Lompat ke isi

Konsep:Qubh 'Uqab Bila Bayan

Dari wikishia

Qubh 'Uqab Bila Bayan adalah sebuah kaidah akal yang menyatakan bahwa segala jenis hukuman duniawi dan ukhrawi dari pihak Tuhan terhadap seorang mukalaf, atas kewajiban-kewajiban yang belum dikeluarkan larangannya atau larangan tersebut belum sampai kepada orang yang terbebani tugas tersebut, dianggap buruk secara akal. Dikatakan bahwa kaidah ini telah disebutkan dalam karya-karya ulama ushul fikih terdahulu dengan berbagai ungkapan; namun untuk pertama kalinya ia dikemukakan sebagai sebuah kaidah oleh Muhammad Baqir Behbahani. Sayyid Muhammad Baqir asy-Sadr dengan mengajukan "Teori Haq al-Tha'ah", mengingkari status kaidah ini sebagai kaidah akal. Menurut para pakar ushul fikih, kaidah ini sejalan dengan "asas legalitas hukum dan hukuman" serta "prinsip non-retroaktif".

Pandangan kaum Ushuli dan Akhbari mengenai hubungan antara dua kaidah "Dafi' al-Dharar al-Muhtamal" dan "Qubh 'Uqab Bila Bayan" adalah berbeda: Menurut kaum Akhbari, kaidah "keharusan menolak mudarat yang mungkin" lebih didahulukan daripada "kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan". Namun, menurut para pakar ushul fikih, kaidah menolak mudarat yang mungkin menunjukkan wajibnya pencarian dalam syubhat hukmiyyah (ketidakjelasan hukum syariat dalam subjek tertentu, seperti ketidakjelasan hukum akad asuransi menurut syariat), yang mana setelah dilakukan pencarian dan tidak ditemukan dalil, maka kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan diberlakukan.

Konsep

Kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan bermakna bahwa selama suatu perbuatan belum dilarang oleh syariat atau undang-undang (demikian pula dalam hal kewajiban suatu perbuatan) dan larangan tersebut belum sampai kepada orang yang terbebani tugas (mukalaf), maka memberikan hukuman kepadanya atas pelaksanaan perbuatan tersebut dianggap buruk menurut pandangan orang-orang yang berakal.[1] Di kalangan fukaha Syiah, selain keberadaan hukum dalam ranah praktis diperlukan untuk adanya kewajiban, penyampaian informasi kepada mukalaf dan penyadaran terhadapnya juga dianggap sebagai syarat bagi kewajiban (taklif).[2] Dikatakan bahwa kaidah ini merupakan lawan dari kaidah "Husnu 'Uqab Ma'al Bayan"; dalam artian jika seorang mukalaf melanggar kewajiban yang telah pasti (munajjaz) baginya tanpa adanya uzur seperti keterpaksaan (idhtirar), paksaan (ijbar), atau intimidasi (ikrah), maka akal dalam kondisi seperti ini menghukumi kebaikan atas teguran dan hukuman baginya, meskipun tidak menghukumi keharusannya.[3]

Menurut pandangan Mohammad Kadzim al-Khorasani, salah seorang pakar Ushul Fikih pada abad ke-14 Hijriah, hukuman ('uqab) dalam kaidah "Qubh 'Uqab Bila Bayan" bersifat umum yang mencakup hukuman duniawi dan ukhrawi.[4] Mengenai "Bayan" (penjelasan) juga dikatakan bahwa semata-mata dikeluarkannya hukum bukan merupakan izin untuk memberikan hukuman dan teguran, melainkan sampainya hukum kepada mukalaf (wushul) diperlukan agar gelar "bayan" terealisasi dan kewajiban tersebut menjadi pasti bagi mukalaf.[5] Menurut keyakinan Sayyid Abu al-Qasim al-Khoei (wafat: 1371 HS), sampainya hukum kepada mukalaf disepakati oleh seluruh pakar ushul fikih dan kaum Akhbari; oleh karena itu, penentangan terhadap kewajiban yang tidak sampai informasinya merupakan salah satu contoh nyata dari kezaliman.[6]

