Konsep:WIJADAH
WIJADAH adalah salah satu metode pembelajaran Hadis di mana perawi tidak mendengar hadis tersebut secara langsung dari perawi atau guru dan tidak memiliki izin untuk menyampaikan riwayat dari mereka,[1] melainkan ia melihat teksnya dalam sebuah buku yang kredibel dan merasa yakin bahwa tulisan tersebut berasal dari orang yang tepercaya.[2] Syahid Tsani menganggapnya sebagai metode selain Sama', ijazah, dan Munawalah;[3] dan periwayatan hadis dalam metode ini dilakukan dengan ungkapan "wajadtu bi-khaththi fulan" (aku temukan dalam tulisan si Fulan).[4] Jika perawi tidak yakin terhadap penulis buku tersebut, ia harus menukilnya dengan ungkapan seperti "balaghani fulan" (telah sampai kepadaku dari si Fulan) atau "qila bi-khaththi fulan" (dikatakan ini adalah tulisan si Fulan).[5] Beberapa ulama, seperti Qadhi Iyadh, melarang penukilan tanpa izin dari penulis,[6] dan kelompok lainnya menganggap penggunaan kata "an fulan" (dari si Fulan) dalam wijadah sebagai hal yang buruk (qabih).[7] Meskipun demikian, jika buku tersebut dinisbatkan kepada penulis yang tsiqah, penukilan dengan "qala fulan" (si Fulan berkata) dianggap boleh;[8] walaupun dikatakan bahwa mayoritas muhaddits tidak menerimanya.[9] Namun dalam historiografi, wijadah merupakan perkara yang diterima dan kredibel,[10] dan beberapa pihak menganggapnya berakar dalam budaya Sasanian.[11]
Mengenai kredibilitas wijadah, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama; sekelompok orang menganggapnya sebagai metode yang tidak kredibel dan bertentangan dengan tradisi ulama masa lalu,[12] sementara kelompok lain berkeyakinan bahwa wijadah tidak menunjukkan ketidakpercayaan terhadap riwayat tersebut, karena mungkin saja ia dinukil dari buku yang kredibel.[13] Beberapa peneliti, dengan bersandar pada izin Ahlulbait as dalam menukil dari buku-buku Bani Fadhdhal dan perintah mereka untuk menulis hadis, menganggap wijadah sebagai metode yang kredibel.[14] Mereka meyakini bahwa kitab Fiqh al-Ridha juga tersebar di kalangan kaum Syiah melalui jalur wijadah.[15]
Mengenai Allamah Majlisi, dikatakan bahwa mayoritas sumber Bihar al-Anwar, selain Empat Kitab Utama, sampai kepadanya melalui jalur wijadah, dan ungkapan "inna wajadna minhu nuskhatan" (sesungguhnya kami menemukan salinannya) dalam bukunya dianggap sebagai penguat[16] bagi pendapat ini,[17] meskipun beberapa pihak lain berkeyakinan bahwa riwayat-riwayatnya sampai ke tangannya melalui jalur mutawatir dan dengan membacakannya di hadapan para masyayikh.[18]
Pada abad kelima belas, banyak pihak yang menganggap wijadah sebagai metode pengenalan hadis yang paling umum, karena dengan meluasnya percetakan, media, dan teknologi, keyakinan terhadap keaslian buku-buku telah meningkat.[19] Subhi Saleh juga berkeyakinan bahwa dengan tidak adanya metode tradisional seperti sama' dan ijazah, penolakan terhadap wijadah berarti penghentian penukilan hadis; ia menganggap wijadah kredibel di masa sekarang dan mengamalkannya hukumnya adalah Wajib.[20]
Catatan Kaki
- ↑ Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1411 H, jld. 3, hlm. 164 dan 165; Khodayari, Tarikh Hadis Syiah dar Sadeh-haye Hashtom ta Yazdahom Hejri (Sejarah Hadis Syiah pada Abad Kedelapan hingga Kesebelas Hijriah), 1390 HS, hlm. 337.
- ↑ Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1411 H, jld. 3, hlm. 164 dan 165; Khodayari, Tarikh Hadis Syiah dar Sadeh-haye Hashtom ta Yazdahom Hejri, 1390 HS, hlm. 337.
- ↑ Syahid Tsani, al-Ri'ayah fi 'Ilm al-Dirayah, 1408 H, jld. 1, hlm. 297.
