Lompat ke isi

Konsep:Maturidiyah

Dari wikishia

Maturidiyah' adalah salah satu aliran teologi Ahlusunah yang muncul pada abad ke-3/ke-9. Pengikut aliran Maturidiyah merupakan pengikut ajaran Abu Mansur al-Maturidi (238/852-53 - 333/944-45). Berdasarkan laporan para sejarawan, Abu Mansur dalam Fikih merupakan pengikut Abu Hanifah; namun dalam masalah kalam, ia berusaha menciptakan keseimbangan antara rasionalisme Mu'tazilah dan literalisme Ahli Hadis. Di antara ulama Maturidiyah yang paling terkemuka adalah Najmuddin Umar al-Nasafi, Abu al-Hasan al-Amiri, Abu al-Qasim al-Hakim al-Samarqandi, dan Abu al-Yusr al-Bazdawi. Kitab al-Tauhid karya Abu Mansur al-Maturidi dan Syarh al-Aqa'id al-Nasafiyyah karya Sa'aduddin Taftazani merupakan karya Maturidiyah yang paling masyhur.

Maturidiyah memiliki kemiripan dengan Kalam Imamiyah dalam masalah-masalah seperti Husan wa Qubuh Aqli dan penolakan terhadap Tasybih (jasmaniah Tuhan); namun mereka memiliki perbedaan pendapat dengan kaum Syiah mengenai masalah Imamah. Menurut pendapat para sejarawan, Maturidiyah pada abad-abad awal pendiriannya bukanlah aliran yang dikenal luas; namun seiring waktu dan dengan dukungan para penguasa mazhab Hanafi, aliran ini tersebar ke seluruh Dunia Islam. Berdasarkan beberapa laporan, saat ini lebih dari separuh penganut Ahlusunah adalah pengikut aliran Maturidiyah. Aliran Deobandiyah dan mayoritas anggota gerakan Taliban juga dianggap sebagai pengikut Maturidiyah secara teologis.

Pengenalan dan Posisi

Maturidiyah diperkenalkan bersama Asy'ariyah sebagai dua arus yang terbentuk pada abad ke-3/ke-9 untuk memoderasi Naqlisme dan Aklisme dalam kalam Ahlusunah serta menggantikan dua aliran Mu'tazilah dan Ahli Hadis.[1] Mu'tazilah dan Ahli Hadis dianggap sebagai aliran teologi pertama Ahlusunah. Menurut pernyataan para sejarawan, Mu'tazilah dalam pembahasan kalam murni menggunakan argumentasi akal dan Ahli Hadis dalam pembahasan kalam hanya bersandar pada riwayat.[2] Berdasarkan laporan-laporan, pada abad ke-14/ke-20, lebih dari separuh populasi Ahlusunah - khususnya penganut Hanafi - secara teologis adalah pengikut Maturidiyah.[3]

Ulama dan Karya Penting

Abu Mansur al-Maturidi (238/852-53 - 333/944-45) dianggap sebagai pendiri aliran Maturidiyah.[4] Abu Mansur mereformasi akidah pengikut Hanafi dan mengajar di sebuah madrasah yang ia bangun sendiri di Samarkand yang dikenal dengan Madrasah Maturidi.[5] Di antara buku-bukunya, dapat dirujuk pada Kitab al-Tauhid dalam ilmu kalam, Ta'wilat Ahli al-Sunnah dalam Fikih dan tafsir,[6] serta Radd al-Imamah li Ba'dh al-Rawafidh (dalam membantah akidah Tasyayyu').[7]

Najmuddin Umar al-Nasafi (461/1068-69 - 537/1142-43) dihitung sebagai tokoh terkemuka kedua Maturidiyah. Ia menulis buku teks berjudul Al-Aqidah al-Nasafiyyah dan di dalamnya menjelaskan keyakinan Maturidi. Menurut laporan para sejarawan ilmu kalam, dua abad setelah Nasafi, Sa'aduddin Taftazani (722/1322-23 - 798/1395-96) yang merupakan seorang teolog Asy'ari, menulis sebuah penjelasan (syarah) berjudul Syarh al-Aqa'id al-Nasafiyyah atas bukunya. Syarah ini menjadi buku pelajaran akidah di antara banyak kalangan Ahlusunah dan menyebabkan para pengikut mazhab kalam lainnya mengenal aliran ini.[8] Menurut pandangan Wilferd Madelung (Orientalis dan ahli Syiah asal Jerman), hingga sebelum karya Taftazani, aliran ini umumnya disebut "Aliran Ulama Samarkand atau Transoxiana" dan dengan karya Taftazani aliran ini dikenal dengan nama Maturidiyah.[9] Hingga saat ini puluhan syarah dan catatan pinggir telah ditulis atas buku ini.[10] Menurut pandangan beberapa ulama Syiah, Taftazani menulis buku ini sebagai tandingan bagi Tajrid al-I'tiqad karya Khwaja Nasiruddin al-Thusi.[11]

