Konsep:Jāmi' Hadits
Jāmi' Hadits merujuk pada kategori kitab-kitab riwayat yang mengumpulkan seluruh tema dan bab hadis di dalamnya. Dalam sebuah Jāmi' hadis, seseorang dapat menemukan hadis mengenai tema apa pun. Bentuk jamak dari istilah ini, "Jawāmi' al-Hadīts", juga digunakan, dan untuk beberapa kumpulan yang terdiri dari beberapa kitab Jāmi' sendiri, digunakan istilah "Majāmi'". Jāmi' hadis terkadang mencakup seluruh bab hadis dan terkadang hanya mencakup bab-bab fikih secara komprehensif.
Karakteristik Jāmi' Hadits
Para ahli hadis Ahlusunnah mengategorikan seluruh hadis dan materi agama ke dalam delapan tema (Akidah, Hukum, Sirah, adab, Tafsir, fitan (fitnah), Asyrāt al-Sā'ah, dan manaqib),[1] dan mereka berpendapat bahwa Jāmi' hadis adalah kitab yang mencakup semuanya. Meskipun demikian, terdapat perbedaan pendapat mengenai sebagian dari kategori tersebut.
Dalam kitab-kitab Jāmi' atau Jawāmi' hadis, urutan penyusunan hadis didasarkan pada tema (subjek), bukan berdasarkan perawi sebagaimana dalam kitab-kitab Musnad dan Mu'jam.[2]
Sejarah Penyusunan Jawāmi' Hadis Syiah
Dalam sejarah kodifikasi hadis, penyusunan Jawāmi' hadis menjadi sebuah kebutuhan setelah adanya upaya sistematisasi dan pengategorian hadis ke dalam bab-bab, yakni sejak akhir Abad ke-2 Hijriah' yang merupakan awal dimulainya penyusunan Jawāmi' hadis di kalangan Syiah dan Ahlusunnah.
Di kalangan perawi hadis Syiah, sebelum munculnya Al-Kutub al-Arba'ah, Jawāmi' hadis pertama telah disusun. Kitab-kitab ini terbagi menjadi dua kelompok: kelompok pertama menggunakan judul al-Jāmi,[3] al-Jāmi' fi Anwa' al-Syara'i,[4] al-Jāmi' fi Abwāb al-Syari'ah,[5] al-Jāmi' fi al-Hadits,[6] dan al-Jāmi' fi al-Fiqh,[7] yang jumlahnya sangat banyak; bahkan Jāmi'-jāmi' fikih yang disusun pada periode ini pun memiliki karakter hadis yang kuat.
Kelompok lainnya, meskipun tidak menggunakan judul al-Jāmi', memiliki konten yang sama dengan kitab-kitab Jāmi' hadis. Kitab-kitab semacam ini terkadang disebut dengan judul Nawādir, Masyikhah, dan terkadang dengan judul khusus seperti al-Mahāsin. Dari kitab-kitab al-Mahāsin, terdapat 13 kitab yang tersisa dan telah dicetak. Templat:Jawami' Riwayat Syiah
Abad Kedua dan Ketiga
Beberapa Jawāmi' hadis yang disusun pada abad kedua dan ketiga antara lain:
- al-Jāmi' fi al-Ahādīts, karya Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr al-Bizanthi;
- al-Jāmi' fi al-Hadīts, karya Abu Tahir Warraq al-Hadhrami;
- al-Jāmi' fi al-Hadīts, karya Abu Abdillah Musa bin Qasim bin Mu'awiyah al-Bajali;
- al-Jāmi' fi Abwāb al-Fiqh, karya Abul Hasan Ali bin Abi Hamzah al-Batha'ini;
- al-Jāmi' fi Abwāb al-Halāl wa al-Harām atau Jāmi' al-Syarā'i', karya Zharif bin Nashih al-Kufi;
- al-Jāmi' al-Kabīr fi al-Fiqh atau Jāmi' al-Ātsār, karya Yunus bin Abdurrahman;
- al-Jāmi' fi al-Fiqh, karya Hasan bin Zaid bin Muhammad;
- al-Jāmi' fi al-Fiqh, karya Muhammad bin Ali bin Mahbub;
- al-Jāmi' al-Kabīr fi al-Fiqh dan al-Jāmi' al-Shaghīr fi al-Fiqh, keduanya karya Ibrahim bin Muhammad al-Tsaqafi.[8]
