Konsep:Mahduruddam
Artikel ini merupakan artikel deskriptif umum tentang masalah fikih. |
Mahdur ad-Dam adalah seseorang yang penumpahan darahnya adalah mubah (diperbolehkan) dan membunuhnya tidak mengakibatkan kisas dan diah. Kemurtadan fitri dan melakukan kejahatan-kejahatan khusus dengan hukuman tertentu seperti zina dan liwat, menjadi penyebab seseorang berstatus Mahdur ad-Dam. Pelaksana hukum Mahdur ad-Dam pada kafir harbi dan murtad fitri adalah Imam (as), wakil Imam (as), atau hakim Islam, dan hukum Sabbun Nabi (saw) dapat dilaksanakan oleh seluruh kaum Muslim dan tidak memerlukan izin Imam (as). Wali darah juga memiliki hak terkait pelaksanaan hukum atas pembunuh, dan pembela dalam pembelaan yang sah, dengan ketidakefektifan metode penolakan serangan lainnya, dapat membunuh penyerang.
Definisi, Kedudukan dan Signifikansi
Mahdur ad-Dam adalah seseorang yang darahnya terbuang sia-sia dan tidak memiliki nilai, serta tidak ada kisas atas pembunuhnya dan tidak ada pembayaran diah atas pembunuhannya.[1] Kebalikan dari hal tersebut adalah Mahqun ad-Dam (orang yang dijaga dari pembunuhan).[2] Fadhil al-Hindi,[3] Muhaqqiq al-Hilli,[4] dan al-Khoei menganggap Mahdur ad-Dam sebagai orang yang Islam telah menghalalkan penumpahan darahnya.[5] Ayat 92 hingga 94 Surah An-Nisa' diturunkan dalam konteks teguran bagi kaum Muslim di awal Islam yang keliru dalam mengenali contoh dan subjek Mahdur ad-Dam, serta mereka menganggap diperbolehkannya pembunuhan atas orang-orang yang memiliki rekam jejak kekufuran atau kemurtadan, namun setelah pelaksanaan hukum, mereka menyadari adanya kesalahan dalam hukum tersebut.[6] Mengenai ketentuan-ketentuan Mahdur ad-Dam di dalam Al-Qur'an al-Karim, telah diturunkan ayat-ayat seperti Surah Al-Isra' Ayat 33,[7] dan Surah Al-Furqan Ayat 68.[8] Hukum-hukum Mahdur ad-Dam dalam kitab-kitab fikih dikemukakan dalam bab mengenai syarat-syarat kisas di bawah judul kondisi korban pembunuhan yang berstatus sebagai Mahqun ad-Dam.[9]
Syarat-syarat Terwujudnya Status Mahdur ad-Dam
Untuk terwujudnya status Mahdur ad-Dam dalam fikih, beberapa syarat telah ditetapkan. Syarat-syarat ini harus tercapai secara pasti dan meyakinkan bagi pelaksana hukum.[10]
- Menjadi kafir harbi dan hilangnya sebab nilai darah[11] (keluar dari Islam)Templat:Catatan seperti kemurtadan (murtad fitri) dan ketidakpatuhan terhadap syarat-syarat zimah oleh kafir zimi, kafir mu'ahid (kafir yang bukan Ahlulkitab tetapi telah mengadakan perjanjian dengan kaum Muslim bahwa mereka akan membantu dalam menangkal para musuh),[12] kafir mushalih, (kafir yang memiliki perjanjian damai dengan kaum Muslim),[13] kafir musta'min, (kafir yang telah mendapatkan keamanan dari penguasa atau dari kaum Muslim lainnya).[14]
- Melakukan kejahatan-kejahatan khusus[15] yang hukumannya adalah penghilangan nyawa (pembunuhan).[16] Seperti pembunuhan yang mewajibkan kisas.[17]
Pelaku kejahatan-kejahatan ini, baik melalui satu kali perbuatan, menjadi Mahdur ad-Dam seperti Sabbun Nabi (penghina Nabi) dan penghina para Imam (as)[18] yang dianggap Mahdur ad-Dam di hadapan seluruh kaum Muslim,[19] maupun melalui pengulangan kejahatan dalam kejahatan-kejahatan yang mewajibkan had, menjadi Mahdur ad-Dam; seperti hukuman pencurian, di mana setelah had dijatuhkan sebanyak tiga kali, ia melakukan pencurian untuk keempat kalinya.[20]
Contoh-contoh dan Pelaksana Eksekusi Hukum
Pelaksana hukum Mahdur ad-Dam berbeda-beda berdasarkan pada contoh-contohnya. Dalam beberapa kasus, izin Imam (as) merupakan syarat dan dalam beberapa kasus, tidak diperlukan adanya izin Imam (as) dan semua kaum Muslim dapat melaksanakan hukum tersebut. Demikian juga, pada sebagian kasus, hanya orang khusus dan tertentulah yang dapat melaksanakan hukumnya.
