Lompat ke isi

Konsep:Watsiq al-Abbasi

Dari wikishia
Watsiq al-Abbasi
NamaHarun
LakabAl-Watsiq Billah
Lahir196/811-12
Mati232/846-47
AyahMu'tashim al-Abbasi
IbuQarathis
Anak-anakMuhammad, Ali, Abdullah, Ibrahim, Ahmad, dan Muhammad Kecil
AgamaIslam
Tempat dikuburkanSamarra
JabatanKhalifah kesembilan Bani Abbasiyah
Mulai pemerintahan227/841-42
Akhir pemerintahan232/846-47
Semasa denganImam al-Hadi as
Pusat pemerintahanSamarra
SebelumMutawakkil al-Abbasi
SesudahMu'tashim al-Abbasi


Watsiq al-Abbasi atau Al-Watsiq Billah adalah khalifah kesembilan Bani Abbasiyah. Masa kekhalifahannya sezaman dengan periode imamah Imam al-Hadi as. Berbeda dengan beberapa khalifah Abbasiyah lainnya, Watsiq memberikan tekanan yang minim terhadap Imam al-Hadi as dan warga Syiah. Pada periode ini, Imam al-Hadi as dengan memanfaatkan jerih payah para Imam Syiah sebelumnya, melakukan langkah-langkah efektif dalam mempromosikan Mazhab Ahlulbait as dan mendukung para pengikutnya. Dikatakan bahwa Watsiq berperilaku baik terhadap keluarga Abu Thalib dan warga Syiah serta meningkatkan taraf hidup mereka.

Watsiq juga menaruh perhatian pada masalah ilmiah, budaya, dan sastra, serta mendukung para penyair dan ilmuwan. Ia memiliki kecenderungan kepada Mu'tazilah dan melanjutkan kebijakan periode Mihnah; khususnya ia menekan para penentang doktrin kemakhlukan Al-Qur'an yang memicu ketidakpuasan publik dan munculnya konspirasi terhadap dirinya.

Tindakan lainnya mencakup pemadaman pemberontakan, pengembangan kota Samarra, pemberantasan korupsi ekonomi, serta upaya mengurangi Kemiskinan dan pengemisan di kota-kota seperti Mekah dan Madinah. Masa kekhalifahan Watsiq dikenal sebagai periode dengan stabilitas relatif dalam transisi kekuasaan, namun pertumbuhan pengaruh orang-orang Turki di zamannya menandai berakhirnya masa keemasan Abbasiyah.

Khalifah Terakhir Era Pertama Abbasiyah

Harun bin Muhammad Mu'tashim dengan gelar "Al-Watsiq Billah",[1] adalah khalifah kesembilan Bani Abbasiyah.[2] Kunyahnya disebutkan sebagai "Abu Ja'far".[3] Sebagian besar sumber menyebutkan durasi kekhalifahannya sekitar lima tahun sembilan bulan.[4]

Watsiq termasuk di antara enam khalifah Abbasiyah yang masa kekuasaannya sezaman dengan 33 tahun masa imamah Imam al-Hadi as.[5] Imam hidup sezaman dengan khalifah ini sejak usia 15 hingga 20 tahun[6] dan menetap di Madinah hingga kematian Watsiq. Setelah wafatnya Watsiq, Imam dipanggil ke Samarra oleh khalifah berikutnya.

Watsiq dianggap sebagai salah satu khalifah Abbasiyah yang menonjol[7] dan beberapa sumber melaporkan bahwa ia menyalatkan jenazah Imam al-Jawad as.[8]

Mengenai tahun kelahirannya, terdapat perbedaan pendapat. Beberapa sumber menyebutkan bulan Sya'ban 186/802-03,[9] sebagian 190/805-06,[10] dan yang lain 196/811-12.[11] Ia lahir dari seorang ibu keturunan Romawi. Ayahnya adalah Mu'tashim al-Abbasi, khalifah kedelapan,[12] dan saudaranya adalah Mutawakkil al-Abbasi, khalifah kesepuluh.[13]

Menurut sejarawan seperti Ibnu Thiqthiqa, selama masa kekhalifahan Watsiq tidak terjadi peristiwa besar atau penaklukan penting yang mencolok.[14] Usianya saat wafat juga disebutkan bervariasi antara 32[15] hingga 38 tahun.[16]

