Lompat ke isi

Konsep:Madrasah Kalam al-Qum

Dari wikishia

Templat:Kotak info madrasah Madrasah Kalam al-Qum adalah salah satu madrasah kalam Imamiyah yang berbasis pada tradisionisme (hadis) dan populer di Qom pada abad ketiga dan keempat Hijriah. Metode tradisionisme dianggap sebagai perbedaan utama Madrasah Qom dengan madrasah kalam lainnya. Meskipun kecenderungan utama madrasah ini adalah penukilan riwayat dan penjelasannya, namun karena madrasah ini melakukan pengaturan dan penyusunan riwayat-riwayat akidah berdasarkan masalah-masalah kalam, maka ia masyhur dengan nama Madrasah Kalam al-Qum.

Syekh Saduq dianggap sebagai perwakilan utama madrasah ini. Selain itu, Sa'ad bin Abdullah al-Asy'ari al-Qummi, Muhammad bin Hasan al-Saffar al-Qummi, Ibnu Walid al-Qummi, dan Ali bin Babawayh al-Qummi merupakan tokoh-tokoh penting lainnya dari sekolah Qom. Madrasah Qom terbentuk pada awal abad ketiga Hijriah dengan perpindahan Madrasah Kufah ke Qom, dan mulai mengalami kemunduran seiring dengan munculnya Madrasah rasionalis Baghdad serta wafatnya Syekh Saduq (wafat 381 H).

Tekstualisme (Nass-gerayi), perlawanan terhadap Ghuluw, kebolehan Sahwu al-Nabi, keyakinan pada Tanzih sifat Tuhan, dan menganggap sah Khabar Wahid bahkan dalam masalah akidah termasuk dalam karakteristik madrasah ini. Madrasah ini menuai kritik karena mengajukan teori Sahwu al-Nabi, melarang penukilan karamah para Imam dengan tuduhan ghuluw, serta keyakinan pada kebolehan melakukan dosa kecil bagi para nabi sebelum bi'tsat.

Berbagai sudut pandang madrasah ini telah dikaji dalam buku Madrasah-ye Kalam-e Qom dan Jostari-hayi dar Madrasah-ye Kalam-e Qom.

Kedudukan dan Urgensi

Pengkajian Madrasah Kalam al-QumTemplat:Y selain karena pentingnya kota Qom dalam perkataan para Imam Syiah (as) dan ajakan mereka untuk merujuk kepada ulama Qom dalam banyak hadis,[1] dianggap penting karena hal-hal berikut:

Madrasah Kalam al-Qum, karya Ahmad Abidi.

Penentangan dan pengambilan posisi yang serius mengenai metode Madrasah Qom serta munculnya berbagai karya sebagai dampaknya juga menunjukkan pentingnya ranah pemikiran ini.[6]

Sifat Kalam atau Hadis Madrasah Ini

Terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah Madrasah Qom merupakan madrasah kalam atau madrasah hadis. Beberapa peneliti meyakini bahwa meskipun pendekatan dan kecenderungan utama Madrasah Qom adalah penukilan hadis; namun madrasah ini bukan sekadar arus hadis semata, melainkan di dalam sekolah hadis ini muncul arus kalam yang melakukan penyaringan dan pengkritikan hadis berdasarkan poros ilmu kalam dan berujung pada munculnya Madrasah Kalam al-Qum.[7] Selain itu, pengaturan dan penyusunan riwayat-riwayat akidah berdasarkan masalah kalam untuk pertama kalinya terjadi di Madrasah Qom.[8] Penjelasan poin-poin kalam yang penting dalam riwayat, kritik-kritik yang ditulis oleh para mutakallim Qom dalam menolak pemikiran dan arus intelektual lain, serta tindak lanjut pemikiran kalam dari lingkungan dan madrasah lain oleh para mutakallim Qom dianggap sebagai hal-hal yang menunjukkan sifat kalam dari sekolah Qom.[9]

Dikatakan bahwa di antara madrasah-madrasah kalam, Madrasah Kalam al-Qum kurang dikenal sebagai madrasah dan sekolah kalam, dan lebih masyhur sebagai madrasah hadis dan terkadang dikenal sebagai penentang kalam.[10]

Sejarah

Madrasah Kalam al-Qum terbentuk seiring dengan perpindahan dan kemunduran Madrasah Kalam Kufah dan mulai meredup dengan kemunculan Madrasah Kalam Baghdad serta menguatnya rasionalisme.

