Lompat ke isi

Konsep:Muntashir Abbasi

Dari wikishia
Muntashir Abbasi
NamaMuhammad bin Ja'far al-Mutawakkil
LakabAl-Muntashir billah
Lahir222/836-37 (Samarra)
Mati248/862-63 (Samarra)
AyahMutawakkil Abbasi
IbuHabasyiyah Rumiyah
AgamaIslam
Tempat dikuburkanSamarra
JabatanKhalifah ke-11 Abbasiyah
SilsilahBani Abbasiyah
Mulai pemerintahan247/861-62
Akhir pemerintahan248/862-63
Semasa denganImam Hadi as
Pusat pemerintahanSamarra
Aktivitas pentingBersikap toleran terhadap Ahlulbait as dan kaum Syiah, membebaskan Ziarah makam para Imam as, dan mengembalikan Fadak kepada Alawiyyin
SebelumAl-Musta'in
SesudahMutawakkil Abbasi



Muntashir Abbasi atau Al-Muntashir billah (222/836-37- 248/862-63) adalah salah seorang khalifah Abbasiyah yang sezaman dengan Imam Hadi as dan putra dari Mutawakkil Abbasi. Ia naik ke kursi kekhalifahan pada tahun 247/861-62 setelah ayahnya. Pemerintahan Al-Muntashir berlangsung sekitar enam bulan, yang bertepatan dengan masa Imamah Imam Hadi as selama 33 tahun. Pada masa pemerintahannya, orang-orang Turki memiliki pengaruh besar dalam aparatur pemerintahan.

Al-Muntashir Abbasi menentang perlakuan buruk ayahnya terhadap Alawiyyin dan kaum Syiah. Ia menunjukkan dirinya sebagai pecinta Ahlulbait as dan setelah meraih kekuasaan, ia melakukan langkah-langkah yang menguntungkan kaum Syiah. Di masanya, tekanan dari aparatur pemerintah terhadap Imam Hadi as berkurang. Al-Muntashir menerapkan kebijakan penghentian pengejaran terhadap kaum Alawi dan Syiah serta mendistribusikan harta di antara mereka. Dikatakan bahwa pengurangan relatif tekanan terhadap kaum Syiah memperkuat pengorganisasian kaum Syiah dan penyebaran paham Syiah.

Muhammad al-Muntashir membebaskan Ziarah ke makam para Imam Syiah as yang sebelumnya dilarang pada masa ayahnya, dan membangun kembali makam Imam Husain as setelah dihancurkan oleh ayahnya. Ia mengembalikan Fadak dan wakaf-wakaf yang disita kepada kaum Alawi. Dalam rangka mendukung kaum Alawi, ia mencopot gubernur Madinah karena perlakuan buruknya terhadap mereka.

Pemberontakan kaum Alawi pada masa pemerintahan Al-Muntashir sempat berhenti sejenak dan berlanjut kembali setelah masa jabatannya berakhir. Diklaim bahwa selama kekhalifahannya, tidak ada satu pun dari kaum Alawi dan pengikutnya yang terbunuh. Tindakan-tindakannya yang menguntungkan kaum Syiah membuat beberapa pihak memperkenalkannya sebagai seorang Syiah dan mengenangnya sebagai tokoh besar dalam sejarah; meskipun sebagian orang menilai alasan perilaku baiknya tersebut sebagai langkah politik untuk menghadapi masalah internal.

Kebanyakan sejarawan meyakini bahwa Al-Muntashir terlibat dalam pembunuhan ayahnya yang dilakukan oleh para panglima Turki. Penghinaan dan penganiayaan terhadap Al-Muntashir serta penghinaan terhadap Imam Ali as dan Sayidah Fatimah sa oleh Al-Mutawakkil disebut sebagai alasan keputusan Al-Muntashir untuk membunuh ayahnya. Al-Muntashir terbunuh setelah enam bulan berkuasa melalui konspirasi orang-orang Turki yang mengetahui keputusannya untuk membinasakan mereka, dan setelahnya Al-Musta'in, salah seorang cucu Al-Mu'tashim, menjadi khalifah.

Pengenalan Singkat

Muhammad bin Ja'far al-Mutawakkil yang bergelar Al-Muntashir billah[1] adalah salah seorang dari khalifah Abbasiyah.[2] Kunyahnya adalah Abu Ja'far[3] atau Abul Abbas[4] atau Abul Qasim.[5] Ayahnya adalah Mutawakkil Abbasi dan saudara-saudaranya, Al-Mu'tazz dan Al-Mu'tamid, adalah khalifah Abbasiyah sebelum dan sesudahnya.[6] Kekhalifahan Al-Muntashir selama 6 bulan sezaman dengan imamah Imam Hadi as.[7]

Al-Muntashir lahir pada tahun 222/836-37[8] atau 225/839-40[9] di Samarra. Ibunya adalah seorang budak perempuan Romawi bernama Habasyiyah.[10] Pada masa pemerintahan Al-Mutawakkil sebagai putra mahkota, ia memerintah wilayah-wilayah seperti Mekah, Madinah, Yaman, dan Thaif[11] serta disebutkan pula pengangkatannya sebagai Amirul Haj.[12] Ia diperkenalkan sebagai pribadi yang dermawan, penyayang,[13] bijaksana, dan gemar berbuat kebajikan[14] yang memperlakukan rakyat dengan adil dan insaf.[15] Ia merupakan salah seorang penyair pada zamannya[16] dan telah menggubah banyak syair dalam berbagai bidang.[17]

Al-Muntashir Abbasi wafat pada 5 Rabiul Akhir tahun 248/862-63[18] di usia 25[19] atau 26 tahun[20] dan dimakamkan di Samarra.[21] Dikatakan bahwa ia meninggal karena penyakit demam flu[22] atau pembengkakan yang terjadi di kedua sisi tenggorokannya.[23] Namun, diklaim bahwa kebanyakan sejarawan meyakini bahwa Al-Muntashir tidak wafat secara wajar[24] dan orang-orang Turki memfasilitasi pembunuhannya karena takut kepadanya.[25]

