Lompat ke isi

Konsep:Ayat 198 Surah Al-Baqarah

Dari wikishia
Ayat 198 Surah Al-Baqarah
Informasi Ayat
NamaAyat 198 Surah Al-Baqarah
SurahAl-Baqarah
Ayat198
Juz2
Informasi Konten
Sebab
Turun
Keyakinan akan keharaman berdagang pada hari-hari haji
TentangKebolehan berdagang pada hari-hari haji dan keharusan mengingat Allah
Ayat-ayat terkaitAyat 10 Surah Al-Jumu'ah


Ayat 198 Surah Al-Baqarah merujuk pada topik perdagangan dan aktivitas ekonomi pada Hari-hari Haji[1] dan merupakan salah satu Ayat al-Ahkam[2] serta termasuk ayat-ayat Madaniyah Al-Qur'an[3] yang turun pada saat Haji Wada'.[4]

Dalam syan nuzul ayat ini disebutkan bahwa masyarakat di masa lalu berpikir bahwa melakukan aktivitas ekonomi seperti berdagang pada hari-hari haji adalah Dosa dan dapat membatalkan ibadah haji.[5] Karena alasan itulah dikatakan bahwa bagian awal ayat ini turun sebagai jawaban atas pandangan tersebut dan membolehkan perdagangan serta transaksi pada hari-hari haji.[6]

Beberapa mufasir, seperti Allamah Thabathabai, menganggap ayat ini serupa dengan Ayat 10 Surah Al-Jumu'ah yang di dalamnya juga diberikan izin jual-beli setelah Salat Jumat.[7] Selain itu, Syeikh Thabarsi menukil dari Imam Baqir as bahwa "mencari karunia Allah" dalam ayat ini bermakna memohon ampunan dari Allah.[8]

Tidaklah menjadi salah, kamu mencari limpah kurnia dari Tuhan kamu (dengan meneruskan perniagaan ketika mengerjakan Haji). Kemudian apabila kamu bertolak turun dari padang Arafah (menuju ke Muzdalifah) maka sebutlah nama Allah (dengan doa dan "talbiah") di tempat Masy'ar Al-Haram (di Muzdalifah), dan ingatlah kepada Allah dengan menyebutnya sebagaimana Ia telah memberikan petunjuk hidayah kepada kamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu adalah dari golongan orang-orang yang salah jalan ibadatnya.


Menurut para mufasir, diletakkannya kebolehan berdagang pada hari-hari haji di samping hukum-hukum ibadah haji dalam satu ayat menunjukkan bahwa dalam Islam, upaya ekonomi dapat menjadi semacam Ibadah.[9] Juga dikatakan bahwa ayat ini menekankan bahwa saat berdagang, zikir kepada Allah tidak boleh dilupakan, dan keharusan memberikan layanan kepada jamaah haji juga dipahami darinya.[10]

Makarim Syirazi dengan bersandar pada sebuah hadis dari Imam Shadiq as, memperkenalkan salah satu tujuan penting Haji adalah untuk menyemarakkan perdagangan dan pemanfaatan masyarakat atas barang-barang dari daerah lain.[11] Beberapa mufasir seperti Allamah Fadhlullah juga meyakini bahwa haji memiliki aspek ekonomi yang dapat membantu menyemarakkan ekonomi Mekkah dan bahkan memperkuat ekonomi negara-negara Islam.[12]

Ayat 198 Surah Al-Baqarah selain memberikan izin aktivitas ekonomi pada hari-hari haji, memerintahkan jamaah haji untuk mengingat Allah saat bergerak secara massal dari Arafat menuju Masy'arul Haram.[13] Menurut ayat ini, mengingat Allah harus dilakukan sebagai rasa syukur atas hidayah besar yang telah dianugerahkan kepada kaum Muslimin.[14] Selain itu, mengingat Allah harus sesuai dengan nikmat hidayah yang sangat berharga.[15] Thabarsi meyakini bahwa mengingat Allah harus disertai dengan pengagungan dan ucapan terima kasih kepada-Nya.[16]

