Konsep:Bab (Babullah)
Bab (Babullah), merupakan gelar bagi Nabi (saw) dan para Imam (as) dalam beberapa hadis. Kata-kata "Sirath", "Sabab", "Thariq", dan "Sabil" yang merupakan ungkapan serupa dengan "Babullah", juga digunakan untuk para Imam. Maksud dari Babullah adalah untuk menerima hidayah spiritual dan Ilahi, seseorang harus berpegang teguh pada pribadi-pribadi ini dan mereka laksana pintu-pintu masuk ke haribaan Tuhan.
Husain bin Hamdan al-Khashibi (w. 358) dalam al-Hidayah al-Kubra fi Tarikh al-Aimmah, menyebutkan beberapa orang sebagai "Abwab" (pintu-pintu) yang menjadi "pembawa rahasia dan ilmu para Imam (as)" dan pada saat yang sama memperkenalkan para wakil (Wukala) untuk setiap Imam yang menjadi perantara Imam dengan kaum Syiah dalam urusan keuangan dan lainnya. Ada juga orang-orang yang mengeklaim sebagai bab bagi para Imam namun klaim tersebut didustakan dan mereka mendapatkan Laknat serta kutukan dari para Imam.
Dalam Al-Qur'an
Templat:Utama Sejumlah mufasir menganggap maksud dari "Abwab" (pintu-pintu) dalam ayat 189 Surah Al-Baqarah (لَیسَ البِرُّ بِاَنْ تأتوا الْبُیوت منْ ظُهُورِها وَلکِنَّ البِرَّ مَنِ اتقی و أْتوا الْبیوت مِنْ اَبْوابِها) sebagai Para Imam Syiah, dalam arti bahwa mereka adalah jalan dan pintu untuk menemukan jalan menuju kota ilmu Nabi Muhammad (saw).[1]Templat:Catatan
30 Al-Mulk
Dalam sebuah riwayat[2] disebutkan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Ridha (as) mengenai makna "Ma'" (air) dalam ayat: اِنْ اَصْبَحَ ماؤُکُمْ غَوْراً فَمَنْ یأتیکُم بِماءٍ مَعینٍ (Maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?) [3] dan beliau menjawab: ماؤکم؛ ابوابکم.ای الائمة و الائمة أبواب اللّه (Air kalian; yakni pintu-pintu kalian. Yaitu para Imam, dan para Imam adalah pintu-pintu Allah). Dalam tafsir ini, "air" digunakan dalam makna kiasan (majas), artinya air adalah sarana kehidupan dan jika air mengering maka jalan kehidupan tertutup. Para Imam laksana air yang menjadi gantungan kehidupan spiritual masyarakat dan pada hakikatnya adalah pintu-pintu untuk mencapai kehidupan spiritual yang nyata, dan jika tidak ada Imam serta hujah di dunia, maka pintu kehidupan spiritual akan tertutup dan tidak ada yang akan memberikan "Ma'un Ma'in" atau air kehidupan spiritual yang segar kepada manusia.
58 Al-Baqarah
Bab Hittah, adalah gelar yang digunakan dalam beberapa riwayat Sunni dan Syiah untuk para Imam (as). Gelar ini diambil dari Ayat 58 Surah Al-Baqarah (و اذقُلْنَا ادْخُلوا هذه القریةَ فکُلُوا مِنها حَیثُ شِئْتم رَغَداً وادْخلوا البابَ سُجَّداً و قُولوا حِطَّةٌ نَغفرلَکُم خطایاکم). Berdasarkan ayat ini, Allah memerintahkan Bani Israil untuk masuk ke dalam "Bab" (pintu) sebuah negeri sambil bersujud dan mengucapkan "Hittah" (ampunilah kami) agar Allah mengampuni kesalahan-kesalahan mereka. Dalam tafsir ayat ini terdapat banyak perkataan dan sering kali ditulis bahwa yang dimaksud dengan negeri tersebut adalah Baitulmaqdis yang mana salah satu pintunya bernama "Bab Hittah".[4]
Abu Dzar al-Ghifari, Abu Said al-Khudri, dan Ibnu Abbas meriwayatkan dari Nabi (saw) bahwa Ahlulbaitku di tengah umat ini laksana "Bab Hittah" bagi Bani Israil, Allah mengampuni dosa-dosa melalui jalan mereka (إنّما مَثَلُ اهل بیتی فیکُم ... مثلُ باب حطّةٍ، من دخله نَجا و مَنْ لم یدْخله هلک).