Para panglima Turki merencanakan pembunuhannya setelah Al-Muntashir menyebut mereka sebagai pembunuh para khalifah dan melaknat mereka,[26] serta mengetahui keputusan Al-Muntashir untuk membinasakan dan membubarkan mereka.[27] Setelah Al-Muntashir sakit, mereka merayu Ibnu Thayfur, dokter istana, dengan uang sebesar tiga puluh ribu dinar, yang kemudian dengan alasan hijamah, meracuni Al-Muntashir menggunakan pisau bedah yang telah diolesi racun.[28] Para panglima Turki menghalangi kenaikan tahta putra-putra Al-Mutawakkil karena takut akan pembalasan dendam, dan setelah Al-Muntashir, mereka berBaiat kepada salah seorang cucu Al-Mu'tashim bernama Ahmad bin Muhammad yang bergelar Al-Musta'in.[29]

Pembunuh Ayah

Menurut keyakinan kebanyakan sejarawan, Muhammad al-Muntashir terlibat dalam pembunuhan ayahnya, Al-Mutawakkil.[30] Ia membunuh ayahnya dengan bantuan para panglima Turki yang merasa sakit hati kepada Al-Mutawakkil.[31] Al-Mutawakkil selain menekan dan mengambil sebagian properti orang-orang Turki,[32] juga membunuh sejumlah pembesar mereka, yang menyebabkan orang-orang Turki bersekongkol melawannya.[33] Mereka dengan sepengetahuan Al-Muntashir[34] memasuki istana di malam hari dan membunuh Al-Mutawakkil saat ia sedang dalam jamuan minuman keras dan mabuk bersama menterinya, Fath bin Khaqan.[35] Al-Muntashir melimpahkan kesalahan pembunuhan tersebut kepada Fath bin Khaqan.[36] Dikatakan bahwa konspirasinya pernah digagalkan sekali oleh beberapa panglima Turki seperti Fath bin Khaqan; namun akhirnya pada konspirasi berikutnya ia berhasil membunuh ayahnya.[37] Diklaim bahwa seluruh lingkaran Syiah merasa gembira atas terbunuhnya Al-Mutawakkil di tangan putranya.[38]

Berdasarkan beberapa laporan, banyak orang yang membandingkan tindakan Al-Muntashir dengan Syiruyeh yang membunuh ayahnya, Khosrau Parviz, dan tidak memerintah lebih dari enam bulan, meyakini bahwa Al-Muntashir juga tidak akan memerintah lebih dari enam bulan. Keyakinan ini tersebar di kalangan elit maupun masyarakat umum.[39] Al-Muntashir setiap kali teringat pembunuhan ayahnya, hatinya bergetar.[40] Ia mengungkapkan penyesalannya karena telah membunuh ayahnya di saat menjelang kematian.[41]

Motivasi Pembunuhan

Para sejarawan dan peneliti menyebutkan berbagai alasan sebagai motivasi pembunuhan ayah oleh Al-Muntashir, beberapa di antaranya adalah:

Penghinaan dan Penganiayaan Terhadap Al-Muntashir

Laporan-laporan menunjukkan bahwa selalu ada permusuhan antara Al-Muntashir dan ayahnya dan mereka saling berusaha menyakiti satu sama lain.[42] Al-Mutawakkil tidak mempedulikan Al-Muntashir[43] dan memukulinya dalam berbagai pertemuan,[44] bahkan mencaci-maki dirinya dan ibunya serta mengancam akan membunuhnya. Dalam beberapa sumber, perlakuan semacam ini disebut sebagai alasan keputusan Al-Muntashir untuk membunuh ayahnya.[45] Dikatakan bahwa Al-Muntashir memiliki mazhab yang bertentangan dengan mazhab ayahnya[46] dan bersikeras menentang ayahnya dalam segala hal termasuk Akhlak dan mazhab.[47]

Keputusan Al-Mutawakkil untuk Mencopot Al-Muntashir dari Posisi Putra Mahkota

Mutawakkil Abbasi menyesali pengangkatan Al-Muntashir sebagai putra mahkota[48] dan memutuskan untuk mendahulukan Al-Mu'tazz sebagai putra mahkota daripada Al-Muntashir dan Al-Mu'ayyad.[49] Al-Mutawakkil beberapa kali mengirim Al-Mu'tazz sebagai penggantinya untuk mengimami salat jamaah, yang menyebabkan kesedihan mendalam bagi Al-Muntashir. Kecintaan Al-Mutawakkil kepada ibu Al-Mu'tazz serta upaya para pejabat istana untuk memunculkan Al-Mu'tazz dianggap sebagai alasan keputusan Al-Mutawakkil untuk mencopot Al-Muntashir. Hal inilah yang menyebabkannya memutuskan membunuh ayahnya.[50]

Penghinaan Al-Mutawakkil Terhadap Imam Ali as

Diklaim bahwa Al-Muntashir membunuh ayahnya karena dakwaan menghina Imam Ali as dan dalam rangka membela beliau serta keluarganya.[51] Al-Mutawakkil memiliki kebencian besar terhadap Imam Ali as; namun Al-Muntashir mencintai Imam as dan putra-putranya.[52] Al-Muntashir selalu merasa sedih dan mengkritik ayahnya yang telah berpaling dari tradisi para pendahulu yaitu mazhab I'tizal dan menyebut Imam Ali as dengan buruk serta menghina beliau.[53] Al-Muntashir mengancam orang-orang di sekitar Al-Mutawakkil yang mencela Imam Ali as. Ia selalu berkata kepada ayahnya bahwa Ali as adalah sepupumu, pembesar kaum dan keluargamu, serta sumber kebanggaanmu.[54] Ia adalah pemimpin kami dan pembesar Bani Hasyim, jika engkau ingin menghinanya, lakukanlah sendiri tetapi jangan izinkan orang lain dan orang di sekitarmu melakukan penghinaan. Al-Mutawakkil juga mengambil sikap menentangnya dan selain menghina serta mencacinya, ia juga mengancam akan mencopot posisi putra mahkotanya dan membunuhnya.[55]

