Konsep:Partai Ba'ath Irak
Templat:Infobox partai politik Partai Ba'ath Irak adalah cabang regional Partai Ba'ath Sosialis Arab yang didirikan pada awal dekade 1950-an/1330 HS. Selama 35 tahun masa pemerintahannya (1968-2003 M) di Irak, partai ini melakukan penindasan berat terhadap kaum Syiah dan Kurdi, serta dianggap sebagai penyebab Perang Iran-Irak (1980-1988 M) dan pendudukan Kuwait (Agustus 1990 M). Basis sosial Partai Ba'ath Irak adalah minoritas Arab Ahlusunah wal Jama'ah Irak. Untuk mengendalikan kaum Syiah Arab dan Kurdi, partai ini melakukan berbagai bentuk penindasan seperti teror, eksekusi, penahanan ilegal, penyiksaan, dan pengasingan paksa. Acara-acara keagamaan Syiah seperti berkabung Asyura dan prosesi Arbain dibatasi dan dilarang. Para Marja Taklid seperti Sayid Abu al-Qasim al-Khu'i dan Sayid Muhammad Baqir al-Sadr dikenakan tahanan rumah atau dieksekusi. Berbagai demonstrasi damai dan aksi bersenjata kaum Syiah di kota-kota Najaf, Karbala, dan Bashrah berkali-kali ditumpas menggunakan tentara dan polisi, dan dalam beberapa kasus menggunakan senjata pemusnah massal.
Partai Ba'ath didirikan di Suriah pada awal dekade 1940-an/1320 HS dan kongres pertamanya diadakan di Damaskus pada tahun 1947 M/1326 HS. Cabang-cabang regional Partai Ba'ath juga mulai beraktivitas di luar Suriah, yakni di Irak, Yordania, dan Lebanon pada dekade 1950-an. Di antara cabang-cabang tersebut, cabang Suriah dan Irak masing-masing naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta pada tahun 1963 M/1342 HS dan 1968 M/1347 HS. Seiring waktu, tujuan persatuan Arab yang merupakan cita-cita awal Ba'ath mulai memudar dan isu-isu nasional menjadi prioritas.
Partai Ba'ath Irak digulingkan dari kekuasaan pada 9 April 2003 M/1382 HS melalui invasi kekuatan Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Inggris. Pemerintah koalisi Barat sementara menyatakan partai ini ilegal dan terlarang pada bulan Mei tahun yang sama. Saddam Hussein, pemimpin Ba'ath saat itu, diadili atas tuduhan pembantaian kaum Syiah di Dujail dan kejahatan terhadap kemanusiaan pada tahun 2006 M/1385 HS. Ia dihukum gantung pada 30 Desember tahun tersebut, bertepatan dengan Iduladha. Setelah Saddam, kepemimpinan Partai Ba'ath Irak yang telah dibubarkan diambil alih oleh Izzat Ibrahim al-Douri, dan mantan perwira-perwira Ba'ath memainkan peran kunci dalam organisasi ISIS.
Urgensi dan Kedudukan
Gerakan Ba'ath diperkenalkan sebagai salah satu arus politik paling berpengaruh di Timur Tengah pada paruh kedua abad ke-20 yang memegang kekuasaan politik di Suriah dan Irak.[1] Meskipun Partai Ba'ath didefinisikan sebagai arus politik sekuler, namun dalam praktiknya ia menunjukkan perilaku sektarian.[2] Minoritas Sunni Irak dalam rezim Ba'ath, dengan memonopoli kekuasaan, melakukan penindasan total terhadap kaum Syiah dan Kurdi.[3] Berdasarkan laporan sumber-sumber berita, mantan perwira Ba'ath juga memainkan peran menonjol dalam kelompok teroris seperti ISIS dan al-Qaeda.[4] Pemerintahan minoritas Alawi di Suriah yang memicu sentimen Ahlusunah[5] serta dukungan negara-negara kawasan terhadap ISIS dan kelompok Sunni radikal lainnya selama perang Suriah (2012-2017 M) ditafsirkan dalam kerangka ini. Selain itu, pemerintah Partai Ba'ath di Suriah dan Irak berpengaruh dalam perkembangan regional. Pemerintah Suriah merupakan salah satu poros Arab dalam perang-perang Arab-Israel,[6] sementara pemerintah Ba'ath Irak merupakan faktor utama Perang Iran-Irak 1980-1988 M dan pendudukan Kuwait pada 2 Agustus 1990 M yang diikuti oleh Perang Teluk 1990-1991 M.[7]
Pendirian
Partai Ba'ath Irak mulai beraktivitas sebagai cabang regional (negara) Partai Ba'ath pada awal dekade 1950-an.[8] Abdurrahman al-Damin, yang bersama Abdul Khaliq al-Khudhairi hadir dalam kongres pertama Partai Ba'ath di Suriah,[9] melakukan upaya pertama pembentukan Partai Ba'ath Irak dengan bantuan beberapa mahasiswa Suriah anggota Ba'ath termasuk Fayyadh Ismail.[10] Fuad al-Rikabi, yang juga diperkenalkan sebagai seorang Syiah, disebut sebagai ketua pertama dan pendiri Partai Ba'ath di Irak.[11] Cabang Irak Partai Ba'ath diakui secara resmi oleh Komando Nasional Ba'ath yang berpusat di Suriah pada tahun 1952 M.[12] Talib Husain Syabib (1958-1962 M), Ali Salih al-Sa'di (1962-1965 M), dan Ahmad Hasan al-Bakr (1965-1979 M) adalah pemimpin Partai Ba'ath Irak lainnya sebelum Saddam Hussein.[13]
Wilayah Pengaruh
Dikatakan bahwa sejak awal pendiriannya, fokus Partai Ba'ath Irak adalah menarik minat mahasiswa, pelajar, intelektual, dan profesional perkotaan dari kalangan berpenghasilan rendah dan bermazhab Arab Sunni.[14] Secara geografis, pada awalnya Bagdad dan Provinsi al-Nashiriyah menjadi pusat perekrutan anggota.[15] Namun setelah naiknya Ahmad Hasan al-Bakr dan Saddam Hussein, wilayah perekrutan kader utama Ba'ath terpusat di Tikrit.[16]
Tindakan Politik Sebelum Meraih Kekuasaan
Tindakan politik pertama Partai Ba'ath Irak dimulai pada tahun 1955 M/1334 HS, ketika Ba'ath mengorganisir pemogokan untuk menentang Pakta Bagdad; sebuah pakta yang merupakan perpanjangan dari NATO dan SENTO.[17] Setahun kemudian, Partai Ba'ath Irak bersama arus nasionalis lainnya mengecam dan menentang keberpihakan pemerintah Irak kepada Inggris dalam Krisis Kanal Suez (1956 M/1335 HS).[18] Selanjutnya, Partai Ba'ath dan partai-partai penentang pemerintah Irak lainnya membentuk "Front Persatuan Nasional" yang membawa revolusi 14 Juli 1958 M meraih kemenangan.[19] al-Rikabi, pemimpin Partai Ba'ath saat itu, menjabat sebagai menteri pembangunan dalam kabinet perwira bebas yang dipimpin oleh Abd al-Karim Qasim.[20]
