Lompat ke isi

Konsep:Wajib Fauri

Dari wikishia

Wajib Fauri (bahasa Arab: الواجب الفوري) adalah kewajiban syariat yang menuntut pelaksanaan seketika pada kesempatan pertama yang memungkinkan tanpa adanya penundaan,[1] seperti halnya merespons ucapan Salam.[2] Konsep ini beroposisi dengan Wajib Ghairu Fauri (kewajiban non-segera), yakni taklif yang masih menoleransi penundaan pelaksanaan dari waktu awal yang memungkinkan, seperti halnya mengqadha salat yang terlewat.[3] Parameter kesegeraan dalam penunaian wajib fauri diukur berdasarkan tolok ukur Urf (norma atau kebiasaan masyarakat), dengan batasan bahwa penundaan tersebut tidak direpresentasikan sebagai wujud kelalaian atau pengabaian terhadap sebuah kewajiban.[4]

Dalam korpus literatur fikih, diskursus mengenai Wajib Fauri mencakup berbagai bab, baik dalam ranah ibadah (seperti Salat,[5] Zakat,[6] Puasa,[7] dan Haji[8]) maupun non-ibadah (seperti muamalah[9] dan Nikah[10]). Lebih dari itu, terminologi ini juga dikaji secara mendalam di dalam ilmu ushul fikih, khususnya pada bab klasifikasi kewajiban (wajib).[11]

Para fukaha mengklasifikasikan implikasi hukum dari kewajiban fauri yang diabaikan atau ditunda pelaksanaannya oleh seorang mukallaf ke dalam tiga kategori utama:[12]

  1. Kewajiban fauri yang apabila ditunda pelaksanaannya, maka esensi kewajiban tersebut (maudhu') menjadi gugur sepenuhnya. Contoh paradigmatis dari kategori ini adalah kewajiban menjawab salam. Berdasarkan pandangan urf, tidak diperkenankan adanya jeda waktu yang signifikan antara ucapan salam dan jawabannya. Oleh karena itu, jika terjadi keterlambatan, taklif untuk menjawab salam tersebut secara otomatis gugur.
  2. Kewajiban fauri yang apabila ditunda, taklifnya akan tetap mengikat namun statusnya bertransformasi menjadi Wajib Muwassa'[13]. Sebagai representasi, apabila seorang mukallaf menunda pelaksanaan Salat Ayat sesaat setelah terjadinya gempa bumi, kewajiban tersebut tidak gugur, melainkan bergeser menjadi wajib muwassa' dan wajib ditunaikan dengan niat qadha.
  3. Kewajiban fauri yang apabila ditunda, esensi taklif beserta urgensi kesegeraannya tetap melekat secara permanen dan berkesinambungan (fauran fa-fauran). Dalam konteks ini, mukallaf dituntut untuk tetap menunaikan kewajiban tersebut sesegera mungkin dengan niat ada (tunai), bukan qadha. Ilustrasi utamanya adalah ibadah haji. Jika seorang muslim telah mencapai syarat istitha'ah pada tahun tertentu namun menunda keberangkatannya, ia diwajibkan untuk segera menunaikannya pada tahun berikutnya dengan niat ada, tanpa menganggapnya sebagai qadha dari tahun yang terlewat.[14] Literatur fikih turut merangkum berbagai contoh lain yang masuk ke dalam spektrum ini, seperti kewajiban menyegerakan pembayaran zakat, Khumus, eksekusi wasiat, pelunasan utang, hingga pelaksanaan Taubat.[15]

Catatan Kaki

  1. Sebagai contoh lihat: Muzhaffar, Ushul al-Fiqh, 1373 HS, jld. 1, hlm. 97.
  2. Thabathabai Yazdi, Al-'Urwah al-Wutsqa, 1419 H, jld. 3, hlm. 21.
  3. Sebagai contoh lihat: Muzhaffar, Ushul al-Fiqh, 1373 HS, jld. 1, hlm. 97.
  4. "Ahkam-e Masjed / Makan-e Mushalla / Kitab al-Shalat", Situs Madrasah Fiqhi Imam Muhammad Baqir as.
  5. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 12, hlm. 455.
  6. Bahrani, Al-Hadaiq al-Nadhirah, 1363 HS, jld. 12, hlm. 229.
  7. Halabi, Al-Kafi fi al-Fiqh, 1403 H, hlm. 184.
  8. Syahid Tsani, Al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 2, hlm. 161.
  9. Syahid Awwal, Al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1410 H, hlm. 162.
  10. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1390 H, jld. 2, hlm. 293.
  11. Sebagai contoh lihat: Muzhaffar, Ushul al-Fiqh, 1373 HS, jld. 1, hlm. 97.
  12. "Maudhu': Dalalat Khitab Amr bar Faur va Tarakhi / Awamir / Mabahits Alfazh", Situs Madrasah Feqahat.
  13. Wajib muwassa' adalah kondisi ketika waktu yang ditetapkan oleh Syari' untuk menunaikan sebuah kewajiban lebih panjang daripada waktu aktual yang dibutuhkan untuk melaksanakannya, seperti salat harian. (Sebagai contoh lihat: Muzhaffar, Ushul al-Fiqh, 1373 HS, jld. 1, hlm. 98.)
  14. "Kitab al-Hajj", Situs Informasi Ayatullah Muhammad Jawad Fadhil Lankarani.
  15. Sebagai contoh lihat: Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 33, hlm. 168.

Daftar Pustaka

  • "Ahkam-e Masjed / Makan-e Mushalla / Kitab al-Shalat". Situs Madrasah Fiqhi Imam Muhammad Baqir as. Tanggal posting: 17 Khordad 1399 HS. Tanggal kunjungan: 18 Farvardin 1403 HS.
  • Al-Bahrani, Yusuf bin Ahmad. Al-Hadaiq al-Nadhirah fi Ahkam al-'Itrah al-Thahirah. Qom: Penerbit Islami, 1363 HS.
  • Al-Halabi, Taqi bin Najm. Al-Kafi fi al-Fiqh. Riset: Reza Ostadi. Isfahan: Maktabah al-Imam Amirul Mukminin as, 1403 H.
  • Al-Muzhaffar, Muhammad Ridha. Ushul al-Fiqh. Qom: Maktab al-A'lam al-Islami, 1373 HS.
  • Al-Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syarai' al-Islam. Tashih: Abbas Quchani dan Ali Akhundi. Beirut: Penerbit Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan ketujuh, 1362 HS.
  • Al-Syahid al-Tsani, Zainuddin bin Ali. Al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah. Riset: Sayid Muhammad Kalantar. Qom: Toko Buku Davari, Cetakan pertama, 1410 H.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Qom: Penerbit Ismailiyan, Cetakan kedua, 1390 H.
  • "Kitab al-Hajj". Situs Informasi Ayatullah Muhammad Jawad Fadhil Lankarani. Tanggal posting: 26 Bahman 1396 HS. Tanggal kunjungan: 26 Farvardin 1403 HS.
  • "Maudhu': Dalalat Khitab Amr bar Faur va Tarakhi / Awamir / Mabahits Alfazh". Situs Madrasah Feqahat. Tanggal posting: 3 Aban 1388 HS. Tanggal kunjungan: 26 Farvardin 1403 HS.
  • Thabathabai Yazdi, Sayid Muhammad Kazim. Al-'Urwah al-Wutsqa fima Ta'ummu bihi al-Balwa (Al-Muhassya). Tashih: Ahmad Mohseni Sabzevari. Qom: Penerbit Islami, 1419 H.