Berdasarkan beberapa laporan, dalam salah satu jamuan pesta, para pelawak menghina Imam Ali as sehingga menyebabkan Al-Mutawakkil tertawa. Al-Muntashir marah dan menegur ayahnya di hadapan orang banyak, yang kemudian menyebabkan kemarahan Al-Mutawakkil dan penghinaan terhadap dirinya serta ibunya.[56] Peristiwa ini dianggap sebagai salah satu motivasi Al-Muntashir untuk membunuh Al-Mutawakkil[57] dan alasan ini diklaim sebagai alasan yang masyhur.[58] Dikatakan bahwa Al-Muntashir dalam rencana pembunuhan ayahnya telah berkonsultasi dengan beberapa ulama dan fukaha serta menjelaskan keyakinan ayahnya dalam memusuhi keluarga Ali serta tindakan buruk lainnya kepada mereka, dan mereka menyarankan untuk membunuhnya.[59]

Penghinaan Al-Mutawakkil Terhadap Sayidah Fatimah sa

Berdasarkan klaim beberapa sumber Syiah, Al-Mutawakkil dalam salah satu pertemuan menghina Sayidah Fatimah sa dengan cacian, yang menyebabkan kesedihan mendalam bagi Al-Muntashir. Ia menyampaikan peristiwa penghinaan Al-Mutawakkil terhadap Sayidah Zahra sa kepada sejumlah fukaha. Mereka memberikan hukum atas kewajiban membunuhnya, namun memperingatkan Al-Muntashir bahwa jika ia membunuh ayahnya, usianya akan menjadi pendek. Al-Muntashir menganggap kepatuhan kepada Allah lebih baik daripada panjangnya usianya sendiri.[60] Allamah Majlisi dalam kitab Jala' al-'Uyun menyebutkan, mungkin dapat dikatakan bahwa pendeknya usianya menjadi penyebab kebahagiaannya di Akhirat, karena amal baiknya menyebabkan masa hidupnya tidak lagi terkotori dengan merampas kekhalifahan.[61]

Meraih Kekuasaan

Al-Muntashir Abbasi yang merupakan putra mahkota pertama Al-Mutawakkil[62] naik ke kursi kekhalifahan pada empat Syawal tahun 247/861-62.[63] Ia berusia 25 tahun saat meraih kekuasaan.[64] Al-Muntashir berkuasa selama enam[65] atau tujuh bulan.[66] Di masa Al-Muntashir Abbasi, sebagaimana para khalifah sebelumnya, kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki dan kekhalifahan menjadi mainan di tangan mereka.[67] Setelah berkuasa, ia di bawah tekanan dari orang-orang Turki[68] mencopot saudara-saudaranya, Al-Mu'tazz dan Al-Mu'ayyad, dari posisi putra mahkota.[69] Ia sebelum menjadi khalifah memiliki hubungan yang hangat dengan orang-orang Turki; namun setelah menjadi khalifah ia berpaling dari mereka; hal inilah yang memicu kebencian orang-orang Turki.[70]

Pemberontakan kaum Alawiyyin yang mencapai puncaknya pada masa Al-Mutawakkil, sempat terhenti sejenak di masa Al-Muntashir namun berlanjut kembali setelahnya.[71] Di masanya, Muhammad bin Amru al-Syari yang berasal dari kelompok Khawarij memberontak di wilayah Mosul; namun ia terbunuh di tangan Al-Muntashir;[72] meskipun dikatakan bahwa Al-Muntashir memaafkan dan membebaskannya setelah mengambil janji darinya.[73] Dalam sumber-sumber juga disebutkan tentang perintah Al-Muntashir untuk ekspedisi militer ke Romawi.[74] Ya'qub bin Yazid bin Hammad al-Sulami yang dikenal dengan Katib Abu Yusuf, salah seorang ahli hadis dan ulama Syiah serta sahabat para Imam as, memperoleh kedudukan penting di istana pemerintahan Al-Muntashir dan menjadi salah satu juru tulis istana.[75]

Tindakan-Tindakannya yang Menguntungkan Kaum Syiah

Muntashir Abbasi selama masa kekhalifahannya melakukan langkah-langkah yang menguntungkan kaum Syiah. Ia adalah orang pertama dari Bani Abbasiyah yang menentang ayahnya[76] dalam memusuhi Ahlulbait as.[77] Al-Muntashir dianggap sebagai yang paling insaf di antara seluruh khalifah Abbasiyah dalam menghadapi kaum Syiah.[78] Amal perbuatannya yang menguntungkan kaum Alawi menyebabkannya dikenang sebagai orang besar dalam sejarah[79] dan tindakan-tindakannya terhadap kaum Syiah digambarkan sebagai hal yang cemerlang, bijaksana,[80] tak terlupakan, dan menjadi buah bibir sejarah;[81] namun kebijakan baru dari khalifah ini terhenti dengan naiknya Al-Musta'in ke kekuasaan pada tahun 248/862-63.[82]

