Konsep:Fikih Perlawanan
Fikih Perlawanan (Feqh-e Moqawemat) adalah salah satu cabang dari ilmu fikih yang membahas hukum-hukum terkait upaya menghadapi dominasi asing, despotisme domestik, dan menjaga kedaulatan Islam. Cabang ini menganggap pertahanan terhadap eksistensi masyarakat Islam sebagai kewajiban bagi umat Muslim. Akar dari fikih perlawanan merujuk pada metode para ulama Syiah yang dengan mengikuti para Maksum (as), tidak menerima legitimasi para penguasa yang fasik dan melakukan perlawanan terhadap mereka. Setelah masyarakat Islam menghadapi despotisme domestik dan kolonialisme asing, ajaran-ajaran perlawanan muncul sebagai konsep independen dalam fikih. Beberapa peneliti mengklasifikasikan perlawanan ke dalam tiga bidang: individu (pertahanan jiwa dan harta), sosial (menghadapi penguasa zalim), dan kolektif (pertahanan wilayah), serta mengaitkannya dengan Teori Jihad Dzabbi.
Dasar-dasar fikih perlawanan berpijak pada tiga poros utama: menghadapi dominasi asing, despotisme domestik, dan penetrasi budaya. Kewajiban melakukan perlawanan terhadap dominasi asing disimpulkan dari Al-Qur'an, Sunnah, Ijmak, dan Akal, yang dipertegas oleh kaidah-kaidah seperti Nafi Sabil, penguatan kekuatan militer, dan keharaman menjual senjata kepada musuh-musuh agama. Terhadap penguasa zalim, dikemukakan ajaran-ajaran seperti keluar dari dominasi pemerintahan zalim, keharaman bekerja sama dengan Thagut, Amar Makruf Nahi Mungkar, dan Takiyah. Selain itu, fikih Syiah dengan aturan-aturan seperti keharaman menyimpan kutu-e dhalal, pengeluaran hukum artidad, dan menghadapi bid'ah-bid'ah, telah menyediakan landasan teoretis untuk menghadapi penetrasi budaya asing.
Terminologi dan Kedudukan
Fikih perlawanan dianggap sebagai bagian dari ilmu fikih sekaligus bagian dari sejarah Islam.[1] Tujuannya adalah penyimpulan hukum dan kaidah yang mengatur urusan individu dan sosial secara metodis agar dominasi orang-orang kafir terhadap umat Islam serta despotisme domestik dapat dikendalikan dan kedaulatan Ilahi dapat terwujud.[2] Cabang ini mencakup bidang individu, sosial, budaya, keamanan, politik, dan ekonomi, serta menganggap pertahanan terhadap eksistensi masyarakat Islam dan penjagaan hukum-hukum Islam sebagai kewajiban, meskipun harus disertai dengan menanggung kesulitan.[3]
Fikih perlawanan dianggap bersumber dari metode para ulama Syiah yang mengikuti Empat Belas Manusia Suci dalam menganggap penguasa fasik dan tiran tidak sah, serta menghadapi mereka dengan berbagai metode.[4] Disebutkan bahwa setelah kemunduran umat Islam sejak abad ke-8 Hijriah, tantangan despotisme domestik dan kolonialisme asing menyebabkan para pemikir Islam menaruh perhatian pada perlawanan terhadap dominasi budaya, politik, dan ekonomi, sehingga ajaran-ajaran terkait fikih perlawanan muncul secara independen dalam fikih.[5]
Kedudukan Fikih
Para peneliti meyakini bahwa ajaran-ajaran terkait fikih perlawanan terdapat dalam berbagai bab fikih,[6] termasuk pembahasan terkait Jihad Ibtidai, jihad difa'i, Amar Makruf Nahi Mungkar, Baiat, artidad, keharaman menyimpan kutub dhalal, perdamaian dan gencatan senjata, keharaman menerima wilayah penguasa zalim, kaidah Nafi Sabil, dan keharaman menjual senjata kepada orang kafir.[7] Meskipun demikian, fikih perlawanan bukanlah bab fikih yang berdiri sendiri melainkan diadaptasi dari berbagai pembahasan fikih.[8]
Mohammad Javad Fazel Lankarani, salah seorang fakih Syiah, meyakini bahwa perlawanan diterapkan dalam tiga bidang: keyakinan, moralitas, dan penjagaan agama, di mana fikih perlawanan utamanya mengacu pada bidang penjagaan agama. Menurut pandangannya, bidang ini mencakup pelemahan para penentang agama dan penyebaran agama,[9] serta berkaitan dengan Teori Jihad Dzabbi.[10]
Mohammad Mahdi Ashafi, salah seorang fakih Syiah, menempatkan perlawanan di bawah judul pertahanan dan mengklasifikasikannya ke dalam tiga bidang:
- Perlawanan Individu: Pembelaan terhadap jiwa, harta, kehormatan, dan aset yang juga dikenal dengan judul pertahanan syar'i.
