Lompat ke isi

Konsep:Infaq

Dari wikishia

Infaq berarti memberikan harta dan kekayaan di jalan Allah yang digunakan untuk tujuan-tujuan kemanusiaan dan kebajikan. Konsep ini lebih luas daripada sedekah dan mencakup penguatan budaya Islam serta kebutuhan sosial lainnya. Beberapa mufasir meyakini bahwa infaq tidak hanya terbatas pada harta, tetapi segala sesuatu yang merupakan rezeki Ilahi dapat digunakan untuk itu. Infaq dalam Al-Qur'an dan sirah Ahlulbait (as) ditekankan sebagai amal penting untuk menegakkan keadilan sosial serta memperkuat iman dan persaudaraan di tengah masyarakat. Berdasarkan riwayat-riwayat Islam, Ahlulbait (as) khususnya Nabi Muhammad (saw) dan Imam Ali (as) mendorong para pengikutnya untuk menginfakkan harta di jalan Allah dan membantu mereka yang membutuhkan, serta dinyatakan bahwa infaq tanpa mengungkit-ungkit (mann) dan dilakukan dengan ikhlas adalah yang dicintai oleh Allah swt.

Infaq dalam kehidupan Ahlulbait (as) juga memiliki banyak contoh; di antaranya Imam Ali (as) yang membebaskan seribu budak dan membangun mata air di Yanbu untuk para jemaah haji, Imam Hasan (as) yang mendermakan seluruh hartanya dua kali di jalan Allah, dan Imam Sajjad (as) yang membantu kaum fakir pada malam hari. Dalam budaya Syiah, infaq juga terlihat dalam jalan sehat Arbaein dan aktivitas amal di Iran; di mana kaum Syiah secara aktif berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan para peziarah Imam Husain (as) dan menyelenggarakan upacara amal. Laporan menunjukkan bahwa pada tahun 1402 HS terdapat lebih dari 30 ribu yayasan amal dan 70 ribu organisasi sosial kemasyarakatan di Iran, dan masyarakat secara luas melakukan sedekah dan infaq dalam rangka membantu yang membutuhkan serta memenuhi tujuan-tujuan sosial.

Terminologi dan Kedudukan Qur'ani

Infaq berarti memberikan harta dan kekayaan di jalan Allah yang digunakan untuk konsumsi kebajikan. [1] Dikatakan bahwa konsep infaq lebih luas daripada konsep sedekah dan mencakup hal-hal seperti pengeluaran untuk memperkuat budaya Islam. [2] Beberapa mufasir meyakini berdasarkan ayat 3 Surah Al-Baqarah, [3] ayat 3 Surah Al-Anfal [4] dan ayat 254 Surah Al-Baqarah [5] bahwa infaq tidak terbatas pada harta dan dari segala sesuatu yang merupakan rezeki Ilahi dapat digunakan untuk berinfaq.

Menurut Sayyidah Nusrat Amin, sikap berlebihan (ifrath) dan kekurangan (tafrith) dalam berinfaq adalah tercela, dan jalan tengahnya dinamakan sakhawat. [6] Sebagai contoh dari infaq yang wajib dan mustahab, disebutkan hal-hal seperti Khums dan Zakat, Kaffarah, Waqaf, Wasiat, hadiah, dan bahkan sedekah. [7]

Infaq digambarkan sebagai salah satu masalah terpenting dalam Islam dan penyebab keselamatan dari azab di hari kiamat. [8] Dikatakan bahwa lebih dari 80 ayat Al-Qur'an membahas tema infaq. [9] Ayat 261 Surah Al-Baqarah menjanjikan pahala infaq dengan ikhlas hingga 700 kali lipat dan lebih. [10] Dikatakan bahwa berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an, setiap mukmin harus menginfakkan harta yang melebihi biaya hidup yang diperlukan, dan Allah telah menjanjikan azab yang pedih bagi kelompok penumpuk kekayaan yang tidak berinfaq. [11]

Berdasarkan perkataan mufasir mengenai ayat 262 Surah Al-Baqarah, infaq di jalan Allah hanya akan diterima jika tanpa mengungkit-ungkit (mann) dan tanpa menyakiti dari pihak pemberi infaq. [12] Selain itu, keikhlasan individu pemberi infaq dan kehalalan harta yang dikeluarkan termasuk syarat diterimanya infaq di sisi Allah. [13] Infaq dalam teks-teks fikih bermakna membelanjakan harta dan lebih banyak digunakan dalam hal pemberian nafkah. [14]

Sasaran Utama Infaq

Para peneliti telah memperkenalkan sasaran-sasaran utama penggunaan infaq, di antaranya: [15]