- ↑ Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1411 H, jld. 3, hlm. 164 dan 165.
- ↑ Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1411 H, jld. 3, hlm. 164 dan 165.
- ↑ Nahwi, "Negahi be Rosy-haye Arja' be Manabe'-e Syahnameh" (Tinjauan Metode Referensi ke Sumber-sumber Syahnameh), hlm. 41.
- ↑ Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1411 H, jld. 3, hlm. 164 dan 165; Syahid Tsani, al-Ri'ayah fi 'Ilm al-Dirayah, 1408 H, jld. 1, hlm. 299.
- ↑ Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1411 H, jld. 3, hlm. 165.
- ↑ Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1411 H, jld. 3, hlm. 167.
- ↑ Syakuri, "Kambud-ha va Kifayat-haye Moujud dar Syarh-e Hal-negari-ye Islami" (Kekurangan dan Kecukupan dalam Biografi Islam), hlm. 145; Nahwi, "Negahi be Rosy-haye Arja' be Manabe'-e Syahnameh", hlm. 41.
- ↑ Nahwi, "Negahi be Rosy-haye Arja' be Manabe'-e Syahnameh", hlm. 41.
- ↑ Hammadi dan Hosseini, "Kulaini va Hauze-ye Hadisi-ye Qom", hlm. 130.
- ↑ Qanbari, Syenakht-nameh-ye Kulaini va Kafi (Mengenal Kulaini dan al-Kafi), 1387 HS, jld. 2, hlm. 496 dan 497.
- ↑ Nasiri, Hadis-syenasi (Studi Hadis), 1383 HS, jld. 2, hlm. 85.
- ↑ Nasiri, Hadis-syenasi, 1383 HS, jld. 2, hlm. 85.
- ↑ Qanbari, Syenakht-nameh-ye Kulaini va Kafi, 1387 HS, jld. 2, hlm. 496.
- ↑ Qanbari, Syenakht-nameh-ye Kulaini va Kafi, 1387 HS, jld. 2, hlm. 496.
- ↑ Qanbari, Syenakht-nameh-ye Kulaini va Kafi, 1387 HS, jld. 2, hlm. 496 dan 497.
- ↑ Syakuri, "Kambud-ha va Kifayat-haye Moujud dar Syarh-e Hal-negari-ye Islami", hlm. 145.
- ↑ Saleh, Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu, hlm. 103 dan 104.
Daftar Pustaka
- Hammadi, Abdulreza dan Alireza Hosseini. "Kulaini va Hauze-ye Hadisi-ye Qom" (Kulaini dan Lingkungan Hadis Qom). Jurnal Hadis Pajushi, Penerbit Kasyan, Musim Semi dan Musim Panas 1396 HS.
- Khodayari, Ali Naqi. Tarikh Hadis Syiah dar Sadeh-haye Hashtom ta Yazdahom Hejri (Sejarah Hadis Syiah pada Abad Kedelapan hingga Kesebelas Hijriah). Qom, Penerbit Darul Hadis, 1390 HS.
- Mamaqani, Syekh Abdullah. Miqbas al-Hidayah fi 'Ilm al-Dirayah. Qom, Muassasah Alu al-Bait as li-Ihya al-Turats, 1411 H.
- Nahwi, Akbar. "Negahi be Rosy-haye Arja' be Manabe'-e Syahnameh" (Tinjauan Metode Referensi ke Sumber-sumber Syahnameh). Jurnal Name-ye Farhangestan, Teheran, Akademi Sastra dan Bahasa Persia, Musim Dingin 1384 HS.
- Qanbari, Mohammad. Syenakht-nameh-ye Kulaini va Kafi (Mabahits-e Fiqh al-Hadisi) (Mengenal Kulaini dan al-Kafi (Pembahasan Fikih al-Hadis)). Qom, Muassasah Darul Hadis, 1387 HS.
- Saleh, Subhi. Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu. Tanpa tempat, al-Maktabah al-Haidariyyah, 1417 H.
- Syakuri, Abulfazl. "Kambud-ha va Kifayat-haye Moujud dar Syarh-e Hal-negari-ye Islami" (Kekurangan dan Kecukupan dalam Biografi Islam). Jurnal Rosy-syenasi-ye Tarikh Syafahi, Teheran, Yayasan Sejarah Revolusi Islam, Musim Dingin 1365 HS.
- Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. al-Ri'ayah fi 'Ilm al-Dirayah. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asye Najafi, 1408 H.