Beberapa sejarawan memperkenalkan Watsiq sebagai khalifah terakhir era pertama Abbasiyah[17] yang dikenal sebagai "Zaman Keemasan".[18] Meskipun demikian, kelompok lain menganggap ayahnya, Mu'tashim al-Abbasi, sebagai khalifah terakhir periode ini. Berakhirnya zaman keemasan Abbasiyah dianggap sebagai konsekuensi alami dari kebijakan yang diambil Mu'tashim, seperti ketergantungan pada orang-orang Turki dalam urusan pemerintahan dan pengalihan kekuatan militer serta pengaruh politik dari bangsa Arab ke bangsa Turki.[19]

Awal Kekhalifahan dan Stabilitas Relatif

Watsiq al-Abbasi naik tahta pada 227/841-42 di usia 31 tahun[20] di Samarra.[21] Sejak muda, ia dikenal sebagai pribadi yang bijaksana, cekatan, dan politikus, serta memegang tanggung jawab urusan penting negara saat ayahnya, Mu'tashim, berhalangan. Mu'tashim sendiri telah menunjuk Watsiq sebagai putra mahkota di masa hidupnya.[22]

Awal kekhalifahan Watsiq merupakan titik balik sejarah Abbasiyah karena transisi kekuasaan ini menunjukkan stabilitas relatif dalam struktur politik mereka dibandingkan tantangan suksesi di periode sebelumnya.[23] Selama masa pemerintahannya, Muhammad bin Abdul Malik al-Zayyat menjabat sebagai menteri.[24]

Sebagaimana ayahnya, Watsiq mempercayai orang-orang Turki dan menjadikan mereka pengganti komandan Arab.[25] Di zamannya, para panglima Turki meraih kedudukan tinggi[26] hingga pengaruh mereka mencapai titik di mana pengelolaan kota-kota penting seperti Madinah pun jatuh ke tangan mereka.[27]

Tantangan dan Tindakan

Meskipun krisis berkurang dibandingkan khalifah sebelumnya, Watsiq menghadapi tantangan seperti pengaruh luas Turki dalam jabatan kesultanan, pendalaman kesenjangan kelas, dan korupsi ekonomi para gubernur.[28] Setelah berkuasa, Watsiq memadamkan pemberontakan di berbagai wilayah termasuk Madinah[29] dan Diyar Rabi'ah.[30] Ia juga melanjutkan penaklukan pada 228/842-43 di wilayah seperti Messini di Sisilia.[31]

Ia memerangi para koruptor ekonomi dalam aparatur kekhalifahan[32] dan untuk mengurangi Kemiskinan di kota-kota seperti Mekah dan Madinah, ia mendistribusikan sumber daya finansial di antara Bani Hasyim, Suku Quraisy, dan masyarakat umum.[33] Watsiq juga melakukan pengembangan terhadap kota Samarra[34] dan mengirim kelompok peneliti untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dari peradaban lain.[35]

Kecintaan pada Ilmu dan Ilmuwan

Watsiq al-Abbasi disebut sebagai penyair terkemuka,[36] musisi,[37] dan sastrawan yang mumpuni.[38] Di antara khalifah Bani Abbasiyah, ia dianggap sebagai orang yang paling berilmu dalam bidang musik dan sastra.[39] Watsiq menaruh perhatian khusus pada masalah budaya dan ilmiah serta mendukung para ilmuwan dan sastrawan.[40] Di istananya, sering diadakan majelis diskusi ilmiah dan dialog budaya.

Dikatakan bahwa Watsiq meniru Ma'mun al-Abbasi dalam perilaku dan ucapan,[41] serta mengikuti sirahnya dalam mencari ilmu dan berpartisipasi dalam debat ilmiah.[42] Karena kemiripan perilaku dan pemikiran dengan Ma'mun, sebagian orang menjulukinya sebagai "Ma'mun Kecil".[43]

Wafat Tanpa Menunjuk Pengganti

Watsiq al-Abbasi wafat pada bulan Zulhijah 232/846-47 akibat penyakit busung air (istisqa')[44] dan dimakamkan di istana terkenalnya yang bernama "Haruni"[45] di Samarra.[46] Menurut para sejarawan, jejak makamnya dan khalifah Abbasiyah lainnya di Samarra kini sudah tidak ada lagi.[47]

