Prioritas: c, Kualitas: c
tanpa foto
tanpa infobox
tanpa navbox

Nashir al-Kabir

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Al-Nashir al-Kabir (bahasa Arab: الناصر الکبیر) adalah penguasa ketiga Alawi di Thabaristan pada abad ke-3 H yang berasal dari keturunan Imam Sajjad as. Ia memiliki nama asli Hasan bin Ali dengan laqab Nashir al-Uhtrusy dan al-Nashir lil Haq (pembela keimanan yang benar). Nashir al-Kabir adalah seorang pemimpin yang adil dan menurut catatan sejarah dari Thabari, penduduk Thabaristan mengklaim tidak ada pemerintahan yang mereka lihat seadil pemerintahan dibawa penguasaan Nashir al-Kabir. Sayid Murtadha dalam kitabnya menyebutkan mengenai ketinggian ilmu Nashir al-Kabir, kezuhudan dan kefakihannya.

Ia memiliki peran penting dibalik masuk Islamnya penduduk Thabaristan. Selain di Thabaristan, Nashir al-Kabir juga berkuasa atas wilayah lain di bagian utara Iran seperti di Dailam dan sejumlah wilayah di bagian timur Ghilan. Pusat pemerintahannya berkedudukan di Amol. Peran lainnya, ia memberi dukungan pada ulama dan ilmuan, serta mengajak keluarga keturunan Nabi Muhammad saw untuk menetap secara aman di Thabaristan. Membangun sejumlah masjid adalah juga diantara peran penting yang dilakukannya.

Nashir al-Kabir disebutkan menganut mazhab Syiah Zaidiyah, namun Afandi Isfahani menyebutkan dalam kitab Riyadh al-'Ulama bahwa ia adalah seorang Imamiyah. Menurutnya, Nashir al-Kabir memiliki sejumlah karya yang menunjukkan bahwa ia penganut mazhab Syiah Imamiyah, meski tidak memungkiri dalam karyanya yang lain, ada pula yang menunjukkan bahwa bisa saja ia bermazhab Zaidiyah. Kitab al-Ihtisab yang ditulis Nashir al-Kabir berkisar mengenai urusan hisbiyyah yaitu hal-hal yang berkaitan dengan hukum dan ketertiban masyarakat, begitupun karyanya yang lain dalam bidang kalam, al-Bisath. Ia juga memiliki karya dalam bidang fikih yang oleh Sayid Murtadha diberikan tanggapan dalam kitab Masail al-Nashariyat.

Biografi

Hasan bin Ali, dikenal dengan Nashir al-Kabir atau Nashir al-al-Uhtrusy. Silsilahnya kembali ke Umar al-Asyraf, putra Imam Sajjad as melalui tiga generasi. [1] Ia adalah kakek dari Allamal Huda dan Syarif al-Radhi dari pihak ibu. [2]

Hasan al-al-Uhtrusy lahir di Madinah sekitar tahun 230 H. [3] Ia adalah murid dari ulama-ulama terkemuka di Kufah dan sejumlah kota lainnya. Ia menulil hadis dari mereka dan ulama-ulama tersebut juga menukil hadis darinya. [4]

Nashir al-Kabir, memiliki 4 anak:

  • Muhammad yang meninggal dunia sejak kecil
  • Ali, dikenal sebagai penyair
  • Ahmad, menganut mazhab Syiah Imamiyah dan dikenal dengan laqab Shahibul Jaisy
  • Ja'far

Menurut catatan sejarah, Nashir al-Kabir lebih menyukai keponakannya Hasan bin Qasim yang silsilahnya sampai ke Imam Hasan as, dari putra-putra kandungnya sendiri. [5] Ahmad yang memiliki laqab Shahibul Jaisy adalah komandan perang Nashir al-Kabir, yang tanpa sepengetahuan ayahnya menganut mazhab Syiah dan putra Nashir lainnya, Ali dikenal mengarang kasidah yang memuat bantahan atas keyakinan Zaidiyah. [6]