Tujuan dan Dampak Infaq

Menurut keyakinan beberapa peneliti, dorongan untuk berinfaq dalam ayat-ayat Al-Qur'an adalah bagian dari program Islam untuk menegakkan keadilan sosial serta memperkuat iman dan persaudaraan di masyarakat. [16] Sayyid Ali Khamenei menganggap infaq sebagai pembelanjaan yang membantu memenuhi kebutuhan nyata dalam masyarakat. [17] Tujuan pemberi infaq berdasarkan ayat 265 Surah Al-Baqarah adalah mencari rida Allah dan menumbuhkan keutamaan manusia. [18] Selain itu, infaq dianggap sebagai tindakan dari individu-individu cerdas yang mengidentifikasi kebutuhan dan kekosongan lalu bertindak untuk mengatasinya. [19]

Dampak individu dan sosial dari infaq meliputi hal-hal berikut:

  • Penyucian Jiwa: Infaq menjadi penyebab bersihnya jiwa dari sifat-sifat buruk (tazkiyah) (ayat 103 Surah At-Taubah). [20]
  • Ketenangan Ruhani: Berdasarkan ayat 265 Surah Al-Baqarah, infaq membawa ketenangan ruhani. [21]
  • Pemerataan Kekayaan: Infaq menyebabkan distribusi kekayaan yang adil dan mencegah penumpukan harta di tangan orang kaya. [22]
  • Kompensasi dan Pertambahan Harta: Dengan bersandar pada ayat 39 Surah Saba', infaq menyebabkan bertambahnya harta pemberi infaq. [23]
  • Pemberian Keamanan Sosial: Infaq untuk Jihad dan kesiapan militer membantu penyediaan keamanan sosial. [24]
  • Pahala di Akhirat: Infaq berujung pada pahala di akhirat. [25]

Infaq dalam Sirah Ahlulbait (as) dan Budaya Syiah

Ahlulbait (as) dalam banyak riwayat berpesan kepada kaum Syiah untuk membelanjakan harta di jalan Allah [26] dan membiasakan anak-anak untuk berinfaq dan bersedekah. [27] Nabi Muhammad (saw) juga menyatakan dalam sebuah hadis bahwa siapa pun yang memberikan satu dirham di jalan Allah, maka Allah akan menuliskan baginya 700 kebaikan dalam buku amalnya. [28] Imam Ali (as) juga mendorong untuk berinfaq dan bersabda: Beruntunglah orang yang menginfakkan harta yang melebihi kebutuhannya. [29] Menurut keyakinan Ali Kurani, Ahlulbait (as) dengan mewajibkan khums bagi kaum Syiah, telah berupaya menyebarkan budaya infaq di tengah mereka. [30]

Contoh-contoh Infaq dalam Kehidupan Ahlulbait (as)

Banyak contoh infaq dalam kehidupan Ahlulbait (as) yang dilaporkan, seperti:

  • Imam Ali (as) dari hasil jerih payahnya sendiri membebaskan seribu budak dan membangun seratus mata air di Yanbu yang bermanfaat bagi para jemaah haji. Beliau juga menggali sumur-sumur di rute antara Mekah dan Kufah. [31]
  • Imam Hasan (as) dua kali mendermakan seluruh hartanya di jalan Allah dan tiga kali membagi rata hartanya antara dirinya dan kaum yang membutuhkan. [32]
  • Imam Ali (as) dan Sayidah Fatimah (sa) demi kesembuhan Hasnain (as), melakukan puasa tiga hari dan memberikan makanan mereka kepada miskin, anak yatim, dan tawanan. [33]
  • Imam Sajjad (as) pada malam hari memikul makanan di atas pundaknya dan mengantarkannya kepada kaum fakir, serta bersabda bahwa sedekah di malam hari memadamkan kemurkaan Tuhan. [34]

Budaya Infaq di Tengah Kaum Syiah

Budaya infaq di tengah kaum Syiah muncul dalam berbagai bidang. Berdasarkan laporan-laporan dari kaum Syiah dan para tuan rumah dalam prosesi Arbaein, mereka mendermakan apa yang mereka mampu kepada jutaan peziarah Imam Husain (as) dan menyediakan makanan, air, serta akomodasi bagi mereka. [35] Berdasarkan laporan Ahmad Syarafkhani, penanggung jawab Pusat Urusan Amal Organisasi Wakaf Iran pada tahun 1402 HS, lebih dari 30 ribu yayasan amal dan 70 ribu organisasi sosial kemasyarakatan serta kedermawanan beroperasi di negara ini. Menurut beliau, terdapat 200 ribu tanah wakaf dengan riwayat lebih dari seribu tahun dan setidaknya 2400 kasus wakaf baru setiap tahun di Iran. [36] Pada tahun 1386 HS, melalui survei terhadap warga Teheran, diketahui bahwa 96 persen dari mereka memberikan sedekah. [37]

