Lompat ke isi

Konsep:Harun al-Abbasi

Dari wikishia
Harun al-Abbasi
NamaHarun al-Abbasi
LakabHarun al-Rasyid
Lahir145/762-63 (Rey)
AyahMahdi al-Abbasi
IbuKhaizuran
Anak-anakAmin, Ma'mun, Mu'tashim
Tempat dikuburkanSanabad, Makam Haruniyyah
JabatanKhalifah kelima Bani Abbasiyah
Mulai pemerintahan170/786-87
Akhir pemerintahan193/808-09
Semasa denganImam Musa al-Kadzim as dan Imam Ridha as
Pusat pemerintahanBagdad
Aktivitas pentingMemenjarakan Imam al-Kadzim as, Gerakan Penerjemahan
SebelumAmin al-Abbasi
SesudahHadi al-Abbasi


Harun al-Abbasi (145-193/762-809) yang dikenal dengan sebutan Harun al-Rasyid adalah khalifah kelima Bani Abbasiyah (berkuasa: 170-193/786-809) yang sezaman dengan Imam Musa al-Kadzim as dan Imam Ridha as.

Menurut laporan sejarah, pemerintahan Abbasiyah mencapai puncaknya pada masa Harun dan Ma'mun al-Abbasi. Harun dikenal sebagai salah satu khalifah Abbasiyah yang paling masyhur. Masa kekhalifahannya dikenal sebagai "Zaman Keemasan" karena kemajuan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan penaklukan-penaklukan. Harun berhasil dalam peperangan melawan Romawi, namun ia melakukan tindakan keras terhadap warga Syiah dan kaum Alawi, serta menjebloskan Imam al-Kadzim as ke dalam penjara hingga akhirnya menyebabkan kesyahidan beliau.

Pada masa Harun, Gerakan Penerjemahan karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani, Suryani, dan Persia ke dalam bahasa Arab berkembang pesat. Selain itu, Harun pernah menawarkan pengembalian Fadak kepada Imam al-Kadzim as, namun Imam dengan mengisyaratkan masalah suksesi Nabi saw, membuatnya menyesal. Kejatuhan Keluarga Barmaki juga termasuk peristiwa penting di masanya.

Selama masa kekhalifahan Harun, terjadi berbagai pemberontakan, termasuk Kebangkitan Yahya bin Abdullah. Harun pergi ke Thous pada 193/808-09 dan wafat di sana. Tempat pemakamannya kemudian dikenal sebagai "Makam Haruniyyah" dan pada 203/818-19, Imam Ridha as dimakamkan di samping Harun.

Nasab

Harun al-Abbasi yang dikenal sebagai Harun al-Rasyid, salah satu khalifah Abbasiyah, lahir di Rey pada 145/762-63. Ia adalah putra dari Mahdi al-Abbasi dan seorang budak wanita bernama Khaizuran.[1]

Ayahnya pada saat kelahiran Harun adalah gubernur wilayah Rey dan Khorasan. Kunyah Harun adalah Abu Ja'far.[2] Harun naik tahta kekhalifahan pada 170/786-87 menyusul kematian saudaranya, Hadi al-Abbasi, dan memerintah hingga 193/808-09.[3]

Wilayah Kekuasaan

Lukisan imajiner saat utusan kaisar Romawi mendatangi Harun. Berdasarkan penuturan sumber-sumber sejarah, negara Abbasiyah mencapai puncak kebesarannya pada masa Harun dan Ma'mun.[4] Harun dianggap sebagai khalifah Abbasiyah yang paling terkenal. Masa Harun disebut sebagai zaman keemasan pemerintahan Abbasiyah karena pendapatan yang besar, geliat perdagangan, kemajuan ilmu pengetahuan, filsafat, dan kesuksesan dalam penaklukan-penaklukan.[5] Muthahhari mendeskripsikannya sebagai thaghut yang sangat besar dan khalifah Abbasiyah yang sangat kuat,[6] pahlawan Kisah Seribu Satu Malam, pemilik banyak penjara, serta pelaku kemaksiatan dan kezaliman.[7] Berdasarkan ramalan Imam Ali as, khalifah kelima Bani Abbasiyah, yaitu Harun, diperkenalkan sebagai yang paling agung di antara mereka.[8] Dalam ramalan ini, Imam Ali as mengabarkan akan munculnya dua pemerintahan atas umat Muslim,[9] yang oleh sebagian ahli hadis diterapkan pada kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.[10]