Wafat

Nashir al-Kabir meninggal dunia setelah berkuasa selama 3 tahun 3 bulan, tepatnya pada 25 Sya'ban 304 H. [7] Ia dimakamkan di rumah Qasim bin Ali [8] di kota Amol, Iran Utara. [9] Makamnya dihormati oleh kelompok Zaidiyah. Ibnu Isfandiyar menyebutkan pada abad ke-8 H, makam Nashir al-Kabir menjadi tujuan ziarah warga setempat dan menjadi tempat bertapa kaum sufi. [10]

Nashir al-Kabir membangun sebuah madrasah di kota Amol yang tetap bertahan sampai periode Dzahir al-Din al-Mara'asyi pada abad 9 H. [11]

Makam Nashir al-Kabir sampai abad 7 H berada dalam bangunan yang sekaligus berfungsi sebagai madrasah dan perpustakaan di kota Amol. [12] Pada abad 9 H oleh Sayid Ali Mara'asyi, penguasa Mazandaran membangun kubah diatas makam Nashir al-Kabir berbentuk seperti menara yang bertahan sampai hari ini. [13]

Masa Kekuasaan dan Penyebaran Islam

Nashir al-Kabir berimigrasi ke Thabaristan pada periode Hasan bin Zaid al-Hasani (250-270 H) dan Muhammad bin Zaid (270-287 H) penguasa pertama dan kedua Alawi Thabaristan dengan memberikan bantuannya. Pasca wafatnya Muhammad bin Zaid, ia menyebarkan Islam selama 14 tahun di Ghilan dan Dailam. [14] Nashir adalah penguasa ketiga Alawiyyin di Thabaristan pada tahun 301 H. [15] Selain Thabaristan ia juga berkuasa atas Dailam dan sejumlah kawasan dibagian timur Ghilan,[16]dengan pusat pemerintahan berada di kota Amol.[17]Nashir menjadi penguasa sampai tahun 304 H, dan meninggal dunia dalam usia 74 tahun.[18]

Ibnu Isfandiyar dalam kitab Tarikh Thabaristan menuliskan Nashir al-Kabir meninggalkan kekuasaan diakhir-akhir usianya, dan setelah ia meninggalkan kekuasaan, banyak yang menemuinya untuk mempelajari fikih dan hadis darinya.[19]Ibnu Atsir menyebutkan usia Nashir al-Kabir ketika meninggal dunia adalah 79 tahun.[20]

Disebutkan diantara peran pentingnya dalam penyebaran Islam adalah mendukung ulama dan ilmuan Islam terutama mengajak para Sadat (keturunan Nabi saw) untuk hidup aman di Thabaristan. Ia juga mengajarkan Alquran, memfasilitasi para penyair, membangun sejumlah masjid, termasuk mengajarkan fikih, hadis dan tafsir Alquran.[21]Menurut literatur sejarah, Nashir al-Kabir memegang peranan penting dalam tersebarnya Islam di Thabaristan termasuk tersebarnya mazhab Syiah. [22]Disebutkan, setiap hari, sebanyak 14 ribu orang yang masuk Islam di tangannya.[23]

Mazhab; Imamiyah atau Zaidiyah?

Sayid Murtadha Allamal Huda, salah seorang ulama besar Syiah di abad ke-14 H[24] dan cucu dari putri Nashir al-Kabir, menuliskan dalam kitabnya mengenai keluasan ilmu, kezuhudan, kefakihan kakeknya serta peran besarnya dalam penyebaran Islam di bagian utara Iran namun ia tidak menyinggung sama sekali mengenai mazhab yang dianut Nashir al-Kabir.[25]Namun menurut Muhammad Wa'dzzadih al-Khurasani sebagaimana yang terdapat dalam kitab Masail al-Nashariyat karya Sayid Murtadha yang memberikan catatan pinggir mengenai pandangan-pandangan fikih Nashir al-Kabir menunjukkan adanya kesepakatan antara seorang ulama Imami dengan Zaidiyah yang karena itu Nashir al-Kabir menganut mazhab Zaidiyah.[26]Sementara Najasyi, ahli rijal Syiah abad ke-5 H, berpendapat dikarenakan Nashir al-Kabir memiliki keyakinan pada Imamah dan ia menulis kitab-kitab mengenai imamah, Fadak, khumus dan syahadah, menunjukkan ia seorang Imamiyah.[27]

