamaan Ahlulbait dalam kitab-kitab Ahlusunah juga umum dan ulama dari semua mazhab Ahlusunah telah meninggalkan karya-karya penulisan manaqib.[55] Meskipun sebagian besar karya penulisan manaqib Ahlulbait di kalangan Ahlusunah terkait dengan ulama bermazhab Syafi'i.[56] Di antara Kitab Enam Ahlusunah, Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi dalam kitab Sunan mereka lebih banyak memberikan perhatian pada penukilan manaqib dibanding yang lain.[57] Penulisan buku tentang manaqib Ahlulbait berkembang sejak abad ke-7 dengan munculnya tren moderat di kalangan ulama Ahlusunah yang sambil meyakini kekhalifahan para khalifah pertama, memiliki kecintaan khusus kepada Ahlulbait.[58]
Sekelompok peneliti telah melaporkan 26 karya independen[59] dan 101 karya non-independen termasuk kitab hadis, sejarah, biografi, dan sastra[60] dari karya-karya Ahlusunah hingga akhir abad ke-12 H yang menukil riwayat manaqib Ahlulbait. Berdasarkan sebuah penelitian dalam kitab enam Ahlusunah, selain keutamaan yang dimiliki Ahlulbait bersama dengan orang lain, 16 keutamaan khusus bagi Ahlulbait dinukil yang tidak dinukil untuk orang atau kelompok lain.[61]

Beberapa Karya Manaqib Ahlusunah
- Syawahid al-Tanzil karya Hakim Haskani, (abad ke-5).[62]
- Mathalib al-Sa'ul fi Manaqib Aal al-Rasul karya Muhammad bin Thalhah Syafi'i (W. 652 H).[63]
- Dzahair al-'Uqba fi Manaqib Dzawi al-Qurba karya Muhibbuddin Thabari (W. 694 H).[64]
- Fara'id al-Simthain karya Hamawi Juwaini (W. 730 H).[65]
- Ihya' al-Mayyit bi Fadhail Ahl al-Bait karya Jalaluddin Suyuthi (W. 911 H).[66]
- Yanabi' al-Mawaddah karya Sulaiman bin Ibrahim al-Qunduzi ulama abad 13 juga merupakan salah satu kitab khusus manaqib Ahlulbait yang ditulis oleh ulama Ahlusunah.[67]
Evaluasi Karya Manaqib Ahlusunah
Menurut Ibnu Syahrasyub, penulis manaqib Syiah, karya-karya manaqib Ahlusunah sering kali disertai dengan kekurangan. Mereka menyembunyikan beberapa hadis seperti Hadis Kahf dan Hadis Ijabah, melemahkan beberapa hadis seperti Hadis Lauh dan Hadis Madinatul 'Ilmi, dan mendiamkan beberapa seperti Hadis Washiyat. Mereka membawa beberapa ayat dan hadis seperti Ayat Yufuna bin-Nadzr dan Hadis Manzilah serta Hadis Tsaqalain ke makna lain, dan terkadang mengurangi frasa beberapa hadis; misalnya dalam Hadis Ghadir mereka tidak menukil doa setelahnya atau dalam Hadis Sayyida Syabab Ahl al-Jannah mereka tidak membawakan kelanjutannya yaitu "Abuhuma Khairun Minhuma" dan bahkan menukil beberapa hadis keutamaan Ahlulbait untuk orang lain seperti Hadis Sadd al-Abwab.[68] Demikian pula tindakan para penguasa sepanjang sejarah seperti pemalsuan hadis manaqib untuk individu, penyebaran berita berlebihan (ghuluw), penyembunyian dan penghapusan riwayat tentang manaqib Ahlulbait juga dianggap sebagai kerusakan penulisan manaqib.[69] Ketat dalam menukil dari perawi Syiah, ketat dalam menukil keutamaan khusus Ahlulbait, menukil riwayat tanpa menyebutkan sanad dan sumber, menukil riwayat lemah dan tidak nyata, serta pembuatan keserupaan untuk keutamaan juga dihitung sebagai kerusakan penulisan manaqib Ahlusunah.[70]
Catatan Kaki
- ↑ Ashgharpur, "Barresi-ye Mehvar-haye Manaqib va Fazha'il dar Kotob-e Syesy-ganeh Ahl-e Sonnat", hlm. 40.