Pembentukan

Dengan berpindahnya warisan hadis Madrasah KufahTemplat:Y ke kota Qom pada awal abad ketiga Hijriah, kota ini dikenal sebagai pangkalan hadis Syiah terbesar dan sebuah sekolah pemikiran baru muncul darinya yang dikenal sebagai Madrasah Kalam al-Qum.[11]

Kemunduran

Dengan munculnya Madrasah Kalam Baghdad pada pertengahan kedua abad keempat Hijriah dan menguatnya rasionalisme, Madrasah Qom mulai mengalami kemunduran.[12] Serangan keberatan dari Madrasah Baghdad terhadap sekolah Qom, meluasnya pertikaian eksternal pada pemerintahan Alu Buyah yang memerlukan dialog rasional,[13] serta migrasi beberapa tokoh besar Madrasah Qom seperti Syekh Saduq ke kota-kota lain[14] juga dianggap sebagai faktor yang berpengaruh dalam kemunduran Madrasah Qom. Syekh Mufid, pemimpin pertama Madrasah Baghdad, menentang Syekh Saduq yang merupakan perwakilan utama Madrasah Qom dan menyebut ulama Qom sebagai "Hasywiyah Syiah". Setelah Syekh Mufid, Sayyid Murtadha memperkuat rasionalisme dan bangkit menentang ulama Qom serta menuduh mereka melakukan tasybih (antropomorfisme) dan jabr (fatalisme); namun Syekh Thusi sampai batas tertentu menghidupkan kembali Madrasah Qom.[15] Menurut perkataan Wilferd Madelung, Islamolog dan peneliti Syiah Jerman, Madrasah Qom lenyap pada abad kelima Hijriah.[16] Mohammad Taqi Sobhani, peneliti kalam, menganggap kemunduran madrasah ini terjadi pada akhir abad keempat Hijriah bersamaan dengan migrasi Syekh Saduq ke Ray.[17] Beberapa orang menganggap wafatnya Syekh Saduq (wafat 381 H) sebagai akhir dari kehidupan Madrasah Qom.[18]

Dikatakan bahwa metode Madrasah Qom tidak hilang seiring dengan kemundurannya dan terus berlanjut pada tokoh-tokoh besar seperti Quthb al-Rawandi, Sayyid Ibnu Thawus, Syahid Tsani, dan Allamah Majlisi.[19] Menurut perkataan Ahmad Abidi, salah seorang ulama Syiah, Hauzah Ilmiah Najaf yang didirikan oleh Syekh Thusi mengikuti gaya dan metode Madrasah Qom dan pendekatan dominan hauzah tersebut adalah metode yang sama dengan ulama Qom.[20]

Dari sudut pandang beberapa peneliti, fondasi kalam tekstualis atau hadis-sentris Imamiyah dilembagakan di kota Qom dan menjadi model bagi para mutakallim tekstualis di masa-masa berikutnya khususnya era Safawi, dan pada masa kontemporer juga diperhatikan oleh arus hadis-sentris seperti Madrasah Tafkik.[21]

Karakteristik

Karakteristik dan keyakinan penting Madrasah Kalam al-Qum dirinci sebagai berikut:

  • Tekstualisme (Nass-gerayi): Metode kalam Madrasah Qom bersifat naqli dan bersandar pada riwayat.[22] Tradisionisme dianggap sebagai pembeda Madrasah Qom dengan Madrasah-madrasah Kalam Imamiyah lainnya.[23] Para mutakallim madrasah ini meyakini otoritas Akal secara global baik sebagai alat kognisi maupun sebagai sumber kognisi, tentu saja bukan sebagai sumber yang independen,[24] namun dalam pembahasan kalam mereka berpusat pada hadis dan lebih mengutamakan Al-Qur'an serta riwayat di atas akal dan dalil-dalil akal.[25] Dengan memperhatikan metode tekstualisme Madrasah Qom dan kosongnya atmosfer Qom dari pemikiran oposisi, upaya mayoritas tokoh besar madrasah ini dihabiskan untuk menjelaskan keyakinan akidah dan kurang melakukan konfrontasi terhadap syubhat serta pemikiran oposisi.[26]
  • Melawan Ghuluw: Madrasah Qom memiliki pandangan yang ketat dalam masalah Ghuluw.[27] Sebagian menganggap karakteristik utama Madrasah Qom adalah anti-ghuluw.[28] Karena karakteristik ini, siapa pun yang menisbatkan perkara supranatural kepada para Imam (as), diperkenalkan sebagai seorang Ghali (ekstremis) dan dikeluarkan dari kota Qom.[29] Tentu saja dari sudut pandang sebagian orang, pengusiran kaum Ghali bukan hanya karena ghuluw dan penyimpangan dalam akidah, dan jikapun karena alasan itu, ia tidak dianggap sebagai prosedur yang umum di Madrasah Qom.[30] Menurut perkataan Abu Ali al-Haeri dalam kitab Muntaha al-Maqal dan al-Mamaqani dalam Tanqih al-Maqal, yang dimaksud kaum Qummi dengan ghuluw berbeda dengan makna masyhurnya yang berkonsekuensi pada kekufuran; karena tokoh besar kaum Qummi, Syekh Saduq, menganggap tingkat pertama dari ghuluw adalah pengingkaran terhadap Sahwu al-Nabi.[31]
  • Otoritas Khabar Wahid: Madrasah Qom menganggap Khabar Wahid memiliki otoritas dan kredibel bahkan dalam masalah akidah.[32]
  • Keyakinan pada Sahwu al-Nabi: Tokoh-tokoh besar sekolah Qom seperti Syekh Saduq[33] dan Ibnu Walid,[34] menganggap Sahwu al-Nabi diperbolehkan dengan bersandar pada hadis-hadis dari Imam al-Baqir dan al-Shadiq (as) serta tidak menganggapnya bertentangan dengan derajat ishmah.[35] Mereka bahkan menganggap pengingkarannya sebagai Ghuluw;[36] namun para penentang Madrasah Qom menuduh ulama Qom melakukan kelalaian terhadap hak Nabi (saw) dan para Imam (as) karena keyakinan mereka pada Sahwu al-Nabi (saw).[37] Syekh Saduq dalam menjawab mereka, menyebut tuduhan kelalaian kepada ulama Qom sebagai tanda ghuluw dan tafwidh.[38]
  • Pernyataan tentang Tanzih: Madrasah Qom meyakini Tanzih sifat Tuhan.[39] Syekh Saduq dengan terinspirasi oleh riwayat anti-tasybih, tidak meyakini adanya keserupaan apa pun antara Tuhan dan makhluk serta menafikan seluruh sifat makhluk dari Tuhan.[40] Tentu saja menurut pandangan Sayyid Murtadha, tokoh-tokoh besar Madrasah Qom selain Syekh Saduq, meyakini Tasybih sifat dan jabr.[41] Dalam analisis masalah ini dikatakan bahwa kemungkinan beberapa tokoh besar Madrasah Qom memiliki pemikiran tasybih mengenai Tuhan dan sifat-sifat-Nya dengan memperhatikan riwayat-riwayat yang ada dalam bab ru'yatullah, yang mana hal ini diingkari oleh tokoh seperti Syekh Saduq.[42]
  • Keyakinan pada Syahadah para Imam (as): Sosok-sosok dari sekolah kalam Qom, berdasarkan riwayat "Tidak ada dari kami kecuali ia diracun atau mati syahid", meyakini kesyahidan seluruh Imam.[43]
  • Masalah Ikhtiar: Kaum Qummi dalam topik Qadha dan Qadar serta Jabr dan Ikhtiar, meyakini kehendak bebas manusia dengan memperhatikan pendekatan umum Ahlulbait as.[44]

Tokoh-tokoh Terkemuka

Dikatakan bahwa tokoh-tokoh penting Madrasah Qom mayoritas adalah ahli hadis dan di antara mereka sedikit yang beralih ke kalam dan Ilmu Aqli.[45] Beberapa peneliti menamakan mereka sebagai "Muhaddits-Mutakallim" (Ahli Hadis sekaligus Teolog)[46] yang meskipun berkomitmen pada riwayat dan penjelasannya, namun dalam menghadapi oposisi mereka juga memanfaatkan penjelasan dan argumentasi rasional.[47]

Tokoh-tokoh terkemuka dan berpengaruh dari Madrasah Kalam al-Qum antara lain:[48]