Kafir Harbi dan Murtad Fitri
Artikel terkait untuk kategori ini adalah Murtad Fitri.
Apa yang menyebabkan kafir berstatus Mahdur ad-Dam adalah atribut (sifat) sebagai harbi. [21] Izin Imam (as) adalah wajib untuk membunuh kafir harbi.[22] Jika seseorang membunuh kafir zimi, maka bagi wali darah zimi tersebut diperbolehkan untuk membunuh seorang Muslim dalam bab kisas.[23] Fadhil al-Hindi meyakini bahwa setiap orang yang yakin bahwa seseorang telah murtad, dapat membunuhnya.[24] Akan tetapi, Syaikh Mufid dalam al-Muqni'ah, [25] asy-Syahid al-Awwal dalam ad-Durus asy-Syar'iyyah, [26] dan al-Khoei dalam Mabani Takmilah al-Minhaj, [27] menganggap pelaksanaan had murtad fitri berada di tangan Imam (as) atau wakil Imam (as), serta mereka menolak pendapat orang-orang yang meyakini bahwa darah murtad dihalalkan (mubah) bagi siapa saja yang mengetahui kemurtadannya.[28]
Sabbun Nabi
Artikel terkait untuk kategori ini adalah Sabbun Nabi.
Seseorang yang menghina (mengucapkan kata-kata kotor kepada) Nabi (saw)[29] atau salah seorang dari para Imam (as)[30] adalah Mahdur ad-Dam. Menghina Sayidah Fatimah (sa) juga berada di bawah hukum (sama kedudukannya dengan) menghina Nabi (saw).[31] Orang yang menghina setiap dari para nabi Ilahi juga diakui sebagai Mahdur ad-Dam.[32] Pendengar dari hinaan semacam itu, jika ia berada dalam keadaan aman, dapat membunuh si penghina[33] dan tidak memerlukan izin Imam (as) ataupun hakim Islam.[34] Namun Syaikh Mufid dan Allamah al-Hilli tidak membolehkan pengambilan tindakan atas hal tersebut tanpa izin Imam (as)[35] dan memandang pelaksanaan hukum ini sebagai wewenang hakim Islam.[36] Ayatullah Khamenei, Pemimpin Republik Islam Iran juga menganggap hukuman ini pada saat sistem Islam berkuasa berada di tangan penguasa (hakim), dan ia telah mengharamkan pelaksanaannya oleh individu-individu di masyarakat.[37]
Pezina dan Pelaku Liwat
Artikel terkait untuk kategori ini adalah Liwat.
Pezina (laki-laki) terhadap suami (dari perempuan yang dizinai), hanya berstatus Mahdur ad-Dam pada saat tindakan zina berlangsung,[38] dan jika sang suami yakin bahwa istrinya rela terhadap zina tersebut, ia juga dapat membunuhnya.[39] Muhaqqiq al-Hilli dalam kitab Syara'i' al-Islam meyakini bahwa jika seseorang membunuh pelaku liwat, maka tidak ada kisas dan diah atasnya.[40] Akan tetapi Sahib al-Jawahir (penulis kitab Jawahir) menolak kebolehan pelaksanaan had oleh selain Imam (as) terhadap seseorang yang telah melakukan zina atau liwat.[41] Al-Khoei dalam hal pembunuhan pelaku liwat dan zina tanpa izin Imam (as) telah memberikan hukuman kisas atau diah dengan keridaan wali darah.[42] Husaini Syirazi memandang hukum ketidakbolehan pembunuhan pezina mukhsan atau pelaku liwat oleh selain penguasa Muslim sebagai hal yang masyhur di antara para fukaha.[43]
Pembunuhan yang Mewajibkan Kisas
Pembunuh berstatus Mahdur ad-Dam bagi para wali darah[44] dan jika orang lain, selain wali darah, membunuh pembunuh tersebut, maka ia akan dikisas.[45] Menurut pendapat Sahib al-Jawahir, tidak ada perbedaan pendapat sama sekali di antara para fukaha mengenai hukum ini.[46]
Penyerang
Artikel terkait untuk kategori ini adalah Pembelaan yang Sah.