- ↑ Ashgharpur, "Ketab-syanasi-ye Tarikhi-ye Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt as az Aghaz ta Payan-e Qarn-e Sevvom", hlm. 130.
- ↑ Thabathaba'i, Tarikh-e Hadits-e Syi'ah, 1390 HS, jld. 2, hlm. 39.
- ↑ Azadi dan Zamani, "Tahlil-e Ravesy va Asib-haye Manaqib-negari-ye Ulama-ye Syafe'i darbareh-ye Amirul Mu'minin", hlm. 7.
- ↑ Gholamali, "Saytareh-ye Sabk-e Manaqib-negari dar Sadeh-ye Syesyom va Haftom-e Hijri", hlm. 323.
- ↑ Gholamali, "Saytareh-ye Sabk-e Manaqib-negari dar Sadeh-ye Syesyom va Haftom-e Hijri", hlm. 320–321.
- ↑ Gholamali, "Saytareh-ye Sabk-e Manaqib-negari dar Sadeh-ye Syesyom va Haftom-e Hijri", hlm. 323.
- ↑ Farahi, "Manaqib-negari-ye A'immeh as Nazd-e Fariqain", hlm. 30.
- ↑ Gholamali, "Saytareh-ye Sabk-e Manaqib-negari dar Sadeh-ye Syesyom va Haftom-e Hijri", hlm. 319; Ashgharpur, "Daramadi bar Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt", hlm. 268–269.
- ↑ Dadasy-nejad, Simaye Davazdah Emam dar Mirats-e Maktub-e Ahl-e Sonnat, 1395 HS, jld. 2, hlm. 32.
- ↑ Ma'aref dkk., "Akhbar-e Manaqib-e Ahl-e Beyt Mirats-e Mosytarak-e Ummat", hlm. 124.
- ↑ Ashgharpur, "Ketab-syanasi-ye Tarikhi-ye Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt as az Aghaz ta Payan-e Qarn-e Sevvom", hlm. 137.
- ↑ Ashgharpur, "Ketab-syanasi-ye Tarikhi-ye Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt as az Aghaz ta Payan-e Qarn-e Sevvom", hlm. 139.
- ↑ Ma'aref dkk., "Akhbar-e Manaqib-e Ahl-e Beyt Mirats-e Mosytarak-e Ummat", hlm. 117.
- ↑ Ashgharpur, "Ketab-syanasi-ye Tarikhi-ye Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt as az Aghaz ta Payan-e Qarn-e Sevvom", hlm. 132.
- ↑ Ashgharpur, "Daramadi bar Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt", hlm. 281.
- ↑ Muhaqqiq Garafmi dan Zurmand, "Simaye Manaqib-e Hazrat-e Zahra dar Negasyteh-haye Suyuthi va Asib-syanasi-ye An", hlm. 6.
- ↑ Ashgharpur, "Ketab-syanasi-ye Tarikhi-ye Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt as az Aghaz ta Payan-e Qarn-e Sevvom", hlm. 131.
- ↑ Azadi dan Zamani, "Tahlil-e Ravesy va Asib-haye Manaqib-negari-ye Ulama-ye Syafe'i darbareh-ye Amirul Mu'minin", hlm. 7.
- ↑ Gholamali, "Saytareh-ye Sabk-e Manaqib-negari dar Sadeh-ye Syesyom va Haftom-e Hijri", hlm. 337.
- ↑ Gholamali, "Saytareh-ye Sabk-e Manaqib-negari dar Sadeh-ye Syesyom va Haftom-e Hijri", hlm. 337–338.
- ↑ Ashgharpur, "Daramadi bar Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt", hlm. 277.
- ↑ Ashgharpur, "Daramadi bar Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt", hlm. 277.
- ↑ Ashgharpur, "Daramadi bar Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt", hlm. 278.
- ↑ Ashgharpur, "Daramadi bar Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt", hlm. 278.
- ↑ Ashgharpur, "Daramadi bar Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt", hlm. 279.
- ↑ Ashgharpur, "Daramadi bar Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt", hlm. 279.
- ↑ Ashgharpur, "Daramadi bar Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt", hlm. 280.