Kedudukan dan Alur Sejarah Kaidah

Qubh 'Uqab Bila Bayan termasuk di antara kaidah akal yang sudah pasti (akal mendiagnosis baik dan buruknya tanpa campur tangan dan bantuan dari syariat, seperti baiknya keadilan dan buruknya kezaliman) di kalangan fukaha dan para pakar ushul fikih,[7] dan dikatakan bahwa jika seseorang memiliki kecerdasan akal sekecil apa pun, ia tidak akan mengingkarinya.[8] Akhund al-Khurasani menganggap dasar autoritas kaidah ini adalah hati nurani (wijdan).[9] Ungkapan para pakar ushul fikih tentang Qubh 'Uqab Bila Bayan sangat beragam dan konsepnya digunakan dalam masalah-masalah seperti: Qubh al-Taklif Bila Bayan,[10] La Taklif Illa Ba'dal Bayan,[11] Ashalah al-IbahahTemplat:Y[12] dan Ashalah al-Hazhr.Templat:Y[13] Mayoritas pakar ushul fikih dalam pembahasan mengenai hukum akal pada prinsip ibahah dan khususnya Bara'ah aqliyyah, menjadikan kaidah ini sebagai dasar bagi prinsip mereka.[14] Dikatakan bahwa alasan utama bagi Bara'ah aqliyyah adalah kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan.[15]

Kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan menjadi perhatian baik dalam ilmu kalam pada bagian-bagian seperti Taklif ma la yuthaq (ketidakmungkinan pelaksanaan kewajiban),[16] dalam ilmu ushul pada pembahasan Asal Bara'ah,[17] maupun dalam pembahasan hukum. Hingga dikatakan bahwa banyak pasal hukum di Iran dan bahkan menurut riset beberapa pakar hukum, beberapa pasal dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia Majelis Umum PBB, diambil dari kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan.[18]

Sayyid Muhammad Baqir asy-Sadr (wafat: 1359 HS), dalam menjelaskan alur sejarah kaidah ini menyatakan bahwa Aqa Wahid Behbahani (wafat: 1205 H), adalah orang pertama yang mengemukakan Qubh 'Uqab Bila Bayan dalam bentuk sebuah kaidah.[19] Menurut keyakinan Sayyid Mustafa Muhaqqiq Damad (lahir: 1324 HS), Mujtahid dan pakar hukum, isi kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Syekh Thusi dalam kitab al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, di bawah Ayat 15 Surah Al-Isra'.[20]

Dasar Kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan

Para pakar ushul fikih dalam membahas dalil atau argumen-argumen yang mengawasi otoritas kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan, selain ayat-ayat Al-Qur'an (Ayat 7 Surah At-Talaq;[21] Ayat 15 Surah Al-Isra.[22]) dan riwayat-riwayat seperti Hadis Raf',[23] serta Hadis Itlaq,[24] mereka juga meneliti dalil akal (mengingat statusnya sebagai kaidah akal). Mayoritas pakar ushul fikih dalam membuktikan kaidah ini melalui dalil akal, menganggap tidak adanya perbedaan di kalangan orang-orang berakal sebagai saksi atas masalah ini. Berdasarkan argumen ini, jika seandainya Syari' memiliki perintah namun tidak memberitahu mukalaf mengenainya, maka mukalaf tidak dapat ditegur.[25] Berseberangan dengan pendapat masyhur, Sayyid Muhammad Baqir asy-Sadr meragukan status akal pada kaidah ini dan dalam menolak dasar akalnya, ia mengemukakan "Teori Haq al-Tha'ah"Templat:Y dan selanjutnya berusaha membuktikan keharusan berhati-hati secara akal (ihtiyath aqli).[26]

Kaidah yang Sejalan dan Bertentangan dengan Kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan

Dikatakan bahwa "prinsip non-retroaktif",[27] dan "asas legalitas hukum dan hukuman",[28] merupakan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah yang konsepnya sejalan dengan konsep kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan.

Satu kelompok pakar ushul fikih juga menempatkan beberapa kaidah akal berseberangan dengan kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan dan bersikeras pada pendapat ini bahwa dengan keberadaan kaidah-kaidah tersebut, tidak ada lagi ruang bagi penerapan kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan. "Kaidah wajibnya menolak mudarat yang mungkin" dan teori "Haq al-Tha'ah" termasuk di antara kaidah dan teori yang dianggap bertentangan dengan kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan.