  • Syekh Saduq (305-381 H): Karena banyaknya karya terutama dalam topik kalamTemplat:Y serta kesempurnaan pemikirannya dibandingkan tokoh-tokoh terdahulu, ia dianggap sebagai perwakilan Madrasah Qom.[61] Di antara buku-buku kalam miliknya adalah: al-Tauhid, al-I'tiqadat, dan al-Ghaibah.[62] Man La Yahdhuruhu al-Faqih, buku kedua dari Empat Kitab Utama Imamiyah, juga merupakan karya hadis miliknya.[63] Syekh Saduq berpendapat bahwa manusia selalu dan dalam segala keadaan memerlukan ilham ilahi atau hujah ilahi untuk mengenal Tuhan, dan akal tanpa bantuan Wahyu tidak mampu mengenal Tuhan dan menyingkap pengetahuan agama.[64] Dikatakan bahwa ia tidak pernah membahas akal secara independen dalam satu pun karyanya.[65] Syekh Saduq dengan bersandar pada riwayat,[66] tidak membolehkan diskusi dan perdebatan mengenai zat Tuhan.[67] Beberapa orang menganggap Syekh Saduq sebagai muhadis rasionalis yang lebih memanfaatkan riwayat daripada argumentasi; namun di sela-sela materi-materinya ia juga memperhatikan argumentasi akal.[68]

Di antara tokoh besar Madrasah Kalam Qom lainnya, disebutkan nama Zakaria bin Adam, Syadzan bin Jibrail, Ibrahim bin Hasyim dan putranya Ali bin Ibrahim pemilik Tafsir al-Qummi, Muhammad bin Yahya al-Aththar, Ahmad bin Muhammad bin Isa al-Asy'ari, Muhammad bin Khalid al-Barqi dan putranya Ahmad bin Muhammad al-Barqi, Ali bin Babawayh al-Qummi (wafat 329 H), ayah Syekh Saduq, Muhammad bin Ali bin Majilawayh al-Qummi salah satu guru Syekh Saduq, Husain bin Ali bin Babawayh (hidup pada 378 H) saudara Syekh Saduq, dan lain-lain.[69] al-Kulaini juga dihitung dalam jajaran tokoh besar Madrasah Kalam al-Qum; karena ia paling banyak mengambil manfaat dari para guru di Qom dan riwayat para perawi Qom.[70] Namun beberapa orang menganggapnya terpengaruh oleh Madrasah Baghdad[71] dan sebagian menganggapnya terpengaruh oleh Madrasah Kufah.[72]

Kritik

Dikatakan bahwa Sekolah Qom terlepas dari karakteristiknya yang patut diperhatikan, namun juga memiliki beberapa kekurangan antara lain:

Buku Jostari-hayi dar Madrasah-ye Kalam-e Qom, karya sejumlah peneliti.

