Konsep:Thawus al-Yamani
| Julukan | Abu Abdurrahman |
|---|---|
| Populer dengan | Perawi Hadis Ghadir, Tabiin, Mufasir |
| Kerabat termasyhur | Abdullah bin Tawus (Anak) |
| Lahir | Yaman |
| Tempat Tinggal | Hijaz |
| Wafat/Syahadah | 106 H |
| Tempat dimakamkan | Mekkah |
| Guru-guru besar | Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, dan 50 Sahabat lainnya |
| Murid-murid | Banyak dari kalangan Tabiin |
Tawus al-Yamani (bahasa Arab:طاووس یمانی) atau Tawus bin Kaysan al-Hamdani al-Yamani (W. 106 H), adalah salah satu penukil Hadis Ghadir, tokoh Tabiin yang terkenal, dan Mufasir pada abad kedua Hijriah. Ia keturunan Persia dan lahir di Yaman, serta termasuk murid terkemuka Ibnu Abbas. Di kalangan ulama Ahlusunah, Tawus dikenal sebagai seorang fakih yang agung, memiliki hafalan yang kuat, dan kedudukan ilmiah yang tinggi. Ibnu Syahr Asyub dan Syaikh al-Thusi mengategorikannya sebagai salah satu sahabat Imam Sajjad as. Di antara sifat-sifatnya yang disebutkan adalah Zuhud, Ibadah, dan keberaniannya di hadapan para khalifah Bani Umayyah. Ia wafat di Mekkah pada musim Haji dan Hisyam bin Abdul Malik menyalati jenazahnya.
Dalam beberapa kitab Rijal Ahlusunah, ia dianggap Tsiqah, namun dalam sumber-sumber Rijal Syiah, hanya Syaikh al-Thusi yang menyebutkannya tanpa menegaskan mazhab atau ketsiqahannya. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai mazhabnya. Sebagian menganggapnya sebagai fakih Ahlusunah dan Sufi, sementara sebagian lain menganggapnya sebagai fakih besar Syiah atau setidaknya orang yang dididik dalam madrasah Wilayah Ahlulbait as.
Tawus meriwayatkan dari lebih dari lima puluh sahabat dan sebagian besar riwayatnya berasal dari Ibnu Abbas. Banyak Tabiin besar menjadi muridnya. Meskipun sebagian besar riwayatnya bertema Akhlak, terdapat pula pandangan-pandangan tafsir khusus yang dinukil darinya.
Kedudukan
Tawus al-Yamani dianggap sebagai salah satu penukil Hadis Ghadir,[1] Mufasir abad kedua,[2] tokoh terkemuka Tabiin, dan seorang fakih yang agung serta memiliki hafalan yang kuat[3] dan berkedudukan tinggi.[4]
Dikatakan bahwa ia adalah murid khusus Ibnu Abbas.[5] Ibnu Syahr Asyub dan Syaikh al-Thusi menyebut namanya dalam daftar sahabat Imam Sajjad as.[6] Ia memiliki kedudukan yang layak di sisi ulama Ahlusunah.[7] Beberapa hal mengenai Zuhud dan ibadah Tawus telah dinukil, di antaranya dikatakan bahwa selama 40 tahun ia mengerjakan Salat Subuh dengan Wudu Salat Isya,[8] pergi Haji sebanyak 40 kali,[9] doanya mustajab (dikabulkan),[10] dan Ibnu Abbas menganggapnya sebagai penghuni surga.[11]
Ia juga diperkenalkan sebagai sosok yang pemberani di hadapan para khalifah Bani Umayyah. Sebagai contoh, Ibnu Uyainah, seorang muhaddits dan fakih Kufah (w. 198 H), menempatkannya bersama Abu Dzar dan Sufyan al-Tsauri sebagai tiga orang yang berlepas diri dari para penguasa zaman mereka.[12] Ibnu Khallikan menukil sebuah kisah tentang sikap Tawus al-Yamani yang tanpa rasa takut terhadap khalifah saat itu (Hisyam bin Abdul Malik) pada musim haji di Mekkah. Menurut kisah tersebut, saat masuk, Tawus tidak memberi salam kepada Hisyam dengan sebutan Amirul Mukminin, tidak memanggilnya dengan kunyahnya, dan duduk di sampingnya tanpa izin. Hal ini membuat Hisyam marah hingga berniat membunuhnya. Namun, Tawus tanpa rasa takut menjelaskan alasan tindakannya dan menyebut Imam Ali as dengan gelar Amirul Mukminin. Kemudian ia bangkit dan pergi.[13]