- Perlawanan Sosial: Menghadapi penguasa zalim dan diktator.
- Perlawanan Kolektif: Menghadapi agresi asing dan penetrasi orang kafir di negeri-negeri Islam.[11]
Dasar-Dasar Fikih
Para peneliti fikih mengkaji dasar-dasar fikih perlawanan dalam tiga poros utama:[12]
Dasar Fikih Perlawanan Terhadap Ambiisi Dominasi Asing
Mohammad Mahdi Ashafi meyakini bahwa dalil-dalil fikih tentang kewajiban melakukan perlawanan terhadap pendudukan asing disimpulkan dari Al-Qur'an, Sunnah, Ijmak, dan Dalil Aqli.[13] Menurutnya, banyak fakih Syiah termasuk Syaikh Thusi,[14] Muhaqqiq Ardabili,[15] Shahib Jawahir,[16] dan Imam Khomeini,[17] serta para fakih Ahlusunah, menekankan kewajiban melakukan perlawanan terhadap serangan asing ke wilayah Islam dan menjaga eksistensi Islam.[18]
Beberapa dasar fikih perlawanan terhadap agresi asing antara lain:
- Kaidah Nafi Sabil: Menurut kaidah ini, dominasi non-Muslim terhadap umat Muslim dalam bentuk apa pun ditolak.[19] Kaidah ini bersandarkan pada Ayat Nafi Sabil, ayat 144 Surah An-Nisa' (keharaman menerima wilayah kafir), dan Hadis I'tila.[20]
- Kewajiban Memperkuat Pasukan Militer: Berdasarkan ayat 60 Surah Al-Anfal disebutkan bahwa umat Muslim berkewajiban memperkuat pasukan militer mereka untuk membela diri dan masyarakat Islam.[21]
- Keharaman Menjual Senjata kepada Musuh Agama: Para fakih meyakini bahwa pelemahan musuh-musuh agama dan pencegahan penguatan mereka menuntut keharaman menjual senjata kepada orang kafir.[22]
Dasar Fikih Perlawanan Terhadap Penguasa Zalim dan Despotisme Domestik
Terdapat dua pandangan mengenai interaksi dengan pemerintahan zalim di wilayah Islam: satu kelompok menganggap ketaatan kepada pemerintahan mana pun yang memegang kendali urusan sebagai kewajiban, dan melakukan pemberontakan terhadapnya adalah haram selama penguasa tersebut belum dinyatakan Kafir, meskipun penguasa tersebut melakukan kezaliman atau Dosa. Kelompok lain menganggap kerja sama dengan penguasa zalim sebagai hal yang haram dan menekankan kewajiban melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar sejauh kemampuan. Disebutkan bahwa kedua pandangan ini telah populer sejak masa kekuasaan Bani Umayyah.[23]
Beberapa dasar fikih perlawanan terhadap penguasa zalim antara lain:
- Keluar dari dominasi pemerintahan zalim berdasarkan ayat 256 Surah Al-Baqarah.
- Keharaman merujuk kepada Thagut dan menerima bantuan dari sultan jair.
- Keharaman bekerja sama dan tolong-menolong dengan penguasa zalim sesuai dengan ayat 2 Surah Al-Ma'idah.