Abu al-Hasan al-Amiri (wafat: 381/991-92) penulis Al-Sa'adah wa al-Is'ad dan Al-I'lam bi Manaqib al-Islam, Abu al-Qasim al-Hakim al-Samarqandi (paruh pertama abad ke-4/ke-10) penulis Al-Sawad al-A'zham dan Risalah fi al-Iman, serta Abu al-Yusr al-Bazdawi (wafat: 493/1099-1100) pemilik Ushul al-Din, adalah tokoh-tokoh lain dari aliran Maturidiyah.

Pandangan Teologis

Ja'far Sobhani merinci pandangan teologis Maturidiyah yang membedakan mereka dari mazhab kalam lainnya, khususnya Asy'ariyah, sebagai berikut:

  • Kewajiban mengenal Tuhan adalah perkara akal dan tidak bisa didasarkan pada perintah syariat; karena para nabi membawa syariat, sementara pembuktian keberadaan Tuhan dan kenabian para nabi adalah perkara akal.
  • Kaum Maturidi menerima Husan wa Qubuh Aqli (yaitu bahwa baik dan buruknya perbuatan bersifat esensial bahkan tanpa adanya perintah dan larangan Ilahi) serta ikhtiar (pilihan bebas) dalam perbuatan manusia.
  • Perbuatan-perbuatan Allah tidak memiliki maksud (garadh) dan tujuan akhir (ghayah).
  • Asy'ariyah meyakini Teori Kasb (keyakinan bahwa kekuatan dan kehendak manusia semata-olah bersamaan dengan setiap perbuatan; namun kehendak utama yang menyebabkan terjadinya perbuatan murni berasal dari kekuatan Tuhan). Kaum Maturidi mengatakan bahwa meskipun pelaku utama dari semua perbuatan adalah Allah; namun manusia bertanggung jawab atas perbuatannya; karena manusia dengan kehendaknya menyebabkan kekuatan Tuhan terfokus pada suatu amal dan menjadikannya terealisasi.
  • Sifat-sifat Allah adalah identik dengan Zat-Nya (Ain al-Zat) dan bukan tambahan atas Zat-Nya.[12]

Persamaan dan Perbedaan dengan Imamiyah

Templat:Kotak Kutipan

  • Pandangan kaum Maturidi dalam masalah Husan wa Qubuh Aqli dan pilihan bebas perbuatan manusia, dianggap mirip dengan Kalam Imamiyah (mazhab teologi kaum Syiah). Selain itu para peneliti Kalam Islam, menafsirkan apa yang diajukan Maturidiyah mengenai teori Kasb mendekati teori kaum Syiah yaitu "Amr baina al-Amrain".[13]
  • Kaum Maturidi sebagaimana kaum Syiah berpendapat bahwa Husan wa Qubuh esensial pada perbuatan tidak mewajibkan sesuatu bagi Allah dan Allah murni melakukan kebaikan karena hikmah-Nya.[14]
  • Kaum Maturidi dalam masalah kenabian, sebagaimana kaum Syiah, meyakini kemaksuman para nabi dari kesalahan dan lupa, universalitas risalah, dan Kenabian Khusus.[15]
  • Menurut pernyataan para peneliti, kedua aliran Maturidiyah dan Imamiyah berpendapat atas ketiadaan Tasybih (jasmaniah) Allah. Meskipun demikian, sementara kaum Syiah menganggap melihat Allah secara total adalah mustahil, kaum Maturidi berpendapat bahwa Allah tanpa menjadi jasad memiliki kemungkinan untuk dilihat.[16] Oleh karena itu, beberapa peneliti Syiah menganggap pemikiran Maturidiyah pada akhirnya berujung pada sejenis antropomorfisme tersembunyi.[17]
  • Maturidiyah berbeda dengan Imamiyah, Mu'tazilah, dan Asy'ariyah, mereka tidak menerima pembagian sifat-sifat Allah menjadi sifat perbuatan (fi'il) dan sifat zat, serta mengembalikan perbuatan Allah pada beberapa sifat zat-Nya.[18]
  • Maturidiyah -terlepas dari memiliki banyak kemiripan dengan kalam Tasyayyu'- sebagaimana sekte Ahlusunah lainnya tidak menerima masalah Imamah. Beberapa peneliti menganggap ini sebagai perbedaan terpenting antara Tasyayyu' dan Maturidiyah.[19] Menurut pandangan kaum Maturidi, makhluk paling mulia adalah Nabi Muhammad saw, kemudian Abu Bakar, kemudian Umar bin Khattab, dan kemudian Ali bin Abi Thalib as. Menurut mayoritas mereka, Nabi saw tidak menetapkan seseorang sebagai pengganti beliau; namun beberapa dari mereka meyakini bahwa beliau telah memilih Abu Bakar.[20] Peneliti mazhab-mazhab Islam meyakini bahwa kaum Maturidi menganggap imamah sebagai perkara politik dan murni bermakna kekhalifahan serta berkeyakinan bahwa kriteria deteksi khalifah adalah perbuatan Sahabat; sementara kaum Syiah menganggap imamah sebagai perkara yang berbeda dari kekhalifahan.[21] Tentu saja kaum Maturidi memiliki rasa hormat khusus bagi Ahlulbait as dan mengingat mereka dengan kebaikan.[22]