al-Rikabi dan tujuh anggota kabinet Qasim lainnya mengundurkan diri pada Februari 1959 M/1338 HS sebagai reaksi atas penolakan Abd al-Karim Qasim terhadap rencana penggabungan Irak ke dalam Republik Persatuan Arab (1958-1961 M).[21] Dilaporkan bahwa Qasim memiliki kecenderungan nasionalis dan menentang Pan-Arabisme. Dekmejian menganggap kecenderungan Syiah Qasim yang tersembunyi sebagai salah satu alasan penolakannya terhadap Pan-Arabisme dan meyakini bahwa Hizbul Dakwah al-Islamiyah muncul sebagai manifestasi politik kaum Syiah setelah Qasim mengizinkan pembentukan partai-partai politik.[22] Partai Ba'ath menjalankan operasi pembunuhan Qasim yang gagal pada Oktober 1959 M/1338 HS[23] dan pada bulan November tahun yang sama partai tersebut dibubarkan dan para pemimpinnya melarikan diri.[24]
Meraih Kekuasaan
Partai Ba'ath dan sekutunya meraih kekuasaan pada 8 Februari 1963 M/1341 HS dengan menggulingkan pemerintahan Abd al-Karim Qasim.[25] Ahmad Hasan al-Bakr, pemimpin Partai Ba'ath Irak saat itu, menjabat sebagai perdana menteri.[26] Partai Ba'ath pada fase ini mengalami perselisihan internal.[27] Kurangnya koordinasi di antara orang-orang Ba'ath menyebabkan Arif, presiden saat itu, mengeluarkan seluruh anggota Ba'ath dari pemerintahan dalam waktu sembilan bulan.[28]
Partai Ba'ath dengan dukungan sejumlah perwira non-Ba'ath yang tidak puas, menggulingkan pemerintahan Abdurrahman Arif (saudara Abdussalam Arif yang menjadi presiden setelahnya) pada 17 Juli 1968 M/1347 HS melalui kudeta lainnya dan kembali berkuasa.[29] Para perwira non-Ba'ath (Abdurrazaq al-Nayif, Ibrahim Abdurrahman Dawud, dan Sa'dun Ghaidan) yang memainkan peran kunci dalam kudeta tersebut, dicopot dalam kudeta lainnya pada tanggal 30 bulan yang sama atau dipaksa untuk menerima keanggotaan Ba'ath.[30]
Konsolidasi Kekuasaan
Partai Ba'ath pada tahap ini memprioritaskan isu-isu internal alih-alih Pan-Arabisme.[31] Ahmad Hasan al-Bakr (1968-1979 M), setelah menyingkirkan para perwira non-Ba'ath, berusaha membebaskan dirinya dari segala bentuk persaingan internal partai yang mungkin terjadi.[32] Dalam hal ini ia merancang mekanisme yang hanya mengizinkan orang-orang yang setia kepadanya untuk menduduki jabatan penting di pemerintahan dan militer.[33] Meskipun demikian, dilakukan berbagai upaya untuk menggulingkan al-Bakr, yang terpenting adalah kudeta "Nazhim al-Kzar" yang gagal, komandan dinas keamanan dalam negeri Irak untuk membunuh al-Bakr dan Saddam pada Juni 1973 M/1352 HS.[34] Phebe Marr, peneliti sejarah Irak, memperkenalkan Kzar sebagai seorang Syiah asal Amara yang dieksekusi bersama 19 perwira keamanan dan tentara pada 7 Juli tahun tersebut setelah kegagalan pembunuhan Ahmad Hasan al-Bakr.[35]
Munculnya Saddam Hussein
Templat:Utama Saddam Hussein berada dalam lingkaran pendukung Partai Ba'ath sejak sekitar usia dua puluh tahun.[36] Ia ikut serta dalam operasi pembunuhan Abd al-Karim Qasim yang gagal pada 7 Oktober 1959 M dan setelah itu melarikan diri ke Suriah kemudian Mesir.[37] Ia kembali ke Irak pada tahun 1963 M dan bergabung dengan cabang yang dipimpin oleh Ahmad Hasan al-Bakr yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya.[38] Saddam yang menjabat sebagai wakil presiden setelah naiknya Partai Ba'ath pada tahun 1968 M/1347 HS, bekerja selama dekade 1970-an dengan keahlian dan tanpa memicu sensitivitas Hasan al-Bakr untuk memperkuat posisinya.[39] Ia menjabat sebagai sekretaris jenderal biro militer Partai Ba'ath pada tahun 1970 M, memegang kebijakan urusan perminyakan pada tahun 1974 M/1353 HS, setelah itu mengambil alih proyek industri besar dan kemudian urusan keamanan serta intelijen. Dengan demikian, segala sesuatu berada dalam genggaman kekuasaannya.[40] Saddam akhirnya memaksa Hasan al-Bakr untuk mengundurkan diri pada 16 Juli 1979 M/1358 HS dan secara resmi menjadi presiden, dan setelah itu ia juga memegang komando Dewan Revolusi Irak dan kepemimpinan Partai Ba'ath Irak dan tetap berkuasa hingga 9 April 2003 M/1382 HS.[41]
Rezim Ba'ath Irak dan Islam
Konstitusi sementara pemerintah Ba'ath yang disahkan pada Januari 1970 M, mendefinisikan Irak sebagai republik demokratik nasional dan menyatakan Islam sebagai agama Irak serta menjamin kebebasan beragama dan menjalankan ibadah.[42] Menurut Dekmejian, rezim Ba'ath menekankan keyakinan partai pada "ruh Islam" alih-alih aspek seremonialnya.[43] Juga dilaporkan bahwa Ba'ath pun bersandar pada Islam dalam menghadapi musuh-musuh Baratnya dan menambahkan slogan "Allahu Akbar" pada bendera Irak.[44] Di sisi lain, al-Zubaidi dan rekan-rekannya meyakini bahwa Partai Ba'ath dalam praktiknya menunjukkan permusuhan terbuka dengan partai-partai Islam dan mengerahkan segala kemampuannya untuk melemahkan gerakan-gerakan Islam di Irak.[45] Menurut para pengamat, fatwa Sayid Muhammad Baqir al-Sadr pada tahun 1979 M mengenai keharaman rakyat bergabung dengan Partai Ba'ath juga memainkan peran serius dalam memperhebat pertentangan gerakan Islam dan pemerintah Ba'ath.[46]
Dampak Kebijakan Partai Ba'ath Terhadap Syiah
Sistem politik Irak di bawah kepemimpinan Partai Ba'ath memiliki empat karakteristik politik dan perilaku yang semuanya dianggap bertujuan melemahkan kaum Syiah:
- Kecenderungan nasionalis Arab non-agama.