Biografi
Tawus bin Kaysan al-Hamdani al-Yamani al-Farisi, yang dikenal sebagai Tawus al-Yamani, berkunyah Abu Abdurrahman, adalah keturunan Persia, lahir di Yaman,[14] dan tinggal di wilayah Hijaz.[15] Namanya adalah Zakwan, dan Tawus dianggap sebagai gelarnya.[16]
Ketika Tawus al-Yamani wafat pada tanggal 7 Dzulhijjah tahun 106 H di Mekkah, Hisyam bin Abdul Malik yang pada tahun itu pergi berhaji, menyalati jenazahnya di antara Rukun dan Maqam Ibrahim.[17] Dikatakan bahwa saat pengantaran jenazahnya, karena banyaknya orang, peci Abdullah bin Hasan al-Mutsanna yang memikul ujung kerandanya terjatuh dan jubahnya robek.[18]
Ketsiqahan dan Mazhab
Tawus al-Yamani dianggap Tsiqah dalam beberapa kitab Rijal Ahlusunah.[19] Namun, namanya dalam kitab-kitab Rijal Syiah terdahulu hanya muncul dalam kitab Rijal al-Thusi.[20] Syaikh al-Thusi tidak menyinggung tentang ketsiqahan maupun mazhabnya.[21]
Terdapat dua pandangan mengenai mazhab Tawus:
- Dia adalah Syiah:
Sayid Muhammad Baqir Khwansari dalam Raudhat al-Jannat memasukkan nama Tawus sebagai salah satu fakih besar Syiah.[22] Muhammad Taqi Syusytari juga dalam Qamus al-Rijal menukil dari ulama Ahlusunah (Ibnu Qutaibah dan Thabari) bahwa Tawus adalah Syiah. Namun, ia sendiri memberikan catatan bahwa yang mereka maksud dengan Syiah mencakup Imamiyah maupun selainnya.[23] Salah satu peneliti juga menukil beberapa hal yang berdasarkan itu ia menganggap Tawus sebagai hasil didikan madrasah Wilayah Ahlulbait as:[24]
- Tawus dalam kisah pertemuannya dengan Hisyam, menggunakan gelar "Amirul Mukminin" untuk Imam Ali as.[25]
- Abu Nu'aim menukil Hadis Ghadir dari Tawus al-Yamani dan menganggap jalur periwayatannya unik, serta mengatakan bahwa kami hanya menukil hadis ini melalui jalur ini.[26]
- Dari beberapa riwayat dipahami bahwa Tawus memiliki kedudukan dan martabat di sisi Imam Sajjad as. Seperti ketika suatu kali ia meletakkan kepala Imam Sajjad as di pangkuannya di Masjidil Haram dan menangis sedemikian rupa hingga air matanya menetes ke wajah Imam as.[27] Atau ketika ia bertemu dengan beliau di Hijir Ismail dan terjadi percakapan di antara mereka.[28]
- Dia adalah Sunni:
Ibnu Syahr Asyub[29] dan Mirza Abdullah Afandi[30] menganggapnya sebagai fakih dan Muhaddits Ahlusunah. Muhaddits Nuri menganggap klaim ke-Syiah-an Tawus sebagai klaim yang lemah dan tanpa dalil.[31] Syaikh Abbas al-Qummi juga mengklaim bahwa Tawus termasuk fakih Ahlusunah dan Sufi, dan mengemukakan dalil untuk membuktikan klaimnya:[32]
- Salah satu gurunya disebutkan adalah Abu Hurairah.[33]
- Meskipun ia termasuk fakih dan mufasir, tidak ada satupun ulama Rijal Syiah yang menyebutkan namanya dalam kitab-kitab Rijal mereka, dan tidak ada riwayat darinya dalam sumber-sumber hadis Syiah.[34]
- Tawus menyebut Imam Sajjad as dengan ungkapan seperti "Seorang laki-laki saleh dari Ahlulbait Nubuwah".[35]
- Dalam beberapa riwayat, Imam Shadiq as menyerupakan Tawus dengan burung yang membawa sial.[36]
Tingkatan (Guru dan Murid)
Ia dianggap termasuk dalam tingkatan kedua perawi[37] dan Tabiin.[38] Dikatakan bahwa ia telah bertemu dengan lebih dari lima puluh orang sahabat termasuk Ibnu Abbas dan Abu Hurairah,[39] namun sebagian besar Hadisnya berasal dari Ibnu Abbas.[40]