Titik Perbedaan Ushuli dan Akhbari

Dari sudut pandang kaum Akhbari, dalam syubhat tahrimiyyah (di mana hukum dalam suatu subjek ragu antara keharaman dan bukan kewajiban seperti Mustahab, Makruh, dan Mubah, seperti keraguan dalam keharaman merokok)[29] masalah syubhat tersebut masuk ke bawah kaidah keharusan menolak mudarat yang mungkin, bukan kaidah menolak hukuman tanpa penjelasan; karena dengan bersandar pada kaidah keharusan menolak mudarat dapat dikatakan bahwa "penjelasan" (bayan) ada untuk jenis syubhat seperti ini; oleh karena itu, karena kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan tidak berlaku, maka berhati-hati (ihtiyath) menjadi wajib.[30] Namun para pakar ushul fikih meyakini bahwa kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan menolak kemungkinan adanya mudarat dan sebagai hasilnya tidak ada lagi subjek untuk penerapan menolak mudarat yang mungkin; karena secara akal buruk bagi Allah untuk memberikan hukuman dan teguran atas kewajiban-Nya yang tidak diketahui.[31]


Berhadapan dengan kelompok pakar ushul fikih ini, sebagian meyakini bahwa dalam syubhat tahrimiyyah, Asal Bara'ah berlaku setelah dilakukan pencarian dan tidak diperolehnya "dalil", namun tempat berlakunya kaidah keharusan menolak mudarat yang mungkin adalah sebelum dilakukan pencarian terhadap "dalil". Dari sudut pandang kelompok ini, kaidah menolak mudarat yang mungkin menunjukkan wajibnya pencarian dalam syubhat hukmiyyah (ragu dalam hukum subjek tertentu seperti ragu antara haram atau mustahabnya Bersiwak)[32] dan setelah pencarian serta tidak ditemukannya dalil, maka kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan mulai berlaku.[33] Gharavi Na'ini, salah seorang pakar ushul fikih abad ke-14 Hijriah, berkeyakinan bahwa kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan menguasai (hakim) atas kaidah keharusan menolak mudarat yang mungkin.[34] Di antara ini, sebagian juga mengingkari adanya pertentangan antara kedua kaidah ini.[35]

Pengingkaran Sifat Akal pada Kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan

Sayyid Muhammad Baqir asy-Sadr berseberangan dengan pendapat masyhur pakar ushul fikih yang menyatakan bara'ah dalam subjek yang hukumnya tidak diketahui, ia mengemukakan teori "Haq al-Tha'ah".[36] Berdasarkan teori ini, posisi dan martabat kepemilikan Allah menuntut agar manusia dalam segala syubhat, baik syubhat wujubiyyah maupun tahrimiyyah, untuk berhati-hati (ihtiyath).[37] Menurut keyakinan Sadr, kaidah Qubh 'Uqab Bila Bayan tidak dapat dikenal sebagai kaidah akal dan aksiomatis; karena kaidah ini termasuk masalah yang sebelum Wahid Behbahani tidak ada yang mengemukakannya dan setelahnya pun selalu muncul perbedaan pendapat dalam batasan dan martabatnya.[38] Ia dengan menyebutkan beberapa pendahuluan berpendapat bahwa prinsip pertama terhadap setiap kewajiban yang diragukan adalah ihtiyath (berhati-hati). Menurut beliau, Haq al-Tha'ah mencakup kewajiban yang sudah diketahui maupun kewajiban yang mungkin (muhtamal - yaitu kewajiban yang diduga oleh mukalaf bahwa tanggung jawabnya terhadapnya masih ada).[39]

Salah satu jawaban yang diberikan terhadap teori ini adalah bahwa hasil praktis dari teori Haq al-Tha'ah (mengamalkan ihtiyath bahkan dalam hal-hal yang diragukan dalam kehidupan), menyebabkan kesulitan dan kesempitan (usr wa haraj) dalam kehidupan para mukalaf serta kekacauan dalam tatanan individu dan sosial manusia; karena ihtiyath dianggap baik sejauh tidak mengakibatkan kekacauan dalam tatanan kehidupan manusia.[40]