Meskipun disarankan oleh orang-orang terdekatnya, Watsiq menolak untuk menunjuk pengganti setelah dirinya.[48] Pasca kematiannya, saudaranya Mutawakkil yang dipenjara karena pembangkangan,[49] naik tahta kekhalifahan.[50] Beberapa sumber melaporkan bahwa Watsiq dibunuh atas hasutan dua panglima Turki, dan panglima-panglima inilah yang mengangkat Mutawakkil sebagai khalifah.[51]

Berdasarkan sumber-sumber Syiah, sebelum kabar wafatnya Watsiq sampai dari Bagdad ke Madinah, Imam al-Hadi as telah memberi tahu sahabat dekatnya, Khairan al-Asbati, tentang kejadian ini. Imam juga mengabarkan bahwa Mutawakkil, saudara Watsiq yang dipenjara hingga waktu wafatnya, kini telah naik tahta kekhalifahan.[52]

Kebebasan Relatif Warga Syiah

Selama masa pemerintahan Watsiq serta dua khalifah sebelumnya, kondisi politik dan sosial bagi warga Syiah lebih kondusif dibandingkan periode sebelumnya dan sesudahnya. Pada periode ini, tekanan dan intimidasi terhadap warga Syiah berkurang[53] dan mereka menikmati kebebasan beraktivitas yang relatif.[54]

Dikatakan bahwa Watsiq melanjutkan kebijakan Ma'mun al-Abbasi dalam berinteraksi dengan warga Syiah[55] dan cara interaksinya sedemikian rupa sehingga sebagian orang menganggapnya memiliki kecenderungan Syiah.[56] Meskipun demikian, beberapa sumber meyakini bahwa selama masa kekhalifahannya tidak terjadi perubahan mencolok yang berpengaruh signifikan pada nasib warga Syiah.[57] Saat Mutawakkil al-Abbasi berkuasa, situasi berubah total dan kondisi bagi warga Syiah menjadi sangat sulit.[58]

Imam Hadi as di Era Watsiq

Menurut para peneliti, tinjauan sumber sejarah menunjukkan bahwa tidak banyak informasi tersedia mengenai perilaku Watsiq al-Abbasi terhadap Imam al-Hadi as.[59] Meskipun demikian, bukti-bukti mengisyaratkan bahwa selama masa kekhalifahan Watsiq serta khalifah-khalifah sebelumnya, tekanan terhadap Imam lebih sedikit.[60] Imam al-Hadi as memanfaatkan kesempatan ini dan dengan bersandar pada aktivitas cermat para Imam Syiah sebelumnya dalam mempromosikan mazhab Ahlulbait as, beliau mampu melanjutkan jalan ini dan meraih hasil yang diinginkan.

Meskipun terdapat ketenangan relatif bagi Imam al-Hadi as di era Watsiq, kondisi ini tidak boleh dianggap sebagai ketiadaan tekanan sama sekali; karena Watsiq, sebagaimana khalifah Abbasiyah lainnya, memandang Imam dengan pandangan bermusuhan dan khawatir akan kedudukan spiritual serta sosial beliau.[61] Dikatakan pula bahwa khalifah sezaman Imam, termasuk Watsiq, mengikuti kebijakan Ma'mun al-Abbasi dan hanya saat kepentingan kekhalifahan menuntut, intensitas tekanan terhadap kaum Alawi dikurangi.[62]

Salah satu kemungkinan alasan berkurangnya tekanan pada Imam al-Hadi as adalah kecenderungan Mu'tazili dari Watsiq serta kewaspadaan dan taktik khusus Imam dalam berhubungan dengan warga Syiah melalui Organisasi Wakalah di berbagai wilayah.[63] Dalam sebuah laporan disebutkan bahwa Watsiq mengundang Imam al-Hadi as dengan penuh hormat ke sebuah majelis ilmiah untuk menjawab pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh para ulama. Imam pun hadir dalam majelis tersebut dan memberikan jawaban yang diperlukan.[64]

Hubungan Syiah dan Imam Hadi di Tahap Ini

Pada masa pemerintahan Watsiq, kelompok-kelompok dari kota-kota berpenduduk Syiah di Irak, Iran, dan Mesir melakukan perjalanan ke Madinah untuk mengambil manfaat dari kehadiran Imam al-Hadi as. Selain itu, para jemaah haji Syiah menjalin hubungan dengan Imam selama perjalanan mereka. Meskipun demikian, pada masa Imam al-Hadi as dan putranya Imam al-Askari as, tingkat hubungan langsung antara para Imam dan warga Syiah secara umum mengalami penurunan.[65]