Seseorang yang dalam kedudukan membela nyawa, harta, dan kehormatannya melakukan pembunuhan, jika pembelaan tersebut bertumpu (bergantung) pada pembunuhan, maka darah penyerang adalah hadar (sia-sia).[47] Dalam pembelaan disyaratkan bahwa pembela pertama-tama mengambil cara yang lebih sederhana untuk menolak penyerang, contohnya jika penyerang mundur hanya dengan teriakan, maka cukup dengan hal itu, dan jika penyerang tidak menghentikan serangannya dengan cara apa pun, maka darah penyerang menjadi hadar.[48]
Pemberontak (Bughat)
Artikel terkait untuk kategori ini adalah Bughat.
Jika para pemberontak (bughat) tidak bertaubat dengan irsyad (bimbingan) dan petunjuk, dan menolak mereka tidak mungkin dilakukan selain dengan berperang, maka darah mereka adalah hadar.[49] Dalam memerangi ahlu baghy (pemberontak), izin Imam (as) atau panggilan (seruan) Imam (as) untuk berperang merupakan sebuah syarat.[50] Jihad melawan pemberontak jika ada panggilan dari Imam (as) atau orang yang diangkat oleh beliau adalah wajib dan membangkang darinya adalah dosa besar.[51] Menurut pendapat Syaikh ath-Thusi, Kadi Ibnu Barraj, dan Ibnu Idris al-Hilli, berperang melawan pemberontak tanpa izin Imam (as) adalah tidak diperbolehkan.[52]
Pengulangan Kejahatan pada Kejahatan yang Mewajibkan Had
Seseorang yang melakukan kejahatan dengan had yang sama sebanyak tiga kali, seperti pengulangan pada kejahatan zina, musahaqah, tafkhidz, kazaf, meminum khamar, pencurian dan setiap kalinya had dilaksanakan, jika pada kali keempat ia melakukan kejahatan yang sama, maka ia menjadi Mahdur ad-Dam. Darah orang-orang ini hanya hadar (dihalalkan penumpahannya) bagi penguasa, dan jika seorang individu membunuh orang-orang ini, maka ia akan dikisas.[53]
Catatan
Catatan Kaki
- ↑ Ibnu Manzhur. Lisan al-'Arab. 1414 H. Di bawah lema "Hadar".
- ↑ Ibnu Manzhur. Lisan al-'Arab. 1414 H. Di bawah lema "Hadar".
- ↑ Fadhil al-Hindi. Kasysyaf al-Litsam 'an Qawa'id al-Ahkam. 1416 H. jld. 11. hlm. 106.
- ↑ Muhaqqiq al-Hilli. Syara'i' al-Islam. 1408 H. jld. 4. hlm. 191.
- ↑ Al-Khoei. Mabani Takmilah al-Minhaj. 1410 H. jld. 2. hlm. 83.
- ↑ Thabathaba'i. Al-Mizan. 1390 H. jld. 5. hlm. 42.
- ↑ Makarim asy-Syirazi. Tafsir Nemuneh. 1374 HS. jld. 12. hlm. 105.
- ↑ Ibnu Hayyun. Da'a'im al-Islam. 1342 HS. jld. 2. hlm. 401.
- ↑ Muhaqqiq al-Hilli. Syara'i' al-Islam. 1408 H. jld. 4. hlm. 991; An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 42. hlm. 190; Al-Khoei. Mabani Takmilah al-Minhaj. 1410 H. jld. 2. hlm. 69; Asy-Syahid ats-Tsani. Ar-Raudhah al-Bahiyyah. 1410 H. jld. 10. hlm. 38.
- ↑ Syaikh ath-Thusi. Al-Mabsuth. 1351 HS. jld. 7. hlm. 281.
- ↑ 'Audah. At-Tasyri' al-Jina'i al-Islami. 1419 H. jld. 1. hlm. 528.
- ↑ Al-Mamaqani. Ghayah al-Amal. 1323 H. jld. 1. hlm. 24.
- ↑ An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 21. hlm. 103.
- ↑ Allamah al-Hilli. Tahrir al-Ahkam. 1420 H. jld. 2. hlm. 210; An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 21. hlm. 99.
