Konsep:Itmam al-hujjah
c || ||
|| - ||
|| - || || ||
| Ma'rifatullah | |
|---|---|
| Tauhid | Tauhid Dzati • Tauhid Sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah |
| Furu' | Tawasul • Syafa'at • Tabarruk • |
| Keadilan Ilahi | |
| Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amrun bainal Amrain • | |
| Kenabian | |
| Keterjagaan • Penutup Kenabian • Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib • Mukjizat • Tiada penyimpangan Alquran | |
| Imamah | |
| Keyakinan-keyakinan | Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman as • Ghaibah Sughra • Ghaibah Kubra • Penantian Imam Mahdi • Kemunculan Imam Mahdi as • Raj'ah |
| Para Imam | |
| Ma'ad | |
| Alam Barzah • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirath • Tathayur al-Kutub • Mizan • Akhirat | |
| Permasalahan Terkemuka | |
| Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja' Taklid | |
Itmamul Hujjah (bahasa Arab: إتمام الحُجَّة) bermakna mendatangkan dalil dan menghilangkan segala alasan. Istilah ini banyak digunakan dalam ilmu-ilmu Islam, khususnya dalam ilmu kalam dan Ushul Fikih. Frasa "Itmamul Hujjah" tidak terdapat dalam Al-Qur'an, namun para ulama mengambil konsep ini dari ayat-ayat seperti ayat 165 Surah An-Nisa dan ayat 15 Surah Al-Isra.
Dikatakan bahwa contoh terpenting dari itmamul hujjah adalah pengutusan para nabi dan penetapan para imam; karena ketika mereka telah menyampaikan pesan Tuhan, masyarakat tidak lagi memiliki alasan di hadapan Tuhan atas kelalaian mereka. Demikian pula, jika pesan para nabi belum sampai kepada masyarakat, Tuhan juga tidak memiliki alasan untuk mengazab mereka di dunia dan akhirat.
Konsep itmamul hujjah digunakan untuk membuktikan beberapa masalah seperti prinsip Bara'ah Syar'iyyah, keharusan Ijtihad, Terjaganya Al-Qur'an dari Tahrif, dan bahkan permulaan perang dengan musuh.
Kedudukan dan Urgensi
Itmamul hujjah bermakna mendatangkan dalil dan bukti-bukti yang menutup jalan bagi segala bentuk uzur (alasan),[1] dan individu yang telah ditegakkan hujah atasnya harus menerima konsekuensi dari keputusannya.[2] Itmamul hujjah digunakan baik dalam ilmu kalam dan akidah[3] maupun dalam ilmu Fikih dan Ushul.[4] Menurut Sayid Muhammad Taqi Mudarrisi, mufasir dan fakih Syiah, itmamul hujjah melalui penjelasan jalan hidayah manusia merupakan salah satu tanda rahmat Allah kepada manusia[5] dan tanpa itmamul hujjah, Dia tidak akan mengazab siapa pun.[6]
Ungkapan itmamul hujjah tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an,[7] namun menurut Da'irat al-Ma'arif Qur'an-e Karim (Ensiklopedia Al-Qur'an Karim), banyak ayat Al-Qur'an yang mengisyaratkan hal tersebut.[8] Di antaranya adalah Ayat 165 Surah An-Nisa yang menjelaskan tujuan pengutusan para nabi sebagai berikut: Agar manusia tidak memiliki alasan (hujah) untuk membantah Allah. Allamah Thabathaba'i juga mengambil konsep itmamul hujjah dari Ayat 19 Surah Al-Maidah.[9] Para penulis Tafsir Nemuneh juga menggunakan konsep itmamul hujjah dari Ayat 30 Surah Al-An'am yang berkaitan dengan Hari Kiamat.[10] Sebagian meyakini bahwa dalam beberapa riwayat, itmamul hujjah disebut dengan ungkapan penegakan dan keharusan penyampaian dalil atau hujah.[11]
