Konsep:Husniyah
![]() Debat Husniyah dengan para ulama Ahlusunah dalam pembuktian penggantian Ahlulbait as | |
| Nama Lengkap | Husniyah |
|---|---|
| Sahabat dari | Imam Shadiq as |
| Populer dengan | Debat yang kuat dalam pembuktian penggantian Ahlulbait as |
| Tempat Tinggal | Bagdad dan Madinah |
Husniyah dianggap sebagai salah satu wanita alim Syiah yang dikenal karena debat-debatnya dengan para ulama Ahlusunah di istana Harun al-Abbasi. Dalam debat-debat ini, ia membuktikan masalah-masalah penting seperti Keutamaan Imam Ali as, Kemaksuman para Imam as, penggantian Imam Ali as, dan kepemilikan Hazrat Fatimah sa atas Fadak.
Dikatakan bahwa Husniyah awalnya adalah budak salah seorang pedagang Bagdad dan sejak usia lima tahun berkhidmat di kediaman Imam Shadiq as selama sepuluh tahun. Setelah dua puluh tahun mempelajari ilmu-ilmu Syiah, ia pergi ke Madinah untuk menghabiskan sisa umurnya berkhidmat kepada Imam Ridha as.
Abu al-Futuh al-Razi dianggap sebagai orang pertama yang meriwayatkan kisah debat Husniyah dengan para ulama Ahlusunah; namun beberapa ahli bibliografi meragukan atribusi ini. Beberapa peneliti, dengan memperhatikan tidak disebutkannya debat ini dalam sumber-sumber abad ke-6 H dan baru munculnya dalam sumber-sumber abad ke-10 H ke atas, memperkuat kemungkinan bahwa cerita ini adalah fiktif. Selain itu, dikatakan bahwa perbedaan dalam penyebutan penerjemah naskah bahasa Arab debat tersebut juga meningkatkan kemungkinan ini. Sebagian juga meyakini bahwa cerita ini dibuat pada era Safawiyah berdasarkan kisah budak perempuan Nathiqi.
Lebih dari 110 naskah manuskrip dan cetak dari percakapan Husniyah tersedia di berbagai perpustakaan. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia, Urdu, dan Turki, serta sebagian darinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Sir John Malcolm pada abad ke-18 Masehi. Debat Husniyah juga menjadi subjek produksi film dan novel di Iran.
Pengenalan Husniyah dan Debatnya dengan Ulama Ahlusunah
Husniyah dianggap sebagai salah seorang wanita alim Syiah, namun terdapat perbedaan pendapat mengenai identitas pastinya. Beberapa sumber mengatakan bahwa ia adalah budak salah seorang pedagang Bagdad yang termasuk pencinta Imam Shadiq as.[1] Dikatakan bahwa Husniyah sejak usia lima tahun mulai bekerja di rumah Imam Shadiq as dan selama masa ini ia mengenal ilmu dan makrifat Syiah.[2]
Menurut para peneliti, Husniyah selama sepuluh tahun berkhidmat kepada Imam Shadiq as, dan setelah itu, selama dua puluh tahun[3] ia mempelajari kitab-kitab hadis dan tafsir serta menanyakan masalah-masalah sulit kepada Imam Shadiq as.[4] Pemilik Husniyah, karena kemiskinan dan atas saran Husniyah, membawanya ke istana Harun al-Abbasi untuk dijual, dan karena keahlian Husniyah dalam berdebat, ia menetapkan harga seratus ribu koin emas untuknya.[5] Setelah berdebat, ia pergi dari Bagdad ke Madinah bersama pemiliknya dan menghabiskan sisa umurnya berkhidmat kepada Imam Ridha as.[6]
Dilaporkan bahwa Husniyah dalam sesi debat yang diselenggarakan Harun dengan para ulama Ahlusunah berhasil mengungguli mereka[7] dan berdiskusi dalam lebih dari delapan puluh masalah[8] di mana setelah debat tersebut, beberapa hadirin mengubah mazhab mereka.[9]
Berdasarkan buku Husniyah, topik-topik yang diangkat dalam debat Husniyah dengan para ulama di hadapan Harun al-Rasyid adalah: mengambil pengakuan mengenai Keutamaan Imam Ali as,[10] kebenaran Imam Ali as,[11] pengenalan pengganti oleh Nabi Muhammad saw,[12] Kemaksuman para Nabi as,[13] Kemaksuman para Imam as,[14] Peristiwa Saqifah Bani Sa'idah,[15] sedikitnya ijmak dalam pemilihan khalifah pertama,[16] baiat paksa Imam Ali as,[17] Masalah Fadak,[18] Syahadat Hazrat Fatimah sa, Tempat Makam Hazrat Fatimah sa,[19] dan Peristiwa Karbala.[20]
Keraguan atas Keabsahan Cerita Husniyah
Abu al-Futuh al-Razi dianggap sebagai orang pertama yang meriwayatkan kisah debat Husniyah dengan para ulama Ahlusunah;[21] namun beberapa ahli bibliografi dan kataloger Syiah, termasuk Abdullah bin Isa Afandi,[22] Agha Bozorg Tehrani[23] dan Khan Baba Moshar,[24] meragukan atribusi ini.
Beberapa peneliti menyebutkan alasan-alasan atas fiktifnya cerita Husniyah. Di antaranya adalah bahwa buku Munazharat-e Husniyah tidak disebutkan dalam sumber-sumber abad ke-6 H seperti Al-Naqdh karya Abdul Jalil Qazwini Razi[25] dan Al-Fihrist karya Muntajabuddin Razi. Cerita ini hanya muncul dalam sumber-sumber abad ke-10 H ke atas, seperti Raudhat al-Jannat[26] karya Sayid Muhammad Baqir Khwansari.[27] Mengingat jarak waktu Abu al-Futuh al-Razi dari masa debat dan tidak disebutkannya para perawi, mengatribusikan cerita ini kepadanya tampak mustahil.[28]
Dikatakan bahwa banyak argumen teologis Syiah yang dikemukakan dalam kitab-kitab, juga terlihat dalam debat Husniyah dengan para ulama Ahlusunah, yang mana hal ini memperkuat kemungkinan cerita tersebut fiktif.[29] Beberapa peneliti meyakini bahwa mengingat tidak ditemukannya teks bahasa Arab debat Husniyah dan tersedianya terjemahan Persianya di perpustakaan-perpustakaan Iran dan negara lain, ada kemungkinan asal cerita tersebut dalam bahasa Persia dan diterjemahkan ke bahasa Arab untuk meningkatkan martabat karyanya.[30]
Menurut beberapa peneliti sejarah, Wali-ullah Astarabadi pada tahun 958/1551-52 membawa naskah bahasa Arab debat Husniyah dari Damaskus ke Iran dan menerjemahkannya ke bahasa Persia; namun dalam naskah lain, dikatakan bahwa Amir Dhiya'uddin-lah yang membawa naskah ini ke Iran dan menerjemahkannya.[31] Perbedaan penerjemah ini memperkuat kemungkinan cerita tersebut fiktif.[32] Mohammad Taqi Danesy Pajouh, bibliografer dan kataloger Syiah, juga dengan memperhatikan masalah sejarah, meyakini bahwa cerita Husniyah dibuat pada era Safawiyah[33] dan berdasarkan kisah budak perempuan Nathiqi dengan Harun al-Rasyid.[34][35]
Karya Terkait Husniyah

Dikatakan lebih dari 110 naskah manuskrip dan cetak dari percakapan Husniyah tersedia di perpustakaan-perpustakaan Iran maupun luar Iran.[36] Menurut laporan beberapa peneliti, buku percakapan Husniyah telah dicetak sekitar 30 kali secara independen atau di sela-sela buku lainnya. Mulla Ibrahim bin Wali-ullah Astarabadi menerjemahkan buku ini ke bahasa Persia pada tahun 958/1551-52.[37]
Selain itu, Sayid Inayat Husain Pharsari dan Sayid Zeeshan Haider Jawadi telah menerjemahkan risalah Husniyah ke dalam bahasa Urdu.[38] Buku ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Turki pada tahun 1298/1880-81.[39] Menurut Bejnourdi dalam Da'irah al-Ma'arif Bozorg-e Eslami, bagian-bagian dari buku percakapan Husniyah diterjemahkan oleh Sir John Malcolm, sejarawan Inggris pada abad ke-18 Masehi, dan dari tahun 1242/1826-27 hingga 1359/1940-41 telah dicetak ulang berkali-kali di Teheran.[40]
Film dan Novel
Debat Husniyah dengan para ulama Ahlusunah telah menjadi subjek produksi beberapa program seni budaya seperti draf film layar lebar[41] dan penulisan novel[42] di Iran.
Catatan Kaki
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 5.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 85.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 5-7.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 87.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 5-7.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 121.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 8-20.
- ↑ Hassun, A'lam al-Nisa' al-Mu'minat, 1421 H, hlm. 341; Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 22; Nouri, Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi, 1384 HS, hlm. 45.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 121.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 17.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 19.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 22.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 23.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 33.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 72.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 70.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 81.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 98.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 109.
- ↑ Razi, Husniyah, 1386 HS, hlm. 116.
- ↑ Nouri, Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi, 1384 HS, hlm. 37.
- ↑ Afandi, Riyadh al-Ulama, 1401 H, jld. 2, hlm. 159.
- ↑ Agha Bozorg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 7, hlm. 20.
- ↑ Moshar, Fehrest-e Ketab-haye Chapi-ye Farsi, Tehran, 1350 HS, jld. 1, hlm. 1290.
- ↑ Zekawati, "Dastan-e Husniyah", hlm. 8.
