Konsep:Ayat 19 Surah Ali Imran
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Ali Imran |
| Ayat | 19 |
| Juz | 3 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Akidah |
| Deskripsi | Makna Islam |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 4 Surah Al-Bayyinah • Ayat 14 Surah Asy-Syura • Ayat 17 Surah Al-Jatsiyah |
Ayat 19 Surah Ali Imran (bahasa Arab: آیة ۱۹ سورة الآلعمران) secara langsung menolak pemikiran Ahli Kitab[1] dan memperkenalkan Islam sebagai agama yang hakiki di sisi Allah. Ayat ini menganggap perselisihan di antara Ahli Kitab sebagai akibat dari kedengkian dan rasa iri setelah mengetahui kebenaran.[2]
Menurut Jawadi Amuli, seorang mufasir Syiah, meskipun kaum muslimin menganggap Islam sebagai satu-satunya agama Ilahi dan syariat Ahli Kitab telah dinasakh (dihapus) dengan munculnya agama Islam, namun prinsip-prinsip umum agama, termasuk akidah, akhlak, fikih, dan hak-hak Ahli Kitab yang sejalan dengan Islam, adalah tetap dan abadi.[3]
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali 'Imran: 19)
Para mufasir dengan bersandar pada riwayat dari Imam Ali as,[4] menafsirkan Islam dengan makna leksikalnya, yaitu penyerahan diri (taslim) kepada Allah.[5] Islam dikenal sebagai ruh umum dan sifat bersama seluruh agama Ilahi,[6] dan para nabi Ilahi, termasuk para nabi Ulul Azmi, memiliki satu agama yang bernama Islam.[7] Menurut Sayid Muhammad Husain Thabathaba'i, Ahli Kitab meskipun mengetahui kebenaran Islam, mereka mengingkari kebenaran tersebut karena kerusakan dan kezaliman[8] dan menolak untuk menerima Islam yang dibawa oleh Nabi Akram saw.[9]
Sebagian peneliti dengan pandangan eksklusivisme agama, menganggap ayat 19 Surah Ali Imran hanya berkaitan dengan syariat Nabi Islam saw[10] dan meyakini bahwa hanya Islam yang menyebabkan keselamatan (kebahagiaan).[11] Namun, sebagian peneliti memisahkan antara agama (din) dan syariat, dan meyakini bahwa agama Ilahi itu satu dan tetap,[12] sedangkan syariat setiap nabi memiliki rincian khususnya sendiri dan berbeda-beda berdasarkan zaman dan umat.[13]
Catatan Kaki
- ↑ Khazin, Lubab at-Ta'wil, 1415 H, jld. 1, hlm. 234.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 2, hlm. 471-472.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 13, hlm. 437.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 45.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 3, hlm. 120; Ridha'i Ishfahani, Tafsir Qur'an Mehr, 1387 HS, jld. 3, hlm. 57; Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 13, hlm. 465; Makarim, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 2, hlm. 471; Fadhlullah, Min Wahyi Al-Qur'an, 1419 H, jld. 5, hlm. 275.
- ↑ Fadhlullah, Min Wahyi Al-Qur'an, 1419 H, jld. 5, hlm. 275; Ridha'i Ishfahani, Tafsir Qur'an Mehr, 1387 HS, jld. 3, hlm. 57; Muhammad Rasyid, Tafsir al-Manar, 1414 H, jld. 3, hlm. 257.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 3, hlm. 121; Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 13, hlm. 434.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 3, hlm. 121.
- ↑ Khazin, Lubab at-Ta'wil, 1415 H, jld. 1, hlm. 232.
- ↑ Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 2, hlm. 59; Zamakhsyari, Mahmud bin Umar, Al-Kasyaf, 1407 H, jld. 1, hlm. 345; Diba, Islam, hlm. 242.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1376 HS, jld. 4, hlm. 418; Hashemi Rafsanjani, Tafsir Rahnama, 1386 HS, jld. 2, hlm. 335.
- ↑ Diba, Islam, hlm. 239-240.
- ↑ Diba, Islam, hlm. 239-240.
Daftar Pustaka
- Abul Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan. Koreksi: Muhammad Ja'far Yahaqqi, Masyhad, Astan Quds Razawi, 1376 HS.
- Dehghan, Akbar. Nasim-e Rahmat Tafsir Qur'an Karim. Qom: Haram, cetakan pertama, 1387 HS.
- Diba, Husain. Islam dalam Ensiklopedia Al-Qur'an Karim. Jld. 3, Qom: Muassasah Bustan-e Kitab, 1382 HS.
- Fadhlullah, Muhammad Husain. Min Wahyi Al-Qur'an. Beirut: Dar al-Malak, cetakan pertama, 1419 H.
- Hashemi Rafsanjani, Akbar. Tafsir Rahnama. Qom: Intisharat Bustan-e Kitab, 1386 HS.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Qom: Isra, cetakan kedua, 1387 HS.
- Khazin, Ali bin Muhammad. Tafsir al-Khazin al-Musamma Lubab at-Ta'wil fi Ma'ani at-Tanzil. Koreksi: Muhammad Ali Syahin Abdussalam, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1415 H.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Koreksi: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
- Maibudi, Ahmad bin Muhammad. Kasyf al-Asrar wa 'Uddah al-Abrar (Dikenal dengan Tafsir Khwajah Abdullah Ansari). Riset: Ali Ashghar Hekmat, Teheran: Amir Kabir, cetakan kelima, 1371 HS.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Namuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. At-Tafsir al-Kasyif. Qom: Dar al-Kitab al-Islami, cetakan pertama, 1424 H.
- Ridha, Muhammad Rasyid. Tafsir Al-Qur'an al-Hakim asy-Syahir bi Tafsir al-Manar. Beirut: Dar al-Ma'rifah, cetakan pertama, 1414 H.
- Ridha'i Ishfahani, Muhammad Ali. Tafsir Qur'an Mehr. Qom: Pajuhesy-haye Tafsir wa Ulum-e Qur'an, cetakan pertama, 1387 HS.
- Syah Abdul Azhim, Husain. Tafsir Itsna 'Asyari. Teheran: Miqat, cetakan pertama, 1363 HS.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an. Koreksi: Fadhlullah Yazdi Thabathaba'i, Hasyim Rasuli, Teheran: Nashir Khusro, cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jami'. Koreksi: Abul Qasim Gurji, Qom: Markaz Mudiriyat Hauzah Ilmiah Qom, cetakan pertama, 1412 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, cetakan kedua, 1390 H.
- Zamakhsyari. Al-Kasyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh at-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta'wil. Koreksi: Musthafa Husain Ahmad, Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan ketiga, 1407 H.