Konsep:Al-Amin al-Abbasi
| Nama | Muhammad |
|---|---|
| Lakab | al-Amin |
| Lahir | 170/786-87 |
| Mati | 198/813-14 (Samarra) |
| Ayah | Harun al-Abbasi |
| Ibu | Zubaidah |
| Anak-anak | Musa, Abdullah |
| Agama | |
| Tempat dikuburkan | Baghdad |
| Jabatan | Khalifah keenam Abbasiyah |
| Silsilah | Bani Abbasiyah |
| Mulai pemerintahan | 193/808-09 |
| Akhir pemerintahan | 198/813-14 |
| Semasa dengan | Imam Ridha as |
| Pusat pemerintahan | Baghdad |
| Aktivitas penting | |
| Sebelum | Harun al-Abbasi |
| Sesudah | al-Ma'mun al-Abbasi |
al-Amin al-Abbasi (memerintah: 193/808-09-198/813-14) yang dikenal sebagai Muhammad al-Amin, adalah khalifah Abbasiyah keenam yang berkuasa selama kurang lebih lima tahun. Masa kepemimpinannya bertepatan dengan masa keimaman Imam Ridha as. Pemerintahnnya ditandai dengan ciri-ciri seperti kesenangan duniawi, pengabaian urusan administratif, dan konflik dengan saudaranya, al-Ma'mun. Akar perselisihan ini bermula dari pembagian kekuasaan oleh Harun di antara kedua saudara tersebut, yang akhirnya berujung pada perang saudara yang berakhir dengan terbunuhnya al-Amin pada tahun 198/813-14 dan penguatan kekuasaan al-Ma'mun. Konflik ini dikenal sebagai simbol pertentangan politik antara arus Arab dan Iran di dalam struktur kekhalifahan Abbasiyah.
Keterlibatan al-Amin dalam konflik dengan al-Ma'mun menyebabkan perhatiannya teralihkan dari masalah lain, termasuk konfrontasi langsung dengan Imam Ridha as dan kaum Syiah. Kondisi ini memberikan kesempatan yang tepat bagi Imam Ridha as untuk memperluas aktivitasnya. Di antara tindakan terpenting tersebut adalah rekonstruksi dan penguatan Organisasi Wakalah, penyebaran keyakinan Syiah secara terbuka, serta pengokohan basis massa pengikutnya.
Khalifah Keenam Abbasiyah
Muhammad bin Harun, bergelar al-Amin, adalah khalifah Abbasiyah keenam.[1] Kunyahnya dilaporkan sebagai Abu Abdullah[2] dan Abu Musa.[3] Ia lahir pada 170/786-87[4] atau 171/787-88[5] di wilayah Rusafah Baghdad. Masa kekhalifahannya berlangsung sekitar empat tahun delapan bulan[6] yang bertepatan dengan masa keimaman Imam Ridha as.[7] Fadhl bin Rabi' memegang kendali atas urusan pemerintahan.[8] Menurut penulis kitab Tarikh Mukhtashar al-Duwal, dalam perilaku khalifah ini tidak terlihat tanda-tanda kebijaksanaan, keadilan, atau pengalaman yang layak untuk disebutkan.[9] Ia terbunuh pada usia 27 tahun.[10]
Kerabat
Muhammad al-Amin adalah putra dari Harun, khalifah Abbasiyah kelima.[11] Ibunya, Ummu Ja'far Zubaidah, berasal dari keluarga Abbasiyah dan merupakan cucu dari Manshur al-Abbasi.[12] Berdasarkan beberapa laporan, dalam sejarah kekhalifahan Islam, hanya ada dua khalifah yang lahir dari ayah dan ibu Hasyimi: Ali bin Abi Thalib as dan Muhammad al-Amin.[13] Saudaranya yang paling terkenal adalah al-Ma'mun yang menggantikannya sebagai khalifah.[14]
al-Amin memiliki dua putra: Musa dan Abdullah.[15] Musa, yang dikenal dengan gelar "al-Nathiq bi al-Haq", diangkat sebagai putra mahkota; namun ia meninggal pada usia empat belas tahun. Abdullah adalah seorang penyair dan satu-satunya orang yang melaluinya garis keturunan al-Amin berlanjut dan ia sempat menjumpai masa al-Mu'tamid.[16]