Itmamul Hujjah, Filosofi Kenabian dan Imamah
Menurut para mutakallim, sebagaimana ditegaskan oleh Allamah Thabathaba'i, tugas utama para nabi tidak lebih dari sekadar penyampaian (tablig) dan itmamul hujjah.[12] Mufasir lain di bawah Ayat 11 Surah Al-An'am yang berbicara tentang sisi kemanusiaan para nabi, menegaskan bahwa tujuan pengutusan para nabi adalah itmamul hujjah.[13] Poin ini juga dijelaskan berdasarkan kalimat-kalimat dari khotbah pertama Nahjul Balaghah.[14] Subhani menegaskan bahwa jika Allah tidak mengutus nabi, atau mengutus namun nabi tersebut tidak dapat menjelaskan semua hukum, atau menjelaskan sebagian dan tidak menjelaskan sebagian lainnya, atau menjelaskan namun ada penghalang sehingga hukum-hukum tersebut tidak sampai kepada masyarakat, maka hujah tidak akan tegak (sempurna).[15] Dalam konteks ini, Abdullah Jawadi Amuli, teolog Syiah, menganggap salah satu alasan tidak adanya tahrif (distorsi) dalam Al-Qur'an adalah keharusan itmamul hujjah.[16]
Menurut Syiah, filosofi utama Imamah juga sama seperti kenabian, yaitu itmamul hujjah.[17] Ali Rabbani Golpaygani menjelaskan alasan ini dengan bersandar pada hadis-hadis dari Imam Kazhim as dan Imam Shadiq as, dan menegaskan bahwa karena Al-Qur'an tidak menjelaskan rincian dan detail syariat, sementara Nabi Muhammad saw telah wafat, maka itmamul hujjah tidak akan terwujud tanpa pengangkatan para Imam.[18] Dalam kitab hadis Al-Kafi, yang merupakan salah satu dari Empat Kitab Utama hadis Syiah, Kulaini mengkhususkan dua bab untuk riwayat-riwayat tentang itmamul hujjah; pertama "Bab al-Bayan wa al-Ta'rif wa Luzum al-Hujjah"[19] dengan enam hadis yang diterjemahkan oleh penerjemah seperti Kamare'i[20] dan Sayid Jawad Mustafawi (1301-1368 HS/1923-1990)[21] sebagai "Bab Penjelasan dan Definisi Itmamul Hujjah"; yang kedua adalah "Bab Anna al-Hujjah La Taqumu lillahi 'ala Khalqihi illa bi al-Imam"[22] dengan empat hadis yang diterjemahkan oleh Muhammad Baqir Kamare'i sebagai: "Bab bahwa itmamul hujjah dari sisi Allah atas makhluk-Nya tidak mungkin kecuali dengan keberadaan Imam".[23]
Konsep Hujah
Hujah bermakna sesuatu yang dapat dijadikan pegangan dan argumen dalam menghadapi orang lain, serta membuat perilaku dan keyakinan seseorang dapat dipertanggungjawabkan.[24] Dalam keyakinan agama, hujah ini bisa berasal dari sisi Allah maupun dari sisi hamba;[25] artinya, Allah menggunakannya dalam posisi menuntut pertanggungjawaban hamba-hamba-Nya,[26] dan hamba juga dapat menggunakan hujah untuk menyampaikan alasan (uzur) mereka.[27]
Hujah Lahiriah dan Batiniah
Ulama Syiah berdasarkan hadis-hadis yang diriwayatkan dari Imam-Imam Syiah,[28] membagi hujah menjadi dua jenis: Hujah Lahiriah dan Hujah Batiniah.[29] Dalam riwayat-riwayat ini, Akal dianggap sebagai hujah batiniah, sedangkan para nabi dan para imam dianggap sebagai hujah lahiriah.[30]
Jenis-Jenis Itmamul Hujjah