Abad Keempat hingga Keenam
Pada rentang abad keempat hingga keenam, muncul Jawāmi' hadis penting pertama Syiah, yang sebagian memiliki nama Jāmi' dan sebagian lainnya seperti Al-Kutub al-Arba'ah tidak menggunakan judul tersebut. Selain Al-Kutub al-Arba'ah, yang merupakan Jawāmi' hadis paling menonjol pada periode ini, Jawāmi' lainnya telah hilang dan hanya namanya saja yang tertinggal dalam daftar pustaka (fihrist), seperti:
- al-Jāmi' fi Abwāb al-Syari'ah karya Abu Muhammad Hasan bin Ali al-Hajjal (w. 343 H);
- al-Jāmi' fi Anwā' al-Syarā'i' karya Humaid bin Ziyad al-Kufi (w. 310 H);
- al-Jāmi' fi al-Hadīts karya Abu Muhammad Hasan bin Ahmad bin Muhammad al-Ajli, sezaman dengan al-Najasyi;
- al-Jāmi' fi al-Hadīts, karya Sayid Syarif Hasan bin Hamzah (w. 358 H);
- al-Jāmi' fi al-Hadīts, karya Muhammad bin Ahmad bin Yahya, salah satu guru Saduq, yang kemungkinan kitab Jāmi'-nya adalah Nawādir al-Hikām;
- al-Jāmi' fi al-Hadīts, karya Abu Ja'far Muhammad bin Hasan bin Ahmad Walid (w. 343 H);
- al-Jāmi' fi al-Fiqh, karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abdillah al-Safwani, murid dari Kulaini;
- al-Jāmi' fi al-Akhbār, karya Abul Hasan Ali bin Said (w. setelah 585 H);
- Jāmi' al-Ahādīts al-Nabawiyyah, karya Abu Muhammad Ja'far bin Ahmad bin Ali al-Qomi, salah satu guru Syekh Saduq.[9]
Jawāmi' hadis Syiah yang paling penting dan menonjol pada periode ini adalah Al-Kutub al-Arba'ah, yang terdiri dari:
1) Kāfī, karya Muhammad bin Ya'qub al-Kulaini (w. 329 H), yang merupakan Jāmi' yang istimewa karena mencakup berbagai jenis hadis akidah, akhlak, adab, dan fikih, serta kedekatan masa penulisnya dengan masa para Imam (as) dan para pemilik Ushūl serta kitab hadis awal, sehingga terdapat hadis-hadis dengan sanad yang tinggi ('ālī al-sanad) di dalamnya serta riwayat-riwayatnya yang terdokumentasi (musnad). Kitab ini memuat sekitar 16.000 hadis.[10]
2) Kitab Man La Yahdhuruhu al-Faqih, karya Abu Ja'far Muhammad bin Ali bin Husain bin Babuyeh al-Qomi yang dikenal sebagai Syekh Saduq (w. 381 H), mencakup sekitar 6.000 hadis fikih.
3) Tahdzib al-Ahkam, karya Abu Ja'far Muhammad bin Hasan al-Thusi yang dikenal sebagai Syekh Thusi (w. 460 H), yang disusun dengan tujuan menyelesaikan ketidakselarasan di antara hadis-hadis fikih.[11] Kitab ini sebenarnya adalah penjelasan riwayat (syarh rawai) atas risalah fikih al-Muqni'ah karya Syekh Mufid, mencakup sekitar 13.600 hadis fikih.
4) Al-Istibshar fima Ukhtulifa min al-Akhbar, karya penulis yang sama, dalam bidang pengumpulan berita-berita yang tampak berselisih dan cara mengompromikannya, mencakup sekitar 5.500 hadis fikih.
Abad Ketujuh hingga Keempat Belas
Dari abad ketujuh hingga akhir abad ketiga belas, khususnya pada abad kesebelas dan kedua belas, dengan memanfaatkan sumber-sumber hadis dari periode sebelumnya, disusunlah Jawāmi' besar yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Karya-karya pada periode ini jarang menggunakan judul Jāmi', dan hanya sedikit karya yang terkenal dengan judul tersebut.