- ↑ Khwansari, Raudhat al-Jannat fi Ahwal al-Ulama' wa al-Sadat, 1349 HS, jld. 2, hlm. 317.
- ↑ Nouri, Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi, 1384 HS, hlm. 37.
- ↑ Nouri, Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi, 1384 HS, hlm. 37.
- ↑ Nouri, Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi, 1384 HS, hlm. 45.
- ↑ Nouri, Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi, 1384 HS, hlm. 43.
- ↑ "Fehrest-e Noskheh-haye Khatti-ye Danesy-kadeh Adabiyat-e Tehran", hlm. 209-210.
- ↑ Nouri, Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi, 1384 HS, hlm. 46.
- ↑ Nouri, Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi, 1384 HS, hlm. 37; "Fehrest-e Noskheh-haye Khatti-ye Danesy-kadeh Adabiyat-e Tehran", hlm. 210.
- ↑ Nouri, Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi, 1384 HS, hlm. 37; Zekawati, "Dastan-e Husniyah", hlm. 8-9.
- ↑ Bejnourdi, Da'irah al-Ma'arif Bozorg-e Eslami, 1373 HS, jld. 6, hlm. 114.
- ↑ Nouri, Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi, 1384 HS, hlm. 44.
- ↑ Agha Bozorg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 4, hlm. 97; Nouri, Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi, 1384 HS, hlm. 40.
- ↑ Nouri, Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi, 1384 HS, hlm. 43.
- ↑ Nouri, Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi, 1384 HS, hlm. 43.
- ↑ Bejnourdi, Da'irah al-Ma'arif Bozorg-e Eslami, 1373 HS, jld. 6, hlm. 114.
- ↑ "Ravayat-e Zendegi-ye Husniyah dar Sima Film", Situs IRNA.
- ↑ "Zendegi-ye Syagerd-e Imam Shadiq as Mowzu'-e Yek Roman Syod", Situs Tasnim.
Daftar Pustaka
- "Ravayat-e Zendegi-ye Husniyah dar Sima Film", Situs IRNA, tanggal pemuatan materi: 16 Azar 1387 HS, tanggal kunjungan: 2 Azar 1403 HS.
- "Zendegi-ye Syagerd-e Imam Shadiq (as) Mowzu'-e Yek Roman Syod", Situs Tasnim, tanggal pemuatan materi: 26 Farvardin 1396 HS, tanggal kunjungan: 2 Azar 1403 HS.
- Agha Bozorg Tehrani, Mohammad Mohsen. Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah. Riset: Ahmad Hosseini Isykavari. Beirut, 1403 H.
- Afandi, Abdullah bin Isa. Riyadh al-Ulama' wa Hiyadh al-Fudhala'. Riset: Ahmad Hosseini Isykavari dan Mahmoud Mar'as-syi. Qom, Perpustakaan Umum Hazrat Ayatullah al-Uzhma Mar'as-syi Najafi, 1401 H.
- Hassun, Mohammad dan Ummu Ali Masykur. A'lam al-Nisa' al-Mu'minat. Tehran, Uswah, 1421 H.
- Khwansari, Mohammad Baqir. Raudhat al-Jannat fi Ahwal al-Ulama' wa al-Sadat. Riset: Asadullah Isma'iliyan. Qom, Isma'iliyan, 1349 HS.
- Danesy Pajouh, Mohammad Taqi. "Fehrest-e Noskheh-haye Khatti-ye Danesy-kadeh Adabiyat-e Tehran". Dalam Majalah Fakultas Sastra dan Ilmu Humaniora Universitas Tehran, nomor 1, Mehr 1339 HS.
- Zekawati Qaragozlou, Alireza. "Dastan-e Husniyah". Dalam Majalah Nasyr-e Danesy, nomor 26, Bahman dan Esfand 1363 HS.
- Razi, Hossein bin Ali. Husniyah: Syarh Munazharat Banu-i az Syagerdan-e Imam Shadiq (as). Riset: Mohammad Farboudi. Qom, Baqiyatullah, 1386 HS.
- Fattal Nisaburi, Muhammad bin Ahmad. Raudhat al-Wa'izhin wa Bashirah al-Muta'izh-zhin. Qom, Radhi, cetakan pertama, 1375 HS.
- Moshar, Khan Baba. Fehrest-e Ketab-haye Chapi-ye Farsi. Tehran, tanpa nama, 1350 HS.
- Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Fushul al-Mukhtarah. Riset: Ali Mir-syarifi. Qom, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H.
- Musawi Bejnourdi, Kazim. "Abu al-Futuh Razi". Dalam Da'irah al-Ma'arif Bozorg-e Eslami. Tehran, Pusat Ensiklopedi Besar Islam, cetakan pertama, 1373 HS.
- Nouri, Mohammad. Ma'khadz-syenasi-ye Abu al-Futuh Razi. Qom, Dar al-Hadits, cetakan pertama, 1384 HS.
