Konsep:Innamal A'mālu bin-Niyyāt

Innamal A'mālu bin-Niyyāt adalah bagian dari riwayat masyhur dari Nabi (saw), yang berarti bahwa setiap perbuatan bergantung pada niat seseorang. Dikatakan bahwa hadis ini memiliki kedudukan penting dalam berbagai bidang keilmuan, khususnya ilmu fikih.
Menurut pandangan sebagian mufasir, riwayat ini adalah mutawatir. Meskipun demikian, terdapat banyak diskusi mengenai sanad hadis ini. Dalam sumber-sumber riwayat Syiah, hadis ini dinukil dalam dua bentuk, yaitu musnad dan mursal. Faktor-hal seperti kemasyhuran riwayat dan praktik, tawatir maknawi, serta penyandaran pasti riwayat tersebut kepada Nabi (saw) oleh sebagian ulama dianggap sebagai indikator keyakinan akan keshahihan hadis ini.
Terdapat berbagai interpretasi terhadap hadis ini, di antaranya: ketergantungan pahala dan siksa pada niat seseorang, serta tidak sahnya beberapa tindakan syar'i seperti akad pernikahan dan Talak tanpa adanya niat.
Urgensi dan Kedudukan
"Innamal A'mālu bin-Niyyāt" adalah sebuah riwayat yang sangat masyhur dan terdapat dalam banyak sumber riwayat Syiah[1] dan Ahlusunah.[2] Sebagian ahli hadis menganggapnya sebagai mutawatir.[3] Menurut Abi Dawud dalam kitab Sunan Abi Dawud, di antara 4800 riwayat dalam kitabnya, empat hadis sudah cukup bagi keberagamaan seseorang, yang mana hadis "Innamal A'mālu bin-Niyyāt" adalah salah satunya.[4] Ahmad bin Hanbal menganggap hadis ini sebagai salah satu dari tiga pilar Islam,[5] dan sebagian ahli hadis Ahlusunah lainnya berkeyakinan bahwa hadis ini digunakan dalam tujuh puluh bab Fikih.[6] Sebagian lainnya mengatakan bahwa fikih berdiri di atas lima hadis dan salah satunya adalah hadis ini.[7]
Teks dan Terjemahan
Kredibilitas
Para ulama Syiah dan Ahlusunah telah mendiskusikan sanad hadis "Innamal A'mālu bin-Niyyāt" dalam karya-karya mereka. Sebagai contoh, di antara pemikir Syiah, Abdurrahim bin Husain al-Iraqi (wafat 806 H) dalam Kitab al-Taqyid wa al-Idhah telah membahas aspek sanad dan teks hadis ini,[8] dan Syahid Tsani dalam Kitab al-Ri'ayah fi Ilm al-Dirayah membahas tentang kemutawatiran dan kemasyhuran hadis ini.[9] Di antara pemikir Ahlusunah, Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H) dalam kitab Tadrib al-Rawi membahas kemutawatiran atau kemasyhuran hadis ini,[10] dan Utsman bin Abdurrahman Syahrazuri yang dikenal sebagai Ibnu Shalah (wafat 643 H), dalam kitab Ma'rifah Anwa' al-Hadits, setelah membagi hadis masyhur menjadi dua jenis yaitu shahih dan tidak shahih, menggolongkan hadis ini ke dalam jenis hadis masyhur yang shahih.[11]
Beberapa peneliti menyatakan bahwa meskipun riwayat ini dalam beberapa sumber riwayat Syiah muncul dalam bentuk musnad,[12] namun dalam kebanyakan sumber Syiah disebutkan secara mursal.[13] Akibatnya, berdasarkan sebagian prinsip Ilmu Rijal, hadis ini tidak dianggap kredibel secara teknis sanad, namun berdasarkan prinsip lainnya, hadis ini dianggap kredibel karena adanya keselarasan dengan riwayat-riwayat yang valid, ayat-ayat Al-Qur'an, serta indikasi-indikasi lain yang meyakinkan.[14] Dalam sumber-sumber riwayat Syiah, terdapat riwayat lain yang secara kandungan dekat dengan riwayat ini, seperti riwayat dari Nabi (saw) bahwa "Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya dan niat seorang kafir lebih buruk daripada perbuatannya, dan setiap orang beramal sesuai dengan niatnya."[15]