Sejarah dan Wilayah Geografis

Peta mazhab fikih Muslim. Dari sisi geografis, penyebaran populasi kaum Maturidi memiliki lingkup yang serupa dengan wilayah mazhab Hanafi.

Dalam tiga abad pertama sejarah Islam, dua mazhab kalam bernama Mu'tazilah dan Ahli Hadis terbentuk. Ahli Hadis dalam membuktikan keyakinan mereka hanya bersandar pada hadis-hadis dan Mu'tazilah dalam masalah-masalah selain nas tegas Al-Qur'an dan hadis, hanya mempercayai dalil-dalil akal. Pada abad ke-3/ke-9 aliran kalam baru bernama Asy'ariyah dan Maturidiyah terbentuk untuk mencari jalan tengah guna memoderasi dua aliran sebelumnya (yaitu Ahli Hadis dan Mu'tazilah).[23]

Asy'ariyah berada di Baghdad yang merupakan pusat dunia Islam; namun gerakan kaum Maturidi dimulai di Samarkand. Laporan sejarah menunjukkan bahwa Maturidiyah selama abad-abad awalnya tidak memiliki banyak pengikut di dunia Islam.[24] Alasan kejadian ini dirinci sebagai berikut: jauhnya kaum Maturidi dari Baghdad, tidak adanya dukungan politik penguasa di awal gerakan, dan pencatatan thabaqat ilmuwan Hanafi yang terlambat dibandingkan mazhab Ahlusunah lainnya.[25] Namun menurut pernyataan para sejarawan, sejak abad ke-7/ke-13 dan dengan dukungan penguasa Hanafi (khususnya Turki Utsmani) ajaran Maturidi meluas di banyak titik di dunia Islam.[26]

Menurut pernyataan para peneliti sejarah Syiah, wilayah Ma Wara al-Nahr di masa Umayyah dan Abbasiyah, dikarenakan jauh dari Irak dan Arab Saudi, telah berubah menjadi tempat perlindungan bagi kaum Syiah.[27] Tren ini semakin kuat dengan hijrahnya Imam Ridha as ke Marw.[28] Namun penyebaran Maturidiyah dan Karamiyah (salah satu sekte kalam Muslim pada abad ke-3/ke-9 hingga ke-6/ke-12) serta perjuangan mereka melawan Tasyayyu', secara bertahap menyebabkan hijrahnya kaum Syiah dari wilayah tersebut.[29] Pada periode Seljuk juga, kaum Maturidi menganggap diri mereka satu-satunya Firqah Najiyah dan memiliki hubungan yang bermusuhan dengan mazhab lain termasuk kaum Syiah; tentu saja hubungan ini di masa Utsmani berangsur-angsur membaik.[30]