- ↑ 'Audah. At-Tasyri' al-Jina'i al-Islami. 1419 H. jld. 1. hlm. 528.
- ↑ 'Audah. At-Tasyri' al-Jina'i al-Islami. 1419 H. jld. 1. hlm. 528.
- ↑ Ibnu Sa'id. Nuzhah an-Nazhir. 1386 H. hlm. 156.
- ↑ Al-Khoei. Minhaj ash-Shalihin. 1410 H. jld. 2. hlm. 83.
- ↑ Al-Khoei. Minhaj ash-Shalihin. 1410 H. jld. 2. hlm. 83.
- ↑ Al-Khoei. Minhaj ash-Shalihin. 1410 H. jld. 2. hlm. 83.
- ↑ Al-Hurr al-'Amili. Tafshil Wasa'il asy-Syi'ah. 1409 H. jld. 15. hlm. 64.
- ↑ Al-Khoei. Minhaj ash-Shalihin. 1410 H. jld. 2. hlm. 83; Husaini Syirazi. Al-Fiqh. 1409 H. hlm. 175.
- ↑ Asy-Syahid ats-Tsani. Ar-Raudhah al-Bahiyyah. 1410 H. jld. 10. hlm. 55; An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 42. hlm. 151; Imam Khomeini. Tahrir al-Wasilah. 1379 HS. jld. 2. hlm. 519.
- ↑ Fadhil al-Hindi. Kasysyaf al-Litsam 'an Qawa'id al-Ahkam. 1416 H. jld. 10. hlm. 662.
- ↑ Syaikh Mufid. Al-Muqni'ah. 1413 H. hlm. 810.
- ↑ Asy-Syahid al-Awwal. Ad-Durus asy-Syar'iyyah. 1412 H. jld. 2. hlm. 53.
- ↑ Al-Khoei. Mabani Takmilah al-Minhaj. 1410 H. jld. 2. hlm. 83.
- ↑ Asy-Syahid al-Awwal. Ad-Durus asy-Syar'iyyah. 1412 H. jld. 2. hlm. 53.
- ↑ Ath-Thusi. An-Nihayah. 1400 H. hlm. 730; An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 41. hlm. 432; Asy-Syahid al-Awwal. Ad-Durus asy-Syar'iyyah. 1412 H. jld. 2. hlm. 43; Al-Khoei. Mabani Takmilah al-Minhaj. 1410 H. jld. 1. hlm. 264; Imam Khomeini. Tahrir al-Wasilah. jld. 2. hlm. 429.
- ↑ An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 41. hlm. 435.
- ↑ Muqaddas Ardabili. Majma' al-Fa'idah wa al-Burhan. 1403 H. jld. 13. hlm. 174; Asy-Syahid ats-Tsani. Ar-Raudhah al-Bahiyyah. 1410 H. jld. 9. hlm. 195; Al-Khoei. Mabani Takmilah al-Minhaj. 1410 H. jld. 1. hlm. 264.
- ↑ Abu ash-Shalah al-Halabi. Al-Kafi fi al-Fiqh. 1403 H. hlm. 416; An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 1. hlm. 436.
- ↑ An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 41. hlm. 438.
- ↑ Sebagai contoh lihat: An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 41. hlm. 438; Imam Khomeini. Tahrir al-Wasilah. 1379 HS. jld. 2. hlm. 476; Khorasani. Minhaj ash-Shalihin. 1428 H. jld. 3. hlm. 489.
- ↑ Syaikh Mufid. Al-Muqni'ah. 1413 H. hlm. 743; Allamah al-Hilli. Mukhtalaf asy-Syi'ah fi Ahkam asy-Syari'ah. 1413 H. jld. 9. hlm. 460.
- ↑ Syaikh Mufid. Al-Muqni'ah. 1413 H. hlm. 743.
- ↑ Khamenei. "Bayanat dar Khutbeh-haye Jom'eh". 9 Mehr 1378 HS.
- ↑ Al-Khoei. Mabani Takmilah al-Minhaj. 1410 H. jld. 2. hlm. 87; Imam Khomeini. Tahrir al-Wasilah. 1379 HS. jld. 1. hlm. 451.
- ↑ Imam Khomeini. Tahrir al-Wasilah. 1379 HS. jld. 1. hlm. 450.