Najasyi juga menyebutkan, Nashir al-Kabir menulis sebuah buku mengenai silsilah dan sanda keturunan-keturunan Aimmah sampai Imam Zaman afs.[28]Demikian pula, dalam kitab Riyadh al-'Ulama wa Hayadh al-Fhudhala, karya Afandi Isfahani salah seorang ulama di era Shafawiyah, menyebutkan Nashir al-Kabir adalah seorang pembesar Imamiayah. Menurutnya, meskipun Nashir dari kelompok Zaidiyah, namun itu tidak mengurangi keimamiannya.[29]Meski demikian, Afandi Isfahani menyebutkan, bahwa Nashir al-Kabir disamping memiliki karya-karya yang mendasarkan pemikirannya pada mazhab Syiah Imamiah, namun dalam kitab-kitabnya yang lain ia melandaskan pemikitannya pada mazhab Zaidiyah.[30]

Kepribadian

Dari sumber-sumber sejarah dan kitab-kitab rijal, Nashir al-Kabir dikenal sebagai penguasa yang adil yang juga dikenal dengan keluasan ilmu dan kefakihannya.

Pemimpin yang Adil

Nashir al-Kabir dikenal sebagai pemimpin hyang adil; Thabari, sejarawan yang sezaman dengannya memujinya karena keadilan dan perilakunya yang baik, dan mengatakan penduduk Thabaristan menilai tidak ada pemerintahan adil yang pernah mereka lihat sebagaimana pemerintahan Nashir al-Kabir.[31]Demikian pula yang dituliskan oleh Abu Raihan al-Biruni, Nashir al-Kabir menggulingkan sistem hirarki yang membeda-bedakan dengan menempatkan posisi semua warga sejajar secara hukum.[32]

Derajat Keilmuan

Menurut Sayid Murtadha, keluasan ilmu, kezuhudan dan kefakihan Nashir al-Kabir diketahui semua orang.[33]Ia mengadakan pertemuan-pertemuan dialog dan debat ilmiah bersama dengan para ulama, fukaha dan juga membuka ruang-ruang pertemuan untuk studi hadis.[34]

Karya-Karya dan Pemikiran

Karya tulis Nashir al-Kabir sebagaimana disebutkan sejumlah sumber, lebih dari 300 kitab, [35]sementara Ibnu Nadim setelah menyebutkan lebih dari sepuluh risalah fikih Nashir al-Kabir ia menuliskan klaim sebagian pengikut Zaidiyah bahwa karya Nashir al-Kabir ada 100 kitab.[36]Al-Najasyi dalam catatannya juga menyebutkan sejumlah kitab karya Nashir al-Kabir.[37]

Berikut ini beberapa judul kitab buah karya Nashir al-Kabir:

  • Al-Ihtisab, kitab pertama yang disebut membahas masalah hisbiyyah (hal-hal yang berkaitan dengan hukum dan ketertiban masyarakat) dalam masyarakat Islam. [38]Nashir al-Kabir dalam kitab ini menuliskan, imam atau wakilnya, yaitu Muhtasib, harus menghindarkan diri dari campur-baur laki-laki dan perempuan di jalanan atau di pasar.[39] Ia juga dengan bersandar pada sebuah riwayat yang dinisbatkan pada Nabi Muhammad saw meyakini kebolehan ziarah kubur, meski ia tetap tidak membolehkan keikut sertaan perempuan dalam penyelenggaraan pemakaman jenazah.[40]
  • Al-Bisat, sebuah kitab kalam yang membahas mengenai tauhid, ma'rifatullah dan juga keadilan Ilahi. Kitab ini ditulis Nashir al-Kabir untuk diajarkan pada murid-muridnya.[41]