Karakteristik Kepribadian
al-Amin dikenal dengan ciri-ciri fisik tertentu, kedermawanan,[17] serta kecintaan pada puisi dan sastra.[18] Selama masa pemerintahannya, ia menjauhkan diri dari saudara-saudara dan keluarganya serta menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap mereka dan para komandannya.[19] Ia bergantung pada orang lain dalam urusan penting dan menaruh kepercayaan pada individu-individu yang tidak menginginkan kebaikan baginya.[20]
Berdasarkan beberapa laporan, al-Amin menaruh perhatian berlebihan pada perhiasan dan kemewahan serta mengundang para seniman dari seluruh negeri Islam ke istananya.[21] Beberapa sumber sejarah mengkritiknya karena keputusan-keputusan yang mentah, perilaku yang tidak bijaksana,[22] kesenangan yang berlebihan dalam hiburan,[23] pengeluaran besar di bidang tersebut, serta kurangnya perhatian terhadap Salat.[24] al-Amin berusaha untuk tetap tersembunyi dari pandangan publik dan kehadirannya di tengah masyarakat sangat terbatas dan jarang terjadi.[25]
Masa Putra Mahkota Harun al-Abbasi
Harun al-Abbasi menetapkan al-Amin pada usia lima tahun[26] sebagai putra mahkota pertama dan al-Ma'mun sebagai putra mahkota kedua.[27] Keputusan ini, meskipun Harun lebih cenderung kepada al-Ma'mun,[28] diambil karena pengaruh ibu al-Amin dan dukungan dari para pembesar Abbasiyah.[29]
Harun setelah menunaikan Manasik Haji di Mekkah, membagi kekuasaan di antara ketiga putranya.[30] al-Amin bertanggung jawab atas administrasi wilayah Irak dan Syam, sedangkan administrasi bagian lain dari wilayah Abbasiyah diserahkan kepada al-Ma'mun dan al-Mu'taman.[31] Ia menggantungkan sebuah dokumen mengenai komitmen al-Amin dan al-Ma'mun di Ka'bah,[32] dan mengirimkan surat-surat mengenai kesepakatan ini kepada para gubernurnya.[33] Namun, jatuhnya dokumen tersebut dari tempatnya menyebabkan masyarakat memprediksi ketidakstabilan kesepakatan tersebut.[34]
Dari Khilafah hingga Kejatuhan
Muhammad al-Amin naik takhta pada 193/808-09 setelah kematian Harun dan memerintah wilayah Islam hingga 198/813-14.[35] Pada awal khilafahnya, seluruh wilayah Islam[36] termasuk al-Ma'mun di Khorasan memberikan baiat kepadanya.[37] Namun setelah beberapa waktu, muncul persaingan dan perselisihan di antara kedua bersaudara yang akhirnya berujung pada perang saudara.[38] Kondisi ini menyebabkan munculnya kerusuhan di tanah Islam dan mengakibatkan perpecahan serta kelemahan kaum Muslimin.[39] Hal ini juga menimbulkan banyak kerusakan, dan Baghdad yang dikenal sebagai ibu kota kekhalifahan serta pusat ilmu, sastra, dan perdagangan, mengalami kehancuran yang luas.[40]
Konflik dengan al-Ma'mun
al-Amin pada awalnya mengusulkan kepada al-Ma'mun untuk melepaskan wilayah Ray dan beberapa daerah di Khorasan yang telah diserahkan kepadanya pada masa ayahnya, namun hal ini ditolak oleh al-Ma'mun.[41] Ia mengirim surat kepada al-Ma'mun[42] dan para komandan Khorasan[43] agar menghadap kepadanya, namun mereka tidak mematuhi perintah tersebut. Oleh karena itu, bertentangan dengan surat perjanjian pembagian kekuasaan yang diambil oleh ayahnya, ia memberhentikan al-Ma'mun dan menggantikannya dengan putranya, Musa,[44] pada 194/809-10.[45] al-Amin juga memberhentikan al-Mu'taman dari seluruh tanggung jawab yang diberikan Harun kepadanya.[46] al-Ma'mun memutuskan hubungan dengan al-Amin dan menghapus namanya dari khotbah-khotbah[47] serta menyebut dirinya sendiri sebagai Amirul Mukminin.[48]