- ↑ Muhaqqiq al-Hilli. Syara'i' al-Islam. 1408 H. jld. 4. hlm. 199.
- ↑ An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 42. hlm. 168.
- ↑ Al-Khoei. Mabani Takmilah al-Minhaj. 1411 H. jld. 2. hlm. 83.
- ↑ Husaini Syirazi. Al-Fiqh. 1409 H. hlm. 174.
- ↑ Allamah al-Hilli. Irsyad al-Adzhan. 1410 H. jld. 2. hlm. 198 dan 220.
- ↑ Muhaqqiq al-Hilli. Syara'i' al-Islam. 1408 H. jld. 4. hlm. 199; Al-Khoei. Mishbah al-Fuqaha. 1412 H. jld. 2. hlm. 455.
- ↑ An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 42. hlm. 167.
- ↑ Asy-Syahid ats-Tsani. Ar-Raudhah al-Bahiyyah. 1410 H. jld. 9. hlm. 348; Fakhrul Muhaqqiqin. Idhah al-Fawa'id. 1387 H. jld. 4. hlm. 545; Muqaddas Ardabili. Majma' al-Fa'idah wa al-Burhan. 1403 H. jld. 13. hlm. 301; An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 41. hlm. 651; Imam Khomeini. Tahrir al-Wasilah. 1379 HS. jld. 1. hlm. 491.
- ↑ Imam Khomeini. Tahrir al-Wasilah. 1379 HS. jld. 2. hlm. 331.
- ↑ Allamah al-Hilli. Tahrir al-Ahkam asy-Syar'iyyah. 1420 H. jld. 2. hlm. 229.
- ↑ Ibnu Barraj. Al-Muhadzdzab. 1406 H. jld. 1. hlm. 325; Ibnu Hamzah. Al-Wasilah ila Nail al-Fadhilah. 1408 H. hlm. 205.
- ↑ Allamah al-Hilli. Tahrir al-Ahkam asy-Syar'iyyah. 1420 H. jld. 2. hlm. 229; An-Najafi. Jawahir al-Kalam. 1404 H. jld. 21. hlm. 325.
- ↑ Syaikh ath-Thusi. An-Nihayah. 1400 H. hlm. 296; Ibnu Barraj. Al-Muhadzdzab. 1406 H. jld. 1. hlm. 325; Ibnu Idris. As-Sara'ir. 1410 H. jld. 2. hlm. 15.
- ↑ Al-Khoei. Mabani Takmilah al-Minhaj. 1410 H. jld. 42. hlm. 83.
Daftar Pustaka
- Ibnu Idris, Muhammad bin Ahmad. As-Sara'ir: Al-Hawi li Tahrir al-Fatawa. Qom, Mu'assasah Nasyr Islami, 1410 H.
- Ibnu Barraj, Abdul Aziz. Al-Muhadzdzab. Qom, Mu'assasah Nasyr Islami, 1406 H.
- Ibnu Hamzah, Muhammad bin Ali. Al-Wasilah ila Nail al-Fadhilah. Qom, Perpustakaan Umum Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1408 H.
- Ibnu Hayyun, Nu'man bin Muhammad. Da'a'im al-Islam wa Dzikr al-Halal wa al-Haram wa al-Qadhaya wa al-Ahkam 'an Ahl Bait Rasulillah 'Alaihi wa 'Alaihim Afdhal as-Salam. Kairo, Dar al-Ma'arif, 1383 H/1963 M.
- Ibnu Sa'id, Yahya bin Ahmad. Nuzhah an-Nazhir fi al-Jam' Baina al-Asybah wa an-Nazha'ir. Najaf, Mathba'ah al-Adab, 1386 H.
- Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-'Arab. Beirut, Dar al-Fikr li ath-Thiba'ah wa an-Nasyr wa at-Tauzi', 1414 H.
- Abu ash-Shalah al-Halabi, Taqi bin Najm. Al-Kafi fi al-Fiqh. Isfahan, Perpustakaan Umum Imam Amirul Mukminin Ali (as), 1403 H.
- Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Teheran, Mu'assasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini (ra), 1379 HS.
- Al-Hurr al-'Amili, Muhammad bin Hasan. Tafshil Wasa'il asy-Syi'ah ila Tahshil Masa'il asy-Syari'ah. Pentahkik: Mohammad Reza Husaini Jalali. Qom, Mu'assasah Al al-Bait (as) li Ihya' at-Turats, 1409 H.