Perhatian dan Penghormatan Watsiq kepada Alu Abu Thalib

Setelah Watsiq al-Abbasi naik tahta kekhalifahan, perhatian khusus diberikan kepada keluarga Abu Thalib.[66] Ia menaruh penghormatan khusus bagi Imam Ali as dan keluarganya[67] serta mengungkapkan kecintaannya secara terang-terangan.[68] Perilaku Watsiq terhadap mereka disertai dengan kebajikan dan kebaikan,[69] hingga beberapa sumber menyebutkan adanya kesan berlebihan dalam perilaku ini.[70]

Watsiq membagikan banyak harta di antara keluarga Abu Thalib[71] dan mengembalikan Fadak kepada mereka.[72] Menurut keyakinan para sejarawan, di zamannya taraf hidup keluarga Abu Thalib meningkat dan tidak ada seorang pun dari mereka yang hidup dalam Kemiskinan.[73]

Ditulis oleh Abu al-Faraj al-Isfahani dalam kitab Maqatil al-Thalibiyyin, selama masa kekhalifahan Watsiq tidak ada satu pun keturunan Abu Thalib yang dibunuh.[74] Ia berkeyakinan bahwa sikap lunak Watsiq terhadap kaum Alawi membuat sekelompok dari mereka dan keluarga Abu Thalib berkumpul di Samarra dan hidup dalam taraf ketenangan tertentu.[75]

Pelanjut Periode Mihnah

Watsiq al-Abbasi cenderung pada mazhab Itizal dan di periode Mihnah, ia menjalankan teori kemakhlukan Al-Qur'an dengan serius.[76] Ia menggunakan ujian publik untuk menekan masyarakat[77] dan memerintahkan para hakim agar hanya menerima kesaksian dari orang-orang yang berkomitmen pada prinsip Itizal dan Tauhid. Kebijakan ini menyebabkan banyak ilmuwan dipenjara dan penindasan terhadap para penentang pemerintah.[78]

Mengenai interaksi Watsiq dengan Ahmad bin Hanbal, pemimpin aliran penentang Mihnah,[79] terdapat perbedaan pendapat; beberapa sumber menyebutkan ketiadaan gangguan terhadapnya,[80] sebagian lain menyebutkan tahanan rumah,[81] dan kelompok lainnya meyakini Ahmad bin Hanbal hidup dalam persembunyian dan menahan diri dari pemberontakan terhadap khalifah.[82]

Pada periode ini pula, Ahmad bin Nashr ditangkap dan dibunuh sendiri oleh Watsiq karena menentang teori kemakhlukan Al-Qur'an dan berkonspirasi melawan Watsiq.[83] Watsiq juga mensyaratkan pembebasan tawanan Muslim dari tangan Romawi dengan keyakinan mereka pada kemakhlukan Al-Qur'an,[84] namun menurut keyakinan sebagian sejarawan ia menarik kembali pendapat ini sebelum wafat.[85]

Dikatakan bahwa setelah Watsiq, saudaranya Mutawakkil mengakhiri periode Mihnah dan mengeluarkan perintah penyebaran hadis-hadis terkait ru'yah (melihat) Allah dan sifat-sifat Ilahi.[86]

Pesan Imam Hadi as kepada Warga Syiah

Selama masa kekhalifahan Watsiq, perbedaan pendapat mengenai doktrin kemakhlukan Al-Qur'an juga terjadi di kalangan Muslim, termasuk warga Syiah. Kelompok Syiah terbagi antara yang meyakini kemakhlukan Al-Qur'an dan yang tidak. Dalam kondisi ini, Imam al-Hadi as untuk mencegah warga Syiah terjebak dalam fitnah ini, mengirimkan surat kepada beberapa pembesar Syiah[87] dan dengan menjelaskan pandangannya, beliau memperingatkan para pecinta dan pengikutnya agar menahan diri dari memasuki pertikaian teologis ini.[88]

