Konsep:Sifat salbiah
Sifat Salbiyah Allah (bahasa Arab: الصفات السلبية) adalah kebalikan dari Sifat Tsubutiyah. Sifat-sifat ini berfungsi untuk meniadakan segala bentuk kekurangan dan sifat negatif dari Allah SWT. Sifat Salbiyah diperkenalkan sebagai penanda kesucian dan kekudusan Zat Ilahi.[1]
Contoh sifat Salbiyah yang disebutkan adalah: Allah tidak berwujud fisik (jasad), bukan substansi (jauhar), bukan aksiden ('aradh), tidak dapat dilihat, tidak terikat tempat, tidak menyatu (hulul) pada ciptaan-Nya, dan tidak bersatu (ittihad) dengan apa pun.[2][catatan 1] Sifat-sifat ini bukanlah karakteristik positif yang nyata, melainkan merupakan penolakan terhadap adanya kekurangan[3] dan sifat-sifat negatif.[4]
Menurut pandangan Ja’far Subhani dan Murtadha Muthahhari, semua Sifat Salbiyah pada dasarnya adalah penafian kekurangan dari Allah. Mereka meyakini bahwa mustahil untuk membuat daftar lengkap Sifat Salbiyah.[5] Keragaman Sifat Salbiyah ini muncul karena adanya koreksi terhadap pandangan beberapa aliran lain. Misalnya, sifat “penolakan hulul dan ittihad” merespons keyakinan Kristen tentang penyatuan Allah dengan Nabi Isa as, sementara sifat “tidak terlihat” berkaitan dengan pandangan Ahli Hadis dan Asy’ariyah yang meyakini Allah bisa dilihat pada Hari Kiamat.[6]
Di sisi lain, kaum Mu’tazilah, untuk menghindari tuduhan penyerupaan (tasybih) Allah dengan makhluk, menganut Teologi Negatif (Ilahiyat Salbiyah).[7] Mereka berpendapat bahwa kita hanya mampu memahami apa yang bukan Allah, bukan hakikat sejati-Nya.[8] Qadhi Sa’id Qummi juga berpendapat bahwa menyematkan sifat-sifat positif (ijabi) justru akan menimbulkan kekurangan pada konsep Keberadaan Allah.[9] Tentu saja, untuk mencegah teori Ta’thil Sifat (yang menyatakan akal tidak mampu memahami Sifat Salbiyah maupun Ijabi Allah),[10] Qummi menjelaskan bahwa melalui Sifat Salbiyah, pengenalan tidak langsung terhadap sifat-sifat positif Allah dapat dicapai.[11]
Beberapa pemikir Islam dalam karya-karya mereka menggunakan istilah Sifat Jalal (Keagungan) Allah untuk merujuk pada Sifat Salbiyah.[12] Disebutkan bahwa Ibnu Maitsam al-Bahrani adalah orang pertama yang menggunakan istilah Sifat Jalal sebagai pengganti Sifat Salbiyah.[13] Namun, Imam Khumaini menganggap penamaan ini kurang tepat. Beliau berargumen bahwa Sifat Jamal (Keindahan) menimbulkan rasa dekat dan ikatan hamba pada Allah, sementara Sifat Jalal cenderung menimbulkan rasa takut dan kagum, dan kedua jenis sifat ini sebenarnya bisa dikategorikan sebagai sifat positif (ijabi).[14]
Sebagian ulama Syiah meyakini bahwa Sifat Salbiyah sejatinya kembali kepada Sifat Tsubutiyah. Misalnya, Mulla Sadra meyakini bahwa Sifat Salbiyah adalah penolakan terhadap kekurangan dan ketiadaan. Penolakan atas penolakan (negasi dari negasi) itu sendiri adalah wujud (eksistensi), sama seperti penolakan terhadap kekurangan berarti menegaskan kesempurnaan.[15] Misbah Yazdi juga berpendapat bahwa ketika kita meniadakan sifat seperti “jahil” (bodoh) dari Allah, hakikatnya kita meniadakan konsep ketiadaan dari kebodohan tersebut, yang hanya mungkin jika kita membayangkan konsep positifnya, yaitu “ilmu” (pengetahuan).[16] Di sisi lain, beberapa mutakallim (teolog) Syiah, seperti Qadhi Sa’id Qummi[17] dan Mulla Rajabali Tabrizi[18], berpendapat bahwa semua Sifat Tsubutiyah sebetulnya kembali pada hal-hal yang bersifat Salbiyah.[19]
Beberapa filsuf meyakini bahwa menyifati Allah dengan sifat-sifat positif itu tidak tepat, karena Allah tidak memiliki mahhiyah (hakikat/esensi), tidak tersusun (murakkab), dan bukan pula 'aradh (aksiden). Oleh karena itu, hanya deskripsi Salbiyah (negatif) mengenai Allah yang dianggap benar, sebab hal itu meniadakan kekurangan tanpa adanya ruang kompromi (tasamuh).[20] Qadhi Sa’id Qummi juga meyakini bahwa pengenalan terhadap Allah hanya bisa dicapai melalui penyucian-Nya (tanzih) dari sifat-sifat positif.[21] Namun, Imam Khumaini menekankan bahwa Sifat Tsubutiyah tetap penting, dan Sifat Salbiyah juga diperlukan karena fungsinya menunjukkan penolakan segala bentuk kekurangan dari Zat Allah. Tanpa sifat-sifat penolakan ini, mustahil Allah menjadi Kesempurnaan dan Keindahan yang Mutlak.[22]
Catatan Kaki
- ↑ Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta’aliyah, 1981 M, jld. 6, hlm. 120.
