Lompat ke isi

Konsep:Ayat 21 Surah Al-Hasyr

Dari wikishia
Ayat 21 Surah Al-Hasyr
Informasi Ayat
SurahAl-Hasyr
Ayat21
Juz28
Informasi Konten
Sebab
Turun
Madinah
TentangKeagungan Ajaran Al-Qur'an
Ayat-ayat terkaitAyat 74 Surah Al-BaqarahAyat 31 Surah Ar-Ra'dAyat 5 Surah Al-Muzzammil


Ayat 21 Surah Al-Hasyr (bahasa Arab:آیة ۲۱ سورة الحشر) dianggap sebagai tamsil (perumpamaan) untuk menggambarkan keagungan kedudukan Al-Qur'an[1] dan beratnya hakikat-hakikatnya.[2] Tamsil ini dilaporkan sedemikian rupa bahwa jika Al-Qur'an diturunkan ke atas sebuah gunung, niscaya gunung itu akan tunduk dan terpecah belah karena takut kepada Allah.[3] Tujuan dari penyajian perumpamaan semacam ini dalam Al-Qur'an adalah untuk membangkitkan pemikiran manusia agar memahami kebenaran.[4]

Menurut sebagian mufasir, makna ayat 21 Surah Al-Hasyr menjadi jelas dengan memperhatikan ayat-ayat sebelumnya: dalam ayat-ayat tersebut diberikan nasihat-nasihat yang berpengaruh yang jika didengar oleh manusia, hati mereka pasti akan lunak terhadap kebenaran;[5] oleh karena itu, konten ayat 21 Surah Al-Hasyr adalah untuk mencela orang-orang yang mengingkari hakikat Al-Qur'an.[6] Argumentasi yang disajikan dalam ayat ini bagi para pengingkar tersebut dirumuskan sebagai berikut: Jika dimungkinkan Al-Qur'an diturunkan ke atas gunung, niscaya gunung dengan segala keagungan dan kekerasannya akan hancur karena takut kepada Allah, yang merupakan Pengucap kalam ini; ketika gunung menjadi demikian di hadapan Al-Qur'an, manusia lebih pantas untuk bersikap rendah hati di hadapan ajaran-ajarannya. Maka sungguh aneh bahwa sebagian manusia tidak hanya tidak menjadi rendah hati dengan mendengar Al-Qur'an, bahkan bangkit untuk memusuhi dan menentangnya.[7]

Menurut laporan Nashir Makarim Syirazi, banyak mufasir menganggap ayat 21 Surah Al-Hasyr sebagai tamsil untuk menjelaskan keagungan Al-Qur'an.[8] Dikutip darinya, mereka menganggap frasa "wa tilka al-amtsalu nadhribuha lin-nasi la'allahum yatafakkarun" (Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir) sebagai dalil atas pandangan mereka.[9]

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk dan terbelah karena takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir." (QS. Al-Hasyr: 21)

Sayid Muhammad Husain Thabathabai menganggap penyebab penekanan pada keagungan Al-Qur'an dalam ayat 21 Surah Al-Hasyr adalah keberadaan ajaran-ajaran hakiki, prinsip-prinsip hukum, kebenaran-kebenaran yang mengandung pelajaran, nasihat-nasihat, serta janji dan ancaman di dalam Al-Qur'an.[10] Ia menganggap ayat-ayat berikutnya dari surah ini, di mana disebutkan beberapa Asma dan Sifat Ilahi, sebagai penyebab bagi kekhusyukan dan kehancuran gunung-gunung di hadapan keagungan Al-Qur'an.[11] Menurut Sayid Muhammad Taqi Mudarrisi, berdasarkan ayat ini, kerendahan hati, sebagai sebuah tindakan akhlak, menyediakan landasan bagi penyerahan teoretis dan penerapan praktis manusia terhadap kebenaran.[12]

Catatan Kaki

  1. Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 9, hlm. 572; Thabathabai, Al-Mizan, 1394 H, jld. 19, hlm. 221.
  2. Thabathabai, Al-Mizan, 1394 H, jld. 20, hlm. 62; Javadi Amoli, Qur'an dar Qur'an, 1395 HS, hlm. 25.
  3. Thabathabai, Al-Mizan, 1394 H, jld. 19, hlm. 221.
  4. Untuk contoh lihat: Muthahhari, Asynayi ba Qur'an, jld. 6, hlm. 186.
  5. Muthahhari, Asynayi ba Qur'an, jld. 6, hlm. 185; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 23, hlm. 549.
  6. Faidh Kasyani, Al-Shafi, 1415 H, jld. 5, hlm. 159.
  7. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 399; Thabathabai, Al-Mizan, 1394 H, jld. 19, hlm. 221; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 23, hlm. 550; Javadi Amoli, Qur'an dar Qur'an, 1395 HS, hlm. 25.
  8. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 23, hlm. 550.
  9. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 23, hlm. 550.
  10. Thabathabai, Al-Mizan, 1394 H, jld. 19, hlm. 221.
  11. Thabathabai, Al-Mizan, 1394 H, jld. 19, hlm. 221-222.
  12. Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 15, hlm. 57.

Daftar Pustaka

  • Al-Faidh al-Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha, Al-Shafi fi Tafsir Al-Qur'an, Tahkik: Husain A'lami, Teheran, Maktabah al-Shadr, 1415 H.
  • Al-Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi, Min Huda Al-Qur'an, Teheran, Dar Muhibbi al-Husain, 1419 H.
  • Al-Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an, Tahkik: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati dan Sayid Fadhlullah Yazdi Thabathabai, Teheran, Entisharat-e Naser Khosrow, 1372 HS.
  • Al-Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Tibyan fi Tafsir Al-Qur'an, Tahkik: Ahmad Habib al-Amili, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Javadi Amoli, Abdullah, Qur'an dar Qur'an (Tafsir Tematik Al-Qur'an Al-Karim, jld. 1), Qom, Markaz-e Nasyr-e Asra, 1395 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemuneh, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
  • Muthahhari, Murtadha, Asynayi ba Qur'an (Tafsir Surah Al-Rahman, Al-Waqi'ah, Al-Hadid, Al-Hasyr, dan Al-Mumtahanah), Teheran, Entisharat-e Sadra, 1382 HS.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an, Beirut, Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1392 H.