Catatan Kaki

  1. Ibnu Syakir al-Kutubi, Fawat al-Wafayat, jld. 4, hlm. 228; Subki, Thabaqat al-Syafi'iyyah al-Kubra, jld. 2, hlm. 53.
  2. Qumi, Nigahi bar Zandegani-ye Chahardah Ma'shum as (Tinjauan Kehidupan 14 Manusia Suci), 1380 HS, hlm. 428.
  3. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 9, hlm. 123; Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 3, hlm. 477; Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 14, hlm. 16.
  4. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 9, hlm. 151; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Ma'arif, 1992, hlm. 393; Ibnu Miskawaih, Tajarib al-Umam, 1379 HS, jld. 4, hlm. 286; Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, jld. 6, hlm. 120.
  5. Ahmadi, Tarikh Emaman-e Syiah (Sejarah Imam-Imam Syiah), 1389 HS, hlm. 238.
  6. Samani, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Raftar-e Kholafa-ye Abbasi ba Emam Hadi as", hlm. 51–52.
  7. Ibnu Thiqthiqa, Tarikh-e Fakhri, 1360 HS, hlm. 327.
  8. Taqizadeh Dawari, Tashvir-e Emaman-e Syiah dar Dairatul Ma'arif-e Eslam (Citra Imam-Imam Syiah dalam Ensiklopedia Islam), 1385 HS, hlm. 371.
  9. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 479; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 9, hlm. 151.
  10. Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 14, hlm. 16; Ibnu Syakir al-Kutubi, Fawat al-Wafayat, jld. 4, hlm. 228.
  11. Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 400.
  12. Mustaufi, Tarikh-e Gozideh, 1364 HS, hlm. 316.
  13. Ibnu Jauzi, Al-Muntadzam, 1412 H, jld. 11, hlm. 178.
  14. Ibnu Thiqthiqa, Tarikh-e Fakhri, 1360 HS, hlm. 327.
  15. Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, jld. 6, hlm. 120; Ibnu al-Ibri, Tarikh Mukhtashar al-Duwal, 1992, hlm. 141.
  16. Ibnu al-Umrani, Al-Inba', 1421 H, hlm. 113.
  17. Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Eslam (Sejarah Politik Islam), 1376 HS, jld. 2, hlm. 93.
  18. Jan Ahmadi, Tarikh-e Farhang va Tamaddon-e Eslami (Sejarah Kebudayaan dan Peradaban Islam), 1386 HS, hlm. 111.
  19. Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Eslam (Sejarah Politik Islam), 1376 HS, jld. 2, hlm. 93.
  20. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 3, hlm. 477.
  21. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 3, hlm. 477; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Ma'arif, 1992, hlm. 393.
  22. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 479; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 9, hlm. 123.
  23. Samani, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Raftar-e Kholafa-ye Abbasi ba Emam Hadi as", hlm. 51–52.
  24. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 3, hlm. 477–478; Ibnu Thiqthiqa, Tarikh-e Fakhri, 1360 HS, hlm. 327; Khwandamir, Tarikh-e Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 267.
  25. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 10, hlm. 308–310; Muhammad bin Syakir al-Kutubi, Fawat al-Wafayat, jld. 4, hlm. 228–230; Thaqqus, Daulat-e Abbasiyan (Negara Abbasiyah), 1380 HS, hlm. 178.
  26. Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Eslam (Sejarah Politik Islam), 1376 HS, jld. 2, hlm. 487.
  27. Jafarian, Asar-e Eslami-ye Makkeh va Madineh (Peninggalan Islam di Mekah dan Madinah), 1386 HS, hlm. 192.