Catatan Kaki

  1. Ahmadi dan Band-e Ali, "Infaq", hlm. 557.
  2. "Tafawut-e Infaq wa Sadaqah", Pusat Jawaban Hukum Syariat dan Masalah Fikih.
  3. Mutahhari, Asynayi ba Qur'an (2), 1381 HS, hlm. 66.
  4. Khamenei, Tharh-e Kolli-ye Andisye-ye Eslami dar Qur'an, 1392 HS, hlm. 72.
  5. Modarresi, al-Fiqh al-Islami Dirasah Istidlaliyyah fi Fiqh al-Khums wa Ahkam al-Infaq wa al-Ihsan, 1434 H, hlm. 25.
  6. Banu Isfahani, Makhzan al-Irfan, 1361 HS, jld. 7, hlm. 302.
  7. Allamah Thabathaba'i, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hlm. 383.
  8. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hlm. 312.
  9. Afsay, "Infaq az Manzhar-e Qur'an wa Itrat", dalam Jurnal Farhang-e Kawsar, nomor 72, Musim Dingin 1376 HS, hlm. 48.
  10. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hlm. 312-313.
  11. Bana' Radhawi, Tharh-e Tahlili-ye Eqtesad-e Eslami, 1367 HS, hlm. 120-121.
  12. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hlm. 318.
  13. Sadeqi Fadaki, Simaye Syiah az Negah-e Ahlulbait (as), 1392 HS, hlm. 414 dan 416.
  14. Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, Mausu'ah al-Fiqh al-Islami, 1431 H/2010 M, jld. 18, hlm. 293.
  15. Radhawi, "Infaq - Hamayesy-e Danisy-nameh-ye Imam Reza (as)", hlm. 619.
  16. Mir-Azimi, Infaq az Didgah-e Eslam, 1371 HS, hlm. 12.
  17. Khamenei, Tharh-e Kolli-ye Andisye-ye Eslami dar Qur'an, 1392 HS, hlm. 53 dan 71.
  18. Afsay, "Infaq az Manzhar-e Qur'an wa Itrat", hlm. 54.
  19. Khamenei, Tharh-e Kolli-ye Andisye-ye Eslami dar Qur'an, 1392 HS, hlm. 55.
  20. Ahmadi dan Band-e Ali, "Infaq", hlm. 561.
  21. Hashemi Rafsanjani dan Peneliti Pusat Budaya dan Ma'arif Qur'an, Farhang-e Qur'an, 1395 HS, jld. 5, hlm. 254.
  22. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hlm. 38.
  23. Kharestani dan Seifi, "Falsafe-ye Infaq dar Eslam", dalam Jurnal Rahbord-e Towse'eh, nomor 39, Musim Gugur 1393 HS, hlm. 165.
  24. Kharestani dan Seifi, "Falsafe-ye Infaq dar Eslam", hlm. 163.
  25. Mohadditsi, Infaq, 1391 HS, hlm. 25 dan 26.
  26. Sadeqi Fadaki, Simaye Syiah az Negah-e Ahlulbait (as), 1392 HS, hlm. 404; Mir-Azimi, Infaq az Didgah-e Eslam, 1371 HS, hlm. 55.
  27. Tim Penulis, Mausu'ah Ahkam al-Athfal wa Adillatuha, 1429 H, jld. 3, hlm. 486.
  28. Syaikh Thusi, al-Amali, 1414 H, hlm. 183.
  29. Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 68, hlm. 283.
  30. Kurani, Farhang-e Mowzu'i-ye Ahhadits-e Imam Mahdi (af), 1394 HS, hlm. 1153.
  31. Ibnu Syahrasyub, al-Manaqib, 1376 H, jld. 1, hlm. 388.
  32. Baladhuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 3, hlm. 9.
  33. Kufi, Tafsir Furat al-Kufi, 1410 H, hlm. 527-529; Zamakhsyari, al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 4, hlm. 670.
  34. Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, 1414 H, jld. 4, hlm. 393.
  35. "Fahm-e Ma'naye Syiah dar Piade-ravi Arba'in", Kantor Berita Tasnim.
  36. "100 Hezar Mo'assese-ye Kheirieh wa Tasyakkol-e Kheir-andisy dar Kesywar Fa'aliat Darand", Kantor Berita IRNA.
  37. "Sonnati Mostahab ke Syarth-e Iman ast / 96 Darsad Mardom Sadaqah mi Girand", Kantor Berita Tasnim.

