Lompat ke isi

Konsep:Ayat 7 Surah Al-Baqarah

Dari wikishia
Ayat 7 Surah Al-Baqarah
Kaligrafi Ayat 7 Surah Al-Baqarah
Kaligrafi Ayat 7 Surah Al-Baqarah
Informasi Ayat
SurahAl-Baqarah
Ayat7
Juz1
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madinah
TentangSegel yang Allah berikan pada hati orang-orang kafir dan penutup yang ada pada pendengaran serta penglihatan mereka.
Ayat-ayat terkaitAyat 23 Surah Al-Jatsiyah, Ayat 155 Surah An-Nisa, Ayat 35 Surah Al-Mukmin


Ayat 7 Surah Al-Baqarah menghubungkan takasub dan kebebalan orang-orang kafir serta terhalangnya mereka dari Hidayah dengan penyegelan hati mereka oleh Allah, dan menyatakan bahwa pada pendengaran serta penglihatan mereka telah diletakkan sebuah penutup.

Para mufasir menafsirkan penyegelan hati orang-orang kafir sebagai hilangnya kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, serta ghisyawah (penutup) pada pendengaran dan penglihatan mereka sebagai kiasan dari tidak mendengarnya ucapan yang hak dan tidak adanya Bashirah dalam menerima kebenaran. Menurut keyakinan mereka, kondisi ini merupakan hasil dari perbuatan ikhtiari (pilihan bebas) dan perilaku mereka yang salah.

Isi dan Teks Ayat

Ayat 7 Surah Al-Baqarah menyatakan bahwa Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran orang-orang kafir dan pada penglihatan mereka ada penutup, dan hal ini dikemukakan sebagai azab yang pedih bagi mereka.[1]

(Dengan sebab keingkaran mereka), Allah mematerikan atas hati mereka serta pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutupnya; dan bagi mereka pula disediakan azab seksa yang amat besar.


Kata Qalb, Sam'u dan Bashar

Nashir Makarim Syirazi, mufasir Syiah, dengan bersandar pada Ayat 37 Surah Qaf, menganggap kata qalb (hati) dalam ayat ini bermakna akal dan pemahaman.[2] Sultan Muhammad Gunabadi juga memperkenalkan hati sebagai tingkatan dari hakikat manusia tempat terwujudnya pemahaman terhadap ma'rifat dan pengaruh dari amal perbuatan.[3]

Para mufasir menganggap ghisyawah pada pendengaran dan penglihatan bermakna tidak mendengarnya kebenaran dan ketidakmampuan dalam memahami hakikat.[4] Makarim Syirazi menjelaskan tentang perbedaan penggunaan bentuk tunggal (mufat) dan jamak pada kata sam'u (pendengaran), qulub (hati-hati), dan abshar (penglihatan-penglihatan) bahwa variasi persepsi hati dan visual lebih banyak daripada auditori, kata sam'u digunakan sebagai isim jenis sehingga tidak memiliki bentuk jamak, serta sam'u digunakan dalam makna masdar yang menunjukkan pada sedikit dan banyaknya.[5]

Makna Penyegelan Hati Orang Kafir oleh Allah

Fadhl bin Hasan Thabarsi, mufasir Syiah, menafsirkan penyegelan hati oleh Allah dalam bentuk metafora atau majas[6] dan menyebutkan beberapa kemungkinan untuknya:

  • Kesaksian Allah bahwa mereka tidak akan lagi menerima kebenaran.
  • Tertutupnya hati mereka dari menerima iman.
  • Pendeknya pandangan dan ketidakmampuan dalam membedakan yang hak dan yang batil.
  • Pemberian tanda dari sisi Allah pada hati mereka agar para malaikat mengenali mereka dan melaknat mereka.[7] Dalam beberapa riwayat, penyegelan hati ditafsirkan sebagai tanda Ilahi untuk memperkenalkan mereka kepada para malaikat.[8]

Muhammad Jawad Mughniyah, mufasir Syiah, meyakini bahwa karena tujuan penciptaan hati adalah hidayah melalui dalil-dalil yang benar, jika seseorang tetap bersikeras pada kesesatan dan berpaling dari kebenaran, seolah-olah ia pada dasarnya tidak memiliki hati, dan inilah makna dari penyegelan hati.[9] Dalam al-Tafsir al-Mubin, Muhammad Jawad Mughniyah menganggap penyegelan hati sebagai kiasan dari puncak keras kepala dan kesombongan orang-orang kafir, sedemikian rupa sehingga kemungkinan masuknya kebenaran ke dalam hati mereka telah hilang.[10]