Pertempuran antara kedua saudara berlangsung sekitar tiga tahun[49] dan akhirnya al-Ma'mun dengan dukungan orang-orang Iran serta strategi para komandan seperti Thahir bin al-Husain dan Hartsamah bin A'yan berhasil mengalahkan al-Amin.[50] Konflik ini berakhir dengan penaklukan Baghdad dan terbunuhnya al-Amin pada 198/813-14.[51] Berdasarkan sebuah riwayat, Imam Ridha as telah meramalkan kematian al-Amin di tangan al-Ma'mun.[52]
Alasan Konflik dengan al-Ma'mun
Akar perbedaan antara al-Amin dan al-Ma'mun kembali pada wasiat ayah mereka mengenai pembagian kekuasaan di antara keduanya.[53] Selain itu, persaingan kekuasaan antara orang Arab dan orang Persia dalam struktur kekhalifahan Abbasiyah juga dianggap sebagai faktor yang berpengaruh dalam konflik ini.[54] al-Amin bersandar pada elemen Arab dan keluarga Abbasiyah[55] dan menterinya, Fadhl bin Rabi', berusaha untuk mempertahankan kekuasaan orang Arab.[56] Sebaliknya, al-Ma'mun yang berada di Khorasan, mendapatkan dukungan dari orang-orang Khorasan yang mencintai Ahlulbait as, dan al-Ma'mun menunjukkan kecenderungan lahiriah terhadap Tasyayu' untuk menarik simpati mereka.[57] Fadhl bin Sahl al-Sarakhsi, menteri al-Ma'mun, mewakili kecenderungan Iran dan menghasut al-Ma'mun untuk melawan al-Amin.[58]
Imam Ridha as dan Kaum Syiah di Masa al-Amin al-Abbasi
Berdasarkan laporan Abul Faraj al-Ishfahani, selama masa pemerintahan al-Amin, berbeda dengan khalifah-khalifah sebelumnya, tidak ada tindakan yang dilakukan terhadap keluarga Abu Thalib. Kesibukan al-Amin dengan hiburan dan konfliknya dengan al-Ma'mun menyebabkannya tidak memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan keluarga ini.[59]
Dikatakan bahwa situasi ini memberikan kesempatan bagi Imam Ridha as untuk melakukan aktivitas lebih banyak dalam penyebaran dan pengukuhan pemikiran Syiah.[60] Imam Ridha as pada periode ini merekonstruksi Organisasi Wakalah, memperluas kampanye Syiah secara terbuka[61] serta memperkuat basis massa dan komunikasi sosial.[62] Selain itu, beliau menyampaikan makrifat penting mengenai subjek Imamah dan menjelaskan masalah-masalah yang berkaitan dengan imamah tanpa melakukan Taqiyah.[63]
Menurut keyakinan beberapa peneliti, pergolakan politik dan sosial masa al-Amin, khususnya konfliknya dengan al-Ma'mun, menciptakan kondisi di mana gerakan Syiah dan pendukung Ahlulbait as di wilayah timur menghadapi lebih sedikit tekanan.[64] Dikatakan bahwa al-Ma'mun demi menghadapi al-Amin dan melemahkan pemerintahannya, menempuh kebijakan toleransi terhadap gerakan-gerakan ini dan bahkan memanfaatkan para pecinta moderat Ahlulbait as di Iran untuk menghadapi al-Amin. Kebijakan ini secara tidak langsung menguntungkan Imam Ridha as dan menyediakan ruang bagi aktivitas beliau.[65]
Catatan Kaki
- ↑ Ayenehvand, Adabiyat-e Siyasi-ye Tasyayyu', 1387 HS, hal. 291.
- ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 10, hal. 241.
- ↑ Mas'udi, al-Tanbih wa al-Isyraf, Kairo, hal. 300; Ibnu Jauzi, al-Muntadzam, 1412 H, jld. 9, hal. 218.
- ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 10, hal. 241.
- ↑ Ibnu Jauzi, al-Muntadzam, 1412 H, jld. 9, hal. 218.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hal. 442; Dinawari, al-Akhbar al-Thiwal, 1368 HS, hal. 400.
- ↑ Kelompok Penulis, Farhang-e Syiah, 1386 HS, hal. 117.
- ↑ Ibnu A'tsam, al-Futuh, 1411 H, jld. 8, hal. 403.
- ↑ Ibnu 'Ibri, Tarikh Mukhtashar al-Duwal, 1992 M, hal. 134.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hal. 442; Dinawari, al-Akhbar al-Thiwal, 1368 HS, hal. 400.
- ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 10, hal. 241.
- ↑ Ibnu Umrani, al-Inba', 1421 H, hal. 89.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hal. 433; Ibnu Umrani, al-Inba', 1421 H, hal. 89.
- ↑ Dinawari, al-Akhbar al-Thiwal, 1368 HS, hal. 400.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hal. 442; Ibnu Hazm, Jamharah Ansab al-'Arab, 1403 H, hal. 24.
- ↑ Ibnu Hazm, Jamharah Ansab al-'Arab, 1403 H, hal. 24.
- ↑ Mas'udi, al-Tanbih wa al-Isyraf, Kairo, hal. 302.
- ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 10, hal. 241; Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hal. 351.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hal. 356; Ibnu 'Ibri, Tarikh Mukhtashar al-Duwal, 1992 M, hal. 134.
- ↑ Mas'udi, al-Tanbih wa al-Isyraf, Kairo, hal. 302.
- ↑ Jan-ahmadi, Tarikh Farhang wa Tamaddun-e Eslami, 1386 HS, hal. 197.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hal. 351; Ibnu Umrani, al-Inba', 1421 H, hal. 89.
- ↑ Mas'udi, al-Tanbih wa al-Isyraf, Kairo, hal. 302.
- ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 10, hal. 241-242, menukil dari yang lain.
- ↑ Ibnu A'tsam, al-Futuh, 1411 H, jld. 8, hal. 403.
- ↑ Ibnu Miskawaih, Tajarib al-Umam, 1379 HS, jld. 3, hal. 506.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 8, hal. 269; Ibnu Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, 1410 H, jld. 2, hal. 232.
- ↑ Ibnu Qutaibah Dinawari, al-Imamah wa al-Siyasah, 1410 H, jld. 2, hal. 232.
- ↑ Ibnu Taghri Birdi, al-Nujum al-Zahirah, Mesir, jld. 2, hal. 81.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 8, hal. 275; Ibnu Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, 1408 H, jld. 3, hal. 279.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 8, hal. 275; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 10, hal. 187; Ibnu Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, 1408 H, jld. 3, hal. 279.
- ↑ Ibnu Miskawaih, Tajarib al-Umam, 1379 HS, jld. 3, hal. 528.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 8, hal. 283.
- ↑ Ibnu Miskawaih, Tajarib al-Umam, 1379 HS, jld. 3, hal. 528.
- ↑ Ibnu Habib, al-Muhabbar, Beirut, hal. 39; Dinawari, al-Akhbar al-Thiwal, 1368 HS, hal. 392-400; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 10, hal. 241.
