Lompat ke isi

Konsep:Sifat fi'liyah

Dari wikishia

Sifat Fi'liyah (bahasa Arab:الصفات الفعلية) atau Sifat Perbuatan, berbeda dengan sifat dzati[1] adalah sifat-sifat yang dinisbatkan kepada pekerjaan dan perbuatan Allah swt, seperti sifat Pencipta (Khaliq), Pemberi Rezeki (Raziq), atau Pengatur (Mudabbir).[2] Sifat-sifat ini berbeda dengan sifat dzati yang merupakan karakteristik tetap dan abadi bagi Allah swt.

Pembagian sifat menjadi dzati dan fi'liyah oleh para teolog didasarkan pada dua kriteria:

Kriteria Lama: Sifat fi'liyah adalah sifat-sifat di mana Allah dapat disifati dengannya dan juga dapat dinafikan dari-Nya. Sebagai contoh, dapat dikatakan bahwa Allah adalah Pencipta hal ini tetapi bukan Pencipta hal itu, atau Allah mengampuni hamba yang melakukan istighfar tetapi tidak mengampuni hamba yang bersikeras dalam dosa.[3] Dikatakan bahwa sifat kehendak (iradah) juga dianggap sebagai sifat fi'liyah berdasarkan kriteria ini.[4] Kriteria ini dikemukakan oleh Syekh Kulaini[5] (W. 329 H) dan Ali bin Muhammad al-Jurjani[6] (W. 816 H).

Kriteria Umum: Sifat fi'liyah adalah sifat-sifat yang diabstraksikan dari hubungan antara Dzat dan makhluk, dan tidak seperti sifat dzati, untuk menisbatkan Allah pada sifat-sifat ini diperlukan keberadaan makhluk.[7] Dengan pandangan ini, sifat-sifat seperti keadilan dan hikmah (kebijaksanaan) termasuk dalam sifat fi'liyah, sedangkan menurut kriteria sebelumnya, sifat-sifat tersebut tergolong sifat dzati.[8] Menurut Mishbah Yazdi, sifat-sifat ini karena hanya menjelaskan hubungan dan nisbah tambahan antara dua pihak, maka dengan ketiadaan satu pihak, sifat tersebut akan hilang, dan karena itu sifat-sifat ini juga disebut sebagai sifat idhafiyah (relasional).[9]

Salah satu masalah yang berkaitan dengan sifat dzati dan fi'liyah adalah bagaimana terjadinya perubahan pada sifat fi'liyah. Dikatakan bahwa perubahan sifat fi'liyah tidak berarti perubahan pada Dzat Allah; melainkan makhluk-makhluklah yang berubah, dan dengan perubahan mereka, sifat tertentu dari hubungan mereka dengan Allah muncul. Oleh karena itu, sifat fi'liyah berbeda dengan sifat dzati yang merupakan ain (identik dengan) Dzat, melainkan independen dan terpisah dari Dzat Allah.[10]

Menurut Mishbah Yazdi, salah seorang filsuf Islam, jika sifat fi'liyah ditinjau dari segi sumbernya, maka sifat-sifat tersebut akan kembali kepada sifat dzati. Misalnya, kita mengartikan Pencipta sebagai Dzat yang memiliki kemampuan untuk mencipta, bukan Dzat yang telah melakukan pekerjaan penciptaan.[11] Ja'far Subhani, salah seorang teolog Imamiyah, juga berpendapat bahwa semua sifat fi'liyah kembali kepada sifat Qayyumiyah Allah.[12]

Catatan Kaki

  1. Thabathabai, Al-Rasail al-Tawhidiyyah, 1419 H, hlm. 24.
  2. Thabathabai, Al-Rasail al-Tawhidiyyah, 1419 H, hlm. 24.
  3. Subhani, Al-Ilahiyyat 'ala Huda al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Aql, 1413 H, jld. 1, hlm. 84.
  4. Rabbani Golpaygani, Aqaid Istedlali (Akidah Argumentatif), jld. 1, hlm. 105-106.
  5. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 111.
  6. Jurjani, Al-Ta'rifat, 1412 H, hlm. 95.
  7. Mishbah Yazdi, Amuzesy-e Aqaid (Pendidikan Akidah), 1384 HS, hlm. 74; Rabbani Golpaygani, Aqaid Istedlali (Akidah Argumentatif), jld. 1, hlm. 105-106.
  8. Jawadi Amoli, Tauhid dar Qur'an (Tauhid dalam Al-Qur'an), 1395 HS, hlm. 293-294; Rabbani Golpaygani, Aqaid Istedlali (Akidah Argumentatif), jld. 1, hlm. 105.
  9. Mishbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafeh (Pendidikan Filsafat), 1391 HS, jld. 2, hlm. 462.
  10. Mishbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafeh (Pendidikan Filsafat), 1391 HS, jld. 2, hlm. 462; Abudiyat, Khoda Syenasi (Teologi), 1398 HS, hlm. 193.
  11. Mishbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafeh (Pendidikan Filsafat), 1391 HS, jld. 2, hlm. 462.
  12. Subhani, Al-Ilahiyyat 'ala Huda al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Aql, 1413 H, jld. 1, hlm. 85.

Daftar Pustaka

  • Abudiyat, Abdurrasul dan Mujtaba Mishbah. Khoda Syenasi (Teologi). Qom: Muassasah Amuzsehi Pajuhesyi Imam Khomeini ra, 1398 HS.
  • Jawadi Amoli, Abdullah. Tauhid dar Qur'an: Tafsir-e Maudhu'i Qur'an-e Karim (Tauhid dalam Al-Qur'an: Tafsir Tematik Al-Qur'an Al-Karim). Riset dan penyusunan oleh Haidar Ali Ayyubi. Qom: Isra', Cetakan kedelapan, 1395 HS.
  • Jurjani, Mir Sayid Syarif. Al-Ta'rifat. Teheran: Nashir Khusraw, 1412 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Mishbah Yazdi, Muhammad Taqi. Amuzesy-e Aqaid (Pendidikan Akidah). Teheran: Syirkat-e Chap va Nasyr-e Beynul Melal Sazman-e Tablighat-e Eslami, Cetakan ketujuh belas, 1384 HS.
  • Mishbah Yazdi, Muhammad Taqi. Amuzesy-e Falsafeh (Pendidikan Filsafat). Qom: Muassasah Amuzsehi Pajuhesyi Imam Khomeini ra, 1391 HS.
  • Rabbani Golpaygani, Ali. Aqaid Istedlali (Akidah Argumentatif). Qom: Nasyr-e Hajar, Tanpa Tahun.
  • Subhani, Ja'far. Al-Ilahiyyat 'ala Huda al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Aql. Qom: Muassasah al-Imam al-Shadiq as, 1413 H.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Rasail al-Tawhidiyyah. Beirut: Muassasah al-Nu'man, 1419 H.