Allamah Majlisi, seorang muhaddits Syiah terkemuka dalam kitab Haqq al-Yaqin, menganggap itmamul hujjah memiliki beberapa jenis dan menjelaskan bahwa bagi mereka yang berada di lingkungan Islam dan memiliki orang tua Muslim, sekadar memiliki keyakinan dugaan (zhanni) terhadap agama berdasarkan sangka baik (husnuzan) kepada orang tua dan guru mereka sudah cukup untuk itmamul hujjah.[31] Ia menganggap kadar itmamul hujjah ini cukup bagi mayoritas makhluk.[32] Menurut Majlisi, seseorang yang dengan merujuk pada dalil-dalil global telah mencapai ilmu atau dugaan yang mendekati ilmu, kadar ini juga cukup sebagai itmamul hujjah baginya.[33] Orang-orang seperti ini jika mengubah agama mereka, tidak akan dimaafkan (ma'dzur);[34] namun bagi mereka yang tidak berada di lingkungan Islam dan tidak memiliki permusuhan dengan kebenaran, jika mereka tidak menemukan jalan menuju kebenaran, mereka dimaafkan di sisi Allah dan tidak akan masuk Neraka; karena Allah tidak menghukum siapa pun tanpa itmamul hujjah.[35]
Kecukupan Akal untuk Itmamul Hujjah
Syekh Mufid, mutakallim Syiah abad ke-4 Hijriah, mengatakan bahwa Syiah sepakat bahwa akal tanpa disertai sama' (dalil naqli) tidak menetapkan taklif apa pun.[36] Sebaliknya, Syekh Thusi, fakih dan mufasir abad ke-5 Hijriah, menganggap dalil akal cukup untuk itmamul hujjah dan Allah berhak mengazab individu berdasarkan pemahaman akal mereka tersebut.[37] Syirazi (W. 1380 HS/2002), fakih dan mufasir Syiah lainnya, meyakini bahwa argumen akal tidak cukup untuk itmamul hujjah dan Allah harus mendatangkan hujah lahiriah untuk mengazab.[38] Meskipun demikian, menurut Tafsir Nemuneh, dalam beberapa pembahasan, dalil akal cukup untuk itmamul hujjah, dan ayat 15 Surah Al-Isra: (وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا) (Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul) yang menganggap itmamul hujjah akal tidak cukup, berkaitan dengan azab duniawi.[39] Murtadha Muthahhari menganggap azab akhirat juga bersyarat pada itmamul hujjah dengan kedatangan para nabi.[40] Demikian pula Thabathaba'i dalam kitab Syi'ah dar Eslam tidak menganggap akal cukup untuk itmamul hujjah dan meyakini bahwa tanpa kedatangan para nabi, hujah tidak akan sempurna.[41] Sayid Abdul A'la Sabzawari, fakih dan mufasir Syiah, juga meyakini bahwa bahkan dengan adanya hukum akal atas sesuatu, jika Syari' (Pembuat Syariat) menjelaskan hukum yang sama, maka itmamul hujjah tercapai.[42]
Hubungan Itmamul Hujjah dengan Ijtihad dan Mukjizat
Sayid Khui, salah satu Marja Taklid Syiah, berkeyakinan bahwa tujuan penyampaian (tablig) hukum adalah menyampaikannya kepada para mukallaf dan audiens agar hujah tegak atas mereka. Dari premis ini, ia menyimpulkan bahwa para fukaha Syiah wajib memaparkan fatwa mereka kepada para muqallid dengan menerbitkan Risalah Amaliyah atau cara-cara lainnya.[43] Naraqi, fakih abad ke-12 Hijriah, juga tidak menganggap sekadar keberadaan Imam Maksum yang tidak menjelaskan hukum cukup untuk itmamul hujjah, dan dalam kondisi seperti itu, ia menganggap perlu adanya para Mujtahid yang menjelaskan hukum agar itmamul hujjah tegak atas masyarakat.[44]
Terkadang itmamul hujjah terwujud dengan Mukjizat, sebagaimana Thabathaba'i menganggap semua mukjizat adalah untuk itmamul hujjah.[45] Murtadha Muthahhari, teolog Syiah, menegaskan bahwa ketika itmamul hujjah telah terjadi, para nabi tidak lagi mendatangkan mukjizat.[46]
Prinsip Bara'ah dan Itmamul Hujjah
