Lompat ke isi

Konsep:Ayat 31 Surah Al-Baqarah

Dari wikishia
Ayat 31 Surah Al-Baqarah
Informasi Ayat
SurahAl-Baqarah
Ayat31
Juz1
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madinah
TentangAsma AllahKhalifatullah
Ayat-ayat terkaitAyat Khilafah ManusiaAyat 32 Surah Al-Baqarah


Ayat 31 Surah Al-Baqarah merujuk pada pengajaran seluruh nama (al-asma) kepada Nabi Adam as oleh Allah, dan dalam posisi beradu argumen, Allah meminta para malaikat untuk menyebutkan nama-nama tersebut jika mereka mampu. Ayat ini dianggap sebagai alasan pemilihan manusia untuk menduduki maqam Khalifatullah yang telah dibahas dalam Ayat Khilafah Manusia (Ayat 30 Surah Al-Baqarah). Berdasarkan tafsir-tafsir, Allah dengan mengajarkan al-asma kepada manusia, menjelaskan kapasitas khusus manusia dan menampakkan keunggulan manusia di atas para malaikat.

Menurut para peneliti, makna "al-asma" (nama-nama) ini tidak dijelaskan secara gamblang di dalam Al-Qur'an, dan para mufasir memberikan berbagai pendapat mengenai hal ini berdasarkan bukti dan petunjuk eksternal. Allamah Thabathabai berkeyakinan bahwa pengajaran al-asma melampaui pengajaran verbal (lafal) dan mencakup pemahaman akan hakikat serta rahasia gaib eksistensi. Beberapa mufasir mengartikan "al-asma" sebagai misdaq-misdaq seperti nama seluruh makhluk, urusan duniawi, atau hakikat dari segala yang ada. Berdasarkan sebuah hadis dari Imam Sajjad as, al-asma mencakup nama-nama para nabi as, para wali, dan musuh-musuh mereka. Dalam karya-karya irfan pemikir Syiah, ayat ini digunakan untuk menunjukkan bahwa hakikat asma Ilahi adalah zat Allah sendiri, dan Insan Kamil, sebagai manifestasi tajalli seluruh asma, mempelajari hakikat-hakikat ini melalui tajalli Ilahi. Menurut para urafa Syiah, Insan Kamil memperoleh derajat Khalifatullah melalui pengetahuan akan al-asma dan pencapaian kedudukan ishmah, dan misdaq tertingginya adalah Nabi Muhammad saw serta para Imam Syiah as.

Pengajaran Al-Asma kepada Manusia oleh Allah

Ayat 31 Surah Al-Baqarah menyatakan bahwa Allah mengajarkan seluruh nama (al-asma) kepada Nabi Adam as[1] dan setelah itu meminta para malaikat untuk menyebutkannya jika mereka memiliki pengetahuan tentang hakikat nama-nama tersebut.[2] Ayat-ayat setelahnya menunjukkan bahwa para malaikat tidak mampu melakukan hal itu, sehingga menjadi jelas bagi mereka bahwa Nabi Adam as memiliki kelayakan untuk tinggal di bumi dan menduduki jabatan khilafah Allah.[3] Mengenai makna kata al-asma dalam ayat ini, dilaporkan adanya berbagai pendapat dari para mufasir.[4] Beberapa pemikir Syiah menganggap al-asma ini berkaitan dengan para nabi Ilahi as dan para Imam Syiah as.[5]

Dan Ia telah mengajarkan Nabi Adam, akan segala nama benda-benda dan gunanya, kemudian ditunjukkannya kepada malaikat lalu Ia berfirman: Terangkanlah kepadaKu nama benda-benda ini semuanya jika kamu golongan yang benar.


Kelayakan Adam untuk Khalifatullah

Berdasarkan Tafsir al-Mizan, Ayat 31 Surah Al-Baqarah merupakan kelanjutan dari Ayat Khilafah Manusia yang menjelaskan mengapa Allah memilih manusia sebagai Khalifatullah (wakil Allah di bumi).[6] Menurut Ayat 30 Surah Al-Baqarah, para malaikat dengan memperhatikan tabiat materiil manusia atau dengan mengingat kerusakan para penghuni bumi sebelumnya, bertanya kepada Allah mengapa Dia menjadikan makhluk yang akan melakukan kerusakan dan penumpahan darah sebagai khalifah-Nya di bumi.[7] Berdasarkan Ayat 31 Al-Baqarah, Allah mengajarkan "al-asma" kepada manusia, sesuatu yang tidak dimiliki kapasitasnya oleh para malaikat. Oleh karena itu, menjadi jelas bagi mereka bahwa hanya Nabi Adam as yang memiliki kelayakan untuk tinggal dan menjadi khalifah di bumi.[8]