Syekh Saduq menukil bahwa Sayidina Ali (as) dengan mengutip perkataan Nabi (saw), menyebut dirinya sebagai "Bab Hittah", sebagaimana Ahlulbait Nabi disebut sebagai Bab Hittah bagi umat Islam dan beliau bersabda: Bab Hittah umat Islam lebih utama (afdal) daripada Bab Hittah Bani Israil, karena pintu itu terbuat dari kayu, sedangkan kami para Imam adalah sosok yang berbicara (nathiq), jujur (shadiq), dan mukmin. Imam Baqir (as) menyebut dirinya dan Ahlulbait sebagai Bab Hittah bagi kaum muslimin (Nahnu Bab Hittathikum) dan maksud dari "sujudan" dalam Ayat 58 Surah Al-Baqarah adalah bersikap dengan tunduk dan khusyuk di hadapan para Imam (as).[5]
Dalam Riwayat
Nabi Muhammad saw
Dalam sebuah riwayat dari Imam Baqir (as) disebutkan: إنَّ رسولَ اللّهِ صلّی اللّه علیه وآله وسلّم بابُ اللّهِ الذی لایؤْتی الاّ منه و سبیلُه الذی من سلکه وصل الی اللّه (Sesungguhnya Rasulullah saw adalah pintu Allah yang tidak akan bisa didatangi melainkan melaluinya, dan beliau adalah jalan-Nya yang mana barangsiapa menempuhnya maka akan sampai kepada Allah).[6]
Para Imam (as)
Amirul Mukminin (as)

Dalam riwayat-riwayat, Sayidina Ali (as) disebut dengan ungkapan-ungkapan berikut:
- Bab; "Sesungguhnya Ali adalah pintu yang dibuka oleh Allah, barangsiapa memasukinya maka ia adalah seorang mukmin".[7]
- Bab Hidayah; "Sesungguhnya Ali adalah salah satu pintu dari pintu-pintu hidayah, maka barangsiapa masuk dari pintu Ali ia adalah seorang mukmin".
- Bab al-Jannah; Diungkapkan dengan: "Sesungguhnya Ali adalah salah satu pintu dari pintu-pintu surga, maka barangsiapa masuk ke pintunya ia adalah seorang mukmin".[8]
- Bab al-Nabi (saw); Dalam hadis masyhur yang dinukil dengan berbagai riwayat dalam buku-buku hadis Ahlusunnah dan Syiah mencapai derajat mutawatir, Nabi (saw) menyebut dirinya sebagai kota ilmu (Madinatul 'Ilm dan juga Madinatul Hikmah, Madinatul Fiqh, Madinatul Jannah, Darul 'Ilm, Khizanatul 'Ilm, Darul Hikmah) dan menyebut Imam Ali (as) sebagai "Bab" (pintu)-nya.[9]
- Babullah; Dalam hadis lain yang dinukil oleh Karajaki, Rasulullah (saw) menyebut Ali (as) sebagai "Pintu Allah dan pintu pribadiku".[10]
Imam Lainnya (as)
Dalam beberapa riwayat, Ahlulbait (as) disebut sebagai "Abwabullah" (pintu-pintu Allah), "Thariq" (jalan), "Sabil" (jalan), "Sabab" (perantara), dan "Sirath" (jalan lurus). Imam Sajjad (as): "Kami adalah pintu-pintu Allah, kami adalah jalan yang lurus, dan kami adalah wadah ilmu-Nya".[11] Dalam khotbah 154 Nahj al-Balaghah disebutkan bahwa: "Kami adalah syiar, sahabat, penjaga, dan pintu-pintu, dan tidaklah rumah-rumah dimasuki melainkan melalui pintu-pintunya".
Catatan Kaki
- ↑ Lihat: Thabarsi, Majma' al-Bayan, Penerbit: Dar al-Ma'rifah, jld. 2, hlm. 509; Tafsir al-Syafi, Faidh al-Kasyani, 1416 H, jld. 1, hlm. 228.
- ↑ Majlisi, jld. 24, hlm. 100
- ↑ Al-Mulk: 30
- ↑ Lihat: Majma' al-Tafasir; Thabarsi; Fakhr Razi; Suyuthi, di bawah ayat tersebut.