- Keputusan tegas untuk mencegah kejatuhan.
- Penyerahan jabatan kunci kepada orang-orang Tikrit, penduduk tempat kelahiran Hasan al-Bakr dan khususnya kerabat Saddam Hussein dari al-Aujah.
- Rekayasa distribusi pendapatan ekonomi yang merugikan kaum Syiah dan kelas miskin masyarakat.[47]
Dekmejian, peneliti masalah Timur Tengah, meyakini bahwa empat kebijakan Partai Ba'ath menyebabkan keterasingan para pemimpin, pengusaha, dan rakyat biasa Syiah dari rezim Ba'ath.[48] Pendekatan pemerintah yang non-agama menyebabkan pemerintah Ba'ath dianggap sebagai Kafir menurut pandangan kaum Syiah. Semangat persatuan Arab Ba'ath memicu kekhawatiran kaum Syiah Irak; karena kebijakan ini akan menempatkan kaum Syiah Irak dalam posisi minoritas.[49] Program Partai Ba'ath untuk mencegah kejatuhan berarti penumpasan musuh-musuh rezim dan kaum Syiah dianggap sebagai target alami Partai Ba'ath. Oleh karena itu, berlawanan dengan slogan sekuler Partai Ba'ath, kecenderungan sektarian Sunni di dalamnya sangat kuat.[50] Meskipun terdapat kehadiran beberapa orang Syiah dalam Partai Ba'ath, namun Tikrit-sentrisme partai menyebabkan jabatan-jabatan tinggi dan kuat terpusat di tangan orang-orang Tikrit dan orang-orang di sekitar Saddam Hussein.[51] Hal ini terjadi sementara selama 38 tahun masa kekaisaran dinasti Hashemit yang bermazhab Sunni, kaum Syiah juga diberikan bagian dalam kepemimpinan pemerintahan. Dilaporkan bahwa dari 23 perdana menteri periode tersebut, empat orang di antaranya termasuk Muhammad al-Sadr, Fadhil Jamali, dan Salih Jabr adalah Syiah.[52]
Pemerintah Ba'ath Irak dalam rangka menyeimbangkan populasi Syiah dan Sunni negara ini, mendatangkan lebih dari satu juta petani dan magang dari Mesir pada dekade 1980-an.[53] Kecenderungan sektarian menyebabkan terbentuknya semacam keberpihakan di satu sisi antara Irak dan Mesir di bawah kepemimpinan Anwar Sadat dan Hosni Mubarak, dan di sisi lain antara Iran dan kaum Syiah Irak. Kebijakan Partai Ba'ath ini membuat bahkan fundamentalis Sunni Irak yang dipimpin oleh Ikhwanul Muslimin menahan diri dari menentang rezim Ba'ath.[54]
Kebijakan Ganda Ba'ath: Insentif dan Penindasan Terhadap Syiah Irak
Pemerintahan Ba'ath Irak pada periode Saddam Hussein (berkuasa 1979 M-2003 M) menjalankan kebijakan ganda insentif dan penindasan untuk mengendalikan kaum Syiah.[55] Dalam rangka menjalankan kebijakan insentif, rezim Ba'ath bersandar pada sentimen Arab populasi Syiah dalam propagandanya.[56] Dilaporkan bahwa Saddam Hussein menyatakan hari lahir Imam Ali (as) sebagai hari libur resmi, pergi ke Najaf, dan memperkenalkan dirinya sebagai keturunan Nabi Islam (saw).[57] Menurut para pengamat, Partai Ba'ath berhasil menarik dukungan beberapa rohaniwan dengan menghabiskan dana besar di beberapa masjid dan pusat Syiah. Dalam rangka ini, al-Atha'isyi penyair terkenal Syiah diberikan penghargaan oleh rezim.[58] Meskipun rohaniwan tingkat tinggi seperti Sayid Abu al-Qasim al-Khu'i yang berada dalam pengawasan di rumah menolak kerjasama eksplisit dengan rezim.[59] Menurut Dekmejian, rezim Ba'ath didukung oleh beberapa rohaniwan Syiah di Najaf dan Karbala termasuk Sayid Husain Tawalliyat, penjaga makam Imam Ali (as).[60]
Kebijakan penindasan kaum Syiah berlanjut selama tiga dekade pemerintahan Partai Ba'ath Irak dan mencapai puncaknya pada dekade 1980-an seiring dengan Perang Iran-Irak. Badan Uni Eropa dalam urusan pengungsi melaporkan bahwa rezim Ba'ath yang dipimpin oleh Saddam Hussein untuk mengendalikan rakyat Irak termasuk kaum Syiah melakukan berbagai bentuk penindasan seperti eksekusi, teror, penahanan ilegal, penyiksaan, pengasingan paksa, dan sebagainya.[61]
Penindasan Syiah di Dekade 1970-an
Templat:Lihatjuga Manifestasi pertama penolakan serius kaum Syiah terhadap rezim Ba'ath muncul dalam peristiwa 1974 M.[62] Pada bulan November dan Desember tahun tersebut, lebih dari dua belas orang pemimpin Syiah diadili secara rahasia dan dihukum atas tuduhan persekongkolan melawan pemerintah. Dilaporkan bahwa lima orang dari mereka dieksekusi secara rahasia.[63]
Penindasan kejam terhadap Intifadah Shafar pada tahun 1977 M merupakan titik balik dalam hubungan kaum Syiah dan pemerintah Ba'ath. Demonstrasi besar Arbain 1977 M/1397 H, yang dalam literatur Syiah Irak dikenal sebagai Intifadah Shafar, diadakan sebagai reaksi atas pencegahan penyelenggaraan acara berkabung pada Asyura dan prosesi Arbain tahun tersebut oleh rezim Ba'ath. Intifadah di Karbala dan Najaf ditumpas dengan keras dan banyak orang ditahan serta diadili.[64] Intifadah dan penindasannya memicu perselisihan dalam kepemimpinan Partai Ba'ath. Dua anggota Dewan Komando Revolusi dan Komando Regional Partai Ba'ath, Fulaih Husain Jasim yang merupakan seorang Syiah dan Izzat Mustafa anggota dewan lainnya yang ditunjuk untuk mengadili para penentang, dipecat dari seluruh jabatan pemerintahan dan partai karena toleransi mereka dalam menangani para penentang.[65] Juga dilaporkan bahwa pada Juni 1979 M dan setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, pencegahan pemerintah Irak terhadap keberangkatan delegasi yang dipimpin oleh Sayid Muhammad Baqir al-Sadr untuk menyampaikan selamat kepada Imam Khomeini di Iran, memicu demonstrasi besar di Najaf dan Karbala. Pemerintah Ba'ath memanggil tentara untuk menumpas demonstrasi ini dan menumpasnya dengan kekuatan militer.[66]