Yang paling masyhur di antaranya adalah Jāmi' al-Akhbār karya Allamah Hilli (w. 726 H).[12] Kitab lainnya adalah Jāmi' al-Akhbār fi Īdhāh al-Istibshār karya Abdul Lathif bin Ali bin Ahmad bin Abi Jami' al-Amuli, murid dari Syaikh Bahai.
Jawāmi' hadis periode ini, yang sebagian besar memiliki nama-nama khusus, antara lain:
- Al-Wafi, karya Maula Muhsin Faidh Kasyani (w. 1091 H) yang merupakan Jāmi' bagi berita-berita dalam Al-Kutub al-Arba'ah dengan menghapus pengulangan serta menjelaskan masalah-masalah di dalamnya. Oleh karena itu, al-Wāfī adalah Jāmi' hadis fikih, sejarah, akidah, dan akhlak yang menurut perhitungan Agha Buzurg Tehrani[13] memiliki sekitar lima puluh ribu hadis.
- Tafshīl Wasā'il al-Syī'ah ilā Tahshīl Masā'il al-Syarī'ah, karya Muhammad bin Hasan al-Hurr al-Amuli (w. 1104 H), yang dikenal dengan nama Wasā'il al-Syī'ah. Kitab ini mencakup hadis-hadis hukum fikih yang ada dalam Al-Kutub al-Arba'ah dan lebih dari tujuh puluh kitab hadis lainnya, menjadikannya koleksi hadis fikih Syiah yang tiada bandingnya. Wasā'il al-Syī'ah memiliki 35.850 hadis dan disusun berdasarkan bab-bab fikih, mulai dari bab bersuci (thaharah) hingga tebusan (diyat).[14]
- Bihār al-Anwār al-Jāmi'ah li Durar Akhbār al-Aimmah al-Athhār, karya Allamah Majlisi (w. 1110 H), yang merupakan Jawāmi' hadis Syiah paling tebal dan komprehensif.
- Mustadrak al-Wasā'il wa Mustanbath al-Masā'il, karya Mirza Husain Nuri (w. 1320 H). Kitab ini adalah pelengkap (mustadrak) bagi kitab Wasā'il al-Syī'ah karya Syekh Hurr Amuli, namun dengan memperhatikan volume hadisnya, ketelitian penyusunannya, serta akses penulis ke beberapa kitab kuno, kitab ini menjadi salah satu Jawāmi' hadis penting pada periode ini. Kitab ini juga disusun berdasarkan bab-bab fikih dan mencakup 23.514 hadis.[15]
- Jawāmi' al-Kalim, karya Sayid Muhammad bin Syarafuddin yang dikenal sebagai Sayid Mirza al-Jazairi, salah satu guru Allamah Majlisi. Kitab ini mengumpulkan hadis-hadis dalam Al-Kutub al-Arba'ah dan kitab hadis Syiah lainnya, baik yang shahih, hasan, maupun muwatstsaq, serta mencakup hadis mengenai Ushuluddin, Tafsir, adab, akhlak, dan fikih hingga bab Haji.[16]
- 'Awālim al-'Ulūm wa al-Ma'ārif wa al-Ahwāl 'an al-Āyāt wa al-Akhbār wa al-Aqwāl, karya Abdullah bin Nurullah al-Bahrani, salah satu murid Allamah Majlisi, yang jauh lebih tebal daripada Bihār al-Anwār karya Majlisi.[17]
- al-Awfā, karya Fadhlali Beg bin Syahwardi, salah satu murid Allamah Majlisi, yang menurut istilah Agha Buzurg Tehrani[18] dinamakan demikian karena keindahan sistematikanya. Kitab ini belum pernah dicetak hingga saat ini.
- al-Syifā' fi Akhbār Āl al-Mushthafā, karya Muhammad Reza bin Abdul Muthalib al-Tabrizi. Agha Buzurg Tehrani[19] melihat jilid pertama kitab ini di Najaf dan menganggapnya mencakup riwayat-riwayat dari al-Wāfī, Bihār al-Anwār, dan Wasā'il al-Syī'ah yang disusun dengan cara yang sangat baik.