- Amar makruf nahi mungkar menurut hadis al-Nashihah li Aimmah al-Muslimin.
- Takiyah untuk menjaga diri dan orang lain dari bahaya para penguasa.[24]
Dasar dan Dalil Fikih Perlawanan Budaya
Menurut pandangan para peneliti, fikih Syiah memiliki kaidah-kaidah untuk menghadapi penetrasi budaya asing. Di antara kaidah-kaidah ini dapat disebut kaidah Nafi-e Nofouz (penolakan penetrasi) dengan bersandar pada ayat 118 Surah Ali Imran, kaidah Nafi Sabil, keharaman menyimpan kutub dhalal, pengeluaran hukum artidad, dan menghadapi bid'ah-bid'ah.[25]
Catatan Kaki
- ↑ Ashafi, Feqh al-Moqawemah Dirasah Feqhiyyah Moqaranah, 1430 H, hlm. 15.
- ↑ Ashafi, Feqh al-Moqawemah Dirasah Feqhiyyah Moqaranah, 1430 H, hlm. 15; Sarfipour, "Feqh-e Moqawemat; Bazkhwani-ye Ejtehadi baraye Nabard-e Narm ba Nizham-e Solteh", tercantum dalam situs Andisheh Ma.
- ↑ Syariatmadar Jazayeri, "Feqh-e Moqawemat...", tercantum dalam situs Jaringan Ijtihad.
- ↑ Maleki, "Tabyin-e Mabani-ye Feqhi-ye Moqawemat dar Andisyeh-ye Ayatollah Khamenei", hlm. 190.
- ↑ Maleki, "Tabyin-e Mabani-ye Feqhi-ye Moqawemat dar Andisyeh-ye Ayatollah Khamenei", hlm. 189.
- ↑ Alawi, "Anaser-e Estehkam-bakhsy-e Sazmani dar Feqh-e Moqawemat...", hlm. 101.
- ↑ Montazeri, Dirasat fi Welayah al-Faqih wa Feqh al-Dawlah al-Islamiyyah, 1409 H, jil. 2, hlm. 730; Mu'min Qomi, Al-Wilayah al-Ilahiyyah al-Islamiyyah aw al-Hukumah al-Islamiyyah, 1425 H, jil. 1, hlm. 243 dan 512; Maleki, "Tabyin-e Mabani-ye Feqhi-ye Moqawemat dar Andisyeh-ye Ayatollah Khamenei", hlm. 193; Mu'mini dan Rezazadeh, "Feqh-e Hukumati wa Bast-e Gofteman-e Moqawemat-e Farhangi", hlm. 311.
- ↑ Syariatmadar Jazayeri, "Feqh-e Moqawemat ne Feqhi-ye Mostaqell ast wa...", tercantum dalam situs Ijtihad; Maleki, "Tabyin-e Mabani-ye Feqhi-ye Moqawemat dar Andisyeh-ye Ayatollah Khamenei", hlm. 193.
- ↑ Fazel Lankarani, "Feqh-e Moqawemat", tercantum dalam situs penulis.
- ↑ Fazel Lankarani, Jihad-e Dzabbi, 1401 HS, hlm. 7; Hoseinikhwah dan Khosrawi, "Nazhariyeh Jihad-e Dzabbi dar Andisyeh-ye Ayatollah Mohammad Javad Fazel Lankarani wa Nesbat-e An ba Feqh-e Moqawemat", hlm. 98.
- ↑ Ashafi, Feqh al-Moqawemah Dirasah Feqhiyyah Moqaranah, 1430 H, hlm. 17.
- ↑ Maleki, "Tabyin-e Mabani-ye Feqhi-ye Moqawemat dar Andisyeh-ye Ayatollah Khamenei", hlm. 194; Ashafi dan Gharawi, "Mabani-ye Feqhi-ye Moqawemat-e Mosallahanah", hlm. 23.
- ↑ Ashafi, Feqh al-Moqawemah Dirasah Feqhiyyah Moqaranah, 1430 H, hlm. 186.