  28. Samani, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Raftar-e Kholafa-ye Abbasi ba Emam Hadi as", hlm. 51–52.
  29. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 480; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 9, hlm. 129, 140; Ibnu Miskawaih, Tajarib al-Umam, 1379 HS, jld. 4, hlm. 284.
  30. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 483.
  31. Ibnu al-Ibri, Tarikh Mukhtashar al-Duwal, 1992, hlm. 141.
  32. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 481.
  33. Khwandamir, Tarikh-e Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 267; Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 483.
  34. Yaqut al-Hamawi, Mu'jam al-Buldan, 1419 H, jld. 3, hlm. 198.
  35. Bi-azar Syirazi, Bastan-syenasi va Joghrafiya-ye Tarikhi-ye Qishash-e Qur'an (Arkeologi dan Geografi Sejarah Kisah-Kisah Al-Qur'an), 1380 HS, hlm. 379.
  36. Ibnu Imad al-Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406, jld. 3, hlm. 150; Ibnu Thiqthiqa, Tarikh-e Fakhri, 1360 HS, hlm. 327.
  37. Abu al-Faraj al-Isfahani, Al-Aghani, 1415 H, jld. 9, hlm. 189; Ibnu al-Umrani, Al-Inba', 1421 H, hlm. 111.
  38. Ibnu al-Umrani, Al-Inba', 1421 H, hlm. 111.
  39. Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 402.
  40. Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Eslam (Sejarah Politik Islam), 1376 HS, jld. 2, hlm. 92.
  41. Ibnu Thiqthiqa, Tarikh-e Fakhri, 1360 HS, hlm. 327.
  42. Montadzar al-Qa'im, Tarikh-e Emamat (Sejarah Imamah), 1386 HS, hlm. 244.
  43. Ibnu Syakir al-Kutubi, Fawat al-Wafayat, jld. 4, hlm. 228; Thaqqus, Daulat-e Abbasiyan (Negara Abbasiyah), 1380 HS, hlm. 178.
  44. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 9, hlm. 150; Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, jld. 6, hlm. 120; Ibnu al-Ibri, Tarikh Mukhtashar al-Duwal, 1992, hlm. 141.
  45. Ibnu al-Umrani, Al-Inba', 1421 H, hlm. 113; Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 14, hlm. 20.
  46. Ibnu Jauzi, Al-Muntadzam, jld. 11, hlm. 188; Siraj, Thabaqat-e Nashiri, 1363 HS, jld. 1, hlm. 115.
  47. Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Eslam (Sejarah Politik Islam), 1376 HS, jld. 2, hlm. 137.
  48. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 483.
  49. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 9, hlm. 156.
  50. Ibnu Imad al-Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406, jld. 3, hlm. 150.
  51. Montadzar al-Qa'im, Tarikh-e Emamat (Sejarah Imamah), 1386 HS, hlm. 244.
  52. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 498; Khashibi, Al-Hidayah al-Kubra, 1419 H, hlm. 314; Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jld. 2, hlm. 301.
  53. Rabbani Gulpayigani, Daramadi be Syiah-syenasi (Pengantar Studi Syiah), 1385 HS, hlm. 116; Muharrami, Tarikh-e Tasayyu' az Agaz ta Payan-e Ashr-e Ghaibat-e Sughra (Sejarah Syiah dari Awal hingga Akhir Era Ghaibah Sughra), 1378 HS, hlm. 128.
  54. Muharrami, Tarikh-e Tasayyu' az Agaz ta Payan-e Ashr-e Ghaibat-e Sughra, 1378 HS, hlm. 127.
  55. Rabbani Gulpayigani, Daramadi be Syiah-syenasi, 1385 HS, hlm. 115.
  56. Muharrami, Tarikh-e Tasayyu' az Agaz ta Payan-e Ashr-e Ghaibat-e Sughra, 1378 HS, hlm. 127.
  57. Rabbani Gulpayigani, Daramadi be Syiah-syenasi, 1385 HS, hlm. 115.