Tindakan Al-Muntashir yang menguntungkan kaum Syiah dan perlawanannya terhadap ayahnya dalam memusuhi Ahlulbait as menyebabkan beberapa peneliti selain menganggapnya memiliki kemuliaan,[83] juga memperkenalkannya sebagai seorang Syiah dan menganggap ayahnya, Al-Mutawakkil, sebagai salah seorang pelaku bidah Nashibi.[84] Sebaliknya, sekelompok orang dengan pandangan yang berbeda, menganggap alasan perilaku baik Al-Muntashir terhadap kaum Alawi dikarenakan masalah internal aparatur pemerintah[85] dan dengan merujuk pada dosa merampas kekhalifahan, menilai tindakannya yang menguntungkan kaum Alawi sebagai langkah politik untuk menghadapi orang-orang Turki dan membenarkan pembunuhan ayahnya; sebagaimana menurut beberapa laporan Al-Muntashir dengan sebuah perintah meminta gubernur Mesir untuk menghalangi pembelian tanah dan budak oleh kaum Alawi di daerah tersebut serta menghalangi mereka menunggang kuda dan berpindah tempat.[86]

Toleransi Terhadap Imam Hadi as dan Ahlulbait as

Menurut keyakinan beberapa peneliti, pada masa pemerintahan Al-Muntashir tekanan aparatur kekhalifahan terhadap Imam Hadi as[87] berkurang; namun kebijakan tempat tinggal paksa beliau di Samarra dan pembatasan-pembatasan yang diakibatkannya tetap berlanjut.[88] Diklaim bahwa sumber-sumber sejarah tidak mencatat adanya bentrokan atau peristiwa apa pun antara Imam Hadi as dan Al-Muntashir, dan bahwa Imam as merasa gembira atas perilakunya terhadap Alawiyyin serta kembalinya keamanan dan ketenangan.[89]

Keluarga Nabi saw sebelum kekhalifahan Al-Muntashir berada dalam kesulitan dan penganiayaan;[90] namun Al-Muntashir berbeda dengan ayahnya, menunjukkan dirinya sebagai pecinta keluarga Nabi saw dan bersikap lembut terhadap Ahlulbait as.[91] Ia memberikan kebaikan dan kemuliaan kepada kaum Alawi[92] dan memerintahkan agar berhenti mengganggu keluarga Abu Thalib[93] serta kaum Alawi[94] dan menahan diri dari mengejar mereka. Al-Muntashir mendistribusikan banyak harta di antara mereka untuk mendukung mereka.[95] Menurut keyakinan Abul Faraj al-Isfahani, di masa Al-Muntashir tidak ada satu pun dari keluarga Abu Thalib yang terbunuh dan bahkan tidak dijebloskan ke penjara.[96]

Kebijakannya mengenai kaum Alawi disambut baik oleh masyarakat umum dan para elit, serta para penyair mulai memuji khalifah. Yazid bin Muhammad al-Muhallabi yang tergolong sebagai penyair Syiah, menuangkan kebaikan Al-Muntashir kepada keluarga Thalib dan kembalinya ketenangan ke dunia Syiah serta sirnanya dendam dalam bentuk syair.[97]

Toleransi Terhadap Kaum Syiah

Diklaim bahwa Al-Muntashir menempuh kebijakan yang adil terhadap kaum Syiah[98] dan lebih mentoleransi mereka daripada ayahnya, Al-Mutawakkil.[99] Ayahnya dianggap sebagai musuh Ahlulbait as dan kesulitan kaum Syiah mencapai puncaknya di masanya.[100] Muntashir Abbasi menentang perilaku ayahnya terhadap kaum Syiah. Setelah meraih kekuasaan, ia mengeluarkan perintah penghentian penangkapan kaum Syiah dan mengurangi penindasan terhadap kelompok Imamiyah.[101] Di masa pemerintahannya, kaum Syiah memiliki kebebasan bertindak yang relatif dan penganiayaan terhadap kaum Syiah dicegah.[102]

Pengurangan relatif tekanan tersebut selain memperkuat pengorganisasian kaum Syiah di berbagai wilayah,[103] juga menyebabkan penyebaran paham Syiah dan ilmu kaum Syiah.[104] Meskipun di beberapa wilayah Islam tekanan para pejabat pemerintah terhadap kaum Syiah tetap berlanjut; sebagaimana disebutkan tentang penangkapan dan pemenjaraan Ali bin Ja'far Humani, salah seorang wakil Imam Hadi as, dan Muhammad bin Faraj di Mesir.[105]

Membebaskan Ziarah Makam Para Imam as

Di masa sebelum Al-Muntashir dan pada masa pemerintahan Al-Mutawakkil, Ziarah makam para Imam as dinyatakan terlarang dan kaum Syiah yang pergi berziarah disiksa serta dibunuh.[106] Al-Mutawakkil dalam rangka memusuhi Ahlulbait as, menghancurkan makam Imam Husain as[107] serta rumah-rumah di sekitarnya,[108] serta memberlakukan kembali pencacian dan laknat terhadap Imam Ali as.[109] Dikatakan bahwa Al-Muntashir menganggap penghancuran makam Imam Husain as sebagai bentuk keluar dari Islam ayahnya dan ia memusuhi ayahnya.

Makam Imam Husain as dibangun kembali untuk ketiga kalinya[110] pada masa kekhalifahan Al-Muntashir.[111] Ia membebaskan ziarah makam para Imam as[112] khususnya ziarah Haram Imam Ali as[113] dan Imam Husain as,[114] serta memerintahkan agar tidak ada seorang pun yang menghalangi ziarah kaum Syiah dan para pecinta Imam as. Bahkan dikatakan bahwa banyak sejarawan meyakini bahwa Al-Muntashir mendorong orang-orang untuk menziarahi makam Husain as.[115] Menurut keyakinan Suyuthi, salah seorang ulama Ahlusunah, Al-Muntashir dengan tindakan ini menjauhkan rasa takut dan kesedihan dari keluarga Abu Thalib.[116] Kebebasan berziarah di masanya serta penekanan para Imam Syiah dalam memuliakan Hair Husaini menyebabkan sekelompok kaum Alawi dan Syiah menetap di sekitarnya, yang mana di antaranya terlihat nama Ibrahim al-Mujab, salah seorang putra Imam Musa al-Kadzim as, sebagai orang Alawi pertama.[117]