Indikator Keyakinan atas Keshahihan Hadis
Para peneliti berkeyakinan bahwa keshahihan hadis "Innamal A'mālu bin-Niyyāt" dapat diyakini melalui beberapa indikator:
- Kemasyhuran riwayat;[16]
- Kemasyhuran praktis;[17]
- Tawatir maknawi;[18]
- Kesesuaian dengan riwayat-riwayat yang valid;[19]
- Penyandaran riwayat secara pasti kepada Nabi Muhammad (saw) oleh para pemikir seperti Syekh Mufid,[20] Syekh Thusi,[21] dan Syekh Shaduq;[22]
- Perhatian khusus terhadap riwayat ini dalam bab-bab fikih; sedemikian hingga sebagian menganggap hadis ini sebagai poros banyak hukum di sebagian besar bab fikih;[23]
- Perhatian khusus terhadap riwayat ini sepanjang sejarah Islam dan penyandarannya dalam banyak karya Islami.[24]
Berbagai Interpretasi Hadis
Para pemikir Islam telah mengemukakan beberapa kemungkinan mengenai makna hadis "Innamal A'mālu bin-Niyyāt", di antaranya:
- Pahala dan Siksa bergantung pada niat. Oleh karena itu, manusia berhak mendapatkan pahala atau siksa dikarenakan niatnya, bukan hanya tampilan lahiriah amalnya.[25] Menurut pandangan Syekh Murtadha Anshari, penggunaan huruf "Lam" pada bagian akhir riwayat tersebut (yaitu frasa "wa innamā likulli imri'in mā nawā") merupakan bukti atas makna ini.[26]
- Terwujudnya konsekuensi efek syar'i bergantung pada niat. Oleh karena itu, sebuah tindakan syar'i dianggap sah jika disertai dengan niat yang benar. Maka dari itu, Syahid Awwal dalam kitab Al-Qawa'id wa al-Fawa'id setelah membagi sumber-sumber hukum menjadi empat kaidah, menetapkan kaidah pertama sebagai "pengikutan amal terhadap niat" dan menganggap kaidah ini diambil dari riwayat tersebut.[27] Sebagai hasilnya, misalnya, shighah akad nikah atau shighah talak hanya akan berpengaruh jika seseorang benar-benar bermaksud untuk menikah atau mentalak.[28]
- Niat menyebabkan kredibilitas amal. Oleh karena itu, jika tidak ada niat, maka tidak ada amal yang dianggap kredibel yang terjadi. Menurut sebagian ulama, kata "innamā" dalam riwayat yang menunjukkan pembatasan (hashr) merupakan bukti atas makna ini. Sebagai hasilnya, misalnya menurut pandangan sebagian orang, meskipun terdapat niat Riba, rekayasa hukum (hilah) untuk menghindarinya tetap tidak membuahkan hasil,[29] atau menetapnya musafir selama sepuluh hari tanpa adanya niat sepuluh hari, maka menetapnya itu tidak dianggap kredibel sebagai mukim.[30]
- Niat mendekatkan diri kepada Allah adalah syarat sahnya amal ibadah. Oleh karena itu, kata niat dalam riwayat ini bermakna maksud mendekatkan diri dan keikhlasan, dan ibadah-ibadah tidak akan sah tanpanya.[31]
Catatan Kaki
- ↑ Lihat Thusi, Al-Tahdzib, 1407 H, jld. 1, hlm. 83; Sayid Murtadha, Al-Masail al-Nashiriyat, 1417 H, hlm. 303; Hurr al-Amili, Wasail al-Syiah, 1409 H, jld. 1, hlm. 3.
- ↑ Lihat Bukhari, Al-Jami' al-Musnad al-Shahih, 1422 H, jld. 1, hlm. 6 dan jld. 7, hlm. 177 dan jld. 8, hlm. 187; Qusyairi Naisaburi, Muslim bin Hajjaj, Al-Musnad al-Shahih, tanpa tahun, jld. 3, hlm. 1515 dan jld. 3, hlm. 1701; Nasa'i, Al-Mujtaba min al-Sunan, 1406 H, jld. 1, hlm. 5.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Ba'its al-Hatsits ila Ikhtishar Ulum al-Hadits, tanpa tahun, jld. 1, hlm. 57.
- ↑ Sayid, "Mukadimah" dalam Sunan Abi Dawud, hlm. 3.
- ↑ Ibnu Abi Ya'la, Thabaqat al-Hanabilah, tanpa tahun, jld. 1, hlm. 47.
- ↑ Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 1392 HS, jld. 13, hlm. 54.
