Lompat ke isi

Konsep:Ayat 69 Surah Al-Anbiya

Dari wikishia

Templat:Artikel Terkait

Ayat 69 Surah Al-Anbiya
Informasi Ayat
SurahAl-Anbiya
Ayat69
Juz17
Informasi Konten
Tempat
Turun
Makkah
TentangPerintah Allah tentang Dinginnya Api bagi Ibrahim
DeskripsiPenyelamatan Nabi Ibrahim as dari api
Ayat-ayat terkaitAyat 24 Surah Al-Ankabut dan Ayat 97 Surah Ash-Shaffat


Lukisan miniatur Nabi Ibrahim as di taman bunga karya Mahmoud Farshchian

Ayat 69 Surah Al-Anbiya adalah tentang perintah Ilahi mengenai dinginnya api yang telah disiapkan oleh Namrud sebagai hukuman atas penghancuran berhala, untuk membakar Nabi Ibrahim as. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa melalui perintah ini, api Namrud berubah menjadi taman bunga. Beberapa mufasir menganggap seruan kepada api dalam ungkapan "Qulna Ya Naar..." sebagai seruan takwini.

Menurut sebuah riwayat hadis, ketika Nabi Ibrahim as hendak dilemparkan ke dalam api, Jibril bertanya kepadanya apakah ia membutuhkan bantuan? Nabi Ibrahim as tidak meminta pertolongan darinya dan berkata: "Cukuplah bagiku bahwa Allah mengetahui keadaanku."

Pengenalan

Ayat 69 Surah Al-Anbiya adalah salah satu ayat yang memuat bagian dari kisah penyelamatan Nabi Ibrahim as dari api Namrud dan merujuk pada mukjizat Ilahi dalam kisah ini. Bunyi ayat tersebut adalah:[1]

Kami berfirman: "Hai api, jadilah engkau sejuk serta selamat sejahtera kepada Ibrahim! "


Dalam Tafsir Nemuneh disebutkan bahwa setelah para penyembah berhala kalah menghadapi argumen logis Nabi Ibrahim as tentang penyembahan berhala, kebebalan dan fanatisme mereka menghalangi untuk menerima kebenaran. Sebagai hukuman atas penghancuran berhala, mereka memutuskan untuk membakar Nabi Ibrahim as. Mereka menyiapkan api yang besar dan melemparkan Nabi Ibrahim as ke dalamnya dengan manjanik. Namun Allah berkehendak agar hamba-Nya tetap selamat; maka Dia berfirman kepada api: Jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.[2] Menurut Naser Makarem Shirazi, menyusul perintah ini, api menjadi begitu dingin sehingga gigi Nabi Ibrahim as gemeretak karena kedinginan, dan jika tidak ada ungkapan "Salama", nyawa Nabi Ibrahim as akan terancam karena rasa dingin yang luar biasa.[3] Dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq as disebutkan bahwa api Namrud berubah menjadi taman bunga yang indah.[4]

Cara Seruan kepada Api

Menurut Syaikh Thabarsi dalam Tafsir Majma' al-Bayan, dalam ungkapan "Qulna Ya Nar", objek yang diseru adalah api yang bersifat benda mati dan tidak memiliki kapasitas untuk diseru; maka seruan ini bermakna "Ja'ala" (menjadikan); yakni "Ja'alna an-Nara bardan wa salaman" (Kami menjadikan api itu dingin dan keselamatan); seperti perintah "Kunu Qiradatan" mengenai Ashabussabt, yang berarti "Ja'alnahum qiradatan" (Kami menjadikan mereka kera).[5] Namun Sayyid Abdul Husain Thayyib, penulis Tafsir Athyab al-Bayan, meyakini bahwa pada dasarnya seruan kepada benda mati tidaklah bermasalah; karena menurut Ayat 46 Surah Al-Isra' yang menyatakan "Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya", semua makhluk memiliki akal dan kesadaran, sebagaimana dalam Al-Qur'an, lebah[6] dan burung hud-hud[7] juga menjadi objek seruan.[8]

