Konsep:Ayat 67 Surah Al-Isra
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Al-Isra' |
| Ayat | 67 |
| Juz | 15 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Mekkah |
| Tentang | Penyembahan kepada Allah dan Tauhid |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 65 Surah Al-Ankabut, Ayat 33 Surah Ar-Rum, Ayat 12 dan 22 Surah Yunus dan Ayat 8 Surah Az-Zumar[1] |
Ayat 67 Surah Al-Isra mengisyaratkan bahwa ketika manusia berada dalam kondisi kritis, seperti badai di lautan, ia melupakan semua sesembahan yang sebelumnya ia sembah dan hanya bersandar kepada Allah.[2] Ayat ini mengacu pada fitrah tauhid manusia dan kebutuhan akan kekuatan yang lebih tinggi di saat bahaya.[3] Menurut ayat ini, ketika manusia putus asa dari sebab-sebab materi, ia teringat kepada Allah yang mampu menghilangkan masalah-masalah terberat.[4] Allamah Thabathaba'i menganggap ayat ini sebagai dalil atas Tauhid Rububiyah,[5] di mana manusia dalam kondisi seperti itu mempercayai kekuasaan Allah sebagai pencipta dan pengatur.[6]
| “ | وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ كَفُورًا
|
” |
Dan apabila kamu terkena bahaya di laut, (pada saat itu) hilang lenyaplah (dari ingatan kamu) makhluk-makhluk yang kamu seru itu, kecuali Allah; maka setelah Allah selamatkan kamu ke darat, kamu berpaling tadah (tidak mengingatiNya); dan memanglah manusia itu sentiasa kufur (akan nikmat-nikmat Allah).
Menurut para mufasir, "massakumudh-dhurr" mengacu pada ketakutan akan tenggelam di laut.[7] Para mufasir mengatakan bahwa "dhalla man tad'un" berarti dalam kondisi sulit,[8] manusia melupakan semua sesembahan dan hanya berlindung kepada Allah.[9] Sebagian juga mengatakan ungkapan ini menunjukkan bahwa tuhan-tuhan imajiner tidak dapat menyelamatkan.[10] "Falamma najjakum ilal barri a'radhtum" juga bermakna bahwa manusia setelah selamat dari kesulitan, berpaling dari Allah.[11] Allamah Thabathaba'i menganggap ayat ini menunjukkan bahwa ingatan kepada Allah ada dalam fitrah manusia dan manusia tidak pernah lalai dari Allah, melainkan dalam kesulitan dan kemudahan selalu teringat kepada Allah. Berpalingnya manusia setelah selamat, menunjukkan hidayah fitrahnya menuju Allah.[12]
Yang dimaksud dengan kekufuran manusia adalah ketidakpedulian terhadap nikmat-nikmat Allah.[13] Manusia dalam kesulitan berlindung kepada Allah, tetapi dalam kemudahan berpaling dari-Nya dan bertawasul kepada selain Allah.[14] Ketidakbersyukuran dianggap sebagai kebiasaan manusia yang berujung pada melupakan Musabbib al-Asbab (Penyebab dari segala sebab)[15] dan pengingkaran (kufur) nikmat.[16]
Catatan Kaki
- ↑ Lihat: Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1378 HS, jld. 6, hlm. 111.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 189.
- ↑ Lihat: Mulla Sadra, Syarh Ushul al-Kafi, 1383 HS, jld. 3, hlm. 277; Mazandarani, Syarh al-Kafi, 1382 H, jld. 3, hlm. 10-11; Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 189-191.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 190.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 13, hlm. 154.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 12, hlm. 191.
- ↑ Qummi Masyhadi, Tafsir Kanz ad-Daqa'iq, 1368 HS, jld. 7, hlm. 447; Thabathaba'i, Al-Mizan, jld. 13, hlm. 153.
- ↑ Faidh Kasyani, Tafsir ash-Shafi, 1415 H, jld. 3, hlm. 204-205; Qummi Masyhadi, Tafsir Kanz ad-Daqa'iq, 1368 HS, jld. 7, hlm. 447; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 13, hlm. 153.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 13, hlm. 153; Fakhrurrazi, At-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 21, hlm. 371.
- ↑ Shadiqi Tehrani, Tarjuman al-Furqan, 1388 HS, jld. 3, hlm. 149; Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1378 HS, jld. 6, hlm. 107.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 13, hlm. 154.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 13, hlm. 154.
- ↑ Fakhrurrazi, At-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 21, hlm. 371.
- ↑ Faidh Kasyani, Tafsir ash-Shafi, 1415 H, jld. 3, hlm. 205; Qummi Masyhadi, Tafsir Kanz ad-Daqa'iq, 1368 HS, jld. 7, hlm. 448.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 13, hlm. 154.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 13, hlm. 154.
Daftar Pustaka
- Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. At-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
- Faidh Kasyani, Muhammad Muhsin. Tafsir ash-Shafi. Tahkik dan koreksi: Husain A'lami, Teheran, Maktabah ash-Shadr, cetakan kedua, 1415 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Namuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
- Mazandarani, Mulla Shalih. Syarh al-Kafi; Al-Ushul wa ar-Raudhah. Tahkik dan koreksi: Abul Hasan Sya'rani, Teheran, Al-Maktabah al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1382 H.
- Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim. Syarh Ushul al-Kafi. Tahkik dan koreksi: Muhammad Khajavi, Teheran, Muassasah Muthali'at va Tahqiqat-e Farhangi, cetakan pertama, 1383 HS.
- Qummi Masyhadi, Muhammad bin Muhammad Ridha. Tafsir Kanz ad-Daqa'iq wa Bahr al-Ghara'ib. Tahkik dan koreksi: Husain Dargahi, Teheran, Vezarat-e Farhang va Ersyad-e Eslami, cetakan pertama, 1368 HS.
- Qurasyi, Sayid Ali Akbar. Tafsir Ahsan al-Hadits. Teheran, Bonyad-e Be'tsat, 1378 HS.
- Shadiqi Tehrani, Muhammad. Tarjuman al-Qur'an al-Karim. Qom, Intisharat-e Syukraneh, 1388 HS.
- Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih. At-Tauhid. Tahkik dan koreksi: Hasyim Husseini, Qom, Jami'ah Mudarrisin, cetakan pertama, 1398 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, cetakan kedua, 1390 H.