Wilayah barat Bagdad, mulai dari kota al-Anbar hingga Mesir dan Afrika, serta bagian timur dari Shirvan hingga Turki dan wilayah Khorasan berada di bawah kendali Harun.[11]

Kekaisaran Romawi

Selama masa kekhalifahan Harun al-Rasyid, terjadi berbagai perang luar negeri, di antaranya adalah perang melawan bangsa Romawi. Salah satunya terjadi pada 181/797-98, di mana Harun dengan pasukan besar maju hingga ke Asia Kecil dan Konstantinopel. Ratu Romawi yang tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi pasukan Harun, menawarkan perdamaian dan pembayaran upeti tahunan.[12]

Namun beberapa tahun kemudian, salah satu kaisar Romawi menentang perjanjian damai dan upeti tersebut, serta memutuskan untuk meminta kembali semua upeti yang telah dibayarkan. Keputusan ini dihadapi dengan sikap keras dan menghina dari Harun hingga rencana tersebut gagal.[13] Puisi Di'bil al-Khuzai tentang Harun dan posisi kuburannya yang bertetangga dengan Imam Ridha as pada seni ubin di atas pusara Imam Ridha as.

Kondisi Warga Syiah

Beberapa kitab sejarah menyebutkan bahwa perlakuan Harun terhadap warga Syiah sangat keras.[14] Dinukil dari Abu al-Faraj al-Isfahani dan Thabari bahwa Harun selama masa kekhalifahannya terlibat dalam berbagai konflik dengan kaum Alawi dan melakukan pembantaian terhadap mereka.[15]

Sebagian sejarawan melaporkan bahwa Harun menindas warga Syiah demi menjaga pemerintahan dan mencegah pemberontakan. Seseorang bernama Sufyan bin Bazar berkata bahwa suatu hari ia berada di dekat Ma'mun dan Ma'mun berkata di depan khalayak bahwa mazhab Syiah diajarkan kepadanya oleh ayahnya, Harun; dan jika Harun membunuh warga Syiah, itu semata-mata demi kekuasaan, karena kekuasaan itu "mandul" (tidak mengenal sanak saudara).[16]

Peristiwa Penting Masa Harun

Selama masa Harun yang sezaman dengan Imam Musa al-Kadzim as, muncul berbagai kebangkitan yang menentangnya,[17] namun di sisi lain terjadi pula kemajuan ekonomi dan ilmiah.

Pemenjaraan Imam al-Kadzim as

Selama 13 tahun masa imamah Imam al-Kadzim as dihabiskan pada masa kekhalifahan Harun.[18] Disebutkan bahwa pada awal pemerintahannya, Harun tidak terlalu melakukan pengetatan, namun lambat laun perlakuannya terhadap Musa bin Ja'far as berubah.[19] Mengenai pemenjaraan Imam oleh Harun, disebutkan bahwa demi menjaga kekuasaan serta karena ucapan-ucapan Imam yang menentangnya, Harun memenjarakan Musa bin Ja'far as.[20] Dilaporkan bahwa Harun memenjarakan Imam sebanyak dua kali; yang pertama dibebaskan setelah beberapa lama, dan yang kedua berlangsung dari 179/795-96 hingga 183/799-800 selama empat tahun.[21] Akhirnya, Imam Musa al-Kadzim as gugur syahid atas perintah Harun.[22]

Gerakan Penerjemahan

Berdasarkan sumber-sumber sejarah, Harun berusaha keras demi kemajuan ilmu pengetahuan dan penerjemahan karya-karya asing. Pada masa pemerintahannya, banyak buku diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.[23] Dengan bantuan menterinya, Yahya bin Khalid al-Barmaki, ia membantu para penerjemah karya-karya Yunani. Harun mengirim orang ke Kekaisaran Romawi untuk membeli naskah-naskah asli Yunani, dan melalui cara ini banyak naskah berharga masuk ke Bagdad.[24]

Disebutkan bahwa pada periode ini, fokus utama adalah penerjemahan karya-karya berbagai ilmu dari bahasa Suryani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab. Yahya bin Khalid al-Barmaki berusaha keras mencari penerjemah yang mumpuni. Pada masa Harun, perpustakaan kota-kota yang jatuh ke tangan Muslim pasca perang semuanya dipindahkan ke Bagdad. Karya-karya perdana ilmu Yunani, termasuk buku prinsip-prinsip geometri Euklides dan buku kumpulan makalah matematika berjudul Almagest karya Ptolemaeus diterjemahkan ke bahasa Arab.[25]

Kisah Pengembalian Fadak

Dalam sumber sejarah dan hadis disebutkan bahwa suatu hari Harun menyatakan kepada Musa bin Ja'far as bahwa ia siap mengembalikan Fadak. Namun Imam berkata kepada Harun bahwa jika ia menentukan batas-batas Fadak, Harun tidak akan memberikannya. Diriwayatkan bahwa Imam menentukan batas pertama dari Aden hingga Samarkand, batas kedua Afrika, dan batas keempat adalah Saif al-Bahr. Sebagian menyebutkan ucapan ini mengisyaratkan pada pembahasan suksesi Nabi saw dan peristiwa Saqifah. Harun dengan kesal berkata kepada Imam: "Engkau tidak menyisakan apa pun bagi kami, keluarlah dari majelis kami." Imam bersabda kepadanya: "Aku sudah katakan bahwa jika aku menentukan batas-batas Fadak, engkau tidak akan memberikannya kepada kami." Pasca peristiwa ini, Harun memutuskan untuk membunuh Imam.[26]

Pencopotan Keluarga Barmaki

Jatuhnya Keluarga Barmaki adalah salah satu peristiwa penting lainnya dalam masa kekhalifahan Harun al-Rasyid. Salah satu tokoh penting keluarga ini adalah Yahya bin Khalid. Ia menjadi pendidik Harun pada masa kekhalifahan Mahdi dan kemudian meraih kekuasaan serta pengaruh tinggi di istana Harun saat Harun naik tahta.[27] Disebutkan bahwa kekuatan dan kekayaan besar keluarga Barmaki membuat orang-orang di sekitar Harun membuatnya curiga terhadap keluarga ini, hingga akhirnya ia memerintahkan agar keluarga tersebut beserta kerabatnya ditangkap dan dibunuh.[28] Mas'udi berkata bahwa pasca jatuhnya keluarga Barmaki, urusan-urusan menjadi kacau dan ketidakmampuan serta kebijakan buruk Harun menjadi tampak.[29] Belakangan Harun pun mengungkapkan penyesalannya atas penumpasan keluarga ini.[30]

Pemberontakan-pemberontakan

Berbagai kebangkitan dan pemberontakan terjadi di masa Harun, seperti pemberontakan Rafi' bin Laits dengan bantuan Isa bin Mahan di Khorasan. Harun mengirim pasukan ke wilayah tersebut, Isa dipenjara dan hartanya disita. Ia tetap di penjara hingga kematian Harun.[31] Kerusuhan lainnya terjadi di wilayah Azerbaijan, Armenia, serta konflik antara dua kaum Yaman dan Nizari.[32] Salah satu kebangkitan penting di masa Harun adalah kebangkitan Yahya bin Abdullah.[33]

Kebangkitan Yahya bin Abdullah

Yahya bin Abdullah bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Imam Hasan al-Mujtaba as, adalah salah satu komandan pasukan dalam Kebangkitan Syahid Fakh. Pasca kekalahan di peristiwa Fakh, ia pergi ke Dailam bersama sekelompok orang dan melakukan aktivitas menentang Harun di sana.[34] Harun mengirim Fadhl bin Yahya dengan pasukan ke Dailam dan dalam surat yang ditulisnya sendiri serta dengan kesaksian sekelompok ulama dan ahli fikih, ia memberikan jaminan keamanan (amanat) kepadanya agar masuk ke Bagdad.[35] Diriwayatkan bahwa awalnya Harun berperilaku positif terhadapnya, namun setelah beberapa lama ia mengambil Fatwa dari para ahli fikih yang membatalkan surat jaminannya sendiri, dan tak lama kemudian ia membunuh Yahya.[36]

Wafat

Berdasarkan beberapa sumber sejarah, menyusul kekacauan di Khorasan oleh Rafi' bin Laits dan wilayah yang tidak kunjung tenang di bawah wakil Harun, khalifah sendiri berangkat ke Khorasan pada 192/807-08 untuk menenangkan wilayah tersebut. Namun di Thous,[37] tepatnya di sebuah desa bernama Sanabad, ia wafat karena sakit pada bulan Jumadil Ula 193/808-09 dalam usia 46 tahun. Putranya, Shalih, memimpin Salat Jenazah untuknya. Belakangan tempat pemakaman Harun dikenal dengan sebutan Makam Haruniyyah.[38] Di malam kematian Harun di Thous, orang-orang di Bagdad melakukan Baiat kepada putranya, Amin al-Abbasi.[39] Pada 203/818-19, atas keinginan Ma'mun, Imam Ridha as dimakamkan di tempat ini di samping Harun.[40]

Di'bil al-Khuzai, salah satu penyair pecinta Ahlulbait as, menggubah puisi tentang keberadaan makam Harun al-Rasyid di samping makam Imam Ridha as sebagai berikut: Templat:Puisi

Catatan Kaki

  1. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 8, hlm. 347-359.
  2. Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syiah (Sejarah Intelektual dan Politik Para Imam Syiah), 1386 HS, jld. 2, hlm. 28.
  3. Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syiah (Sejarah Intelektual dan Politik Para Imam Syiah), 1386 HS, hlm. 390.
  4. Zaidan, Jawahir al-Kalam, 1372 HS, hlm. 71.
  5. Thaqqus, Daulat-e Abbasiyan (Negara Abbasiyah), 1383 HS, hlm. 89.
  6. Muthahhari, Asynayi ba Qur'an (Mengenal Al-Qur'an), jld. 14, hlm. 127-128; Majmu'eh Asar (Kumpulan Karya), 1389 HS, jld. 28, hlm. 823.
  7. Muthahhari, Asynayi ba Qur'an (Mengenal Al-Qur'an), jld. 2, hlm. 118; Majmu'eh Asar (Kumpulan Karya), 1390 HS, jld. 26, hlm. 192.
  8. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 41, hlm. 322; Husaini Tehrani, Imam Syenasi (Imamologi), 1427 H, jld. 12, hlm. 170.
  9. Ibnu Syahrasyub, Al-Manaqib, 1379 H, jld. 2, hlm. 276.
  10. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 41, hlm. 322; Husaini Tehrani, Imam Syenasi (Imamologi), 1427 H, jld. 12, hlm. 170.
  11. Zaidan, Jawahir al-Kalam, 1372 HS, hlm. 113.
  12. Khidri, Tarikh-e Khelafate Abbasi (Sejarah Kekhalifahan Abbasiyah), 1379 HS, hlm. 49.
  13. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 4, hlm. 669.
  14. Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syiah (Sejarah Intelektual dan Politik Para Imam Syiah), 1386 HS, hlm. 391.
  15. Abu al-Faraj al-Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, 1965, hlm. 323.
  16. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 48, hlm. 133; Najafi Yazdi, Manaqib-e Ahlulbait as, 1384 HS, jld. 2, hlm. 351.
  17. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 48, hlm. 248.
  18. Pisywai, Sireh-ye Pisywayan (Sirah Para Pemimpin), 1381 HS, hlm. 413.
  19. Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syiah (Sejarah Intelektual dan Politik Para Imam Syiah), 1386 HS, hlm. 391.
  20. Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syiah (Sejarah Intelektual dan Politik Para Imam Syiah), 1386 HS, hlm. 394-397.
  21. Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syiah (Sejarah Intelektual dan Politik Para Imam Syiah), 1386 HS, hlm. 393.
  22. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 48, hlm. 248.
  23. Zaidan, Jawahir al-Kalam, 1372 HS, hlm. 71.
  24. Wilayati, Pouyayi-ye Farhang va Tamaddon (Dinamika Budaya dan Peradaban), 1382 HS, jld. 1, hlm. 98.
  25. Wilayati, Pouyayi-ye Farhang va Tamaddon (Dinamika Budaya dan Peradaban), 1382 HS, jld. 1, hlm. 98.
  26. Ibnu Syahrasyub, Manaqib Alu Abi Thalib, 1375 H, jld. 3, hlm. 435.
  27. Khidri, Tarikh-e Khelafate Abbasi (Sejarah Kekhalifahan Abbasiyah), 1379 HS, hlm. 48.
  28. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, 1378 HS, jld. 2, hlm. 430.
  29. Mas'udi, Al-Tanbih wa al-Isyraf, 1357 HS, hlm. 199.
  30. Khidri, Tarikh-e Khelafate Abbasi (Sejarah Kekhalifahan Abbasiyah), 1379 HS, hlm. 48.
  31. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, 1378 HS, jld. 2, hlm. 443.
  32. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, 1378 HS, jld. 2, hlm. 437; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 8, hlm. 314.
  33. Pisywai, Sireh-ye Pisywayan (Sirah Para Pemimpin), 1381 HS, hlm. 443.
  34. Pisywai, Sireh-ye Pisywayan (Sirah Para Pemimpin), 1381 HS, hlm. 443.
  35. Pisywai, Sireh-ye Pisywayan (Sirah Para Pemimpin), 1381 HS, hlm. 444.
  36. Pisywai, Sireh-ye Pisywayan (Sirah Para Pemimpin), 1381 HS, hlm. 444-446.
  37. Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syiah (Sejarah Intelektual dan Politik Para Imam Syiah), 1386 HS, hlm. 462.
  38. Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syiah (Sejarah Intelektual dan Politik Para Imam Syiah), 1386 HS, hlm. 93.
  39. Ibnu Atsir, Al-Kamil fi al-Tarikh, jld. 6, hlm. 287.
  40. Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, hlm. 464.

Daftar Pustaka

  • Abu al-Faraj al-Isfahani, Ali bin al-Husain. Al-Aghani. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1415 H.
  • Abu al-Faraj al-Isfahani, Ali bin al-Husain. Maqatil al-Thalibiyyin. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1415 H.
  • Abu al-Faraj al-Isfahani, Ali bin al-Husain. Maqatil al-Thalibiyyin. Qom, Mansyurat al-Maktabah al-Haidariyyah, 1965.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun.
  • Ibnu Syahrasyub, Muhammad bin Ali. Manaqib Alu Abi Thalib as. Qom, Penerbit Allamah, 1379 H.
  • Jafarian, Rasul. Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syiah (Sejarah Intelektual dan Politik Para Imam Syiah). Qom, Penerbit Ansariyan, 1386 HS.
  • Husaini Tehrani, Sayid Muhammad Husain. Imam Syenasi (Imamologi). Masyhad, Penerbit Allamah Thabathabai, 1430 H.
  • Khidri, Sayid Ahmad Reza. Tarikh-e Khelafate Abbasi az Agaz ta Payan-e Alu Bouyeh (Sejarah Kekhalifahan Abbasiyah dari Awal hingga Akhir Dinasti Buyid). Teheran, Penerbit Samt, 1379 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi. Zandegani-ye Hazrat-e Emam Musa-ye Kazem as (Terjemahan jilid 48 Bihar al-Anwar). Teheran, Penerbit Islamiyyah, 1396 HS.
  • Mas'udi, Ali bin al-Husain. Al-Tanbih wa al-Isyraf. Mesir, tanpa penerbit, 1357 HS.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Irsyad fi Ma'rifah Hujajillah 'ala al-Ibad. Qom, Kongres Syekh Mufid, 1413 H.
  • Muthahhari, Murtadha. Asynayi ba Qur'an (Mengenal Al-Qur'an). jld. 2 & 14. Teheran, Sadra.
  • Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Asar (Kumpulan Karya). jld. 26 & 28. Teheran, Sadra.
  • Najafi Yazdi, Sayid Jalil. Manaqib-e Ahlulbait as. Qom, Penerbit Nasayih, 1384 HS.
  • Pisywai, Mahdi. Sireh-ye Pisywayan (Sirah Para Pemimpin). Qom, Muassasah Imam Sadiq as, 1381 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Thabari. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tanpa tahun.
  • Thaqqus, Muhammad bin Suhail. Daulat-e Abbasiyan (Negara Abbasiyah). Qom, Penerbit Pazhouhesykadeh Hauzah va Danesy-gah, 1383 HS.
  • Wilayati, Ali Akbar. Pouyayi-ye Farhang va Tamaddon-e Eslam va Iran (Dinamika Budaya dan Peradaban Islam dan Iran). Teheran, Penerbit Kementerian Luar Negeri, 1382 HS.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Wadih. Tarikh al-Ya'qubi. Terjemahan: Ibrahim Ayati. Teheran, Penerbit Ilmi va Farhangi, 1378 HS.
  • Zaidan, Jurji. Jawahir al-Kalam. Teheran, Penerbit Amirkabir, 1372 HS.

Templat:Bani Abbasiyah