Daftar Pustaka

  • Afsay, Mohammad Ja'far. "Infaq az Manzhar-e Qur'an wa Itrat". Jurnal Farhang-e Kawsar, nomor 72, Musim Dingin 1376 HS.
  • Ahmadi, Hossein, dan Band-e Ali, Saeed. "Infaq". Dalam Dairat al-Ma'arif-e Qur'an-e Karim, jld. 4. Qom: Bustan-e Ketab, 1382 HS.
  • Baladhuri, Ahmad bin Yahya. Ansab al-Asyraf. Beirut: Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Bana' Radhawi, Mahdi. Tharh-e Tahlili-ye Eqtesad-e Eslami. Masyhad: Yayasan Penelitian Islam Astan Quds Razavi, 1367 HS.
  • Banu Amin, Sayyidah Nusrat Begum. Makhzan al-Irfan dar Tafsir al-Qur'an. Teheran: Nahdhat-e Zanan-e Mosalman, 1361 HS.
  • Dzahabi, Syamsuddin Mohammad bin Ahmad. Siyar A'lam al-Nubala. Riset: Syuaib al-Arna'uth. Beirut: Muasasah al-Risalah, 1414 H.
  • Ibnu Syahrasyub, Mohammad bin Ali. Manaqib Alu Abi Thalib. Najaf: Mathba'ah al-Haidariyah, 1376 H.
  • "Tafawut-e Infaq wa Sadaqah". Pusat Jawaban Hukum Syariat dan Masalah Fikih, tanggal akses: 28 Khordad 1403 HS.
  • Khamenei, Sayyid Ali. Tharh-e Kolli-ye Andisye-ye Eslami dar Qur'an. Teheran: Lembaga Budaya Iman-e Jihadi, 1392 HS.
  • Kharestani, Ismail dan Seifi, Fatemeh. "Falsafe-ye Infaq dar Eslam". Jurnal Rahbord-e Towse'eh, nomor 39, Musim Gugur 1393 HS.
  • Kurani Amili, Ali. Farhang-e Mowzu'i-ye Ahhadits-e Imam Mahdi (af). Terjemahan: Hossein Na'ini. Qom: Nasyre Ma'arif, cet. 1, 1394 HS.
  • Kufi, Furat bin Ibrahim. Tafsir Furat al-Kufi. Riset: Mohammad Kazim. Teheran: Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, cet. 1, 1410 H.
  • Makarem Syirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cet. 32, 1374 HS.
  • Modarresi, Sayyid Mohammad Taqi. al-Fiqh al-Islami Dirasah Istidlaliyyah fi Fiqh al-Khums wa Ahkam al-Infaq wa al-Ihsan. Beirut: Markaz al-Ashr, 1434 H.
  • Mohadditsi, Javad. Infaq. Masyhad: Yayasan Penelitian Islam, cet. 5, 1391 HS.
  • Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami. Mausu'ah al-Fiqh al-Islami thibqan li Madzhab Ahl al-Bait. Qom: Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, 1431 H/2010 M.
  • Mutahhari, Murtadha. Asynayi ba Qur'an (2). Teheran: Penerbit Sadra, cet. 16, 1381 HS.
  • Mir-Azimi, Sayyid Jafar. Infaq az Didgah-e Eslam. Nemooneh, cet. 1, 1371 HS.
  • Radhawi, Sayyid Abbas. "Infaq". Dalam Danisy-nameh-ye Imam Reza (as), jld. 2. Qom, 1396 HS.
  • Sadeqi Fadaki, Jafar. Simaye Syiah az Negah-e Ahlulbait (as). Qom: Asyiane-ye Mehr, 1392 HS.
  • Syarafkhani, Ahmad. "100 Hezar Mo'assese-ye Kheirieh wa Tasyakkol-e Kheir-andisy dar Kesywar Fa'aliat Darand". Kantor Berita IRNA, 18 Ordibehesyt 1402 HS.
  • Syaikh Thusi, Mohammad bin Hasan. al-Amali. Qom: Dar al-Tsaqafah, cet. 1, 1414 H.
  • "Fahm-e Ma'naye Syiah dar Piade-ravi Arba'in". Kantor Berita Tasnim, 9 Dey 1402 HS.
  • "Sonnati Mostahab ke Syarth-e Iman ast / 96 Darsad Mardom Sadaqah mi Girand". Kantor Berita Tasnim, 21 Azar 1392 HS.
  • Thabathaba'i, Sayyid Mohammad Hossein. al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Kantor Penerbitan Islami, cet. 5, 1417 H.
  • Tim Penulis. Mausu'ah Ahkam al-Athfal wa Adillatuha. Qom: Pusat Fikih Aimmah al-Athar (as), cet. 1, 1429 H.
  • Zamakhsyari, Mahmoud bin Umar. al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqaweil fi Wujuh al-Takwil. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, cet. 3, 1407 H.
  • Hashemi Rafsanjani, Ali Akbar dan Peneliti Pusat Budaya dan Ma'arif Qur'an. Farhang-e Qur'an. Qom: Bustan-e Ketab, 1395 HS.