- ↑ Ashgharpur, "Ketab-syanasi-ye Tarikhi-ye Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt as az Aghaz ta Payan-e Qarn-e Sevvom", hlm. 131.
- ↑ Ashgharpur, "Daramadi bar Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt", hlm. 280.
- ↑ Haddadian, Sir-e Manaqib-negari-ye Sufiyaneh, 1397 HS, hlm. 5.
- ↑ Farahi, "Manaqib-negari-ye A'immeh as Nazd-e Fariqain", hlm. 28.
- ↑ Ainehvand, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, 1387 HS, hlm. 264.
- ↑ Ma'aref dkk., "Akhbar-e Manaqib-e Ahl-e Beyt Mirats-e Mosytarak-e Ummat", hlm. 117.
- ↑ Farahi, "Manaqib-negari-ye A'immeh as Nazd-e Fariqain", hlm. 29.
- ↑ Ashgharpur, "Ketab-syanasi-ye Tarikhi-ye Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt as az Aghaz ta Payan-e Qarn-e Sevvom", hlm. 137–138.
- ↑ Farahi, "Manaqib-negari-ye A'immeh as Nazd-e Fariqain", hlm. 30.
- ↑ Gholamali, "Saytareh-ye Sabk-e Manaqib-negari dar Sadeh-ye Syesyom va Haftom-e Hijri", hlm. 315.
- ↑ Gholamali, "Saytareh-ye Sabk-e Manaqib-negari dar Sadeh-ye Syesyom va Haftom-e Hijri", hlm. 341.
- ↑ Gholamali, "Saytareh-ye Sabk-e Manaqib-negari dar Sadeh-ye Syesyom va Haftom-e Hijri", hlm. 350.
- ↑ Gholamali, "Saytareh-ye Sabk-e Manaqib-negari dar Sadeh-ye Syesyom va Haftom-e Hijri", hlm. 354.
- ↑ Husainzadeh Syanehchi, "Ta'tsir-e Hakemiyat-e Safavieh bar Ketab-haye Sireh va Manaqib-e Davazdah Emam", hlm. 126.
- ↑ Husainzadeh Syanehchi, "Ta'tsir-e Hakemiyat-e Safavieh bar Ketab-haye Sireh va Manaqib-e Davazdah Emam", hlm. 125.
- ↑ Husainzadeh Syanehchi, "Ta'tsir-e Hakemiyat-e Safavieh bar Ketab-haye Sireh va Manaqib-e Davazdah Emam", hlm. 127.
- ↑ Husainzadeh Syanehchi, "Ta'tsir-e Hakemiyat-e Safavieh bar Ketab-haye Sireh va Manaqib-e Davazdah Emam", hlm. 128.
- ↑ Husainzadeh Syanehchi, "Tarjomeh-ye Kotob-e Sireh va Manaqib-e Emaman dar 'Ashr-e Safavi", hlm. 41.
- ↑ Qadhizadeh, "Pazhuhesyi darbareh-ye Tafsir-e Ali bin Ebrahim Qommi", hlm. 126.
- ↑ Qadhizadeh, "Pazhuhesyi darbareh-ye Tafsir-e Ali bin Ebrahim Qommi", hlm. 127.
- ↑ Qadhizadeh, "Pazhuhesyi darbareh-ye Tafsir-e Ali bin Ebrahim Qommi", hlm. 128.
- ↑ Husaini Jalali, "Al-Muqaddimah", hlm. 89.
- ↑ Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 HS, jld. 5, hlm. 253–254.
- ↑ Dadasy-nejad, Simaye Davazdah Emam dar Mirats-e Maktub-e Ahl-e Sonnat, 1395 HS, jld. 1, hlm. 20.
- ↑ Ma'aref dkk., "Akhbar-e Manaqib-e Ahl-e Beyt Mirats-e Mosytarak-e Ummat", hlm. 117.
- ↑ Garami, "Jaygah-e Emam Reza dar Adabiyat ...", hlm. 107.
- ↑ Azadi dan Zamani, "Tahlil-e Ravesy va Asib-haye Manaqib-negari-ye Ulama-ye Syafe'i darbareh-ye Amirul Mu'minin", hlm. 6.