Pemahaman Mufasir mengenai Kata "Al-Asma"

Berdasarkan laporan Thabarsi, mufasir Syiah, terdapat berbagai pandangan di antara para mufasir mengenai apa yang dimaksud dengan al-asma yang diajarkan kepada Nabi Adam as, antara lain: nama seluruh makhluk, nama seluruh urusan yang berkaitan dengan dunia termasuk industri dan pekerjaan, nama para malaikat, nama anak cucu dan generasi setelah Nabi Adam as, serta nama-nama hewan.[9] Menurut pernyataan Allamah Thabathabai, yang dimaksud dengan pengajaran al-asma adalah pengajaran musamma (pemilik nama) dari asma tersebut, yaitu hakikat wujud-wujud gaib yang hanya dapat dipahami oleh manusia.[10] Begitu pula Nashir Makarim Syirazi meyakini ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah mengajarkan potensi penamaan benda-benda serta rahasia dan khasiat bahasa kepada manusia, bukan sekadar pengajaran nama-nama saja.[11] Berdasarkan sebuah riset Al-Qur'an, tidak terdapat penjelasan langsung dan terang di dalam Al-Qur'an mengenai makna "al-asma" dalam ayat ini, sehingga para mufasir mencoba menafsirkan makna kata ini berdasarkan bukti dan indikasi lainnya.[12]

Makna Al-Asma dalam Hadis Syiah

Di antara hadis-hadis Syiah, diriwayatkan dari Imam Shadiq as bahwa yang dimaksud dengan nama-nama yang diajarkan Allah kepada Nabi Adam as adalah nama-nama makhluk seperti daratan, gunung, lembah, dan padang pasir.[13] Meskipun demikian, dalam Tafsir al-Shafi diriwayatkan dari Imam Sajjad as bahwa yang dimaksud dengan "al-asma" adalah nama segala sesuatu termasuk nama para nabi as, para wali, dan musuh-musuh mereka.[14] Menurut Tafsir Syarif Lahiji, kedua riwayat ini tidak saling bertentangan; karena menurut riwayat pertama seluruh makhluk alam adalah manifestasi dari Asma Allah, dan menurut riwayat kedua para wali Allah adalah manifestasi dari sifat kelembutan (luthf) Allah sedangkan musuh-musuh mereka adalah manifestasi dari sifat kemurkaan (qahr) Allah.[15] Walaupun demikian, menurut pendapat salah satu peneliti, dengan memperhatikan ayat-ayat sebelumnya, penyebutan nama para wali dan nabi as yang tidak akan melakukan kerusakan sama sekali di bumi dapat menjadi jawaban yang meyakinkan atas keberatan para malaikat, dan riwayat Imam Shadiq as mungkin disampaikan karena faktor Taqiyah atau menyesuaikan dengan kapasitas pemahaman audiens.[16]

