Lompat ke isi

Konsep:Ayat 104 Surah Ali Imran

Dari wikishia
Ayat 104 Surah Ali Imran
Informasi Ayat
SurahAli Imran
Ayat104
Juz4
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madinah
TentangKewajiban Amar Makruf Nahi Mungkar
Ayat-ayat terkaitAyat 110 Surah Ali Imran


Ayat 104 Surah Ali Imran (bahasa Arab:آیة ۱۰۴ سورة الآل‌عمران) memerintahkan kaum muslimin bahwa di antara mereka harus ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan dan memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.

Sekelompok fukaha Syiah seperti Syahid Tsani dan Kasyif al-Ghitha dengan bersandar pada ayat ini, menganggap amar makruf nahi mungkar sebagai wajib. Sejumlah mufasir juga dengan bersandar pada huruf "min" (dari) dalam penggalan "waltakun minkum ummah" (hendaklah ada di antara kamu segolongan umat), mengartikannya sebagai "sebagian" dan berpendapat akan wajib kifayahnya amar makruf nahi mungkar. Tentu saja, Syekh Thusi dengan bersandar pada keumuman perintah amar makruf nahi mungkar dalam ayat ini, menganggap keduanya termasuk wajib aini.

Imam al-Baqir as dalam sebuah hadis memperkenalkan ayat ini turun mengenai Al-Muhammad as dan para pengikutnya. Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as juga kata "ummatun" dibaca sebagai "a'immatun" (para imam).

Amar Makruf Nahi Mungkar Faktor Penjaga Persatuan Masyarakat Islam

Ayat 104 Surah Ali Imran memerintahkan kaum muslimin bahwa harus selalu ada segolongan umat di antara mereka yang menyeru orang lain kepada kebajikan dan memerintahkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang layak serta mencegah mereka dari keburukan.[1] Ayat ini turun sebagai kelanjutan dari ayat 103 Surah Ali Imran yang berbicara mengenai persaudaraan dan persatuan. Menurut pandangan Tafsir Nemuneh, isyarat terhadap amar makruf nahi mungkar dalam ayat ini pada hakikatnya bertujuan untuk pengawasan umum dan perlindungan sosial guna menjaga persatuan masyarakat Islam yang telah dibahas pada ayat sebelumnya.[2] Jawadi Amoli juga menyebut nilai-nilai agama sebagai faktor persatuan dan menganggap metode penjagaannya adalah seruan kepada kebajikan, amar makruf dan nahi mungkar dari pihak individu-individu masyarakat religius.[3]

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran: 104)

Menurut pandangan Syekh Thabarsi, kata "khair" (kebajikan) dalam ayat ini bersinonim dengan agama, yang mana makna ayat menjadi "tablig (menyampaikan) keberagamaan".[4] Abdullah Jawadi Amuli juga menganggap Islam sebagai kebajikan tertinggi dan memperkenalkan "mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah Nabi saw" sebagai misdad (contoh) terpentingnya.[5] Zamakhsyari salah seorang mufasir Ahlusunah, menganggap seruan kepada kebajikan sebagai ajakan untuk melaksanakan semua taklif (tugas agama) dan menganggap perintah amar makruf nahi mungkar setelahnya sebagai perintah khusus.[6]

Maksud dari "umat" dalam ayat ini dianggap sebagai suatu kelompok yang memiliki tujuan tunggal dan motivasi tertentu.[7] Nashir Makarim Syirazi juga mengartikan kata ini sebagai kelompok yang di dalamnya terdapat semacam kesatuan, seperti kesatuan waktu atau tempat ataupun kesatuan dalam tujuan.[8]

Imam al-Baqir as dalam sebuah hadis memperkenalkan ayat ini turun mengenai Al-Muhammad as dan para pengikutnya.[9] Imam Shadiq as juga dalam sebuah riwayat membaca kata "ummatun" sebagai "a'immatun".[10] Dalam menentukan maksud dari qiraat (bacaan) ini diberikan dua kemungkinan, yang salah satunya bermakna penerapan ayat tersebut pada para Imam Syiah. Dalam kemungkinan lain, "a'immatun" memiliki makna leksikal (bahasa) dan maksudnya adalah kelompok yang sama, yang memegang tanggung jawab menyeru masyarakat lain kepada kebajikan dan amar makruf.[11]

Maksud dari Makruf dan Mungkar

Thabarsi menafsirkan makruf dalam ayat ini sebagai ketaatan dan mungkar sebagai dosa.[12] Sebagian mufasir memperkenalkan maksud dari makruf sebagai sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan Nabi saw, dan mungkar adalah segala sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Nabi saw. Menurut pandangan sebagian yang lain, pengenalan dan penentuan makruf dan mungkar adalah tanggung jawab akal.[13] Jawadi Amoli menghitung apa saja yang dikenal valid dan diterima menurut akal dan naqli sebagai makruf, dan selain itu sebagai mungkar.[14]

Wajib Kifai Amar Makruf Nahi Mungkar

Dalam istinbath (penggalian) sebagian hukum amar makruf nahi mungkar, telah disandarkan pada ayat 104 Surah Ali Imran, di antaranya:

  • Syekh Thusi dengan bersandar pada keumuman perintah amar makruf nahi mungkar dalam ayat ini, menghitung amar makruf nahi mungkar termasuk dari wajib aini.[17] Sejumlah mufasir menganggap huruf "min" pada penggalan "waltakun minkum ummah" sebagai jenis "bayaniyah" (penjelas) dan menganggap perintah ayat tersebut mencakup seluruh kaum muslimin.[18] Sebaliknya, Allamah Hilli dengan mengingkari pengumuman (generalisasi) ayat kepada seluruh muslimin, menganggap kewajiban keduanya sebagai kifayah.[19] Menurut laporan Jawadi Amuli, kebanyakan mufasir dan fukaha juga menganggap dua hal ini sebagai wajib kifai.[20] Thabarsi dan Syahid Tsani mengartikan huruf "min" dalam kata "minkum" sebagai "sebagian" dan menganggapnya sebagai dalil wajib kifainya amar makruf nahi mungkar[21] yang mana menurut itu, tidak lazim bagi semua orang untuk melakukan amar dan nahi. Imam ash-Shadiq as dalam menjawab sebuah pertanyaan, menganggap amar makruf nahi mungkar lazim (wajib) atas seseorang yang kuat, orang lain mendengar perkataannya, dan ia mengenali makruf dari mungkar; bukan atas individu-individu lemah yang tidak membedakan jalan (hak dari batil)[22] dan tidak tahu dari apa ke apa mereka mengajak, kepada batil atau kepada hak. Kemudian Imam menjadikan ayat 104 Ali Imran sebagai dalil ucapannya.[23] Sebagian orang dengan indikasi hadis ini, menguatkan pemahaman wajib kifai amar makruf dari ayat tersebut.[24]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1371 HS, jld.3, hlm.35; Mudarrisi, Min Huda al-Quran, 1419, jld.1, hlm.628.
  2. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1371 HS, jld.3, hlm.34-35.
  3. Jawadi Amoli, Tasnim, 1388 HS, jld.15, hlm.252.
  4. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld.2, hlm.807.
  5. Jawadi Amoli, Tasnim, 1388 HS, jld.15, hlm.253.
  6. Zamakhsyari, Al-Kusyysyaf, 1407, jld.1, hlm.398.
  7. Jawadi Amoli, Tasnim, 1388 HS, jld.15, hlm.262.
  8. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1371 HS, jld.3, hlm.34.
  9. Qumi, Tafsir Qumi, 1404, jld.1, hlm.108-109.
  10. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld.2, hlm.807.
  11. Jawadi Amoli, Tasnim, 1388 HS, jld.15, hlm.262.
  12. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld.2, hlm.807.
  13. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld.2, hlm.807.
  14. Jawadi Amoli, Tasnim, 1388 HS, jld.15, hlm.263.
  15. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld.2, hlm.807.
  16. Syahid Tsani, Ar-Raudhah al-Bahiyyah, 1410, jld.2, hlm.413; Kasyif al-Ghitha, Kasyf al-Ghitha..., 1422, jld.4, hlm.426; Iraqi, Syarh Tabshirah al-Muta'allimin, 1414, jld.4, hlm.446; Jawadi Amoli, Tasnim, 1388 HS, jld.15, hlm.257-258.
  17. Syekh Thusi, Al-Iqtishad, 1375, hlm.147.
  18. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld.2, hlm.807.
  19. Allamah Hilli, Mukhtalaf asy-Syi'ah, 1413, jld.4, hlm.458.
  20. Jawadi Amoli, Tasnim, 1388 HS, jld.15, hlm.260.
  21. Syahid Tsani, Ar-Raudhah al-Bahiyyah, 1410, jld.2, hlm.413.
  22. Majlisi, Mir'at al-Uqul, 1404, jld.18, hlm.407.
  23. Huwaizi, Nur al-Tsaqalain, 1415, jld.2, hlm.85.
  24. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404, jld.21, hlm.360.

Daftar Pustaka

  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Mukhtalaf asy-Syi'ah fi Ahkam asy-Syi'ah. Qom, Penerbit Publikasi Islam, Cetakan kedua, 1413.
  • Huwaizi, Abd Ali. Nur al-Tsaqalain. Koreksi: Hasyim Rasuli, Ismailiyan, Qom, Cetakan keempat, 1415.
  • Iraqi, Agha Dhiyauddin. Syarh Tabshirah al-Muta'allimin. Qom, Penerbit Publikasi Islam, Cetakan pertama, 1414.
  • Jawadi Amoli, Abdullah. Tasnim. Qom, Markaz-e Nashr-e Asra, Cetakan kedua, 1388 HS.
  • Kasyif al-Ghitha, Ja'far. Kasyf al-Ghitha 'an Mubhimat asy-Syari'ah al-Gharra. Qom, Penerbit Kantor Dakwah Islam, Cetakan pertama, 1422.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Mir'at al-Uqul. 1404. Penerbit: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Percetakan Marvi.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan kesepuluh, 1371 HS.
  • Mudarrisi, Muhammad Taqi. Min Huda al-Quran. Teheran, Dar Muhibbi al-Husain, Cetakan pertama, 1419.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam. 1404.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir Qumi. Qom, Dar al-Kitab, Cetakan ketiga, 1404.
  • Syahid Tsani, Zainuddin. Ar-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah ad-Dimasyqiyyah. Qom, Toko Buku Davari, Cetakan pertama, 1410.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Iqtishad al-Hadi ila Thariq ar-Rasyad. Teheran, Perpustakaan Jami' Chehel Sotoun, Cetakan pertama, 1375.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyan fi Tafsir al-Quran. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Tanpa Tanggal.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Quran. Teheran, Nashir Khusro, 1372 HS.
  • Zamakhsyari, Mahmud. Al-Kusyysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh at-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta'wil. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, Cetakan ketiga, 1407.