Konsep:Ibrahim Dunbuli Khui
| Informasi Pribadi | |
|---|---|
| Lahir | 1247 H |
| Tempat lahir | Khoy |
| Tempat tinggal | Iran |
| Wafat/Syahadah | 1325 H |
| Tempat dimakamkan | Wadi al-Salam, Najaf |
| Kerabat termasyhur | Mirza Yahya Khu'i (keponakan) |
| Informasi ilmiah | |
| Guru-guru | Syaikh Murtadha al-Anshari • Sayid Husain Kuh-Kamari |
| Ijazah Riwayat dari | Mahdi Al Kasyif al-Ghita |
| Karya-karya | Hasyiyah ala Faraid al-Ushul • Al-Durrah al-Najafiyyah fi Syarh Nahj al-Balaghah al-Haidariyyah |
| Kegiatan Sosial dan Politik | |
Ibrahim Dunbuli Khu'i (1247–1325 H) adalah seorang fakih dan ulama Syiah pada masa dinasti Qajar di kota Khoy. Ia merupakan murid dari dua ulama besar, Syaikh Murtadha al-Anshari dan Sayid Husain Kuh-Kamari, dan menguasai bidang-bidang seperti fikih, ushul fikih, ilmu hadis, dan teologi. Di antara karya-karyanya adalah Hasyiyah ala Faraid al-Ushul dan syarah (penjelasan) atas Nahjul Balaghah yang berjudul Al-Durrah al-Najafiyyah fi Syarh Nahj al-Balaghah al-Haidariyyah.
Meskipun Dunbuli Khu'i memiliki kekayaan yang sangat besar berupa harta, tanah, dan desa, ia hidup secara sederhana. Kekayaannya digunakan untuk tujuan kebaikan, seperti sedekah, pelayanan publik, dan kegiatan keagamaan. Sesuai wasiat yang ia tinggalkan, seluruh harta kekayaannya diwakafkan. Sebagian besar wakaf tersebut dialokasikan untuk urusan-urusan syar'i dan upacara duka mengenang Imam Husain as.
Dunbuli Khu'i sangat dipuji karena akhlaknya yang mulia dan dikenang dengan julukan-julukan seperti bertakwa, ahli ibadah, dan zuhud (hidup sederhana dan tidak terikat dunia).
Meskipun ia bersikap netral dalam Revolusi Konstitusi Iran, pada masa kekacauan di kota Khoy, Dunbuli Khu'i dibunuh oleh salah seorang pendukung konstitusi. Jenazahnya kemudian dikuburkan di kota suci Najaf.
Kedudukan
Ibrahim Dunbuli Khu'i adalah salah seorang ulama terkemuka pada abad ke-13 dan ke-14 Hijriah.[1] Ia menguasai berbagai disiplin ilmu, termasuk fikih, ushul fikih, ilmu hadis, teologi, irfan, dan filsafat.[2] Ia banyak dipuji karena akhlak yang luhur, sikap adil, dan kedermawanan-nya.[3]
Muhammad Ali Mudarris Tabrizi menggambarkannya sebagai seorang yang "ahli ibadah, zuhud, bertakwa, serta menguasai ilmu aqli (rasional) dan naqli (transmisi/nash)".[4] Eugène Aubin, seorang diplomat Prancis yang bertugas di Iran pada era Revolusi Konstitusi, menggambarkan Dunbuli Khu'i sebagai "mujtahid besar kota yang sangat dihormati oleh masyarakat umum".[5]
Dunbuli Khu'i beberapa kali menunaikan ibadah haji ke Mekah[6] dan karena kecintaannya yang mendalam kepada Ahlulbait as,[7] ia rutin mengunjungi Atabat Aliyat (kota-kota suci di Irak) setiap dua tahun sekali.[8] Dalam salah satu kunjungannya di Samarra, terjadi debat ilmiah antara dirinya dengan Mirza Besar Sayid Muhammad Hasan Syirazi dalam sebuah majelis. Dalam debat tersebut, pendapat Dunbuli Khu'i-lah yang kemudian diterima oleh Mirza Syirazi.[9]
Biografi
Ibrahim Dunbuli Khu'i berasal dari suku Dunbuli, salah satu suku di Azerbaijan Iran.[10] Ia lahir pada tahun 1247 H di kota Khoy.[11] Leluhurnya termasuk golongan Khan dan bangsawan setempat.[12]