Mencopot Penguasa Madinah Karena Permusuhan Terhadap Kaum Syiah

Al-Muntashir dalam salah satu tindakannya yang menguntungkan kaum Syiah, mencopot gubernur Madinah yang dikenal karena perlakuan buruknya terhadap Alawiyyin,[118] dan menggantikannya dengan Ali bin Husain bin Ismail. Muntashir Abbasi meminta penguasa baru tersebut untuk mewakilinya dalam bersikap baik terhadap kaum Alawi dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka.[119] Ia memperingatkan penguasa baru tersebut mengenai penderitaan dan kezaliman terhadap kaum Alawi dan menganggap pengabdian kepada mereka sebagai penyebab kebahagiaan di sisi Allah.[120]

Mengembalikan Fadak

Muntashir Abbasi mengembalikan kebun Fadak kepada kaum Alawiyyin.[121] Ia menghapuskan hukum pelarangan wakaf kaum Alawi[122] dan mengembalikan wakaf-wakaf yang telah disita kepada keluarga Abu Thalib.[123]

Menurut keyakinan beberapa peneliti, Fadak dengan alasan-alasan yang melampaui aspek ekonomi, menjadi perhatian dan sensitivitas para khalifah Abbasiyah. Masing-masing khalifah mengambil sikap terhadapnya sesuai dengan metode politik mereka. Beberapa khalifah untuk menunjukkan permusuhan mereka terhadap Ahlulbait as dan mengucilkan kaum Alawi dari masyarakat Islam serta melemahkan posisi mereka, melakukan perampasan terhadap Fadak. Sebagaimana beberapa khalifah lainnya seperti Al-Muntashir dalam sebuah langkah politik untuk menunjukkan solidaritas dan bakti kepada keluarga Nabi saw, mengembalikannya kepada kaum Alawi.[124]