Makna Pengajaran Al-Asma dalam Karya Irfan Syiah

Menurut para peneliti irfan Islam, para urafa menganggap hakikat nama-nama Allah adalah zat-Nya sendiri[17] dan ayat ini menyatakan bahwa manusia telah mempelajari seluruh asma ini.[18] Menurut mereka, Allah mengajarkan nama-nama ini bukan melalui instruksi biasa melainkan melalui tajalli diri-Nya kepada manusia.[19] Imam Khomeini dengan bersandar pada ayat ini berargumen bahwa Insan Kamil adalah tempat manifestasi (mazhar) tajalli seluruh asma Ilahi.[20] Abdul Rahim Maraghi, fakih Syiah pada abad ketiga belas Hijriah, menegaskan bahwa yang dimaksud dengan "Adam" dalam ayat ini adalah maqam luhur kemanusiaan, yaitu Insan Kamil; bukan pribadi Nabi Adam as secara personal.[21] Beliau menganggap Imam Ali as sebagai misdaq dari maqam ini.[22] Dalam konteks yang sama, Abdullah Jawadi Amuli, filosof dan mufasir Syiah, berargumen bahwa sejauh mana ilmu manusia terhadap al-asma semakin banyak, maka kapasitasnya untuk maqam Khalifatullah akan semakin besar.[23] Menurutnya, derajat tertinggi dari tingkatan-tingkatan ini adalah ishmah, yang mana setelah Nabi Muhammad saw hal tersebut dikhususkan bagi para Imam Syiah as.[24]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 176.
  2. Thabarsi, Tafsir Jawami' al-Jami', 1412 H, jld. 1, hal. 37.
  3. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hal. 181.
  4. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hal. 180-181.
  5. Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1373 HS, jld. 1, hal. 110; Syarif Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 1, hal. 30; Maraghi, Tashih do Risalah az Hasan bin Abdul Rahim Maraghi, 1395 HS, hal. 25.
  6. Thabathabai, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 1, hal. 116.
  7. Thabathabai, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 1, hal. 115; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 174.
  8. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hal. 181.
  9. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hal. 180-181.
  10. Thabathabai, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 1, hal. 116-117.
  11. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 176.
  12. Baqeri dkk, "Barresi-ye Ma'na-syenasi wa Tafsir-e Ayah-ye Khalifatullahi", hal. 76.
  13. Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 1, hal. 32.
  14. Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1373 HS, jld. 1, hal. 110.
  15. Syarif Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 1, hal. 30.
  16. Aqayi-zadeh Torabi, "Tahlil-e Seir-e Andisheh-ye Mofassiran dar Tafsir 'wa 'allama Adam al-asma kullaha'", hal. 24.
  17. Haqiqat, Maqamat-e Syaikh Abul Hasan Kharaqani, 1383 HS, hal. 234.
  18. Asytiyani, Syarh-e Moqaddameh-ye Qaysari bar Fushush al-Hikam, 1375 HS, hal. 448.
  19. Haqiqat, Maqamat-e Syaikh Abul Hasan Kharaqani, 1383 HS, hal. 234.
  20. Khomeini dan Rahimpour, Imamat wa Insan-e Kamil az Didgah-e Imam Khomeini, 1381 HS, hal. 19-20.
  21. Maraghi, Tashih do Risalah az Hasan bin Abdul Rahim Maraghi, 1395 HS, hal. 25.
  22. Maraghi, Tashih do Risalah az Hasan bin Abdul Rahim Maraghi, 1395 HS, hal. 25.
  23. Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1385 HS, jld. 3, hal. 40.
  24. Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1385 HS, jld. 3, hal. 100-101.

Daftar Pustaka

  • Asytiyani, Jalaluddin. Syarh-e Moqaddameh-ye Qaysari bar Fushush al-Hikam-e Syaikh Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi. Qom, Daftar Tablighat Eslami Hauzah Ilmiah Qom, 1375 HS.
  • Aqayi-zadeh Torabi, Ahmad. "Tahlil-e Seir-e Andisheh-ye Mofassiran dar Tafsir 'wa 'allama Adam al-asma kullaha'". Mothale'at-e Tafsiri, No. 32, Musim Dingin 1396 HS.
  • Baqeri, Hossein dkk. "Barresi-ye Ma'na-syenasi wa Tafsir-e Ayah-ye Khalifatullahi". Mothale'at-e Tafsiri, No. 11, Musim Gugur 1391 HS.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Qom, Markaz-e Nasyr-e Esra, 1385 HS.
  • Haqiqat, Abd al-Rafi'. Maqamat-e Syaikh Abul Hasan Kharaqani. Teheran, Koumesh, 1383 HS.
  • Khomeini, Sayid Ruhullah; Forough al-Sadat Rahimpour. Imamat wa Insan-e Kamil az Didgah-e Imam Khomeini. Teheran, Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar-e Imam Khomeini, 1381 HS.
  • Syarif Lahiji, Muhammad bin Ali. Tafsir Syarif Lahiji. Teheran, Nasyr-e Dad, 1373 HS.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1352 HS/1393 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jami'. Qom, Markaz Modiriyat Hauzah Ilmiah Qom, 1412 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. al-Tafsir al-Ayyasyi. Teheran, al-Maktabah al-Ilmiyyah al-Islamiyyah, 1380 H.
  • Faidh Kasyani, Muhammad bin Shah-Murtadha. Tafsir al-Shafi. Teheran, Maktabah al-Sadr, 1373 HS/1415 H.
  • Maraghi, Hasan bin Abdul Rahim. Tashih do Risalah az Hasan bin Abdul Rahim Maraghi. Koreksi dan Mukadimah: Ali Ghanbarian dan Morteza Negari. Teheran, Saba, 1395 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.