- ↑ Subhani, Al-Ilahiyat, 1413 H, hlm. 83.
- ↑ Subhani, Manshur-e Jawid (Prinsip Abadi), Qom, jld. 1, hlm. 30.
- ↑ Thabathaba’i, Nihayah al-Hikmah, 1386 HS, jld. 4, hlm. 1110.
- ↑ Subhani, Manshur-e Jawid (Prinsip Abadi), Qom, jld. 1, hlm. 31; Muthahhari, Dars-haye Ilahiyat-e Syifa (Pelajaran Ilahiyat As-Syifa), 1401 HS, jld. 1, hlm. 84.
- ↑ Subhani, Manshur-e Jawid (Prinsip Abadi), Qom, jld. 1, hlm. 31; Muthahhari, Dars-haye Ilahiyat-e Syifa (Pelajaran Ilahiyat As-Syifa), 1401 HS, jld. 1, hlm. 84.
- ↑ Tawakoli, Ilahiyat-e Salbi, hlm. 96-97.
- ↑ Alikhani, Ilahiyat-e Salbi; Sir-e Tarikhi wa Barrasi-ye Didgah-ha, hlm. 93.
- ↑ Nazari dkk, Ilahiyat-e Salbi Qazi Sa’id Qumi wa Mu’dhal-e Ta’thil, hlm. 104.
- ↑ Misbah Yazdi, Amuzyesy-e Falsafeh (Pelajaran Filsafat), 1390 HS, jld. 2, hlm. 368.
- ↑ Nazari dkk, Ilahiyat-e Salbi Qazi Sa’id Qumi wa Mu’dhal-e Ta’thil, hlm. 104.
- ↑ Syarif Darabi Syirazi, Tuhfah al-Murad, Tanpa Tahun, hlm. 112.
- ↑ Salmani, Jalal wa Jamal: dar Kalam, hlm. 526.
- ↑ Musawi Khumaini, Adab al-Shalat, 1368 HS, hlm. 333.
- ↑ Ebrahimi Dinani, Basith al-Haqiqah, hlm. 436.
- ↑ Misbah Yazdi, Amuzyesy-e Falsafeh (Pelajaran Filsafat), 1390 HS, jld. 2, hlm. 460.
- ↑ Qadhi Sa’id Qummi, Syarh al-Tauhid al-Shaduq, 1419 HS, jld. 1, hlm. 179.
- ↑ Mulla Rajabali Tabrizi, Risalah Itsbat Wajib, dalam Muntakhabati az Atsar-e Hukama-ye Elahi-ye Iran, 1378 HS, jld. 1, 157–258.
- ↑ Sayid Zair, Tahlil wa Barrasi Sifat Tsubuti Dzati Ilahi (Analisis dan Tinjauan Sifat Tsubutiyah Dzatiyah Ilahi), 1399 HS, hlm. 30.
- ↑ Khawas, Ma’nasyenasi Aushaf-e Elahi az Didgah-e Ibn Maimun wa Qazi Sa’id Qumi, hlm. 57.
- ↑ Khawas, Ma’nasyenasi Aushaf-e Elahi az Didgah-e Ibn Maimun wa Qazi Sa’id Qumi, hlm. 62.
- ↑ Khumaini, Syarh Chehel Hadits (Syarah Empat Puluh Hadis), 1380 HS, hlm. 616.