Penindasan Syiah di Dekade 1980-an
Templat:Lihatjuga Pencabutan kewarganegaraan dari Kurdi Faili, pengusiran massal mereka, eksekusi sekitar 20 ribu pemuda Kurdi Faili,[67] eksekusi rohaniwan tingkat tinggi Sayid Muhammad Baqir al-Sadr (1980 M), pembunuhan Sayid Hasan al-Syirazi di Beirut (1980 M), pembantaian 148 orang di pemukiman Dujail (1982 M),[68] penahanan sembilan puluh orang anggota keluarga al-Hakim dan eksekusi enam orang di antaranya (1983 M), pembunuhan Sayid Muhammad Mahdi al-Hakim putra Sayid Muhsin al-Thaba'thaba'i al-Hakim di Sudan (1988 M), dan pengasingan ratusan rohaniwan beserta keluarga mereka selama dekade 1980-an, merupakan bagian dari penindasan kaum Syiah di dekade ini.[69] Para pengamat perkembangan Irak mengakui bahwa hanya pada tahun 1979 hingga 1980 M, seratus orang kader Hizbul Dakwah dieksekusi.[70] al-Zubaidi dan rekan-rekannya melaporkan bahwa basis-basis kaum Syiah di rawa-rawa tenggara Irak (dikenal sebagai Hor) berkali-kali diserang oleh tentara Irak pada dekade 1980-an dan helikopter serta senjata pemusnah massal digunakan melawan mereka.[71]
Penindasan Syiah di Dekade 1990-an
Templat:Lihatjuga Juga pada dekade 1990-an dan setelah kekalahan Irak dalam Perang Kuwait, pemberontakan kaum Syiah seperti halnya Kurdi ditumpas dengan keras.[72] Hanya antara Maret dan Oktober 1991 M dan dalam rangka menumpas pemberontakan nasional yang dikenal sebagai Intifadah Syabaniyah Irak pada awal dekade 1990-an,[73] sekitar dua ratus ribu kaum Syiah di selatan Irak tewas.[74]
Kehadiran Politik Syiah dalam Rezim Ba'ath
Pada periode Saddam Hussein, khususnya tahun-tahun 1979-1982 M, kehadiran menteri Syiah dalam kabinet Irak meningkat sampai batas tertentu dan empat orang Syiah menjadi anggota komando regional (al-Qiyadah al-Quthriyah) Partai Ba'ath. Tokoh-tokoh tinggi seperti Na'im Haddad juru bicara Majelis Nasional, Sa'dun Hammadi perdana menteri (Maret 1991-September 1991 M) dan Ruhi Faruq mendukung Saddam.[75] Meskipun demikian, para menteri Syiah berada dalam posisi minoritas dan jumlah mereka tidak lebih banyak daripada Kurdi. Sa'dun Hammadi juga dicopot dengan cepat karena pemikiran reformisnya. Di sisi lain, jabatan non-kunci seperti kementerian perumahan, kesehatan, dan perdagangan diserahkan kepada mereka, sementara sektor keamanan dan militer dipimpin oleh Arab Sunni.[76]
Kelompok-Kelompok Syiah Penentang Ba'ath di Irak
Pada periode pemerintahan Ba'ath, banyak kelompok Syiah yang dalam beberapa kasus memiliki hubungan organisasi satu sama lain, dibentuk untuk menentang Ba'ath. Kelompok-kelompok ini sering kali memiliki kontak dengan Iran dan hingga kini masih memiliki hubungan dekat.[77]
Hizbul Dakwah al-Islamiyah
Templat:Utama Hizbul Dakwah merupakan inti pusat perlawanan dan kelompok revolusioner Syiah terdepan melawan Partai Ba'ath.[78] Kebijakan non-agama pemerintah Ba'ath seperti penjualan daging babi, campur tangan dalam urusan sekolah agama, pencegahan penerbitan agama, pelarangan perbaikan masjid, serta pengejaran dan pelecehan rohaniwan Syiah, merupakan faktor utama kaum Syiah Irak mendukung Hizbul Dakwah.[79] Mayoritas anggota Hizbul Dakwah berasal dari kelas menengah dan bawah masyarakat serta dari kota-kota Bagdad, Najaf, Karbala, dan selatan Irak.[80] Pemerintah Irak menganggap Hizbul Dakwah sebagai kolom kelima yang tujuannya adalah integrasi Iran dan Irak.[81] Menurut laporan para peneliti, pemerintah Ba'ath menumpas keras acara-acara berkabung dan demonstrasi anti-pemerintah para pendukung Hizbul Dakwah pada tahun 1974 M, 1977 M, 1979 M di Karbala, Najaf, dan Bagdad, serta melakukan pengadilan dan eksekusi massal kaum Syiah.[82] Menyusul eksekusi Sayid Muhammad Baqir al-Sadr dan saudarinya Bintul Huda al-Sadr pada April 1980 M/Farwardin 1359 HS, Hizbul Dakwah mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kedutaan-kedutaan Irak di Roma, Beirut, pusat kebudayaan Irak di Beirut, dan jalan bandara Beirut.[83] Dilaporkan bahwa dalam serangan-serangan ini sejumlah agen intelijen dan anggota senior Partai Ba'ath termasuk Musa Syu'aib, Ali Ramadhan, dan Syafiq Farhan tewas.[84] Berdasarkan beberapa statistik, Hizbul Dakwah melakukan 280 operasi antara tahun 1979-1986 M terhadap pemerintah Ba'ath.[85]
Majelis Tertinggi Islam Irak
Templat:Utama Majelis Tertinggi Islam Irak merupakan organ kepemimpinan tinggi perjuangan Syiah di Irak yang dibentuk pada tahun 1982 M setelah melemahnya Hizbul Dakwah pasca hilangnya Muhammad Baqir al-Sadr. Kepemimpinan majelis ini dipegang oleh Sayid Muhammad Baqir al-Hakim dan terdiri dari kalangan rohaniwan dan non-rohaniwan yang melarikan diri ke Iran pada awal dekade 1980 M.[86] Majelis Tertinggi, di mana Hizbul Dakwah merupakan salah satu elemen terpentingnya, berhasil membangun hubungan dengan kelompok-kelompok Sunni pendukungnya di dunia Arab dan mahasiswa Syiah di Eropa serta Amerika.[87] Posisi internasional Majelis Tertinggi sangat dekat dengan Republik Islam Iran dan bertentangan dengan Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Mesir.[88]
Korps Badr
Templat:Utama Korps Badr didirikan selama Perang Iran-Irak pada tahun 1985 M dengan dukungan Republik Islam Iran dan dipimpin oleh Ismail Daqayiqi. Badr awalnya dibentuk sebagai brigade militer kemudian ditingkatkan menjadi divisi dan akhirnya menjadi korps. Korps Badr dalam aktivitas selanjutnya berperan sebagai sayap militer Majelis Tertinggi Islam Irak untuk berjuang melawan pemerintahan Ba'ath.[89]