Bibliografi

  • Madrasah-ye Kalam-e Qom ditulis oleh Ahmad Abidi, membahas metodologi Madrasah Qom dan jenis pandangan sekolah ini terhadap topik akidah dan pengetahuan Al-Qur'an, serta melakukan diskusi komparatif beberapa masalah penting terkait tauhid dengan memperhatikan pemikiran ulama Qom dan menantangnya dengan pemikiran Madrasah rasionalis Baghdad. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Za'ir (Astana Muqaddasah Qom) dalam rangkaian karya kongres peringatan Sayyidah Ma'shumah (sa) di Qom.[74]
  • Jostari-hayi dar Madrasah-ye Kalam-e Qom, merupakan kumpulan artikel para peneliti di bawah pengawasan Mohammad Taqi Sobhani yang dalam tiga bagian membahas pembentukan, pemikiran, serta karya dan tokoh sekolah Kalam Qom. Koleksi ini diterbitkan oleh Lembaga Ilmu Budaya Darul Hadits.[75]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Lihat: Abidi, Madrasah-ye Kalam-e Qom, 1384 HS, hlm. 6.
  2. Abidi, Madrasah-ye Kalam-e Qom, 1384 HS, hlm. 7.
  3. Abidi, Madrasah-ye Kalam-e Qom, 1384 HS, hlm. 7-8.
  4. Lihat: Madelung, Mazhab-mazhab Islam, 1381 HS, hlm. 134; Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 72.
  5. Abidi, Madrasah-ye Kalam-e Qom, 1384 HS, hlm. 9.
  6. Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 88.
  7. Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 70 dan 72.
  8. Sobhani, "Kalam-e Imamiyah; Risye-ha va Ruyesy-ha", hlm. 31; Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 72; Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 14.
  9. Sobhani, "Kalam-e Imamiyah; Risye-ha va Ruyesy-ha", hlm. 31-33.
  10. Sobhani, "Kalam-e Imamiyah; Risye-ha va Ruyesy-ha", hlm. 31; Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 67.
  11. Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 70-72.
  12. Madelung, Mazhab-mazhab Islam, 1381 HS, hlm. 135; Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 88.
  13. Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 88.
  14. Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 15.
  15. Madelung, Mazhab-mazhab Islam, 1381 HS, hlm. 135-136.
  16. Madelung, Mazhab-mazhab Islam, 1381 HS, hlm. 136.
  17. Sobhani, "Kalam-e Imamiyah; Risye-ha va Ruyesy-ha", hlm. 33.
  18. Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 88.
  19. Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 88.
  20. Abidi, Madrasah-ye Kalam-e Qom, 1384 HS, hlm. 41-42.
  21. Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 16.
  22. Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 72; Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 16.
  23. Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 16.
  24. Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah az Aghaz ta Zuhur-e Safaviyah, 1394 HS, hlm. 36.
  25. Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 12.
  26. Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 72.
  27. al-Amili, Buhuts haula Riwayat al-Kafi, 1415 H, hlm. 12.
  28. Akhwan, "Kulaini va Aql-gerayi", hlm. 23 nukilan dari: Madrasah dar Farayand-e Takamol, hlm. 50, 59 dan 60.
  29. Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 68.
  30. Lihat: Thaliqani, "Ikhraj-e Ravayan az Qom; Eqdami-ye Ejtema'i ya E'teqadi", hlm. 93-99.
  31. al-Haeri, Muntaha al-Maqal, 1416 H, jld. 1, hlm. 222-223; al-Mamaqani, Tanqih al-Maqal, Muassasah Al al-Bait (as), jld. 19, hlm. 361 dan jld. 34, hlm. 185.
  32. Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah az Aghaz ta Zuhur-e Safaviyah, 1394 HS, hlm. 36; Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 20.
  33. Syekh Saduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 1, hlm. 359.
  34. Syekh Saduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 1, hlm. 360.
  35. Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah az Aghaz ta Zuhur-e Safaviyah, 1394 HS, hlm. 36-37; Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 20.
  36. Syekh Saduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 1, hlm. 359.
  37. Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 48.
  38. Syekh Saduq, al-I'tiqadat, 1414 H, hlm. 101.
  39. Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah az Aghaz ta Zuhur-e Safaviyah, 1394 HS, hlm. 36.
  40. Syekh Saduq, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 80-81.
  41. Sayyid Murtadha, Rasail al-Syarif al-Murtadha, 1405 H, jld. 3, hlm. 310.
  42. Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 40-41.
  43. Lihat: Syekh Saduq, al-I'tiqadat, 1414 H, hlm. 97-99; Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah az Aghaz ta Zuhur-e Safaviyah, 1394 HS, hlm. 36.
  44. Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah az Aghaz ta Zuhur-e Safaviyah, 1394 HS, hlm. 37.
  45. Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 5.
  46. Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 76; Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 12-13.
  47. Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 76.
  48. Lihat: Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 66-67; Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 31-34; Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 76-88; Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 6-9.
  49. Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 402.
  50. Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 6-7.
  51. Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 79.
  52. Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 399.
  53. al-Kulaini, al-Kafi, 1429 H, mukadimah jld. 1, hlm. 51.
  54. al-Kulaini, al-Kafi, 1429 H, mukadimah jld. 1, hlm. 51.
  55. Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 6.
  56. al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 177-178.
  57. Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 7.
  58. al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 383.
  59. Syekh Saduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 1, hlm. 360.
  60. al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 383.
  61. Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 10.
  62. Syekh Thusi, al-Fihrist, 1420 H, hlm. 443-444.
  63. Syekh Thusi, al-Fihrist, 1420 H, hlm. 443.
  64. Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 37-39.
  65. Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 37.
  66. Syekh Saduq, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 454-461.
  67. Syekh Saduq, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 80-81.
  68. Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 50.
  69. Lihat: Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 66-67; Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 31-32; Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 76-88; Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 8-9; Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 14.
  70. Lihat: Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 33; Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 73.
  71. al-Amili, Buhuts haula Riwayat al-Kafi, 1415 H, hlm. 12.
  72. Thaliqani, "Madrasah Kalam-e Qom", hlm. 83.
  73. Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 70-71.
  74. Abidi, Madrasah-ye Kalam-e Qom, 1384 HS, hlm. 2-3.
  75. "Jostari-hayi dar Madrasah-ye Kalam-e Qom", Situs Informasi Hadis Syiah.