  58. Abu al-Faraj al-Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, hlm. 809.
  59. Samani, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Raftar-e Kholafa-ye Abbasi ba Emam Hadi as", hlm. 51–52.
  60. Samani, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Raftar-e Kholafa-ye Abbasi ba Emam Hadi as", hlm. 51–52.
  61. Samani, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Raftar-e Kholafa-ye Abbasi ba Emam Hadi as", hlm. 48.
  62. Samani, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Raftar-e Kholafa-ye Abbasi ba Emam Hadi as", hlm. 51–52.
  63. Samani, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Raftar-e Kholafa-ye Abbasi ba Emam Hadi as", hlm. 51–52.
  64. Qumi, Muntaha al-Amal, 1379 HS, jld. 3, hlm. 1840.
  65. Samani, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Raftar-e Kholafa-ye Abbasi ba Emam Hadi as", hlm. 51–52.
  66. Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 14, hlm. 19; Ibnu Syakir al-Kutubi, Fawat al-Wafayat, jld. 4, hlm. 229.
  67. Amin, A'yan al-Syiah, 1403 H, jld. 1, hlm. 29.
  68. Muharrami, Tarikh-e Tasayyu' az Agaz ta Payan-e Ashr-e Ghaibat-e Sughra, 1378 HS, hlm. 127.
  69. Ibnu Thiqthiqa, Tarikh-e Fakhri, 1360 HS, hlm. 327; Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999, jld. 3, hlm. 295.
  70. Khwandamir, Tarikh-e Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 267.
  71. Amin, A'yan al-Syiah, 1403 H, jld. 1, hlm. 29; Rabbani Gulpayigani, Daramadi be Syiah-syenasi, 1385 HS, hlm. 115.
  72. Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999, jld. 3, hlm. 295.
  73. Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 14, hlm. 19; Ibnu Syakir al-Kutubi, Fawat al-Wafayat, jld. 4, hlm. 229.
  74. Abu al-Faraj al-Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, hlm. 809.
  75. Samani, "Barresi-ye Tathbiqi-ye Raftar-e Kholafa-ye Abbasi ba Emam Hadi as", hlm. 51–52.
  76. Ibnu Imad al-Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406, jld. 3, hlm. 152; Rabbani Gulpayigani, Daramadi be Syiah-syenasi, 1385 HS, hlm. 115.
  77. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 482.
  78. Jam'i az Newisandegan, A'lam al-Hidayah, 1422 H, jld. 12, hlm. 86–88.
  79. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 10, hlm. 335.
  80. Zirikli, Al-A'lam, 1989, jld. 1, hlm. 203; Subhani, Mausu'ah Thabaqat al-Fuqaha, jld. 3, hlm. 89.
  81. Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, jld. 1, hlm. 64.
  82. Syahristani, Wudhu' al-Nabi saw, 1416 H, jld. 1, hlm. 408.
  83. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 9, hlm. 135; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 10, hlm. 303, 309.
  84. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 482; Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hlm. 400.
  85. Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 14, hlm. 18; Ibnu Syakir al-Kutubi, Fawat al-Wafayat, jld. 4, hlm. 229.
  86. Ibnu Imad al-Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406, jld. 3, hlm. 150; Abu Makhramah, Qiladat al-Nahr, 1428 H, jld. 2, hlm. 481.
  87. Jam'i az Newisandegan, A'lam al-Hidayah, 1422 H, jld. 12, hlm. 88, menukil dari Syekh Shaduq.
  88. Jam'i az Newisandegan, A'lam al-Hidayah, 1422 H, jld. 12, hlm. 88, menukil dari Kulaini.