- Jāmi' al-Ma'ārif wa al-Ahkām, karya Sayid Abdullah bin Muhammad Reza Syubbar (w. 1242 H) yang juga dikenal sebagai Jāmi' al-Ahkām dan termasuk Jawāmi' yang tebal serta memuat hadis terkait Ushuluddin dan hukum fikih.[20]
- Jāmi' al-Ahkām wa al-Sunan, karya Muhammad bin Sulaiman bin Zuwair al-Khaththi al-Sulaimani (w. 1138 H), di mana menurut catatan Agha Buzurg Tehrani[21] naskah tidak lengkapnya dengan tulisan tangan penulis ada di perpustakaan Sayid Hasan Sadr di Kazhimain. Berdasarkan apa yang disebutkan penulis di awal kitab, kitabnya mencakup riwayat-riwayat sunah dan hukum syariat yang dikumpulkan dari kitab-kitab selain Al-Kutub al-Arba'ah.
- Jāmi' al-Ahādīts, karya Muhammad Najaf al-Kirmani al-Masyhadi (w. 1292 H), salah satu arif yang berhaluan Akhbari.[22]
Era Kontemporer
Di era kontemporer, beberapa kitab Jāmi' hadis juga disusun di kalangan Syiah sebagai berikut:
- al-Jāmi' fi al-Akhbār, karya Muhammad Ali bin Muhammad Husaini Syah Abdul Azhimi (w. 1334 H).[23]
- Jāmi' Ahādīts al-Syī'ah fi Ahkām al-Syarī'ah yang disusun di bawah pengawasan Ayatullah Boroujerdi (w. 1340 HS) dengan kerja sama sejumlah muridnya. Kitab ini adalah Jāmi' hadis fikih Syiah terakhir dan paling komprehensif, yang sebenarnya berisi pemurnian (tanqih), penyelarasan (tahdzib), dan pelengkap bagi kitab Wasā'il al-Syī'ah karya Syekh Hurr Amuli. Dalam kitab ini, hadis-hadis fikih sejauh mungkin diekstraksi dari sumber-sumber kuno dan dicantumkan tanpa dipotong-potong (taqthi'). Kitab Jāmi' Ahādīts al-Syī'ah menurut perhitungan dalam edisi 31 jilidnya, memiliki 48.342 hadis.
- al-Hayat, karya Mohammad Reza Hakimi, Muhammad Hakimi, dan Ali Hakimi yang mencakup penyusunan baru hadis dan ayat dalam tema akidah, akhlak, politik, ekonomi, pendidikan, dan sosial.[24]
- Mizan al-Hikmah, karya Mohammad Mohammadi Reysyahri, terdiri dari 564 judul, 4260 bab, dan 23.030 hadis. Judul-judul utama kitab disusun berdasarkan urutan alfabetis. Kumpulan ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia.
Sejarah Penyusunan Jawāmi' Hadis di Kalangan Ahlusunnah
Penyusunan Jawāmi' hadis pada abad ketiga di kalangan Ahlusunnah menyebar secara luas. Pada periode ini pertama kali muncul kitab-kitab "Musnad" yang mencakup berbagai jenis hadis (kitab musnad adalah kitab yang hadisnya diklasifikasikan dan disusun berdasarkan nama perawinya) dan setelah itu muncul kitab-kitab "Sihah" dan "Sunan" yang masing-masing merupakan Jawāmi' besar dari hadis-hadis Ahlusunnah. Sejak saat itu, ritme penyusunan Jawāmi' hadis di kalangan mereka semakin cepat dan terus berlanjut hingga saat ini.
Dalam sejarah hadis Ahlusunnah, disusun dua jalur kitab hadis, yaitu "Mushannafāt" dan "Masānid". Dari kitab-kitab Mushannaf dan juga al-Muwaththa' karya Malik terkadang disebut dengan istilah "Jāmi'" atau "Majmū'".[25] Hadis-hadis di dalamnya disusun berdasarkan bab.[26]
Beberapa kitab penting yang tersisa dari periode ini antara lain: al-Muwaththa karya Malik bin Anas (w. 179 H) dalam enam puluh kitab fikih dan 703 bab; sebagian dari al-Mushannaf, karya Abu Muhammad Abdullah bin Wahb al-Fihri al-Qurasyi (w. 197 H), bernama al-Jāmi' fi al-Hadīts;[27] al-Jāmi, karya Ma'mar bin Rasyid al-Azdi (w. 153 H) dengan riwayat Abdurrazzaq al-Shan'ani (w. 211 H), mencakup 1.614 hadis dan atsar yang dicetak bersama dengan Mushannaf Abdurrazzaq (jld. 10 dan 11); al-Mushannaf atau al-Mushannaf fi al-Hadīts, karya Abdurrazzaq al-Shan'ani, yang juga disebut al-Jāmi' al-Kabīr atau al-Jāmi' al-Kabīr fi al-Hadīts;[28] al-Mushannaf fi al-Ahādīts wa al-Ātsār karya Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H).