Catatan Kaki

  1. Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999 M, jld. 3, hlm. 182.
  2. Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999 M, jld. 3, hlm. 181; Zirikli, Al-A'lam, 1989 M, jld. 6, hlm. 70.
  3. Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 2, hlm. 118; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 2, hlm. 289; Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', 1417 H, hlm. 420.
  4. Ibnu Futhi, Majma' al-Adab, 1416 H, jld. 5, hlm. 529.
  5. Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999 M, jld. 3, hlm. 181.
  6. Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', 1417 H, hlm. 421.
  7. Ahmadi, Tarikh-e Emaman-e Syi'eh (Sejarah Para Imam Syiah), 1389 HS, hlm. 238.
  8. Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 2, hlm. 118.
  9. Ibnu Futhi, Majma' al-Adab, 1416 H, jld. 5, hlm. 529.
  10. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 46; Ibnu Futhi, Majma' al-Adab, 1416 H, jld. 5, hlm. 529; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 2, hlm. 289.
  11. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 9, hlm. 175; Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 341; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 10, hlm. 312.
  12. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 9, hlm. 186.
  13. Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', 1417 H, hlm. 420; Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999 M, jld. 3, hlm. 186.
  14. Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 2, hlm. 289; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 3, hlm. 318.
  15. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 51; Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', 1417 H, hlm. 420; Qurasyi, Zendegani-ye Emam Hasan Askari (as) (Kehidupan Imam Hasan Askari as), 1375 HS, hlm. 256.
  16. Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999 M, jld. 3, hlm. 186.
  17. Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999 M, jld. 3, hlm. 186; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 2, hlm. 290; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 3, hlm. 318.
  18. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 9, hlm. 251.
  19. Abu Makhramah, Qaladah al-Nahr, 1428 H, jld. 2, hlm. 541.
  20. Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 2, hlm. 118; Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', 1417 H, hlm. 421.
  21. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 50; Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 2, hlm. 120.
  22. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 50.
  23. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 9, hlm. 251; Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 353; dengan sedikit perbedaan: Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 18, hlm. 21.
  24. Ibnu Imad Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406 H, jld. 3, hlm. 225; Qurasyi, Zendegani-ye Emam Hasan Askari (as), 1375 HS, hlm. 256; Qurasyi, Tahlili az Zendegani-ye Emam Hadi (as) (Analisis Kehidupan Imam Hadi as), 1371 HS, hlm. 386.
  25. Abu Makhramah, Qaladah al-Nahr, 1428 H, jld. 2, hlm. 541; Ibnu Imad Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406 H, jld. 3, hlm. 225.
  26. Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', 1417 H, hlm. 420-421; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 2, hlm. 289; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 3, hlm. 318.
  27. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 50; Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', 1417 H, hlm. 420; Ibnu Imad Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406 H, jld. 3, hlm. 225.
  28. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 50; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 2, hlm. 289.
  29. Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 354; Ibnu Imad Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406 H, jld. 3, hlm. 225; Ibnu al-Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 237.
  30. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 9, hlm. 225; Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, jld. 6, hlm. 123.
  31. Hamawi, Anis al-Mu'minin, 1363 HS, hlm. 227; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 2, hlm. 289.
  32. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 9, hlm. 222; Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 350; Khwandamir, Tarikh Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 272.
  33. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 36-39.
  34. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 9, hlm. 225-226; Ibnu al-Umrani, Al-Inba', 1421 H, hlm. 119.
  35. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 36-39; Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999 M, jld. 3, hlm. 185-186.
  36. Ibnu al-Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 234; Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Islam (Sejarah Politik Islam), 1376 HS, jld. 3, hlm. 372.
  37. Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Islam, 1376 HS, jld. 3, hlm. 371.
  38. Qurasyi, Zendegani-ye Emam Hasan Askari (as), 1375 HS, hlm. 254.
  39. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 9, hlm. 252; Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Islam, 1376 HS, jld. 3, hlm. 372.
  40. Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 7, hlm. 115; Zirikli, Al-A'lam, 1989 M, jld. 6, hlm. 70.
  41. Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', 1417 H, hlm. 421; Abu Makhramah, Qaladah al-Nahr, 1428 H, jld. 2, hlm. 541.
  42. Ibnu al-Thiqthaqa, Al-Fakhri, 1418 H, hlm. 234.
  43. Qurasyi, Tahlili az Zendegani-ye Emam Hadi (as), 1371 HS, hlm. 379.
  44. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 9, hlm. 225.
  45. Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 2, hlm. 291; Hamawi, Anis al-Mu'minin, 1363 HS, hlm. 227; Khwandamir, Tarikh Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 272.
  46. Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999 M, jld. 3, hlm. 186.
  47. Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 479-480.
  48. Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999 M, jld. 3, hlm. 182.
  49. Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Islam, 1376 HS, jld. 3, hlm. 371.
  50. Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Islam, 1376 HS, jld. 3, hlm. 371.
  51. Amini, Al-Ghadir, 1416 H, jld. 3, hlm. 67.
  52. Qurasyi, Tahlili az Zendegani-ye Emam Hadi (as), 1371 HS, hlm. 379.
  53. Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 349.
  54. Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 7, hlm. 55.
  55. Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 349; Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 7, hlm. 55.
  56. Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 7, hlm. 56.
  57. Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 7, hlm. 56; Qurasyi, Zendegani-ye Emam Hasan Askari (as), 1375 HS, hlm. 243-244; dan dengan sedikit perbedaan: Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999 M, jld. 3, hlm. 182.
  58. Amini, Al-Ghadir, 1416 H, jld. 3, hlm. 67.
  59. Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 7, hlm. 115.
  60. Majlisi, Jala' al-'Uyun, 1382 HS, hlm. 814-815; Qummi, Dam' al-Sujum, 1381 HS, hlm. 515; Jam'i az Newisandegan, Pazhuhesyi dar Maqtal-ha-ye Farsi (Penelitian Maqtal-Maqtal Persia), 1386 HS, hlm. 107.
  61. Majlisi, Jala' al-'Uyun, 1382 HS, hlm. 815.
  62. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 9, hlm. 175; Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 2, hlm. 118; Ibnu al-Umrani, Al-Inba', 1421 H, hlm. 117.
  63. Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', 1417 H, hlm. 420; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 18, hlm. 18.
  64. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 46.
  65. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 46; Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 2, hlm. 118.
  66. Ibnu Imad Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406 H, jld. 3, hlm. 224.
  67. Mudarrisi, Emaman-e Syi'eh wa Jonbesy-ha-ye Maktabi (Para Imam Syiah dan Gerakan-Gerakan Berpaham), 1369 HS, hlm. 317; Muntazharal-Qa'im, Tarikh-e Emamat (Sejarah Imamah), 1386 HS, hlm. 244.
  68. Khwandamir, Tarikh Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 273.
  69. Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', 1417 H, hlm. 420; Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 9, hlm. 244; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 18, hlm. 20.
  70. Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Islam, 1376 HS, jld. 3, hlm. 372.
  71. Muntazharal-Qa'im, Tarikh-e Emamat, 1386 HS, hlm. 246.
  72. Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 374.
  73. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 53.
  74. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 9, hlm. 240; Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 353; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 18, hlm. 19-20.
  75. Syabastari, Subul al-Rasyad, 1421 H, jld. 1, hlm. 288-291.
  76. Zirikli, Al-A'lam, 1989 M, jld. 6, hlm. 70.
  77. Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 504.
  78. A'yinehvand, Adabiyat-e Siyasi-ye Tasyayyu' (Sastra Politik Syiah), 1387 HS, hlm. 291.
  79. Qurasyi, Tahlili az Zendegani-ye Emam Hadi (as), 1371 HS, hlm. 386.
  80. Qurasyi, Zendegani-ye Emam Hasan Askari (as), 1375 HS, hlm. 254-255.
  81. Qurasyi, Zendegani-ye Emam Hasan Askari (as), 1375 HS, hlm. 256.
  82. Husain, Tarikh-e Siyasi-ye Ghaibat-e Emam-e Davazdhom (af) (Sejarah Politik Ghaibah Imam Kedua Belas af), 1385 HS, hlm. 85.
  83. Qurasyi, Tahlili az Zendegani-ye Emam Hadi (as), 1371 HS, hlm. 385.
  84. Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999 M, jld. 3, hlm. 182.
  85. Rafii, Zendegi-ye Aimmah (as) (Kehidupan Para Imam as), Teheran, hlm. 277.
  86. Maqrizi, Al-Mawa'izh wa al-I'tibar, 1418 H, jld. 4, hlm. 159.
  87. Rafii, Zendegi-ye Aimmah (as), Teheran, hlm. 277; Jafarian, Hayat-e Fekri wa Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as) (Kehidupan Intelektual dan Politik Para Imam Syiah as), Qom, hlm. 511.
  88. Ma'ruf al-Hasani, Zendegani-ye Davazdhom Emam (Kehidupan Dua Belas Imam), 1382 HS, jld. 2, hlm. 498; Rafii, Zendegi-ye Aimmah (as), Teheran, hlm. 277.
  89. Qurasyi, Tahlili az Zendegani-ye Emam Hadi (as), 1371 HS, hlm. 386.
  90. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 51.
  91. Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 479; A'yinehvand, Adabiyat-e Siyasi-ye Tasyayyu', 1387 HS, hlm. 291; Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Islam, 1376 HS, jld. 3, hlm. 372.
  92. Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 2, hlm. 289; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 3, hlm. 318; Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', 1417 H, hlm. 420; Khwandamir, Tarikh Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 273.
  93. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 51-52.
  94. Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 7, hlm. 116.
  95. Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 479-480; Amin, Sireh-ye Ma'suman (Sirah Maksumin), 1376 HS, jld. 5, hlm. 223.
  96. Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 504.
  97. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 52; Hasan, Tarikh-e Siyasi-ye Islam, 1376 HS, jld. 3, hlm. 372; Qurasyi, Zendegani-ye Emam Hasan Askari (as), 1375 HS, hlm. 254-255.
  98. Qurasyi, Tahlili az Zendegani-ye Emam Hadi (as), 1371 HS, hlm. 383.
  99. Husain, Tarikh-e Siyasi-ye Ghaibat-e Emam-e Davazdhom (af), 1385 HS, hlm. 85.
  100. A'yinehvand, Adabiyat-e Siyasi-ye Tasyayyu', 1387 HS, hlm. 280.
  101. Husain, Tarikh-e Siyasi-ye Ghaibat-e Emam-e Davazdhom (af), 1385 HS, hlm. 85.
  102. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 52; Karajiki, Ganjineh-ye Ma'aref-e Syi'eh Emamiyeh (Khazanah Ma'arif Syiah Imamiyah), pendahuluan penerjemah, jld. 1, hlm. 41.
  103. Jafarian, Hayat-e Fekri wa Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), Qom, hlm. 511.
  104. Karajiki, Ganjineh-ye Ma'aref-e Syi'eh Emamiyeh, pendahuluan penerjemah, jld. 1, hlm. 41.
  105. Jafarian, Hayat-e Fekri wa Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), Qom, hlm. 511.
  106. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 51; Khwandamir, Tarikh Habib al-Siyar, 1380 HS, jld. 2, hlm. 268-269.
  107. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 51; Muntazharal-Qa'im, Tarikh-e Emamat, 1386 HS, hlm. 244.
  108. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 9, hlm. 185.
  109. Muntazharal-Qa'im, Tarikh-e Emamat, 1386 HS, hlm. 244.
  110. Amin, Sireh-ye Ma'suman, 1376 HS, jld. 5, hlm. 223.
  111. Syusytari, Ihqaq al-Haq, 1409 H, jld. 29, hlm. 82.
  112. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 51; Husain, Tarikh-e Siyasi-ye Ghaibat-e Emam-e Davazdhom (af), 1385 HS, hlm. 85.
  113. Qurasyi, Tahlili az Zendegani-ye Emam Hadi (as), 1371 HS, hlm. 385.
  114. A'yinehvand, Adabiyat-e Siyasi-ye Tasyayyu, 1387 HS, hlm. 291; Muharrami, Tarikh-e Tasyayyu (Sejarah Syiah), 1378 HS, hlm. 127.
  115. Amin, Sireh-ye Ma'suman, 1376 HS, jld. 5, hlm. 223.
  116. Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', 1417 H, hlm. 420.
  117. Thu'mah, Tarikh Marqad al-Husain wa al-Abbas (as), 1416 H, hlm. 147-148.
  118. Qurasyi, Tahlili az Zendegani-ye Emam Hadi (as), 1371 HS, hlm. 383.
  119. Muharrami, Tarikh-e Tasyayyu', 1378 HS, hlm. 127; Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999 M, jld. 3, hlm. 182.
  120. Shan'ani, Nasmat al-Sahar, 1999 M, jld. 3, hlm. 182.
  121. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 51; Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 7, hlm. 116; Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', 1417 H, hlm. 420; Husain, Tarikh-e Siyasi-ye Ghaibat-e Emam-e Davazdhom (af), 1385 HS, hlm. 85.
  122. Qurasyi, Tahlili az Zendegani-ye Emam Hadi (as), 1371 HS, hlm. 383.
  123. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 51; Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 7, hlm. 116; Qurasyi, Tahlili az Zendegani-ye Emam Hadi (as), 1371 HS, hlm. 383.
  124. Ibnu Thawus, Al-Thara'if, 1374 HS, hlm. 400.

Daftar Pustaka

  • Ahmadi, Hamid. Tarikh-e Emaman-e Syi'eh. Qom, Daftar Nasyr Ma'arif, 1389 HS.
  • A'yinehvand, Sadeq. Adabiyat-e Siyasi-ye Tasyayyu'. Teheran, Nasyr-e Ilm, 1387 HS.
  • Abu al-Faraj al-Isfahani, Ali bin al-Husain. Maqatil al-Thalibiyyin. Beirut, Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
  • Abu Makhramah, Abdullah Thayyib bin Abdullah. Qaladah al-Nahr fi Wafayat A'yan al-Dahr. Beirut, Dar al-Minhaj, 1428 H.
  • Amin, Sayid Muhsin. Sireh-ye Ma'suman. Penerjemah: Ali Hujjati Kermani. Teheran, Soroush, 1376 HS.
  • Amini, Abdul Husain. Al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab. Qom, Markaz al-Ghadir li al-Dirasat al-Islami, 1416 H.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam. Syamsuddin. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1413 H.
  • Hamawi, Muhammad bin Ishaq. Anis al-Mu'minin. Teheran, Bonyad Bi'tsat, 1363 HS.
  • Hasan, Ibrahim. Tarikh-e Siyasi-ye Islam. Penerjemah: Abul Qasim Payandeh. Teheran, Javidan, cetakan kesembilan, 1376 HS.
  • Husain, Jassim. Tarikh-e Siyasi-ye Ghaibat-e Emam-e Davazdhom (af). Penerjemah: Sayid Muhammad Taqi Ayatullah. Teheran, Amirkabir, cetakan ketiga, 1385 HS.
  • Ibnu al-Thiqthaqa, Muhammad bin Ali bin Thabathaba. Al-Fakhri fi al-Adab al-Sulthaniyyah wa al-Duwal al-Islamiyyah. Beirut, Dar al-Qalam al-Arabi, 1418 H.
  • Ibnu al-Umrani, Muhammad bin Ali. Al-Inba' fi Tarikh al-Khulafa'. Kairo, Dar al-Afaq al-Arabiyyah, 1421 H.
  • Ibnu Atsir al-Jazari, Ali bin Muhammad. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut, Dar Beirut, 1385 H.
  • Ibnu Imad Hanbali, Abdul Hayy bin Ahmad. Syadzarat al-Dzahab fi Akhbar Man Dzahab. Damaskus, Dar Ibnu Katsir, 1406 H.
  • Ibnu Futhi, Abdul Razzaq bin Ahmad. Majma' al-Adab fi Mu'jam al-Alqab. Teheran, Wizarat-e Farhang wa Ersyad-e Islami, Sazeman-e Chap wa Entesyarat, 1416 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut, Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad. Diwan al-Mubtada' wa al-Khabar fi Tarikh al-Arab wa al-Barbar wa Man 'Asharahum min Dzawi al-Sya'n al-Akbar. Beirut, Dar al-Fikr, cetakan kedua, 1408 H.
  • Ibnu Syakir Kutubi, Muhammad bin Syakir. Fawat al-Wafayat wa al-Dzail 'Alaiha. Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun.
  • Ibnu Thawus, Ali bin Musa. Al-Thara'if. Penerjemah: Davoud Elhami. Qom, Navid-e Islam, 1374 HS.
  • Jafarian, Rasul. Hayat-e Fekri wa Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as). Qom, Ansharian, cetakan keenam, tanpa tahun.
  • Jam'i az Newisandegan. Pazhuhesyi dar Maqtal-ha-ye Farsi. Qom, Zamzam-e Hedayat, 1386 HS.
  • Karajiki, Muhammad bin Ali. Ganjineh-ye Ma'aref-e Syi'eh Emamiyeh. Terjemahan kitab Kanz al-Fawa'id wa al-Ta'ajjub oleh Muhammad Baqir Kamareyi. Teheran, Chapkhanyeh Ferdowsi, tanpa tahun.
  • Khathib Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tarikh Baghdad. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Mansyurat Muhammad Ali Baidun, 1417 H.
  • Khwandamir, Ghiyatsuddin bin Humamuddin. Tarikh Habib al-Siyar: az Hamleh-ye Moghol ta Marg-e Syah Esmail-e Avval. Teheran, Khayyam, cetakan keempat, 1380 HS.
  • Ma'ruf al-Hasani, Hashem. Zendegani-ye Davazdhom Emam (as). Penerjemah: Muhammad Muqaddas. Teheran, Amirkabir, cetakan keempat, 1382 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Jala' al-'Uyun. Qom, Soroush, 1382 HS.
  • Maqdisi, Muthahhar bin Thahir. Al-Bad' wa al-Tarikh. Port Said, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, tanpa tahun.
  • Maqrizi, Ahmad bin Ali. Al-Mawa'izh wa al-I'tibar bi Dzikr al-Khithath wa al-Atsar al-Ma'ruf bi al-Khithath al-Maqriziyyah. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1418 H.
  • Mas'udi, Ali bin al-Husain. Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jauhar. Riset: As'ad Daghir. Qom, Dar al-Hijrah, 1409 H.
  • Mudarrisi, Muhammad Taqi. Emaman-e Syi'eh wa Jonbesy-ha-ye Maktabi. Masyhad, Astan-e Quds-e Razavi, cetakan ketiga, 1369 HS.
  • Muharrami, Gholam-Hasan. Tarikh-e Tasyayyu' az Aghaz ta Payan-e Ashr-e Ghaibat-e Sughra. Qom, Muassasah Amuzeysyi Pazhuhesyi Emam Khomeini, cetakan ketujuh, 1378 HS.
  • Muntazharal-Qa'im, Ashghar. Tarikh-e Emamat. Qom, Daftar Nasyr-e Ma'arif, 1386 HS.
  • Qurasyi, Baqir Syarif. Tahlili az Zendegani-ye Emam Hadi (as). Penerjemah: Muhammad Reza Atayi. Masyhad, Astan-e Quds-e Razavi, 1371 HS.
  • Qurasyi, Baqir Syarif. Zendegani-ye Emam Hasan Askari (as). Penerjemah: Sayid Hasan Islami. Qom, Jami'eh-ye Modarresin, 1375 HS.
  • Qummi, Abbas. Dam' al-Sujum Tarjomeh-ye Nafas al-Mahmum. Penerjemah: Sya'rani. Qom, Hejrat, 1381 HS.
  • Rafii, Ali. Zendegi-ye Aimmah (as). Teheran, Markaz Pazhuhesykadeh Tahqiqat-e Sepah, tanpa tahun.
  • Syabastari, Abdul Husain. Subul al-Rasyad ila Ash-hab al-Imam al-Jawad (as). Qom, Perpustakaan Spesialis Sejarah, 1421 H.
  • Shafadi, Khalil bin Aybak. Al-Wafi bi al-Wafayat. Beirut, Dar al-Nasyr Franz Steiner, cetakan kedua, 1401 H.
  • Shan'ani, Yusuf bin Yahya. Nasmat al-Sahar bi Dzikr Man Tasyayya'a wa Sya'ar. Beirut, Dar al-Mu'arrikh al-Arabi, 1999 M.
  • Syusytari, Nurullah bin Syarifuddin. Ihqaq al-Haq wa Izhaq al-Bathil. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi, 1409 H.
  • Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. Tarikh al-Khulafa'. Damaskus, Dar al-Basya'ir, 1417 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir bin Yazid. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Beirut, Dar al-Turats, 1387 H.
  • Thu'mah, Salman Hadi. Tarikh Marqad al-Husain wa al-Abbas (as). Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Matbu'at, 1416 H.
  • Zirikli, Khairuddin. Al-A'lam (Qamus Tarajim li Asy-har al-Rijal wa al-Nisa' min al-Arab wa al-Musta'ribin wa al-Mustasyriqin). Beirut, Dar al-Ilm li al-Malayin, cetakan kedelapan, 1989 M.