- ↑ Ibnu Rajab, Jami' al-Ulum wa al-Hikam fi Syarh Khamsin Haditsan, 1424 H, jld. 1, hlm. 59.
- ↑ Iraqi, Al-Taqyid wa al-Idhah, 1405 H, jld. 1, hlm. 100, 269, dan 273.
- ↑ Syahid Tsani, Al-Ri'ayah fi Ilm al-Dirayah, 1408 H, hlm. 68–70 dan 105–107.
- ↑ Suyuthi, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi, 2014 M, jld. 2, hlm. 622 dan 629.
- ↑ Ibnu Shalah, Ma'rifah Anwa' al-Hadits, 1423 H, jld. 1, hlm. 370.
- ↑ Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 618.
- ↑ Ahmadi Nik, "Baz-jast-e Sanadi wa Gostareh-ye Ma'nayi-ye Rawayat-e Innamal A'mālu bin-Niyyāt", hlm. 88.
- ↑ Jawahiri, Al-Wadhih fi Syarh al-Urwah al-Wutsqa, 1436 H, jld. 7, hlm. 130; Jalali Mazandarani, Al-Mahshul fi Ilm al-Ushul, 1414 H, jld. 2, hlm. 218.
- ↑ "Wa qāla rasulullāh (s): niyyatul mu'mini khairun min amalih wa niyyatul kāfiri syarrun min amalih wa kullu 'āmilin ya'malu 'alā niyyatih" (Kulaini, Al-Kafi, 1429 H, jld. 3, hlm. 218.)
- ↑ Untuk tujuan ini lihat Kulaini, Al-Kafi, 1429 H, jld. 1, hlm. 98 (catatan kaki).
- ↑ Syekh Mufid, Al-Masail al-Saghaniyat, 1413 H, hlm. 118; Sayid Murtadha, Al-Masail al-Nashiriyat, 1417 H, hlm. 110.
- ↑ Suyuthi, Muntaha al-Amal fi Syarh Hadits Innamal A'mal, 1419 H, hlm. 231.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1429 H, jld. 2, hlm. 84.
- ↑ Syekh Mufid, Al-Masail al-Saghaniyat, 1413 H, hlm. 118.
- ↑ Thusi, Al-Tahdzib, 1407 H, jld. 2, hlm. 449 dan jld. 4, hlm. 458.
- ↑ Syekh Shaduq, Al-Hidayah fi al-Ushul wa al-Furu', 1418 H, hlm. 62.
- ↑ Basyiri, "Dirasat Fiqhiyah Haditsiyah", hlm. 227.
- ↑ Ahmadi Nik, "Baz-jast-e Sanadi wa Gostareh-ye Ma'nayi-ye Rawayat-e Innamal A'mālu bin-Niyyāt", hlm. 92.
- ↑ Thusi, Al-Tahdzib, 1407 H, jld. 2, hlm. 162 dan jld. 4, hlm. 467.
- ↑ Anshari, Kitab al-Thaharah, tanpa tahun, jld. 2, hlm. 14.
- ↑ Syahid Awwal, Al-Qawa'id wa al-Fawa'id, tanpa tahun, jld. 1, hlm. 74.
- ↑ Sayid Murtadha, Al-Intishar fi Infiradat al-Imamiyah, 1415 H, hlm. 303; Mirza Qummi, Rasail al-Mirza al-Qummi, 1427 H, hlm. 311.
- ↑ Syaukani, Nail al-Authar, 1973 M, jld. 5, hlm. 319.
- ↑ Ahmadi Nik, "Baz-jast-e Sanadi wa Gostareh-ye Ma'nayi-ye Rawayat-e Innamal A'mālu bin-Niyyāt", hlm. 95.
- ↑ Lihat Ibnu Rusyd al-Andalusi, Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, 1415 H, jld. 1, hlm. 11.
Daftar Pustaka
- Ibnu Abi Ya'la, Abu al-Husain Muhammad bin Muhammad. Thabaqat al-Hanabilah. Beirut: Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
- Ibnu Rajab, Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab. Jami' al-Ulum wa al-Hikam fi Syarh Khamsin Haditsan min Jawami' al-Kalim. Beirut: Dar al-Salam, 1424 H.
- Ibnu Rusyd al-Andalusi, Muhammad bin Ahmad. Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid. Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H.
- Ibnu Shalah, Utsman bin Abdurrahman. Ma'rifah Anwa' al-Hadits. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1423 H.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tanpa tahun.