Penyandaran Penyegelan Hati kepada Allah

Allamah Thabathabai dengan bersandar pada konteks ayat menyatakan bahwa perbuatan orang-orang kafir berada di antara dua hijab (penghalang): satu hijab yang muncul dari kekufuran mereka dan penolakan mereka sendiri terhadap kebenaran, serta hijab yang diletakkan Allah atas mereka setelah kekufuran tersebut.[11] Ia dalam tafsir Ayat 26 Surah Al-Baqarah juga menyebutkan dua jenis kesesatan mengenai orang-orang kafir dan orang-orang munafik: kesesatan yang menjadi sumber kekufuran dan nifak, serta kesesatan yang memperkuat hal tersebut sebagai bentuk hukuman.[12]

Thabarsi meyakini bahwa penisbatan penyegelan hati kepada Allah adalah karena keadaan ini muncul akibat kemaksiatan; sebagaimana dalam ungkapan "harta telah membinasakan si fulan" yang dimaksud adalah kebinasaan dalam jalan menumpuk harta, bukan pengaruh langsung dari harta tersebut.[13] Makarim Syirazi juga menganggapnya sebagai karakteristik yang Allah letakkan dalam perbuatan-perbuatan yang salah yang pada akhirnya berujung pada tertutupnya hati, mata, dan telinga.[14]

Selain itu, ketidakmampuan orang-orang kafir dalam membedakan kebenaran dan keberlanjutan dalam kesesatan dianggap sebagai konsekuensi dari faktor-orang seperti kekufuran, takabur, kezaliman, mengikuti hawa nafsu, dan keras kepala di hadapan kebenaran.[15] Oleh karena itu, hilangnya sarana hidayah merupakan hasil dari perbuatan salah mereka sendiri.[16]

Mulla Shadra, filsuf Syiah, menganggap penyegelan hati orang-orang kafir bersumber dari tabiat dan zat mereka serta memperkenalkannya sebagai konsekuensi dari menjaga tatanan alam.[17]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 82.
  2. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 83.
  3. Gunabadi, Tafsir Bayan al-Sa'adah, 1408 H, jld. 1, hal. 54.
  4. Kasyani, Tafsir al-Mu'in, 1410 H, jld. 1, hal. 23; Mustafavi, Tafsir-e Rousyan, 1380 HS, jld. 1, hal. 71.
  5. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 90–91.
  6. Thabarsi, Tafsir Jawami' al-Jami', 1377 HS, jld. 1, hal. 17.
  7. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 1, hal. 130.
  8. Arusi Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 1, hal. 33.
  9. Mughniyah, al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 1, hal. 53.
  10. Mughniyah, al-Tafsir al-Mubin, Bunyad-e Ba'tsat, hal. 4.
  11. Thabathabai, al-Mizan, 1417 H, jld. 1, hal. 51.
  12. Thabathabai, al-Mizan, 1417 H, jld. 1, hal. 45 dan 91.
  13. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 1, hal. 131.
  14. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 84.
  15. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 81–83.
  16. Mirza Khosravani, Tafsir-e Khosravi, 1390 H, jld. 1, hal. 55.
  17. Mulla Shadra, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HS, jld. 1, hal. 350–351.

Daftar Pustaka

  • Arusi Huwaizi, Abd Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Riset: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati. Qom, Penerbit Isma'iliyan, 1415 H.
  • Gunabadi, Sultan Muhammad. Tafsir Bayan al-Sa'adah fi Maqamat al-'Ibadah. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1408 H.
  • Kasyani, Muhammad bin Murtadha. Tafsir al-Mu'in. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1410 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.
  • Mir Khosravani, Alireza. Tafsir-e Khosravi. Teheran, Penerbit Islamiyah, 1390 H.
  • Mulla Shadra, Muhammad bin Ibrahim. Tafsir al-Qur'an al-Karim (Shadra). Riset: Muhammad Khajavi. Qom, Penerbit Bidar, 1366 HS.
  • Mustafavi, Hassan. Tafsir-e Rousyan. Teheran, Markaz-e Nasyr-e Kitab, 1380 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. al-Tafsir al-Kasyif. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1424 H.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. al-Tafsir al-Mubin. Qom, Bunyad-e Ba'tsat, tanpa tahun.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Dengan pengantar Muhammad Jawad Balaghi. Teheran, Penerbit Nasir Khosrow, 1372 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jami'. Teheran, Penerbit Universitas Teheran dan Manajemen Hauzah Ilmiah Qom, 1377 HS.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Cetakan kelima. Qom, Maktabah al-Nasyr al-Islami, 1417 H.