Catatan Kaki

  1. Sebagai contoh lihat: Fadhil Lankarani, Idhah al-Kifayah, 1385 HS, jld. 4, hlm. 402; Majma' Fiqh Ahlulbait (as), Qawa'id Ushul al-Fiqh, 1427 H, hlm. 386; Muhaqqiq Damad, Qawa'id-e Fiqh (Bagian Pidana), 1388 HS, hlm. 15.
  2. Sebagai contoh lihat: Syekh Thusi, al-Iqtishad ila Thariq al-Rasyad, 1400 H, hlm. 62; Allamah Hilli, Kasyf al-Murad, 1413 H, hlm. 319.
  3. Farahi, Tahqiq dar Qawa'id-e Fiqhi-ye Islam (Penelitian dalam Kaidah Fikih Islam), 1398 HS, hlm. 619.
  4. Akhund Khorasani, Kifayah al-Ushul, 1409 H, hlm. 343.
  5. Thabathaba'i, Mafatih al-Ushul, 1296 H, hlm. 518; Iraqi, Nihayah al-Afkar, 1417 H, hlm. 235.
  6. Khoei, Mishbah al-Ushul, 1413 H, jld. 1, hlm. 294-295.
  7. Haeri Yazdi, Durar al-Fawa'id, 1418 H, hlm. 427; Fadhil Lankarani, Idhah al-Kifayah, 1385 HS, jld. 4, hlm. 402; Imam Khomeini, Tahdzib al-Ushul, 1423 H, jld. 9, hlm. 86.
  8. Iraqi, Nihayah al-Afkar, 1417 H, jld. 3, hlm. 199.
  9. Akhund Khorasani, Kifayah al-Ushul, 1409 H, hlm. 343.
  10. Sebagai contoh lihat: Sayyid Murtadha, al-Dzari'ah ila Ushul al-Syari'ah, 1376 HS, jld. 2, hlm. 189; Allamah Hilli, Mabadi al-Wushul, Penerbit Dar al-Adhwa, hlm. 94.
  11. Sebagai contoh lihat: Naraqi, Rasail wa Masail, 1422 H, jld. 2, hlm. 278; Mirzaye Qomi, Jami' al-Syatat, 1371 HS, jld. 4, hlm. 327.
  12. Sebagai contoh lihat: Syekh Saduq, al-I'tiqadat, 1413 H, hlm. 114; Syekh Mufid, Tashih al-I'tiqadat al-Imamiyyah, 1414 H, hlm. 143; Syekh Thusi, al-Khilaf, 1407 H, jld. 1, hlm. 70.
  13. Sayyid Murtadha, al-Dzari'ah ila Ushul al-Syari'ah, 1376 HS, jld. 2, hlm. 805.
  14. Sebagai contoh lihat: Anshari, Fara'id al-Ushul, 1419 H, jld. 2, hlm. 59.
  15. Sebagai contoh lihat: Mirzaye Qomi, al-Qawanin al-Muhkamah fi al-Ushul, 1430 H, jld. 3, hlm. 47; Misykini, Tahrir al-Ma'alim, 1396 H, hlm. 188-189.
  16. Syekh Mufid, Tashih al-I'tiqadat al-Imamiyyah, 1414 H, hlm. 143.
  17. Iraqi, Maqalat al-Ushul, 1420 H, jld. 2, hlm. 53.
  18. Naserzadeh, E'lamiye-haye Huquq-e Basyar (Deklarasi-deklarasi Hak Asasi Manusia), 1372 HS, hlm. 14.