Catatan
Daftar Pustaka
- Alikhani, Ismail. Ilahiyat-e Salbi; Sir-e Tarikhi wa Barrasi-ye Didgah-ha. Majalah Ma'rifat-e Kalami. No. 8, Musim Semi dan Panas 1391 HS.
- Asytiyani, Jalaluddin. Muntakhabati az Atsar-e Hukama-ye Elahi-ye Iran: az Ashr-e Mir Damad wa Mir Fendereski ta Zaman-e Hadhir (Pilihan dari Karya-karya Filsuf Ilahi Iran: Dari Era Mir Damad dan Mir Fendereski hingga Masa Kini). Teheran, 1376 HS.
- Ebrahimi Dinani, Ghulamhusein. Basith al-Haqiqah. Dalam Danesy-nameh Jahan-e Eslam (Ensiklopedia Dunia Islam). Jld. 3. Teheran: Markaz-e Da'irat al-Ma'arif Bozorg-e Eslami, 1376 HS.
- Khawas, Amir. Ma'nasyenasi Aushaf-e Elahi az Didgah-e Ibn Maimun wa Qazi Sa'id Qumi (Semantik Sifat-sifat Ilahi menurut Pandangan Ibnu Maimun dan Qadhi Sa'id Qummi). Majalah Ma'rifat. No. 121, Dey 1386 HS.
- Khumaini, Sayid Ruhullah. Adab al-Shalat. Teheran: Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khumaini, 1378 HS.
- Khumaini, Sayid Ruhullah. Syarh Chehel Hadits (Syarah Empat Puluh Hadis). Teheran: Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khumaini, 1380 HS.
- Misbah Yazdi, Muhammad Taqi. Amuzyesy-e Falsafeh (Pelajaran Filsafat). Qom: Muassasah Amuzesyi wa Pazhuhesyi Imam Khumaini, Cetakan pertama, 1390 HS.
- Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim. Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba'ah. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1981 M.
- Muthahhari, Murtadha. Dars-haye Ilahiyat-e Syifa (Pelajaran Ilahiyat As-Syifa). Teheran: Sadra, 1401 HS/1443 H.
- Nazari, Jawad; Siraj, Syamsullah; Dhiya'i, Majid. Ilahiyat-e Salbi Qazi Sa'id Qumi wa Mu'dhal-e Ta'thil (Teologi Negatif Qadhi Sa'id Qummi dan Dilema Ta'thil). Majalah Ayineh Ma'rifat. No. 66, Musim Semi 1400 HS.
- Qadhi Sa'id Qummi, Muhammad bin Muhammad. Syarh al-Tauhid al-Shaduq. Teheran: Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, 1419 HS.
- Salmani, Parwiz. Jalal wa Jamal: dar Kalam. Dalam Danesy-nameh Jahan-e Eslam (Ensiklopedia Dunia Islam). Jld. 10. Teheran: Markaz-e Da'irat al-Ma'arif Bozorg-e Eslami, 1385 HS.
- Sayid Zair, Abbas. Tahlil wa Barrasi Sifat Tsubuti Dzati Ilahi dar Andisyeh Ayatullah Muhsini (Analisis dan Tinjauan Sifat Tsubutiyah Dzatiyah Ilahi dalam Pemikiran Ayatullah Muhsini). Tesis Magister Jurusan Kalam Islam. Qom, Jami'atul Mustafa al-Alamiyah, 1399 HS.
- Subhani, Ja'far. Al-Ilahiyat 'ala Huda al-Kitab wa al-Sunnah wa al-'Aql. Qom: Muassasah al-Imam al-Shadiq as, 1413 H.
- Subhani, Ja'far. Manshur-e Jawid (Prinsip Abadi). Qom: Muassasah Imam Shadiq as, Tanpa Tahun.
- Syarif Darabi Syirazi, Abbas. Tuhfah al-Murad: Syarh Qashidah Mir Fendereski. Teheran: Percetakan Muhammad Husain Akbari Sawi, Tanpa Tahun.
- Tawakoli, Ghulamhusein. Ilahiyat-e Salbi. Majalah Pazhuhesy-nameh Falsafeh Din. No. 1, 1386 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Nihayah al-Hikmah. Qom: Markaz Intisharat Muassasah Amuzesyi wa Pazhuhesyi Imam Khumaini ra, 1386 HS.
Kesalahan pengutipan: Ditemukan tag <ref> untuk kelompok bernama "catatan", tapi tidak ditemukan tag <references group="catatan"/> yang berkaitan