Jamā'at al-'Ulama al-Mujāhidīn Irak
Arus ini juga berada di bawah kepemimpinan Sayid Muhammad Baqir al-Hakim yang didirikan di Teheran pada tahun 1980 M[90] dan berfungsi sebagai payung organisasi berbagai kelompok Syiah pejuang.[91]
Partai al-Fathimi
Partai ini terdiri dari para intelektual dan perwira Syiah Arab dan keturunan Iran, yang diorganisir oleh al-Khurasani pada awal dekade 1970 untuk menggulingkan rezim Ba'ath.[92]
Gerakan Mujahidin Irak
Kelompok kecil yang menyatakan eksistensinya pada tahun 1980 M melalui aksi bersenjata dan dari Suriah. Berdasarkan laporan al-Zubaidi dan rekan-rekannya, Gerakan Mujahidin melakukan 29 operasi militer antara tahun 1980-1985 M terhadap pemerintahan Ba'ath Irak.[93] Meskipun Mujahidin mengklaim terinspirasi oleh Muhammad Baqir al-Sadr dan beberapa pengamat menganggapnya sebagai sayap militer Hizbul Dakwah, namun terdapat laporan mengenai tidak adanya hubungan antara gerakan ini dengan Hizbul Dakwah.[94]
Organisasi Aksi Islam (Munazhamah al-'Amal al-Islami)
Arus ini dipimpin oleh Sayid Muhammad al-Syirazi dan Hadi Mudarrisi, yang memisahkan diri dari Partai Ba'ath pada tahun 1980 M.[95] Organisasi ini melakukan 53 operasi militer terhadap pemerintah Ba'ath antara tahun 1980-1986 M.[96]
Selain kelompok-kelompok yang disebutkan di atas, beberapa arus Syiah kecil lainnya seperti Gerakan Prajurit Imam (Jund al-Imam) didirikan tahun 1979 M di Kuwait, Jamā'at al-Khālisi didirikan tahun 1979 M di Iran, Gerakan al-Afwāj al-Islāmiyah didirikan tahun 1982 M di London juga beraktivitas melawan rezim Ba'ath Irak.[97]
Rezim Ba'ath Irak dan Iran
Partai Ba'ath sejak awal meraih kekuasaan menganggap Iran sebagai sebuah ancaman dan menurut Dekmejian kaum Syiah Irak pun memandang Iran sebagai pendukung politik mereka dalam menghadapi para penguasa Sunni Bagdad.[98] Pada 5 Januari 1970 M, tiga puluh tujuh pria dan wanita dieksekusi atas tuduhan upaya menggulingkan pemerintah dan dikatakan bahwa mereka didukung oleh Iran di bawah kepemimpinan Abdul Ghani al-Rawi.[99]
Rezim Ba'ath dan Iran Era Pahlavi
Hubungan rezim Ba'ath Irak dengan Iran era Pahlavi juga tidak baik. Pemerintah Ba'ath Irak mengusir duta besar Iran dari Bagdad pada Januari 1970 M dan menutup konsulat Iran di Bagdad, Karbala, dan Bashrah, serta warga Iran yang tinggal di Irak dipaksa untuk meninggalkan Irak sepenuhnya di bawah tekanan berat pemerintah.[100] Kelompok Syiah keturunan Iran ini dikenal sebagai Muaudin.[101] Meskipun demikian, hubungan kedua negara membaik pada tahun 1975 M dan rezim Ba'ath Irak dalam kesepakatan dengan pemerintah Pahlavi Iran, menekan para revolusioner Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini dan mengusir Imam Khomeini sendiri yang tinggal di Najaf.[102]
Rezim Ba'ath dan Republik Islam Iran
Kemenangan Revolusi Islam Iran pada Februari 1979 M/1357 HS menyebabkan peningkatan protes kaum Syiah Irak terhadap pemerintah Ba'ath. Pada bulan Muharam tahun tersebut, para demonstran Syiah menuntut pembentukan pemerintahan Islam di Irak.[103]
Perang Iran-Irak
Templat:Utama Perang Iran-Irak (1980-1988 M) dianggap sebagai titik balik dalam hubungan Iran dan Irak. Perang ini dimulai pada 22 September 1980 M/1359 HS dengan invasi menyeluruh Irak dan berakhir setelah delapan tahun pada Agustus 1988 M dengan diterimanya gencatan senjata. Perang ini menyebabkan ratusan ribu korban jiwa dan penarikan penuh pasukan dari garis pertempuran serta pemulihan hubungan diplomatik antara kedua negara tertunda hingga 16 Agustus 1990 M ketika perjanjian damai ditandatangani.[104]
Pengenalan dan Latar Belakang Partai Ba'ath
Templat:Utama Gerakan Ba'ath didirikan pada awal dekade 1940-an oleh dua intelektual Suriah bernama Michel Aflaq (Kristen Ortodoks) dan Salahuddin Bithar (Muslim Sunni) dengan kerjasama Zaki al-Arsuzi (Muslim Alawi).[105] Kongres pertama Partai Ba'ath diadakan di Damaskus pada 7 April 1947 M.[106] Setelah penggabungan dengan Partai Sosialis Arab yang dipimpin oleh Akram Hourani pada tahun 1952 M, namanya berubah menjadi Partai Ba'ath Sosialis Arab (ASBP).[107] "Persatuan, Kebebasan, dan Sosialisme" adalah slogan Partai Ba'ath.[108]
Filosofi Politik
Prinsip-prinsip filosofi politik Ba'ath adalah nasionalisme (Pan-Arabisme), sekularisme, sosialisme, dan militerisme.[109] Interpretasi para pendiri Ba'ath mengenai sosialisme berbeda dengan interpretasi yang umum di Barat.[110] Dari sudut pandang para pemimpin Partai Ba'ath, negara-negara Arab adalah bagian-bagian dari satu kesatuan tubuh bangsa Arab.[111] al-Arsuzi berkata: "Bangsa Arab adalah satu umat dan negara Arab adalah tanah air yang tidak dapat dibagi."[112]
Struktur
Struktur awal Partai Ba'ath disetujui dalam kongres nasional pertamanya pada tahun 1947 M.[113] Dikatakan bahwa struktur Partai Ba'ath bersifat hierarkis dan dipengaruhi oleh model Leninis serta sangat terpusat.[114]
- Sel-sel (Khalqat) yang harus terdiri dari tiga hingga tujuh anggota dan membentuk akar utama partai di tingkat lingkungan dan desa.[115]
- Skuad (Firqah) yang terdiri dari dua hingga tujuh sel dan berperan sebagai pengawas/pemantau partai di tingkat instansi dan tentara.