- ↑ Azadi dan Zamani, "Tahlil-e Ravesy va Asib-haye Manaqib-negari-ye Ulama-ye Syafe'i darbareh-ye Amirul Mu'minin", hlm. 8.
- ↑ Ashgharpur, "Barresi-ye Mehvar-haye Manaqib va Fazha'il dar Kotob-e Syesy-ganeh Ahl-e Sonnat", hlm. 38.
- ↑ Ranjbar, "Mo'arrefi va Barresi-ye Ketab-e Tadzkirah al-Khawash Negasyteh-ye Sibth ibn Jauzi", hlm. 102.
- ↑ Dadasy-nejad, Simaye Davazdah Emam dar Mirats-e Maktub-e Ahl-e Sonnat, 1395 HS, jld. 1, hlm. 357–359.
- ↑ Dadasy-nejad, Simaye Davazdah Emam dar Mirats-e Maktub-e Ahl-e Sonnat, 1395 HS, jld. 2, hlm. 643–649.
- ↑ Ashgharpur, "Barresi-ye Mehvar-haye Manaqib va Fazha'il dar Kotob-e Syesy-ganeh Ahl-e Sonnat", hlm. 56–58.
- ↑ Dadasy-nejad, Simaye Davazdah Emam dar Mirats-e Maktub-e Ahl-e Sonnat, 1395 HS, jld. 1, hlm. 91.
- ↑ Dadasy-nejad, Simaye Davazdah Emam dar Mirats-e Maktub-e Ahl-e Sonnat, 1395 HS, jld. 1, hlm. 144.
- ↑ Dadasy-nejad, Simaye Davazdah Emam dar Mirats-e Maktub-e Ahl-e Sonnat, 1395 HS, jld. 1, hlm. 215.
- ↑ Dadasy-nejad, Simaye Davazdah Emam dar Mirats-e Maktub-e Ahl-e Sonnat, 1395 HS, jld. 1, hlm. 226.
- ↑ Dadasy-nejad, Simaye Davazdah Emam dar Mirats-e Maktub-e Ahl-e Sonnat, 1395 HS, jld. 1, hlm. 318.
- ↑ Ahmad-panah, "Qunduzi Balkhi va Yanabi' al-Mawaddah", hlm. 82.
- ↑ Ibnu Syahrasyub, Al-Manaqib, tanpa tahun, jld. 1, hlm. 2–3.
- ↑ Ma'aref dkk., "Akhbar-e Manaqib-e Ahl-e Beyt Mirats-e Mosytarak-e Ummat", hlm. 118–120.
- ↑ Azadi dan Zamani, "Tahlil-e Ravesy va Asib-haye Manaqib-negari-ye Ulama-ye Syafe'i darbareh-ye Amirul Mu'minin", hlm. 14–19.
Daftar Pustaka
- Ahmad-panah, Sayid Habibullah. "Qunduzi Balkhi va Yanabi' al-Mawaddah". Ketab-e Mah-e Din, No. 60–61, Mehr dan Aban 1381 HS.
- Ainehvand, Shadiq. Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami. Teheran: Pazhuhesyghah-e Ulum-e Ensani va Motale'at-e Farhangi, 1387 HS.
- Ashgharpur, Hasan. "Daramadi bar Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt". Fashlnameh-ye Ulum-e Hadits, No. 45 dan 46, Musim Gugur dan Musim Dingin 1386 HS.
- Ashgharpur, Hasan. "Barresi-ye Mehvar-haye Manaqib va Fazha'il dar Kotob-e Syesy-ganeh Ahl-e Sonnat". Fashlnameh-ye Ulum-e Quran va Hadits, No. 81, Musim Gugur dan Musim Dingin 1387 HS.
- Ashgharpur, Hasan. "Ketab-syanasi-ye Tarikhi-ye Manaqib-negari-ye Ahl-e Beyt as az Aghaz ta Payan-e Qarn-e Sevvom". Fashlnameh-ye Misykat, No. 102, Musim Semi 1388 HS.
- Azadi, Alireza; Zamani, Muhammad Hasan. "Tahlil-e Ravesy va Asib-haye Manaqib-negari-ye Ulama-ye Syafe'i darbareh-ye Amirul Mu'minin". Fashlnameh-ye Hadits va Andisyeh, No. 19, Ordibehesht 1394 HS.