Diklaim juga bahwa banyak Tabiin meriwayatkan darinya.[41] Di antaranya adalah Habib bin Abi Tsabit,[42] Jibillah al-Makki,[43] Wahab bin Munabbih,[44] Mujahid, Amr bin Dinar,[45] 'Umarah bin Zadzan, Yunus bin Harits, Humaid al-Thawil, Abdul Karim bin Abi al-Mukhariq, Ya'qub bin Qais,[46] Muhammad bin Munkadir, Zuhri, Dhahhak bin Muzahim, Abdul Malik bin Maisarah, dan anak Tawus (Abdullah bin Tawus).[47]
Pandangan Khusus
Sebagian besar riwayat yang dinukil dari Tawus al-Yamani bertema Akhlak,[48] namun dikatakan bahwa ia memiliki pandangan-pandangan khusus dalam Tafsir;[49] berikut beberapa contoh pandangan tersebut:
Tawus mengartikan "kelemahan" dalam Ayat 28 Surah An-Nisa sebagai kelemahan dalam urusan wanita, dan berpendapat bahwa manusia tidak lebih lemah dalam hal apapun selain dalam urusan wanita![50] Ia juga menafsirkan "jauh" yang disebutkan dalam Ayat 44 Surah Fushilat sebagai jauh dari hati.[51] Ia memperkenalkan Ayat 281 Surah Al-Baqarah sebagai ayat terakhir yang diturunkan.[52]
Catatan Kaki
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 23.
- ↑ Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, 1972 M, jld. 2, hlm. 509.
- ↑ Ma'rifat, Tafsir wa Mufassiran, 1379 HS, jld. 1, hlm. 319.
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 4, hlm. 177.
- ↑ Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, 1972 M, jld. 2, hlm. 509.
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 4, hlm. 177; Thusi, Rijal al-Thusi, 1427 H, hlm. 116.
- ↑ Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, 1972 M, jld. 2, hlm. 509; Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 9; Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, 1325 H, jld. 5, hlm. 8-10.
- ↑ Dikutip dari: Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 4, hlm. 140.
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 3.
- ↑ Ibnu Hibban, al-Tsiqat, 1393 H, jld. 4, hlm. 391.
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 3.
- ↑ Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, 1325 H, jld. 5, hlm. 8-10.
- ↑ Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, 1972 M, jld. 2, hlm. 510.
- ↑ Ibnu Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 6, hlm. 66.
- ↑ Qumi, Safinah al-Bihar, 1414 H, jld. 5, hlm. 338.
- ↑ Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, 1325 H, jld. 5, hlm. 8-10.
- ↑ Ibnu Hibban, al-Tsiqat, 1393 H, jld. 4, hlm. 391; Ibnu Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 6, hlm. 70.
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 3; Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, 1972 M, jld. 2, hlm. 509.
- ↑ Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, 1325 H, jld. 5, hlm. 8-10.
- ↑ Thusi, Rijal al-Thusi, 1427 H, hlm. 116.
- ↑ Thusi, Rijal al-Thusi, 1427 H, hlm. 116.
- ↑ Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 4, hlm. 140.
- ↑ Syusytari, Qamus al-Rijal, 1414 H, jld. 5, hlm. 552.
- ↑ Ma'rifat, Tafsir wa Mufassiran, 1379 HS, jld. 1, hlm. 321.
- ↑ Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, 1972 M, jld. 2, hlm. 510.
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 23.
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 4, hlm. 151.
- ↑ Syaikh Mufid, al-Irsyad, 1413 H, jld. 2, hlm. 143.
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 4, hlm. 151.
- ↑ Afandi, Riyadh al-Ulama, 1401 H, jld. 7, hlm. 181.
- ↑ Dikutip dari: Qumi, Safinah al-Bihar, 1414 H, jld. 5, hlm. 337-339.
