Lompat ke isi

Konsep:Ayat 55 Surah Al-Baqarah

Dari wikishia
Ayat 55 Surah Al-Baqarah
Informasi Ayat
SurahAl-Baqarah
Ayat55
Juz1
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madinah
TentangKisah Musa as dan kaum Bani Israil
Ayat-ayat terkaitSurah An-Nisa ayat 153 dan Surah Al-A'raf ayat 155


Ayat 55 Surah Al-Baqarah merujuk pada permintaan kaum Bani Israil kepada Musa as untuk melihat Allah dengan mata lahiriah dan kebinasaan mereka. Ayat ini ditujukan kepada kaum Yahudi pada masa Nabi Islam saw dan mengingatkan tentang pencarian alasan serta kebinasaan nenek moyang mereka, dan dijadikan sandaran untuk membuktikan kemustahilan melihat Ilahi dengan mata kepala.

Pengenalan, Teks dan Terjemahan

Ayat 55 Surah Al-Baqarah merujuk pada ketidakmungkinan melihat Tuhan dengan mata materiil; setelah penyelamatan kaum Bani Israil dari kekuasaan Firaun, ketika Musa as kembali dari Gunung Thur dan bercakap-cakap dengan Tuhan menuju kaumnya, mereka menolak untuk menerima nubuwwah-nya dan meminta kepada Musa as agar mereka dapat mendengar percakapan dan bisikan Tuhan. Setelah mendengar bisikan Tuhan, mereka menuntut untuk melihat Tuhan secara nyata. Menyusul permintaan ini, datanglah sambaran petir dan mereka semua terbakar dalam api.[1] Kandungan ayat ini juga terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur'an lainnya seperti Ayat 155 dan 143 Surah Al-A'raf serta Ayat 153 Surah An-Nisa.

Dan (kenangkanlah) ketika kamu berkata: "Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sehingga kami dapat melihat Allah dengan terang (dengan mata kepala kami)". Maka kerana itu kamu disambar petir, sedang kamu semua melihatnya.


Pencarian Alasan Melihat Tuhan dan Kebinasaan dengan Petir

Sayid Abolfazl Mir-Mohammadi Zarandi dalam Tafsir Balagh, menganggap Ayat 55 Surah Al-Baqarah sebagai khitab (sapaan) Tuhan kepada kaum Yahudi pada masa Nabi Akram saw dan mengingatkan tentang pencarian alasan serta kebinasaan nenek moyang mereka.[2] Abdullah Jawadi Amuli, salah seorang mufasir Al-Qur'an, dengan menukil sebuah riwayat dari Imam Ridha as mengenai ayat ini menyatakan bahwa orang-orang tersebut berjumlah 70 orang yang telah dipilih oleh Musa as untuk miqat dengan Tuhan; namun setelah mendengar kalam Tuhan, mereka mengajukan permohonan melihat Ilahi dengan mata kepala, lalu datanglah sambaran petir dan mereka semua tewas.[3]

Mengenai kelompok ini disebutkan bahwa ketika Musa as kembali dari Gunung Thur dengan membawa Lauh Taurat kepada kaumnya, mereka menolak untuk menerima kenabian Musa as dan ingin mendengar sendiri suara Tuhan. Kelompok ini setelah mendengar percakapan Musa as dengan Tuhan, kembali meminta kepada Musa as bahwa mereka harus melihat Tuhan dengan mata mereka sendiri agar mereka beriman.[4] Makarim Syirazi meyakini bahwa permintaan ini dikarenakan kebodohan mereka atau karena kebebalan dan pencarian alasan Bani Israil yang merupakan bagian dari karakteristik mereka.[5]

Ketidakmungkinan Melihat Tuhan

Templat:Catatan Utama Ayat 55 Surah Al-Baqarah merujuk pada ketidakmungkinan melihat Tuhan dengan mata materiil[6] dan menganggap hukuman berat sebagai akibat dari kebebalan serta pencarian alasan di hadapan tanda-tanda Ilahi yang nyata.[7] Mohsen Qara'ati meyakini bahwa ayat ini, meskipun ditujukan kepada Bani Israil, namun di dalamnya memberikan penghiburan kepada Nabi Islam saw agar tidak khawatir terhadap permintaan-permintaan sia-sia dari orang-orang, karena kaum Bani Israil pernah mengajukan permintaan yang lebih berbahaya kepada Musa as.[8]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1372 HS, jld. 1, hal. 257.
  2. Mir-Mohammadi Zarandi, Tafsir Balagh, 1389 HS, jld. 1, hal. 181.
  3. Jawadi Amuli, Tasnim, 1389 HS, jld. 4, hal. 511.
  4. Qara'ati, Tafsir Nur, 1384 HS, jld. 1, hal. 118.
  5. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1372 HS, jld. 1, hal. 257.
  6. Hashemi Rafsanjani, Tafsir Rahnama, 1386 HS, jld. 1, hal. 144–145.
  7. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1372 HS, jld. 1, hal. 257–258.
  8. Qara'ati, Tafsir Nur, 1384 HS, jld. 1, hal. 118.

Daftar Pustaka

  • Hashemi Rafsanjani, Akbar. Tafsir Rahnama. Qom: Entesyarat-e Bustan-e Ketab, Cetakan ke-5, 1386 HS.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Tasnim. Qom: Entesyarat-e Esra, Cetakan ke-6, 1389 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Entesyarat-e Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan ke-30, 1372 HS.
  • Mir-Mohammadi Zarandi, Sayid Abolfazl. Tafsir Balagh. Teheran: Entesyarat-e Syerkat-e Chap wa Nasyr-e Beinolmelal, Cetakan ke-2, 1389 HS.
  • Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran: Entesyarat-e Markaz-e Farhangi Dars-hai az Qur'an, Cetakan ke-11, 1384 HS.