- ↑ Syaikh Thusi, Al-Nihayah, 1400 H, hlm. 290.
- ↑ Muhaqqiq Ardabili, Zubdah al-Bayan, Al-Maktabah al-Murtadhawiyyah, hlm. 144.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jil. 21, hlm. 14-16.
- ↑ Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1379 HS, hlm. 378.
- ↑ Ashafi, Feqh al-Moqawemah Dirasah Feqhiyyah Moqaranah, 1430 H, hlm. 187-198.
- ↑ Bojnourdi, Qawa'id-e Feqh, 1419 H, jil. 1, hlm. 189.
- ↑ Alidoust, "Qaidah-ye Nafi-e Sabil", hlm. 233; Bojnourdi, Fazel Lankarani, Al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1383 HS, hlm. 238; Erfani dan Mohammadi, "Mabani-ye Feqhi-ye Nazhariyeh Moqawemat dar Rawabet-e Beynolmelal ba Takid bar Ara' wa Andisyeh-haye Hazrat Ayatollah Khamenei", hlm. 5-8.
- ↑ Allamah Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jil. 9, hlm. 117; Fadhil Miqdad, Kanz al-Irfan, Al-Maktabah al-Murtadhawiyyah, jil. 1, hlm. 388; Khamenei, Pidato "Upacara Kelulusan Mahasiswa Universitas Imam Husain (as)".
- ↑ Maleki, "Tabyin-e Mabani-ye Feqhi-ye Moqawemat dar Andisyeh-ye Ayatollah Khamenei", hlm. 198.
- ↑ Ashafi, Feqh al-Moqawemah Dirasah Feqhiyyah Moqaranah, 1430 H, hlm. 61-63.
- ↑ Erfani dan Mohammadi, "Mabani-ye Feqhi-ye Nazhariyeh Moqawemat dar Rawabet-e Beynolmelal ba Takid bar Ara' wa Andisyeh-haye Hazrat Ayatollah Khamenei", hlm. 11-13; Maleki, "Tabyin-e Mabani-ye Feqhi-ye Moqawemat dar Andisyeh-ye Ayatollah Khamenei", hlm. 199-200.
- ↑ Mu'mini dan Rezazadeh, "Feqh-e Hukumati wa Bast-e Gofteman-e Moqawemat-e Farhangi", hlm. 317-325; Maleki, "Tabyin-e Mabani-ye Feqhi-ye Moqawemat dar Andisyeh-ye Ayatollah Khamenei", hlm. 201-202.
Daftar Pustaka
- Alawi, Sayid Ali Asghar. "Anaser-e Estehkam-bakhsy-e Sazmani dar Feqh-e Moqawemat ba Takid bar Andisyeh-ye Rahbar-e Mo'azzam-e Enqelab". Jurnal Feqhahat, nomor 2, 1403 HS.
- Alidoust, Abul Qasim. "Qaidah-ye Nafi-e Sabil". Dalam Maqalat wa Barrasi-ha, nomor 76, 1383 HS.
- Ashafi, Mohammad Mahdi. Feqh al-Moqawemah Dirasah Feqhiyyah Moqaranah. Qom, Majma' al-Alami li al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyyah, 1430 H.
- Ashafi, Mohammad Mahdi dan Mohammad Gharawi Na'ini. "Mabani-ye Feqhi-ye Moqawemat-e Mosallahanah". Jurnal Andisyeh-ye Taqrib, nomor 19, 1388 HS.
- Bojnourdi, Sayid Hasan. Al-Qawa'id al-Feqhiyyah. Riset oleh Mahdi Mehrizi dan Mohammad Hossein Darayati. Qom, Al-Hadi, cetakan pertama, 1419 H.
- Erfani, Mohammad Qayyum dan Sayid Mahdi Mohammadi. "Mabani-ye Feqh-e Nazhariyeh-ye Moqawemat dar Rawabet-e Beynolmelal ba Takid bar Ara' wa Andisyeh-haye Hazrat Ayatollah Khamenei". Jurnal Ilmiah Pazhuhesy-nameh Feqh wa Olum-e Islami, nomor 7, 1402 HS.