Templat:Artikel Utama Para ulama Syiah dalam ilmu Ushul Fikih untuk membuktikan Bara'ah Syar'iyyah sebagai prinsip awal, bersandar pada beberapa ayat Al-Qur'an[47] yang kandungan bersamanya adalah bahwa azab dan hukuman bersyarat pada pengutusan para nabi dan penjelasan lengkap hukum-hukum Ilahi.[48] Namun para ahli ushul Syiah mengambil makna yang lebih luas dan menyimpulkan itmamul hujjah dari ayat-ayat ini[49] yang pada hakikatnya menguatkan hukum akal Qubh 'Iqab bila Bayan (keburukan menghukum tanpa penjelasan).[50] Ayat 26 Surah Al-Baqarah, Ayat 115 Surah At-Taubah, Ayat 15 Surah Al-Isra, dan Ayat 7 Surah Ath-Thalaq adalah di antara ayat-ayat tersebut.[51]
Azab Duniawi dan Itmamul Hujjah
Dari Ayat 59 Surah Al-Qashash "Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul"[52] dan juga ayat 15 Surah Al-Isra, disimpulkan bahwa Azab Isti'shal (azab pemusnah) tidak dilakukan tanpa itmamul hujjah.[53]
Penggunaan Lain Itmamul Hujjah
Itmamul hujjah juga digunakan dalam kasus-kasus lain. Allamah Thabathaba'i menganggap permulaan perang dengan orang-orang kafir juga bergantung pada itmamul hujjah atas mereka berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an.[54] Berdasarkan Khotbah Syiqsyiqiyah, Imam Ali as menganggap penerimaan kekhilafahan setelah Utsman adalah demi itmamul hujjah atas diri beliau dan kehadiran masyarakat.[55] Berdasarkan hal inilah, penerimaan undangan orang-orang Kufah oleh Imam Husain as dalam Peristiwa Karbala juga dijelaskan dengan bersandar pada itmamul hujjah.[56]
Menurut Ja'far Subhani, mutakallim dan mufasir Syiah, salah satu contoh itmamul hujjah adalah perhitungan amal di hari kiamat agar mereka yang diazab mengetahui mengapa mereka diazab.[57] Menurut Murtadha Muthahhari, terkadang Ujian Ilahi adalah agar itmamul hujjah tegak atas orang yang diuji dan ia mengetahui mengapa ia dihukum atau diberi pahala.[58]
Catatan Kaki
- ↑ Muzhaffar, Ushul al-Fiqh, 1375 HS, jil. 2, hlm. 12.
- ↑ Kharrazi, Bidayah al-Ma'arif, 1417 H, jil. 1, hlm. 152.
- ↑ Kharrazi, Bidayah al-Ma'arif, 1417 H, jil. 1, hlm. 152.
- ↑ Lihat: Subhani, Irsyad al-Uqul, 1424 H, jil. 3, hlm. 338 dan 349; Sabzawari, Tahdzib al-Ushul, 1414 H, jil. 1, hlm. 53-63.
- ↑ Modarresi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jil. 3, hlm. 244.
- ↑ Modarresi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jil. 5, hlm. 375.
- ↑ Ma'muri, "Etmam-e Hujjat" (Itmamul Hujjah), hlm. 92.
- ↑ Ma'muri, "Etmam-e Hujjat" (Itmamul Hujjah), hlm. 92.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jil. 5, hlm. 243.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh (Tafsir Contoh), 1374 HS, jil. 5, hlm. 442; Muthahhari, Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya), 1389 HS, jil. 3, hlm. 607.
- ↑ Rujuk: Kamare'i, Tarjomeh-ye Ushul Kafi (Terjemahan Ushul Kafi), 1375 HS, jil. 2, hlm. 49; Mostafavi, Tarjomeh-ye Ushul Kafi (Terjemahan Ushul Kafi), Tanpa Tahun, jil. 1, hlm. 228.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jil. 17, hlm. 74.
- ↑ Modarresi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jil. 3, hlm. 23.
- ↑ Makarim Syirazi, Payam-e Emam (Pesan Imam), 1386 HS, jil. 1, hlm. 216.