Dewasa ini banyak Muslim di Cina, Asia Tengah, Turki, dan negara-negara Afrika Utara dihitung sebagai pengikut aliran ini.[31] Selain itu, tradisi teologi ini dianggap sebagai dasar ajaran Gerakan Deobandiyah (salah satu gerakan keagamaan Ahlusunah pada abad ke-14/ke-20 yang meluas di India dan Pakistan).[32] Berdasarkan laporan, penyebaran Maturidiyah melalui aliran Deobandiyah menyebabkan terjadinya beberapa pertentangan dengan kaum Syiah di negara-negara India, Afganistan, dan Pakistan. Gerakan Taliban berada di bawah pengaruh pembacaan kaum Deobandi terhadap fikih Hanafi dan kalam Maturidi.[33]

Catatan Kaki

  1. Alizadeh Mousavi, Jaryansyinasi-ye Salafiyeh Mo'ashir, 1398 HS, hlm. 66.
  2. Sobhani, Asynayi ba Aqa'id wa Madzahib-e Islami, 1396 HS, jld. 1, hlm. 150-151; Farmanian, Firaq-e Tasannun, 1386 HS, hlm. 344.
  3. Jalali, Tarikh wa Aqa'id-e Maturidiyah, 1386 HS, hlm. 103.
  4. Mirzania, "Atsar wa Afkar-e Abu Mansur Maturidi", hlm. 70.
  5. Mirzania, "Atsar wa Afkar-e Abu Mansur Maturidi", hlm. 73.
  6. Sobhani, Asynayi ba Aqa'id wa Madzahib-e Islami, 1396 HS, jld. 1, hlm. 152.
  7. Mahdavian, "Zamineh-ha-ye Gostaresy-e Falsafeh wa Kalam dar Rouzgar-e Samaniyan", hlm. 21.
  8. Sobhani, Asynayi ba Aqa'id wa Madzahib-e Islami, 1396 HS, jld. 1, hlm. 159.
  9. Farzaneh dkk, "Taftazani", Situs Dairat al-Ma'arif Bozorg-e Islami.
  10. Emami Kashani, Khath-e Aman dar Wilayat-e Shahib al-Zaman, 1386 HS, jld. 1, hlm. 178.
  11. Hoseini Milani, Jawahir al-Kalam fi Ma'rifah al-Imam, 1389 HS, jld. 1, hlm. 277.
  12. Sobhani, Asynayi ba Aqa'id wa Madzahib-e Islami, 1396 HS, jld. 1, hlm. 154-157.
  13. Jalali, Tarikh wa Aqa'id-e Maturidiyah, 1386 HS, hlm. 345.
  14. Farmanian, Firaq-e Tasannun, 1386 HS, hlm. 424.
  15. Jalali, Tarikh wa Aqa'id-e Maturidiyah, 1386 HS, hlm. 346.
  16. Farmanian, Firaq-e Tasannun, 1386 HS, hlm. 527; Jalali, Tarikh wa Aqa'id-e Maturidiyah, 1386 HS, hlm. 349.
  17. Rezayi, Shifat-e Khabari dar Andisheh-ye Islami ba Rouykard-e Naqd-e Wahhabiyat, 1394 HS, hlm. 97.
  18. Jalali, Pazhuhesyi dar Bab-e Maturidiyah, 1386 HS, hlm. 104.
  19. Jalali, Tarikh wa Aqa'id-e Maturidiyah, 1386 HS, hlm. 348.
  20. Nafisi dkk, "Barresi wa Naqd-e Ara-ye Maturidi wa Nasafi dar Mowred-e Ayat-e Marbut be Ahlulbait", hlm. 150.
  21. Jalali, Tarikh wa Aqa'id-e Maturidiyah, 1386 HS, hlm. 349.
  22. Nafisi dkk, "Barresi wa Naqd-e Ara-ye Maturidi wa Nasafi dar Mowred-e Ayat-e Marbut be Ahlulbait", hlm. 150.
  23. Sobhani, Asynayi ba Aqa'id wa Madzahib-e Islami, 1396 HS, jld. 1, hlm. 150-151.
  24. Rezanejad, "Maturidi, Raqib-e Gomnam-e Mu'tazileh wa Asy'ari", hlm. 109
  25. Rezanejad, "Maturidi, Raqib-e Gomnam-e Mu'tazileh wa Asy'ari", hlm. 109
  26. Ehsani, "Tarikh, Bavar-ha wa Garayesy-ha-ye Maturidiyah...", hlm. 40; Jalali, "Pazhuhesyi dar Bab-e Maturidiyah", hlm. 100.
  27. Rahmati, "Tasyayyu'-e Emami dar Ma Wara al-Nahr dar Ahd-e Samaniyan", hlm. 29-31.
  28. Rahmati, "Tasyayyu'-e Emami dar Ma Wara al-Nahr dar Ahd-e Samaniyan", hlm. 34.
  29. Rahmati, "Tasyayyu'-e Emami dar Ma Wara al-Nahr dar Ahd-e Samaniyan", hlm. 46.
  30. Jalali, Tarikh wa Aqa'id-e Maturidiyah, 1386 HS, hlm. 141.
  31. Jalali, Tarikh wa Aqa'id-e Maturidiyah, 1386 HS, hlm. 131-135.
  32. Farmanian, Firaq-e Tasannun, 1386 HS, hlm. 674-677.
  33. Tarafdari, "Deobandiyah, Taliban wa Tasyayyu'", hlm. 83.