Kitab-kitab Musnad juga dapat dihitung dalam jajaran Jawāmi' karena keluasan dan cakupan hadisnya.
Dari awal abad ketiga hingga akhir abad kelima, muncul Jawāmi' hadis Ahlusunnah yang paling valid, yang terpenting di antaranya adalah Al-Sihah al-Sittah:
- al-Jāmi' al-Shahīh al-Musnad al-Mukhtashar min Umūr Rasūlillāh wa Sunanihi wa Ayāmihi, dikenal sebagai Shahih Bukhari, karya Muhammad bin Ismail al-Bukhari (w. 256 H), yang merupakan contoh menonjol dari kitab Jāmi' hadis dan istilah "Jāmi'" digunakan oleh Bukhari sendiri dalam judul kitabnya;[29]
- al-Musnad al-Shahīh dikenal sebagai Shahih Muslim, karya Muslim bin Hajjaj al-Naisaburi (w. 261 H), yang juga disebut sebagai al-Jāmi' al-Shahīh;[30]
- al-Jāmi' al-Shahīh dikenal sebagai Sunan Tirmidzi, karya Abu Isa al-Tirmidzi (w. 279 H), yang karena mencakup hadis fikih dan non-fikih, masyhur dengan nama "al-Jāmi'";[31]
- al-Sunan dikenal sebagai Sunan Ibnu Majah, karya Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah al-Qazwini (w. 273 atau 275 H);
- al-Sunan, karya Abu Dawud Sulaiman bin Asy'ats al-Sijistani (w. 275 H);
- al-Sunan al-Shughrā dikenal sebagai Sunan Nasa'i, karya Ahmad bin Syu'aib al-Nasa'i (w. 303 H). Al-Nasa'i sebelumnya telah menyusun kitab al-Sunan al-Kubrā,[32] yang merupakan Jawāmi' besar bagi hadis fikih, akhlak, akidah, dan Tafsir.
- Selain Al-Sihah al-Sittah', karya-karya lain juga muncul pada periode ini, termasuk: al-Sunan karya al-Darimi (w. 255 H) yang juga dikenal sebagai al-Musnad dan al-Musnad al-Jāmi;[33] Shahīh Ibn Khuzaimah (w. 311 H), Shahīh Ibn Hibbān (w. 354 H), Shahīh Abu 'Awānah (w. 316 H), dan Mushannaf Abu Ja'far Ahmad bin Muhammad al-Thahawi (w. 321 H).
Tampaknya kitab-kitab "Mustadrak" yang merupakan pelengkap bagi kitab Shahih dan kitab-kitab "Mustakhraj" yang merupakan penyusunan ulang darinya, juga dapat dimasukkan ke dalam kategori Jawāmi' hadis.
Dari abad kelima dan seterusnya, yakni periode di mana para ahli hadis menggunakan secara langsung karya-karya periode sebelumnya untuk menyediakan sumber hadis yang besar, disusunlah berbagai macam Jawāmi'. Salah satu jenis karya ini menggunakan judul umum "al-Jam' bayna al-Shahīhayn" di mana hadis-hadis dari dua kitab shahih (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dikumpulkan menjadi satu dan sering kali hadis yang berulang di dalamnya dihapus. Di antara jenis kitab ini adalah al-Jam' bayna al-Shahīhayn karya Muhammad bin Futuh al-Humaidi (w. 488 H) dan al-Jam' bayna al-Shahīhayn karya Abdul Haq bin Abdurrahman al-Isybili yang dikenal sebagai Ibnu Kharrat (w. 581 H).