- ↑ Syaikh Abbas Qumi, Safinah al-Bihar, 1414 H, jld. 5, hlm. 337-339.
- ↑ Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 4, hlm. 140.
- ↑ Qumi, Safinah al-Bihar, 1414 H, jld. 5, hlm. 337-339.
- ↑ Muhaddits Nuri, Mustadrak al-Wasail, 1408 H, jld. 3, hlm. 442.
- ↑ Warram, Tanbih al-Khawathir, 1410 H, jld. 1, hlm. 15.
- ↑ Ibnu Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 6, hlm. 66.
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 4, hlm. 177.
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 9; Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 4, hlm. 140.
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 23.
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 23.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1430 H, jld. 11, hlm. 568.
- ↑ Hurr Amili, Wasail al-Syi'ah, 1409 H, jld. 5, hlm. 439.
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 22-23.
- ↑ Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 4, hlm. 140.
- ↑ Ibnu Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 6, hlm. 67-68.
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 17.
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 4-23.
- ↑ Ma'rifat, Tafsir wa Mufassiran, 1379 HS, jld. 1, hlm. 323.
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 12.
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 11.
- ↑ Abu Nu'aim Isfahani, Hilyah al-Auliya, 1432 H, jld. 4, hlm. 15.
Daftar Pustaka
- Abu Nu'aim Isfahani, Ahmad bin Abdullah. Hilyah al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya. Beirut: Dar al-Fikr, 1432 H.
- Afandi, Mirza Abdullah Isfahani. Riyadh al-Ulama wa Hiyadh al-Fudhala. Qom: Intisyarat-e Kitabkhaneh-ye Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1401 H.
- Asqalani, Ibnu Hajar, Ahmad bin Ali. Tahdzib al-Tahdzib. Beirut: Dar Shadir, 1325 H.
- Hurr Amili, Muhammad bin Hasan. Wasail al-Syi'ah. Qom: Muassasah Alu al-Bait (as) li Ihya al-Turats, 1409 H.
- Ibnu Hibban, Muhammad bin Hibban. al-Tsiqat. Haidarabad: Dairah al-Ma'arif al-Utsmaniyah, 1393 H.
- Ibnu Khallikan, Syamsuddin. Wafayat al-A'yan. Beirut: Dar al-Tsaqafah, 1972 M.
- Ibnu Sa'ad, Muhammad bin Sa'ad Hasyimi. al-Thabaqat al-Kubra. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H.
- Ibnu Syahr Asyub, Rasyiduddin. Manaqib Ali Abi Thalib. Qom: Nasyr-e Allamah, 1379 H.
- Khwansari, Muhammad Baqir. Raudhat al-Jannat fi Ahwal al-Ulama wa al-Sadat. Qom: Ismailiyan, 1390 H.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Qom: Dar al-Hadits, 1430 H.
- Ma'rifat, Muhammad Hadi. Tafsir wa Mufassiran. Qom: Muassasah Farhangi Intisyarati al-Tamhid, 1379 HS.
- Muhaddits Nuri, Mirza Husain. Mustadrak al-Wasail wa Mustanbath al-Masa'il. Peneliti: Muassasah Alu al-Bait alaihimussalam. Beirut: Cetakan Pertama, 1408 H.
- Qumi, Abbas. Safinah al-Bihar wa Madinah al-Hikam wa al-Atsar. Teheran: Intisyarat-e Usweh, 1414 H.
- Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad. al-Irsyad. Qom: Kongres Internasional Milenium Syekh Mufid, 1413 H.
- Syusytari, Muhammad Taqi. Qamus al-Rijal. Qom: Daftar-e Intisyarat-e Islami wabasteh be Jame'eh Mudarrisin-e Hauzeh-ye Ilmiyeh-ye Qom, 1414 H.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Rijal al-Thusi. Qom: Daftar-e Intisyarat-e Islami wabasteh be Jame'eh Mudarrisin-e Hauzeh-ye Ilmiyeh-ye Qom. 1427 H.
- Warram, Mas'ud bin Isa. Tanbih al-Khawathir wa Nuzhah al-Nawazhir al-Ma'ruf bi Majmu'ah Warram. Qom: Maktabah al-Faqih, 1410 H.