Daftar Pustaka

  • Abu al-Faraj al-Isfahani, Ali bin al-Husain. Al-Aghani. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1415 H.
  • Abu al-Faraj al-Isfahani, Ali bin al-Husain. Maqatil al-Thalibiyyin. Riset: Sayid Ahmad Shaqar. Beirut, Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
  • Abu Makhramah, Abdullah bin Tayyib. Qiladat al-Nahr fi Wafayat A'yan al-Dahr. Beirut, Dar al-Minhaj, 1428 H.
  • Ahmadi, Hamid. Tarikh Emaman-e Syiah (Sejarah Imam-Imam Syiah). Qom, Daftar Nasyr Ma'arif, 1389 HS.
  • Amin, Muhsin. A'yan al-Syiah. Beirut, Dar al-Ta'aruf lil Matbu'at, 1403 H.
  • Aqanouri, Ali. Khastegah-e Tasayyu' va Pidayes-e Ferqeh-ye Syiah dar Ashr-e Emaman (Asal-Usul Syiah dan Munculnya Sekte-Sekte Syiah di Era Para Imam). Qom, Pazhouhesy-gah Ulum va Ma'arif Farhang-e Eslami, 1385 HS.
  • Bi-azar Syirazi, Abdul Karim. Bastan-syenasi va Joghrafiya-ye Tarikhi-ye Qishash-e Qur'an. Teheran, Daftar Nasyr Farhang-e Eslami, 1380 HS.
  • Hasan, Ibrahim. Tarikh-e Siyasi-ye Eslam (Sejarah Politik Islam). Terjemahan: Abu al-Qashim Payandeh. Teheran, Jawidan, 1376 HS.
  • Ibnu al-Ibri, Bar Hebraeus. Tarikh Mukhtashar al-Duwal. Riset: Anton Salhani al-Yasu'i. Beirut, Dar al-Syarq, 1992.
  • Ibnu al-Umrani, Muhammad bin Ali. Al-Inba' fi Tarikh al-Khulafa. Riset: Qasim al-Samarrai. Kairo, Dar al-Afaq al-Arabiyyah, 1421 H.
  • Ibnu Imad al-Hanbali, Abdul Hayy bin Ahmad. Syadzarat al-Dzahab fi Akhbar man Dzahab. Damaskus, Dar Ibnu Katsir, 1406 H.
  • Ibnu Jauzi, Abu al-Faraj. Al-Muntadzam fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset: Muhammad Abdul Qadir Ata. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1412 H.
  • Ibnu Khallikan, Ahmad bin Muhammad. Wafayat al-A'yan wa Abna' Abna' al-Zaman. Riset: Ihsan Abbas. Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • Ibnu Miskawaih, Abu Ali Miskawaih al-Razi. Tajarib al-Umam. Riset: Abu al-Qashim Emami. Teheran, Soroush, 1379 HS.
  • Ibnu Syakir al-Kutubi, Muhammad. Fawat al-Wafayat wa al-Dzail 'alaiha. Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun.
  • Ibnu Thiqthiqa, Muhammad bin Ali. Tarikh-e Fakhri. Teheran, Bunga-e Tarjumeh va Nasyr Ketab, 1360 HS.
  • Jafarian, Rasul. Asar-e Eslami-ye Makkeh va Madineh. Teheran, Nasyr Mas'ar, 1386 HS.
  • Jam'i az Newisandegan. A'lam al-Hidayah. Qom, Penerbit Laily, 1422 H.
  • Jam'i az Newisandegan. Farhang-e Syiah (Budaya Syiah). Qom, Zamzam-e Hedayat, 1386 HS.
  • Jan Ahmadi. Tarikh-e Farhang va Tamaddon-e Eslami. Qom, Daftar Nasyr Ma'arif, 1386 HS.
  • Khashibi, Husain bin Hamdan. Al-Hidayah al-Kubra. Beirut, Al-Balagh, 1419 H.
  • Khathib al-Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tarikh Baghdad. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1417 H.
  • Khwandamir, Ghiyatsuddin. Tarikh-e Habib al-Siyar. Teheran, Khayyam, 1380 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Maqdisi, Mutahhar bin Thahir. Al-Bad' wa al-Tarikh. Port Said, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, tanpa tahun.
  • Mas'udi, Ali bin al-Husain. Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jauhar. Riset: As'ad Daghir. Qom, Dar al-Hijrah, 1409 H.
  • Montadzar al-Qa'im, Asghar. Tarikh-e Emamat. Qom, Daftar Nasyr Ma'arif, 1386 HS.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Irsyad fi Ma'rifah Hujajillah 'ala al-Ibad. Qom, Kongres Syekh Mufid, 1413 H.
  • Muharrami, Ghulam Husain. Tarikh-e Tasayyu' az Agaz ta Payan-e Ashr-e Ghaibat-e Sughra. Qom, Muassasah Pazhouhesyi Emam Khomeini, 1378 HS.
  • Mustaufi Qazwini, Hamdullah. Tarikh-e Gozideh. Riset: Abdul Husain Nawai. Teheran, Amirkabir, 1364 HS.
  • Qumi, Abbas. Muntaha al-Amal. Qom, Nasyr Dalil, 1379 HS.
  • Qumi, Abbas. Nigahi bar Zandegani-ye Chahardah Ma'shum as. Teheran, 1380 HS.
  • Rabbani Gulpayigani, Ali. Daramadi be Syiah-syenasi. Qom, Markaz-e Jahani Ulum-e Eslami, 1385 HS.
  • Samani, Mahmoud. "Barresi-ye Tathbiqi-ye Raftar-e Kholafa-ye Abbasi ba Emam Hadi as". Sokhan-e Tarikh, No. 26, 1396 HS.
  • Syahristani, Sayid Ali. Wudhu' al-Nabi saw. Masyhad, Muassasah Jawad al-Aimmah as, 1416 H.
  • Shan'ani, Yusuf bin Yahya. Nasmat al-Sahar bi Dzikri man Tasayyu' wa Sya'ar. Beirut, Dar al-Mu'arrikh al-Arabi, 1999.
  • Subhani, Ja'far. Mausu'ah Thabaqat al-Fuqaha. Qom, Muassasah Imam Sadiq as, tanpa tahun.
  • Suyuthi, Jalaluddin. Tarikh al-Khulafa. Damaskus, Dar al-Basya'ir, 1417 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Beirut, Dar al-Turats, 1387 H.
  • Thaqqus, Muhammad bin Suhail. Daulat-e Abbasiyan. Terjemahan: Hujjatullah Judaki. Qom, Pazhouhesykadeh Hauzah va Danesy-gah, 1380 HS.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qub. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun.