Konsep:Kemarahan
Kemarahan atau murka adalah bagian dari sifat-sifat tercela yang di dalamnya tersembunyi rasa balas dendam. Gejolak dan mendidihnya darah jantung, memerahnya mata, membengkaknya urat leher, dan agresivitas adalah di antara tanda-tanda menjadi marah. Kemarahan dan kemurkaan telah dianggap sebagai kunci masuk ke setiap kejahatan dan keburukan. Kata-kata seperti sakhat, ghaizh, hanaq, dan hiddah juga digunakan dalam arti kemurkaan dan kemarahan.
Dalam beberapa kasus seperti pembuktian hukum Allah atau perlawanan terhadap hal yang menyimpang dan setan, kemarahan dianggap diperbolehkan. Contoh dari kemarahan adalah murka Allah yang, menurut Allamah ath-Thabathaba'i, diisyaratkan dalam Surah Thaha Ayat 81.
Faktor-faktor seperti kedengkian, dendam, keserakahan dan ketamakan, kesombongan dan keangkuhan, serta cinta kedudukan, jabatan, dan harta diperkenalkan sebagai faktor-faktor pemicu kemarahan. Menurut fukaha Syiah, dalam keadaan marah, akad-akad Islam dan ika'at tidak memiliki dampak, dan jika seseorang dalam keadaan ini mengucapkan perkataan kufur, hal itu tidak akan menjadi alasan bagi kemurtadannya. Riwayat-riwayat Islam telah menjelaskan dampak-dampak dan konsekuensi-konsekuensi bagi kemarahan, di mana kebinasaan iman, pengaruh setan atas manusia, terungkapnya aib-aib, dan hilangnya kehormatan merupakan di antaranya.
Untuk mengendalikan kemarahan, beberapa solusi telah disarankan, yang mana mengingat Allah, mengubah posisi, dan membaca beberapa doa serta zikir termasuk di antaranya.
Terminologi dan Kedudukan
Kemarahan termasuk dalam sifat-sifat tercela[1] yang di dalamnya individu berusaha untuk melukai atau menghancurkan harta benda orang lain.[2] Gejolak dan mendidihnya darah jantung,[3] memerahnya mata dan membengkaknya urat-urat leher,[4] serta agresivitas[5] telah diperkenalkan sebagai tanda-tanda kemarahan. Kata-kata seperti sakhat, ghaizh, hanaq, dan hiddah juga digunakan dalam arti kemurkaan dan kemarahan.[6] al-Kulaini dalam Kitab al-Kafi dengan menyampaikan sebuah riwayat dari Imam ash-Shadiq (as) telah memperkenalkan kemarahan dan kemurkaan sebagai kunci masuk ke setiap kejahatan dan keburukan.[7] Kemarahan dan kemurkaan adalah sebuah kondisi yang bertentangan dengan kondisi keridaan.[8]
Kemarahan Positif
Sebuah keadaan yang di dalamnya individu mencari pembuktian hukum Allah atau perlawanan terhadap suatu hal yang menyimpang atau bersifat setan.[9] Secara umum, setiap jenis kemarahan yang muncul berdasarkan pada dasar yang logis dinamakan sebagai kemarahan positif.[10]
Allamah ath-Thabathaba'i dalam penjelasan Surah Thaha Ayat 81 menganggap satu contoh kemarahan dan kemurkaan terkait dengan Allah dan menyebutnya sebagai salah satu sifat dari sifat-sifat perbuatan-Nya.[11] Dalam riwayat kehidupan Nabi Akram (saw) disebutkan: Beliau marah karena Tuhannya dan tidak marah karena dirinya sendiri.[12]
Faktor-faktor
Dalam riwayat-riwayat Islam dan kitab-kitab akhlak telah disebutkan faktor-faktor terkait dengan timbulnya kemarahan dan kemurkaan: Templat:Mulai kolom
- Kedengkian[13]
- Dendam[14]
- Keserakahan dan ketamakan[15]
- Kesombongan dan keangkuhan[16]
- Cinta kedudukan, jabatan, dan harta[17]
- Tidak menepati janji dan kesetiaan[18]
Hukum-hukum Fikih
Tindakan-tindakan seperti akad-akad Islam (nikah, jual beli, mudarabah, dan lain-lain) serta ika'at (talak, sumpah, nazar, dan lain-lain) yang efektivitasnya bergantung pada niat dan maksud;[19] menurut fukaha Syiah, jika pelakunya dalam keadaan marah dan murka, maka tidak ada dampak yang timbul atas tindakan tersebut.[20] Perkataan kufur yang diucapkan dalam keadaan marah dan murka tidak menyebabkan kemurtadan.[21] Hakim memutuskan perkara dalam keadaan marah dan murka dianggap makruh.[22]
Dampak dan Konsekuensi
Dalam riwayat-riwayat Islam, kebinasaan iman,[23] pengaruh setan atas manusia,[24] serta terungkapnya aib-aib dan hilangnya kehormatan[25] diperkenalkan sebagai bagian dari dampak dan konsekuensi yang berkaitan dengan kemarahan.
Termanifestasikannya kemarahan membawa kerugian-kerugian sosial dan psikologis.[26] Sebagian riwayat Islam memperkenalkan kemarahan layaknya kegilaan[27] yang akibatnya kemampuan berpikir tercerabut dari manusia.[28] Allamah al-Majlisi dengan menyampaikan sebuah riwayat dari Imam ash-Shadiq (as), menyebut pembunuhan berencana dan menuduh zina perempuan suci sebagai bagian dari bahaya-bahaya kemarahan.[29] Penyebab utama terjadinya perselisihan dan konflik di masyarakat dianggap sebagai kemarahan dan kemurkaan.[30] Berdasarkan statistik yang dirilis oleh Organisasi Kedokteran Forensik Negara Iran, dalam sembilan bulan pertama tahun 1402 HS, telah tercatat 473.683 kasus perselisihan dan konflik.[31]
Pengendalian Kemarahan
Artikel terkait untuk kategori ini adalah Menahan Amarah.
Pengendalian amarah bermakna menahan diri dari mengekspresikan kemarahan atau menyimpannya di dalam hati.[32] Menurut Makarim asy-Syirazi, salah seorang Marja taklid Syiah, pengendalian amarah memiliki urgensi yang sedemikian rupa[33] sehingga dalam beberapa riwayat Islam, pahala seorang syahid dan kebersamaan dengan para nabi dianugerahkan kepada orang yang mengendalikan amarahnya.[34] Menurut keyakinan para mufasir Al-Qur'an al-Karim, Surah Ali 'Imran Ayat 134 mengisyaratkan pada kedudukan dan pentingnya pengendalian amarah. [35]
Solusi
Untuk mengendalikan kemarahan, dalam riwayat-riwayat Islam dan kitab-kitab akhlak telah disebutkan beberapa solusi, yang mana sebagian di antaranya adalah:
- Mengingat Allah[36]
- Membaca beberapa doa dan zikir seperti "A'udzu billahi min asy-syaithan ar-rajim",[37] "La haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim",[38] serta selawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.[39]
- Mengubah posisi (jika sedang duduk maka berdiri, dan jika sedang berdiri maka duduk).[40]
- Mengambil wudu[41]
- Diam[42]
- Melakukan sujud[43]
Catatan Kaki
- ↑ ath-Thuraihi. Majma' al-Bahrain. jld. 2. hlm. 133.
- ↑ Kiumartsi. Mahar-e Khashm (Pengendalian Amarah). hlm. 43.
- ↑ ar-Raghib al-Isfahani. Mufradat Alfazh al-Qur'an. 1412 H. hlm. 608.
- ↑ Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait (as). Farhang Fiqh Mutabaq-e Mazhab Ahlulbait (as). 1382 H. jld. 5. hlm. 599.
- ↑ Kiumartsi. Mahar-e Khashm (Pengendalian Amarah). hlm. 43.
- ↑ Kiumartsi. Mahar-e Khashm (Pengendalian Amarah). hlm. 17-27.
- ↑ al-Kulaini. Al-Kafi. 1407 H. jld. 2. hlm. 302.
- ↑ Kiumartsi. Mahar-e Khashm (Pengendalian Amarah). hlm. 16.
- ↑ Kiumartsi. Mahar-e Khashm (Pengendalian Amarah). hlm. 233.
- ↑ Kiumartsi. Mahar-e Khashm (Pengendalian Amarah). hlm. 233.
- ↑ ath-Thabathaba'i. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. 1390 H. jld. 14. hlm. 187.
- ↑ al-Majlisi. Bihar al-Anwar. 1403 H. jld. 16. hlm. 227.
- ↑ at-Tamimi al-Amidi. Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. 1410 H. hlm. 68.
- ↑ at-Tamimi al-Amidi. Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. 1410 H. hlm. 125.
- ↑ Sekelompok Penulis. Mausu'ah Nadhrah an-Na'im fi Makarim Akhlaq ar-Rasul al-Karim Shallallahu 'Alaihi wa Alihi wa Sallam. 1426 H. jld. 11. hlm. 5077.
- ↑ Sekelompok Penulis. Mausu'ah Nadhrah an-Na'im fi Makarim Akhlaq ar-Rasul al-Karim Shallallahu 'Alaihi wa Alihi wa Sallam. 1426 H. jld. 11. hlm. 5077.
- ↑ an-Naraqi. Mi'raj as-Sa'adah. hlm. 239.
- ↑ Sekelompok Penulis. Mausu'ah Nadhrah an-Na'im fi Makarim Akhlaq ar-Rasul al-Karim Shallallahu 'Alaihi wa Alihi wa Sallam. 1426 H. jld. 11. hlm. 5077.
- ↑ Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait (as). Farhang Fiqh Mutabaq-e Mazhab Ahlulbait (as). 1382 H. jld. 5. hlm. 599.
- ↑ Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait (as). Farhang Fiqh Mutabaq-e Mazhab Ahlulbait (as). 1382 H. jld. 5. hlm. 599.
- ↑ Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait (as). Farhang Fiqh Mutabaq-e Mazhab Ahlulbait (as). 1382 H. jld. 5. hlm. 599.
- ↑ Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait (as). Farhang Fiqh Mutabaq-e Mazhab Ahlulbait (as). 1382 H. jld. 5. hlm. 599.
- ↑ al-Kulaini. Al-Kafi. 1407 H. jld. 2. hlm. 302.
- ↑ al-Majlisi. Bihar al-Anwar. 1403 H. jld. 70. hlm. 267.
- ↑ at-Tamimi al-Amidi. Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. 1410 H. hlm. 310.
- ↑ Kiumartsi. Mahar-e Khashm (Pengendalian Amarah). hlm. 88 dan 112.
- ↑ at-Tamimi al-Amidi. Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. 1410 H. hlm. 114.
- ↑ at-Tamimi al-Amidi. Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. 1410 H. hlm. 73.
- ↑ al-Majlisi. Bihar al-Anwar. 1403 H. jld. 70. hlm. 265.
- ↑ Kiumartsi. Mahar-e Khashm (Pengendalian Amarah). hlm. 43.
- ↑ Organisasi Kedokteran Forensik Negara Iran
- ↑ ar-Raghib al-Isfahani. Mufradat Alfazh al-Qur'an. 1412 H. hlm. 712.
- ↑ Makarim asy-Syirazi. Akhlaq dar Qur'an (Akhlak dalam Al-Qur'an). hlm. 391.
- ↑ Makarim asy-Syirazi. Akhlaq dar Qur'an (Akhlak dalam Al-Qur'an). hlm. 391.
- ↑ Lihat: ath-Thabarsi. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. jld. 2. hlm. 837; al-Bahrani. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. 1415 H. jld. 1. hlm. 689; as-Suyuthi. Ad-Durr al-Manstur fi at-Tafsir bi al-Ma'tsur. jld. 2. hlm. 72-73.
- ↑ al-Kulaini. Al-Kafi. 1407 H. jld. 2. hlm. 304.
- ↑ al-Majlisi. Bihar al-Anwar. 1403 H. jld. 92. hlm. 339.
- ↑ Makarim asy-Syirazi. Akhlaq dar Qur'an (Akhlak dalam Al-Qur'an). hlm. 394.
- ↑ al-Majlisi. Bihar al-Anwar. 1403 H. jld. 92. hlm. 339.
- ↑ al-Majlisi. Bihar al-Anwar. 1403 H. jld. 92. hlm. 338.
- ↑ al-Majlisi. Bihar al-Anwar. 1403 H. jld. 70. hlm. 272.
- ↑ al-Majlisi. Bihar al-Anwar. 1403 H. jld. 70. hlm. 272.
- ↑ al-Majlisi. Bihar al-Anwar. 1403 H. jld. 70. hlm. 273.
Daftar Pustaka
- Organisasi Kedokteran Forensik Negara Iran.
- al-Bahrani, Sayyid Hasyim. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Mu'assasah al-Bi'tsah (Qism ad-Dirasat al-Islamiyyah), cetakan pertama, 1415 H.
- al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
- al-Majlisi, Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-A'immah al-Athar (as). Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
- an-Naraqi, Ahmad bin Muhammad Mahdi. Mi'raj as-Sa'adah. Qom, Hejrat.
- ar-Raghib al-Isfahani, al-Husain bin Muhammad. Mufradat Alfazh al-Qur'an. Beirut, Dar asy-Syamiyyah, 1412 H.
- as-Suyuthi, 'Abd ar-Rahman bin Abu Bakr. Ad-Durr al-Manstur fi at-Tafsir bi al-Ma'tsur. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, cetakan pertama, 1404 H.
- ath-Thabarsi, al-Fadhl bin al-Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Intisyarat Naser Khosrow, cetakan ketiga.
- ath-Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Mu'assasah al-A'lami li al-Matbu'at, cetakan kedua, 1390 H.
- ath-Thuraihi, Fakhr ad-Din. Majma' al-Bahrain. Teheran, Kitab-furushi Murtadhawi, cetakan ketiga.
- at-Tamimi al-Amidi, 'Abd al-Wahid bin Muhammad. Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, cetakan kedua, 1410 H.
- Kiumartsi, Muhammad Ridha. Mahar-e Khashm (Pengendalian Amarah). Qom, Mu'assasah Ilmi Farhangi Darul Hadits.
- Makarim asy-Syirazi, Nashir. Akhlaq dar Qur'an (Akhlak dalam Al-Qur'an). Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib (as).
- Makarim asy-Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah.
- Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait (as). Farhang Fiqh Mutabaq-e Mazhab Ahlulbait (as). Qom, Mu'assasah Da'irah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait (as), 1382 H.
- Sekelompok Penulis. Mausu'ah Nadhrah an-Na'im fi Makarim Akhlaq ar-Rasul al-Karim Shallallahu 'Alaihi wa Alihi wa Sallam. Jeddah, Dar al-Wasilah, 1426 H.