  19. Wahid Behbahani, al-Fawa'id al-Ha'iriyyah, 1415 H, hlm. 64; Sadr, Mabahits al-Ushul, 1380 HS, jld. 3, hlm. 68.
  20. Muhaqqiq Damad, Qawa'id-e Fiqh (Bagian Pidana), 1388 HS, hlm. 14.
  21. Sebagai contoh lihat: Rohani, Zubdah al-Ushul, 1382 HS, jld. 4, hlm. 312; Imam Khomeini, Anwar al-Hidayah, 1427 H, jld. 2, hlm. 26-27.
  22. Sebagai contoh lihat: Anshari, Matharih al-Anzhar, 1425 H, jld. 3, hlm. 341.
  23. Sebagai contoh lihat: Anshari, Fara'id al-Ushul, 1419 H, jld. 2, hlm. 28; Sabzawari, Tahdzib al-Ushul, 1417 H, jld. 2, hlm. 168; Heidari, Ushul al-Istinbat, 1412 H, hlm. 213.
  24. Khoei, Mishbah al-Ushul, 1413 H, jld. 1, hlm. 281.
  25. Anshari, Fara'id al-Ushul, 1419 H, jld. 2, hlm. 59.
  26. Sadr, Mabahits al-Ushul, 1380 HS, jld. 2, hlm. 61-63.
  27. Sebagai contoh lihat: Ardabili, Huquq-e Jazaye Umumi, 1384 HS, jld. 1, hlm. 160; Bahrami Ahmadi, Qawa'id-e Fiqh, 1401 HS, jld. 1, hlm. 230; Darabkalaei, Qa'ide-ye Qubh-e 'Uqab-e Bila Bayan, 1381 HS, hlm. 161.
  28. Sebagai contoh lihat: Ali-abadi, Huquq-e Jenayi, 1368 HS, jld. 1, hlm. 1; Muhaqqiq Damad, Qawa'id-e Fiqh (Bagian Pidana), hlm. 34-35; Bahrami Ahmadi, Qawa'id-e Fiqh, 1401 HS, jld. 1, hlm. 229.
  29. Anshari, Fara'id al-Ushul, 1419 H, jld. 2, hlm. 197.
  30. Sebagai contoh lihat: Sobhani Tabrizi, Tahdzib al-Ushul, 1423 H, jld. 3, hlm. 88-92.
  31. Sebagai contoh lihat: Fadhil Lankarani, Idhah al-Kifayah, 1385 HS, jld. 4, hlm. 410; Makarem Syirazi, Anwar al-Ushul, 1416 H, jld. 3, hlm. 59-62.
  32. Tabrizi, Autsaq al-Wasa'il, 1369 H, hlm. 44.
  33. Sebagai contoh lihat: Sobhani Tabrizi, Tahdzib al-Ushul, 1423 H, jld. 3, hlm. 88-92; Gharavi Isfahani, Nihayah al-Dirayah, 1414 H, jld. 4, hlm. 86.
  34. Gharavi Na'ini, Fawa'id al-Ushul, 1376 HS, jld. 3, hlm. 367.
  35. Fadhil Lankarani, Idhah al-Kifayah, 1385 HS, jld. 4, hlm. 401-406.
  36. Sadr, Mabahits al-Ushul, 1380 HS, jld. 2, hlm. 61.
  37. Sadr, Mabahits al-Ushul, 1380 HS, jld. 2, hlm. 61-63.
  38. Sadr, Mabahits al-Ushul, 1380 HS, jld. 2, hlm. 69.
  39. Sadr, Mabahits al-Ushul, 1380 HS, jld. 2, hlm. 61-63.
  40. Imam Khomeini, Anwar al-Hidayah, 1427 H, jld. 1, hlm. 367.