- ↑ Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Eslam, 1376 HS, jld. 2, hal. 76.
- ↑ Mas'udi, al-Tanbih wa al-Isyraf, Kairo, hal. 300.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 8, hal. 374.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hal. 353; Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Eslam, 1376 HS, jld. 2, hal. 77.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hal. 353; Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Eslam, 1376 HS, jld. 2, hal. 77.
- ↑ Ibnu Umrani, al-Inba', 1421 H, hal. 89.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hal. 436; Mas'udi, al-Tanbih wa al-Isyraf, Kairo, hal. 300.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hal. 436.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 8, hal. 374-375.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hal. 436.
- ↑ Ibnu Miskawaih, Tajarib al-Umam, 1379 HS, jld. 4, hal. 31.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 8, hal. 375; Ibnu Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, 1408 H, jld. 3, hal. 291.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, 1408 H, jld. 3, hal. 294; Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hal. 352.
- ↑ Rafie'i, Zendegi-ye Aimmeh (as), Teheran, hal. 225.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 8, hal. 373-495.
- ↑ Untuk informasi lebih lanjut rujuklah ke: Ibnu Qutaibah, al-Ma'arif, 1992 M, hal. 386; Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hal. 336-442; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 8, hal. 373-495; Ibnu A'tsam, al-Futuh, 1411 H, jld. 8, hal. 406-416; Dinawari, al-Akhbar al-Thiwal, 1368 HS, hal. 400; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 10, hal. 240.
- ↑ Syaikh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridla (as), 1378 H, jld. 2, hal. 209; Thabarsi, I'lam al-Wara, 1390 HS, hal. 323.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 8, hal. 374.
- ↑ Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Eslam, 1376 HS, jld. 2, hal. 166.
- ↑ Jafarian, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, 1387 HS, hal. 217.
- ↑ Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Eslam, 1376 HS, jld. 2, hal. 166.
- ↑ Husseini Syaharudi, Tarikh-e Zendegani-ye Imam Jawad (as), Teheran, hal. 143.
- ↑ Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Eslam, 1376 HS, jld. 2, hal. 166.
- ↑ Abul Faraj al-Ishfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hal. 420.
- ↑ Ahmadi, Tarikh-e Imam-e Syiah, 1389 HS, hal. 218.
- ↑ Ahmadi, Tarikh-e Imam-e Syiah, 1389 HS, hal. 218.
- ↑ Rafie'i, Zendegi-ye Aimmeh (as), Teheran, hal. 225.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri wa Siyasi-ye Imam-e Syiah (as), Qom, hal. 459.
- ↑ Ahmadi, Tarikh-e Imam-e Syiah, 1389 HS, hal. 218.
- ↑ Ahmadi, Tarikh-e Imam-e Syiah, 1389 HS, hal. 218.
Daftar Pustaka
- Ayenehvand, Sadeq. Adabiyat-e Siyasi-ye Tasyayyu'. Teheran: Penerbit Ilm, 1387 HS.
- Abul Faraj al-Ishfahani, Ali bin Husain. Maqatil al-Thalibiyyin. Riset: Sayid Ahmad Saqar. Beirut: Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
- Ibnu A'tsam, Ahmad. al-Futuh. Riset: Ali Syiri. Beirut: Dar al-Adhwa, 1411 H.
- Ibnu Taghri Birdi, Yusuf. al-Nujum al-Zahirah fi Muluk Misr wa al-Qahirah. Mesir: Wezarat al-Tsaqafah wa al-Ersyad al-Qaumi, tanpa tahun.
- Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. al-Muntadzam fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset: Muhammad Abdul Qadir Ata dan Mustafa Abdul Qadir Ata. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1412 H.
- Ibnu Habib, Muhammad bin Habib. al-Muhabbar. Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, tanpa tahun.
- Ibnu Hazm, Ali bin Ahmad. Jamharah Ansab al-'Arab. Riset: Komite Ilmuwan. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1403 H.
- Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad. Tarikh Ibn Khaldun: al-Musamma bi Ketab al-'Ibar wa Diwan al-Mubtada' wa al-Khabar fi Ayyam al-'Arab wa al-'Ajam wa al-Barbar wa man 'Asharahum min Dzawi al-Sulthan al-Akbar. Beirut: Dar al-Fikr, Cetakan Kedua, 1408 H.
- Ibnu 'Ibri, Gregorius al-Malthi. Tarikh Mukhtashar al-Duwal. Riset: Anton Salhani al-Yasu'i. Beirut: Dar al-Syarq, Cetakan Ketiga, 1992 M.
- Ibnu Umrani, Muhammad bin Ali. al-Inba' fi Tarikh al-Khulafa. Riset: Qasim al-Samarrai. Kairo: Dar al-Afaq al-Arabiyyah, 1421 H.
- Ibnu Qutaibah Dinawari, Abdullah bin Muslim. al-Imamah wa al-Siyasah al-Ma'ruf bi Tarikh al-Khulafa. Riset: Ali Syiri. Beirut: Dar al-Adhwa, 1410 H.
- Ibnu Qutaibah Dinawari, Abdullah bin Muslim. al-Ma'arif. Riset: Tsaruwat Ukasyah. Kairo: al-Hai'ah al-Misriyyah al-Ammah lil-Kitab, Cetakan Kedua, 1992 M.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H.
- Ibnu Miskawaih, Abu Ali. Tajarib al-Umam. Riset: Abu al-Qasim Emami. Teheran: Soroush, 1379 HS.
- Ahmadi, Hamid. Tarikh-e Imam-e Syiah. Qom: Daftare Nasyr-e Ma'arif, 1389 HS.
- Jan-ahmadi, Fatimah. Tarikh Farhang wa Tamaddun-e Eslami. Riset: Mehdi Najaf. Qom: Daftare Nasyr-e Ma'arif, 1386 HS.
- Jafarian, Rasul. Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran. Teheran: Penerbit Ilm, 1387 HS.
- Jafarian, Rasul. Hayat-e Fekri wa Siyasi-ye Imam-e Syiah (as). Qom: Ansharian, Cetakan Keenam, tanpa tahun.
- Kelompok Penulis. Farhang-e Syiah. Qom: Zamzam-e Hedayat, Cetakan Kedua, 1386 HS.
- Hasan, Hasan Ibrahim. Tarikh-e Siyasi-ye Eslam. Terjemahan: Abolqasem Payandeh. Teheran: Javidan, Cetakan Kesembilan, 1376 HS.
- Husseini Syaharudi, Muhammad. Tarikh-e Zendegani-ye Imam Jawad (as). Teheran: Administrasi Pendidikan Ideologi Politik Perwakilan Wali Fakih di Korps Pengawal Revolusi Islam, tanpa tahun.
- Dinawari, Ahmad bin Daud. al-Akhbar al-Thiwal. Riset: Abdul Mun'im Amir, tinjauan: Jamaluddin Syayyal. Qom: Mansyurat al-Radhi, 1368 HS.
- Rafie'i, Ali. Zendegi-ye Aimmeh (as). Teheran: Pusat Lembaga Riset Korps Pengawal Revolusi Islam, tanpa tahun.
- Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. Tarikh al-Khulafa. Damaskus: Dar al-Basya'ir, 1417 H.
- Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Uyun Akhbar al-Ridla (as). Teheran: Penerbit Jahan, 1378 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. I'lam al-Wara bi-A'lam al-Huda. Teheran: Islamiyah, Cetakan Ketiga, 1390 HS.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset: Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar al-Turats, Cetakan Kedua, 1387 H.
- Mas'udi, Ali bin Husain. al-Tanbih wa al-Isyraf. Koreksi: Abdullah Ismail al-Sawi. Kairo: Dar al-Sawi, tanpa tahun.
- Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qub. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut: Dar Sadir, tanpa tahun.