- ↑ Subhani, Irsyad al-Uqul, 1424 H, jil. 3, hlm. 338.
- ↑ Jawadi Amuli, Nazahet-e Qur'an az Tahrif (Kesucian Al-Qur'an dari Tahrif), 1382 HS, hlm. 42.
- ↑ Sekelompok Penulis, Imamat Pajuhi (Kajian Imamah), 1381 HS, hlm. 146-147.
- ↑ Rabbani Golpaygani, Imamat dar Binesh-e Eslami (Imamah dalam Pandangan Islam), 1386 HS, hlm. 144-146.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 1, hlm. 162.
- ↑ Kamare'i, Tarjomeh-ye Ushul Kafi (Terjemahan Ushul Kafi), 1375 HS, jil. 1, hlm. 465.
- ↑ Mostafavi, Tarjomeh-ye Ushul Kafi (Terjemahan Ushul Kafi), Tanpa Tahun, jil. 1, hlm. 228.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 1, hlm. 177.
- ↑ Kamare'i, Tarjomeh-ye Ushul Kafi (Terjemahan Ushul Kafi), 1375 HS, jil. 2, hlm. 49.
- ↑ Muzhaffar, Ushul al-Fiqh, 1375 HS, jil. 2, hlm. 12.
- ↑ Isfahani, Buhuts fi al-Ushul, 1416 H, jil. 3, hlm. 62.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, jil. 20, hlm. 147.
- ↑ Araki, Ushul al-Fiqh, 1375 HS, jil. 2, hlm. 39.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 1, hlm. 16.
- ↑ Muthahhari, Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya), 1389 HS, jil. 21, hlm. 298.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 1, hlm. 16.
- ↑ Majlisi, Haqq al-Yaqin, Penerbit Islamiyah, hlm. 563.
- ↑ Majlisi, Haqq al-Yaqin, Penerbit Islamiyah, hlm. 563.
- ↑ Majlisi, Haqq al-Yaqin, Penerbit Islamiyah, hlm. 563.
- ↑ Majlisi, Haqq al-Yaqin, Penerbit Islamiyah, hlm. 563.
- ↑ Majlisi, Haqq al-Yaqin, Penerbit Islamiyah, hlm. 564.
- ↑ Syekh Mufid, Awail al-Maqalat, 1413 H, hlm. 44.
- ↑ Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jil. 4, hlm. 110.
- ↑ Syirazi, Taqrib al-Qur'an ila al-Adzhan, 1424 H, jil. 3, hlm. 296.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh (Tafsir Contoh), 1374 HS, jil. 12, hlm. 52.
- ↑ Muthahhari, Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya), 1389 HS, jil. 27, hlm. 755.
- ↑ Thabathaba'i, Syi'ah dar Eslam (Syiah dalam Islam), 1378 HS, hlm. 140.
- ↑ Sabzawari, Tahdzib al-Ushul, 1414 H, jil. 1, hlm. 102.
- ↑ Khoei, Fiqh al-Syi'ah, 1411 H, hlm. 253.
- ↑ Naraqi, Anis al-Mujtahidin, 1388 HS, jil. 2, hlm. 969.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jil. 6, hlm. 226.
- ↑ Muthahhari, Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya), 1389 HS, jil. 16, hlm. 89.
- ↑ Lihat: Shadr, Durus fi Ilm al-Ushul, 1418 H, jil. 1, hlm. 3373-376.
- ↑ Ma'muri, "Etmam-e Hujjat" (Itmamul Hujjah), hlm. 97.
- ↑ Khomeini, Tahdzib al-Ushul, 1382 HS, jil. 3, hlm. 72.
- ↑ Khomeini, Tahdzib al-Ushul, 1382 HS, jil. 2, hlm. 208.
- ↑ Ma'muri, "Etmam-e Hujjat" (Itmamul Hujjah), hlm. 97.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jil. 16, hlm. 62.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jil. 13, hlm. 57.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jil. 2, hlm. 68.
- ↑ Muthahhari, Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya), 1389 HS, jil. 17, hlm. 146-147.