- Dadasy-nejad, Manshur. Simaye Davazdah Emam dar Mirats-e Maktub-e Ahl-e Sonnat. Qom: Pazhuhesyghah-e Ulum va Farhang-e Eslami, 1395 HS.
- Farahi, Abdullah. "Manaqib-negari-ye A'immeh as Nazd-e Fariqain (Ba Takiyeh bar Kotob-e Manaqib-e Qorun-e Dahom va Yazdahom-e Hijri)". Fashlnameh-ye Forugh-e Vahdat, No. 29, Musim Gugur 1391 HS.
- Garami, Sayid Muhammad Hadi. "Jaygah-e Emam Reza dar Adabiyat-e Sireh-negari va Manaqib-negari-ye Sadeh-haye Motaqaddem va Miyaneh". Dalam Ab'ad-e Syakhsiyat va Zendegi-ye Hazrat Reza Alaihissalam, Jilid 2. Editor: Murtadha Salman-nejad. Teheran: Universitas Imam Shadiq as, 1393 HS.
- Gholamali, Hamid. "Saytareh-ye Sabk-e Manaqib-negari dar Sadeh-ye Syesyom va Haftom-e Hijri". Majmu'eh Maqalat-e Kongreh-ye Bozorgdasht-e Abdul Jalil Razi Qazvini, Jld. 2. Qom: Dabirkhaneh-ye Kongreh-ye Bozorgdasht-e Abdul Jalil Razi Qazvini, 1391 HS.
- Haddadian, Zahra. Sir-e Manaqib-negari-ye Sufiyaneh. Teheran: Khosrow va Syirin, 1397 HS.
- Husaini Jalali, Sayid Muhammad Ridha. "Al-Muqaddimah". Dalam kitab Tafsir al-Hibri, Husain bin Hakam. Beirut: Muassasah Aal al-Bayt, tanpa tahun.
- Husainzadeh Syanehchi, Ghulam Hasan. "Ta'tsir-e Hakemiyat-e Safavieh bar Ketab-haye Sireh va Manaqib-e Davazdah Emam". Fashlnameh-ye Tarikh va Tamaddon-e Eslami, No. 4, Esfand 1385 HS.
- Husainzadeh Syanehchi, Hasan. "Tarjomeh-ye Kotob-e Sireh va Manaqib-e Emaman dar 'Ashr-e Safavi". Fashlnameh-ye Pazhuhesy-haye Tarikhi, No. 2, Mordad 1388 HS.
- Ibnu Syahrasyub, Muhammad bin Ali. Al-Manaqib. Qom: Intisharat-e Allamah, tanpa tahun.
- Khwansari, Sayid Muhammad Baqir. Raudhat al-Jannat fi Ahwal al-Ulama wa al-Sadat. Qom: Ismailiyan, 1390 HS.
- Ma'aref, Majid; Sulaimani, Dawud; Haidari-nasab, Alireza. "Akhbar-e Manaqib-e Ahl-e Beyt Mirats-e Mosytarak-e Ummat". Majallah-e Maqalat va Barresi-ha, Daftar 88, Musim Panas 1387 HS.
- Muhaqqiq Garafmi, Alborz; Zurmand, Zahra. "Simaye Manaqib-e Hazrat-e Zahra dar Negasyteh-haye Suyuthi va Asib-syanasi-ye An". Do-fashlnameh-ye Tarikh va Sireh-ye Ahl-e Beyt, No. 4, Musim Gugur dan Musim Dingin 1399 HS.
- Qadhizadeh, Kazhim. "Pazhuhesyi darbareh-ye Tafsir-e Ali bin Ebrahim Qommi". Fashlnameh-ye Bayyinat, No. 10, 1375 HS.
- Ranjbar, Muhsin. "Mo'arrefi va Barresi-ye Ketab-e Tadzkirah al-Khawash Negasyteh-ye Sibth ibn Jauzi". Tarikh dar Ayineh-ye Pazhuhesy, No. 35, Musim Gugur dan Musim Dingin 1392 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Kazhim. Tarikh-e Hadits-e Syi'ah (2). Qom: Intisharat-e Dar al-Hadits, 1390 HS.