Beberapa mufasir menganggap zikir kepada Allah di Masy'ar adalah Wajib dikarenakan perintah eksplisit Ayat 198 Surah Al-Baqarah.[17] Namun Yusuf Tsulayi, mufasir Zaidiyah, menafsirkan zikir kepada Allah dalam ayat ini sebagai Salat Maghrib dan Isya, dan menolak untuk menerima kewajiban zikir kepada Allah secara independen.[18] Ia juga meyakini bahwa kedua salat ini harus dikerjakan di Masy'ar.[19] Para fakih Syiah juga dengan bersandar pada ayat ini, menganggap wukuf (berhenti/bermalam) di Masy'ar sebagai salah satu rukun wajib haji.[20]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 53.
  2. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 53.
  3. Ma'rifat, At-Tafsir al-Atsari al-Jami', 1387 HS, jld. 5, hal. 118.
  4. Thabathabai, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1352 HS, jld. 2, hal. 75.
  5. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 56; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 2, hal. 527; Thusi, At-Tibyan, Beirut, jld. 2, hal. 166; Syah-Abdul Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 1, hal. 360.
  6. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 56.
  7. Thabathabai, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 2, hal. 79; Shadeqi Tehrani, Al-Furqan, 1406 H, jld. 3, hal. 172.
  8. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 2, hal. 527.
  9. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 62.
  10. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 62.
  11. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 58.
  12. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 57; Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1439 H, jld. 2, hal. 156.
  13. Syah-Abdul Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 1, hal. 360.
  14. Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1373 HS, jld. 1, hal. 235.
  15. Thabathabai, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 2, hal. 75; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 2, hal. 527.
  16. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 2, hal. 527.
  17. Sabzwari, Al-Jadid, 1402 H, jld. 1, hal. 243.
  18. Tsulayi, Tafsir al-Tsamarat al-Yani'ah, 1423 H, jld. 1, hal. 441.
  19. Tsulayi, Tafsir al-Tsamarat al-Yani'ah, 1423 H, jld. 1, hal. 441.
  20. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 2, hal. 527; Sayid Murtadha, Tafsir al-Syarif al-Radhi, 1431 H, jld. 1, hal. 514.

Daftar Pustaka

  • Fadhlullah, Muhammad Husain. Min Wahy al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Malak li al-Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tawzi', Cetakan Ketiga, 1439 H.
  • Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir al-Shafi. Teheran, Maktabah al-Sadr, 1373 HS.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi. At-Tafsir al-Atsari al-Jami'. Qom, Muassasah Farhangi Entesyarat-e al-Tamhid, Cetakan Pertama, 1387 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Ketiga Puluh Dua, 1374 HS.
  • Sabzwari, Muhammad bin Habibullah. Al-Jadid fi Tafsir al-Qur'an al-Majid. Beirut, Dar al-Hadits, 1402 H.
  • Sayid Murtadha, Ali bin Husain. Tafsir al-Syarif al-Murtadha. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, Cetakan Pertama, 1431 H.
  • Shadeqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an wa al-Sunnah. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, Cetakan Kedua, 1406 H.
  • Syah-Abdul Azhimi, Husain. Tafsir Itsna 'Asyari. Teheran, Miqat, Cetakan Pertama, 1363 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ma'rifah, Cetakan Kedua, 1408 H.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, Cetakan Ketiga, 1352 HS.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar Ihya' at-Turats al-Arabi, Cetakan Pertama, t.t.
  • Tsulayi, Yusuf bin Ahmad. Tafsir al-Tsamarat al-Yani'ah wa al-Ahkam al-Wadhihah al-Qathi'ah. Sa'dah, Maktabah al-Turats al-Islami, Cetakan Pertama, 1423 H.