- ↑ Mar'asyi Najafi, jld. 9, hlm. 270–280; Suyuthi, jld. 1, hlm. 71; Majlisi, jld. 23, hlm. 119–120, 122–123, 125; Huwaizi, jld. 1, hlm. 82–83.
- ↑ Saffar al-Qomi, hlm. 199
- ↑ Kulaini, jld. 1, hlm. 437
- ↑ Ibid, jld. 2, hlm. 388–389
- ↑ Untuk informasi lebih lanjut mengenai hadis ini lihat: Amini, jld. 6, hlm. 61–81; juga Syusytari, jld. 5, hlm. 468–515; Majlisi, jld. 40, hlm. 200–207.
- ↑ Majlisi, jld. 26, hlm. 263
- ↑ Majlisi, jld. 24, hlm. 12
Catatan
Daftar Pustaka
- Al-Qur'an.
- Ibnul Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, 1385 – 1386/1965–1966.
- Ibnu Syahrasyub, Manaqib Alu Abi Thalib, jld. 4, cetakan Hasyem Rasouli Mahallati, Qom, 1379 HS.
- Ibnus Sabbagh, al-Fushul al-Muhimmah fi Ma'rifati Ahwal al-Aimmah alaihissalam, Beirut, 1408/1988.
- Amin, Mohsen, A'yan al-Syiah, Beirut, 1403/1983, di bawah nama-nama yang disebutkan dalam artikel.
- Amini, Abdul Husain, al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab, jld. 6, Beirut, 1387/1967.
- Huwaizi, Abd-Ali bin Jum'ah, Kitab Tafsir Nur al-Tsaqalain, cetakan Hasyem Rasouli Mahallati, cetakan offset Qom, 1383–1385 HS.
- Al-Khashibi, Husain bin Hamdan, al-Hidayah al-Kubra fi Tarikh al-Aimmah, naskah manuskrip Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi, no. 2973.
- Khoe'i, Abul Qasim, Mu'jam Rijal al-Hadits, Beirut, 1403/1983, di bawah nama-nama yang disebutkan dalam artikel.
- Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar, al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur, Qom, 1404 H.
- Syusytari, Nurullah bin Syarifuddin, Ihqaq al-Haqq wa Izhaq al-Bathil, Qom, 1404 H.
- Saffar al-Qomi, Mohammad bin Hasan, Bashair al-Darajat fi Fadha'il Alu Muhammad (saw), cetakan Mohsen Koucheh Baghi Tabrizi, Qom, 1404 H.
- Thabarsi, Ahmad bin Ali, al-Ihtijaj, cetakan Mohammad Baqir Mousawi Kharsan, Beirut, 1401/1981.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, cetakan Ahmad Arif Zain, Saida, 1333–1356/1914–1937.
- Fakhr Razi, Mohammad bin Umar, al-Tafsir al-Kabir, Kairo, tanpa tahun.
- Faidh al-Kasyani, Mohammad bin Syah Murtadha, Tafsir al-Syafi, jld. 1, cetakan Husain A'lami, Beirut, tanggal mukadimah 1399 H.
- Faidh al-Kasyani, Mohammad bin Syah Murtadha, Tafsir al-Syafi, koreksi dan catatan Mohammad Husain A'lami, Qom, cetakan kedua, 1416 H.
- Kasy-syi, Mohammad bin Umar, Ikhtiyar Ma'rifati al-Rijal, ringkasan Mohammad bin Hasan al-Thusi, cetakan Hasan Musthafawi, Masyhad, 1348 HS.
- Kulaini, Mohammad bin Ya'qub, al-Kafi, cetakan Ali Akbar Ghaffari, Beirut, 1401 H.
- Majlisi, Mohammad Baqir, Bihar al-Anwar, Beirut, 1403 H.
- Majma' al-Tafasir (mencakup: Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn 'Abbas, Anwar al-Tanzil Baidhawi, Tafsir al-Khazin, Tafsir al-Nasafi), Istanbul, 1404/1984.
- Mar'asyi Najafi, Syihabuddin, Mulhaqat Ihqaq al-Haqq, dalam Nurullah bin Syarifuddin Syusytari, Ihqaq al-Haqq wa Izhaq al-Bathil, jld. 7, Qom, 1404 H.
- Nahj al-Balaghah, cetakan Subhi Shalih, Kairo, 1411/1991.