Bagian lain dari kitab-kitab ini adalah kompilasi kesamaan dan poin-poin yang disepakati (muttafaq 'alayh) dari Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, seperti Mufīd al-Sāmi' wa al-Qāri' fīmā Ittafaqa 'alayhi Muslim wa al-Bukhārī karya Ahmad bin Abdurrahman bin Muhammad al-Maqdisi (w. 758 H), al-Lu'lu' wa al-Marjān fīmā Ittafaqa 'alayhi al-Syaykhān karya Muhammad Fuad Abdul Baqi, dan Zād al-Muslim fīmā Ittafaqa 'alayhi al-Bukhārī wa Muslim karya Muhammad Habibullah al-Syanqithi (w. 1363 H). Beberapa jenis kitab ini, seperti al-Jam' bayna al-Shahīhayn karya al-Humaidi, disusun dengan cara kitab musnad, namun hampir semuanya disusun berdasarkan bab dan tema fikih.
Sejumlah ahli hadis menciptakan Jawāmi' yang besar dengan menggabungkan Al-Sihah al-Sittah. Dalam kitab-kitab ini, untuk memudahkan pekerjaan, kumpulan hadis dari Jawāmi' sebelumnya dikumpulkan menjadi satu dalam bentuk lengkap atau tidak lengkap, dan sering kali dengan menghapus pengulangan. Di antara yang paling penting adalah:
- al-Tajrīd li al-Sihāh al-Sittah atau al-Tajrīd li al-Sihāh wa al-Sunan, karya Razin bin Mu'awiyah al-Abdari al-Saraqusthi al-Andalusi (w. 535 H), yang dianggap sebagai upaya pertama dalam mengumpulkan riwayat-riwayat Al-Sihah al-Sittah dalam satu format karya tunggal;[34]
- Jāmi' al-Ushūl min Ahādīts al-Rasūl, karya Ibnu al-Atsir al-Jazari (w. 606 H), di mana dalam karya ini, Ibnu al-Atsir menjadikan kitab Razin bin Mu'awiyah sebagai landasannya dengan perbedaan bahwa ia mempertimbangkan seluruh riwayat dari Al-Sihah al-Sittah dan menghapus pengulangannya;[35]
- Sejumlah koleksi (Majāmi') lainnya disusun menggunakan seluruh atau sebagian dari Al-Sihah al-Sittah, kitab musnad, dan kitab hadis lainnya, di mana yang terpenting adalah:
- Mashābīh al-Sunnah karya Abu Muhammad Husain bin Mas'ud yang dikenal sebagai al-Baghawi al-Farra' (w. 516 H) yang mencakup pilihan hadis dari Al-Sihah al-Sittah dan beberapa karya hadis penting lainnya.[36] Protes yang kemudian ditujukan kepada kitab ini menyebabkan Abu Abdillah al-Khathib al-Umari (w. 737 H) menyusun kitab Misykāt al-Mashābīh. Dalam kitab ini, selain menentukan sumber-sumber Mashābīh al-Sunnah, ia mengkritik riwayat-riwayatnya dan menyusun riwayat di setiap bab ke dalam tiga fasal, di mana fasal ketiga dikhususkan bagi riwayat yang telah dihapus dalam Mashābīh al-Sunnah.[37] Kitab lain dari al-Baghawi dengan judul Syarh al-Sunnah, merupakan Jāmi' dalam berbagai tema agama khususnya fikih.
- Jāmi' al-Masānid wa al-Alqāb karya Abdurrahman bin Ali yang dikenal sebagai Ibn al-Jauzi (w. 597 H). Belakangan, Muhibbuddin al-Thabari (w. 649 H) menyusunnya kembali dengan format baru.
- Jāmi' al-Masānid wa al-Sunan al-Hādī li-Aqwam Sunan karya Abul Fida' Imaduddin bin Katsir al-Dimasyqi (w. 774 H) yang menurut penegasan penulisnya sendiri,[38] merupakan Jāmi' hadis dari kitab-kitab penting termasuk Al-Sihah al-Sittah, musnad-musnad dari Ahmad bin Hanbal, Abu Bakar al-Bazzar, Hafizh Abu Ya'la, dan Mu'jam besar dari Sulaiman bin Ahmad al-Thabarani (w. 360 H). Ia juga menggunakan sumber hadis lainnya dalam menyusun karya ini sedemikian rupa sehingga jarang ada hadis terkait keniscayaan agama (dharuriyat) yang tidak disebutkan di dalamnya. Kitab ini disusun dengan metode musnad (di mana riwayat disusun berdasarkan nama perawinya).