Catatan

Templat:Y

Daftar Pustaka

  • Akhund Khorasani, Mohammad Kadzim. Kifayah al-Ushul. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), cetakan pertama, 1409 H.
  • Ali-abadi, Abd al-Husain. Huquq-e Jenayi (Hukum Pidana). Teheran, Penerbit Ferdowsi, cetakan pertama, 1368 HS.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Kasyf al-Murad fi Syarh Tajrid al-I'tiqad. Qom, Muassasah Nasyr Islami, 1413 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Mabadi al-Wushul ila 'Ilm al-Ushul. Riset: Abd al-Husain Muhammad Ali al-Baqqal. Qom, Penerbit Dar al-Adhwa, tanpa tahun.
  • Anshari, Murtadha. Fara'id al-Ushul. Qom, Majma' al-Fikr al-Islami, 1419 H.
  • Anshari, Murtadha. Matharih al-Anzhar. Laporan: Mirza Abu al-Qasim Kalantari Tehrani. Qom, Majma' al-Fikr al-Islami, 1425 H.
  • Ardabili, Mohammad Ali. Huquq-e Jazaye Umumi (Hukum Pidana Umum). Teheran, Penerbit Mizan, cetakan kedelapan, 1384 HS.
  • Audah, Abd al-Qadir. al-Tasyri' al-Jina'i al-Islami Muqaranan bi al-Qanun al-Wadh'i. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Arabiyyah, 1413 H.
  • Bahrami Ahmadi, Hamid. Qawa'id-e Fiqh (Kaidah Fikih). Teheran, Penerbit Universitas Imam Sadiq (as), cetakan keempat, 1401 HS.
  • Behbahani, Mohammad Baqir. al-Fawa'id al-Ha'iriyyah. Qom, Majma' al-Fikr al-Islami, 1415 H.
  • Bonyad-e Dayirat al-Ma'arif-e Bozorg-e Islami. Danesynama-ye Jihan-e Islam (Ensiklopedia Dunia Islam). Teheran, Markaz-e Dayirat al-Ma'arif-e Bozorg-e Islami, 1377 HS.
  • Darabkalaei, Ismail. Qa'ide-ye Qubh-e 'Uqab-e Bila Bayan (Kaidah Buruknya Hukuman Tanpa Penjelasan). Qom, Daftar-e Entesyarat-e Islami, 1381 HS.
  • Fadhil Lankarani, Mohammad. Idhah al-Kifayah. Qom, Penerbit Nuh, cetakan kelima, 1385 HS.
  • Farahi, Sayyid Ali. Tahqiq dar Qawa'id-e Fiqhi-ye Islam (Penelitian dalam Kaidah Fikih Islam). Teheran, Penerbit Universitas Imam Sadiq (as), 1398 HS.
  • Firouzabadi, Sayyid Murtadha. Inayah al-Ushul fi Syarh Kifayah al-Ushul. Qom, Penerbit Firouzabadi, 1400 H.
  • Gharavi Isfahani, Mohammad Husain. Nihayah al-Dirayah fi Syarh al-Kifayah. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), 1429 H.
  • Gharavi Na'ini, Mohammad Husain. Fawa'id al-Ushul. Laporan: Mohammad Ali Kazemi Khorasani. Qom, Jami'ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, cetakan pertama, 1376 HS.
  • Haeri Yazdi, Abd al-Karim. Durar al-Fawa'id. Riset: Mohammad Mukmin Qomi. Qom, Jami'ah Mudarrisin, cetakan keenam, 1418 H.
  • Hakim, Sayyid Abd al-Shahib. Muntaqa al-Ushul. Najaf, Penerbit Mathba'ah al-Amir, tanpa tahun.
  • Heidari, Ali Naqi. Ushul al-Istinbat. Qom, Lajnah Idarah al-Hauzah al-Ilmiyyah, 1412 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Anwar al-Hidayah fi al-Ta'liqah 'ala al-Kifayah. Teheran, Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, cetakan ketiga, 1427 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Tahdzib al-Ushul. Teheran, Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1423 H.
  • Iraqi, Dhiya'uddin. Maqalat al-Ushul. Riset: Mujtaba dan Mahmudi, Munzir Hakim. Qom, Majma' al-Fikr al-Islami, 1420 H.
  • Iraqi, Dhiya'uddin. Nihayah al-Afkar. Laporan: Mohammad Taqi Borujerdi. Qom, Penerbit Islami, 1417 H.