- Husaini Syirazi, Sayyid Muhammad. Al-Fiqh: Al-Qawa'id al-Fiqhiyyah. Beirut, Markaz ar-Rasul al-A'zham (saw) li at-Tahqiq wa an-Nasyr, 1409 H.
- Al-Khoei, Sayyid Abu al-Qasim. Mabani Takmilah al-Minhaj. Pentahkik: Mohammad Sadeq Esmailpour. Najaf, Tanpa Penerbit, 1410 H.
- Al-Khoei, Sayyid Abu al-Qasim. Mishbah al-Faqahah fi al-Mu'amalat. Pentahkik: Mohammad Ali Tauhidi, 1412 H.
- Al-Khoei, Sayyid Abu al-Qasim. Minhaj ash-Shalihin. Qom, Madinah al-'Ilm, 1410 H.
- Asy-Syahid al-Awwal, Muhammad bin Makki. Ad-Durus asy-Syar'iyyah fi Fiqh al-Imamiyyah. Qom, Jama'ah al-Mudarrisin fi al-Hauzah al-'Ilmiyyah, 1412 H.
- Asy-Syahid ats-Tsani, Zainuddin bin Ali. Ar-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah ad-Dimasyqiyyah. Qom, Maktab al-I'lam al-Islami, 1410 H.
- Syaikh ath-Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Mabsuth fi al-Fiqh al-Imamiyyah. Pentahkik: Muhammad Baqir Behbudi. Teheran, Maktabah Murtadhawiyyah, 1351 HS.
- Syaikh ath-Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Khilaf. Qom, Mu'assasah Nasyr Islami, 1407 H.
- Syaikh ath-Thusi, Muhammad bin Hasan. An-Nihayah fi Mujarrad al-Fiqh wa al-Fatawa. Beirut, Dar al-Kitab al-'Arabi, 1400 H.
- Syaikh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Muqni'ah. Qom, Mu'assasah Nasyr Islami, 1413 H.
- Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Mu'assasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1390 H.
- Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Tahrir al-Ahkam asy-Syar'iyyah 'ala Madzhab al-Imamiyyah. Qom, Mu'assasah Al al-Bait, 1420 H.
- Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Mukhtalaf asy-Syi'ah fi Ahkam asy-Syari'ah. Qom, Mu'assasah Nasyr Islami, 1413 H.
- Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Irsyad al-Adzhan ila Ahkam al-Iman. Pentahkik: Fares Tabrizian. Qom, Mu'assasah Nasyr Islami, 1410 H.
- 'Audah, Abdul Qadir. At-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranan bi al-Qanun al-Wadh'i. Beirut, Mu'assasah Risalah, 1419 H.
- Fadhil al-Hindi, Muhammad bin Hasan. Kasysyaf al-Litsam 'an Qawa'id al-Ahkam. Qom, Mu'assasah Nasyr Islami, 1416 H.
- Fakhrul Muhaqqiqin, Muhammad bin Hasan. Idhah al-Fawa'id fi Syarh Musykilat al-Qawa'id. Koreksi: Sayyid Husain Musawi Kirmani. Qom, Nasyr Isma'iliyan, 1387 H.
- Al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Korektor: Ali Akbar Ghaffari. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1429 H.
- Al-Mamaqani, Muhammad Hasan. Ghayah al-Amal fi Syarh al-Makasib wa al-Bai'. Qom, Majma' adz-Dzakha'ir al-Islamiyyah, 1323 H.
- Muhaqqiq al-Hilli, Ja'far bin Hasan. Syara'i' al-Islam fi Masa'il al-Halal wa al-Haram. Qom, Mu'assasah Isma'iliyan, 1408 H.
- Muqaddas Ardabili, Ahmad. Majma' al-Fa'idah wa al-Burhan fi Syarh Irsyad al-Adzhan. Koreksi: Ali Panah Isytihardi. Qom, Mu'assasah Nasyr Islami, 1403 H.
- Makarim asy-Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.
- An-Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i' al-Islam. Pentahkik: Ibrahim Sulthani Nasab. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, 1404 H.
- An-Nuri, Husain. Mustadrak al-Wasa'il wa Mustanbath al-Masa'il. Beirut, Mu'assasah Al al-Bait (as) li Ihya' at-Turats, 1408 H.
- Khorasani, Vahid. Minhaj ash-Shalihin. Qom, Madrasah Imam Baqir (as), 1428 H.