Nashir al-Kabir juga disebutkan memiliki sejumlah karya dalam bidang fikih, yang oleh Sayid Murtadha dalam sebuah kitab yang terpisah dengan judul Masail al-Nashariyat memberikan komentar dan tanggapan atas pendapat-pendapat fikih Nashir al-Kabir.[42]

Catatan Kaki

  1. Sayid Murtadha, Masail al-Nashariyat, hlm. 62-63
  2. Sayid Murtadha, Masail al-Nashariyat, hlm. 62-63
  3. Bukhari, Siri al-Silsilah al-'Alawiyah, hlm. 53; Natiq bil Haq, al-Ifadah fi Tarikh al-Aimmah al-Sadah, hlm. 50
  4. Atrusy, al-Bisat, hlm. 56, 58, 65, 72, 75; Syahari, Tabaqat al-Zaidiyah al-Kubra, bagian 3, jld. 2, hlm. 1113; Ibnu Abi al-Rijal, Mathla' al-Badur wa Majma' al-Bahur, jld. 2, hlm. 177
  5. Hakimiyan, 'Alawiyan Thabaristan, hlm. 97
  6. Daneshpazuh, Du Masyaikh Zaidi, hlm. 185
  7. Ibnu Isfandiyar, Tarikh Tabaristan, jld. 1, hlm. 97
  8. Yusufifur, Naqsy Mauqufat dar Syekldahi be Fazahai Syahri, hlm. 104
  9. Mar'asyi, Tarikh Tabarisyan wa Riwayan wa Mazandaran, hlm. 148
  10. Yusufifur, Naqsy Mauqufat dar Syekldahi be Fazahai Syahri, hlm. 104
  11. Musavi Nejad, Majmu'ah Maqalat Hamayesh Bainul Milali Nashir-e Kabir, hlm.29
  12. Musavi Nejad, Majmu'ah Maqalat Hamayesh Bainul Milali Nashir-e Kabir, hlm.29
  13. Musavi Nejad, Majmu'ah Maqalat Hamayesh Bainul Milali Nashir-e Kabir, hlm.29
  14. Musavi Nejad, Majmu'ah Maqalat Hamayesh Bainul Milali Nashir-e Kabir, hlm.29
  15. Musavi Nejad, Majmu'ah Maqalat Hamayesh Bainul Milali Nashir-e Kabir, hlm.29
  16. Ibnu Isfandiyar, Tarikh-e Thabaristan, hlm. 275, dinukil oleh Musavi Nejad, Majmu'ah Maqalat Hamayesh Bainul Milali Nashir-e Kabir, hlm. 147
  17. Ibnu Atsir, Tarikh Kamil Buzurg-e Islami wa Iran, jld. 13, hlm. 152; dinukil oleh Musavi Nejad, Majmu'ah Maqalat Hamayesh Bainul Milali Nashir-e Kabir, hlm. 147
  18. Musavi Nejad, Majmu'ah Maqalat Hamayesh Bainul Milali Nashir-e Kabir, hlm. 162-163
  19. Musavi Nejad, Majmu'ah Maqalat Hamayesh Bainul Milali Nashir-e Kabir, hlm. 165-166
  20. Madelung, Akhbar Aimmah al-Zaidiyah, hlm. 213; dinukil oleh Musavi Nejad, Majmu'ah Maqalat Hamayesh Bainul Milali Nashir-e Kabir, hlm. 166
  21. Sayid Murtadha, Masail al-Nashariyat, hlm. 7
  22. Sayid Murtadha, Masail al-Nashariyat, hlm. 62-64
  23. Sayid Murtadha, Masail al-Nashariyat, hlm. 38
  24. Najasyi, Rijal al-Najasyi, hlm. 57-58
  25. Najasyi, Rijal al-Najasyi, hlm. 57-58
  26. Afandi Isfahani, Riyadh al-'Ulama wa Hayadh al-Fudhala, jld. 1, hlm. 277
  27. Afandi Isfahani, Riyadh al-'Ulama wa Hayadh al-Fudhala, jld. 1, hlm. 277
  28. Thabari, Tarikh Thabari, jld. 10, hlm. 149
  29. Abu Raihan al-Biruni, al-Atsar al-Baqiyah, hlm. 268
  30. Sayid Murtadha, Masail al-Nashariyat, hlm. 63
  31. Natiq bil Haq, al-Ifadah fi Tarikh al-Aimmah al-Sadat, hlm. 56
  32. al-Uhtrusy, al-Ihtisab, Muqaddimah, hlm. 15; Hasani Muayyadi, al-Tahafu Syarh al-Zalif, hlm. 186
  33. Ibnu Nadi, al-Fihrist, Dar al-Ma'rifah, hlm. 273-274
  34. Najasyi, Rijal al-Najasyi, hlm. 57-58
  35. Jaukar, 'Amalkard Muhtaseb wa Baztab An dar Barkhi az Mutuh Adab-e Farsi, hlm. 27
  36. Farmaniyan, Darsnameh Tarikh wa Aqaid Zaidiyah, hlm. 105
  37. Farmaniyan, Darsnameh Tarikh wa Aqaid Zaidiyah, hlm. 105
  38. Syurmij, Naqsy wa 'Amalkard Nasher Kabir dar Nasyr Andisyeh Syi'eh dar Thabaristan, hlm. 58
  39. Lih. Sayid Murtadha, Masail al-Nashariyat, hlm. 38-39
  40. Konferensi Internasional Nashir al-Kabir di Mahmud Abad
  41. Musavi Nejad, Majmu'ah Maqalat Hamayesy Bainul Milali Nashir Kabir, hlm. 14
  42. Lih. Sayid Murtadha, Masail al-Nashariyat, hlm. 38-39