- Cabang (Syu'bah), terdiri dari dua hingga lima skuad dan beraktivitas di tingkat wilayah kota besar, kota kecil, dan daerah pedesaan.
- Ranting (Far') terdiri dari dua cabang atau lebih dan berperan di tingkat provinsi.
- Kongres, terdiri dari seluruh ranting yang di antara tugasnya adalah memilih Komando Regional (Quthri) yang memiliki peran eksekutif.
- Komando Nasional (Qawmi), otoritas pengambilan keputusan tertinggi partai di tingkat seluruh bangsa Arab yang secara bertahap bersifat simbolis.[116]
Jatuhnya Pemerintahan Ba'ath Irak
George W. Bush, presiden Amerika Serikat saat itu, menetapkan tenggat waktu 48 jam bagi Saddam Hussein dan anak-anaknya pada 17 Maret 2003 M untuk meninggalkan Irak, jika tidak mereka akan menghadapi serangan militer penuh dari Amerika. Pemimpin pemerintahan Irak mengabaikan tenggat waktu tersebut.[117] Pada jam 8 malam tanggal 19 Maret (Rabu), tenggat waktu berakhir dan tidak lama kemudian dimulailah perang yang oleh Amerika disebut "Operasi Pembebasan Irak".[118] Kekuatan militer Amerika Serikat, Inggris, dan sekutu Barat lainnya memulai invasi menyeluruh terhadap pemerintah Irak dan tiga minggu setelahnya pada 9 April patung Saddam Hussein di Lapangan Firdaus Bagdad dirobohkan dan rezim Ba'ath di Irak kalah.[119] Saddam sendiri setelah ditangkap dinyatakan bersalah oleh pengadilan atas tuduhan pembantaian kaum Syiah di Dujail dan kejahatan terhadap kemanusiaan pada tahun 2006 M dan dihukum gantung pada 30 Desember tahun tersebut, bertepatan dengan Iduladha.[120] Kepemimpinan Partai Ba'ath Irak yang telah dibubarkan diambil alih oleh Izzat Ibrahim al-Douri setelah Saddam.[121]
Pembubaran Partai Ba'ath Irak
Pemerintah koalisi sementara yang dipimpin oleh Amerika Serikat menyatakan aktivitas Partai Ba'ath ilegal setelah kekalahan pasukan Irak pada tahun 2003 M/1382 HS dan melarang segala bentuk aktivitas politik dan pemerintahan bagi anggota seniornya.[122] Tindakan ini disebut sebagai De-Ba'athifikasi.[123] Parlemen Irak pada Juli 2016 M menyetujui sebuah rancangan undang-undang yang melarang aktivitas Partai Ba'ath di Irak.[124] Meskipun demikian, dokumen menunjukkan bahwa anggota tingkat tinggi Partai Ba'ath yang dipimpin oleh Izzat Ibrahim al-Douri, mengorganisir kelompok-kelompok rahasia untuk melakukan perang gerilya melawan pasukan Barat dan pemerintah Irak.[125]
Pembubaran Ba'ath dan Hubungannya dengan ISIS
Dilaporkan bahwa mantan pejabat Partai Ba'ath sejak tahun 2011 M menjadi kader profesional ISIS atau Negara Islam di Irak dan Suriah. Keputusan Parlemen Irak untuk melarang Partai Ba'ath juga dikeluarkan setelah serangkaian serangan bunuh diri ISIS yang dalam waktu singkat menyebabkan kematian 250 orang warga sipil.[126] Badan Uni Eropa dalam urusan pengungsi melaporkan bahwa para perwira rezim mantan Saddam Hussein mengelola tiga divisi penting intelijen, militer, dan keuangan dalam organisasi ISIS.[127] Terdapat laporan bahwa sebelum munculnya ISIS, pada masa pemerintahan Nouri al-Maliki (2006-2014 M), sisa-sisa Partai Ba'ath Irak juga membentuk "Gerakan Protes Ahlusunah" dan melakukan pergerakan anti-pemerintah di Provinsi al-Anbar.[128]
Dampak Tiga Dekade Pemerintahan Partai Ba'ath di Irak
35 tahun pemerintahan Ba'ath di Irak memberikan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada persatuan nasional negara ini dan menyediakan basis bagi meledaknya ketegangan etnis dan agama lebih dari sebelumnya:
Peningkatan Ketegangan Etnis Kurdi dan Arab
Menurut para ahli, meskipun Irak sebelum Partai Ba'ath juga telah terbagi menjadi Kurdi dan Arab, namun pemerintahan yang disertai penindasan Partai Ba'ath menyebabkan wilayah Kurdi Irak bergerak menuju otonomi lebih dari sebelumnya dan menjadi pesimis terhadap orang Arab, khususnya Ahlusunah wal Jama'ah.[129]
Peningkatan Ketegangan Agama Syiah dan Sunni
Menurut laporan Reuters, lebih dari tiga dekade kekuasaan mutlak Partai Ba'ath juga memperhebat ketegangan sektarian antara mayoritas Syiah dan minoritas Sunni.[130] Menurut beberapa peneliti, monopoli kekuasaan oleh minoritas Sunni selama periode kekuasaan Ba'ath telah menyebabkan terbentuknya semacam sikap menuntut lebih pada kelompok sosial ini, dan pada periode pasca Saddam menjadi salah satu hambatan utama kesuksesan pembangunan bangsa-negara berdasarkan tatanan demokratis.[131] Dari sisi lain, para pakar masalah Irak menganggap proses De-Ba'athifikasi yang cepat yang dimulai oleh pemerintah koalisi sementara (dari 21 April 2003 hingga 28 Juli 2004 M) yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutunya sejak tahun 2003 M, sebagai salah satu faktor meluasnya ketidakamanan dan perlawanan Ahlusunah terhadap pemerintah pusat Irak.[132] Dari pandangan para pengamat, Ba'athisme dan De-Ba'athifikasi adalah dua fenomena yang berlawanan yang memiliki fungsi searah dalam memperdalam patahan sosial, kebencian sektarian, dan krisis politik Irak.[133] Keterasingan dan rasa benci agama antara Syiah dan Sunni menyebabkan al-Qaeda dan kemudian ISIS menemukan lahan yang subur di wilayah pemukiman Sunni Irak dan Irak terseret ke dalam perang saudara. Ledakan dan penghancuran Haram Askariyah di Samarra pada 22 Februari 2006 M dianggap sebagai awal dari perang saudara ini.[134]
Catatan Kaki
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 21; Parker, Ba’ath Party archives at the Hoover Institution reveal brutality of Saddam Hussein’s authoritarian regime, 2018.
