Lompat ke isi

Konsep:Ayat 49 Surah Ali Imran

Dari wikishia
Ayat 49 Surah Ali Imran
Informasi Ayat
SurahAli Imran
Ayat49
Juz3
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madani
TentangRisalah Nabi Isa as dan mukjizatnya
Ayat-ayat terkaitAyat 213 Surah Al-Baqarah


Ayat 49 Surah Ali Imran (bahasa Arab:آیة ۴۹ سورة الآل عمران) mengisyaratkan kepada risalah Nabi Isa as dan mukjizat-mukjizatnya.[1] Ayat ini menyandarkan perbuatan-perbuatan seperti menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang sakit kepada Nabi Isa as dan termasuk dalil yang digunakan untuk membuktikan wilayah takwini para nabi dan wali.[2] Berdasarkan ayat ini, ruh manusia dengan izin Ilahi dapat mencapai kekuatan yang mampu melakukan hal-hal luar biasa.[3]

Wilayah Takwini para nabi yang bermakna memperoleh kekuatan dari Allah untuk melakukan tindakan (tasharruf) di alam semesta[4] merupakan hal yang disepakati oleh ulama Syiah.[5]

وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung; lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta, dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebesaran Allah) bagimu, jika kamu orang beriman.' (QS. Ali 'Imran: 49)

Menurut para mufasir, pengulangan frasa bi-idhnillah (dengan izin Allah) dalam ayat 49 Surah Ali Imran menegaskan bahwa wilayah takwini para nabi dan wali bergantung pada izin dan kekuasaan Ilahi, dan keyakinan ini sama sekali tidak bermakna menyerupakan mereka dengan Allah atau Syirik.[6] Pada bagian ayat ini, Nabi Isa as berbicara tentang ilmu gaibnya dengan mengabarkan apa yang dimakan dan disimpan oleh orang-orang, di mana hal ini dikemukakan sebagai dalil atas kemungkinan (adanya) ilmu gaib bagi hamba-hamba yang saleh.[7]

Ayat ini juga memperkenalkan Nabi Isa as sebagai utusan kepada Bani Israil, yang dianggap oleh sebagian orang sebagai dalil atas terbatasnya syariat Nabi Isa as hanya untuk Bani Israil.[8] Meskipun demikian, Allamah Thabathaba'i dengan bersandar pada ayat 213 Surah Al-Baqarah, menganggap syariat Nabi Isa as bersifat universal (mendunia).[9]

Catatan Kaki

  1. Syah Abdul Azhim, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 2, hlm. 18.
  2. Makarim Syirazi, dkk., Tafsir Namuneh, 1386 HS, jld. 2, hlm. 648.
  3. Subhani Tabrizi, Wahhabiyat, 1388 HS, hlm. 319.
  4. Bazeli, dkk., Barresi-ye Enteqadi-ye Syubahat-e Al-Qaffari dar Mowajeheh ba Wilayat-e Takwini-ye A'immah Athar as, hlm. 9.
  5. Hammud, Al-Fawa'id al-Bahiyyah fi Syarh 'Aqa'id al-Imamiyyah, 1421 H, jld. 2, hlm. 117.
  6. Makarim Syirazi, dkk., Tafsir Namuneh, 1386 HS, jld. 2, hlm. 649-650.
  7. Syari'ati, Ilm-e Imam-an beh Ghaib az Manzhar-e Qur'an ba Ta'kid bar Didgah-e Allamah Thabathaba'i (Barresi-ye Ayat 143 Baqarah wa 105 Taubah), hlm. 29.
  8. Nazariyeh-i darbareh-ye Mahdud Budan-e Syari'at-e Hadrat-e Musa wa Hadrat-e Masih beh Bani Israil (1) (Teori tentang Terbatasnya Syariat Nabi Musa dan Nabi Isa pada Bani Israil), Portal Jame-e Ulum-e Ensani.
  9. Musawi, Terjemah Tafsir al-Mizan, 1387 HS, jld. 3, hlm. 310.

Daftar Pustaka

  • Bazeli, Ridha, dkk. Barresi-ye Enteqadi-ye Syubahat-e Al-Qaffari dar Muwajeheh ba Wilayat-e Takwini-ye A'immah Athar as (Kajian Kritis Syubhat al-Qaffari dalam Menghadapi Wilayah Takwini Para Imam Suci as). Dalam Majalah Tahqiqat-e Kalami, tahun ketujuh, no. 27, Isfand 1398 HS.
  • Hammud, Muhammad Jamil. Al-Fawa'id al-Bahiyyah fi Syarh 'Aqa'id al-Imamiyyah. Beirut: Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1421 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir, dkk. Tafsir Namuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1386 HS.
  • Musawi. Terjemah Tafsir al-Mizan. Tanpa tempat, Jami'ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, 1387 HS.
  • Subhani, Ja'far, dan Muhammad Muhammad Ridha'i. Pazuhesyi dar Bab-e Wilayat-e Takwini-ye Ensan az Didgah-e Qur'an (Penelitian tentang Wilayah Takwini Manusia dari Sudut Pandang Al-Qur'an). Ensan Pajuhi-ye Dini, tahun ketujuh, musim gugur dan dingin 1389 HS, no. 24.
  • Syah Abdul Azhim, Husain. Tafsir Itsna 'Asyari. Teheran: Miqat, 1363 HS.
  • Syari'ati, Ghulam Muhammad. Ilm-e Imam-an beh Ghaib az Manzhar-e Qur'an ba Ta'kid bar Didgah-e Allamah Thabathaba'i (Barresi-ye Ayat 143 Baqarah wa 105 Taubah) (Ilmu Para Imam tentang Yang Gaib dari Perspektif Al-Qur'an dengan Penekanan pada Pandangan Allamah Thabathaba'i). Dalam Majalah Qur'an Syinakht, tahun kedelapan, musim semi dan panas 1394 HS, no. 15.
  • Nazariyeh-i darbareh-ye Mahdud Budan-e Syari'at-e Hadrat-e Musa wa Hadrat-e Masih beh Bani Israil (1) (Teori tentang Terbatasnya Syariat Nabi Musa dan Nabi Isa pada Bani Israil), Portal Jame-e Ulum-e Ensani, tanggal kunjungan: 15 Bahman 1402 HS.