- Abu Dawud, Sulaiman bin Asy'ats. Sunan Abi Dawud. Kairo: Dar al-Hadits, cetakan pertama, 1420 H.
- Ahmadi Nik, Sayid Mahdi dan Mohammad Emami. "Baz-jast-e Sanadi wa Gostareh-ye Ma'nayi-ye Rawayat-e Innamal A'mālu bin-Niyyāt az Negah-e Fariqain". Dalam Jurnal Pazhuhesy-nameh Ulum-e Hadits-e Tathbiqi, nomor 17, 1401 HS.
- Al-Basyiri, Hasan Husain. "Dirasat Fiqhiyah Haditsiyah - Hadits Innamal A'mālu bin-Niyyāt". Dalam Jurnal Fiqh-e Ahlul Bait (Arab), no. 55, 1430 H.
- Anshari, Murtadha. Kitab al-Thaharah. Qom: Muassasah Alu al-Bait li al-Thiba'ah wa al-Nasyr, tanpa tahun.
- Bukhari, Muhammad bin Ismail. Al-Jami' al-Musnad al-Shahih. Damaskus: Dar Touq al-Najah, 1422 H.
- Jalali Mazandarani, Sayid Mahmoud. Al-Mahshul fi Ilm al-Ushul, Taqrir bahasan Syekh Ja'far Sobhani. Qom: Muassasah Imam Shadiq (as), 1414 H.
- Jawahiri, Muhammad. Al-Wadhih fi Syarh al-Urwah al-Wutsqa. Beirut: Al-Arif li al-Matbu'at, 1436 H.
- Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan. Wasail al-Syiah. Qom: Muassasah Alu al-Bait, 1409 H.
- Sayid Murtadha, Ali bin Husain. Al-Intishar fi Infiradat al-Imamiyah. Qom: Daftar Entesyarat-e Islami, 1415 H.
- Sayid Murtadha, Ali bin Husain. Al-Masail al-Nashiriyat. Teheran: Rabithah al-Tsaqafah wa al-Alaqat al-Islamiyat, 1417 H.
- Suyuthi, Jalaluddin. Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi. Beirut: Dar al-Fikr, 2014 M.
- Suyuthi, Jalaluddin. Muntaha al-Amal fi Syarh Hadits Innamal A'mal. Beirut: Dar Ibnu Hazm, 1419 H.
- Syaukani, Muhammad bin Ali. Nail al-Authar. Beirut: Dar al-Jil, 1973 M.
- Syahid Awwal, Muhammad bin Makki. Al-Qawa'id wa al-Fawa'id. Qom: Kitabforousyi Mufid, tanpa tahun.
- Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali bin Ahmad. Al-Ri'ayah fi Ilm al-Dirayah. Qom: Maktabah Ayatullah al-Uzhma al-Mar'asyi al-Najafi, 1408 H.
- Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawayh. Al-Hidayah fi al-Ushul wa al-Furu'. Qom: Muassasah Imam Hadi, 1418 H.
- Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man al-Ukbari. Al-Masail al-Saghaniyat. Qom: Kongres Internasional Milenium Syekh Mufid, 1413 H.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Amali. Qom: Dar al-Tsaqafah, 1414 H.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tahdzib. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyat, 1407 H.
- Iraqi, Abdurrahim bin Husain. Al-Taqyid wa al-Idhah. Beirut: Dar al-Hadits, 1405 H.
- Qusyairi Naisaburi, Muslim bin Hajjaj. Al-Musnad al-Shahih. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Qom: Dar al-Hadits li al-Thiba'ah wa al-Nasyr, 1429 H.
- Muttaqi, Ali bin Husamuddin. Kanz al-Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af'al. Beirut: Muassasah al-Risalah, 1409 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut: Muassasah al-Thab' wa al-Nasyr, 1410 H.
- Muzhaffar, Muhammad Ridha. Ushul al-Fiqh. Qom: Maktab al-I'lam al-Islami, tanpa tahun.
- Mirza al-Qummi, Abu al-Qasim bin Muhammad Hasan. Rasail al-Mirza al-Qummi. Qom: Daftar Tablighat-e Islami, 1427 H.
- Nasa'i, Ahmad bin Syu'aib. Al-Mujtaba min al-Sunan (Al-Sunan al-Shughra). Aleppo: Maktab al-Matbu'at al-Islamiyat, 1406 H.
- Nawawi, Muhiyuddin Yahya bin Syaraf. Syarh Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1392 HS.