Setelah mempelajari ilmu-ilmu dasar agama di kota kelahirannya,[13] pada usia 20 tahun (1267 H), ia berangkat ke Najaf untuk menuntut ilmu lebih tinggi.[14] Ia tinggal di sana selama bertahun-tahun.[15] Di Najaf, ia berguru kepada dua ulama besar: Syaikh Murtadha al-Anshari dan Sayid Husain Kuh-Kamari.[16] Ia juga memperoleh ijazah periwayatan hadis dari ulama-ulama seperti Mahdi Al Kasyif al-Ghita (w. 1288 H) dan Muhammad Husain Kazhimi (w. 1308 H).[17]
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Najaf, Ibrahim Dunbuli kembali ke kampung halamannya, Khoy, untuk berdakwah.[18] Aktivitasnya di Khoy meliputi mengajar, menulis, memimpin Salat Jamaah, menangani urusan masyarakat dan orang miskin, serta bertindak sebagai hakim dalam menyelesaikan perselisihan.[19] Di antara murid-muridnya adalah Ibrahim Salmasi Kazhimi dan Mirza Yahya Khu'i (yang juga merupakan keponakannya).[20]
Kesyahidan
Ibrahim Dunbuli Khu'i terbunuh di rumahnya pada tahun 1325 H.[21] Meskipun ia tidak terlibat dalam perselisihan antara pendukung dan penentang Revolusi Konstitusi Iran, ia menjadi korban dan dibunuh oleh salah seorang pendukung konstitusi.[22]
Mengingat suasana kota Khoy yang sangat kacau saat itu, tidak dilaksanakan prosesi pemakaman untuknya. Sayid Ali Akbar Khu'i (ayah dari Sayid Abul Qasim al-Khu'i) yang menyalatkan jenazahnya.[23] Beberapa waktu kemudian, jenazahnya dipindahkan ke Najaf dan dimakamkan di lokasi yang telah ia tentukan sendiri sebelumnya, yaitu di Wadi al-Salam.[24]
Mewakafkan Seluruh Harta

Ibrahim Dunbuli Khu'i adalah seorang yang sangat kaya. Ia memiliki beberapa desa dan banyak properti, dan dianggap sebagai pemilik tanah terkaya di kota Khoy pada masanya.[25]
Meskipun kaya raya, ia dikenal hidup sederhana dan qanaah (merasa cukup). Seluruh pendapatan dari propertinya dihabiskan untuk tujuan kebaikan dan sedekah,[26] amal dan pelayanan publik,[27] serta kegiatan-kegiatan keagamaan.[28]
Sesuai dengan wasiat yang ia tinggalkan, Ibrahim Dunbuli mewakafkan seluruh hartanya. Seluruh rincian harta wakaf dan tujuan penggunaannya telah didokumentasikan dalam sebuah buku berjudul Waqf-nameh.[29]
Beberapa tujuan dari wakafnya antara lain:
- Menyelenggarakan upacara duka untuk Imam Husain as selama Sepuluh Hari Muharram di Husainiyah miliknya.
- Memberi makan para pelayat Husaini pada Hari Tasua dan Asyura, serta memberi makan orang miskin pada malam-malam Qadar di bulan Ramadhan.
- Melaksanakan satu Haji Niabati setiap tahun.
- Mengalokasikan dana besar untuk pembangunan dan pemeliharaan masjid-masjid kota setiap tahun.
- Mengalokasikan dana besar untuk membantu pelajar ilmu agama setiap tahun.[30]
Namun, terdapat juga kritik terhadap pola wakaf Dunbuli Khu'i. Sebagian pihak berpendapat bahwa wakafnya tidak mengalokasikan dana untuk pekerjaan pembangunan dan budaya seperti pembangunan jembatan, sekolah, atau rumah sakit—hal-hal yang dapat mendorong kemakmuran, kemajuan kota, dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.[31]
Karya
Ibrahim Dunbuli memiliki banyak karya tulis dalam fikih, ushul, dan hadis.[32] Beberapa karyanya antara lain:
- Hasyiyah ala Faraid al-Ushul karya Syaikh Murtadha al-Anshari.
- Syarah Empat Puluh Hadis (Al-Arba'un Haditsan).[33]
- Mulakhkhash al-Maqal fi Tahqiq Ahwal al-Rijal.
- Ringkasan jilid ketujuh Bihar al-Anwar.[catatan 1][34]
- Al-Da'awat.
- Risalah tentang Ushul Fikih.[35]
- Syarah atas Syarayi' al-Islam.
- Antologi (Jung), berisi berbagai topik fikih, ushul, sastra, dan akidah.[36]
Al-Durrah al-Najafiyyah fi Syarh Nahj al-Balaghah al-Haidariyyah
Al-Durrah al-Najafiyyah fi Syarh Nahj al-Balaghah al-Haidariyyah adalah salah satu karyanya yang merupakan syarah ringkas atas Nahjul Balaghah.[37] Buku ini terdiri dari dua bagian, satu bagian tentang keutamaan Imam Ali (as) dan bagian kedua adalah syarah ringkas atas Nahjul Balaghah.[38] Al-Durrah al-Najafiyyah dicetak secara litografi di Tabriz semasa hidup penulisnya. Syarah ini dianggap sebagai ringkasan dari syarah Ibnu Maitsam al-Bahrani.[39]
Monografi
- Buku "Waqf-nameh" dengan penelitian dan koreksi Muhammad Alvansaz Khu'i, merupakan tinjauan atas biografi dan kepribadian ilmiah serta spiritual Mirza Ibrahim Dunbuli Khu'i dan penjelasan tentang beberapa surat wakafnya.
Catatan Kaki
- ↑ Hirzuddin, Ma'arif al-Rijal, 1405 H, jld. 1, hlm. 36; Mudarris Tabrizi, Rayhanah al-Adab, 1369 HS, jld. 2, hlm. 194.
- ↑ Amini, Syuhada al-Fadhilah, 1352 HS, hlm. 342; Mudarris Tabrizi, Rayhanah al-Adab, 1369 HS, jld. 2, hlm. 194.
- ↑ Hirzuddin, Ma'arif al-Rijal, 1405 H, jld. 1, hlm. 36; Amini, Syuhada al-Fadhilah, 1352 HS, hlm. 342.
- ↑ Mudarris Tabrizi, Rayhanah al-Adab, 1369 HS, jld. 2, hlm. 194.
- ↑ Aubin, Iran Emruz, 1362 HS, hlm. 84.
- ↑ Aubin, Iran Emruz, 1362 HS, hlm. 85.
- ↑ Anshari Qomi, Akhtaran-e Faqahat, 1387 HS, jld. 1, hlm. 413.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Nuqaba al-Basyar, 1404 H, jld. 1, hlm. 14.
- ↑ Amini, Syuhada al-Fadhilah, 1352 HS, hlm. 343; Shadrai Khu'i, Simaye Khoy, 1373 HS, hlm. 180.
- ↑ Mudarris Tabrizi, Rayhanah al-Adab, 1369 HS, jld. 2, hlm. 194.
- ↑ Amini, Syuhada al-Fadhilah, 1352 HS, hlm. 342; Hirzuddin, Ma'arif al-Rijal, 1405 H, jld. 1, hlm. 36.
- ↑ Shadrai Khu'i, Simaye Khoy, 1373 HS, hlm. 178; Anshari Qomi, Akhtaran-e Faqahat, 1387 HS, jld. 1, hlm. 408.
- ↑ Shadrai Khu'i, Simaye Khoy, 1373 HS, hlm. 179.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Nuqaba al-Basyar, 1404 H, jld. 1, hlm. 13; Anshari Qomi, Akhtaran-e Faqahat, 1387 HS, jld. 1, hlm. 409.
- ↑ Riyahi, Tarikh-e Khoy, 1372 HS, hlm. 249.
- ↑ Hirzuddin, Ma'arif al-Rijal, 1405 H, jld. 1, hlm. 37.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Nuqaba al-Basyar, 1404 H, jld. 1, hlm. 13; Hirzuddin, Ma'arif al-Rijal, 1405 H, jld. 1, hlm. 37.
- ↑ Anshari Qomi, Akhtaran-e Faqahat, 1387 HS, jld. 1, hlm. 410.
- ↑ Anshari Qomi, Akhtaran-e Faqahat, 1387 HS, jld. 1, hlm. 410.
- ↑ Arabshahi, "Dunbuli Khu'i Mirza Ibrahim", di bawah entri.
- ↑ Hirzuddin, Ma'arif al-Rijal, 1405 H, jld. 1, hlm. 36; Amini, Syuhada al-Fadhilah, 1352 HS, hlm. 342.
- ↑ Riyahi, Tarikh-e Khoy, 1372 HS, hlm. 250.
- ↑ Shadrai Khu'i, Simaye Khoy, 1373 HS, hlm. 182.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Nuqaba al-Basyar, 1404 H, jld. 1, hlm. 14; Amini, Syuhada al-Fadhilah, 1352 HS, hlm. 347.