Daftar Pustaka

  • Abu Raihan, al-Biruni, Muhammad bin Ahmad, al-Atsar al-Baqiyah min al-Qurun al-Khaliyah, Kairo, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyah, 1428 H/2008
  • Afandi Isfahani, Abdullah bin 'Isa, Riyadh al-'Ulama wa Hayadh al-Fudhala, riset: Ahmad Husaini, Qom, 1401 H
  • al-Uhtrusy, Hasan bin Ali, al-Bisath, riset: Abdul Karim Ahmad Jadeban, Sha'dah (Yaman), 1418 H/1997
  • al-Uhtrusy, Hasan bin Ali, al-Ihtisab, riset: Abdul Karim Ahmad Jadeban, Sha'dah (Yaman), 1423 H.2002
  • Bukhari, Sahl bin Abdillah, Siri al-Silsilah al-'Alawiyah, riset: Muhammad Shadiq Bahrul Ulum, Najaf, 1381 H/1962
  • Ibnu Abi al-Hadid, Abdul Hamid bin Habbatullah, Syarh Nahjul Balaghah, riset: Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim, Kairo, 1385-1387 H/1965-1967
  • Ibnu Abi al-Rijal, Ahmad bin Shalih, Mathli'u al-Budur wa Majma' al-Buhur fi Tarajim Rijal al-Zaidiyah, riset: Abdurraqib Muthahar Muhammad Hajar, Sa'dah (yaman), 1425 H/2004
  • Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karim, al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar al-Kutub al-'Ilmiah, 1407 H. 1987
  • Ibnu Isfandiyar, Muhammad bin Hasan, Tarikh Thabaristan, riset: Abbas Iqbal Asytiyani, Tehran, 1320 HS
  • Ibnu Nadim, Muhammad bin Ishaq, al-Fihrist, Beirut, Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun