Lompat ke isi

Konsep:Usia Rusyd

Dari wikishia

Usia Rusyd (bahasa Arab: سن الرشد) bermakna kemampuan seseorang dalam mengelola urusan keuangan dan tidak mudah tertipu dalam transaksi. Para fukaha mengartikan rusyd sebagai kemampuan kebijakan finansial. Mengenai perbedaan antara pubertas (bulugh) seksual dan usia rusyd dikatakan bahwa pubertas seksual memiliki tanda-tanda syariat, sedangkan usia rusyd diketahui melalui pengujian individu dalam bertransaksi. Selain itu, pubertas menandakan berakhirnya masa kanak-kanak, namun rusyd bermakna kemampuan menjaga dan menggunakan harta secara benar.

Para fukaha menganggap rusyd, di samping pubertas, sebagai syarat penghapusan hajr (interdiksi) anak, karena pubertas saja tidak cukup dan orang yang baligh belum tentu rasyid (memiliki rusyd). Dengan pembuktian rusyd, hajr dihapuskan dan individu menjadi mandiri dalam urusan keuangan, sementara anak-anak yang belum baligh dan tidak rasyid terhalang (mahjur) dari mengelola harta dan hak-hak mereka. Rusyd dibuktikan melalui pengujian individu dalam transaksi di bawah pengawasan wali, atau melalui kesaksian saksi dan kabar dari orang yang tsiqah. Pengujian rusyd anak dilakukan sebelum pubertas sesuai dengan Surah An-Nisa Ayat 6, agar setelah mencapai usia baligh, hartanya dapat segera diserahkan kepadanya.

Terminologi

Dalam mendefinisikan usia rusyd, para fukaha menekankan pada kemampuan individu dalam memperbaiki urusan keuangan dan tidak tertipu dalam transaksi, karena Syari tidak menetapkan makna khusus bagi rusyd sehingga dikembalikan pada makna urf-nya.[1] Masyhur fukaha menganggap rusyd bermakna kemampuan mengatur urusan keuangan dan menyebut orang yang memiliki sifat ini sebagai "rasyid".[2] Imam Shadiq (as) menganggap usia rusyd bermakna kemampuan menjaga harta[3] dan menegaskan bahwa jika seorang anak mencapai pubertas namun tidak dapat dipercaya secara intelektual, maka hartanya tidak akan diberikan kepadanya.[4]

Dalam fikih, konsep rusyd digunakan dalam arti kemampuan menjaga harta dan membelanjakannya secara benar dalam berbagai bab termasuk haji, pernikahan, wasiat, dan qadha.[5] Sebagian menganggap rusyd sebagai kualitas psikis (malakah nafsani) yang mencegah pemborosan harta dan penggunaannya di jalan yang tidak rasional.[6] Sebaliknya, orang yang safih adalah orang yang transaksinya batil meskipun tampak rasional, karena kesafihan adalah cacat bawaan pada akalnya.[7] Menurut pandangan Shahib Riyadh, seluruh dalil baik berupa ijma', ayat-ayat, dan riwayat-riwayat mustafidhah yang menunjukkan kemahjuran anak sebelum pubertas, juga menunjukkan kemahjuran orang safih setelah pubertas dan rusyd.[8]

Usia Rusyd dalam Al-Qur'an dan Pandangan Mufasir

Menurut para mufasir, penyerahan harta anak yatim setelah mencapai usia rusyd dijelaskan dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah An-Nisa Ayat 6 dan Surah Al-An'am Ayat 152. Menurut perkataan Abdullah Javadi Amuli dalam Tafsir Tasnim, pada masa jahiliah, anak-anak yatim terhalang dari warisan dan harta mereka lenyap karena kelalaian atau dikelola secara batil.[9] Usia tertentu sebagai tanda dan alamat rusyd tidak disebutkan dalam Al-Qur'an.[10] Menurut keyakinan beberapa peneliti, dengan memperhatikan fakta bahwa dalam Al-Qur'an masalah mimpi basah (ihtilam) dan mencapai usia rusyd dikemukakan secara terpisah, maka tidak dapat ditarik angka usia yang pasti untuk usia rusyd[11] dan hanya digunakan istilah "rusyd" untuk menyerahkan harta anak yatim kepadanya.[12]

Pubertas dan Rusyd: Perbedaan dan Syarat Penghapusan Hajr

Menurut keyakinan Kasyif al-Ghitha, pubertas seksual memiliki tanda-tanda syariat, sedangkan rusyd dan kematangan intelektual diketahui dengan menilai dan menguji anak dalam transaksi-transaksinya.[13] Para fukaha dengan bersandar pada Ayat 6 An-Nisa dan riwayat-riwayat, menganggap rusyd (kemampuan dalam transaksi) di samping pubertas sebagai syarat penghapusan hajr anak.[14] Menurut keyakinan fukaha, pubertas dan rusyd itu berbeda; masa yatim berakhir dengan pubertas, namun orang yang baligh belum tentu rasyid dan mungkin masih dalam keadaan mahjur.[15] Imam Khomeini dan beberapa fukaha tidak menganggap pubertas saja sudah cukup dan menganggap pencapaian rusyd adalah kredibel.[16]

Dengan pembuktian usia rusyd, hajr dihapuskan dari anak, hartanya diletakkan dalam genggamannya dan ia memperoleh kemandirian dalam urusan materi,[17] yang mana beberapa fukaha mengklaim adanya ijma' atas kemandirian finansial ini.[18] Anak-anak yang belum baligh dan tidak rasyid terhalang (mahjur) dari mengelola harta dan hak-hak finansial serta non-finansial (seperti qishash dan talak);[19] karena kedua sifat ini (pubertas dan rusyd) tidak ada pada mereka.[20] Untuk membuktikan kemahjuran anak yatim dan beberapa hukum mereka, dirujuk pada Ayat 6 Surah An-Nisa.[21] Juga dalam fikih dibahas tentang pendahuluan dan penundaan pubertas serta rusyd untuk penghapusan hajr, di antaranya bahwa jika kematangan intelektual terjadi sebelum pubertas fisik, apakah kemahjuran berakhir atau tidak. Di samping rusyd, syarat keadilan dan tidak adanya kefasikan juga dikemukakan untuk mengembalikan harta kepada anak yatim dan anak kecil.[22] Menurut Catatan 2 tambahan (tahun 1370 HS) Pasal 1210 Undang-undang Perdata Iran, penyerahan harta kepada anak kecil yang baligh bergantung pada pembuktian rusyd-nya.

Syarat Terwujudnya Usia Rusyd

Terdapat tiga syarat untuk terwujudnya usia rusyd dari sudut pandang fukaha:

  • Pubertas: Baligh dianggap sebagai salah satu syarat terwujudnya usia rusyd, Al-Qur'anul Karim menganggap "bulugh asyuddah"[23] sinonim dengan rusyd. Dikatakan bahwa istilah ini di samping pubertas seksual, juga mencakup pubertas akal (pemahaman akan baik dan buruk, kemaslahatan dan kerusakan) serta kesempurnaan kekuatan fisik.[24] Allamah Thabathaba'i meyakini "bulugh asyuddah" bermakna pubertas sekaligus rusyd.[25] Muhaqqiq Hilli menganggap tercapainya usia rusyd sebagai syarat kedua untuk menyerahkan harta kepada anak.[26]
  • Rusyd sebagai Malakah Nafsani: Menurut keyakinan para pakar fikih, rusyd harus menjadi keadaan yang stabil dan malakah nafsani pada individu, bukan sebuah kejadian sesaat. Oleh karena itu, jika seseorang terkadang melakukan tindakan rasional namun kemudian beralih pada tindakan tidak rasional, maka ia tidak dihitung rasyid. Beberapa fukaha menegaskan urgensi syarat ini[27] dan sebagian lainnya menyebutkannya secara mutlak.[28]
  • Keadilan: Beberapa fukaha seperti Syeikh Thusi, di samping baligh, akal, dan kekuatan kebijakan finansial, juga menganggap keadilan sebagai syarat terwujudnya rusyd. Sandaran teori ini adalah Ayat 5 Surah An-Nisa yang melarang penyerahan harta kepada orang-orang safih.[29] Sebaliknya, masyhur fukaha dengan bersandar pada keumuman ayat dan riwayat-riwayat,[30] tidak menganggap keadilan sebagai syarat terwujudnya rusyd. Dari pandangan mereka, kemampuan mengelola urusan keuangan sudah cukup, meskipun individu tersebut fasik dalam urusan agama.[31]

Pembuktian Rusyd

Rusyd anak dibuktikan melalui penyerahan transaksi yang sesuai dengan pekerjaan dan strata sosialnya, di bawah pengawasan wali; dengan aturan bahwa jika anak dapat bertransaksi tanpa tertipu atau merugi, maka ia dihitung rasyid. Anak perempuan juga diuji dengan kemampuannya dalam menjaga harta dan mencegah pemborosan (tabdzir).[32] Beberapa fukaha menekankan urgensi perolehan ilmu (yakin) akan status rasyid,[33] sementara sejumlah lainnya menganggap perolehan rasa tenang (ithminan) saja sudah mencukupi.[34] Rusyd juga dapat dibuktikan melalui dua cara lainnya: kesaksian saksi (kesaksian laki-laki untuk laki-laki dan kesaksian laki-laki serta wanita untuk wanita)[35] dan kabar dari orang yang tsiqah.[36]

Waktu Pengujian Anak

Para pakar fikih dengan bersandar pada Surah An-Nisa Ayat 6, meyakini bahwa pengujian rusyd anak harus dilakukan sebelum pubertas agar setelah mencapai usia baligh, hartanya dapat segera diserahkan kepadanya.[37] Menurut keyakinan fukaha, pertama-tama istilah yatim biasanya ditujukan pada masa sebelum pubertas, dan kedua, kewajiban penyerahan harta setelah mencapai pubertas meniscayakan dilakukannya pengujian rusyd sebelumnya.[38] Berdasarkan fatwa Imam Khomeini, jika terdapat kemungkinan rusyd anak sebelum pubertas, maka pengujian dilakukan pada waktu tersebut; jika tidak, pengujian dilakukan kapan pun terdapat kemungkinan rusyd, baik sebelum maupun sesudah pubertas.[39]

Catatan Kaki

  1. Hilli, Allamah. Mukhtalaf al-Syiah, 1420 H, jld. 5, hlm. 431; Fazhel Miqdad. at-Tanqih al-Ra'i', 1404 H, jld. 2, hlm. 181; Syahid Tsani. al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 4, hlm. 102; Ardebili, Muqaddas. Majma' al-Faidah wa al-Burhan, jld. 9, hlm. 194.
  2. Hilli, Allamah. Tahrir al-Ahkam al-Syar'iyyah, 1420 H, jld. 2, hlm. 535; Ardebili, Muqaddas. Majma' al-Faidah wa al-Burhan, jld. 9, hlm. 194; Fazhel Miqdad. at-Tanqih al-Ra'i', 1404 H, jld. 2, hlm. 181; Najafi, Mohammad Hassan. Jawahir al-Kalam, jld. 26, hlm. 48.
  3. Syeikh Hur Amili. Wasail al-Syiah, jld. 18, hlm. 411.
  4. Muhaddits Nuri. Mustadrak al-Wasail, 1408 H, jld. 13, hlm. 427.
  5. Syeikh Thusi. al-Mabsuth, 1387 HS, jld. 2, hlm. 284; Fazhel Miqdad. at-Tanqih al-Ra'i', 1404 H, jld. 2, hlm. 181; Ardebili, Muqaddas. Majma' al-Faidah wa al-Burhan, jld. 8, hlm. 155; Makki Amili. al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1410 H, hlm. 121.
  6. Emami, Sayid Hasan. Hoquq-e Madani (Hukum Perdata), 1386 HS, jld. 5, hlm. 255.
  7. Kasyif al-Ghitha. Tahrir al-Majallah, 1384 HS, jld. 2 (bagian 1), hlm. 170.
  8. Thabathaba'i, Sayid Ali. Riyadh al-Masail, 1418 H, jld. 9, hlm. 251.
  9. Javadi Amuli, Abdullah. Tasnim, 1389 HS, jld. 17, hlm. 213-214.
  10. Fazhel Meibodi. "Bulugh az Didgah-e Feqhi wa Karsyenasi" (Pubertas dari Sudut Pandang Fikih dan Pakar), Situs Majelis Modarresin wa Mohaqqeqin Hauzah Ilmiah Qom.
  11. Jannati, Mohammad Ebrahim. "Bulugh az Didgah-e Feqh-e Ejtehadi" (Pubertas dari Sudut Pandang Fikih Ijtihadi), 1374 HS, hlm. 42.
  12. Surah An-Nisa, ayat 6.
  13. Kasyif al-Ghitha. Tahrir al-Majallah, 1384 HS, jld. 2 (bagian 1), hlm. 166; Untuk mengetahui seluruh hukum anak, lihat: Ansari, Qodratullah. Mausu'ah Ahkam al-Atfal wa Adillatuha, 1429 H.
  14. Zuhaili, Wahbah. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 1409 H, jld. 4, hlm. 125; Jaziri, Abdurrahman. al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah, 1404 H, jld. 2, hlm. 353; Najafi, Mohammad Hassan. Jawahir al-Kalam, 1981 M, jld. 9, hlm. 267; Syeikh Hur Amili, jld. 18, hlm. 409-412, jld. 19, hlm. 370-371.
  15. Syeikh Saduq. Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 4, hlm. 220 (bab Inqitha' Yutm al-Yatim); Sabzawari, Sayid Abdul Ala. Mohazzab al-Ahkam, 1413 H, jld. 21, hlm. 119.
  16. Imam Khomeini. Tahrir al-Wasilah, jld. 2, hlm. 13; Fazhel Lankarani, Mohammad. Tafshil al-Syari'ah (Kitab al-Hajr), 1383 HS, hlm. 297.
  17. Fazhel Abi. Kasyf al-Rumuz, jld. 1, hlm. 552; Fazhel Miqdad. Kanz al-'Irfan, 1422 H, jld. 2, hlm. 104; Kasyif al-Ghitha. Tahrir al-Majallah, 1384 HS, jld. 2 (bagian 1), hlm. 171.
  18. Ibn Zuhrah Hilli. Ghunyah al-Nuzu', 1417 H, jld. 1, hlm. 252; Najafi, Mohammad Hassan. Jawahir al-Kalam, 1981 M, jld. 26, hlm. 48.
  19. Lotfi, Asadullah. "Estinbath-e Ahkam wa Hoquq-e Mahjurin az Qur'an-e Karim", 1380 HS, hlm. 22.
  20. Najafi, Mohammad Hassan. Jawahir al-Kalam, 1981 M, jld. 26, hlm. 4.
  21. Najafi, Mohammad Hassan. Jawahir al-Kalam, 1981 M, jld. 26, hlm. 10.
  22. Vojdani Fakhr, Qodratullah. al-Jawahir al-Fakhriyah, 1384 HS, jld. 8, hlm. 225-228.