Bantuan Malaikat kepada Nabi Ibrahim as

Beberapa buku tafsir Syiah dan Ahli Sunah meriwayatkan bahwa ketika Nabi Ibrahim as diletakkan di manjanik dan hendak dilemparkan ke dalam api, langit, bumi, dan para malaikat memohon kepada Allah swt agar menjaga Nabi Ibrahim as.[9] Diriwayatkan pula bahwa Jibril datang menemui Nabi Ibrahim as dan berkata: "Apakah engkau butuh bantuan?" Nabi Ibrahim as menjawab: "Amma ilaika fala" (Adapun kepadamu, tidak)! Pada saat itu Jibril menyarankannya untuk meminta kebutuhannya kepada Allah. Nabi Ibrahim as menjawab: "Hasbi min su'ali 'ilmuhu bi hali" (Cukuplah bagiku bahwa Dia mengetahui keadaanku).[10] Ibnu Arabi menganggap ucapan Nabi Ibrahim as (Hasbi min su'ali 'ilmuhu bi hali) sebagai tanda tawakal-nya dan maknanya menjelaskan tentang ilmu Allah terhadap segala makhluk yang telah diisyaratkan dalam ayat 59 dan 60 Surah Al-Furqan ("Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya. Yang menciptakan langit dan bumi...").[11] Dalam beberapa sumber, kelanjutan ucapan Nabi Ibrahim as kepada Jibril setelah kata "Amma ilaika fala" juga menyertakan kalimat "Hasbiyallahu wa ni'mal wakil".[12] Dikatakan juga bahwa ucapan pertama Nabi Ibrahim as setelah dilemparkan ke dalam api adalah "Hasbunallahu wa ni'mal wakil".[13]

Catatan Kaki

  1. Makarem Shirazi, Terjemahan Al-Qur'an, 1373 HS, hlm. 327.
  2. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1372 HS, jld. 13, hlm. 443-446.
  3. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1372 HS, jld. 13, hlm. 446.
  4. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 88.
  5. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 87.
  6. Surah An-Nahl, ayat 70.
  7. Surah An-Naml, ayat 7.
  8. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 9, hlm. 207.
  9. Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 3, hlm. 345; Fakhr Razi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 22, hlm. 158; Baghowi, Ma'alim al-Tanzil, 1420 H, jld. 3, hlm. 294.
  10. Haqqi Burusawi, Tafsir Ruh al-Bayan, Dar al-Fikr, jld. 5, hlm. 498; Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 9, hlm. 207; Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1372 HS, jld. 13, hlm. 445.
  11. Ibnu Arabi, Tafsir Ibnu Arabi, 1422 H, jld. 2, hlm. 83.
  12. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 71, hlm. 156.
  13. Asy-Syaukani, Fath al-Qadir, 1414 H, jld. 3, hlm. 490.

Daftar Pustaka

  • Asy-Syaukani, Muhammad bin Ali. Fath al-Qadir. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1414 H.
  • Baghowi, Husain bin Mas'ud. Ma'alim al-Tanzil fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Al-Mahdi, Abdurrazzaq. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan pertama, 1420 H.
  • Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir al-Shafi. Riset: A'lami, Husain. Teheran, Penerbit Al-Sadr, cetakan kedua, 1415 H.
  • Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. Mafatih al-Ghaib. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
  • Haqqi Burusawi, Ismail. Tafsir Ruh al-Bayan. Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • Ibnu Arabi, Muhammad bin Ali. Tafsir Ibnu Arabi. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1422 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
  • Makarem Shirazi, Naser. Terjemahan Al-Qur'an. Qom, Dar al-Qur'an al-Karim, cetakan kedua, 1373 HS.
  • Makarem Shirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan ke-30, 1372 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Pengantar: Balaghi, Muhammad Jawad. Teheran, Nashr Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thayyib, Sayyid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Penerbit Islam, cetakan kedua, 1378 HS.