- ↑ Reuters, Saddam Hussein, rise and fall of a strongman, 2007.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 227.
- ↑ EUAA, Former Baath party members, 2019.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 200.
- ↑ Britannica, Arab-Israeli wars.
- ↑ Aljazeera, Timeline: Saddam’s life, 2006.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 26.
- ↑ Country Studies, The Bath Party.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 39.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 39.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 40.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 42.
- ↑ Country Studies, The Bath Party.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 27.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 50.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 41.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 41.
- ↑ AlJazeera, The Iraqi Baath Party.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 41.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 41.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 226.
- ↑ Country Studies, The Bath Party.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 42.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 43.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 43.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 43.
- ↑ Country Studies, The Bath Party.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 46.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 28; Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 46.
- ↑ AlJazeera, The Iraqi Baath Party.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 54.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 54.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 55.
- ↑ Marr, Sejarah Modern Irak, 1380 HS, hlm. 326.
- ↑ Faruqui, Saddam Hussein’s rise to power, 2018.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, 1993, hlm. 57.
- ↑ Marr, Sejarah Modern Irak, 1380 HS, hlm. 328.
- ↑ Marr, Sejarah Modern Irak, 1380 HS, hlm. 328.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 30-34.
- ↑ Encyclopedia.com, Saddam Hussein's Rise to Power.
- ↑ Marr, Sejarah Modern Irak, 1380 HS, hlm. 323.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 236.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 241.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 78.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 78.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 227.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 228.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 228.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 228.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 228.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 226-228.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 239.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 240.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 236.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 236.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 236.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 236.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 236.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 237.
- ↑ EUAA, Crimes committed during the regime of Saddam Hussein.
- ↑ Marr, Sejarah Modern Irak, 1380 HS, hlm. 354.
- ↑ Marr, Sejarah Modern Irak, 1380 HS, hlm. 354.
- ↑ Marr, Sejarah Modern Irak, 1380 HS, hlm. 354.
- ↑ Marr, Sejarah Modern Irak, 1380 HS, hlm. 354.
- ↑ Marr, Sejarah Modern Irak, 1380 HS, hlm. 355.
- ↑ Minority Rights, Faili Kurds.
- ↑ Khabargozari Mehr, Saksi Kejahatan Dujail Mengungkap Kejahatan Saddam dan Rekan-rekannya.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 241.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 81.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 90.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 241.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 241.
- ↑ EUAA, Crimes committed during the regime of Saddam Hussein.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 237.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 237.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 229.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 229.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 230.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 230.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 230.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 230.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 83.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 83.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 84.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 239.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 239.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 239.
- ↑ Bagaimana Korps Badr Terbentuk?, Kantor Berita Pertahanan Suci.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 84.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 238.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 229.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 84.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 238.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 237.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 84.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 84.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 229.
- ↑ Marr, Sejarah Modern Irak, 1380 HS, hlm. 322.
- ↑ Marr, Sejarah Modern Irak, 1380 HS, hlm. 322.
- ↑ Jahan-gard, "Tinjauan Mengenai Hubungan dan Perselisihan Perbatasan Iran dan Irak serta Campur Tangan Negara-negara Asing", hlm. 112.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 231.
- ↑ Dekmejian, Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab, 1388 HS, hlm. 231.
- ↑ Mosaffa, Impact of Iran-Iraq War on Iranian Children, 2018; Britannica, Iran-Iraq War.
- ↑ Harvard Divinity School, Ba'ath Party in Syria.
- ↑ Harvard Divinity School, Ba'ath Party in Syria.
- ↑ Isaac, The Ba‘th of Syria and Iraq.
- ↑ Partai Ba'ath Sosialis Arab Suriah, Situs Web Jaringan AlJazeera.
- ↑ Harvard Divinity School, Ba'ath Party in Syria.
- ↑ Isaac, The Ba‘th of Syria and Iraq.
- ↑ Country Studies, The Baath Party.
- ↑ Analisis Pemikiran Zaki al-Arsuzi: Bapak Spiritual Partai Ba'ath Arab, Situs Web Asosiasi Sosiologi Iran.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, hlm. 29.
- ↑ Collelo, Syria a country study, 1987, hlm. 201.
- ↑ Husain, Gerakan Islam dari Berbagai Perspektif Politik, 1387 HS, hlm. 216; Partai Ba'ath Irak, Situs Web AlJazeera Arab; Collelo, Syria a country study, 1987, hlm. 201.
- ↑ Cabana, The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today, hlm. 29; AlJazeera, The Iraqi Baath Party, 2005.
- ↑ NPR, Saddam Hussein: Crimes and Punishment, 2006.
- ↑ al-Zubaidi dkk, Irak dalam Pencarian Masa Depan, 1395 HS, hlm. 157.
- ↑ CFR, The Iraq War.
- ↑ Aljazeera, Timeline: Saddam’s life, 2006.
- ↑ CFR, The Iraq War.
- ↑ The New Arab, Iraq passes bill banning the Baath party, 2016.
- ↑ Zinn, Consequences of Iraqi De-Baathification, 2016.
- ↑ The New Arab, Iraq passes bill banning the Baath party.
- ↑ The New Arab, Iraq passes bill banning the Baath party, 2016; The Guardian, Izzat Ibrahim al-Douri obituary, 2020.
- ↑ Middle East Eye, Iraqi parliament votes to ban the Baath party.
- ↑ EUAA, Former Baath party members, 2019.
- ↑ Zulfiqari dan Nurmohammadi, "Analisis Dampak Gerakan Rakyat di Kawasan Timur Tengah dari Perspektif Perluasan Kesenjangan Agama Syiah dan Sunni", hlm. 127.
- ↑ Reuters, Saddam Hussein, rise and fall of a strongman, 2007.
- ↑ Reuters, Saddam Hussein, rise and fall of a strongman, 2007.