- al-Jāmi' al-Kabīr atau Jam' al-Jawāmi karya Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar al-Suyuthi (w. 911 H). Kitab ini adalah Jāmi' hadis dari Al-Sihah al-Sittah, musnad Ahmad bin Hanbal, Muwaththa Malik, dan sekitar tujuh puluh referensi hadis lainnya.[39]
- al-Jāmi' al-Shaghīr min Hadīts al-Basyīr al-Nadzīr karya lain dari al-Suyuthi yang menurut penegasan penulisnya merupakan pilihan (ringkasan) dari Jam' al-Jawāmi. Dalam kitab ini, ia mencukupkan diri dengan menukil hadis-hadis pendek Nabawi berdasarkan urutan alfabetis. Kitab ini memiliki pelengkap (dzail) bernama Ziyādah al-Jāmi yang volumenya hampir sama dengan kitab aslinya.[40]
- al-Fat-h al-Kabīr fi Dhamm al-Ziyādah ilā al-Jāmi' al-Shaghīr karya Yusuf al-Nabhani yang menurut tulisan penulisnya, dua kitab al-Jāmi' al-Shaghīr dan Ziyādah al-Jāmi' dikumpulkan menjadi satu di dalamnya.[41]
- Kanz al-'Ummāl fi Sunan al-Aqwāl wa al-Af'āl karya Ali bin Hisamuddin al-Muttaqi (al-Muttaqi al-Hindi; w. 975 H) yang disusun berdasarkan Jam' al-Jawāmi' namun dengan cara mempertahankan urutan alfabetis sambil disusun berdasarkan tema-tema fikih.[42]
- al-Jāmi' al-Azhār fi Hadīts al-Nabī al-Anwār karya Abdurrauf al-Munawi (w. 1037 H). al-Jāmi' al-Azhār ditulis dengan tujuan menggugurkan klaim al-Suyuthi bahwa dengan menyusun Jam' al-Jawāmi' ia telah membawakan seluruh hadis Nabawi. Ahmad Abdul Jawad dalam al-Durar al-Lawāmi' fi Zawā'id al-Jāmi' al-Azhār 'alā Jam' al-Jawāmi' fi al-Hadīts al-Nabawi telah memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam kitab al-Munawi, khususnya kesalahan cetak di dalamnya.
Catatan Kaki
- ↑ Nuruddin Itr, Manhaj al-Naqd fi 'Ulum al-Hadits, Suriah: Dar al-Fikr, 1406 H, hlm. 198–199.
- ↑ Shabbagh, al-Hadits al-Nabawi, Beirut, 1401 H, hlm. 349–350.
- ↑ Lihat: al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, Qom: Muasasah al-Nasyr al-Islami, hlm. 64–65, 75, 405.
- ↑ al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, Qom: Muasasah al-Nasyr al-Islami, hlm. 132.
- ↑ al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, Qom: Muasasah al-Nasyr al-Islami, hlm. 49.
- ↑ al-Dzari'ah, Tehrani, 1408 H, jld. 5, hlm. 28–29.
- ↑ al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, Qom: Muasasah al-Nasyr al-Islami, jld. 5, hlm. 30.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 5, hlm. 27–30, 62, 68–69.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 5, hlm. 27–31.
- ↑ Nihāyah al-Dirāyah, Hasan Sadr, Penerbit: Nasyr al-Mas'ar, hlm. 541–542.
- ↑ Syekh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, Penerbit: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1364 HS, jld. 1, hlm. 2–3.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 5, hlm. 37.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 25, hlm. 14.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 4, hlm. 352.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 21, hlm. 7–8.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 5, hlm. 253–254.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 15, hlm. 356.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 26, hlm. 71.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 14, hlm. 199–200.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 5, hlm. 71–72.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 5, hlm. 33.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 5, hlm. 31.
- ↑ Tehrani, al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 5, hlm. 27.
- ↑ Jurnal Bayyinat, tahun 10, no. 1–4.
- ↑ Muhammad Ajjaj al-Khatib, 1409 H, Ushul al-Hadits, hlm. 183.
- ↑ Nuruddin Itr, Manhaj al-Naqd fi 'Ulum al-Hadits, Suriah: Dar al-Fikr, 1406 H, hlm. 200.