Daftar Pustaka

  • Ebrahimi Dinani, Gholam-Hossein; Thabathaba'i, Sayid Javad. "Abul Hasan al-Amiri", dalam Situs Dairat al-Ma'arif Bozorg-e Islami.
  • Ehsani, Sayid Muhammad Ali. "Tarikh, Bavar-ha wa Garayesy-ha-ye Maturidiyah Mo'ashir ba Takid bar Syebheh Qarreh-ye Hend wa Pakistan". Motale'at-e Tarikhi-ye Jahan-e Islam, nomor 12, musim gugur dan dingin 1397 HS.
  • Emami Kashani, Mohammad. Khath-e Aman dar Wilayat-e Shahib al-Zaman. Qom, Daftar Nasyr Farhang-e Islami Iran, 1386 HS.
  • Hoseini Milani, Sayid Ali. Jawahir al-Kalam fi Ma'rifah al-Imam. Qom, Markaz al-Haqa'iq al-Islamiyyah, 1389 HS.
  • Jalali, Sayid Luthfullah. "Pazhuhesyi dar Bab-e Maturidiyah". Ma'rifat, nomor 78, Khordad 1383 HS.
  • Jalali, Sayid Luthfullah. Tarikh wa Aqa'id-e Maturidiyah. Qom, Markaz Motale'at wa Tahqiqat-e Adyan wa Madzahib, 1386 HS.
  • Rahmati, Mohsen. "Tasyayyu'-e Emami dar Ma Wara al-Nahr dar Ahd-e Samaniyan". Periode 16, nomor 64, Esfand 1397 HS.
  • Rezanejad, Ezzuddin. "Maturidi, Raqib-e Gomnam-e Mu'tazileh wa Asy'ari". Kalam-e Islami, nomor 47 musim gugur 1382 HS.
  • Rezayi, Gholam-Reza. Shifat-e Khabari dar Andisheh-ye Islami ba Rouykard-e Naqd-e Wahhabiyat. Teheran, Masy'ar, 1394 HS.
  • Sobhani, Ja'far. Asynayi ba Aqa'id wa Madzahib-e Islami. Qom, Muassasah Imam Shadiq, 1396 HS.
  • Tarafdari, Ali-Mohammad. "Deobandiyah, Taliban wa Tasyayyu'". Zamaneh, nomor 118, Shahrivar dan Mehr 1392 HS.
  • Alizadeh Mousavi, Mehdi. Jaryansyinasi-ye Salafiyeh Mo'ashir. Qom, Barg-e Ferdows, 1398 HS.
  • Farzaneh, Babak dkk. "Taftazani". Situs Dairat al-Ma'arif Bozorg-e Islami.
  • Farmanian, Mehdi. Firaq-e Tasannun. Qom, Nasyr Adyan, 1386 HS.
  • Mahdavian, Mahboub. "Zamineh-ha-ye Gostaresy-e Falsafeh wa Kalam dar Rouzgar-e Samaniyan". Tarikh wa Tamaddun-e Islami, periode 2, nomor 1, Shahrivar 1385 HS.
  • Mirzania, Mansour. "Atsar wa Afkar-e Abu Mansur Maturidi". Keyhan-e Andisheh, nomor 40, 1370 HS.
  • Nafisi, Syadi; Khalili Asytiani, Somayeh. "Barresi wa Naqd-e Ara-ye Maturidi wa Nasafi dar Mowred-e Ayat-e Marbut be Ahlulbait". Tahqiqat-e Ulum-e Qur'an wa Hadits, nomor 25, Ordibehesyt 1394 HS.