- ↑ Tsiqah al-Islam Tabrizi, Mir'at al-Kutub, 1414 H, jld. 1, hlm. 110; Riyahi, Tarikh-e Khoy, 1372 HS, hlm. 249.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Nuqaba al-Basyar, 1404 H, jld. 1, hlm. 13; Aubin, Iran Emruz, 1362 HS, hlm. 85.
- ↑ Amini, Syuhada al-Fadhilah, 1352 HS, hlm. 344.
- ↑ Mudarris Tabrizi, Rayhanah al-Adab, 1369 HS, jld. 2, hlm. 194; Shadrai Khu'i, Simaye Khoy, 1373 HS, hlm. 181.
- ↑ Riyahi, Tarikh-e Khoy, 1372 HS, hlm. 249; Shadrai Khu'i, Simaye Khoy, 1373 HS, hlm. 181.
- ↑ Anshari Qomi, Akhtaran-e Faqahat, 1387 HS, jld. 1, hlm. 412.
- ↑ Riyahi, Tarikh-e Khoy, 1372 HS, hlm. 249.
- ↑ Shadrai Khu'i, Simaye Khoy, 1373 HS, hlm. 182.
- ↑ Amini, Syuhada al-Fadhilah, 1352 HS, hlm. 343; Tehrani, Al-Dzari'ah, 1408 H, jld. 1, hlm. 409.
- ↑ Shadrai Khu'i, Simaye Khoy, 1373 HS, hlm. 183.
- ↑ Mudarris Tabrizi, Rayhanah al-Adab, 1369 HS, jld. 2, hlm. 195.
- ↑ Arabshahi, "Dunbuli Khu'i Mirza Ibrahim", di bawah entri.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Nuqaba al-Basyar, 1404 H, jld. 1, hlm. 13; Amini, Syuhada al-Fadhilah, 1352 HS, hlm. 343.
- ↑ Arabshahi, "Dunbuli Khu'i Mirza Ibrahim", di bawah entri.
- ↑ Burujerdi, "Negahi be Syarh-haye Nahj al-Balaghah", hlm. 132.
Catatan
- ↑ Bagian Imamah dari kumpulan dua puluh lima jilid cetakan lama, dan sesuai dengan jilid 23 hingga 27 dari kumpulan 110 jilid Bihar al-Anwar karya Allamah Majlisi
Daftar Pustaka
- Agha Buzurg Tehrani, Muhammad Muhsin. Nuqaba al-Basyar fi al-Qarn al-Rabi' 'Asyar. Masyhad: Dar al-Murtadha, 1404 H.
- Amini, Abdul Husain. Syuhada al-Fadhilah. Qom: Maktabah al-Thabathaba'i, 1352 HS.
- Anshari Qomi, Nashiruddin. Akhtaran-e Faqahat: Barresi-ye Zendegi-ye Ilmi wa Siyasi-ye Guruhi az Ulama-ye Sadeh-ye Akhir. Qom: Dalil-e Ma, 1387 HS.
- Arabshahi, Fatimah. "Dunbuli Khu'i Mirza Ibrahim". Daneshnameh-ye Jahan-e Islam, jld. 18. Tehran: Bunyad-e Da'irah al-Ma'arif-e Islami, 1393 HS.
- Aubin, Eugène. Iran Emruz (Iran Hari Ini). Terjemahan Ali Asghar Sami'i. Tanpa Tempat: Toko Buku Zawwar, 1362 HS.
- Burujerdi, Musthafa. "Negahi be Syarh-haye Nahj al-Balaghah". Qabasat, no. 19, Musim Semi 1380 HS.
- Hirzuddin, Muhammad. Ma'arif al-Rijal fi Tarajim al-Ulama wa al-Udaba. Qom: Perpustakaan Umum Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi (ra), 1405 H.
- Mudarris Tabrizi, Muhammad Ali. Rayhanah al-Adab fi Tarajim al-Ma'rufin bi al-Kunyah au al-Laqab. Tehran: Toko Buku Khayyam, 1369 HS.
- Riyahi, Muhammad Amin. Tarikh-e Khoy. Tehran: Tus, 1372 HS.
- Shadrai Khu'i, Ali. Simaye Khoy. Tanpa Tempat: Organisasi Dakwah Islam, 1373 HS.
- Tsiqah al-Islam Tabrizi, Ali bin Musa. Mir'at al-Kutub. Qom: Maktabah Ayatullah al-Uzhma al-Mar'asyi al-Najafi (ra), 1414 H.