Catatan

Templat:Y

Daftar Pustaka

  • Abidi, Ahmad. Madrasah-ye Kalam-e Qom. Qom, Astana Muqaddasah Qom, Penerbit Za'ir, cetakan pertama, 1384 HS.
  • Akhwan, Mohammad. "Kulaini va Aql-gerayi". Dua-bulanan Ayine-ye Pajuhish, nomor 81, Mordad dan Syahrivar 1382 HS.
  • Al-Amili, Amin Turmus. Buhuts haula Riwayat al-Kafi. Qom, Muassasah Dar al-Hijrah, cetakan pertama, 1415 H.
  • Ata'i Nazari, Hamid. "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani". Dua-bulanan Ayine-ye Pajuhish, nomor 171, Mordad dan Syahrivar 1397 HS.
  • Farmanian, Mahdi dan Sadeqi Kasjani, Mostafa. Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah; az Aghaz ta Zuhur-e Safaviyah. Qom, Pajuhisygah-e Ulum va Farhang-e Islami, cetakan pertama, 1394 HS.
  • Haeri, Mohammad bin Ismail. Muntaha al-Maqal fi Ahwal al-Rijal. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), cetakan pertama, 1416 H.
  • Jafari, Ya'qub. "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri". Dalam Maqalat-e Farsi (Majmu'ah Maqalat-e Kongre-ye Syekh Mufid, jld. 69). Qom, al-Mu'tamar al-Alami li-Alfiyah al-Syekh al-Mufid, cetakan pertama, 1413 H.
  • Jebraili, Mohammad Safar. Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah. Daftar kedua: Dari Era Ghaibah hingga Khwajah Nasir Thusi. Teheran, Penerbit Institut Riset Kebudayaan dan Pemikiran Islam, cetakan pertama, 1389 HS.
  • "Jostari-hayi dar Madrasah-ye Kalam-e Qom". Situs Informasi Hadis Syiah, tanggal kunjungan: 11 Bahman 1399 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Qom, Dar al-Hadits, cetakan pertama, 1429 H.
  • Madelung, Wilferd. Mazhab-mazhab Islam. Terjemahan: Abul Qasim Seri. Teheran, Asathir, cetakan kedua, 1381 HS.
  • Mamaqani, Abdullah bin Muhammad. Tanqih al-Maqal fi 'Ilm al-Rijal. Qom, Muassasah Al al-Bait (as), tanpa tahun.
  • Najasyi, Ahmad bin Ali. Rijal al-Najasyi. Qom, Daftare Nasre Islami, cetakan keenam, 1365 HS.
  • Sayyid Murtadha, Ali bin al-Husain. Rasail al-Syarif al-Murtadha. Penyusun: Mahdi Raja'i. Qom, Dar al-Qur'an al-Karim, 1405 H.
  • Sobhani, Mohammad Taqi. "Kalam-e Imamiyah; Risye-ha va Ruyesy-ha". Faslnamah Naqd va Nazar, nomor 65, musim semi 1391 HS.
  • Syekh Saduq, Muhammad bin Ali bin Babawayh. al-I'tiqadat. Qom, al-Mu'tamar al-Alami lil-Syekh al-Mufid, cetakan kedua, 1414 H.
  • Syekh Saduq, Muhammad bin Ali bin Babawayh. al-Tauhid. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan pertama, 1398 H.
  • Syekh Saduq, Muhammad bin Ali bin Babawayh. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Riset: Ali Akbar Ghaffari. Qom, Daftare Entesyarat-e Islami, cetakan kedua, 1413 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin al-Hasan. al-Fihrist. Riset: Abdul Aziz Thabathaba'i. Qom, Maktabah al-Muhaqqiq al-Thabathaba'i, cetakan pertama, 1420 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin al-Hasan. Rijal al-Thusi. Riset dan koreksi: Javad Qayumi Isfahani. Qom, Daftare Nasre Islami, cetakan ketiga, 1373 HS.
  • Thaliqani, Sayyid Hasan. "Ikhraj-e Ravayan az Qom; Eqdami-ye Ejtema'i ya E'teqadi". Faslnamah Naqd va Nazar, nomor 67, musim gugur 1391 HS.
  • Thaliqani, Sayyid Hasan. "Madrasah-ye Kalam-e Qom". Faslnamah Naqd va Nazar, nomor 65, musim semi 1391 HS.