  23. Surah Al-An'am, ayat 152.
  24. Ibnu 'Arabi. Ahkam al-Qur'an, 1408 H, jld. 2, hlm. 297-298.
  25. Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, jld. 7, hlm. 376.
  26. Muhaqqiq Hilli. Syara'i al-Islam, jld. 2, hlm. 85.
  27. Hilli, Allamah. Qawa'id al-Ahkam, 1418 H, jld. 2, hlm. 134; Muhaqqiq Karaki. Jami' al-Maqashid, jld. 5, hlm. 183; Syahid Tsani. al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 4, hlm. 101; Bahrani, Yusuf bin Ahmad. al-Hada'iq an-Nadhirah, 1405 H, jld. 20, hlm. 351.
  28. Syeikh Thusi. al-Khilaf, 1417 H, jld. 3, hlm. 283 dan 417; Ibn Zuhrah Hilli. Ghunyah al-Nuzu', 1417 H, jld. 1, hlm. 252; Muhaqqiq Hilli. Syara'i al-Islam, jld. 2, hlm. 85.
  29. Syeikh Thusi. al-Mabsuth, 1387 HS, jld. 2, hlm. 284; Syeikh Thusi. al-Khilaf, 1417 H, jld. 3, hlm. 283; Ibn Zuhrah Hilli. Ghunyah al-Nuzu', 1417 H, jld. 1, hlm. 252; Bayhaqi Kidari. Isybah al-Syiah, 1416 H, hlm. 296; Quthb Rawandi. Fiqh al-Qur'an, 1405 H, jld. 2, hlm. 73.
  30. Ardebili, Muqaddas. Majma' al-Faidah wa al-Burhan, jld. 9, hlm. 195.
  31. Ardebili, Muqaddas. Majma' al-Faidah wa al-Burhan, jld. 9, hlm. 196; Bahrani, Yusuf bin Ahmad. al-Hada'iq an-Nadhirah, 1405 H, jld. 20, hlm. 351; Syahid Tsani. Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 4, hlm. 149; Muhaqqiq Sabzawari. Kifayah al-Ahkam, 1396 HS, jld. 1, hlm. 583; Najafi, Mohammad Hassan. Jawahir al-Kalam, 1981 M, jld. 26, hlm. 50; Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 3, hlm. 20; Masyhadi. Kanz al-Daqa'iq, 1423 H, jld. 2, hlm. 364; Quthb Rawandi. Fiqh al-Qur'an, jld. 2, hlm. 71.
  32. Muhaqqiq Hilli. Syara'i al-Islam, 1408 H, jld. 2, hlm. 85; Syeikh Thusi. al-Mabsuth, 1387 HS, jld. 2, hlm. 284; Hilli, Allamah. Tahrir al-Ahkam al-Syar'iyyah, 1420 H, jld. 2; Muhaqqiq Karaki. Jami' al-Maqashid, 1414 H, jld. 5, hlm. 183; Syahid Tsani. Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 4, hlm. 150.
  33. Muhaqqiq Hilli. Syara'i al-Islam, 1408 H, jld. 2, hlm. 85; Hilli, Allamah. Qawa'id al-Ahkam, jld. 2, hlm. 134; Fazhel Lankarani, Mohammad. Tafshil al-Syari'ah (Kitab al-Hajr), hlm. 317.
  34. Ardebili, Muqaddas. Majma' al-Faidah wa al-Burhan, jld. 9, hlm. 206.
  35. Muhaqqiq Hilli. Syara'i al-Islam, 1408 H, jld. 2, hlm. 101; Hilli, Allamah. Qawa'id al-Ahkam, jld. 2, hlm. 134; Muhaqqiq Karaki. Jami' al-Maqashid, 1414 H, jld. 5, hlm. 186; Hilli, Fakhr al-Muhaqqiqin. Idhah al-Fawa'id, 1387 HS, jld. 2, hlm. 52; Syahid Tsani. al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 4, hlm. 104; Khwansari, Sayid Ahmad. Jami' al-Madarik, 1405 H, jld. 3, hlm. 367.
  36. Khwansari, Sayid Ahmad. Jami' al-Madarik, 1405 H, jld. 3, hlm. 368.
  37. Muhaqqiq Hilli. Syara'i al-Islam, 1408 H, jld. 2, hlm. 87; Hilli, Allamah. Tadzkirah al-Fuqaha, jld. 14, hlm. 224; Syahid Tsani. Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 4, hlm. 166; Thabathaba'i, Sayid Ali. Riyadh al-Masail, 1418 H, jld. 9, hlm. 250; Syaymari Bahrani, Muflih bin Hasan. Ghayah al-Maram, jld. 2, hlm. 185.
  38. Hilli, Allamah. Tadzkirah al-Fuqaha, jld. 14, hlm. 225. Syahid Tsani, Hasyiyah al-Syara'i', hlm. 415.
  39. Imam Khomeini. Tahrir al-Wasilah, jld. 2, hlm. 17.

Daftar Pustaka

  • Al-Hilli, Fakhr al-Muhaqqiqin. Idhah al-Fawa'id. Qom, Penerbit Isma'iliyan, 1387 H.
  • Ansari, Qodratullah. Mausu'ah Ahkam al-Atfal wa Adillatuha. Qom, Pusat Fiqh al-Aimmah al-Athar (as), 1429 H.
  • Ardebili, Muqaddas. Majma' al-Faidah wa al-Burhan fi Syarh Irsyad al-Adzhan. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
  • Bahrani, Yusuf bin Ahmad. al-Hada'iq an-Nadhirah. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1405 H.
  • Bayhaqi Kidari. Isybah al-Syiah bi Misbah al-Syari'ah. Riset: Ibrahim Bahadori. Qom, Muassasah al-Imam al-Shadiq (as), 1416 H.
  • Emami, Sayid Hasan. Hoquq-e Madani (Hukum Perdata). Tehran, Islamiyyah, 1386 HS.
  • Fazhel Abi, Hasan bin Abi Thalib Yusufi. Kasyf al-Rumuz. Riset: asy-Syekh Ali Panah al-Isytahardi. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
  • Fazhel Lankarani, Mohammad. Tafshil al-Syari'ah. Qom, Pusat Fiqh al-Aimmah al-Athar (as), 1383 HS.
  • Fazhel Miqdad. at-Tanqih al-Ra'i' li Mukhtashar al-Syara'i'. Qom, Perpustakaan Ayatullah al-Mar'asyi al-Najafi, cetakan pertama, 1404 H.
  • Fazhel Miqdad. Kanz al-'Irfan. Koreksi: Abdurrahim Aqiqi Bakhsyayesyi. Qom, Maktab Navid-e Eslam, 1422 H.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf (Allamah Hilli). Mukhtalaf al-Syiah fi Ahkam al-Syari'ah. Qom, 1420 H.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf (Allamah Hilli). Qawa'id al-Ahkam. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1418 H.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf (Allamah Hilli). Tadzkirah al-Fuqaha. Tehran, Maktabah al-Murtadhawiyyah, tanpa tahun.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf (Allamah Hilli). Tahrir al-Ahkam al-Syar'iyyah 'ala Madzhab al-Imamiyyah. Riset: Ibrahim al-Bahadori. Pengawasan: Ja'far Subhani Tabrizi. Qom, Muassasah al-Imam al-Shadiq (as), cetakan Itimad, 1420 H.
  • Hur Amili, Muhammad bin Hasan. Wasail al-Syiah ila Tahshil Masail al-Syari'ah. Qom, Muassasah Al al-Bayt (as) li Ihya al-Turats, 1416 H.
  • Ibnu 'Arabi, Muhammad bin Abdullah. Ahkam al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Jil, 1408 H.
  • Ibn Zuhrah Hilli, Hamzah bin Ali. Ghunyah al-Nuzu'. Qom, Muassasah al-Imam al-Shadiq (as), 1417 H.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Qom, Penerbit Isma'iliyan, cetakan ketiga, 1408 H.
  • Jannati, Mohammad Ebrahim. "Bulugh az Didgah-e Feqh-e Ejtehadi" (Pubertas dari Sudut Pandang Fikih Ijtihadi). dalam Kayhan-e Andisheh, nomor 61, Mordad dan Syahrivar 1374 HS.
  • Javadi Amuli, Abdullah. Tasnim. Qom, Penerbit Isra, 1389 HS.
  • Jaziri, Abdurrahman. al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah. Istanbul, 1404 H.
  • Kasyif al-Ghitha, Muhammad Husain. Mohammad Sa'edi (Riset). Tahrir al-Majallah. Lembaga Internasional Pendekatan Antar-Mazhab Islam, 1384 HS.
  • Khwansari, Sayid Ahmad. Jami' al-Madarik fi Syarh al-Mukhtashar al-Nafi'. Tehran, Maktabah al-Saduq, cetakan kedua, 1405 H.
  • Lotfi, Asadullah. "Estinbath-e Ahkam wa Hoquq-e Mahjurin az Qur'an-e Karim" (Istinbath Hukum dan Hak Kaum Mahjur dari Al-Qur'anul Karim). 1380 HS.
  • Majlisi, Mohammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-A'immah al-Athar (as). Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
  • Masyhadi, Mirza Mohammad Reza. Tafsir Kanz al-Daqa'iq wa Bahr al-Ghara'ib. Qom, Dar al-Ghadir, 1423 H.
  • Muhaddits Nuri, Mirza Husain. Mustadrak al-Wasail wa Mustanbath al-Masail. Riset: Muassasah Al al-Bayt (as). Beirut, cetakan pertama, 1408 H.
  • Muhaqqiq Hilli, Jafar bin Hasan. Syara'i al-Islam. Qom, Muassasah Isma'iliyan, cetakan kedua, 1408 H.
  • Muhaqqiq Karaki, Ali bin Husain. Jami' al-Maqashid fi Syarh al-Qawa'id. Qom, Muassasah Al al-Bayt (as), cetakan kedua, 1414 H.
  • Muhaqqiq Sabzawari, Mohammad Baqir. Kifayah al-Ahkam. Qom, Kantor Publikasi Islami yang berafiliasi dengan Jami'ah al-Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, 1396 HS.
  • Najafi, Mohammad Hassan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i al-Islam. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketujuh, 1981 M.
  • Quthb Rawandi, Said bin Abdullah. Fiqh al-Qur'an. Qom, Perpustakaan Umum Ayatullah al-Mar'asyi al-Najafi, 1405 H.
  • Sabzawari, Sayid Abdul Ala. Mohazzab al-Ahkam fi Bayan al-Halal wa al-Haram. Qom, Muassasah al-Manar, cetakan keempat, 1413 H.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah (10 jilid). Riset: Mohammad Kalantar. Qom, Maktabah al-Dawari, 1410 H.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Masalik al-Afham ila Tanqih Syara'i al-Islam. Qom, Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1413 H.
  • Syaymari Bahrani, Muflih bin Hasan. Ghayah al-Maram fi Syarh Syara'i al-Islam. Riset: asy-Syekh Ja'far al-Kautsarani al-'Amili. Tanpa tempat, Penerbit Dar al-Hadi, tanpa tahun.
  • Syekh Saduq. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Qom, Penerbit Islami, cetakan kedua, 1413 H.
  • Syeikh Thusi. al-Khilaf. Riset: Kumpulan Peneliti Hauzah Ilmiah Qom. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1417 H.
  • Syeikh Thusi. al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyyah. Tehran, cetakan Mohammad Taqi Kasyfi, 1387 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, 1408 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Ali. Riyadh al-Masail. Qom, Muassasah Al al-Bayt (as), 1418 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, 1390-1394 H.
  • Vojdani Fakhr, Qodratullah. al-Jawahir al-Fakhriyah fi Syarh al-Raudhah al-Bahiyyah. Qom, Sama, 1384 HS.
  • Zuhaili, Wahbah. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Damaskus, tanpa penerbit, 1409 H.