  • Islami, Reza. Nazariye-ye Haq al-Tha'ah (Teori Haq al-Tha'ah). Qom, Pajuhisygah-e Ulum va Farhang-e Islami, 1385 HS.
  • Khoei, Sayyid Abu al-Qasim. Ajwad al-Taqrirat. Qom, Kitab-forousyi Mustafavi, cetakan kedua, 1368 HS.
  • Khoei, Sayyid Abu al-Qasim. Mishbah al-Ushul. Pelapor: Wa'izh Husaini Behsudi. Qom, Muassasah Ihya Atsar al-Imam al-Khoei, cetakan pertama, 1313 HS.
  • Majma' Fiqh Ahl al-Bait (as). Qawa'id Ushul al-Fiqh 'ala Mazhab al-Imamiyyah. Di bawah pengawasan: Mohammad Mukmin Qomi. Qom, Penerbit al-Majma' al-Alami li Ahl al-Bait (as), 1427 H.
  • Makarem Syirazi, Naser. Anwar al-Ushul. Laporan: Ahmad Qudsi. Qom, Penerbit Nasl-e Javan, 1416 H.
  • Markaz-e Ittila'at va Madarek-e Islami. Farhang-name Ushul Fiqh (Kamus Istilah Ushul Fikih). Qom, Pajuhisygah-e Ulum va Farhang-e Islami, 1389 HS.
  • Mirzaye Qomi, Abu al-Qasim. al-Qawanin al-Muhkamah fi al-Ushul. Riset: Ridha Husain Subh. Qom, Penerbit Ihya al-Kutub al-Islamiyyah, 1430 H.
  • Mirzaye Qomi, Abu al-Qasim. Jami' al-Syatat. Riset: Murtadha Radhawi. Teheran, Penerbit Kayhan, 1371 HS.
  • Misykini, Ali. Istilahat al-Ushul wa Mu'zham Abhast-ha. Qom, Penerbit al-Hadi (as), cetakan kelima, 1371 HS.
  • Misykini, Ali. Tahrir al-Ma'alim fi Ushul al-Fiqh. Qom, Mathba'ah Mehr, 1396 H.
  • Muhaqqiq Damad, Sayyid Mustafa. Qawa'id-e Fiqh (Bagian Pidana). Teheran, Pusat Penerbitan Ilmu Islam, cetakan kesebelas, 1388 HS.
  • Murtadha, Sayyid (Ali bin Husain). al-Dzari'ah ila Ushul al-Syari'ah. Teheran, Penerbit Universitas Teheran, 1376 HS.
  • Naraqi, Mohammad Mahdi. Anis al-Mujtahidin. Qom, Penerbit Bustan-e Ketab, 1430 H.
  • Naraqi, Mohammad Mahdi. Rasail wa Masail. Riset: Reza Ostadi. Qom, Kongres Peringatan Peneliti Mulla Mahdi dan Mulla Ahmad Naraqi, 1422 H.
  • Naserzadeh, Hoshyar. E'lamiye-haye Huquq-e Basyar (Deklarasi-deklarasi Hak Asasi Manusia). Teheran, Penerbit Jihad Danesy-gahi, cetakan pertama, 1372 HS.
  • Rohani, Sayyid Mohammad Syadiq. Zubdah al-Ushul. Teheran, Penerbit Hadis-e Del, 1382 HS.
  • Sadr, Mohammad Baqir. Mabahits al-Ushul. Penulisan: Sayyid Kazim Husaini Haeri. Qom, Penerbit Sayyid Kazim Husaini Haeri, 1380 HS.
  • Sobhani Tabrizi, Jafar. Tahdzib al-Ushul. Qom, Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini (ra), cetakan pertama, 1423 H.
  • Syekh Mufid, Mohammad bin Mohammad. Tashih al-I'tiqadat al-Imamiyyah. Riset: Husain Dargahi. Qom, Kongres Syekh Mufid, 1414 H.
  • Syekh Saduq, Mohammad bin Ali. al-I'tiqadat. Qom, Kongres Syekh Mufid, cetakan kedua, 1414 H.
  • Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan. al-Iqtishad al-Hadi ila Thariq al-Rasyad. Teheran, Maktabah Cehel Sutun al-Ammah wa Madrasatuha, 1400 H.
  • Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan. al-Khilaf. Qom, Jami'ah Mudarrisin Hauzah, 1407 H.
  • Thabathaba'i, Sayyid Mohammad. Mafatih al-Ushul. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), 1296 H.
  • Tabrizi, Javad. Durus fi Masail 'Ilm al-Ushul. Qom, Penerbit Dar al-Syiddiqah al-Syahidah (sa), 1387 HS.
  • Tabrizi, Musa. Autsaq al-Wasa'il fi Syarh al-Rasail. Qom, Penerbit Kutubi Najafi, cetakan pertama, 1369 H.