- ↑ Kazim Tabataba'i, Musnad-nevisi dar Tarikh-e Hadits, hlm. 73, 180.
- ↑ Umar Reza Kahhalah, Mu'jam al-Mu'allifin, jld. 5, hlm. 219; Khairuddin al-Zirikli, al-A'lam, jld. 3, hlm. 353.
- ↑ Muhammad Shabbagh, al-Hadits al-Nabawi, hlm. 295–296.
- ↑ Nuruddin Itr, Manhaj al-Naqd fi 'Ulum al-Hadits, hlm. 254.
- ↑ Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al-Hadits wa al-Muhadditsun, hlm. 415.
- ↑ Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al-Hadits wa al-Muhadditsun, hlm. 409–410.
- ↑ Majid Ma'arif, Jawami' Hadits Ahlusunnah, hlm. 158–161; Paktchi, Pezhuhesyi Piramun-e Jawami' Haditsi Ahlusunnah, Teheran, 1392 HS, hlm. 117.
- ↑ Yusuf Abdurrahman al-Mar'asyali, Ilmu Fihrist al-Hadits, hlm. 70.
- ↑ Ibnu al-Atsir, Jāmi' al-Ushūl fi Ahādīts al-Rasūl, jld. 1, hlm. 49–51; Yusuf Abdurrahman al-Mar'asyali, Ilmu Fihrist al-Hadits, Dar al-Ma'rifah, 1406 H, hlm. 71.
- ↑ Yusuf Abdurrahman al-Mar'asyali, Ilmu Fihrist al-Hadits, jld. 1, hlm. 55.
- ↑ al-Khathib al-Umari, Misykāt al-Mashābīh, Beirut: Dar al-Fikr, 1411 H, jld. 1, hlm. 4–7; Husain bin Mas'ud al-Baghawi, Mashābīh al-Sunnah, jld. 1, hlm. 56.
- ↑ Husain bin Mas'ud al-Baghawi, Mashābīh al-Sunnah, 1433 H, jld. 1, hlm. 10.
- ↑ Sa'ad al-Marshafi, al-Fahāris wa Makānatuhā 'ind al-Muhadditsīn, hlm. 259–262.
- ↑ Sa'ad al-Marshafi, al-Fahāris wa Makānatuhā 'ind al-Muhadditsīn, hlm. 268.
- ↑ Sa'ad al-Marshafi, al-Fahāris wa Makānatuhā 'ind al-Muhadditsīn, hlm. 269.
- ↑ al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummāl, 1407 H, jld. 1, hlm. 13.
Daftar Pustaka
- al-Baghawi, Husain bin Mas'ud, Mashabih al-Sunnah, riset: Yusuf Abdurrahman al-Mar'asyali, Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1407 H / 1987 M.
- al-Dzari'ah, Agha Buzurg Tehrani, Beirut: Dar al-Adhwa', 1403 H / 1983 M.
- al-Khatib al-Umari, Muhammad bin Abdullah, Misykat al-Mashabih, Beirut: Dar al-Fikr, 1411 H / 1991 M.
- al-Khatib, Muhammad Ajjaj, Ushul al-Hadits, Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H / 1989 M.
- al-Muttaqi, Ala bin Hisam, Kanz al-Ummal, Beirut: Muasasah al-Risalah, 1409 H / 1989 M.
- al-Najasyi, Ahmad bin Ali, Rijal al-Najasyi, riset: al-Sayyid Musa al-Syubairi al-Zanjani, Qom: Muasasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
- Itr, Nuruddin, Manhaj al-Naqd, Suriah: Dar al-Fikr, 1406 H / 1985 M.
- Paktchi, Ahmad, Pezhuhesyi Piramun-e Jawami' Haditsi Ahlusunnah, Teheran: Penerbit Universitas Imam Sadiq (as), 1392 HS.
- Sadr, al-Sayyid Hasan, Nihayah al-Dirayah, riset: Majid al-Gharbawi, Penerbit: Nasyr al-Mas'ar, tanpa tahun.
- Shabbagh, Muhammad, al-Hadits al-Nabawi, Beirut: al-Maktab al-Islami, 1401 H / 1981 M.
- Thusi, Muhammad bin Hasan, Tahdzib al-Ahkam, Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1364 HS.