- ↑ Muthahhari, Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya), 1389 HS, jil. 16, hlm. 643 dan jil. 17, hlm. 143.
- ↑ Subhani, Mafahim al-Qur'an, 1421 H, jil. 8, hlm. 241.
- ↑ Muthahhari, Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya), 1389 HS, jil. 27, hlm. 391-392.
Daftar Pustaka
- Araki, Muhammad Ali. Ushul al-Fiqh. Qom, Dar Rah-e Haqq, 1375 HS.
- Isfahani, Muhammad Husain. Buhuts fi al-Ushul. Qom, Daftar-e Entesharat-e Eslami, 1416 H.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Nazahet-e Qur'an az Tahrif (Kesucian Al-Qur'an dari Tahrif). Qom, Entesharat-e Isra, 1382 HS.
- Kamare'i, Muhammad Baqir. Tarjomeh-ye Ushul Kafi (Terjemahan Ushul Kafi). Teheran, Entesharat-e Usvah, 1375 HS.
- Kharrazi, Sayid Muhsin. Bidayah al-Ma'arif al-Ilahiyyah fi Syarh al-Aqaid al-Imamiyyah. Qom, Mu'assasah al-Nasyr al-Islami, 1417 H.
- Khoei, Sayid Abul Qasim. Fiqh al-Syi'ah (Al-Ijtihad wa al-Taqlid). Taqyidat Sayid Muhammad Mahdi Musawi Khalkhali. Qom, Chapkhaneh-ye Nozhuhur, 1411 H.
- Khomeini (Imam), Sayid Ruhullah. Tahdzib al-Ushul. Taqyid: Ja'far Subhani. Qom, Dar al-Fikr, 1382 HS.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Koreksi: Ali Akbar Ghaffari. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Haqq al-Yaqin. Teheran, Entesharat-e Eslamiyeh, Tanpa Tahun.
- Makarim Syirazi, Nashir. Payam-e Emam (Pesan Imam). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1386 HS.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Contoh). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.
- Modarresi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran, Entesharat-e Dar Muhibbi al-Husain, 1419 H.
- Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya). Teheran, Entesharat-e Sadra, 1389 HS.
- Muzhaffar, Muhammad Ridha. Ushul al-Fiqh. Qom, Entesharat-e Ismailiyan, 1375 HS.
- Naraqi, Muhammad Mahdi. Anis al-Mujtahidin fi Ilm al-Ushul. Qom, Bustan-e Kitab, 1388 HS.
- Rabbani Golpaygani, Ali. Imamat dar Binesh-e Eslami (Imamah dalam Pandangan Islam). Qom, Bustan-e Kitab, 1386 HS.
- Sabzawari, Sayid Abdul A'la. Tahdzib al-Ushul. Qom, Al-Manar, 1414 H.
- Sekelompok Penulis. Imamat Pajuhi: Barresi-ye Didgah-haye Imamiyyah, Mu'tazilah va Asya'irah (Kajian Imamah: Menelaah Pandangan Imamiyah, Mu'tazilah, dan Asy'ariyah). Masyhad, Daneshgah-e Ulum-e Eslami Razavi, 1381 HS.
- Shadr, Sayid Muhammad Baqir. Durus fi Ilm al-Ushul. Qom, Mu'assasah al-Nasyr al-Islami, 1418 H.
- Subhani, Ja'far. Irsyad al-Uqul ila Mubahits al-Ushul. Taqyid Muhammad Husain Hajj Amili. Qom, Moassese-ye Imam Shadiq as, 1424 H.
- Subhani, Ja'far. Mafahim al-Qur'an. Qom, Moassese-ye Imam Shadiq as, 1421 H.
- Syekh Mufid. Awail al-Maqalat. Qom, Kongreh Jahani-ye Syekh Mufid, 1413 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an. Qom, Daftar-e Entesharat-e Eslami, 1417 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Syi'ah dar Eslam (Syiah dalam Islam). Qom, Daftar-e Entesharat-e Eslami, 1378 HS.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir Al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Tanpa Tahun.