- ↑ Zarean dkk, "Hambatan di Hadapan Proses Pembangunan Negara di Irak", hlm. 112.
- ↑ Sissons & Al-Saiedi, Iraq’s de-Baathification still haunts the country, 2013.
- ↑ Sissons & Al-Saiedi, Iraq’s de-Baathification still haunts the country, 2013.
- ↑ Zinn, Consequences of Iraqi De-Baathification, 2016.
Daftar Pustaka
- AlJazeera. The Iraqi Baath Party. Diterbitkan: 23 Juni 2005. Diakses: 16 Maret 2023.
- Aljazeera. Hizb al-Ba'ath al-Iraqi. Situs Web Arab Aljazeera. Diterbitkan: 10 Maret 2004. Diakses: 17 Maret 2023.
- Aljazeera. Timeline: Saddam’s life. Diterbitkan: 30 Desember 2006. Diakses: 13 Maret 2023.
- al-Zubaidi, Hasan Lathif; al-Abadi, Ni'mah Muhammad; al-Sa'dun, Athif Lafi. Irak dalam Pencarian Masa Depan (Irak dar Jostoju-ye Ayandeh). Terjemahan Ali Shams. Tehran, Lembaga Studi Andishe-Sazan-e Noor, 1395 HS.
- Asosiasi Sosiologi Iran. Analisis Pemikiran Zaki al-Arsuzi: Bapak Spiritual Partai Ba'ath Arab. Situs Web Asosiasi Sosiologi Iran. Diterbitkan: 3 Esfand 1394 HS. Diakses: 29 Farwardin 1402 HS.
- Britannica. Arab-Israeli wars. Diakses: 28 Maret 2023.
- Britannica. Iran-Iraq War. Diakses: 1 April 2023.
- Cabana, Joel L. The Ba'th Party in Iraq: from its beginning through today (Thesis). 1993, Monterey, California. Naval Postgraduate School.
- CFR website. The Iraq War. Diakses: 1 April 2023.
- Chapin Metz, Helen. Iraq: a country study. Federal Research Division Library of Congress, 1988.
- Collelo, Thomas. Syria: a country study. Federal Research Division Library of Congress, 1987.
- Dekmejian, R. Hrair. Gerakan-gerakan Islam Kontemporer di Dunia Arab (Jonbesh-haye Eslami-ye Mo'aser dar Jahan-e Arab). Terjemahan Hamid Ahmadi. Tehran, Penerbit Kayhan, cetakan kelima, 1388 HS.
- Encyclopedia.com. Saddam Hussein's Rise to Power. Diakses: 15 Maret 2023.
- European Union Agency for Asylum. Crimes committed during the regime of Saddam Hussein. Terakhir diperbarui: Januari 2021. Diakses: 1 April 2023.
- European Union Agency for Asylum. Former Baath party members. Diperbarui: Juni 2019. Diakses: 6 Maret 2023.
- Faruqui, Ahmad. Saddam Hussein’s rise to power. Daily Times. Diterbitkan: 28 September 2018. Diakses: 15 Maret 2023.
- Harvard Divinity School. Ba'ath Party in Syria. Diakses: 4 Maret 2023.
- Hujjat, Minu. "Imkan-e Taqarrub-e Ara-ye Heraclitus wa Sadr al-Muta'allihin dar Bab-e Sayrurat". dalam Ayineh-ye Ma'rifat, nomor 9, Musim Gugur dan Musim Dingin 1385 HS.
- Husain, Aseff. Gerakan Islam dari Berbagai Perspektif Politik (Jahan-e Eslam az Manzar-haye Mokhtalef-e Siyasi). Tehran, Lembaga Studi Andishe-Sazan-e Noor, terjemahan Sayid Ahmad Muvassaqi, 1387 HS.
- Isaac, Steven. The Ba‘th of Syria and Iraq. Longwood. Diakses: 4 Maret 2023.
- Jahan-gard, Nasrin. "Tinjauan Mengenai Hubungan dan Perselisihan Perbatasan Iran dan Irak serta Campur Tangan Negara-negara Asing". dalam Faslnameh Tarikh-e Ravabet-e Khareji, nomor 19, Musim Panas 1383 HS.
- Khabargozari Mehr. "Saksi Kejahatan Dujail Mengungkap Kejahatan Saddam dan Rekan-rekannya". Situs Web Kantor Berita Mehr. Diterbitkan: 14 Azar 1383 HS. Diakses: 12 April 1402 HS.
- Marr, Phebe. Sejarah Modern Irak (Tarikh-e Novin-e Iraq). Terjemahan Mohammad Abbaspour. Masyhad, Lembaga Riset Islam, 1380 HS.
- Mosaffa, Nasrin. Impact of Iran-Iraq War on Iranian Children. Iranian review for UN studies. Diterbitkan: September 2018. Diakses: 1 April 2023.
- NPR website. Saddam Hussein: Crimes and Punishment. Diterbitkan: 29 Desember 2006. Diakses: 1 April 2023.
- Parker, Clifton B. Ba’ath Party archives at the Hoover Institution reveal brutality of Saddam Hussein’s authoritarian regime. Universitas Stanford. Diterbitkan: 29 Maret 2018. Diakses: 28 Maret 2023.
- Reuters. Saddam Hussein, rise and fall of a strongman. Diterbitkan: 30 Desember 2007. Diakses: 6 Maret 2023.
- Sissons, Miranda & al-Saiedi, Abdulrazzaq. Iraq’s de-Baathification still haunts the country. Aljazeera. Diterbitkan: 12 Maret 2013. Diakses: 6 April 2023.
- The New Arab. Iraq passes bill banning the Baath party. Diterbitkan: 31 Juli 2016. Diakses: 1 April 2023.
- Theguardian. Izzat Ibrahim al-Douri obituary. Diterbitkan: 29 Oktober 2020. Diakses: 16 April 2023.
- Zarean, Ahmad dkk. "Hambatan di Hadapan Proses Pembangunan Negara di Irak". dalam Faslnameh Tahqiqat-e Siyasi-ye Beynolmelali Universitas Azad Islami Shahreza, nomor 35, Musim Panas 1397 HS.
- Zinn. Consequences of Iraqi De-Baathification. 2016.
- Zulfiqari, Abolfazl; Nurmohammadi, Mojdeh. "Analisis Dampak Gerakan Rakyat di Kawasan Timur Tengah dari Perspektif Perluasan Kesenjangan Agama Syiah dan Sunni". dalam Do Faslnameh Elmi-Tahqiqi Jame'eh-shenasi Siyasi Jahan-e Eslam, periode 3, nomor 2, Musim Gugur dan Musim Dingin 1394 HS.