- Fazel Lankarani, Mohammad. Al-Qawa'id al-Feqhiyyah. Riset oleh: Markaz-e Feqhi-ye Aimmah Ath-Thahir (as). Qom, Markaz-e Feqh al-Aimmah al-Athhar (as), cetakan pertama, 1383 HS.
- Fazel Lankarani, Mohammad Javad. Jihad-e Dzabbi (Jahd wa Defa' az Kiyan-e Islam). Qom, Markaz-e Feqhi-ye Aimmah Ath-Thahir (as), 1401 HS.
- Fazel Lankarani, Mohammad Javad. "Feqh-e Moqawemat". Pidato dalam Seminar Fikih Perlawanan, tercantum dalam situs Mohammad Javad Fazel Lankarani.
- Fadhil Miqdad, Jamaluddin. Kanz al-Irfan fi Feqh al-Qur'an. Teheran, Al-Maktabah al-Murtadhawiyyah, tanpa tahun.
- Hoseinikhwah, Sayid Javad dan Mohammad Khosrawi. "Nazhariyeh Jihad-e Dzabbi dar Andisyeh-ye Ayatollah Mohammad Javad Fazel Lankarani wa Nesbat-e An ba Feqh-e Moqawemat". Jurnal Motale'at-e Feqh-e Siyasat, nomor 4, 1401 HS.
- Hurr Amili, Mohammad bin Hasan. Wasa'il al-Syiah. Qom, Muassasah Al al-Bait, 1416 H.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Teheran, Lembaga Pengaturan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, 1379 HS.
- Khamenei, Sayid Ali. Pidato "Merasem-e Danesy-amukhtegi-ye Danesy-juyan-e Danesy-gah-e Imam Hossein (as)" di Universitas Imam Husain (as), 21 Mehr 1398 HS.
- Maleki, Ali. "Tabyin-e Mabani-ye Feqhi-ye Moqawemat dar Andisyeh-ye Ayatollah Khamenei". Jurnal Siyasat-e Islami, nomor 23, 1402 HS.
- Montazeri, Hossein Ali. Dirasat fi Welayah al-Faqih wa Feqh al-Dawlah al-Islamiyyah. Qom, Muassasah Kayhan, 1409 H.
- Mu'min Qomi, Mohammad. Al-Wilayah al-Ilahiyyah al-Islamiyyah aw al-Hukumah al-Islamiyyah. Qom, Kantor Publikasi Islami, 1425 H.
- Muhaqqiq Ardabili, Ahmad bin Mohammad. Zubdah al-Bayan fi Ahkam al-Qur'an. Teheran, Al-Maktabah al-Murtadhawiyyah, tanpa tahun.
- Mu'mini, Abedin dan Sayid Hanif Rezazadeh. "Feqh-e Hukumati wa Bast-e Gofteman-e Moqawemat-e Farhangi". Jurnal Pazhuhesy-nameh Feqh-e Ejtema'i, nomor 32, 1402 HS.
- Najafi, Mohammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i al-Islam. Koreksi oleh Abbas Qouchani dan Ali Akhoundi. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketujuh, 1362 HS.
- Sarfipour, Mohammad Hossein. "Feqh-e Moqawemat; Bazkhwani-ye Ejtehadi baraye Nabard-e Narm ba Nizham-e Solteh". Tercantum dalam situs Andisheh Ma.
- Syariatmadar Jazayeri, Sayid Nouruddin. "Feqh-e Moqawemat, ne Feqhi-ye Mostaqell ast wa ne Zir-majmu'eh-ye Feqh-e Difa'i qarar mi-girad". Tercantum dalam situs Jaringan Ijtihad.
- Syaikh Thusi, Mohammad bin Hasan. Al-Nihayah fi Mujarrad al-Feqh wa al-Fatwa. Beirut, Dar al-Kutub al-Arabiyyah, 1400 H.
- Thabathabai, Sayid Mohammad Hossein. Tafsir al-Mizan. Qom, Kantor Publikasi Islami, cetakan kelima, 1417 H.
```